Anda di halaman 1dari 18

1

JUDUL

PENERAPAN DEMONSTRASI BELAJAR PAREPARE

PENDEKATAN UNTUK

INKUIRI

BERBASIS HASIL MAN 2

MENINGKATKAN KELAS X1

PESERTA

DIDIK

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu model pembelajaran yang biasa diterapkan oleh guru dalam mengajar fisika di kelas adalah pembelajaran konvensional, yang bila tidak dikemas dengan baik, maka tidak akan menarik perhatian peserta didik, karena cenderung menghafalkan rumus dan simbol. Pembelajaran konvensional cenderung meminimalkan keterlibatan peserta didik sehingga guru nampak lebih aktif. Demikian halnya model pembelajaran yang diterapkan di MAN 2 Parepare. Sikap peserta didik yang terbiasa pasif dalam proses pembelajaran dapat mengakibatkan sebagian besar peserta didik takut dan malu bertanya pada guru mengenai materi yang kurang dipahami. Suasana belajar di kelas menjadi sangat monoton dan kurang menarik. Meskipun sudah memiliki sarana pembelajaran lengkap namun model pembelajaran yang diterapkan di MAN 2 Parepare masih belum mampu menumbuhkan minat peserta didik untuk belajar secara aktif. Berdasarkan observasi yang dilakukan, kenyataan yang terjadi dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran fisika adalah peserta didik tidak diberi kesempatan untuk menemukan dan mengkonstruksikan kembali ide-idenya

sendiri. Hal ini mengakibatkan peserta didik cepat lupa materi yang diajarkan

sehingga kadang hanya sebagian kecil kecil siswa yang bisa mencapai target ketuntasan yang telah ditetapkan. Kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan adalah 67. Dari data hasil belajar peserta didik, diketahui bahwa hanya sekitar 43% peserta didik yang tuntas dan 57% peserta didik harus mengikuti remedial. Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul Penerapan Pendekatan Inkuiri Berbasis Demonstrasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Fisika Peserta Didik Kelas X1 MAN 2 Parepare.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X1 MAN 2 Parepare? 2. Apakah pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi dapat mningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas X1 MAN 2 Parepare? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar fisika peserta didik kelas X1 MAN 2 Parepare melalui pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi. 2. Untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar peserta didik kelas X1 MAN 2 Parepare.

D. Manfaat Penelitian Hasil pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut. 1. Bagi peserta didik : Dapat menjadi motivator untuk terus belajar dan mendalami konsep fisika terkhusus pada konsep-konsep yang belum dikuasai . 2. Bagi guru : Sebagai masukan bagi guru-guru fisika tentang manfaat penerapan pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman pemahaman peserta didik mengenai konsep fisika . 3. Bagi sekolah : Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut. II. TINJAUAN PUSTAKA A. KAJIAN TEORITIK 1. Pendekatan inkuiri Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri (Mahmuddin, 2009). Pendekatan inkuiri adalah cara mengajar di mana siswa merumuskan masalah, mendesain eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data sampai mengambil keputusan sendiri ( Zuhdan, 2009 ). Ada tiga ciri pembelajaran inkuiri, yaitu pertama, strategi Inkuiri menekankan pada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan (siswa sebagai subjek belajar). Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan

untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri yang sifatnya sudah pasti dari sesuatu yang sudah dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sifat percaya diri. Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis ( Mahmuddin, 2009 ). Mahmuddin Sanjaya ( 2009 ) mengemukakan bahwa penggunaan inkuiri harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu berorientasi pada pengembangan intelektual (pengembangan kemampuan berfikir), prinsip interaksi (interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa dengan lingkungan), prinsip bertanya (guru sebagai penanya), prinsip belajar untuk berfikir (learning how to think), prinsip keterbukaan (menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan). 1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian , strategi pembelajaran ini selain berorientasi pada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari proses pembelajaran dengan menggunkan strategi inkuiri bukan ditentukan sejauh mana siswa dapat menguasai materi pelajaran, akan tetapi sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan menemukan. 2. Prinsip Interaksi Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru bahkan antara siswa

dengan

lingkungan.

Pembelajaran

sebagai

proses

interaksi

berarti

menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. 3. Prinsip Bertanya Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunkaan pendekatan inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. 4. Prinsip Belajar untuk Berpikir Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think) yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak, baik otak kiri maupun otak kanan. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal. 5. Prinsip Keterbukaan Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukan.

Dalam implementasinya, pembelajaran inkuiri memiliki sintaks sebagai berikut :

1. Menyajikan pertanyaan atau masalah, guru membimbing siswa mengidentifikasi masalah dan masalah dituliskan di papan. Guru membagi siswa dalam kelompok. 2. Membuat hipotesis, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk curah pendapat dalam membentuk hipotesis. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memproiritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan. 3. Merancang percobaan, guru memberikan kesempatan pada siswa untuk menentukan langkah-langkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan dilakukan. Guru membimbing siswa mengurutkan langkah-langkah percobaan. 4. Mengumpulkan dan menganalisis data, guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul. 5. Membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan.

Sedangkan menurut Sudjana (1989), ada lima tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran inkuiri, yaitu :

1. Merumuskan masalah untuk dipecahkan oleh siswa 2. Menetapkan jawaban sementara atau lebih dikenal dengan istilah hipotesis 3. Mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis atau permasalahan

4. Manarik kesimpulan atau generalisasi 5. Mengaplikasikan kesimpulan

Untuk seluruh kegiatan siswa menurut Zuhdan K Prasetyo ( 2006 : 3.25 ) dapat dibagi atas 5 fase : Fase 1 : Siswa menghadapi masalah yang dianggap oleh siswa memberikan tantangan untuk diteliti. Fase 2 : Siswa melakukan pengumpulan data untuk menguji kondisi, sifat khusus dari objek teliti dan pengujian terhadap situasi masalah yang dihadapi Fase 3 : Siswa mengumpulkan data untuk memisahkan variabel yang relevan, berhipotesis dan bereksperimen untuk menguji hipotesis , sehingga diperoleh hubungan sebab-akibat. Fase 4 : Merumuskan penemuan inkuiri hingga diperoleh penjelasan, pernyataan, atau prinsip yang lebih formal. Fase 5 : Melakukan analisis terhadap proses inkuiri, strategi yang dilakukan oleh guru maupun siswa. Analisis diperlukan untuk membantu siswa terarah mencari sebab-akibat. 1. Metode Demonstrasi Metode demonstrasi adalah cara penyajian materi pelajaran melalui peragaan atau pertunjukkan kepada peserta didik mengenai suatu proses, situasi atau gejalah tertentu yang dipelajari, baik pada objek yang sebenarnya ataupun melalui tiruannya ( Udin, 2001 : 217 ).

Metode demonstrasi dalam pembelajaran IPA adalah cara penyampaian informasi (materi pelajaran) dengan memperlihatkan peristiwa-peristiwa atau fenomena fisika dengan menggunakan alat tertentu. Misalanya demonstrasi tentang benda-benda yang dapat ditarik oleh magnet, demonstrasi tentang bahan yang dapat menghantarkan arus listrik, demonstrasi tentang interferensi gelombang dan sebagainya ( Natsir, 2004 : 102 ). Metode demonstrasi yang baik adalah bila demonstrasi tersebut tidak semata-mata dilaksanakan oleh guru, tetapi juga melibatkan siswa baik secara individual maupun secara kelompok. Selama demonstrasi guru dianjurkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehingga peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran ( Wayan Memes, 2000 : 38-39 ). Langkah-langkah penggunaan metode demonstrasi dalam pembelajaran tergantung dari strategi/model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Salah satu langkah penggunaan metode demonstrasi dalam kegiatan pembelajaran sains adalah : 1. Guru mengajukan masalah yang akan diselidiki dengan percobaan tanpa memberi tahu hasil percobaan. 2. Guru memperkenalkan alat secara singkat. 3. Guru membahas beberapa hal yang berkaitan dengan prosedur pelaksanaan demonstrasi melalui tanya jawab. 4. Melaksanakan demonstrasi/percobaan, sambil melakukan tanya jawab dengan siswa dan meminta mereka melakukan pengamatan secara kelompok/individu.

5. Siswa mengamati dan diminta untuk merumuskan hasil pengamatan secara lisan ataupun tertulis. 6. Guru melakukan tanya jawab mengenai hasil percobaan, kesimpulan dan penjelasannya. 7. Setelah diskusi guru merumuskan penjelasan/kesimpulan percobaan secara lengkap di papan tulis. 8. Guru member siswa pertanyaan dan latihan untuk melatih bahan yang didemonstrasikan. 2. Hasil Belajar Menurut Mulyono ( 2003 : 37 ) hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Hasil belajar merupakan gambaran tingkat penguasaan siswa terhadap sasaran belajar pada topik bahasan yang diajarkan. Sebuah kegiatan belajar dapat dikatakan efektif apabila dengan usaha belajar tertentu memberikan prestasi belajar. Sedangkan menurut Munawar hasil nelajar merupakan tingkat perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum dan setelah belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Dalam Anas Sudijono ( 2009 : 49 ) Benjamin S. Bloom berpendapat bahwa taksonomi tujuan pendidikan harus senantiasa mengara pada tiga jenis domain yaitu : a. Ranah Kognitif Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menuru Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk 9

10

ranah kognitif. Dalam ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berpikir dari jenjang terendah sampai jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang yang dimaksud adalah: (1) Pengetahuan / hafalan / ingatan (Kowledge), (2) Pemahaman (comprehension), (3) Penerapan (Aplication), (4) Analisis (analysis), (5) Sintesis (Synthesis), (6) Penilaian (evaluation). b. Ranah Afektif Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar bahwa sikapa seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif ini oleh Krathwohl (1974) dan kawan-kawan dikelompokkan menjadi lebih rinci kedalam lima jenjang yaitu : (1) Menerima atau memperhatikan (2) menanggapi (3) Penilaian atau menghargai (4) Mengatur atau mengorganisasikan (5) Karakterisasi dengan suatu nilai. c. Ranah Psikomotorik Ranah Psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill). Atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar ranah psikomotorik oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotorik ini muncul keterampilan dan kemampuan bertindak individu. Ranah ini meliputi enam aspek yaitu :gerakan refleks, gerakan dasar, kemampuan persepsi, kemampuan fisik, gerakan terlatih, dan komunikasi yang tidak saling berhubungan.

10

11

Bedasarkan uraian diatas maka yang dimaksud dengan hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. 3. Aktivitas Belajar Aktivitas belajar berasal dari kata aktivitas dan belajar. Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (2007) bahwa aktivitas diartikan keaktifan, kegiatan, kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan sedangkan belajar diartikan usaha yang dilakukan sesorang untuk menambah pengetahuan. Jadi, aktivitas belajar adalah segala kegiatan kegiatan siswa yang dikerjakan untuk memperoleh pengetahuan, baik itu dari segi sikap atau tindakan, dan nilainilai dalam diri siswa. Aktivitas belajar merupakan semua kegiatan yang dilakukan oleh seseorang siswa dalam konteks belajar untuk mencapai tujuan. Tanpa ada aktivitas maka proses belajar tidak akan berlangsung dengan baik. Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar tidak hanya mendengar dan mencatat saja. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa dalam belajar, maka proses pembelajaran yang terjadi akan semakin baik (Suyatna, 2009). Aktivitas kegiatan belajar mengajar selama ini merupakan pseudo pembelajaran. Terdapat jarak antara antara materi yang dipelajari dengan peserta didik sebagai insan yang mempelajarinya. Materi yang dipelajari terpisah dari peserta didik yang mempelajarinya. Sebagai medium pendekat antara materi dan peserta didik pada pembelajaran artifisial adalah aktivitas mental berupa hafalan (Suprijono, 2009).

11

12

B. Kerangka Pikir Dalam proses belajar mengajar, peran utama guru adalah pengelola pengajaran. Pemilihan dan penggunaan pendekatan dan metode pembelajaran yang sesuai, akan membuat peserta didik lebih berhasil dalam mencapai tujuan belajarnya khususnya dalam mata pelajaran fisika . Pendekatan konvensional yang dalam hal ini guru menerangkan materi sementara peserta didik mendengarkannya dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru. Bahan pelajaran telah disajikan secara jelas dan terperinci oleh guru melalui ceramah menyebabkan siswa kurang diberikan kesempatan berpikir untuk mengkaji suatu fakta, menguji kebenaran suatu konsep atau prinsip. Dengan demikian keterlibatan siswa dalam mengikuti pelajaran kurang optimal. Pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi adalah salah satu alternatif yang dapat mengatasi masalah seperti yang dikemukakan di atas, karena pada pendekatan ini siswa diberi kesempatan untuk memecahkan masalah yang memerlukan proses mental untuk menemukan konsep atau prinsip. Dengan demikian rancangan pembelajaran yang dibuat oleh guru harus memungkinkan siswa melakukan proses mental, seperti mengamati, menggolong-golongkan, mengukur, membuat dugaan, menjelaskan, membuat kesimpulan dan sebagainya. Dari uraian di atas penulis dapat menyakini bahwa melalui pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi bila diterapkan dengan baik maka tentunya siswa akan mendapat peluang yang lebih besar untuk mengetahui proses-proses dalam fisika. Dengan demikian siswa mampu mencapai pemahaman yang mendalam, sehingga

12

13

dengan

diterapkannya

pendekatan

inkuiri

berbasis

demonstrasi

akan

meningkatkan hasil belajar fisika siswa. Secara sederhana kerangka pikir ini dapat digambarkan dalam bagan berikut ini

hasil belajar rendah

Guru dan siswa

Pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi

Siswa lebih mudah memahami konsep-konsep yang dipelajarinya Materi pelajaran lebih bermakna Materi pelajaran lebih mudah diingat dan bertahan lama

Hasil belajar meningkat

Gambar 2.2. Bagan Kerangka Pikir

C. Hipotesis Tindakan 1) Penerapan pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi dapat meningkatkan hasil belajar fisika peserta didik kelas X1 MAN 2 Parepare.

13

14

2) Penerapan pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas X1 MAN 2 Parepare.

III. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitia Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang dilakukan dalam bidang kajian pembelajaran Fisika. B. Variabel Penelitian Variabel Tindakan : Pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi. Variabel Masalah : Hasil Belajar Variabel penyerta : Aktivitas Belajar

C. Subjek Penelitian Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X1 MAN 2 PAREPARE yang terdiri dari 45 peserta didik 17 laki-laki dan 28 perempuan pada tahun ajaran 2010/2011.

D. Waktu dan Tempat Penelitian Waktu : Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun

pelajaran 2010/2011 dan akan berlangsung pada bulan Maret - Mei 2011. Tempat : Penelitian ini dilaksanakan di MAN 2 Parepare.

E. Rumusan Tindakan

14

15

4. Desain Desain penelitian

5. Skenario Penelitian Siklus I Perencanaan Penggunaan pendekatan inkuiri berbasis demonstrasi di dalam kelas. Pelaksanaan 1. Menyajikan pertanyaan atau masalah dan membimbing peserta didik mengidentifikasi masalah 2. Membagi peserta didik menjadi Sembilan kelompok 3. Membimbing peserta didik untuk membuat hipotesis 4. Memperkenalkan alat secara singkat 5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan langkahlangkah yang sesuai dengan hipotesis yang akan digunakan 6. Membahas beberapa hal yang yang berkaitan dengan prosedur pelaksanaan demonstrasi melalui Tanya jawab

15

16

7. Melaksanakan demonstrasi/percobaan sambil melakukan Tanya jawab dengan peserta didik 8. Meminta peserta didik melakukan pengamatan secara kelompok 9. Meminta peserta didik untuk merumuskan hasil pengamatan secara kelompok 10. Mengumpulkan dan menganalisis data, guru memberi kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil pengolahan data yang terkumpul. 11. Membuat kesimpulan, guru membimbing siswa dalam membuat kesimpulan. 12. Memberikan tes akhir. Pengamatan 1. Peserta didik bercerita dengan temannya saat guru mendemonstrasi. 2. Ada peserta didik yang tidur dan suasana kelas sangat gaduh. 3. Banyak peserta didik yang tidak aktif dalam kelompoknya. 4. Banyak peserta didik yang diam bila ditanya.

Refleksi Bagaimana membuat seluruh peserta didik aktif dalam kelompoknya dan suasana kelas dapat tetap tenang dan terkendali.

SIKLUS 2 Refisi Perencanaan 1. Kelompok diperbanyak dan anggota kelompok diperkecil 2. Setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk bertanya.

16

17

Pelaksanaan 1. Memperbanyak kelompok dan memperkecil anggota kelompok 2. Memberikan kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertanya. Pengamatan Peserta didik sudah aktif dalam kelompoknya F. Teknik Pengumpulan Data Data dari hasil penelitian ini dapat diperoleh dari : 1. Data kuantitatif : data mengenai tingkat kemampuan peserta didik menyelesaikan tes yang diberikan diakhir tiap siklus serta hasil ujian tengah dan akhir semester.

2. Data kualitatif: data yang berupa informasi berbentuk kalimat yang memberikan gambaran mengenai kesungguhan (aktivitas belajar), sikap peserta didik mengikuti proses belajar-mengajar fisika maupun cara mengerjakan soal-soal fisika yang diberikan, yang di peroleh melalui observasi selama PBM berlangsung dan lembar kuesioner.

G. Teknik analisis Data 1. Data (kuantitatif) yang dikumpulakan dari tes awal dan tes akhir setiap siklus dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik presentase, menganalisis nilai rata-rata ujian tengah dan akhir semester. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah. 2. Data (kualitatif) yang dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar

observasi berupa aktivitas peserta didik dalam PBM dengan menganalisis tingkat keaktifan peserta didik dalam PBM tersebut. Kemudian dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah. 17

18

18