Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan penduduk usia remaja terjadi di berbagai negara termasuk di indonesia, berdasarkan data statistik indonesia jumlah penduduk pada tahun 2005 adalah 218.086.288 jiwa yang terdiri atas 109.613.519 laki-laki dan 108.472.769 perempuan. Jumlah penduduk menurut kelompok umur didapatkan golongan umur 10-14 tahun pada perempuan 10.614.026 jiwa atau 9,8% dan pada laki-laki berjumlah 11.138.221 jiwa atau sekitar 10,7%. ( badan pusat statistik di Indonesia ) Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa . dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak , tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang ( Zakiah Darajat, 1990 : 23) Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang dimulai pada saat terjadinya kematangan seksual yaitu antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 21 tahun. Remaja tidak mempunyai tempat yang jelas, mereka tidak termasuk golongan anak-anak tetapi tidak juga termasuk golongan orang dewasa (Hurlock, 2006).

Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin. Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Masa remaja adalah masa transisi dalam rentang kehidupan manusia yang menghubungkan masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pertumbuhan penduduk usia remaja terjadi di berbagai negara, demikian pula di Indonesia, saat ini remaja di Indonesia mencapai 22 % atau sekitar 44 juta jiwa. Remaja adalah calon generasi penerus bangsa yang besar pengaruhnya atas segala tindakan yang mereka lakukan. Pubertas pada perempuan umumnya terjadi di usia 9-12 tahun,sedangkan pubertas pada laki-laki terjadi di usia yang lebih tua yaitu 9-14tahun. Menurut WHO batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun,sedangkan menurut Departemen Kesehatan yaitu yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin. Pubertas pada perempuan dapat ditandai dengan datangnya menstruasi untuk pertama kalinya (menarche) Remaja putri yang mempunyai kecenderungan nerotis dalam usia pubertas, banyak mengalami konflik batin dari datangnya menstruasi pertama yang dapat menimbulkan beberapa tingkah laku patologis, meliputi kecemasan-kecemasan berupa fobia, wujud minat yang sangat berlebih, rasa berdosa atau bersalah yang sangat ekstrim yang kemudian menjelma menjadi reaksi paranoid (Yetty, 2005).

Menstuasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus , hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada jaringan sasaran pada saluran reproduksi normal, owarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan-perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi

( Greenspan, 1998). Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan membentuk siklus menstruasi. Menstruasi pertama (menarke) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11 tahun. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang perempuan, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause. Gejala-gejala yang sering terjadi dan sangat mencolok pada peristiwa menstruasi pertama adalah kecemasan atau ketakutan diikuti oleh keinginan untuk menolak proses fisiologis (Ibrahim,2002) Menurut Burns ( 1999), bila remaja permpuan sudah diberitahu tentang menstruasi sebelum ia benar-benar

mengalaminya mungkin ia akan gembira ketika menstruasi tiba, karena dengan demikian ia menapak ke arah kedewasaan. Mereka yang tidak mendapat keterangan tentang menstruasi bisa ketakutan ketika melihat darah mulai keluar dari vagina.

Dari pengalaman para remaja di Indonesia yang sudah mengalami menstruasi pada usia 12 tahun , sebagian remaja biasa nya akan mengalami kecemasan , katakutan ,rasa malu, rasa berdosa atau bersalah yang ekstrim yang kemudian menjadi paranoid.

Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan , ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Harold,2010) Kecemasan merupakan respons individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam kehidupan sehari-hari yang ditandai dengan kebingungan, ke khawatiran pada suatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati dkk,2005). Kecemasan sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya, pada remaja putri yang mengalami menarche tanpa pengetahuan yang cukup akan mengalami berbagai kecemasan, kecemasan tersebut akan dapat berkurang apabila tersedianya layanan pendidikan kesehatan di sekolahsekolah serta meningkatnya keinginan remaja untuk membaca buku-buku kedokteran (Burn, 2000). Dari hasil penelitian sahuri teguh kurniawan mahasiswa jurusan keperawatan fakultas ilmu kesehatan universitas muhammadiyah Surakarta,yang melakukan penelitian di SD Negeri I Gayam Kecamatan Sukoharjo. Berdasarkan survey pendahuluan yang telah dilakukan dari 41 siswi, yang telah mengalami

menarche sebanyak 7 siswi, mereka menyebutkan timbul perasaan cemas, takut, kwatir dan gelisah karena tidak tahu dan mengira menarche akan terjadi ketika SLTP, timbul kecemasan karena kurangnya pengetahuan tentang menarche, terjadi penurunan semangatbelajar dan timbul rasa malu, dari siswi yang belum menarche mereka menyebutkan belum pernah mendapatkan materi pendidikan kesehatan tentang menarche, timbul berbagai perasaan negatif seperti cemas, takut dan bingung ketika menghadapi menarche. Dari data yang peneliti peroleh dari Dinas Pendidikan Kota Bogor, didapatkan data jumlah Sekolah Dasar dari masing-masing kecamatan. Di wilayah Kota Bogor terdapat 300 Sekolah Dasar dengan jumlah siswa seluruhnya 106.410 siswa yang tersebar dienam kecamatan. Sedangkan untuk kecamatan yang mempunyai SD terbanyak adalah di wilayah Kecamatan Bogor Barat dengan jumlah 65 SD, dan SD yang mempunyai paling banyak siswa terdapat di SD Semplak 2 Bogor, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Berikut ini adalah jumlah sekolah dan siswa terbanyak dari masing-masing kecamatan di Kota Bogor : Tabel 1.1. Jumlah Sekolah Dasar Di Kota Bogor No 1 2 3 4 5 6 Kecamatan Bogor Barat Bogor Tengah Bogor Selatan Tanah Sareal Bogor Utara Bogor Timur Jumlah SD 65 SD 54 SD 53 SD 52 SD 44 SD 32 SD SD dengan jumlah terbanyak murid

SDN Semplak 2 = 1540 siswa SDS Regina Pacis = 1205 siswa SDS Mardi Waluya = 762 siswa SDS Bina Insani = 1206 siswa SDN Sindang Sari = 772 siswa SDS kesatuan = 1080 siswa

Sumber: Dinas Pendidikan Kota Bogor Data bulan februari 2011

Dari jumlah siswa terbanyak, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Gambaran Tingkat Kecemasan Remaja Putri Tentang Menstruasi di kelas 6 SDN Semplak 2 Bogor B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang masalah maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut Bagaimana gambaran tingkat kecemasan remaja putrid tentang menstruasi di kelas 6 SDN Semplak 2 Bogor Tahun 2011? C. Tujuan 1. Tujuan Umum untuk mengurangi kecemasan pada remaja putri tentang menstruasi 2. Tujuan Khusus Untuk mengetahui gambaran kecemasan remaja putri tentang menstruasi D. Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti

Agar dapat menambah wawasan dan pengalaman peneliti tentang pembuatan dan penulisan riset secara sederhana yang berkaitan dengan kesehatan remaja. 2. Bagi institut pendidikan

Dapat menjadi data dasar bagi penelitian selanjutnya dan sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa prodi keperawatan bogor. 3. Bagi Instansi terkait

Dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi bagi pihak sekolah untuk memasukan tentang menstruasi ke dalam mata ajar biologi.

BAB II PEMBAHASAN 1. Kecemasan


a. Pengertian kecemasan

Kecemasan merupakan satu keadaan yang ditandai oleh rasa khawatir disertai dengan gejala somatic yang menandakan suatu kegiatan berlebihan dari susuan saraf otonomik (SSA). Kecemasan merupakan gejala yang umum tetapi non-spesifik yang sering merupakan satu fungsi emosi (Kaplan& Sadock,2007) Kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh rasa ketakutan dan gejala fisik yang menegangkan serta tidak diinginkan. (Anthony Hale dalam Craig & Davies, 2009 : 60) kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal,samar-samar atau konfliktual.( Kaplan, 1997 dalam Trismiati, 2006). Hawari (2006) mendefinisikan kcemasan sebagai gangguan alam perasaan yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan , tidak mengalami gangguan dalam menilai realities, kepribadian masih tetap utuh , perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas-batas normal. Dari beberapa urian diatas, dapat disimpulakn bahwa kecemasan adalah rasa takut yang berlebihan dengan kondisi emosional yang tidak meyenangkan sehingga menjadi kekhawatiran dan disertai perubahan fisiologis ( misal gemetar, berkeringat,detak jantung meningkat ) dan

psikologis ( misal, bingung, tegang, panik dan tidak bisa berkonsentrasi) b. Klasifikasi Tingkat Kecemasan

Peplau membagi tingkat kecemasan menjadi empat (Stuart,2001) yaitu:


1. Kecemasan ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan

meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
2. Kecemasan sedang

Kecemasan sedang yang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian individu mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.

3.

Kecemasan berat

Kecemasan berat membuat individu berkurang lapang persepsinya. Individu cenderung hanya berfokus kepada hal yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku ditunjukan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.

10

4.

Tingkat Panik

Tingkat Panik dari kecemasan berhubungan dengan terpengarah, ketakutan dan terror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panic mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpangan, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini sejalan dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.
Rentang Respon Ansietas Respon adaptif maladaptive Respon

Antisipasi Ringan Panik

Sedang

Berat

Sumber : Stuart & Sundeen ( 2007 ) C. Gejala kecemasan

Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi dalam berberapa fase, yaitu: a. Fase Satu

11

Keadaan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan nor adrenalin. Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tengang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akbatnya akan menimbulkan nyeri dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan antagonis akan meimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jarijari tangan (Wilkie, 1985 dalam perawatpskiatri.blogspot.com). pada fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah informasi yang ada secara benar (Asdie, 1988 dalam

perawatpskiatri.blogspot.com). b. Fase dua Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah, ketegangan otot, gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri (Wilkie, 1985 dalam perawatpskiatri.blogspot.com). Labilitas emosi dapat bermanfestasi mudah menangis tanpa sebab, yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. Mduah menangis yang berkaitan dengan stres mudah diketahui. Akan tetapi kadangkadang dari cara tertawa yang agak keras dapat menunjukan tanda adanya

12

gangguan

kecemasan

fase

dua

(Asdie,

1988

dalam

perawatpskiatri.blogspot.com). kehilagan motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seorang yang menjatuhkan barang ke tanah, kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Asdie, 1988 dalam perawatpskiatri.blogspot.com). c. Fase tiga Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres. Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti: intoleransi dengan rangsangan sensoris, kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang sebelumnya telah mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu yang spintas terlihat sebagai gangguan kepribadian (Asdie, 1988 dalam perawatpskiatri.blogspot.com).

D.

Tanda dan gejala 1. Respon Fisiologis terhadap Kecemasan Kardiovaskuler : Palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meningkat, denyut nadi menurun, rasa mau pingsan.

13

Respirasi : Napas cepat, pernapasan dangkal, rasa tertekan pada dada,

pembengkakan pada tenggorokan, rasa tercekiki, terengah-engah. Kulit: Perasaan panas atau dingin pada kulit, muka pucat, berkeringat seluruh tubuh, rasa gatal. Gastrointestinal : Kehilangan nafsu makan, menolak makan, perasaan dangkal, rasa tidak nyaman pada abdominal, nausea, diare. Neuromuskuler : Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip, insomnia, tremor, kejang, , wajah tegang, gerakan lambat. 2. Respon Psikologis terhadap Kecemasan Perilaku : Gelisah, ketegangan fisik, tremor, gugup, bicara cepat, tidak ada koordinasi, kecendrungan untuk celaka, menarik diri, menghindar, terhambat melakukan aktifitas. terbakar pada muka, telapak tangan berkeringat, gatal-

14

Kognitif : Gangguan perhatian, konsentrasi hilang, mudah lupa, salah tafsir, bloking, bingung, lapangan persepsi menurun, kesadaran diri yang berlebihan, kawatir yang berlebihan, obyektifitas menurun, takut akan kehilangan kembali, takut berlebihan. Afektif : Tidak sabar, tegang, neurosis, tremor, gugup yang luar biasa, sangat gelisah dan lain-lain. (Ermawati Dalami, SKp . 2009.Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Masalah Psikososial:trans info media .Jakarta ) Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan 1) Faktor Internal a) Pengalaman Menurut Horney dalam Trismiati (2006), sumber-sumber ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan tersebut bersifat lebih umum. Penyebab kecemasan menurut Horney, dapat berasal dari berbagai kejadian di dalam kehidupan atau dapat terletak di dalam diri seseorang, misalnya seseorang yang memiliki pengalaman dalam menjalani suatu tindakan maka dalam dirinya akan lebih mampu beradaptasi atau kecemasan yang timbul tidak terlalu besar.

15

b)

Respon Terhadap Stimulus Menurut Trismiati (2006), kemampuan seseorang menelaah rangsangan atau besarnya rangsangan yang diterima akan mempengaruhi kecemasan yang timbul.

c)

Usia Pada usia yang semakin tua maka seseorang semakin banyak pengalamnnya sehingga pengetahuannya semakin bertambah (Notoatmodjo, 2003). Karena pengetahuannya banyak maka seseorang akan lebih siap dalam menghadapi sesuatu.

d)

Gender Berkaitan dengan kecemasan pada pria dan wanita, Myers (1983) dalam Trismiati (2006) mengatakan bahwa perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibanding dengan laki-laki, laki-laki lebih aktif, eksploratif, sedangkan perempuan lebih sensitif. Penelitian lain

menunjukkan bahwa laki-laki lebih rileks dibanding perempuan. 2) Faktor Eksternal a) Dukungan Keluarga Adanya dukungan keluarga akan menyebabkan seorang lebih siap dalam menghadapi permasalahan, hal ini dinyatakan oleh Kasdu (2002). b) Kondisi Lingkungan

16

Kondisi lingkungan sekitar ibu dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih kuat dalam menghadapi permasalahan, misalnya lingkungan pekerjaan atau lingkungan bergaul yang tidak memberikan cerita negatif tentang efek negatif suatu permasalahan menyebabkan seseorang lebih kuat dalam menghadapi permasalahan, hal ini dinyatakan oleh.(Baso, 2000 : 6)
E. Skala Kecemasan

Skala Kecemasan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) Kecemasan dapat diukur dengan pengukuran tingkat kecemasan menurut alat ukur kecemasan yang disebut HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale). Skala HARS merupakan pengukuran kecemasan yang didasarkan pada munculnya symptom pada individu yang mengalami kecemasan. Menurut skala HARS terdapat 14 syptoms yang nampak pada individu yang mengalami kecemasan. Setiap item yang diobservasi diberi 5 tingkatan skor antara 0 (Nol Present) sampai dengan 4 (severe). Skala HARS pertama kali digunakan pada tahun 1959, yang diperkenalkan oleh Max Hamilton dan sekarang telah menjadi standar dalam pengukuran kecemasan terutama pada penelitian trial clinic. Skala HARS telah dibuktikan memiliki validitas dan reliabilitas cukup tinggi untuk melakukan pengukuran kecemasan pada penelitian trial clinic yaitu 0,93 dan 0,97. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengukuran kecemasan dengan menggunakan skala HARS akan diperleh hasil yang valid dan reliable.

17

Skala HARS Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang dikutip Nursalam (2003) penilaian kecemasan terdiri dan 14 item, meliputi: 1) Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah

tensinggung. 2) 3) Ketegangan merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu dan lesu. Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang asing, bila tinggal sendiri

dan takut pada binatang besar. 4) Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak

pulas dan mimpi buruk. 5) Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat, mudah lupa dan sulit

konsentrasi. 6) Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hoby,

sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari. 7) Gejala somatik: nyeni path otot-otot dan kaku, gertakan gigi, suara tidak

stabil dan kedutan otot. 8) Gejala sensorik: perasaan ditusuk-tusuk, penglihatan kabur, muka merah

dan pucat serta merasa lemah. 9) Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di dada, denyut nadi mengeras dan

detak jantung hilang sekejap.

18

10)

Gejala pemapasan : rasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik

napas panjang dan merasa napas pendek. 11) Gejala gastrointestinal: sulit menelan, obstipasi, berat badan menurun, mual

dan muntah, nyeri lambung sebelum dan sesudah makan, perasaan panas di perut. 12) Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat menahan keneing, aminorea,

ereksi lemah atau impotensi. 13) Gejala vegetatif : mulut kering, mudah berkeringat, muka merah, bulu roma

berdiri, pusing atau sakit kepala. 14) Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari gemetar, mengkerutkan dahi

atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan napas pendek dan cepat. Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori: 0 = tidak ada gejala sama sekali 1 = Satu dari gejala yang ada 2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada 3 = berat/lebih dari gejala yang ada 4 = sangat berat semua gejala ada Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:

19

1. Skor kurang dari 6 = tidak ada kecemasan. 2. Skor 7 14 = kecemasan ringan. 3. Skor 15 27 = kecemasan sedang. 2. a. Remaja Pengertian Remaja Remaja atau adolescence ( inggris) berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti tumbuh kearah kematangan. Kematangan yang dimaksud adalah bukan hanya kematangan fisik saja, tetapi juga kematangan sosial dan psikologis. Batasan usia remaja menurut WHO adalah usia 12 samapai 24 tahu, menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah antara 10 samapai 19 tahun dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 sampai 19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi wanita dan sering disebut masa pubertas. Masa remaja peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa ( Widiastuti,2008) Masa remaja menurut Mappiare (1982), berlangsung antara usia 12 sampai 21 tahun bagi wanita dan 13 sampai 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dibagi 2(dua) bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun adalah remaja awal, dan 17/18 tahun sampai 21/22 tahun adalah remaja akhir. Menurut hokum di Amarika Serikat saat ini, individu di anggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18 tahun, bukan 21 tahun seperti ketentuan sebelumnya (Hurlock,1991). b. Perkembangan fisik pubertas

20

terdapat beberapa perkembangan fisik pada saat pubertas yaitu : 1) Payudara Tanda fisik pertama pubertas pada anak perempuan adalah sebuah benjolan yang keras di bawah pusat areola payudara, yang terjadi sekitar usia 10,5 tahun yang dikenal dengan istilah thelarche. Dalam waktu 6-12 bulan kemudian, kedua payudara semakin membesar dan semakin lunak. 12 bulan selanjutnya ukuran dan bentuk payudara sudah mendekati ukuran dan bentuk pada orang dewasa. 2) Rambut Kemaluan (pubis) Rambut kedua merupakan tanda kedua masa pubertas permpuan, biasanya terjadi beberapa bulan setelah pertumbuhan payudara(thelarche), yang dikenal sebagai pubarche. Rambut kemaluan biasanya pertama terlihat di sepanjang labia, dalam waktu 6-12 bulan kemudin rambut bertambah banyak dan akhirnya mengisi seluruh daerah segitiga kemaluan. Pada tahun selanjutnya rambut kemaluan menyebar ke paha dan kadang-kadang sampai ke perut bagian bawah. 3) Vagina , Uterus dan Ovarium Permukaan mukosa vagina mengalami perubahan dibawah pengaruh estrogen, menjadi lebih tebal dan berwarna pink. Kadang mulai keluar sekret (leukorrheafisiologis) dari vagina sebagia efek peningkatan estrogen. Dalam dua tahun berikiutnya rahim dan ovarium ukurannya meningkat dan sudah mulai mendapatkan folikel yang tumbuh dalam ovarium. 4) Menstruasi

21

Menstruasi merupakan proses pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan perdarahan dan terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut pada akhirnya akan membentuk siklus menstruasi. Menstruasi pertama (menarke) pada remaja putri sering terjadi pada usia 11 tahun. Namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pada rentang usia 8-16 tahun. Menstruasi merupakan pertanda masa reproduktif pada kehidupan seorang perempuan, yang dimulai dari menarke sampai terjadinya menopause. Awal siklus menstruasi dihitung sejak terjadinya perdarahan pada hari ke-1 dan berakhir tepat sebelum siklus menstruasi berikutnya. Umumnya, siklus menstruasi yang terjadi berkisar antara 21-40 hari. Hanya 10-15% wanita yang memiliki siklus 28 hari.

Jarak antara siklus yang paling panjang biasanya terjadi sesaat setelah menarke dan sesaat sebelum menopause.

Bagi remaja putri, mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur pada masa-masa awal adalah hal yang normal. Mungkin saja remaja putri mengalami jarak antar 2 siklus berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1 bulan terjadi 2 siklus. Namun jangan khawatir, setelah beberapa lama siklus menstruasi akan menjadi lebih teratur. Pengetahuan akan siklus menstruasi yang dialami sangatlah penting bagi remaja putri. Dengan mengetahui pola siklus menstruasi akan membantu dalam memperkirakan siklus menstruasi yang akan datang.

22

Siklus dan lamanya menstruasi dapat diketahui dengan membuat catatan pada kalender. Tandai setiap hari ke-1 siklus menstruasi yang terjadi setiap bulannya dengan tanda silang, lalu hitung sampai tanda silang berikutnya. Dengan cara ini, Anda dapat mengetahui pola siklus menstruasi pada diri Anda.

Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke-14 terjadi pelepasan telur dari ovarium (disebut ovulasi). Sel telur ini masuk ke dalam salah satu tuba falopii. Di dalam tuba falopii dapat terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan, sel telur akan masuk ke dalam rahim dan mulai tumbuh menjadi janin sehingga terjadilah kehamilan. Pada sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, maka endometrium akan dilepaskan dan terjadilah perdarahan atau disebut sebagai siklus menstruasi. Siklus dapat berlangsung selama 3-5 hari, terkadang sampai 7 hari. Proses pertumbuhan dan penebalan endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus berikutnya. Ada 3 fase yang dialami setiap wanita selama menstruasi, yaitu : 1. Fase Folikuler adalah dimana kdar FSH ( Folicle Stimulating Hormone ) sedikit meningkaat sehingga merangsang tumbuhnya 3 30 folikel ovarium ( kantung dinding telur ) yang masing masing mengandung 1 sel telur. 2. Fase Ovulatior adalah dimana kadar LH ( Luteinizing Hormone ) meningkat dan folikel yang matang akan menonjol ke permukaan ovarium ( dinding telur ) untuk melepaskan sel telur ( ovulasi ). Sel telur biasanya dikeluarkan dalam waktu 16 32 jam setelah terjai peningkatan kadar LH. Dalam fase ini biasanya wanita mengalami

23

gangguan nyeri pada perut bagian bawah, rasa itu bisa berlangsung dalam beberapa menit bahkan sampai beberapa jam. 3. Fase Luteal adalah lepasnya sel telur dari indung telur selama 14 hari, dan folikel ovarium ( kantung induk telur ) akan menutup kembali dan membentuk kopus luteum yang menghasilkan hormon progesteron dalam jumlah besar. Tetapi perlu diketahui setelah 14 haari kropus luteum akan hancur dan selama dalam fase ini seorang wanita juga akan mengalami peningkatan suhu tubuh sampai siklus yang baru akan dimulai, keculai jika terjadi pembuahan. Jika telur dibuahi, korpus luteum akan menghasilkan HCG ( Human Chorionic gonadotropin ) hormon ini akan menjaga kropus luteum yang menghasilkan hormon progesteron sampai janin bisa menghasilkan hormonnya sendri. Fase Luteal biasanya ditandai sebagai fase bagi wanita yang ingin hamil. c. Perubahan psikis pubertas Selain tugas-tugas perkembangan, kita juga harus mengenal ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain: - Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat - Emosinya tidak stabil - Perkembangan Seksual sangat menonjol - Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat) - Terikat erat dengan kelompoknya

24

Secara teoritis beberapa tokoh psikologi mengemukakan tentang batas-batas umur remaja, tetapi dari sekian banyak tokoh yang mengemukakan tidak dapat menjelaskan secara pasti tentang batasan usia remaja karena masa remaja ini adalah masa peralihan. Dari kesimpulan yang diperoleh maka masa remaja dapat dibagi dalam 2 periode yaitu: 1. Periode Masa Puber usia 12-18 tahun

a. Masa Pra Pubertas: peralihan dari akhir masa kanak-kanak ke masa awal pubertas. Cirinya: - Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi - Anak mulai bersikap kritis b. Masa Pubertas usia 14-16 tahun: masa remaja awal. Cirinya:

- Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya - Memperhatikan penampilan - Sikapnya tidak menentu/plin-plan - Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib c. Masa Akhir Pubertas usia 17-18 tahun: peralihan dari masa pubertas ke masa adolesen. Cirinya: - Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya

25

- Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria 2. Periode Remaja Adolesen usia 19-21 tahun

Merupakan masa akhir remaja. Beberapa sifat penting pada masa ini adalah: - Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis - Mulai menyadari akan realitas - Sikapnya mulai jelas tentang hidup - Mulai nampak bakat dan minatnya Dengan mengetahui tugas perkembangan dan ciri-ciri usia remaja diharapkan para orangtua, pendidik dan remaja itu sendiri memahami hal-hal yang harus dilalui pada masa remaja ini sehingga bila remaja diarahkan dan dapat melalui masa remaja ini dengan baik maka pada masa selanjutnya remaja akan tumbuh sehat kepribadian dan jiwanya.[sumber :www.iqeq.web.id] d. Akibat perubahan masa puber pada sikap dan perilaku 1. Ingin menyendiri

Kalau perubahan pada masa puber mulai terjadi, anak-anak biasannya menarik diri dari teman-teman dan dari berbagai kegitan keluarga, dan serring bertengkar dengan dengan teman-teman dan dengan anggota keluarga. Anak puber kerap melamun betapa seringnya ia tidak dimengerti dan diperlakukan dengan kurang baik, dan ia juga melakukan eksperimen

26

seks dengan masturbasi. Gejala menarik diri ini mencakup ketidakinginan berkomunikasi dengan orang-orang lain. 2. Bosan

Anak puber bosan dengan permainan yang sebelumnyaamat digemari, akibatnya anak sedikit sekali bekerja sehingga prestasi menurun. 3. Inkoordinasi

Pertumbuhan pesat dan tidak seimbang mempengaruhi pola koordinasi gerakan, dan anak akan merasa janggal selama beberapa waktu 4. Antagonism sosial

Anak puber sering sekali tidak mau bekerja sama, sering membantah dan menentang,dengan berlanjutnya masa puber anak menjadi lebih sabar dan mampu bekerjasama 5. Emosi yang meninggi

Pada masa ini anak merasa khawatir, gelisah, dan cepat marah, suasana hati yang negative sangat sering terjadi selama masa prahaid dan awal periode haid
6.

Hilangnya kepercayaan diridi kurang percaya diri dan takut akan

kegagalan karena daya tahan fisik menurun dan kritik yang bertubi-tubi dari teman-temannya. 7. Terlalu sederhana

27

Perubahan tubuh yang terjadi selama masa pubertas menyebabkan anak menjadi sangat sederhana dalam segala penampilan karena takut orang lain memperhatikan perubahan dan memberikan komentar yang buruk.

3. KERANGKA TEORI FAKTOR INTERNAL Pengalaman Respon terhadap stimulus Usia Gender FAKTOR EKSTERNAL Dukungan keluarga Kondisi lingkungan Kecemasan remaja putri tentang menstruasi di kelas 6 SDN SEMPLAK 2 BOGOR

28

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

Tingkat Kecemasan Remaja Putri tentang Menstruasi di kelas 6 SDN Semplak 2 Bogor tahun 2011

A.

Kerangka Konsep menstruasi adalah masa dimana seorang remaja putri mengalami tahap pubertas, tahap perubahan dari masa anak-anak ke masa remaja. Banyak perubahan yang akan terjadi di masa ini ,salah satu nya perubahan fisik yang akan terjadi setalah mengalami menstuasi. Banyak faktor yang mendukung terjadinya menstruasi pada masa awal remaja yaitu usia 12

29

tahun , di antaranya faktor internal yaitu Pengalaman, Respon terhadap stimulus, Usia, Gender dan faktor eksternal dukungan keluarga dan kondisi lingkungan. dimana di usia tersebut belum memahami dan mengetahui tentang menstruasi. Remaja putri yang mempunyai kecenderungan nerotis dalam usia pubertas, banyak mengalami konflik batin dari datangnya menstruasi pertama yang dapat menimbulkan beberapa tingkah laku patologis, meliputi kecemasan-kecemasan berupa fobia, wujud minat yang sangat berlebih, rasa berdosa atau bersalah yang sangat ekstrim yang kemudian menjelma menjadi reaksi paranoid (Yetty, 2005). B. Definisi Operasional Cara Variabel Tingkat kecemasan pada remaja putri tentang menstruasi Definisi Melihat tingkat kecemasan remaja putri tentang menstruasi dengan mengukur karakteristik yang muncul berupa Perasaan cemas dari adanya Pengukuran Lembar kuesioner Alat Ukur Responden mengisi lembar kuesioner sesuai instruksi Hasil Ukur
1. Normal :

Skala Ukur ordinal

bila skor 039.


2. Ringan :

bila skor 40-59.


3. Sedang :

bila skor 60-89. 4. Berat : bila skor 90160.

30

perubahan fisiologis saat pubertas Dan perubahan psikis pada remaja