Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL PENELITIAN KKL

ANALISIS FITOKIMIA PADA SUKU LEGUMINOCEAE DAN EUPHORBIACEAE YANG BERPOTENSI SEBAGAI TUMBUHAN OBAT DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT

Oleh: Dianita Wulandari (Bio-3425080212), Lela Juwita Sari (PBR-3415080205), Mutiara (Bio-342508), Nur Azizah (Bio-342508), Rani Dwi D (PBR-3415083250),

Pembimbing : Dra. Supriyatin, M.Si.

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA APRIL - 2011

HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA : Analisis Fitokimia Pada Suku Leguminoceae Dan Euphorbiaceae Yang Berpotensi Sebagai Tumbuhan Obat Di Taman Nasional Bali Barat b. Bidang Ilmu 2. Dosen Pembimbing : Biologi : Dra. Supriyatin, M.Si.

1. a. Judul Penelitian

3. Anggota Peneliti KKL : No. 1. 2. 3. 4. 5. Nama Peserta KKL Dianita Wulandari Lela Juwita Sari Mutiara Syafitri Nur Azizah Rani Dwi Destiyani No. Registrasi 3425080212 3415080205 3425083268 3425083261 3415083250 Program Studi Biologi Pendidikan Biologi Biologi Biologi Pendidikan Biologi

4. Lokasi Penelitian

: a. Lapangan b. Laboratorium

: Taman Nasional Bali Barat :-

5. Waktu Penelitian

: Tanggal 29 April- 6 Mei 2011.

Mengetahui: Koordinator Penelitian KKL

Dosen Pembimbing KKL

Dr. Rini Puspitaningrum,S.Si, M.Biomed NIP: 19681004 200112 2 001

Dra. Supriyatin, M.Si. NIP: 196507071997022001

Mengetahui: Ketua KKL

Hanum Isfaeni, S.Pd, M.Si. NIP: 19700415 200501 1 012

A. JUDUL PENELITIAN : Analisis Fitokimia pada Suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae yang Berpotensi Sebagai Tumbuhan Obat Di Taman Nasional Bali Barat

B. BIDANG ILMU : Biologi

C. PENDAHULUAN Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan adanya penemuan-penemuan di bidang farmasi. Salah satunya adalah penemuan mengenai efek negatif obat sintetis yang menyebabkan akumulasi bahan kimia dalam tubuh. Akibatnya penggunaan obat yang disintesis dari bahan kimia mulai ditinggalkan. Hal ini membuat banyak konsumen beralih menggunakan obat dari bahan alami yang dikenal sebagai obat tradisional. Obat tradisional pada umumnya diperoleh dari senyawa bioaktif yang terdapat pada tumbuhan. Tumbuhan dari kelompok Angiospermae yaitu suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae merupakan dua suku yang telah diketahui mengandung senyawa bioaktif (Chew et al., 2011 dan Mughal et al., 2010). Di Taman Nasional Bali Barat, tumbuhan dari kedua suku ini sering digunakan sebagai tumbuhan obat (Kaesa, 2009). Dengan mengetahui bahwa tumbuhan dari kedua suku memiliki senyawa bioaktif, maka dilakukan penelitian mengenai analisis fitokimia tumbuhan suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae sebagai tumbuhan berpotensi obat di Taman Nasional Bali Barat untuk membuktikannya. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengembangkan pemanfaatan tumbuhan suku

Leguminoceae dan Euphorbiaceae dalam bidang farmasi dan industri dengan diseimbangkan melalui konservasi tanpa mengeksploitasi secara berlebihan.

D. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini masalah yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat senyawa bioaktif pada tanaman dari suku Euphorbiaceae dan Leguminoceae yang berpotensi sebagai tanaman obat di Taman Nasional Bali Barat?

E. TINJAUAN PUSTAKA 1. Fitokimia Fitokimia berasal dari kata Phytos (tanaman) dan chemical (kimia). Jadi fitokimia adalah senyawa kimia (komponen bioaktif) dari bahan tanaman yang dapat memberikan fungsi-fungsi fisiologis untuk pencegahan penyakit atau pengobatan penyakit. Senyawa kimia yang merupakan komponen bioaktif adalah alkaloid, saponin, flavonoid, terpenoid, tanin, asam fenolat dan lainlain (Berita Iptek, 2000). Menurut Rustaman et al.,2000, senyawa bioaktif yang terdapat pada tumbuhan adalah : a. Alkaloid Alkaloid adalah senyawa organik siklik yang mengadung nitrogen dengan bilangan oksidasi negatif, yang penyebarannya terbatas pada makhluk hidup. Alkaloid juga merupakan golongan zat metabolit sekunder yang terbesar. Alkaloid pada umunya mempunyai keaktifan fisiologi yang menonjol, sehingga oleh manusia alkaloid sering dimanfaatkan untuk pengobatan.

Gambar 1. Struktur Kimia alkaloid

b. Triterpenoid Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam isoprena dan secara biosintersis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualen. Mereka berupa senyawa tak berwarna, berbentuk kristal, seringkali bertitik leleh tinggi dan optis aktif, yang umurnya sukar

dicirikan karena tak ada kereaktifan kimianya. Uji yang banyak digunakan adalah Lieberman-Buchard yang dengan kebanyakan triterpen dan sterol memberikan warna hijau. Triterpen tertentu terkenal karena rasanya, terutama kepahitannya. Contohnya limonin, suatu senyawa pahit yang larut dalam lemak dan terdapat dalam buah jeruk (Citrus nobilis).

Gambar 2. Struktur Rangka Kimia Terpenoid

Gambar 3. riterpenoid 2-cyano-3,12-dioxooleana-1,9dien-28-oate (CDDO).

c. Saponin Saponin adalah glikosida triterpen dan sterol yang merupakan senyawa aktif dan bersifat seperti sabun, serta dapat dideteksi berdasarkan kemampuannya membentuk busa dan menghemolisis sel darah.

Gambar 4. Struktur Kimia Saponin

d. Flavonoid

Flavonoid terdapat dalam tumbuhan sebagai campuran jarang sekali digunakan hanya flavonoid tunggal dalam jaringan tumbuhan. Flavonoid mempunyai gugus hidroksil yang cukup larut dalam etanol, metanol, aseton, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil formamida, air dan lain-lain (Markham dalam Octavia, 2009) Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air, sebagian dapat diekstraksi dengan etanol 70% dan tetap ada dalam lapisan air setelah lapisan ekstrak ini dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol, karena itu warnanya berubah jika ditambah basa atau amonia (Harborne dalam Octavia, 2009).

Gambar 5. Struktur Kimia Flavonoid e. Fenolat Fenol adalah senyawa dengan gugus OH yang terikat pada cincin aromatik (Fessenden dan Fessenden dalam Octavia, 2009). Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam air karena sering berikatan dengan gula sebagai glikosida, dan biasanya terdapat dalam vakuola sel (Harborne, 1987). Fenol sederhana disebut juga asam fenolat.

Gambar 6. Struktur Kimia Fenol Senyawa lain yang termasuk kedalam golongan fenolat adalah tanin. Tanin tersebar luas dalam tumbuhan berpembuluh, dalam angiospermae

terdapat khusus dalam jaringan kayu. Tanin adalah senyawa yang berasal dari tumbuhan, yang mampu mengubah kulit hewan yang mentah menjadi kulit siap pakai karena kemampuannya menyambung silang protein.

Gambar 7. struktur kimia tanin Senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman dapat diketahui dengan menggunakan suatu metode analisis. Analisis fitokimia merupakan suatu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi golongan zat aktif didalam tanaman secara kualitatif (Lailani dalam Fatimah, 2008). Tujuan dari analisis fitokimia adalah untuk mengetahui kandungan dari metabolit sekunder suatu tanaman, menentukan ciri atau sifat kimia dari fitotoksin (hasil sintesis mikroba yang terbentuk dalam tumbuhan tingkat tinggi bila tumbuhan tersebut diserang bakteri atau fungi) dan fitoaleksin (Harbone dalam Octavia, 2009), Selain itu, analisis fitokimia juga bertujuan untuk mensurvei tumbuhan agar mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan (Fransworth dalam Octavia, 2009). Analisis fitokimia dapat dibedakan menjadi dua, yaitu analisis secara kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan berdasarkan pada reaksi warna untuk mengetahui keberadaan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid dan asam fenolat (Fransworth dalam Ocatvia, 2009). Tujuan analisis kualitatif ini adalah untuk mengetahui keberadaan suatu unsur atau senyawa, baik organik m a u p u n a n o r g a n i k , d a l a m s u a t u b a h a n ( H a r j a d i d a l a m S e p t i ya n i , 2 0 0 9 ) . Pada tanaman tertentu, pendekatan fitokimia dengan analisis kualitatif meliputi kandungan kimia dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, bunga, buah dan biji), terutama kandungan metabolit sekunder, yaitu alkaloid, antrakinon, flavonoid, C-

glikosida jantung, kumarin, saponin (steroid dan triterpenoid) (Fransworth dalam Octavia, 2009), Fitokimia merupakan senyawa bioaktif yang tidak semuanya dimiliki oleh tanaman. Beberapa tanaman yang mengandung senyawa bioaktif adalah tanaman dari Suku Leguminoceae dan Suku Euphorbiaceae. Namun, senyawa bioaktif yang terkandung pada tanaman dari Suku Leguminoceae dan Suku Euphorbiaceae belum tentu memiliki jenis yang sama. Senyawa bioaktif yang terkandung pada tanaman suku Euphorbiaceae adalah alkaloid, Phytosterol, fenol, flavonid, dan tanin (Mughal et al., 2010). Sedangkan senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman Leguminoceae adalah tanin, terpenoid, alkaloid, steroid, saponin, flavonoid (Chew et al., 2011).

Metode Analisis Fitokimia Menurut Harbone dalam Rustaman, 2000, prosedur pengujian fitokimia adalah sebagai berikut : a. Uji Flavonoid Mendidihkan ekstrak dalam air panas selama 15 menit. Kemudian didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh ditambahkan serbuk Mg, HCl pekat dan amil alkohol dan dikocok kuat. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna merah, kuning atau jingga pada lapisan amil alkohol.

b. Uji Alkaloid Simpisia dilembabkan dengan NH4OH 25% dan kloroform. Campuran tersebut dihaluskan dengan mortar dan disaring. Filtrat yang diperoleh diekstrak dengan HCl pekat. Lapisan asam ditetese reagen Dragendroff dan Meyer. Reaksi positif jika terbentuk endapan merah bata.

c. Uji Terpenoid Ekstrak dicampur dengan reagen Lieberman-Burchard dan CHCl3. Kemudian dipanaskan pada 85C-95C dalam waktu 15 menit. Reaksi positif jika terbentuk warna hijau biru.

d. Uji Tanin Mendidihkan ekstrak dalam air panas 5 menit kemudian disaring. Filtrate yang diperoleh ditambahkan Fe Cl3 1%. Reaksi positif jika terbentuk warna biru hijau

e. Uji Saponin 10 mL larutan ekstrak didalam tabung dikocok 10 detik dan dibiarkan selama 10 menit. Kemudian menambahkan HCl pekat didalamnya. Reaksi positif jika terbentuk busa permanen.

f. Uji Asam Fenolat Ekstrak disemprotkan dengan pereaksi Follin-Cicalteu. Reaksi positif jika terdapat bercak biru sesaat setelah disemprotkan.

2. Tumbuhan Obat Tanaman obat adalah suatu jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman, dan atau eksudat (sel) tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan (Utami, 2003). Tanaman obat terbagi atas tiga kelompok berdasarkan penggunaanya: a. Tanaman obat tradisional adalah jenis tanaman yang dipercaya masyarakat mempunyai khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional. b. Tanaman obat modern adalah jenis tanaman yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaanya dapat dipertanggungjawabkan secara medis. c. Tanaman obat potensial adalah jenis tanaman yang mengandung senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat obat, tetapi belum dibukktikan penggunaanya secara medis. Di Indonesia diperkirakan hidup sekitar 40.000 spesies tumbuhan Spermatophyta, dimana dari seluruh spesies tumbuhan tersebut, diperkirakan sekurang-kurangnya 9.600 spesies tumbuhan berkhasiat obat dan baru kurang

lebih 300 spesies yang digunakan sebagai bahan obat tradisional (Depkes RI, 2006 dalam Zein, 2009). Euphorbiaceae merupakan salah satu dari tumbuhuan Spermatophyta yang merupakan suku terbesar keempat dari lima suku tumbuhan berpembuluh di kawasan Malesia yang mewadahi 1354 jenis dari 91 marga (Whitmore,1995 dalam Djarwaningsih, 2007). Berdasarkan data-data yang pernah muncul terkumpul 148 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai obat tradisional dari suku Euphorbiaceae (Djarwaningsih, 2007). Jenis-jenis Euphorbiaceae yang berpotensi sebagai bahan obat-obatan telah sering diungkapkan, akan tetapi dengan makin bertambahnya penelitian di bidang taksonomi yang

mengungkapkan data dasar dari setiap jenis tumbuhan, maka makin bertambah pula informasi jenis-jenis yang belum pernah dilaporkan sebelumnya. Menurut Mughal et al., 2010, Senyawa bioaktif yang terkandung pada tanaman suku Euphorbiaceae adalah alkaloid, Phytosterol, fenol, flavonoid, dan tanin. Sedangkan tanaman Leguminoceae atau Fabaceae memiliki 21 jenis yang terdiri dari 10 marga di wilayah Ilkhji dan 6 jenis dari 6 marga di wilayah Sharafaldin yang berpotensi sebagai tanaman obat di Timur Iran (Joudi, dkk, 2010). Penggunaan Leguminoceae sebagai tanaman obat di Indonesia salah satunya yaitu Erythrina variegate yang digunakan sebagai obat antimalaria dan antifertilitas karena mengandung senyawa-senyawa alkaloid, serta senyawa golongan flavonoid dan isoflavonoid (Herlina, dkk, 2006). Tanaman Leguminoceae seperti tanaman lain dalam upaya mempertahankan

kelangsungan hidupnya, serta untuk menangkal gangguan dari luar, melakukan biosintesis metabolit sekunder. Pada identifikasi tanaman obat yang di manfaatkan masyarakat sekitar hutan Tabo-tabo di Sulawesi Selatan, terdapat 5 jenis yang termasuk Leguminoceae (Hamzari, 2008). Secara umum, senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman Leguminoceae adalah tanin, terpenoid, alkaloid, steroid, saponin, flavonoid (Chew et al., 2011).

3. Taman Nasional Bali Barat Taman Nasional Bali Barat merupakan bentang alam yang luasnya 77.162,5 hektar. Taman Nasional Bali Barat ini merupakan kawasan

perlindungan dan pelestarian alam yang menyangkup hewan dan tumbuhan beserta ekosistemnya. Binatang yang khas yang terdapat di kawasan ini adalah jalak putih (Leuoeopsar rhotsehildi) dan banteng (Bos javanicus). Jenis tumbuhan yang khas yang tumbuh di kawasan ini adalah sawo kecik (Manilkara kauki) dan lontar (Borrasus flellifer) (Maria&Agung, 2009). Berdasarkan ketinggian tempat maka kawasan TNBB dibagi dalam 2 ekosistem yakni tipe ekosistem darat yang meliputi : ekosistem hutan mangrove, ekosistem hutan pantai, ekosistem hutan musim, ekosistem hutan hujan dataran rendah, ekosistem evergreen, ekosistem savana, dan ekosistem river rain forest. Sedangkan tipe ekosistem laut meliputi ekosistem coral reef, ekosistem padang lamun, ekosistem pantai berpasir, ekosistem perairan laut dangkal, dan ekosistem perairan laut dalam (Anonim, Dephut). Flora langka yang dilindungi undang-undang di TNBB yaitu Bayur (Pterospermum diversifolium), Buni (Antidesma bunius), Bungur

(Langerstroemia speciosa), Burahol (Steleochocarpus burahol), Cendana (Santalum album) , Kemiri (Aleuritas moluccana), Kepuh Bali (Sterculia foetida), Kesambi (Schleichera oleosa), Kruing bunga (Diptercocaus Hasseltii), Mundu (Garcinia dulcis), Pulai (Alstonia scolaris), Sawo kecik (Manilkara kauki), Sono keling (Dalbergia latifolia), fistula) (Risnandar, 2009). Di Taman Nasional Bali Barat, terdapat 206 jenis tumbuhan. Dari 206 jenis tumbuhan tersebut ditemukan 107 jenis tumbuhan yang bermanfaat. 107 jenis tumbuhan tersebut, dikelompokan menjadi 12 kelompok. Dari ke dua belas kelompok tersebut terdapat sekitar 66 jenis tumbuhan yang berpotensi sebagai tumbuhan obat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Beberapa tumbuhan obat belum diketahui pasti kandungan kimianya (Kaesa, 2009). Salah satu contoh tumbuhan berguna dan dapat dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat yang terdapat di TNBB adalah Kemloko (Phyllanthus emblica L.) (Arafah, 2005). Trengguli (Cassia

F. TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya senyawa bioaktif pada tanaman berpotensi obat di Taman Nasional Bali Barat. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan senyawa bioaktif yang terdapat pada suku Euphorbiaceae dan Leguminoceae.

G.

MANFAAT PENELITIAN 1. Memberikan informasi mengenai kandungan senyawa bioaktif pada tumbuhan obat dari suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae. 2. Sebagai acuan dalam pengembangan tumbuhan berpotensi obat pada bidang farmasi dan industri. 3. Sebagai acuan untuk konservasi tumbuhan suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae. 4. Membandingkan kandungan senyawa bioaktif suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae.

H. METODOLOGI PENELITIAN 1. Tujuan Operasional Penelitian a. Membuktikan adanya senyawa bioaktif pada tanaman dari famili Leguminoceae dan Euphorbiaceae di Taman Nasional Bali Barat. b. Membandingkan kandungan senyawa bioaktif tumbuhan suku Leguminoceae dan Euphorbiaceae.

2. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik survei eksploratif.

3. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Taman Nasional Bali Barat pada 30 April sampai 7 Mei 2011.

c. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain timbangan, tabung reaksi, corong, gunting, kertas label, gunting, gelas ukur, batang pengaduk kaca, beaker glass, pipet tetes, blender, kertas saring, kertas koran, benang, bunsen, tali rapia, cawan petri, sampel tanaman, etanol 70%, ekstrak, simplisia, aquadest, serbuk Mg, HCl pekat, amil alcohol, CHCl3, FeCl3 1%, NH4OH 25%, kloroform, simplisia, reagen Follin-Cicalteu, Draggendoff, Meyer, LiebermanBurchard. d. Cara Kerja 1). Pengambilan sampel Pengambilan sampel dilakukan secara acak di sepanjang jalur Taman Nasional Bali Barat.

Gambar 1. Teknik pengambilan sampel

2). Pembuatan Simplisia Pembuatan simplisia mengacu pada metode maserasi (Adeniyi et al, 2010). Sampel daun dari tanaman famili Leguminoceae dan Euphorbiaceae dikeringanginkan di tempat yang tidak terdedah sinar matahari langsung. Setelah sampel daun mengering, dihaluskan menggunakan blender sehingga terbentuk serbuk halus (simplisia).

3). Analisis Fitokimia Analisis fitokimia dilakukan dengan cara menguji ekstrak tanaman Leguminoceae dan Euphorbiaceae yang mengacu pada Harborne (1973) dalam Adeniyi et. al (2010).
pengambilan sampel persiapan simplisia uji fitokimia
ekstrak simplisia

UJI FLAVONOID

UJI TERPENNOID

UJI TANIN

UJI SAPONIN

UJI ASAM FENOLAT Ekstrak disemprotkan Follin-Cicalteu

UJI ALKALOID
Simplisia + NH4OH 25% + Kloroform

Mendidihkan ekstrak+air panas selama 15 menit

Ekstrak + reagen LiebermanBurchard + CHCl3

Mendidihkan ekstrak + air panas selama 5 menit

10 mL ekstrak dikocok selama 10 detik dan diamkan selama 10 menit

Menghaluskan dengan mortar dan alu

Dinginkan dan disaring FILTRAT

dipanaskan pada suhu 85-95C

disaring FILTRAT

Menambahkan HCl pekat

Hasil uji positif akan terbentuk bercak biru

Disaring FILTRAT

Filtrat + FeCl3 1% Filtrat + serbuk Mg + HCl pekat + amil alcohol , kocok kuat Hasil uji positif akan terbentuk warna hijau biru Hasil uji positif akan terbentuk busa permanen

Filtrat + HCl pekat EKSTRAK

Hasil uji positif akan terbentuk warna biru hijau

Tetesi dengan reagen Draggendroff dan Meyer

Hasil uji positif akan terbentuk warna merah, kuning, atau jingga pada lapisan amil alcohol

Hasil uji positif akan terbentuk endapan merah bata

e.

Teknik Pengumpulan Data

Tabel 1. Hasil Analisis Fitokimia Ekstrak Tumbuhan Famili Leguminoceae dan Euphorbiaceae Nama No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. Keterangan: + : Tidak ada : Sedikit ++ +++ : Sedang : Banyak Spesies Suku Flavonid Terpenoid Pengujian Tanin Saponin Fenolat Alkaloid

f. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dengan menganalisis keberadaan dari senyawa bioaktif dari masing-masing ekstrak tanaman Leguminoceae dan Euphorbiaceae.

I. JADWAL PELAKSANAAN Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian N o. 1. 2. 3. Maret Uraian Kegiatan 1 Pembuatan Proposal Seminar Proposal Persiapan alat dan bahan 4. 5. 6. 7. 8. Pengambilan sampel Pengujian sampel Pengolahan data Pembuatan laporan Seminar hasil 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 April Mei

J. PERSONALIA PENELITI 1. Nama : Dianita Wulandari

No. Registrasi : 3425080212

2. Nama

: Lela Juwita Sari

No. Registrasi : 3415080205

3. Nama

: Mutiara Syafitri

No. Registrasi : 3425083268

4. Nama

: Nur Azizah

No. Registrasi : 3425083261

5. Nama

: Rani Dwi Destiyani

No. Registrasi : 3415083250

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDOENGLISH/tn_balibarat.htm. diunduh pada sabtu, 1 April 2011 pukul 20.00 WIB.

Arafah, Dian. 2005. Studi Potensi Tanaman Berguna di Kawasan Taman Nasional Bali Barat. Skripsi Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan IPB.

Berita Iptek, 2000. http://www.kamusilmiah.com/pangan/bawang-putih-untukkesehatan/

Chew, Y.L., E.W. Ling Chan, P.L. Tan, Y.Y. Lim, J. Stanslas dan J.K. Goh. 2011. Assessment of phytochemical content polyphenolic composition, antioxidant and antibacterial activities of Leguminosae medicinal plants in Peninsular Malaysia. BMC Complementary and Alternative Medicine. 11:12.

Djarwaningsih, Tutie. 2007. Jenis-jenis Euphorbiaceae (Jarak-jarakan) yang Berpotensi Sebagai Obat Tradisional. "Herbarium Bogoriense" Bidang Botani, Puslit Biologi LIPI, Cibinong Science Centre.

Fatimah, S. 2008. Keragaman Morfologi Pertumbuhan Produksi Mutu dan Fitokimia Keladi Tikus (Typonium flagelliforme Lodd.) Blume Asal Variasi Somaklonal. Jurnal Littri 14(3),hlm 113-118.

Hamzari. 2008. Identifikasi Tanaman Obat-obatan yang Dimanfaatkan Oleh Masyarakat Setempat Sekitar Hutan Tabo-Tabo. Jurnal Hutan Dan Masyarakat. Vol. III No. 2, 111-234.

Herlina, Tati, dkk. 2006. Senyawa Antimalaria dan Antifertilitas dari Daun Erythrina variegate (Leguminosae). Sumedang: Jurnal Kimia Indonesia Vol. 1 (2), h. 67-70.

Joudi1, Leila, dkk. 2010. Introduce of Medicinal Spesies of Leguminosae Family In Ilkhji and Sharafaldin Regions (Eastern Azerbaijan Province-Iran). Iran: International Journal of Academic Research Vol. 2. No. 5.

Kaesa, Kiki Septiana. 2009. Tumbuhan Obat Di Taman Nasional Bali Barat. Bali: Balai Taman Nasional Bali Barat

Maria Ekaristi & Agung Bawantara.2009. Jalan-jalan Bali. Jakarta : Gagas Media.

Mughal, R., A. Mamona, Z. Sadiqque, S. Qureshi dan S. Mehboob. 2010. Phytochemical and Pharmacognostical Evaluation of Euphorbiaceae Species From Lahore Region, Pakistan. J App Pharm 3(2): 79-85.

Octavia, D.R. 2009. Uji Aktivitas Penangkap Radikal Ekstra Petroleum Eter, Etil Asetat dan Etanol daun Binahing (Anredera cordifolia (Tenore) Steen) Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrihidrazil). Skripsi. Surakarta.

Risnandar. 2009. Flora dan Fauna Taman Nasional Bali barat. http://www.baligreen.org/flora-dan-fauna-taman-nasional-bali-barat.html diunduh pada hari sabtu, 1 April 2011 pukul 19.00 WIB.

Rustaman et al., 2000. Analisis Fitokimia Tumbuhan di Kawasan Gunung Simpang sebagai Penelaahan Keanekaragaman Hayati. Laporan Penelitian. Bogor : Lembaga Penelitian Universitas Padjajaran.

Sephtiyani, C., 2009. Analisis Kualitatif Senyawa Organik Bahan Alam dan Uji Kelarutan. Kimia Analitik

Utami, Prapti. 2003. Tanaman obat untuk mengatasi diabetes mellitus. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Zein, Umar. 2009. Perbandingan Efikasi Antimalaria Ekstrak Herba Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) Tunggal dan Kombinasi Masing-Masinng dengan Artesunat dan Klorokuin Pada Pasien Malaria Falsiparum Tanpa Komplikasi. Medan: Disertasi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.