Anda di halaman 1dari 13

LABORATORIUM MIKROBIOLOGI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN

HASIL DISKUSI PENGARUH LINGKUNGAN

OLEH : PANELIS III NUR ANNA MUSTARI NUR ASMA ELVIRA HARDIANA FATIMAH ABDUL HAMID

MAKASSAR 2011

1. Contoh bakteri terhadap pengaruh cahaya, suhu, dan pH? Jawab :


1. pH y Bakteri asidofilik, yaitu bakteri yang dapat tumbuh pada pH 2-5 Contoh :L. Asidofilus y Bakteri netrofilik, yaitu bakteri yang dapat tumbuh pada pH 5,58,0 Contoh :H. Influensa y Bakteri alkalifilik, yaitu bakteri yang dapat tumbuh pada pH 8,49,5 Contoh :V.cholera 2. Suhu y Bakteri psikofilik, bakteri yang hidup pada kisaran suhu 5C20C Contoh :Streptococcus albus y Bakteri mesofilik, bakteri yang hidup pada kisaran suhu 20C45C Contoh ;Neissaria gonorhoe y Bakteri termofilik, bakteri yang hidup pada suhu diatas 45C

3. Kadar oksigen y Obligat aerob, membutuhkan 02,yang sangat bagus sebagai akseptor akhir dalam oksidasi biologis/respirasi aerob. Contoh :Micrococcus luteus

Obligat anaerob, mikrorganisme yang termasuk golongan ini tidak membutuhkan oksigen karena akan mengakibatkan penghambatan atau mematikan organisme tersebut . Contoh :Clostridum tetani

Fakultatif aerob atau fakultatif anaerob dapat menggunakan O2 sebagai akseptor electron. Atau sebagai penggantinya, di ambil oksigen dari garam-garam seperti Na2SO4 atau karbonat.

Penggunaan pengganti ini kadang-kadang disebut juga respirasi anaerob. Contoh :E.coli y Mikroaerofil, organisme dari golongan ini mati atau terhambat pertumbuhannya oleh tegangan oksigen penuh. Pertumbuhan terbaik bagi organism ini ialah pada konsentrasi oksigen terbatas. Contoh :Compylobacter jejuni. 2. Jelaskan pengaruh lingkungan selain yang dipraktikan dalam

praktikum yang berhubungan dengan ion-ion dan listrik? Jawab : a. Buffer Untuk menumbuhkan mikroba pada media memerlukan pH yang konstan, terutama pada mikroba yang dapat menghasilkan asam. Misalnya Enterobacteriaceae dan beberapa Pseudomonadeceae. Oleh karenanya ke dalam medium diberi buffer untuk menjaga agar

pHnya konstan. Buffer merupakan campuran garam mono dan dibasik, maupun senyawa organik amfoter. Sebagai contoh buffer adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7,2. b. Listrik Listrik dapat mengakibatkan terjadinya elektrolisis bahan, penyusun medium pertumbuhan. Selain itu arus listrik dapat menghasilkan panas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Sel mikroba dalam suspensi akan mengalami elektroforesis apabila dilalui arus listrik. Arus listrik tegangan tinggi yang melalui suatu cairan akan menyebabkan terjadinya shock karena tekanan hidrolik listrik. c. Tegangan muka Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis. Seperti telah diketahui protoplasma mikroba terdapat di dalam sel yang dilindungi dinding sel, maka apabila perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. Pada umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi. d. Tekanan hidrostatik Tekanan hidrostatik mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan mikroba. Umumnya tekanan 1-400 atm tidak mempengaruhi atau hanya sedikit mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan

mikroba.

Tekanan hidrostatik yang

lebih tinggi lagi dapat

menghambat atau menghentikan pertumbuhan, oleh karena tekanan hidrostatik tinggi dapat menghambat sintesis RNA, DNA, dan protein, serta mengganggu fungsi transport membran sel maupun mengurangi aktivitas berbagai macam enzim. e. Getaran Getaran mekanik dapat merusakan dinding sel dan membran sel mikroba. Oleh karena itu getaran mekanik banyak dipakai untuk memperoleh ekstrak sel mikroba. Isi sel dapat diperoleh dengan cara menggerus sel-sel dengan menggunakan abrasif atau dengan cara pembekuan kemudian dicairkan berulang kali. Getaran suara 100-10.000 x/ detik juga dapat digunakan untuk memecah sel. 3. Mengapa aw bakteri lebih besar dari aw fungi ? Jawab : AW (water of activity) adalah jumlah air bebas yang tersedia dan dapat digunakan untuk pertumbuhan m.o dalam bahan makanan. Jenis mikroorganisme yang berbeda membutuhkan jumlah air yang berbedabeda untuk pertumbuhannya. Kebanyakan bakteri dapat hidup pada Aw>0,90 sedangkan kebanyakan kapang dan khamir berturut-turut dapat hidup pada Aw>0,70 dan Aw 0,80. Pada Aw yang rendah, mikroorganisme akan mati karena sel-sel dimikroorganisme akan berdifusi ke luar sebagai akibat terjadinya proses kesetimbangan osmotik. Aw bakteri lebih besar dengan Aw fungi karena kelembapan

pada fungi lebih besar dibandingkan dengan bakteri. Dan kita ketahui Aw berbanding terbalik dengan kelembapan. Jadi karena kelembapan bakteri kecil maka Aw bakteri itu lebih besar dengan Aw kapang.

4. Apakah antimikroba bakteriostatik dapat digabungkan dengan antimikroba bakteriosid? Jawab : Tidak bisa digabungkan antara antimikroba bakteriostatik dengan bakteriosid karena dalam penggunaannya bakteriosida

digunakan untuk membunuh mikroba dan buat apa digabungkan dengan zat penghambat (bakteriostatik) jika kita ingin langsung membunuh bakteri. Dan satu hal lainnya tidak ada suatu

senyawa yang bisa mencampur bakteriosida dan bakteriostatik. 5. Apakah bakteri mesofilik dapat hidup di lingkungan yang psikrofilik? Jawab : Menurut saya itu tidak dapat hidup, karena mikroorganisme dapat bertahan di dalam suatu batas-batas temperatur tertentu. Batasbatas itu ialah temperatur minimun dan temperatur maksimum, sedang temperatur yang paling baik bagi kegiatan hidup itu disebut temperatur optimum. Dan dimana pada bakteri mesofilik suhu optimumnya ialah antara 25C sampai 40C dan psikrofilik suhu optimumnya ialah 10C sampai 20C. Ini membuktikan

bakteri mesofilik tidak dapat hidup di lingkungan yang psikrofilik karena suhunya sudah diluar kisaran suhu optimum bakteri mesofilik. Tapi ada juga anggapan lain yang menyatakan 6. Mengapa ada bakteri yang dapat hidup di lingkungan yang kadar gula/garamnya tinggi,sedangkan yang diketahui bahwa mikroba mati pada lingkungan yang hiperfobik. Jawab : Kita harus mengetahui bahwa di dalam sel mikroba tersebut bersiat hipertonik karena bakteri tersebut beradaptasi dengan pengaruh dilingkungannya yang mengandung banyak garam (hipertonik). Bakteri tersebut tetap hidup karena terjadi isotonis antara kadar dalam sel yang hipertonik dan kadar diluar sel yang mengandung banyak garam (hipertonik). Bakteri tersebut dapat mati, jika kalau bakteri tersebut di pindahkan ke daerah air tawar, bakteri itu akan plasmoptisis karena cairan dilingkungan masuk ke dalam sel (hipotonik) secara berlebihan. 7. Apakah mikroba dapat hidup di luar angkasa? Jawab :

Jika berbicara mengenai mikroba dapat hidup di luar angkasa atau tidak ,jawabnnya adalah yah,mikroba dapat hidup di luar angkasa, Contonya adalah: y Mikroba antartika pemakan besi
Darah mengalir deras di Antartika. Unsur berwarna merah itu ternyata mikroba yang berdiam di dalam kumpulan air yang terjebak di bawah lapisan es. mikroba ini menggunakan sulfat sebagai katalis dalam sebuah rantai reaksi yang kompleks dimana penerima elektron akhirnya adalah besi. Dengan karakteristik ini, maka mikroba ini mungkin dapat hidup di Europa, salah satu bulan Jupiter yang memiliki lautan yang kaya akan zat besi di bawah lapisan esnya yang tebal. y Bakteri yang mampu bertahan dari radiasi Radiodurans adalah nama bakteri ini. Ia mampu bertahan dalam dosis radiasi seribu kali lebih kuat dibanding dosis yang dapat diterima manusia. Kemampuan ini didapatkannya karena sistem pemulihan DNA-nya yang unik. Manusia yang menerima radiasi umumnya meninggal, karena partikel radioaktif tersebut

menghancurkan DNA-nya. Akibatnya sistem regulasi di tubuh pun terhenti. Namun, tidak dengan bakteri ini, secara menakjubkan ia mampu menyusun kembali DNA-nya yang telah hancur. Salah satu masalah yang dihadapi ketika manusia mencoba untuk hidup di

bulan atau Mars, adalah adanya radiasi yang cukup mematikan. Jika bakteri ini dilepas di angkasa, maka radiasi yang ada di sana tidak akan mampu mempengaruhi tubuhnya. Jadi, jika suatu saat kita mungkin telah mampu menjelajahi angkasa luar beserta planetplanetnya, jangan heran kalau suatu hari kita bisa menemukan makhluk seperti ini di sana. Mungkin saja. 8. Bagaimanakah cara kerja desinfektan? Jawab : Dapat merusak sel dengan cara koagulasi atau denaturasi protein, protoplasma sel atau menyebabkan sel mengalami lisis, yaitu dengan struktur membrane sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran sel. Desinfektansia dibagi 4 kelompok, yaitu : 1. Turunan Aldehida Sebagai contoh adalah formaldehida, para formaldehida dan

glutaraldehida.Larutan formaldehida (formalin) mengandung 37 % HCOH mempunyai efek antibakteri dengan kerja lambat. Larutan ini digunakan untuk desinfektan ruangan, alat-alat dengan kadar 1:5000, larutan formaldehida dalam air atau alkohol digunakan untuk mengeraskan kulit, mencegah keringat yang berlebihan dan untuk desinfektan tangan. Paraformaldehida diperoleh dengan cara menyuapkan larutan formalin, dibuat untuk memudahkan dalam pengangkutan.

Penggunaannya sama dengan formalin dan sama memiliki bau yang tidak menyenangkan. Glutaraldehida digunakan sterilisasi larutan atau peralatan

pembedahan yang tidak dapat disterilkan dengan pemanasan. Senyawa ini mempunyai keuntungan dari senyawa formalin yang lain. Tidak berbau, efek terhadap kulit dan mata lebih rendah dibandingkan dengan formaldehida. 2. Turunan klorofor Contoh dari senyawa ini adalah kloramin T, diklaramin T, klorin, halazan dan natrium hipoklorit. 3. Senyawa pengoksidase Contohnya pengoksidase senyawa yang peroksida sering (H2O2) adalah senyawa

digunakan

sebagai

antimikroba,

hidrogen peroksidase digunakan sebagai antimikroba. Hidrogen peroksida digunakan untuk mencuci luka dan penghilang bau badan dengan kadar 1-3%. Karbamidperoksida (urea peroksida), (NH2)2CO. H2O2 mengandung 34 % H2O2 atau 16 % O2.Digunakan sebagai antiseptika pada telinga dan pada luka.Kalium permanganate (KMnO4) dan Natrium perborat (NaBO3) digunakan sebagai desinfektansia dan

antiseptika.Pada umumnya kedua senyawa tersebut digunakan untuk pemakaian setempat dalam bentuk larutan dalam air.

Benzoil

peroksida

(C6H5-COOH-C6H5),

digunakan

sebagai

antiseptik dan keratolitik untuk pengobatan kukul (ache) dalam bentuk lotion 5-10%. 4. Turunan fenol Contoh-contoh dari turunan ini adalah kresol, klorokeresol, kreosot, timol, klorotimol.

9. Bagaimana cara pertahanan tubuh mikroba di lingkungan yang heterofilik? Jawab : Karena bakteri heterofilik memiliki struktur tubuh yang dinamakan

10. Apa itu daya oligodinamik, halodurik, dan termodurik? Jawab: y Daya oligodinamik adalah pengaruh logam berat terhadap

pertumbuhan mikroorganisme, Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oelh karena dapat mepresipitasikan enzim-enzim protein esensial dalam sel logam-logam yang sering dipakai adalah Hg, Ag, As, Zn, dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat dimana pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dapat dinamakan daya oligodinamik.Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat-alat yang terlibat dari logam.

Termodurik adalah bakteri yang dapat hidup pada suhu diatas 100C.

Halodurik adalah kelompok mikroba yang dapat tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi, kadar garamnya dapat mencapai 30%.

11. Kenapa bakteri aerob membutuhkan oksigen sedangkan bakteri anaerob tidak bisa hidup di daerah yang kaya oksigen! Jawab : Kenapa bakteri aerob membutuhkan oksigen karena dalam struktur tubuhnya bakteri ini terdapat organ yang dapat memecah gula menjadi air, CO2, dan energi sehingga harus membutuhkan energi.Bakteri anaerob tidak membutkan oksigen karena m.o ini tidak memiliki atau hanya mempunyai sedikit superoksida demutase yang mengubah superoksida (O2) yang bersifat racun menjadi hydrogen peroksida (H2O2).Superoksida (O2) terbentuk bila m.o berada dalam lingkungan aerob. Selain superoksida demutase, kelompok ini tidak mempunyai peroksida dan katalase yang mengubah hydrogen peroksida menjadi bentuk tidak toksik. Alasan mengapa kelompok ini tidak dapat hidup dalam leingkungan aerob adalah system enzim yang sensitive terhadap O2.

12. Apa tujuan di lakukan penggolongan mikroba? Jawab :

Dengan adanya penggolongan mikroba, memudahkan kita dalam mengidentifikasi lebih lanjut mengenai mikroba. Contohnya saja ketika kita melakukan isolasi atau inokulasi, kita tidak langsung

menginokulasikan bakteri begitu saja, langkah awal kita yaitu melihat dimana suatu bakteri tersebut tumbuh apakah aerob atau anaerob, melihat suhu dan pHnya, setelah mengetahui itu baru kita lanjut dengan menginokulasi dan mengisolasi bakteri sesuai dengan karakteristiknya tadi. Begitu juga pada saat kita uji ABI, dengan mengetahui suhu, pH, cahaya, dan kadar oksigennya. Kita lebih mudah mengidenifikasi bakteri-bakteri terhadap uji-uji yang dilakukan.