Anda di halaman 1dari 2

MODUS ILEGAL MINING DI BANGKA BELITUNG Illegal mining di Bangka Belitung bukan hanya dilakukan oleh masyarakat melalui

tambang inkonvensional (TI), melainkan oleh perusahaan berijin resmi seperti para perusahaan smelter. Hal ini lah yang seharusnya menjadi perhatian penegak hukum, karena kerugian dan kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar. Tambang Inkonvensional jelas melanggar hukum, karena praktiknya dilakukan di wilayah usaha pertambangan (WUP) milik sebuah perusahaan tertentu atau di wilayah yang bukan wilayah usaha pertambangan, dan hasilnya dijual kepada para kolektor. Tetapi yang melanggar hukum bukan hanya para pelaku TI melainkan pengusaha berijin resmi yang memanfaatkan Pelaku TI melalui kolektor demikian ungkap anggota Lembaga Cegah Kejahatan Indonesia Bangka Belitung (LCKI-Babel) Bambang Herdiansyah. Bambang menjelaskan, tidak sulit untuk menelusuri para kolektor ini bekerja untuk siapa. Terutama jika mencermati data ekspor timah yang dilakukan oleh seluruh perusahaan timah di Propinsi Bangka Belitung terutama data eksport timah tahun 2009. Dari data ekspor timah tersebut tercatat bahwa, PT Timah telah mengekpor 49.240 metrik ton (MT) atau lebih kurang 41,13 % dari total ekspor timah Babel yang dihasilkan dari wilayah usaha pertambangan seluas 473.800 ha atau 89 persen dari total wilayah usaha pertambangan (WUP) yang ada di Babel. Berikutnya PT Koba Tin, mengekspor sebanyak 7.400 MT dengan luas WUP 41.680 ha atau 8 % dari seluruh WUP di Babel. Sementara itu, perusahaan timah gabungan swasta yang disinyalir sekitar 30-an jumlahnya, justeru mengeskpor 63.071 MT atau lebih kurang 52,69 % dari total ekspor timah dari Bangka Belitung padahal wilayah usaha pertambangannya hanya seluas 16.884 hektar atau 3 % saja dari total wilayah usaha pertambangan yang ada di propinsi Bangka Belitung.
Tahu n 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Jumlah (MT) EkporPT. Timah (Persero) TbkPT. Koba Tin (MT) Smelter (MT) (MT) 40.184,00 38.027,00 52.252,00 43.439,00 42.759,00 31.648,00 22.810,52 8.250,00 6.987,21 6.622,55 7.336,75 6.616,98 Swasta

127.236,00 118.555,26 86.304,52 88.146,79 93.681,02 85.574,31

64.241,48 72.278,26 27.065,31 38.085,24 43.585,27 47.309,33

Sumber : Distamben Kepulauan Propinsi Bangka Belitung

Semula Bambang menduga, PT Timah (Persero) Tbk adalah perusahaan besar yang tidak efisien, karena produksi timahnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan gabungan perusahaan swasta. Tetapi setelah melakukan kajian terutama dengan mengamati produksi timah PT Koba Tin, Bambang pun meragukan dugaan tersebut. Karena PT Koba Tin, dengan WUP seluas 41.680 ha atau 8 % dari seluruh WUP di Babel juga tidak bisa menghasilkan timah sebanyak yang dihasilkan oleh gabungan perusahaan swasta tersebut. Artinya, ada kejanggalan pada timah hasil produksi gabungan perusahaan swasta tersebut dan bagaimana gabungan perusahaan swasta tersebut, dengan WUP yang luasnya hanya 16.884 hektar atau 3 % saja dari total wilayah usaha pertambangan yang ada di propinsi Bangka Belitung bisa menghasilkan timah melebihi PT TImah (Persero) Tbk dan PT Koba Tin. Praktik seperti ini lah yang disebut Bambang sebagai illegal mining yang dilakukan oleh perusahaan berijin resmi dan sudah sepatutnya menjadi perhatian para penegak hukum. Karena sangat merugikan baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan tegas Bambang. Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk Wachid Usman. Bahwa akibat illegal mining, profit yang diperoleh oleh perusahaan yang dipimpinnya pun menurun, padahal kegiatan PT TImah (Persero) Tbk tidak berhenti setelah menjual produknya, melainkan wajib melakukan reklamasi lahan paska tambang disamping kewajiban lainnya. Menanggapi maraknya praktik illegal mining di Bangka Belitung, Fahrizan aktivis KNPI-Babel menyangsikan kemampuan aparat penegak hukum yang ada untuk memberangus praktik illegal mining karena disinyalir telah dikuasai oleh mafia pertambangan. Sementara itu, Ketika disinggung mengenai pembentukan pasar timah berskala internasional di dalam negeri baik Bambang Herdiansyah maupun Wachid Usman berharap agar rencana tersebut dapat terealisasi. Bahkan Bambang menegaskan, harus segera terbentuk mengingat cadangan timah yang semakin menipis, sehingga jangan sampai pasar timah yan diidamkan baru terbentuk bersamaan dengan cadangan timah yang telah ludes di jarah.