Anda di halaman 1dari 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

Konsep Persalinan Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta, selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah kehamilan 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Winknjosastro, 2008, Hlm.37). Helen Varney mengatakan persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney,H, 2007, Hlm. 672). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan, lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2006, Hlm.100). Tanda-tanda persalinan yaitu rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur, keluar darah lendir yang banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, terkadang ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan dalam didapat serviks yang mendatar dan pembukaan jalan sudah ada (Yeyeh, Ai, 2009, Hlm. 9). Proses dinamik dari persalinan meliputi empat komponen yang saling berkaitan yang mempengaruhi baik mulainya dan kemajuan persalinan. Empat komponen ini adalah passanger (janin), passage (pelvis ibu), power (kontraksi 7

Universitas Sumatera Utara

8 uterus), dan Psikis (status emosi ibu). Bila persalinan dimulai, interaksi antara passanger, passage, power, dan psikis harus sinkron untuk terjadinya kelahiran pervaginam spontan (Wlash, linda, 2007, Hlm.300). B. Konsep Persalinan kala 1 Persalinan Kala 1 di definisikan sebagai permulaan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan serviks yang progresif dan diakhiri dengan pembukaan lengkap (10 cm). Hal ini dikenal sebagai tahap pembukaan serviks (Varney,H, 2007, Hlm.672). Saat persalinan sudah dimulai kontraksi akan berkembang dan leher rahim melebar. Kala 1 persalinan normalnya berlangsung antara 2-24 jam. Lama rata rata dari Kala 1 untuk primigravida adalah 12 1/2 jam dan untuk multigravida normalnya adalah 7 jam 20 menit. Persalinan pertama umumnya lebih lama dari pada persalinan berikutnya. Persiapkan diri untuk menjalani persalinan kala 1 yang singkat, sedang dan lama, karena tidak mungkin memperkirakan berapa lama hal ini berlangsung ( Simkin, P, 2007, 192 ) Kala 1 persalinan berlangsung sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur sampai dilatasi serviks lengkap. Kala 1 persalinan ini dibagi dalam tiga bagian, yaitu fase laten / persiapan, fase aktif, fase transisi. Selama fase laten, affacement lebih banyak mengalami kemajuan dari pada penurunan janin. Selama fase aktif dan fase transisi, dilatasi serviks dan penurunan bagian presentasi berlangsung lebih cepat. (Bobak, 2004, Hlm. 301). a. Fase Persiapan / Laten Fase laten adalah periode waktu dari awal persalinan hingga ke titik ketika pembukaan mulai berjalan secara progresif, yang umumnya dimulai sejak kontraksi mulai muncul hingga pembukaan 3-4 sentimeter atau permulaan fase

Universitas Sumatera Utara

9 aktif. Fase persiapan merupakan fase terlama karena prosesnya berjam-jam, berhari-hari bahkan bermingguminggu. Fase persiapan ditandai dengan terjadinya pembukaan (dilatasi) dan penipisan leher rahim dengan pembukaan leher rahim mencapai 3 cm. Selain itu, ibu mulai merasakan kontraksi yang jelas, berlangsung selama 30-50 detik dengan jarak 5-20 menit. Semakin bertambahnya pembukaan leher rahim, semakin sering kontraksi. Beberapa ibu, khususnya yang sensitif, mulai merasa sakit. Namun, beberapa ibu lainnya tidak merasa sakit sama sekali. Gejala gejala pada fase persiapan, antara lain sakit punggung, dapat menetap atau hanya saat kontraksi, kejang perut seperti waktu haid, gangguan pencernaan, diare, perasaan hangat diperut, pengeluaran lendir dengan bercak darah, kemungkinan membran (ketuban) pecah diikuti keluarnya cairan ketuban, baik secara mengalir, merembes, maupun menyemprot. secara emosional ibu merasa cemas, tidak pasti, takut, gembira, lega, atau siap. Beberapa ibu merasa santai dan banyak bicara, ada juga yang tegang sehingga enggan buka mulut (Danuatmaja & Meilasari, 2004, Hlm. 26). b. Fase aktif Fase aktif adalah periode waktu dari awal kemajuan aktif pembukaan hingga pembukaan menjadi komplet dan mencakup fase transisi. Pembukaan umumnya dimulai dari 4 cm (pada akhir fase laten) hingga 10 cm ( akhir kala satu persalinan). Biasanya fase ini berlangsung lebih pendek dari fase persiapan. Kegiatan rahim mulai lebih aktif dan banyak kemajuan yang terjadi dalam waktu singkat.kontraksi semakin lama (berlangsung 40-60 detik), kuat, dan sering ( 3-4 menit sekali ). Pembukaan leher rahim mencapai 7 cm. Pada fase ini ibu mulai merasa sakit.

Universitas Sumatera Utara

10 Gejala gejala fase aktif adalah bertambahnya rasa tidak enak bersamaan dengan kontraksi, bertambahnya sakit punggung, rasa tidak nyaman pada kaki, keletihan, bertambahnya pengeluaran lendir dan darah. Jika sebelumnya membran (ketuban) belum pecah, mungkin akan pecah saat ini. Secara emosional ibu gelisah, makin sulit tenang maupun santai, makin tegang, tidak dapat berkonsentrasi, makin terpengaruh dengan kondisi yang sedang terjadi, rasa percaya diri mulai goyah, sepertinya persalinan tidak akan selesai, namun mungkin sebaliknya, ibu gembira dan bersemangat karena persalinan mulai terjadi ( Danuatmaja & Meilasari, 2004, Hlm. 31). c. Fase Transisi Selama fase transisi, wanita mengakhiri kala satu persalinan pada saat hampir memasuki dan sedang mempersiapkan diri untuk kala dua persalinan. Fase ini adalah fase yang paling melelahkan dan berat. Banyak ibu merasakan sakit yang hebat. Hal ini dikarenakan kontraksi meningkat dan menjadi sangat kuat, 2-3 menit sekali selama 60-90 detik. Puncak kontraksi yang sangat kuat dan lamanya hampir sama dengan kontraksi itu sendiri. Ibu merasa seolah olah kontraksi tidak pernah berhenti dan tidak ada waktu istirahat diantaranya. Pembukaan rahim mencapai 10 cm, umumnya 3 cm terakhir berlangsung sangat cepat, rata-rata 15 menit hingga 1 jam. Gejala-gejala pada fase transisi, antara lain tekanan kuat di bagian bawah punggung dan atau perineum, tekanan pada anus membuat ibu ingin mengejan sehingga mengejan tanpa terasa atau menggeram, panas dan berkeringat atau dingin dan gemetar atau bergantian, pengeluaran lendir dan darah bertambah karena banyak pembuluh darah kapiler pecah, kaki kejang, dingin dan gemetar tidak terkendali, rasa mengantuk karena oksigen berpindah dari otak ke daerah

Universitas Sumatera Utara

11 persalinan, mual, muntah, dan kehabisan tenaga. (Danuatmaja & Meilasari, 2004, Hlm.33). C. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Cemas adalah suatu emosi yang dihubungkan dengan kehamilan, cemas mungkin emosi positif sebagai perlindungan menghadapi kecemasan, yang bisa menjadi masalah apabila berlebihan (Salmah, 2006, Hlm.82). Kecemasan merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam sehari-hari ataupun respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan di komunikasikan secara interpersonal seperti kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati, 2005, Hlm.108). Menurut Stuart (2006, Hlm.144) definisi kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek spesifik kecemasan dialami secara subyektif dan dikomunikasikan secara interpersonal dan berada dalam suatu rentang. 2. Faktor Predisposisi Stuart (2006, Hlm.146) mengemukakan bahwa penyebab kecemasan dapat dipahami melalui berbagai teori yaitu teori psikoanalitis di mana Sigud Freud mengidentifikasikan kecemasan sebagai konflik emosional yang terjdi antara dua elemen kepribadian, yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan

Universitas Sumatera Utara

12 oleh norma budaya. Ego dan Aku, berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya. Teori interpersonal Sullifan menjelaskan bahwa kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat (Stuart, 2006, Hlm.146). Teori perilaku meyebutkan kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu karena mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Ahli perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk meghindari kepedihan. Ahli teori pembelajaran meyakini bahwa individu terbiasa sejak kecil dihadapkan suatu ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan kecemasan pada kehidupan selanjutnya. Ahli teori konflik memandang kecemasan sebagai pertentangan antar dua kepentingan yang berlawanan. Mereka meyakini adanya hubungan timbal balik antara konflik dan kecemasan yaitu konflik menimbulkan kecemasan, dan kecemasan menimbulkan perasaan tidak berdaya, yang pada gilirannya meningkatkan konflik yang dirasakan (Stuart, 2006, Hlm.146). Kajian keluarga menyebutkan kecemasan merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Kecemasan juga terkait dengan tugas perkembangan individu dalam keluarga (Stuart, 2006, Hlm.146). Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine, obat-obat yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama aminobutirat (GABA), yang berperan penting dalam mekanisme biologis yang

Universitas Sumatera Utara

13 berhubungan dengan kecemasan. Selain itu, kesehatan umum individu dan riwayat kecemasan pada keluarga memiliki efek nyata sebagai predisposisi kecemasan. Kecemasan mungkin disertai oleh gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kemampuan individu untuk mengatasi stressor (Stuart, 2006, Hlm. 147). Menurut Stuart (2006 , Hlm.148) respon terhadap kecemasan meliputi respon fisiologi, perilaku, kognitif dan efektif yaitu : a. Respon Fisiologi Gejala somatik/fisik (otot), meliputi : sakit dan nyeri otot-otot, kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil. Gejala sensorik meliputi : tinnitus (telinga berdengung), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa lemas, perasaan ditusuk-tusuk. Gejala kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), meliputi : takikardia (denyut jantung cepat), berdebar-debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan, detak jantung menghilang (berhenti sekejap). Gejala pernafasan : Rasa tertekan didada, perasaan tercekik, merasa nafas pendek/sesak, sering menarik nafas panjang. Gejala gastrointestinal meliputi : sulit menelan, perut melilit, gangguan pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau kembung, mual, muntah, buang air besar lembek, sukar buang air besar (konstipasi), kehilangan berat badan. Gejala urogenital, meliputi : sering buang air kecil, tidak dapat menahan kencing, tidak datang bulan (tidak ada haid), masa haid amat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin (frigid), ejakulasi dini. Adapun gejala gejala yang dialami oleh orang yang mengalami kecemasan adalah (1) ketegangan motorik / alat gerak seperti : gemetar, tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai, gelisah, tidak dapat diam, kening berkerut, mudah kaget

Universitas Sumatera Utara

14 (2). Hiperaktifitas saraf autonom (simpatis dan saraf parasimpatis) seperti keringat berlebihan, jantung berdebar debar, rasa dingin di telapak tangan dan kaki, mulut kering, pusing, rasa mual, sering buang air kecil, diare, muka merah / pucat, denyut nadi dan nafas cepat (3). Rasa khawatir yang berlebihan tentang hal hal yang akan datang seperti : cemas, takut, khawatir, membayangkan akan datangnya kemalangan terhadap dirinya (4). Kewaspadaan berlebihan seperti : Perhatian mudah beralih, sukar konsentrasi, sukar tidur, mudah tersinggung, tidak sabar ( Hawari, D , 2004, Hlm.68-70). b. Respon Perilaku Respon kecemasan terhadap perilaku adalah gelisah, ketenangan fisik, tremor, reaksi terkejut, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung mengalami cidera, menarik diri dari hubungan interpersonal, inhibisi, melarikan diri dari masalah, menghindar, hiperventilasi dan sangat waspada. c. Respon Kognitif Respon kecemasan pada kognitif adalah perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, preokupasi, hambatan berfikir, lapang persepsi menurun, keativitas menurun, produktifitas menurun, bingung, sangat waspada, kesadaran diri, kehilangan objektivitas, takut kehilangan kendali, takut pada gambar visual, takut cidera atau kematian, kilas balik, mimpi buruk. d. Respon Afektif Respon kecemasan pada afektif adalah mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, gugup, ketakutan, waspada, kengerian, kekhawatiran, kecemasan, mati rasa, rasa bersalah, dan malu. Menurut Suliswati (2005 Hlm 115) respons afektif

Universitas Sumatera Utara

15 klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan. 3. Tingkat kecemasan Peplau membagi tingkat kecemasan ada empat (Stuart, 2001) yaitu: a. Kecemasan ringan yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas. b. Kecemasan sedang yang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian individu mengalami tindak pehatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya. c. Kecemasan berat yang sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain. d. Tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terpengarah, ketakutan dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini sejalan dengan kehidupan, jika

Universitas Sumatera Utara

16 berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.

Respon adaptif

Respon maladaptif

Antisipasi

Ringan

Sedang

Berat

Panik

Gambar. 1 Rentang Respons Ansietas

D.

Faktor Faktor Kecemasan Persalinan Kala 1 a. Pengetahuan Pengetahuan adalah hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku didasari oleh pengetahuan. (Notoatmodjo, 2003, Hlm.127). Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan merupakan : a. Awareness (Kesadaran), menyadari dalam bentuk mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). b. Interest (merasa tertarik), terhadap stimulus atau objek tersebut.

Universitas Sumatera Utara

17 c. Evaluation (menimbang-nimbang), terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini sikap menjadi lebih baik lagi. d. Trial, subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adaption, dimana subjek lebih berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikap terhadap stimulus. Rogers menyimpulkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahaptahap tersebut. Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses dimana didasarkan pengetahuan, kesadaran dan sikap positif, maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesedaran akan tidak berlangsung lama. Menurut Notoatmodjo (2003) pengetahuan dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu: (1) Tahu (know), (2) Memahami (comprehension), (3) Aplikasi (application), (4) Analisis (analysis), (5) Sintesis (synthesis), (6) Evaluasi (evaluation). Tingkatan pertama adalah tahu (know) diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termasuk kedalam pengetahuan ini adalah tingkat mengingat kembali (recell) sesuatu yang spesifik dari seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tingkatan kedua adalah memahami menjelaskan (comprehension) secara benar diartikan tentang sebagai objek suatu kemampuan dan untuk dapat

yang

diketahui,

menginterprestasi materi tersebut dengan benar. Tingkatan ketiga (application) diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Tingkatan adalah analisis ( analysis) yaitu

Universitas Sumatera Utara

18 suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau salah satu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitan satu sama lainnya. Tingkatan kelima adalah sintesis (synthesis) menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Tingkatan yang

tertinggi adalah evaluasi (evaluation) berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap suatu materi atau objek. (Notoatmodjo,2003, hlm 128).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Pengetahuan Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan dalam diri seseorang adalah : (1) pendidikan , (2) sumber informasi ,( 3) pengalaman. Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari pengalaman, media, dan lingkungan. Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas

pengetahuannya. Pelaksanaan bentuk pendidikan ini antara lain dengan metode penyuluhan, seminar, diskusi, dan lain-lain. Sumber informasi juga mempengaruhi pengetahuan, baik dari orang maupun media. b. Kondisi Psikologis Ibu yang mempunyai rasa cemas disebabkan beberapa ketakutan melahirkan. Takut akan peningkatan nyeri, takut akan kerusakan atau kelainan bentuk tubuhnya seperti episiotomi, ruptur, jahitan ataupun seksio sesarea, serta ibu takut akan melukai bayinya. Faktor psikis dalam menghadapi persalinan merupakan faktor yang sangat penting mempengaruhi lancar tidaknya proses kelahiran ( Simkin,P, 2005, Hlm.77). Pada multigravida perasaannya terganggu diakibatkan karena rasa

Universitas Sumatera Utara

19 takut, tegang dan menjadi cemas oleh bayangan rasa sakit yang dideritanya dulu sewaktu melahirkan (Suaramerdeka, 2004, 1, http://www.suaramerdeka.com, diperoleh tanggal 15 Oktober 2009). Pendamping persalinan merupakan faktor pendukung dalam lancarnya persalinan karena efek perasaan wanita terhadap persalinan yang berbeda berkaitan dengan persepsinya orang yang mendukung baik dari orang terdekat dapat mempengaruhi kecemasan ibu (Kitzinger 1989 dalam Mander, 2003, Hlm.141; Henderson, 2005, Hlm.364 dan 367). Menurut Hamilton (1998) perubahan psikologis terjadi mengakibatkan perubahan perasaan cemas yaitu firasat buruk, cemas, mudah tersinggung, ketegangan akibat merasa cemas, letih, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar, gelisah dan tidak dapat beristirahat, ketakutan seperti pandangan gelap,takut ditinggal sendiri,takut pada orang asing, gangguan kecerdasan seperti sukar berkonsentrasi serta perasaan depresi seperti hilang minat, sedih. (Anxiety Disorder, 2008, 13,

http://www.pikirdong.org/psikologi/psi 18axdi.php, diperoleh 28 Oktober 2009). c. Kondisi Fisiologis Perubahan fisiologi yang dialami ibu selama Persalinan Kala 1 yaitu ibu mengalami peningkatan suhu tubuh tidak lebih dari 0,5-1 0C, tekanan darah, detak jantung dan pernfasan meningkat, tidak dapat tidur akibat dari his yang dirasakan, gejala somatik yaitu nyeri otot, kaku, kedutan, gigi gemerutuk, suara tidak stabil, gejala sensorik yaitu penglihatan kabur, gelisah,muka rebab dan merasa lemas, gejala kardiovaskuler yaitu takikardi, nyeri dada, denyut nadi meningkat, merasa lemah, denyut jantung berhenti sejenak, pada pernafasan nafas cepat, sesak nafas, merasa tertekan di dada, perasaan tercekik, sering menarik nafas pendek, gangguan gastrointestinal yaitu sulit menelan, gangguan pencernaan, nyeri pada lambung,

Universitas Sumatera Utara

20 mual muntah dan pernafasan pada perut, gangguan urogenital yaitu tidak dapat menahan kencing, gangguan otonom dan kulit yaitu mulut ibu kering, muka merah, berkeringat seluruh tubuh, bulu roma berdiri dan terjadi perilaku sesaat yaitu ibu merasa gelisah, tidak tenang, jari gemetar, muka tegang, tonus otot meningkat, mengerutkan dahi, dan nafas pendek dan cepat ( Hamilton, 1998; Stuart, 2006, Hlm. 148). d. Pendamping Persalinan Kemajuan persalinan dapat difasilitasi apabila wanita merasa aman, dihormati terhadap keamanannya oleh pasangannya atau orang yang dicintainya berperan penting atas perasaan tersebut. Sebaliknya, perasaan malu atau tidak berharga, merasa diawasi, merasa dalam bahaya, merasa diperlakukan tanpa hormat, merasa diabaikan atau dianggap remeh, dapat memicu reaksi psikobiologis yang mengganggu efisiensi kemajuan persalinan (Simkin,P, 2005 Hlm.13). Setelah melalui banyak penelitian, terungkap bahwa kehadiran suami di ruang bersalin untuk memberi dukungan kepada istri dan membantu proses persalinan, ternyata banyak mendatangkan kebaikan bagi proses persalinan. Kehadiran suami disamping istri membuat istri merasa lebih tenang dan siap menghadapi proses persalinan ( Musbikin, 2007, Hlm.262). e. Paritas Paritas juga dapat mempengaruhi kecemasan dimana paritas merupakan faktor yang bisa dikaitkan dengan psikologis. Pada primigravida yang tidak ada bayangan menegenai apa yang akan terjadi saat bersalin nanti dan ketakutan karena sering mendengar cerita mengerikan dari teman atau kerabat tentang pengalaman saat melahirkan seperti sang ibu atau bayi meninggal dan ini

Universitas Sumatera Utara

21 mempengaruhi ibu berfikiran proses persalinan yang menakutkan menurut psikolog Universitas Padjadjaran Dra Sri Rahayu Astuti, M.si dan Psikolog Nungki Nilasari, S.Psi dari RSB Permata Hati apalagi jika persalinan pertama si calon ibu tidak tahu apa yang akan terjadi saat persalinan nanti, jangankan yang pertama pada persalinan kelima pun masih wajar bila ibu merasa cemas atau khawatir (Amalia, T, 2009, 5, http://titian amalia.wordpress.com, diperoleh tanggal 25 Oktober 2009). Sedangkan pada multigravida perasaannya terganggu diakibatkan karena rasa takut, tegang dan menjadi cemas oleh bayangan rasa sakit yang dideritanya dulu sewaktu melahirkan. (Suara merdeka, 2004, 1,

http://www.suara merdeka.com, diperoleh tanggal 15 Oktober 2009). e. Usia Dalam hasil penelitian Susiaty (2008, 1, http://library.gunadarma.ac.id

diperoleh tanggal 28 Oktober 2009). Menurut (Kitzingger, 1993) diketahui bahwa selain usia kehamilan penyebab kecemasan dapat dihubungkan dengan usia ibu yang memberi dampak terhadap perasaan takut dan cemas yaitu di bawah usia 20 tahun serta di atas 31-40 tahun karena usia ini merupakan usia kategori kehamilan beresiko tinggi dan seorang ibu yang berusia lebih lanjut akan menanggung resiko yang semakin tinggi untuk melahirkan bayi cacat lahir dengan sindrom down. Gangguan kecemasan diperkirakan mengidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai usia lanjut (Pikirdong, 2008, 3 http://www.pikirdong.org, diperoleh tanggal 28-10-2009).

Universitas Sumatera Utara

22 f. Penolong Persalinan Sebuah tinjauan dari beberapa negara mengkaji efek dukungan dalam persalinan, tinjauan ini penelitian mengenai dukungan yang diberikan oleh bidan, perawat, hasil penelitiannya megindikasikan bahwa dukungan dari orang yang terlatih akan mengurangi durasi kelahiran, penghilang rasa nyeri . intervensi utama dikhususkan meliputi kehadiran orang orang terlatih, pemberian sentuhan yang membuat nyaman dan kata kata pujian serta penguatan (Henderson, 2005, Hlm.367 ).

D.

Mencegah Kemunculan Gangguan Kecemasan Artikel dari pikirdong Anxiety Disorder ( 10, http://www.pikirdong.org, diperoleh tanggal 28-10-2009) menyatakan ada beberapa cara mencegah kemunculan gangguan kecemasan yaitu : 1. Kontrol pernafasan yang baik Rasa cemas membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan otak bekerja memutuskan fight or flight ketika respon cemas diterima di otak. Akibatnya suplai oksigen untuk jaringan tubuh semakin meningkat, ketidak seimbangan jumlah oksigen dan karbondioksida di dalam otak membuat tubuh gemetar, kesulitan bernafas, tubuh menjadi lemah dan gangguan visual. Tarik ambil dalam dalam sampai memenuhi paru paru, lepaskan dengan perlahan lahan akan membuat tubuh jadi nyaman, mengontrol pernafasan juga dapat menghindari serangan panik.

Universitas Sumatera Utara

23 2. Melakukan Relaksasi Kecemasan meningkatkan tension otot, tubuh menjadi pegal terutama pada leher, kepala, rasa nyeri dada. Cara yang dapat ditempuh dengan melakukan tehnik relaksasi dengan cara duduk atau berbaring, lakukan tehnik pernafasan, usahakanlah menemukan kenyamanan selama 30 menit. 3. Intervensi Kognitif Kecemasan timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan, fikiran-fikiran negatif secara terus menerus berkembang dalam fikiran. Caranya adalah dengan melakukan fikiran-fikiran yang tidak realistik. Bila tubuh dan fikiran dapat merasakan kenyamanan maka fikiran-fikiran positif yang lebih konstruktif dapat muncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam menyelesaikan permasalahan. 4. Pendekatan Agama Pendekatan agama akan memberikan rasa nyaman terhadap fikiran, kedekatan terhadap Tuhan dan doa yang disampaikan akan memberikan harapan positif. 5. Pendekatan Keluarga Dukungan ( supportif ) keluarga efektif mengurangi kecemasan. Jangan ragu untuk menceritakan permasalahan yang dihadapi bersama sama anggota keluarga. Ceritakanlah dengan tenang, katakan Anda membutuhkan dukungan keluarga. Mereka akan mendukung Anda saat persalinan. 6. Olahraga Olahraga tidak hanya baik untuk kesehatan. Olahraga akan menyalurkan tumpukan stres secara positif. Lakukan olahraga yang tidak memberatkan, dan memberikan rasa nyaman kepada diri anda. Senam hamil.

Universitas Sumatera Utara

24 Adapun cara pencegahan yang dapat membuat ibu merasa tidak cemas

menurut Penny tahun 2005 hlm 17 yaitu dengan: 1. Ciptakan suasana yang mendorong wanita untuk berperilaku membuat dirinya nyaman secara spontan 2. Sarankan kepada pasangannya untuk melakukan tindakan-tindakan berikut ini selama mungkin sepanjang masih dapat diterima oleh wanita : a. b. Masase Menghitung kontraksi atau menghitung nafasnya satu persatu untuk menentukan irama dan menolong wanita mengetahui kemajuan persalinan c. d. Menyeka wajah dan lehernya dengan kain dingin Kata kata pujian dan dorongan.

Universitas Sumatera Utara

25 Hasil Penelitian Kecemasan Persalinan Kala 1 Pada Ibu Bersalin

1.

Hasil penelitian dari Iis Riawati Simamora tentang Perbedaan Kecemasan ibu Primigravida dengan Ibu Multigravida dalam Menghadapi Kecemasan Persalinan Kala 1 Medan Tahun 2008,. Di mana hasil penelitian dari beberapa rumah bersalin di Medan tahun 2008 lebih dari 50% ibu bersalin mengalami kecemasan dengan hasil penelitian pada ibu primigravida mengalami kecemasan sedang yaitu sebesar 65,6% dan pada multigravida kecemasan ringan sebesar 81,3 %.

2.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ni Luh Putu Sekardiani tentang Hubungan Antara Pengetahuan tentang Proses Persalinan dengan Tingkat Kecemasan Persalinan di Wilayah Puskesmas Kerambitan II Tabanan Bali. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan ibu hamil tentang

proses persalinan dengan tingkat kecemasan menghadapi persalinan, dengan hasil uji statistik : correlation coefficien sebesar 0,327 nilai signifikan sebesar 0,031 pada taraf kepercayaan 0,05 gambaran pengetahuan. 3. Hasil penelitian oleh Abdul Ghofur dan Eko Purwoko tentang Pengaruh Teknik Nafas Dalam Terhadap Perubahan Tingkat Kecemasan Pada Ibu Bersalin Kala 1 di Pondok Bersalin Ngudi Saras Trikilan Kali Jambe Sragen bahwa hasil penelitiannya berdasarkan umur responden 26-30 lebih banyak mengalami tingkat kecemasan berat yaitu (42,33%) sedangkan pada umur yang lebih tua 31-35 tahun mengalami kecemasan sedang(16,67%). Primigravida tingkat kecemasannya lebih tinggi 41,33% dibanding persalinan multigravida 33,33%.

Universitas Sumatera Utara