Anda di halaman 1dari 38

BEDAH BUKTI SKANDAL UU BPJS OLEH DPR RI

UU BPJS VERSI I PRODUK GEDUNG DPR RI & UU BPJS VERSI II PRODUK HOTEL ARYADUTA

RUU BPJS sudah di sahkan pada tanggal 28 Oktober 2011 oleh DPR RI, yang artinya sudah resmi menjadi UU BPJS..

Namun
Menurut Wakil Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (RUU BPJS) Ferdiansyah bahwa meski telah disahkan dalam rapat paripurna, naskah final RUU BPJS sebenarnya belum selesai dibahas. Proses pembahasan pun tidak prosedural. Panja belum lapor ke pleno pansus waktu itu. Kemudian penjelasan belum dibahas. Lalu sinkronisasi terhadap bab, pasal, dan ayat, juga belum dilakukan. Pendapat mini fraksi juga belum disampaikan, sehingga akhirnya, belum ada naskah RUU yang final. Pemeritah memaksakan diri dalam pengesahan RUU BPJS ini, Sinkronisasi atau pun redaksi sekalipun harus dilakukan sebelum diputuskan di sidang paripurna. Apalagi membicarakan substansi bab penjelasan dan peralihan. Sebelum disahkan dalam sidang paripurna, semua harus sudah clear. Ini cacat hukum, kata Mantan Dirjen Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan HAM, Abdul Wahid Ternyata Anggota DPR pada Bulan November 2011 dari tanggal 3 8 November di hotel aryaduta masih membicarakan dan menyelesaikan pembahasan UU BPJS yang belum selesai. INI SKANDAL TERBESAR. MENGESAHKAN UU YANG BELUM SELESAI.. Menurut Rieke diah Pitalloka, sesungguhnya seluruh substansi RUU sudah selesai, semua pasal dan ayat sudah selesai dibahas dan yang tersisa tentang tahun pelaksanaan BPJS Ketenagakerjaan Sinkronisasi, kata Rieke, penting agar tidak ada penambahan atau penghilangan pasal dan ayat mengingat UU BPJS penting untuk rakyat tapi anehnya dia mengakui diperlukan penambahan waktu untuk pembahasan. Idealnya memang ada penambahan waktu pembahasan, namun jatah waktunya sudah diatur dalam tatib DPR dan UUD 45, Ketua Pansus RUU BPJS Surya Chandra Surapaty dari F-PDIP kepada SH mengatakan, secara substansi, UU itu tidak ada masalah lagi. Sekarang, staf ahli DPR dan pemerintah yang selama ini mendampingi dan mencatat risalah rapat, tinggal merapikan penomoran pasal dan membuat pasal-pasal penjelasan menjadi kelompok sendiri yang terpisah dari induk pasalnya. MARI KITA LIHAT SKANDAL TERBESAR YANG DILAKUKAN OLEH DPR YANG DIDUKUNG OLEH KELOMPOK YANG MENGINGINKAN DI SAHKAN SEGERA UU BPJS Kita lihat UU BPJS VERSI I yang disahkan pada tanggal 28 Oktober 2011 di Gedung DPR RI, dan di bandingkan UU BPJS VERSI II yang di sahkan pada November 2011 Di HOTEL ARYADUTA.. Apakah benar Secara Substansi UU ini tidak ada masalah lagi? MARI KITA BEDAH!!

Versi I 1) Pemberi Kerja selain penyelenggara negara yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan pasal 16 dikenai sanksi administratif. 2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. teguran tertulis; b. denda; dan/atau c. tidak mendapat pelayanan publik tertentu. 3) Sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b dikenai oleh BPJS 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administratif diatur dengan Peraturan Pemerintah. Versi II 1) Pemberi Kerja selain penyelenggara negara yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2), dan setiap orang yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dikenai sanksi administratif. 2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. teguran tertulis; b. denda; dan/atau c. tidak mendapat pelayanan publik tertentu. 3) Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b dilakukan oleh BPJS 4) Pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dilakukan oleh Pemerintah atau pemerintah daerah atas permintaan BPJS. 5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan sanksi administrative diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 17

Keterangan: 1. 2. 3. 4. Pasal 17 ayat 1 pada versi II ada penambahan isi pasal Ayat 3 ada perubahan di kata dikenai menjadi dilakukan Ada penambahan ayat 4 di versi II Versi I, ada 4 ayat dan versi II ada 5 ayat.

Pasal 21 Versi I Ayat 2: Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas unsur Pemerintah, unsur Pekerja, dan unsur Pemberi Kerja dengan perbandingan jumlah yang seimbang, serta unsur tokoh masyarakat. Versi II Ayat 2: Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 2 (dua) orang unsur Pemerintah, 2 (dua) orang unsur Pekerja, dan 2 (dua) orang unsur Pemberi Kerja, serta 1 (satu) orang unsur tokoh masyarakat. Keterangan 1. Ada penambahan jumlah angka orang di versi II

Pasal 22 Versi I Ayat 3: Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Dewan Pengawas berwenang untuk: a. menetapkan rencana kerja anggaran tahunan Dewan Pengawas;

Versi II Ayat 3: Dalam menjalankan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Dewan Pengawas berwenang untuk: a. menetapkan rencana kerja anggaran tahunan BPJS;

Keterangan 1. Ayat 3 huruf a ada perubahan dari Dewan pengawas ke BPJS

Pasal 29 VERSI I 1) Setelah terbentuk, Panitia seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 mengumumkan penerimaan pendaftaran calon anggota Dewan Pengawas dan calon anggota Direksi. 5) paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditutupnya masa penyampaian tanggapan dari masyarakat, Panitia seleksi menentukan dan menyampaikan nama calon anggota Dewan Pengawas dan nama calon anggota Direksi yang akan disampaikan kepada Presiden sebanyak 2 (dua) kali jumlah jabatan yang diperlukan

VERSI II 1) Panitia seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 mengumumkan penerimaan pendaftaran calon anggota Dewan Pengawas dan calon anggota Direksi paling lama 5 (lima) hari kerja setelah ditetapkan. 5) Panitia seleksi menentukan nama calon anggota Dewan Pengawas dan nama calon anggota Direksi yang akan disampaikan kepada Presiden sebanyak 2 (dua) kali jumlah jabatan yang diperlukan paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal ditutupnya masa penyampaian tanggapan dari masyarakat.

Keterangan 1. Pada ayat 1 versi II ada penambahan keterangan waktu 5 hari kerja. 2. Pada ayat 5 isinya sama, Cuma penempatan tulisan dibalik-balik, dan ada penghilangan kata menyampaikan yang ada di Versi I

Pasal 30 Versi I 2) Presiden mengajukan nama calon anggota Dewan Pengawas yang berasal dari unsur Pekerja, unsur Pemberi Kerja, dan unsur tokoh masyarakat kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebanyak 2 (dua) kali jumlah jabatan yang diperlukan. 3) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memilih anggota Dewan Pengawas yang berasal dari unsur Pekerja, unsur Pemberi Kerja, dan unsure tokoh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling lama 20 (dua puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya usulan dari Presiden. 5) Presiden menetapkan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya surat dari pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Versi II 2) Presiden mengajukan nama calon anggota Dewan Pengawas yang berasal dari unsur Pekerja, unsur Pemberi Kerja, dan unsur tokoh masyarakat kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia sebanyak 2 (dua) kali jumlah jabatan yang diperlukan, paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya daftar nama calon dari panitia seleksi. 3) Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia memilih anggota Dewan Pengawas yang berasal dari unsur Pekerja, unsur Pemberi Kerja, dan unsure tokoh masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (2), paling lama 20 (dua puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan usulan dari Presiden. 5) Presiden menetapkan calon terpilih sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak tanggal penerimaan surat dari pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Keterangan: 1. Ayat 2 pada versi II ada penambahan 10 hari kerja dan panitia seleksi 2. Ayat 3, pada versi I disebutkan diterimanya usulan pada versi II penerimaan Usulan 3. Ayat 5, pada versi I disebutkan diterimanya Surat pada versi II penerimaan Surat

Pasal 31 VERSI I Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemilihan dan penetapan Calon Ketua dan Anggota Dewan Pengawas serta Direktur Utama dan Anggota Direksi diatur dengan Peraturan Presiden.

VERSI II Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemilihan dan penetapan Dewan Pengawas dan Direksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29, dan Pasal 30 diatur dengan Peraturan Presiden.

Keterangan: Pada Pasal ini banyak perubahan dan penambahan terjadi: 1. Versi I disebut Calon Ketua, Anggota dewan pengawas, Direktur Utama dan Anggota direksi, Sedangkan di Versi II hanya dewan pengawas dan Direksi 2. Versi I diatur PP, versi II ada tambahan sebagaimana dimaksud Pasal 28,29 dan 30

Pasal 32 Versi I Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi berhenti dari jabatannya karena: a. meninggal dunia; b. masa jabatan berakhir. Versi II Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi berhenti dari jabatannya karena: a. meninggal dunia; b. masa jabatan berakhir; atau c. diberhentikan. Keterangan: Versi I hanya ada huruf a dan b, sedangkan versi II ada penambahan huruf c

Pasal 33 VERSI I 1) Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi dapat diberhentikan sementara karena: a. sakit terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya; b. ditetapkan menjadi tersangka; atau 3) Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembalikan pada jabatannya apabila telah dinyatakan sehat kembali untuk melaksanakan tugas atau apabila statusnya sebagai tersangka dicabut. 4) Pengembalian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak di hentikan statusnya sebagai tersangka dan tidak menjadi terdakwa. VERSI II 1) Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi dapat diberhentikan sementara karena: a. sakit terus-menerus lebih dari 3 (tiga) bulan sehingga tidak dapat menjalankan tugasnya; b. ditetapkan menjadi tersangka; atau c. dikenai sanksi administratif pemberhentian sementara. 3) Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembalikan pada jabatannya apabila telah dinyatakan sehat kembali untuk melaksanakan tugas atau apabila statusnya sebagai tersangka dicabut, atau sanksi administratif pemberhentian sementaranya dicabut. 4) Pengembalian jabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak dinyatakan sehat atau statusnya sebagai tersangka dicabut atau sanksi administratif pemberhentian sementaranya dicabut.

Keterangan: 1. Ayat 1 versi II ada penambahan isi UU di huruf c 2. Ayat 3 Versi II ada penambahan isi UU soal sanksi administratif 3. Ayat 4 Versi II ada penambahan isi UU soal sehat,pencabutan status dan sanksi administratif

Versi I Dalam hal anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi berhenti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 atau diberhentikan sebagaimana dimaksud pada Pasal 34, Presiden mengangkat anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi pengganti untuk meneruskan masa jabatan yang digantikan. Versi II Dalam hal anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi berhenti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf a atau diberhentikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34, Presiden mengangkat anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi pengganti untuk meneruskan sisa masa jabatan yang digantikan.

Pasal 35

Keterangan: Di Versi II, ada penambahan isi UU yaitu pada kalimat Pasal 32 huruf a

Pasal 37 VERSI I 2) Periode laporan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember. 3) Laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipublikasikan dalam bentuk ringkasan eksekutif melalui media massa elektronik dan paling sedikit 2 (dua) media massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional, paling lambat tanggal 31 Juli tahun berikutnya. 4) Bentuk dan isi publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Direksi setelah mendapat persetujuan dari Dewan Pengawas. 5) Bentuk dan isi laporan pengelolaan program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh BPJS setelah berkonsultasi dengan DJSN. 6) Laporan keuangan BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. 7) Direksi bertanggung jawab secara tanggung renteng atas kerugian finansial yang ditimbulkan atas kesalahan pengelolaan Dana Jaminan Sosial. 8) Ketentuan mengenai bentuk dan isi laporan pengelolaan program sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dalam Peraturan Presiden. VERSI II 2) Periode laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dimulai dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember. 3) Bentuk dan isi laporan pengelolaan program sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diusulkan oleh BPJS setelah berkonsultasi dengan DJSN. 4) Laporan keuangan BPJS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. 5) Laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipublikasikan dalam bentuk ringkasan eksekutif melalui media massa elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional, paling lambat tanggal 31 Juli tahun berikutnya. 6) Bentuk dan isi publikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh Direksi setelah mendapat persetujuan dari Dewan Pengawas. 7) Ketentuan mengenai bentuk dan isi laporan pengelolaan program sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Presiden. Keterangan: 1. Ada perubahan tata letak ayat dari versi I ke Versi II. a. Ayat 3 pada versi I pindah ke ayat 5 di versi II b. Ayat 4 pada versi I pindah ke ayat 6 di versi II c. Ayat 5 pada versi I pindah ke ayat 3 di versi II d. Ayat 6 pada versi I pindah ke ayat 3 di versi II e. Ayat 8 pada versi I pindah ke ayat 7 di versi II 2. Ayat 7 pada versi I pindah ke pasal 38 ayat 1 di versi II 3. Ayat 2 Versi II ada tambahan isi UU pengelolaan program dan laporan keuangan Pasal 41

Pasal 41 VERSI I 1) Aset BPJS bersumber dari: a. Modal awal dari Pemerintah, yang merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham; b. pengalihan aset Badan Usaha Milik Negara yang menyelenggarakan program jaminan sosial;

VERSI II 1) Aset BPJS bersumber dari: a. Modal awal dari Pemerintah, yang merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham; b. hasil pengalihan aset Badan Usaha Milik Negara yang menyelenggarakan program jaminan sosial;

Keterangan: Pada versi II ayat 1 huruf b, ada penambahan isi UU yaitu Hasil pengalihan

PASAL 43 yang ada di Versi I di hapus di Versi II, padahal di versi I tidak ada keterangan bahwa UU tersebut di batalkan. Karena di hapus pasal 43 di versi II, maka Mulai Pasal 43 di versi II sama dengan pasal 44 di versi I

Pasal 46 (versi I) 45 (versi II) Versi I 1) Biaya operasional tahunan dikeluarkan dari iuran yang diterima dan dari dana hasil pengembangan. 2) Ketentuan lebih lanjut mengenai biaya operasional dan persentase iuran dan dana hasil pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Versi II 1) Dana operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (1) huruf d ditentukan berdasarkan persentase dari iuran yang diterima dan/atau dari dana hasil pengembangan. 2) Ketentuan lebih lanjut mengenai persentase dana operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Keterangan: 1. Ayat 1 versi I biaya operasional tahunan dihilangkan di versi II 2. Ayat 1 versi II ada penambahan isi UU yaitu : a. Menerangkan pasal 41 ayat 1 huruf d b. Berdasarkan persentase 3. Ayat 2 a. versi I ada i. Biaya operasional ii. persentase iuran dan iii. dana hasil pengembangan b. versi II : i. Persentase dana Operasional Artinya persentase iuran dan dana hasil pengembangan di versi I di hapus di versi II 4. Versi 1 menyebutkan biaya versi II menyebutkan dana

VERSI I 1) Pihak yang merasa dirugikan yang pengaduannya belum dapat diselesaikan oleh unit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ayat (1), penyelesaian sengketanya dilakukan melalui mekanisme mediasi. 2) Mekanisme mediasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui bantuan seorang mediator atau lebih yang disepakati oleh kedua belah pihak secara tertulis. 3) Penyelesaian sengketa melalui mediasi dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak ditandatanganinya oleh kedua belah pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (2). VERSI II 1) Pihak yang merasa dirugikan yang pengaduannya belum dapat diselesaikan oleh unit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48 ayat (1), penyelesaian sengketanya dapat dilakukan melalui mekanisme mediasi. 2) Mekanisme mediasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui bantuan mediator yang disepakati oleh kedua belah pihak secara tertulis. 3) Penyelesaian sengketa melalui mediasi dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak penandatangan kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) oleh kedua belah pihak.

Pasal 50 (versi I) 49 (versi II)

Keterangan: 1. 2. 3. 4. Ayat 1 versi II menambahkan kata dapat pada isi UU Ayat 2 Versi II menghilangkan kalimat Seorang mediator atau lebih Ayat 3 versi I kata Ditandatangani dirubah Penandatangan pada versi II Ayat 3 Versi II menambahkan kalimat Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)

Pasal 51 (versi I) 50 (versi II) Versi I Dalam hal Penyelesaian pengaduan tidak dapat diatasi oleh unit kerja penyelesaian pengaduan dan / atau penyelesaian sengketa melalui mekanisme mediasi tidak dapat terlaksana, penyelesaiannya dapat diajukan ke pengadilan negeri di wilayah tempat tinggal pemohon. Versi II Dalam hal pengaduan tidak dapat diselesaikan oleh unit pengendali mutu pelayanan dan penanganan pengaduan Peserta melalui mekanisme mediasi tidak dapat terlaksana, penyelesaiannya dapat diajukan ke pengadilan negeri di wilayah tempat tinggal pemohon.

Keterangan: 1. Pada versi I kata penyelesaian di hapus di versi II 2. Pada versi I Kata diatasi diganti diselesaikan di versi II 3. Pada versi I kalimat oleh unit kerja penyelesaian pengaduan di GANTI dan DITAMBAHKAN kalimat oleh pengendali mutu pelayanan dan penanganan pengaduan Peserta sd 4. Pada versi I Kalimat penyelesaian Sengketa di hapus di Versi II

Pasal 53 (versi I) 52 (versi II) Versi I Anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi dilarang: a. memiliki hubungan keluarga sampai derajat ketiga antaranggota Dewan Pengawas, antaranggota Direksi, dan antara anggota dan anggota Direksi; l. membuat atau menyebabkan adanya suatu laporan palsu dalam buku catatan atau dalam laporan, atau dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, atau laporan transaksional BPJS dan/atau Dana Jaminan Sosial; dan/atau Versi II Anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi dilarang: a. memiliki hubungan keluarga sampai derajat ketiga antaranggota Dewan Pengawas, antaranggota Direksi, dan antara anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi; l. membuat atau menyebabkan adanya suatu laporan palsu dalam buku catatan atau dalam laporan, atau dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, atau laporan transaksi BPJS dan/atau Dana Jaminan Sosial; dan/atau

Keterangan: 1. Pada versi II ada penambahan kalimat Dewan Pengawas 2. Pada Versi I kata transaksional di rubah kata Transaksi di Versi II

Pasal 54 (versi I) 53 (versi II) VERSI I 1) Anggota Dewan Pengawas dan Direksi yang melanggar ketentuan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, atau huruf f dikenai sanksi administratif. VERSI II 1) Anggota Dewan Pengawas atau anggota Direksi yang melanggar ketentuan larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, atau huruf f dikenai sanksi administratif.

Keterangan: 1. Pada versi I kata dan di ganti dengan atau pada versi II 2. Ada penambahan kata Anggota di Versi II

Pasal 58 (versi I) 57 (versi II) Versi I Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: a. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Kesehatan Indonesia (ASKES) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Husada Bhakti menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 16) tetap melaksanakan program jaminan kesehatan, termasuk menerima pendaftaran peserta baru, sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan; b. Kementerian Kesehatan tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program jaminan kesehatan masyarakat, termasuk penambahan peserta baru, dan program Jaminan Persalinan sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan; c. Kementerian Pertahanan dan Kepolisian Republik Indonesia tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program layanan kesehatan bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru, sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasionalnya, yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden; d. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 59), berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3468) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan: 1. program jaminan pemeliharaan kesehatan termasuk penambahan peserta baru sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan; 2. program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru sampai dengan beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan (20xx); dan. e. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata republik Indonesia (ASABRI) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 88), tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program Jaminan pensiun, Program Jaminan hari tua, Program Jaminan Kematian, program Jaminan Kecelakaan kerja bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru, sampai dengan dialihkan ke BPJS Ketenagakerjaan. f. Perusahaan Perseroan (Persero) Dana Tabungan Dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 38), berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Nomor

2906), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890), dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3200) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program Pensiun, Program Tabungan hari tua, Program Asuransi kematian bagi peserta termasuk penambahan peserta baru sampai dengan dialihkan ke BPJS Ketenagakerjaan.

Versi II Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku: a. Perusahaan Perseroan (Persero) PT Asuransi Kesehatan Indonesia atau disingkat PT Askes (Persero) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1992 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Husada Bhakti menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 16) diakui keberadaannya dan tetap melaksanakan program jaminan kesehatan, termasuk menerima pendaftaran peserta baru, sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan; b. Kementerian Kesehatan tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program jaminan kesehatan masyarakat, termasuk penambahan peserta baru, sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan; c. Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Republik Indonesia tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program layanan kesehatan bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru, sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasionalnya, yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden; d. Perusahaan Perseroan (Persero) PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja atau disingkat PT Jamsostek (Persero) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1995 tentang Penetapan Badan penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 59), berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3468) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan: 1. program jaminan pemeliharaan kesehatan termasuk penambahan peserta baru sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan; dan 2. program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan hari tua bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru sampai dengan berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan. e. Perusahaan Perseroan (Persero) PT ASABRI atau disingkat PT ASABRI (Persero) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1991 tentang

Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 88), berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1966 tentang Pemberian Pensiun, Tunjangan bersifat Pensiun, dan Tunjangan Kepada Militer Sukarela (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2812), Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2906), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokokpokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890), Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1988 tentang Prajurit Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1988 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3369), Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1968 tentang Pemberian Pensiun Kepada Warakawuri, Tunjangan Kepada Anak Yatim/Piatu, dan Anak Yatim-Piatu Militer Sukarela (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1968 Nomor 62), dan Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1991 tentang Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 87, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3455) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan program pembayaran pensiun bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru, sampai dengan dialihkan ke BPJS Ketenagakerjaan. f. Perusahaan Perseroan (Persero) PT DANA TABUNGAN DAN ASURANSI PEGAWAI NEGERI atau disingkat PT TASPEN (Persero) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1981 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri Menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 38), berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 tentang Pensiun Pegawai dan Pensiun Janda/Duda Pegawai (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2906), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890), dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1981 tentang Asuransi Sosial Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3200) tetap melaksanakan kegiatan operasional penyelenggaraan program tabungan hari tua dan program pembayaran pensiun bagi pesertanya, termasuk penambahan peserta baru sampai dengan dialihkan ke BPJS Ketenagakerjaan.

Keterangan: 1. Huruf a Versi II Menambahkan isi UU Versi I dengan kalimat Diakui keberadaannya 2. Huruf b Versi II Menghilangkan isi UU Versi I yaitu kalimat Program Jaminan Persalinan 3. Huruf c Versi II menambahkan isi UU Versi I dengan kalimat Tentara Nasional Indonesia 4. Huruf d point 2 Versi II Merubah isi UU Versi I dari Kalimat beroperasinya Menjadi ke kata Berubah 5. Huruf e versi II menambah isi UU versi I, yaitu menambah: a. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1966 b. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1969 c. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 d. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 e. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1988 f. Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 1968 g. Peraturan Pemerintah Nomor 67 Tahun 1991 6. Huruf e versi II Menghapus program Jaminan pensiun, Program Jaminan hari tua, Program Jaminan Kematian, program Jaminan Kecelakaan kerja di versi I, dan MENGGANTI dengan Program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia & program pembayaran pensiun 7. Huruf f Versi II MENAMBAH kalimat Pensiun Pegawai & MENAMBAH kalimat Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1969 Nomor 42 8. Huruf f Versi II MENGHAPUS isi UU Versi I yaitu : a. Program Pensiun b. Program Asuransi kematian Dan digantikan dengan: a. program pembayaran pensiun

Pasal 59 (versi I) 58 (versi II) VERSI I Pada saat berlakunya Undang-Undang ini Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan ditugasi untuk: a. Menyiapkan operasional BPJS Kesehatan untuk program jaminan kesehatan sesuai dengan Pasal 22 Undang-Undang tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional b. Menyiapkan pengalihan asset, pegawai, serta hak dan kewajiban PT Askes (Persero) ke BPJS Kesehatan.

VERSI II Pada saat berlakunya Undang-Undang ini Dewan Komisaris dan Direksi PT Askes (Persero) sampai dengan beroperasinya BPJS Kesehatan ditugasi untuk: a. Menyiapkan operasional BPJS Kesehatan untuk program jaminan kesehatan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 22 sampai dengan Pasal 28 UndangUndang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456). b. Menyiapkan pengalihan aset dan liabilitas, pegawai, serta hak dan kewajiban PT Askes (Persero) ke BPJS Kesehatan.

Keterangan: 1. Huruf a versi II MENAMBAH isi UU Versi I dengan kalimat a. sampai dengan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 b. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456 2. Huruf b versi II MENAMBAH isi UU Versi I dengan kata LIABILITAS

VERSI I 1) BPJS Kesehatan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. 2) Kementerian Kesehatan, sejak beroperasinya BPJS kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program jaminan kesehatan masyarakat. 3) Kementerian Pertahanan dan Kepolisian Republik Indonesia sejak beroperasinya BPJS kesehatan, tidak lagi menyelenggarakan program pelayanan kesehatan bagi pesertanya, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasionalnya, yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden; 4) Pada saat BPJS Kesehatan mulai beroperasi: a. PT. ASKES (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan semua aktiva dan pasiva serta hak dan kewajiban hukum PT. Askes (persero) menjadi aktiva dan pasiva serta hak dan kewajiban hokum BPJS kesehatan; b. Semua pegawai PT ASKES (persero) menjadi pegawai BPJS Kesehatan c. Menteri Badan Usaha Milik Negara selaku Rapat Umum Pemegang Saham mengesahkan laporan posisi keuangan penutup PT Askes (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan publik dan Menteri Keuangan mengesahkan laporan posisi keuangan pembuka BPJS Kesehatan dan laporan posisi keuangan pembuka dana jaminan kesehatan.

Pasal 61 (versi I) 60 (versi II)

VERSI II 1) BPJS Kesehatan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kesehatan pada tanggal 1 Januari 2014. 2) Sejak beroperasinya BPJS Kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Kementerian Kesehatan tidak lagi menyelenggarakan program jaminan kesehatan masyarakat; b. Kementerian Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia, dan Kepolisian Republik Indonesia tidak lagi menyelenggarakan program pelayanan kesehatan bagi pesertanya, kecuali untuk pelayanan kesehatan tertentu berkaitan dengan kegiatan operasionalnya, yang ditetapkan dengan Peraturan Presiden; dan c. PT Jamsostek (Persero) tidak lagi menyelenggarakan program jaminan pemeliharaan kesehatan. 3) Pada saat BPJS Kesehatan mulai beroperasi sebagaimana dimaksud pada ayat(1): a. PT Askes (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan semua aset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum PT Askes (Persero) menjadi asset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum BPJS Kesehatan; b. Semua pegawai PT Askes (Persero) menjadi pegawai BPJS Kesehatan; dan c. Menteri Badan Usaha Milik Negara selaku Rapat Umum Pemegang Saham mengesahkan laporan posisi keuangan penutup PT Askes (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan publik dan Menteri Keuangan mengesahkan laporan posisi keuangan pembuka BPJS Kesehatan dan laporan posisi keuangan pembuka dana jaminan kesehatan.

Keterangan: 1. Ada perubahan susunan ayat dan huruf di pasal ini a. Ayat 2 di versi I pindah ke ayat 2 huruf a di versi II b. Ayat 3 di versi I pindah ke ayat 2 huruf b di versi II c. Ayat 4 diversi I Pindah ke ayat 3 di versi II 2. Ayat 2 huruf b di versi II menambah isi UU Versi I dengan kalimat Tentara Nasional Indonesia 3. Ayat 2 huruf c di versi II menambah isi UU Versi I dengan kalimat PT Jamsostek (Persero) tidak lagi menyelenggarakan program jaminan pemeliharaan kesehatan. 4. Ayat 3 huruf a di versi II MERUBAH isi UU Versi I dari aktiva dan pasiva Menjadi asset dan liabilitas

VERSI I Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek (Persero) sampai dengan berubahnya PT Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan ditugasi untuk: a. Menyiapkan operasional BPJS Ketenagakerjaan untuk program jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan hari tua, jaminan pensiun; b. Menyiapkan pengalihan asset, pegawai, serta hak dan kewajiban PT Jamsostek (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan;dan

Pasal 62 (versi I) 61 (versi II)

VERSI II Pada saat berlakunya Undang-Undang ini, Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek (Persero) sampai dengan berubahnya PT Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan ditugasi untuk: a. menyiapkan pengalihan program jaminan pemeliharaan kesehatan kepada BPJS Kesehatan; b. menyiapkan operasional BPJS Ketenagakerjaan untuk program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian; c. menyiapkan pengalihan aset dan liabilitas serta hak dan kewajiban program jaminan pemeliharaan kesehatan PT Jamsostek (Persero) terkait penyelenggaraan program jaminan pemeliharaan kesehatan ke BPJS Kesehatan; dan d. Menyiapkan pengalihan aset dan liabilitas, pegawai, serta hak dan kewajiban PT Jamsostek (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan.

Keterangan: 1. Ada perubahan susunan huruf di pasal ini: a. Huruf a di Versi I Pindah ke Huruf b di versi II b. Huruf b di Versi I Pindah ke huruf d di versi II 2. Versi II menambah isi UU Versi I, dimana Versi I hanya 2 Huruf sedangkan di Versi II ada 4 Huruf. Penambahannya ada di huruf a dan huruf c pada Versi II 3. Huruf d Versi II menambah isi UU versi I dengan kata Liabilitas

Pasal 64 (versi I) 62 (versi II) VERSI I 4) Pada saat BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi: a. PT Jamsostek (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan semua Aktiva dan pasiva serta hak dan kewajiban hukum PT Jamsostek (Persero) menjadi Aktiva dan pasiva serta hak dan kewajiban hukum BPJS Ketenagakerjaan; b. Semua pegawai PT Jamsostek (Persero) menjadi pegawai BPJS Ketenagakerjaan;dan c. Menteri Badan Usaha Milik Negara selaku Rapat Umum Pemegang Saham mengesahkan laporan posisi keuangan penutup PT Jamsostek (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan publik dan Menteri Keuangan mengesahkan laporan Posisi keuangan pembukaan BPJS Ketenagakerjaan dan laporan posisi keuangan pembuka dana jaminan hari tua dan dana jaminan pensiun. VERSI II 1) PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan pada tanggal 1 Januari 2014. 2) Pada saat PT Jamsostek (Persero) berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. PT Jamsostek (Persero) dinyatakan bubar tanpa likuidasi dan semua asset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum PT Jamsostek (Persero) menjadi aset dan liabilitas serta hak dan kewajiban hukum BPJS Ketenagakerjaan; b. semua pegawai PT Jamsostek (Persero) beralih menjadi pegawai BPJS Ketenagakerjaan; c. Menteri Badan Usaha Milik Negara selaku Rapat Umum Pemegang Saham mengesahkan laporan posisi keuangan penutup PT Jamsostek (Persero) setelah dilakukan audit oleh kantor akuntan publik dan Menteri Keuangan mengesahkan posisi laporan keuangan pembukaan BPJS Ketenagakerjaan dan laporan posisi keuangan pembukaan dana jaminan ketenagakerjaan; dan d. BPJS Ketenagakerjaan menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, dan program jaminan kematian yang selama ini diselenggarakan oleh PT Jamsostek (Persero), termasuk menerima peserta baru, sampai dengan beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan yang sesuai dengan ketentuan Pasal 29 sampai dengan Pasal 38 dan Pasal 43 sampai dengan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456), paling lambat 1 Juli 2015.

Keterangan: 1. Pasal 62 pada versi II ada di pasal 64 Versi I 2. Menambah Pasal 62 ayat 1 (versi II) karena tidak ada pada Versi I 3. Pasal 62 ayat 2 (versi II) Menambahkan isi UU pada Versi I (pasal 64 ayat 4) yang kalimatnya: a. Berubah Menjadi b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) 4. Pasal 62 ayat 2 huruf c (Versi II) MERUBAH isi dari Pasal 64 ayat 4 huruf c (Versi I) dari Aktiva dan pasiva Menjadi Asset dan Liabilitas 5. Menambah Pasal 62 ayat 2 huruf d (versi II) karena tidak ada pada Versi I

Pasal 63 VERSI I Untuk pertama kali, Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek (Persero) diangkat menjadi Dewan Pengawas dan Direksi BPJS Ketenagakerjaan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi. VERSI II Untuk pertama kali, Dewan Komisaris dan Direksi PT Jamsostek (Persero) diangkat menjadi anggota Dewan Pengawas dan anggota Direksi BPJS Ketenagakerjaan untuk jangka waktu paling lama 2 (dua) tahun sejak BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi.

Keterangan: Versi II Menambah Isi dari Pasal Versi I, yaitu Menambahkan kata Anggota

Pasal 64 VERSI I 1) Pada saat BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi: a. Program jaminan hari tua, Jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian bagi peserta yang dialihkan dari PT. Jamsostek (Persero) paling lambat tanggal 31 juli 2015 b. Program Jaminan hari tua dan jaminan pensiun bagi peserta selain PNS dan TNI/Polri serta peserta baru dari pemberi kerja yang belum menjadi peserta program jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, dan jaminan kematian PT. Jamsostek (Persero) paling lambat 31 juli 2016 2) BPJS Pensiun mengalihkan program Jaminan Kecelakaan kerja dan jaminan kematian ke BPJS kesehatan paling lambat tahun 2019 3) PT Jamsostek (persero) wajib mengalihkan pengelolaan jaminan pemeliharaan kesehatan sejak beroperasinya BPJS Kesehatan 4) Sudah di Pindahkan di pasal 62 (Versi II) VERSI II BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi menyelenggarakan program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program jaminan pensiun, dan program jaminan kematian bagi peserta, selain peserta program yang dikelola PT TASPEN (Persero) dan PT ASABRI (Persero), sesuai dengan ketentuan Pasal 29 sampai dengan Pasal 46 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4456), paling lambat tanggal 1 Juli 2015. Keterangan: 1. Pasal 64 Versi I terbagi dari beberapa ayat, sedangkan pasal 64 Versi II tidak terbagi ayat 2. Ayat 2 dan 3 Versi I dihapus di Pasal 64 VERSI II

Pasal 65 VERSI I 1) PT ASABRI (Persero) dalam jangka waktu paling lama tahun sejak beroperasinya BPJS ketenagakerjaan tidak lagi menyelenggarakan program Jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian bagi pesertanya 2) PT TASPEN (Persero) dalam jangka waktu paling lama tahun sejak beroperasinya BPJS ketenagakerjaan, tidak lagi menyelenggarakan program jaminan kematian bagi pesertanya VERSI II 1) PT ASABRI (Persero) menyelesaikan pengalihan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan program pembayaran pensiun ke BPJS Ketenagakerjaan paling lambat tahun 2029. 2) PT TASPEN (Persero) menyelesaikan pengalihan program tabungan hari tua dan program pembayaran pensiun dari PT TASPEN (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan paling lambat tahun 2029.

Keterangan: Versi I dan Versi II sudah jelas perbedaannya, dari pengalihan programnya saja sudah berbeda.

Pasal 66 VERSI I Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengalihan program jaminan pensiun dan jaminan hari tua dari PT ASABRI (Persero) dan PT TASPEN (Persero) ke BPJS ketenagakerjaan diatur dengan peraturan pemerintah VERSI II Ketentuan mengenai tata cara pengalihan program Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan program pembayaran pensiun dari PT ASABRI (Persero) dan pengalihan program tabungan hari tua dan program pembayaran pensiun dari PT TASPEN (Persero) ke BPJS Ketenagakerjaan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Keterangan: Versi I dan Versi II sudah jelas perbedaannya, dari pengalihan programnya saja sudah berbeda. 1. Versi I mengatur peralihan program dari PT ASABRI & PT TASPEN ke BPJS ketenagakerjaan. Programnya yaitu: a. Program Jaminan Pensiun b. Program Jaminan hari tua 2. Versi II mengatur peralihan program dari PT ASABRI & PT TASPEN ke BPJS ketenagakerjaan. Programnya yaitu: a. PT. Asabri i. Program pembayaran pensiun b. PT. ASKES i. Program Tabungan hari tua ii. Program pembayaran pensiun

Pasal 65 (versi I --Mungkin salah ketik pasal 65 lagi--) 67 (versi II) VERSI I Ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara tidak berlaku untuk pembubaran PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61 ayat (4) huruf a dan Pasal 64 ayat (4) huruf a. VERSI II Ketentuan Pasal 142 ayat (2) huruf a Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 106, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4756) dan Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4297) tidak berlaku untuk pembubaran PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek (Persero) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60 ayat (3) huruf a dan Pasal 62 ayat (2) huruf a. Keterangan: 1. Versi II Menambahkan Keterangan lembaran negara, yang tidak ada di Versi I 2. Perbedaan pasal isi pasal di versi I dan II, karena ada perubahan, Pemindahan ayat dan pasal

Pasal 68 VERSI I Tidak ada di Dokumen VERSI II Pada saat berubahnya PT Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62 ayat (1), berdasarkan Undang-Undang ini: a. Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 1995 tentang Penetapan Badan Penyelenggara Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 59) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi; dan b. Ketentuan Pasal 8 sampai dengan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3468) dinyatakan tetap berlaku sampai dengan beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64. Keterangan: Isi pasal 68 tidak ada di dokumen VERSI I, artinya ini adalah penambahan Pasal di Versi II

Pasal 69 VERSI I Tidak ada di Dokumen VERSI II Pada saat mulai beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 14, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3468) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Keterangan: Isi pasal 69 tidak ada di dokumen VERSI I, artinya ini adalah penambahan Pasal di Versi II

Pasal 70 VERSI I Tidak ada di Dokumen VERSI II Peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang ini harus ditetapkan paling lama: a. (satu) tahun untuk peraturan yang mendukung beroperasinya BPJS Kesehatan; dan b. b. 2 (dua) tahun untuk peraturan yang mendukung beroperasinya BPJS Ketenagakerjaan terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Keterangan: Isi pasal 70 tidak ada di dokumen VERSI I, artinya ini adalah penambahan Pasal di Versi II

Pasal 66 (versi I --Mungkin salah ketik pasal 66 lagi--) 71 (versi II) VERSI I Dengan berlakunya UU ini, Semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyelenggaraan jaminan sosial disesuaikan dengan Undang-Undang ini. Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. VERSI II Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Keterangan: Versi II Menghilangkan isi UU Versi I, yaitu: Dengan berlakunya UU ini, Semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai penyelenggaraan jaminan sosial disesuaikan dengan UndangUndang ini.