Anda di halaman 1dari 20

JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372

PERHITUNGAN PROFIL TEGANGAN PADA


SISTEM DISTRIBUSI MENGGUNAKAN
MATRIX ADMITANSI DAN MATRIX
IMPEDANSI BUS

Maula Sukmawidjaja
Dosen Jurusan Teknik Elektro-FTI, Universitas Trisakti

Abstract
A very important problem in the design and operation of a distribution system is the
calculation of the voltage profile within specified limits at various points in the system. In
this text we shall develop methods by which we can calculate the voltage, current, and power
at any point in a distribution line provided we know these values at one point, usually at one
end of the line. The continued development of large, high-speed digital computers have
brought about a change in the relative importance of various techniques in the solution of
large distribution networks. One of particular importance is the introduction of bus
admittance and bus impedance matrices method which will prove to be very useful in the
calculation of the voltage profile in the distribution networks.
Keywords: voltage profile, bus admittance, bus impedance, matrices

1. Pendahuluan
Ada tiga bagian penting dalam proses penyaluran tenaga listrik,
yaitu: Pembangkitan, Penyaluran (transmisi) dan distribusi seperti pada
Gambar 1.

PEMBANGKIT
GI
Penaik Tegangan
GI
Penurun Tegangan
TRANSMISI
Jaringan
Tegangan
Menengah
Gardu Distribusi
DISTRIBUSI
PUSAT
PEMBANGKIT


Gambar 1. Tiga komponen utama dalam Penyaluran Tenaga Listrik
Penurun Tegangan
TRANSMISI
Penaik Tegangan
PEMBANGKIT

PUSAT
PEMBANGKIT

Jaringan
Tegangan
Menengah
Gardu Distribusi
DISTRIBUSI






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



22
Tegangan sistem distribusi dapat dikelompokan menjadi 2 bagian
besar, yaitu distribusi primer (20KV) dan distribusi sekunder (380/220V).
Jaringan distribusi 20KV sering disebut Sistem Distribusi Tegangan
Menengah dan jaringan distribusi 380/220V sering disebut jaringan
distribusi sekunder atau disebut Jaringan Tegangan Rendah 380/220V.


2. Jaringan Pada Sistem Distribusi Primer
Jaringan Pada Sistem Distribusi tegangan menengah (Primer,
20KV) dapat dikelompokkan menjadi lima model, yaitu Jaringan Radial,
Jaringan hantaran penghubung (Tie Line), Jaringan Lingkaran (Loop),
Jaringan Spindel dan Sistem Gugus atau Kluster. (Alexander, 2004: 54-80)
(Muchamdany, 2008: 6-40).

2.1. Jaringan Radial
Sistem distribusi dengan pola Radial seperti Gambar 2. adalah
sistem distribusi yang paling sederhana dan ekonomis. Pada sistem ini
terdapat beberapa penyulang yang menyuplai beberapa gardu distribusi
secara radial.


Gambar 2. Konfigurasi Jaringan Radial

Dalam penyulang tersebut dipasang gardu-gardu distribusi untuk
konsumen. Gardu distribusi adalah tempat dimana trafo untuk konsumen
dipasang. Bisa dalam bangunan beton atau diletakan diatas tiang.
Keuntungan dari sistem ini adalah sistem ini tidak rumit dan lebih murah
dibanding dengan sistem yang lain.
150 kV
PMT 150 kV
Trafo Daya
PMT 20 kV
20 kV
PMT 20 kV
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



23
Namun keandalan sistem ini lebih rendah dibanding dengan sistem
lainnya. Kurangnya keandalan disebabkan karena hanya terdapat satu jalur
utama yang menyuplai gardu distribusi, sehingga apabila jalur utama
tersebut mengalami gangguan, maka seluruh gardu akan ikut padam.

Kerugian lain yaitu mutu tegangan pada gardu distribusi yang paling
ujung kurang baik, hal ini dikarenakan jatuh tegangan terbesar ada diujung
saluran.

2.2. Jaringan Hantaran Penghubung (Tie Line)
Sistem distribusi Tie Line seperti Gambar 3. digunakan untuk pelanggan
penting yang tidak boleh padam (Bandar Udara, Rumah Sakit, dan lain-
lain).



Gambar 3. Konfigurasi Jaringan Hantaran Penghubung

Sistem ini memiliki minimal dua penyulang sekaligus dengan
tambahan Automatic Change Over Switch / Automatic Transfer Switch,
setiap penyulang terkoneksi ke gardu pelanggan khusus tersebut sehingga
bila salah satu penyulang mengalami gangguan maka pasokan listrik akan
di pindah ke penyulang lain

2.3. Jaringan Lingkar (Loop)
Pada Jaringan Tegangan Menengah Struktur Lingkaran (Loop) seperti
Gambar 4. dimungkinkan pemasokannya dari beberapa gardu induk,
sehingga dengan demikian tingkat keandalannya relatif lebih baik.
20 kV
Gardu Induk
Trafo Daya
PMT
150 kV
PMT
20 kV
150 kV
Gardu
Konsumen
(khusus)
20 kV
Pemutus
tenaga
Pemutus
tenaga
Penyulang
PMT
20 kV
PMT
20 kV






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



24

Gambar 4. Konfigurasi Jaringan Loop

2.4. Jaringan Spindel
Sistem Spindel seperti pada Gambar 5. adalah suatu pola kombinasi
jaringan dari pola Radial dan Ring. Spindel terdiri dari beberapa penyulang
(feeder) yang tegangannya diberikan dari Gardu Induk dan tegangan
tersebut berakhir pada sebuah Gardu Hubung (GH).



Gambar 5. Konfigurasi Jaringan Spindel
20 kV
PMT
20 kV
Pemutus
Beban
Trafo
Distribusi
PMT
20 kV
Trafo
Distribusi
Saklar
Seksi
Otomatis
Saklar
Seksi
Otomatis
Saklar
Seksi
Otomatis
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
PMT
150 kV
PMT
150 kV
150 kV
Gardu
Hubung
150 kV
Trafo Daya
PMT
20 kV
Trafo Distribusi
PMT
20 kV
Penyulang langsung
Pemutus
beban
Trafo Distribusi
Trafo Distribusi
Trafo Distribusi
20 kV
PMT
150 kV






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



25
Pada sebuah spindel biasanya terdiri dari beberapa penyulang aktif
dan sebuah penyulang cadangan (express) yang akan dihubungkan melalui
gardu hubung. Pola Spindel biasanya digunakan pada jaringan tegangan
menengah (JTM) yang menggunakan kabel tanah/saluran kabel tanah
tegangan menengah (SKTM).

Namun pada pengoperasiannya, sistem Spindel berfungsi sebagai
sistem Radial. Di dalam sebuah penyulang aktif terdiri dari gardu distribusi
yang berfungsi untuk mendistribusikan tegangan kepada konsumen baik
konsumen tegangan rendah (TR) atau tegangan menengah (TM).

2.5. Sistem Gugus atau Sistem Kluster
Konfigurasi Gugus seeperti pada Gambar 6. banyak digunakan untuk kota
besar yang mempunyai kerapatan beban yang tinggi. Dalam sistem ini
terdapat Saklar Pemutus Beban, dan penyulang cadangan.



Gambar 6. Konfigurasi Jaringan kluster

Dimana penyulang ini berfungsi bila ada gangguan yang terjadi pada
salah satu penyulang konsumen maka penyulang cadangan inilah yang
menggantikan fungsi suplai kekonsumen.
150 kV
PMT
150 kV
Trafo Daya
PMT
20 kV
20 kV
PMT
20 kV
Pemutus
Beban
Penyulang Cadangan
Trafo Distribusi
Trafo Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi
Trafo
Distribusi






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



26
3. Sistem Distribusi Sekunder (Jaringan Tegangan Rendah 380/220V)
Sistem distribusi sekunder seperti pada Gambar 7. merupakan salah
satu bagian dalam sistem distribusi, yaitu mulai dari gardu trafo sampai
pada pemakai akhir atau konsumen.



Gambar 7. Hubungan tegangan menengah ke tegangan rendah dan
konsumen

Melihat letaknya, sistem distribusi ini merupakan bagian yang
langsung berhubungan dengan konsumen, jadi sistem ini selain berfungsi
menerima daya listrik dari sumber daya (trafo distribusi), juga akan
mengirimkan serta mendistribusikan daya tersebut ke konsumen. Mengingat
bagian ini berhubungan langsung dengan konsumen, maka kualitas listrik
selayaknya harus sangat diperhatikan.
Sekering TM
Trafo Distribusi
Jaringan Tegangan Menengah
Saklar TR
Rel TR
Sekering TR
Jaringan Tegangan Rendah
Gardu Induk
Tiang
Gardu Distribusi
Pelanggan
Sambungan
Rumah






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



27
Jatuh tegangan pada sistem distribusi mencakup jatuh tegangan pada:
1. Penyulang Tegangan Menengah (TM)
2. Transformator Distribusi
3. Penyulang Jaringan Tegangan Rendah
4. Sambungan rumah
5. Instalasi rumah.

Jatuh tegangan adalah perbedaan tegangan antara tegangan kirim
dan tegangan terima karena adanya impedansi pada penghantar. Maka
pemilihan penghantar (penampang penghantar) untuk tegangan menengah
harus diperhatikan. Jatuh tegangan yang di-ijinkan tidak boleh lebih dari
5% (V 5%). Secara umum V dibatasi sampai dengan 3,5%


4. Diagram Pengganti
Untuk memudahkan analisa, baik pada Jaringan Tegangan
Menengah maupun Jaringan Tegangan Rendah perlu dibuatkan diagram
penggantinya. Gambar 8. merupakan Jaringan Tegangan Menengah 20KV
yang disuplai dari sistem 150KV. Diagram pengganti dari Jaringan
Tegangan Menengah beserta trafo-trafo distribusinya berupa lingkaran-
lingkaran kecil pada penyulang. Posisi lingkaran disesuaikan dengan posisi
dimana trafo distribusi tersebut diletakan dalam penyulangnya.



Gambar 8. Diagram pengganti Jaringan Tegangan Menengah
PMT
20 kV
Trafo Daya
JTR
380/220V
JTM 20 kV
7 8 6 5 4 3 2 1
SISTEM
150 kV
SISTEM
150 kV
JTR
380/220V
JTR
380/220V
JTR
380/220V
JTM
20 kV
PMT
20 kV
7 8 6 5 4 3 2 1
PMT
150 kV






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



28
Diagram pengganti untuk Jaringan Tegangan Rendah terlihat pada
Gambar 9. Lingkaran-lingkaran kecil dan nomor-nomor pada lingkaran
tersebu melukiskan nomor-nomor tiang dan beban-beban yang tersambung
ketiang tersebu.



Gambar 9. Diagram yang melukiskan Jaringan Tegangan Rendah
(220/380V).

Pada Jaringan Tegangan Rendah 380/220V ada beberapa ketentuan yang
perlu diperhatikan (PLN, 1992: NP). Dalam satu tiang dapat disambung
maksimum 5 Sambungan Layanan Pelanggan, seperti pada Gambar 10.



Gambar 10. Satu tiang maksimum 5 SLP
1
- - - - -
Sambungan Layanan
Pelanggan
2 3
n
Gardu Trafo
Distribusi
1
2 3 4 5 6 n
STR
STR = Saluran Tegangan Rendah
SLP = Sambungan Layanan Pelanggan
SLP 5
SLP 4
SLP 3
SLP 1
SLP 2






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



29
Dalam satu Sambungan Layanan Pelanggan, dapat disambung seri
maksimum 5 pelanggan seperti Gambar 11. dengan tetap memperhatikan
jatuh tegangan yang di-ijinkan. Jarak sambungan maksimum dari tiang ke
rumah terakhir 150m, dan jarak sambungan maksimum dari tiang ke rumah
atau dari rumah kerumah, maksimum 30m.



Gambar 11. Dalam satu SLP, maksimum dapat disambung 5 pelanggan
secara seri

Pada sambungan Satu Tiang Atap, maksimun dapat disambung 3
Sambungan Layanan Pelanggan seperti Gambar 12.



Gambar 12. Satu Tiang Atap, dapat disambung maksimum 3 SLP
STR
SLP
STR = Saluran Tegangan Rendah
SLP = Sambungan Layanan Pelanggan
STR
SLP
Max. 3 SLP






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



30
Perhitungan Matrix Admitansi dan Matrix Impedansi Bus, baik
pada Jaringan Tegangan Menengah maupun Jaringan Tegangan Rendah,
dalam satu penyulang yang mendapat 1 suplai daya dapat dibuatkan
diagram impedansinya seperti Gambar 13.



Gambar 13. Diagram impedansi.

Analisa jaringan tegangan rendah, maka Z
b
adalah beban ekivalen
pada tiang tersebut. Sedangkan untuk jaringan tegangan menengah, Z
b

adalah impedansi ekivalen beban yang dipikul trafo. Z
S
adalah impedansi
penyulang antara tiang/ gardu dengan tiang/ gardu disebelahnya.


5. Profil Tegangan Jaringan Tegangan Menengah
Untuk melihat profil tegangan, diambil data (Peter L Toruan, 2004:
32-80) pada salah satu Gardu Induk di Jakarta Utara. Gardu Induk (GI)
tersebut selain melayani beban perumahan dan juga melayani beban
perindustrian. GI tersebut memiliki beberapa penyulang distribusi utama/
primer 20 kV.

Jaringan tersebut adalah Spindel dengan masing-masing penyulang
bertipe radial. Penyulang yang akan digunakan sebagai contoh adalah
penyulang kabel bawah tanah jenis AAAC (All Alumunium Alloy
Conductor) dengan diameter 3150 mm2 , resistansi 0,206 / km, reaktansi
0,104 / km dengan faktor daya 0,8, dan kapasitas maksimum 376 A.
- - -
Z
s1
- - - -
2 1 3 4 5 6 n
2 1 3 4 5 6 n
Z
s2
Z
s3
Z
s4
Z
s5
Z
s6
Z
sn
Z
b1
Z
b2
Z
b3
Z
b4 Z
b5
Z
b6
Z
bn
Z
s1
= Impedansi saluran antara tiang 1 dan 2
Z
b1
= Impedansi ekivalen beban total pada tiang 1






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



31
Beban puncak penyulang tersebut adalah 5,5 MVA. Dengan faktor
daya yang ditetapkan sebesar 0,8. Diagram satu garis penyulang seperti
Gambar 14. Penyulang mensuplai 16 Gardu trafo distribusi, dengan
kapasitas masing-masing trafo 400KVA, 20KV-380/220V.



Gambar 14. Penyulang mensuplai 16 Gardu trafo Distribusi

Untuk memudahkan setiap gardu trafo diberi nomor 1 s/d 16 seperti
Gambar 14. Jarak 1 gardu trafo dengan gardu trafo disebelahnya, rata-rata
berjarak 1,2 km.

Dari data-data diatas, impedansi penyulang antara satu gardu trafo
dengan gardu trafo disebelahnya adalah:

Z
S
= 0,2472 + j0,1248 O (1)

Untuk beban 5,5MVA, cos = 0,8 dan dianggap terdistribusi
merata pada ke 16 trafo, maka impedansi ekivalen beban masing-masing
gardu adalah (jika tidak merata, maka Z
b
dihitung dari masing-masing
beban pada tiang/gardu sendiri-sendiri, demikian juga Z
S
harus dihitung
sesuai jarak yang sebenarnya ada dilapangan):

Z
B
= 930.909 + j698.182 O (2)

Dari kedua data diatas, dan rangkaian pengganti yang dibicarakan
sebelumnya, dapat disusun Matrix Admitansi dan Matrix Impedansi
Bus
(2,5,6,9
. (Elgerd, 1971: 229-300) (Nagrath, 1980: 200-230) (Paul
Anderson, 2004: 25-50) (William D, 1984: 157-180). Karena ada 16
simpul, maka ukuran matrix Z
bus
dan Y
bus
adalah 16x16. Arus yang masuk
simpul 1 (masuk penyulang) adalah:

I
1
=
1 , 1
buss
nom
z
V
(3)

I
1
= 125.054 - 93.178i (4)

16 15 14 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



32
|I
1
| = 155.951 (5)

V
nom
adalah tegangan nominal sistem 20KV, diambil dan dijaga tetap
20KV
L-L
. Tegangan pada masing-masing gardu trafo dapat diperoleh dari:

V
tn
= z
bus
<1>
.I
1
(6)

Dimana Z
bus
<1>
adalah impedansi kolom 1 dari Z
bus
. Profil tegangan disetiap
gardu dilukiskan dalam Gambar 15.
Gambar 15. Profil Tegang Disetiap Gardu Pada JTM Yang Ditinjau

Jika penyulang tersebut merupakan sistem loop, Gambar 16. maka
tegangan disetiap gardu dapat diperoleh dengan cara yang sama seperti
perhitungan diatas.

Perbedaanya hanya pada data untuk membentuk matrix Z
bus
atau
Y
bus
. Pada sistem loop, simpul no 16 disambung kesimpul no 1 melalui
impedansi penyulang Z
s
. Jadi ada tambahan satu data dibanding sistem
radial diatas.
0 5 10 15 20
20000


19800


19600


19400
T
e
g
a
n
g
a
n

G
a
r
d
u

T
r
a
f
o

A
n
t
a
r

F
a
s
a

|
V
tni

| 3
i
Nomor Gardu






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



33


Gambar 16. Jaringan Tegangan Menengah tipe Loop.

Pada Gambar 17. profil tegangan lebih baik, tegangan pada gardu 1
dan 16 sekarang pada tegangan yang hampir sama (perbedaan tegangan
yang kecil terjadi pada jatuh tegangan dari titik 1 ke 16). Profil tegangan
untuk tipe loop.



Gambar 17. Profil tegangan gardu pada penyulang konfigurasi loop.

Jika jaringan loop disuplai dari 3 buah gardu induk 150-20KV seperti
Gambar 18.
2
I
1
16
15
14
13
12
11
10
1
3
4
5
6
7
8
9
0 5 10 15 20
i
Nomor Gardu
20000


19950


19900


19850


19800
|V
t4i
| 3
T
e
g
a
n
g
a
n

G
a
r
d
u

T
r
a
f
o

A
n
t
a
r

F
a
s
a







JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



34

Gambar 18. Penyulang konfiguasi loop dengan 3 sumber daya

Arus I
1
, I
6
dan I
12
dapat dihitung dari (Homer E, 1975: 49-80):

|
|
|
.
|

\
|
12
6
1
I
I
I
=
1
12 , 12 12 , 6 12 , 1
12 , 6 6 , 6 6 , 1
12 , 1 6 , 1 1 , 1

|
|
|
|
.
|

\
|
bus bus bus
bus bus bus
bus bus bus
Z Z Z
Z Z Z
Z Z Z
.
|
|
|
|
|
|
|
.
|

\
|
3
20000
3
20000
3
20000
(7)

Tegangan pada ke 16 gardu trafo distribusi dapat diperoleh dari teori
superposisi,

V
t5
= z
bus
<1>
.I
1
+ z
bus
<6>
.I
6
+ z
bus
<12>
.I
2
(8)

Dimana
Z
bus
<1>
= Z
bus
<6>
= Z
bus
<12>
(9)

= matrix kolom Z
bus
untuk kolom 1, 6 dan kolom 12.
150 kV - 20 kV
2
16
15
14
13
12
11
10
1
3
4
5
6
7
8
9
I
1
I
12
I
6






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



35
Pada Gambar 19. tegangan gardu no 1, 6 dan 12 dipertahankan tetap 20KV.



Gambar 19. Profil tegangan tipe loop dengan suplai dari 3 sumber daya


6. Profil Tegangan Jaringan Tegangan Rendah
Untuk melihat profil tegangan pada jaringan tegangan rendah
seperti Gambar 20. diambil data

(Alexander, 2004: 54-80) pada sistem
distribusi di Jakarta timur.



Gambar 20. Jaringan Tegangan Rendah 220V
T
e
g
a
n
g
a
n

G
a
r
d
u

T
r
a
f
o

A
n
t
a
r

F
a
s
a


20000


19990


19980


19970
0 5 10 15 20
i
Nomor Gardu
20000




|V
t5i
| 3




19978.932
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
I
1
20 kV - 380 / 220 V
JTR 220 V






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



36
Gardu trafo yang diamati melayani beban perumahan dengan
penyulangnya ditompang oleh 15 tiang. Beban pertiang 3300VA, 220V
dengan cos = 0,8. Impedansi saluran antara tiang satu dengan tiang
disebelahnya, diambil sama yaitu

Z
S
= 0,01 + j 0,03 O (10)

Impedansi ekivalen beban per tiang,

Z
B
= 11,733 + j 8,8 O. (11)

Dari kedua data diatas, dan rangkaian pengganti yang dibicarakan
sebelumnya, dapat disusun Matrix Admitansi dan Matrix Impedansi Bus.

Karena ada 15 simpul, maka ukuran matrix Z
bus
dan Y
bus
adalah
15x15. Arus yang masuk simpul 1 (masuk penyulang 220V) dihitung
dengan cara yang sama seperti perhitungan pada Jaringan Tegangan
Menengah, yaitu:

I
1
=
1 , 1
bus
nom
z
V
(12)

I
1
= 151.778 - 131.3867i (13)

|I
1
| = 200.746 (14)

I
nom
=
nom
t t
V
s n .
(15)

V
nom
adalah tegangan nominal 220V. Tegangan pada masing-masing tiang,

V
tn
= z
bus
<1>
.I
1
(16)

Dimana Z
bus
<1>
adalah impedansi kolom 1 dari Z
bus
.

Tegangan ini dilukiskan dalam Gambar 21.

Jika pada tiang 15 dipasang gardu trafo lain, sehingga penyulang
Jaringan Tegangan Rendah tsb mendapat 2 masukan tegangan 220V, seperti
terlihat dalam Gambar 22.






Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



37


Gambar 21. Profil tegangan jaringan tegangan rendah konfigurasi radial



Gambar 22. Penyulang jaringan tegangan rendah dengan suplai dari 2 gardu
trafo

Arus I
1
dan I
15
dapat diperoleh dari:

|
|
.
|

\
|
15
1
V
V
=
|
|
.
|

\
|
5
1 , 15 15 , 1
15 , 1 1 , 1
bus bus
bus bus
z z
z z
.
|
|
.
|

\
|
15
1
I
I
(17)
0 5 10 15
i
Nomor Simpul
T
e
g
a
n
g
a
n

(
V
o
l
t
)

|V
tni
|
220


210


200


190


180
I
1
I
15
1
2
4 3 5 6 8 9 7 10 11 14 13 12 15
20KV-380/220V
JTR 380/220V
20KV-380/220V






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



38

|
|
.
|

\
|
15
1
I
I
=
1
5
1 , 15 15 , 1
15 , 1 1 , 1

|
|
.
|

\
|
bus bus
bus bus
z z
z z
.
|
|
.
|

\
|
15
1
V
V
(18)

=
1
5
1 , 15 15 , 1
15 , 1 1 , 1

|
|
.
|

\
|
bus bus
bus bus
z z
z z
.
|
|
.
|

\
|
220
220


I
1
= 86.453 - 67.282i

|I
1
| = 109.549

I
15
= 86.453 - 67.282i

|I
15
| = 109.549

Tegangan masing-masing tiang,

V
t2
= z
bus
<1>
.I
1
+ z
bus
<15>
.I
15
(19)

Profil tegangannya seperti Gambar 23.



Gambar 23. Profil tegangan dengan suplai daya dari 2 gardu trafo
0 5 10 15
220

218

216

214

212

210
i
Nomor Tiang
|V
tni
|

T
e
g
a
n
g
a
n

T
i
a
n
g


(
L
-
N
)







Maula Sukmawidjaja. Perhitungan Profil Tegangan Pada Sistem Distribusi Menggunakan Matrix



39
7. Kesimpulan
1. Dengan menggunakan metoda matrix impedansi Z
bus
dan matrix
admitansi Y
bus
dapat diketahui profil tegangan pada penyulang
distribusi, baik pada jaringan tegangan rendah maupun jaringan
tegangan menengah.
2. Perhitungan tidak tergantung dari tipe/ konfigurasi jaringan (radial, loop
atau konfigurasi lainnya), maupun jumlah gardu/ tiang. Beban-beban
dan impedansi saluran juga tidak harus sama seperti yang diuraikan
dalam kasus-kasus diatas, tapi dapat bervariasi.
3. Jika tegangan-tegangan disemua titik telah diperoleh, maka arus dan
aliran daya dapat dihitung. Demikian pula rugi-rugi dayanya.
4. Untuk perhitungan yang lebih teliti, impedansi trafo dapat disisipkan
pada impedansi ekivalen Z
S
yang bersesuaian.
5. Matrix Z
bus
dan Y
bus
adalah matrix simetris yang luas penggunaanya
dalam sistem tenaga listrik baik pada operasi normal maupun kondisi
gangguan dan dapat diterapkan baik pada jaringan tegangan rendah,
maupun jaringan tegangan menengah, namun biasanya digunakan pada
jaringan tegangan tinggi.


Daftar Pustaka
1. Alexander Simanjuntak. 2004. Perhitungan Jatuh Tegangan Pada
Jaringan Distribusi Menggunakan Mathcad 2000 Profesional,
Disertasi. Jakarta: Tugas Akhir Strata-1, Jurusan Teknik Elektro,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti.
2. Elgerd, 0.I. 1971. Electric Energy System Theory, An Introduction. New
Delhi: Tata Mc Graw-Hill.
3. Homer E. Brown. 1975. Solution Of Large Networks By Matrix
Methods. : A Wiley-Interscience Publication, John Wiley &
Sons, Inc.
4. Muchamdany, 2008: Analisa Koordinasi Penyetelan Relai Arus Lebih
Dan Relai Gangguan Tanah Untuk Mengatasi Simpatetik Trip Pada
Gardu Induk Tanggerang PT. PLN (PERSERO) DISTRIBUSI
JAKARTA RAYA DAN TANGERANG AREA JARINGAN TANGERANG.
Disertasi. Jakarta: Tugas Akhir Strata-1, Jurusan Teknik Elektro,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Trisakti.
5. Nagrath, I.J., D.P. Kothari. 1980. Modern Power System Analysis. New
Delhi: Tata Mc Graw-Hill.
6. Paul Anderson. 1973. Analysis of Faulted Power Systems, USA: The
Iowa State University Press, Ames, Iowa.






JETri, Volume 7, Nomor 2, Februari 2008, Halaman 21 - 40, ISSN 1412-0372



40
7. Peter L Toruan. 2004. Menghitung Jatuh Tegangan Pada Penyulang
Jaringan Distribusi 20 kV , Disertasi. Jakarta: Tugas Akhir Strata-1,
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Universitas
Trisakti.
8. PLN. 1992: Standard Konstruksi Jaringan Distribusi Dilingkungan
Perusahaan Listrik Negara, Buku saku. Jakarta: nn.
9. William D. Stevenson, Jr. 1984, edisi ke-4. Analisis Sistem Tenaga
Listrik. Jakarta: Penerbit Erlangga.