Anda di halaman 1dari 22

Segi- Segi Pendidikan Sekarang sampailah kepada pembicaraan tentang segi-segi (macam) pendidikan yang dapat dan harus

dikembangkan pada anak-anak di sekolah maupun dalam rumah tangga.Tetapi, sebelum kita sampai kepada pembicaraan tentang segi-segi pendidikan, kami merasa perlu menguraikan terlebih dahulu suatu yang kami anggap penting dan yang berhubungan erat dengan apa yang akan diuraikan selanjutnya mengenai segi-segi pendidikan tersebut, yaitu: 1. Mengajar dan Mendidik Kalau kita membaca buku tentang pendidikan,sering kita dapati istilah pendidik untuk mengganti perkataanguru yang sudah lebih umum dikenal dan dipakai oleh masyarakat kita.Di samping itu, kita selalu mendengar bahwa pekerjaan guru ialahmengajar murid-murid. Jadi, nyatalah bahwa kedua kata itu mendidik dan mengajar- sama-sama digunakan terhadap pekerjaan guru. Anak-anak dididik jasmaninya (pendidikan jasmani) supay menjadi sehat dan kuat,juga dididik kecerdasannya atau daya akalnya (pendidikan, intelek,pendidikan kecerdasan) dengan cara mengajarkan berbagai mata pelajaran, juga dididik agar anak itu berkelakuan baik, suka tolongmenolong, berbakti kepada orang tua dan guru (pendidikan kesusilaan dn pendidikan sosial).Yng dimaksud dengan mengajar ialah memberikan pengetahuan atau melatih kecakapan-kecakapan atau keterampilan- keterampilan kepada anak-anak.Sedangkan yang dimaksud dengan mendidik ialah membentuk budi pekerti dan watak anak-anak. Jadi dengan pendidikan guru berusaha membentuk kesusilaan pada anak. Pengajaran salah satu segi dari pendidikan. Pengajaran merupakan salah satu alat ysaha dari pendidikan keseluruhan. Jadi, pendidikan lebih luas dari pada pengajaran. Disamping itu, kita juga dapat memahami bahwa tidak semua perbuatan mengajar adalah mendidik. Setiap perbuatan mendidik selalu dilakukan dengan sadar dan sengaja, dan mempunyai tujuan tertentu yang baik, demi kepentingan perkembangan diri pribadi anak didik. Jadi, tujuan perbuatan itu adalah demi kepentingan dan kebutuhan anak didik, dan bukan untuk kepentingan dan kebutuhan si pendidik atau yang lain. 2. Segi-Segi Pendidikan

Dengan menguraikan segi-segi pendidikan berikut ini, kita bukanlah bermaksud untuk memisahkan antara segi yang satu dari segi yang lain, melainkan hanyalah untuk membedakannya dan memudahkan pembicaraan kita. Karena dengan mengetahui perbedaan-perbedaan atau macam-macam pendidikanitu, dapat kiranya menjadi pedoman bagi para guru untuk tidak memberatkan atau menekankan salah satu segi saja, melainkan berusaha mengembangkan semua segi pendidikan tersebut.

Adapun pembagian segi-segi atau macam pendidikan itu ialah sebagai berikut : a. Pendidikan Jasmani Pendidikan jasmani adalah salah satu segi pendidikan yang sungguh penting, yang tidak dapat terlepas dari segi-segi pendidikan yang lain. Bahkan, dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani itu merupakan salah satu alat yang utama bagi pendidikan rohani. Untuk menghindari salah pengertian, perlu kiranya kami jelaskan disini bahwa pendidikan jasmani yang diutarakan disini bukanlah mata pelajaran gerak badan melainkan pendidikan yang erat bersangkut paut dengan pertumbuhan dan kesehatan jasmani anak-anak, maka tidak mengherankan jika pendidikan jasmani juga besar sekali gunanya bagi pembentukan kerohanian. Tujuan pendidikan jasmanipun membentuk kepribadian , jadi mengenai bermacam-macam segi pendidikan pula, antara lain : 1. Untuk menjaga dan memelihara kesehatan badan, seperti alat-alat pernapasan, peredaran darah 2. Membentuk budi pekerti anak-anak, seperti melatih kesabaran, keberanian,dan kejujuran 3. Memupuk perasaan kesosialan, seperti tolong- menolong, bekerja sama ,dan setia kawan 4. Memupuk perkembangan fungsi- fungsi jiwa, seperti kecerdasan, perasaan dan kemauan Tugas pendidik terhadap pendidikan jasmani anak-anak : 1. Dengan mengajarkan bermacam-macam permainan dan gerak badan seperti bermain kasti 2. Dengan mengajarkan ilmu kesehatan, yang dapat memberi petunjuk- petunjuk kepada anakanak bagaimana seharusnya berbuat dan hidup menurut syarat-syarat ilmu kesehatan itu, seperti pakaian, makanan, dan kebersihan badan 3. Menjaga dan memelihara kebersihan sekolah tempat anak-anak itu belajar, seperti kebersihan gedung sekolah b. Pendidikan Kecakapan

Pendidikan kecakapan atau pendidikan intelek ialah pendidikan yang bermaksud mengembangkan daya pikir ( kecerdasan) dan menambah pengetahuan anak-anak. Sesungguhnya pendidikan kecakapan itu tidak hanya menambah pengetahuan anak-anak saja, pendidikan kecakapan juga merupakan syarat atas dasar untuk melaksanakan macam-macam atau segi-segi pendidikan yang lain,sepeti pendidikan ketuhanan, pndidikan kesusilaan, pendidikan keindahan, dan pendidikan kemasyarakatan. Diatas telah dikatakan bahwa pendidikan kcakapan terutama bermaksud mengmbangkan kecerdasan anak-anak dan menambah pengetahuannya.

Dengan demikian, pendidikan kecerdasan mempunyai dua tugas yang penting: 1) Pembentukan formal atau fungsional,dan 2) Pembentukan material 1) Pembentukan fungsional (pengaruh ilmu jiwa daya) Yang dimaksud dengan pembentukan fungsional atau pembentukan formal ialah pembentukan fungsi-fungsi jiwa, seperti pengamatan, ingatan, antasi, berpikir, perasaan, dan kemauan. Kita telah mengetahui bahwa hasil perkembangan fungsi-fungsi itu fungsi jasmani maupun fungsi rohani- bergantung pada faktor-faktor dari dalam,yaitu pembawaan dan bakat,dan faktor-faktor dari luar, yaitu pendidikan dan lingkungan ( hukum konvergensi). 2) Pembentukan material Pendidikan intelek disebut pembentukan material jika di dalamnya bermaksud menambah ilmu pengetahuan atau bahan-bahan (materi) yang dibutuhkan di dalam kehidupan manusia seperti tanggapan-tanggapan, pengertian-pengertian, pengetahuan-pengetahuan siap (parate kennis), dan keterampilan-keterampilan yang penting bagi kehidupan. Dengan demikian, pembentukan material dapat kita bagi menjadi dua bagian: 1. menambah pengetahuan: seperti dengan mengajararkn sejarah, ilmu bumi, ilmu hayat, , bahasa, matematika, dan fisika. 2. menambah keterampilan: seperti dalam pelajaran membaca,menulis, menggambar, pekerjaan tangan, pekerjaan keputrian, mengetik, menjahit dan vak-vak kejuruan. Menurut ahli-ahli didaktik yang menganut aliran teori daya (vermongenstheorie) seperti kant dan Pestalozzi, pembentukan formal lebih dipentingkan daripada pembentukan material. Demikian pula, terpengaruh oleh hasil-hasil penyelidikan ilmu jiwa pikir,maka tiap-tiap pengajaran hendaklah dapat merangsang dan melatih anak-anak untuk aktif berpikir sendiri. Tetapi, menurut teori tanggapan (voorstellingstheorie) yang berasal dari Herbart,pendidik harus banyak member tanggapan ang bermacam-macam kepada anak-anak. Jadi,menurut teori

tersebut pembentukan material lebih diutamakan, tetapi dengan mengabaikan pembentukan formalnya. Akibatnya, intelektualisme dalam pendidikan dan pengajaran. c. Pendidikan Agama Pada mulanya, Departemen Agama mengatur dan menyelenggarakan sekolah-sekolah yang bercorak agama saja, dari tingkat sekolah rendah seperti madrasah-madrasah sampai tingkat pendidikan tinggi seperti Institut Agama Islam (IAIN), dan lain-lain. Perkembamgan tersebut kmudian menimbulkan berbagai masalah, terutama masalah pengelolaan kurikulim, peningkatan mutu agar sejajar dengan sekolah umum, dan pengangkatan guru-gurunya. Di satu pihak, sekolahsekolah agama ingin mempertahankan porsi untuk pendidikan atau pelajaran agama sebanyakbanyaknya, dipihak lain sekolah-sekolah itu pun harus memberikan pendidikan umum sejajar atau setingkat dengan sekolah-sekolah umum yang diselenggarakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, dikeluarkanlah surat keputusan bersama (SKB 3 Menteri) antara Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri, no.6 tahun 1975, no.037/ U / 1975, dan no. 36 tahun 1975, tanggal 24 Maret 1975, tentang peningkatan mutu pendidikan pada madrasah-madrasah.Di dalam surat keputusan bersama antara lain dikemukakan bahwa madrasah madrasah hendaknya memberikan pelajaran agama Islam sebagai pelajaran dasar disamping mata pelajaran umum. Apa yang akan diuraikan dalam bab ini selanjutnya, yakni mengenai pendidikan agama secara umum, sebagai salah satu segi pendidikan yang tidak terlepas dari segi-segi pendidikan lainnya . 1. Tujuan pendidikan agama dan pengelolaannya Jika kita simak kembali apa yang dinyatakan didalam GBHN 1983 1988 , tujuan pendidikan antar lain adalah untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Dengan bertitik tolak dari GBHN tersebut, dapat dirumuskan bahwa tujuan pendidikan agama di sekolah- sekolah umum ialah untuk mendidik anak-anak supaya menjadi orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang berarti taat dan patuh menjalankan perintah serta menjauhi larangan larangan-Nya seperti yang diajarkan didalam Kitab Suci yang dianut oleh agama masingmasing. Pendidikan agama di sekolah-sekolah umum terutama di sekolah-sekolah negeri dilakukan oleh guru-guru agama yang diangkat oleh Departemen Agama . Jika disuatu sekolah negeri banyak terdapat murid yang beragama lain diluar agama Islam, Pemerintah mengangkat pula guruguru agama lain sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut. Untuk mengatasi kepincangan tersebut maka mulai tahun ajaran 1983/ 1984 pengangkatan dan pengelolaan guru-guru agama disekolahsekolah negeri yang semula menjadi wewenang dan tanggung jawab Departemen Agama, cara berangsur-angsur diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan . 2. Bila dan Bagaimana Pendidikan Agama itu ditanamkan pada anak-anak?

Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat (1) dan (2), dan Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia, maka pendidikan agama merupakan segi pendidikan yang utama yang mendasari semua segi pendidikan lainnya. Betapa pentingnya pendidikan Agama itu bagi setiap warga Negara Indonesia, terbukti dari adanya peraturan pemerintah yang mengharuskan pendidikan agama itu diberikan kepada anakanak sejak anak itu bersekolah di taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.Bahkan, secara pedagogis,pendidikan agama harus sudah dimulai sedini-dininya, sejak anak msih kecil.Tentu saja hal ini merupakan tugas orang tua masing-masing. Orang tua yang menyadari pentingnya agama itu bagi perkembangan jiwa anak dan bagi kehidupan manusia umumnya akan berusaha menanamkan pendidikan agama pada anak-anaknya sejak kecil sesuai dengan agama yang di anutnya. Memaukkan anak-anak ke madrasah atau-atau tempat pengajian, atau sengaja memanggil guru agama kerumah di luar waktu skolah anak-anak adalah usaha yng baik. Sama halnya dengan segi-segi pendidikan yang lain, pendidikan agama menyangkut tiga aspek, yaitu aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Mengingat kepada ketiga aspek tersebut, maka sebenarnya pendidikan agama di sekolah-sekolah bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab semua guru. d. Pendidikan Kesusilaan 1) Tujuan pendidikan ksusilaan Pendidikan kesusilaan atau pendidikan budi pekerti sebenarnya erat kali hubungannya dengan pendidikan agama. Sebaliknya, orang akan lebih menjadi tebal perasaan kesusilaannya jika orang itu makin mendekatkan dirinya kepada Tuhan, dan taat serta patuh menjalankan agamanya. Demikian pula, pendidikan kesusilaan itu tidak dapat terlepas dari pendidikan social atau kemasyarakatan yng akan kita bicarakan kemudian. Kehidupan dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat itu bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang berlaku. Anak-anak masih dalam perkembangan menuju ke arah kedewasaan, berarti anak harus berkembang menjadi manusia yang dapat hidup dalam dan menyesuaikan diri terhadap masyarakat. Jadi, maksud dan tujuan pendidikan kesusilaan itu ialah memimpin anak setia serta mengerjakan segala sesuatu yang baik, dan meninggalkan yang buruk atas kemauan sendiri dalam segala hal setiap waktu. Dengan singkat , dapat dikatakan bahwa pendidikan kesusilaan adalah mendidik anak menjadi orang yang berkepribadian dan berwatak baik. 2) Dasar-dasar pendidikan kesusilaan Untuk dapat melaksanakan pendidikan kesusilaan ini dengan hasil yang baik, perlulah pendidik mengetahui dasar-dasarnya. Seorang ahli didik Amerika yang terkenal, John Dewey telah memberi petunjuk-petunjuk yang sangat berharga bagi kita dalam usaha mendidik watak anakanak.

Dalam pembentukan watak manusia, menurut John Dewey, ada tiga unsur yang penting, yaitu : 1. Kemauan yang timbul dari inisiatif sendiri , yang dapat dikembangkan oleh anak-anak 2. Kejernihan keputusan ( kemampuan berpikir yang baik ) yang dapat terbentuk dengan penyelidikan dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan sendiri oleh anak-anak. 3. Kehalusan perasaan yang dapat ditanamkan dan dikembangkan dengan bekerjasama dan dalam pergaulan sehari-hari dengan anak-anak lain. Dengan singkat, untuk mencapai hasil baik bagi pendidikan kesusilaan perlulah dasar-dasar berikut : a. Anak-anak harus diajar supaya dapat membedakan yang baik dari yang buruk

b. Anak-anak hendaklah di didik agar berkembang perasaan cintanya terhadap segala sesuatu yang baik dan membenci segala sesuatu yang buruk. c. Anak-anak harus dibiasakan mengerjakan segala sesuatu yang baik dan menjauhi yang buruk atas kemauan sendiri dalam segala hal dan setiap waktu. 3) Sumber-sumber kesusilaan Pendidikan budi pekerti atau pendidikan kesusilaan sekarang menjadi suatu masalah yang pelik. Sebab, seperti telah dikatakan dimuka, pendidikan kesusilaan itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemauan dan perkembangan masyarakat dan Negara.Pada waktu itu orang-orang berpegang kepada norma-norma kesusilaan yang tradisional ( tetap, tidak berubah-ubah, menurut adat ).Tetapi sekarang, sejalan dengan makin majunya masyarakat dan dunia , tidak mungkin mempertahankan norma-norma yang tradisional, karena itu kita harus mencari norma-norma baru yang berlaku bagi perseorangan maupun bagi masyarakat. Tetapi, disamping itu juga tiap-tiap warga Negara harus taat kepada peraturan-peraturan dan tahu serta menjalankan tugas kewajibannya sebagai warga Negara. Berhubungan dengan itu, dalam mencari norma-norma kesusilaan itu orang dapat berpedoman kepada sumber-sumber berikut : 1. Agama 2. Negara 3. Masyarakat 4. Pribadi, serta 5. Filsafah dan Ilmu e. Pendidikan Keindahan 1. Norma-norma keindahan

Tiap-tiap manusia yang normal, sejak kecilnya telah mempunyai dorongan nafsu ke arah keindahan . Perhatikan saja anak-anak yang sedang dalam pertumbuhannya, contohnya anak kecil sudah dapat meminta dan memilih sendiri kue yang enak dan bagus warnanya, pakaian yang lebih bagus atau mainan yang lebih bagus pula. Tentu saja tenggi atau rendahnya perasaan keindahan pada anak-anak dan pada orang dewasa itu tidak sama satu sama lain. Hal ini telah kita pelajari dalam pelajaran psikologi bahwa cita rasa ( ukuran untuk merasakan bagus atau buruk ) pada tiap-tiap orang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain : 1) Pembawaan dan bakat seseorang. Orang yang berpembawaan kea rah keindahan atau bakat seni, lebih mudah merasakan dan melakukan kesenian daripada yang lain 2) Lingkungan saeseorang. Ada lingkungan yang memberi banyak kesempatan kepada seseorang untuk selalu berbuat dan merasakan segala sesuatu yang indah 3) Aliran seni dan mode yang sedang berlaku, misalnya potongan pakaian yang dikatakan bagus lima tahun yang lalu, mungkin sekarang kolot dan buruk. 2. Dasar-dasar pendidikan keindahan Seseorang yang tahu tentang sesuatu yang dikatakan indah, belum tentu dan bahkan tidak mungkin mengerjakan, jika tidak ada padanya perasaan cinta dan hasrat atau kemauan yang mendorongnya ke arah berbuat dan berlaku menurut norma-norma keindahan itu. Bahwa kiranya mendidik anak kearah keindahan itu: a) tidak hanya teori yang diberikan kepada anak-anak, tetapi juga membiasakan anak-anak mempraktikkan keindahan itu dirumah b) tidak hanya intelek atau pikiran saja yang kita isi agar anak-anak dapat membedakan mana yang indah dan mana yang buruk 3. Kebersihan, kesehatan, dan keindahan Didalam praktik sehari-hari, baik disekolah maupun didalam rumah tangga, akan nyata pada kita bahwa tiga faktor, yaitu kebersihan, kesehatan , keindahan tidak dapat sama sekali dipisahkan-pisahkan. Oleh karena itu, 3K tersebut bukan hanya mengenai benda-benda dan keadaan luar manusia melainkan juga mengenai batin tiap-tiap anak. Dengan kata lain, pendidikan keindahan tidak dapat terlepas dari pendidikan kesusilaan. 4. Usaha-usaha pendidikan a) Didalam rumah tangga 1. Membiasakan anak-anak sejak kecilnya berlaku bersih, seperti : mandi, berpakaian dan makan menurut kebersihan.

2. Membiasakan anak-anak mengerjakan segala sesuatu dengan tertiib dan teratur,seperti: makan dan tidur pada waktu dan pada tempatnya b) Dilingkungan sekolah 1. Menghias kelas bersama-sama dengan gambar-gambar, lukisan-lukisan, atau hasil pekerjaan tangan anak-anak sendiri: menyapu lantai, mengatur, dan menghias meja guru dengan pot bunga. 2. Mengatur dan memelihara kebun sekolah, berkebun bunga-bungaan, dan mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan yang setiap terjadi disekolah, seperti: mengatur buku-buku perpustakaan, membersihkan kaca jendela. f. Pendidikan Kemasyarakatan 1. Tugas dan tujuan pendidikan kemasyarakatan( pendidikan sosial ) Manusia itu menurut pembawaannya adalah makhluk sosial, masyarakat adalah kumpulan dan paduan dari keluarga-keluarga yang juga didalamnya terdapat hokum-hukum, tata tertib dan aturan-aturan yang tertulis dan tidak tertulis. Denga demikian, dapat dikatakan bahwa tugas dan tujuan pendidikan sosial ialah: a) Mengajar anak-anak yang hanya mempunyai hak saja, menjadi manusia yang tahu dan menginsafi tugas dan kewajibannya terhadap bermacam-macam golongan dalam masyarakat. b) Membiasakan anak-anak berbuat mematuhi dan memenuhi tugas kewajiban sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga Negara. 2. Lingkungan sosial dan pendidikan sosial Segala pengaruh luar yang datang dari orang lain atau dari anak-anak lain kita sebut pengaruh lingkungan sosia. Jadi, lingkungan sosial ialah setiap orang danb anak-anak yang berhubungan dangan anak itu.Selain itu, yang termasuk pula dengan pendidikan itu ialah pendidika, dalam hal ini yang kita maksud dengan pendidikan itu ialah pengaruh-pengaruh yang disengaja dari anggota-anggota berbagai golongan tertentu, seperti: nenek, paman dan bibi. Jadi, pendidikan sosial ialah pengaruh yang disengaja yang datang dari pendidik-pendidik itu sendiri, dan pengaruh itu berguna untuk: a) Menjadikan anak itu anggota yang baik dalam golongannya b) Mengajar anak itu supaya dengan sabar berbuat sosial dalam masyarakat, seperti: dalam rapat-rapat,dijalan 3. Usaha-usaha pendidik a) Usaha-usaha yang dapat dilakukan didalam keluarga antara lain :

1. Sejak masih kecil benar anak itu sudah dibiasakan hidup bersih dan tertib: dimandikan, makan, tidur dan sebagainya pada waktu dan pada tempatnya. Semakin besar anak itu, hidup secara tertib dan teratur itu hendaklah makin menjadi biasa. 2.Juga anak-anak harus diajar menyesuaikan diri dengan lingkungannya. 3. Anak-anak belajar menahan diri dan belajar mengekang keinginan dan kehendaknya 4. Kebiasaan-kebiasaan yang baik itu harus makin lama makin diinsafi oleh anak-anak sendiri, sehingga anak-anak mempunayai sifat patuh kepada perintah dan larangan orang tuanya. b) Disekolah Pendidikan kemasyarakatan disekolah dapat dilakukan secara praktis dan teoritis 1. Secara praktis antara lain: a) Anak-anak dibiasakan datang dan pergi kesekolah pada waktunya b) Anak-anak diajar bekerja secara teratur, baik bekerja perseorangan maupun kelompok c) Anak-anak harus dibiasakan melakukan segala sesuatu disekolah menurut peraturanperaturan yang berlaku disekolah. d) Anak-anak diajar bergaul dan menyesuaikan diri dengan anak-anak lain disekolah, bekerjasama dan saling membantu. 2. Dengan melalui berbagai mata pelajaran, a) Pekerjaan tangan , seperti : anak-anak membuat bak pasir , berkebun b) IPS , seperti : guru dapat menceritakan bahwa kehidupan suatu bangsa atau Negara bergantung pada bangsa dan Negara lain. c) Bahasa, seperti : anak-anak belajar menginsafi arti dan pentingnya bahasa nasional dan juga dalam pelajaran bahasa, seperti: pada membaca. 3. Pendidikan hendaklah harmonis Pendidikan yang harmonis berarti pula tidak hanya mementingkan pendidikan anak sebagai individu , tetapi juga mendidik anak menjadi orang yang mengetahui hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat. Hal ini sesuai dengan Undang- Undang Pendidikan dan Pengajaran di Negara kita yang berbunyi: membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis serta bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air. Keharusan adanya keharmonisan dalam pendidikan itu jelas terlihat dan terlihat dalam tujuan pendidikan seperti tercantum dalam GBHN, yaitu meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air agar dapat menumbuhkan

manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa .

DAFTAR PUSTAKA

1978, Ketetapan MPR No.IV Tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara, Jakarta: Arah Kebijaksanaan Pembangunan Alwiah Alsagoff, Sharifah, 1984, Ilmu Pendidikan: Pedagogi, Kuala Lumpur, HeinemannAsia, Singapura-Hongkong Purwanto, Ngalim, Drs. M., 1972, Ilmu Pendidikan, Paket Pengajaran pada Proyek Kerjasama PT Stanvac-Indonesia, Pendopo, dengan IKIP Jakarta Sugarda Purbakawatja, R. et. al., 1963, Sekolah dan Masyarakat, Bandung-Djakarta: Ganaco Van Mourik, J. dan Nasution, S., 1953, Di dalam Praktek, Cara Mengajar dan Bergaul dengan Anak-Anak di Sekolah Rendah, J.B. Wolters-Jakarta-Groningen PENDIDIKAN AKHLAK

DI SUSUN OLEH : NAMA : AINUN JARIAH

JURUSAN : PAI

KATA PENGANTAR

Bismillaahir rahmaanir rahiim,

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan berkah-Nya yang memberikan kesehatan dan nikmat kepada penulis sehingga makalah pendidikan akhlak ini dapat tersusun dengan baik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan perlu diperbaiki dalam isi maupun cakupannya.Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari teman dan para pembaca sekalian.

Saya ucapkan terima kasih atas dukungan dalam pembuatan makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Januari 2012 Penulis AINUN JARIAH

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI .......ii

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Masalah 1.4 Manfaat

BAB II

PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pendidikan Akhlak

2.2 Pembagian Akhlak 2.3 Metode Pendidikan Akhlak 2.4 Dampak Positif dan Dampak Negatif Pendidikan Akhlak 2.5 Tujuan Pendidikan Akhlak

BAB III

PENUTUP 3.1 Kesimpulan 3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Agama salah satu pokok diantara pokok-pokok akhlak. Bahkan agama dan akhlak dua hakikat yang tak dapat dipisahkan antara keduanya dalam agama Islam. Nabi Muhammad diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Oleh sebab itu tidak heran ulama dan guru-guru Islam dahulu amat mementingkan pendidikan akhlak itu, mulai dari mendidik anakanak sampai mendidik pemuda-pemuda dan orang-orang dewasa.

Akhlak-akhlak dalam Alquran mengatur perbuatan manusia terhadap dirinya sendiri dan perbuatan manusia terhadap orang lain, yaitu masyarakat.Maka akhlak dalam Islam ialah akhlak perseorangan dan akhlak kemasyarakatan.

Diantara akhlak perseorangan, misalnya sederhana dan pertengahan dalam membelanjakan harta benda, tidak boros dan tidak pula bakhil,dan diantara akhlak kemasyarakatan, misalnya akhlak yang berhubungan dengan kekeluargaan.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah : 1. Mengapa akhlak itu harus termasuk pendidikan? 2. Bagaimana cara memperbaiki akhlak agar lebih baik di zaman sekarang?

1.3 Tujuan Masalah Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan makalah ini adalah: Untuk sebagai pedoman bagi diri sendiri dan lingkungan masyarakat agar lebih terarah di masa mendatang.

1. 4 Manfaat 1. Agar Mahasiswa/ Mahasiswi tidak terpengaruh terhadap perbuatan yang tidak baik 2. Agar Mahasiswa/ Mahasiswi dapat memberikan teladan kepada masyarakat

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pendidikan Akhlak

Pendidikan dapat diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik.

Akhlak menurut bahasa berarti tabiat,watak,adat istiadat dan agama.Akhlak menurut istilah berarti sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

2.2 Pembagian Akhlak Akhlak terbagi atas dua bagian yaitu:

1. Akhlak Baik Akhlak Baik adalah akhlak yang mengikuti segala yang diperintahkan oleh Allah atau akhlak yang terpuji.

Contoh: Berlaku jujur, berbuat kebaikan kepada orang lain, dan berbuat kebaikan kepada Kedua orang tua.

Akhlak yang baik menurut Al-Ghazaly dapat dicapai dengan empat syarat antara lain : a.tenaga ilmu b. tenaga amarah c. tenaga keinginan d. tenaga keadilan

a. Tenaga Ilmu Tenaga ilmu ialah tenaga yang mudah mengetahui perbedaan antara yang benar dan yang dusta.

b. Tenaga Amarah Tenaga amarah ialah tenaga yang dapat menahan segala amarah.

c. Tenaga Keinginan Tenaga keinginan ini ialah tenaga yang harus tunduk pada akal.

d. Tenaga Keadilan

Tenaga Keadilan ialah laksana penasihat yang memberi isyarat.

2. Akhlak Buruk Akhlak Buruk adalah akhlakyang dilarang oleh Allah atau akhlak yang tercela.

Contoh : Mempersekutukan Allah dengan menyembah berhala,berkata kasar kepada Kedua orang tua dan berbohong.

2.3 Metode Pendidikan Akhlak Adapun metode yang digunakan dalam pendidikan akhlak ada tiga antara lain: 1. Pendidikan Akhlak secara langsung yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk,tuntunan, nasehat,menyebutkan bahaya-bahayanya sesuatu,sehingga kita dapat terhindar dari hal-hal tercela. 2. Pendidikan Akhlak secara tidak langsung yaitu dengan cara mendiktikan sajak- sajak yang mengandung hikmat kepada anak-anak. 3. Mengambil manfaat dari kecendrungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak

Adapun cara mendidik dan mengajar pendidikan akhlak yaitu : a. Guru harus menunaikan tugasnya dan jangan membuang waktu murid-murid yang b. Guru jangan banyak memberikan istirahat kepada murid-murid, melainkan sekedar layak untuk melepaskan lelah belajar. c. Guru jangan menduka citakan hati murid-murid, supaya jangan putus harapannya.

2.4 Dampak Positif dan Dampak Negati 1. Dampak Positif Pendidikan Akhlak a. Dapat mempengaruhi kehidupan manusia agar lebih baik b. Agar tidak terjerumus pada perbuatan yang buruk

2. Dampak Negatif Pendidikan Akhlak a. Meningkatnya sikap membangkang b. Menurunnya sopan santun terhadap orangtua dan guru c. Merosotnya etika dan berkurangnya sifat kejujuran

2.5 Tujuan Pendidikan Akhlak Tujuan dari pendidikan akhlak ini ialah untuk membentuk orang-orang yang bermoral baik, sopan dan beradat, mulia dalam tingkah laku.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Pendidikan dapat diartikan sebagai proses pembelajar bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Akhlak menurut bahasa berarti tabiat,watak,adat istiadat dan agama.Akhlak menurut istilah berarti sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

2. Pembagian akhlak ada dua bagian yaitu:

a.Akhlak Baik b.Akhlak Buruk

3. Adapun metode yang digunakan dalam pendidikan akhlak ada tiga antara lain: a. Pendidikan Akhlak secara langsung b. Pendidikan Akhlak secara tidak langsung c. Mengambil manfaat dari kecendrungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak

4. Pendidikan akhlak sangat menunjang dalam pembentukan tingkah laku manusia agar lebih baik.

5. Pendidikan akhlak haruslah menjadi prioritas dalam kehidupan kita 3.2 Saran Diharapkan kepada pembaca agar dapat memahami dan mangamalkan isi dari pendidikan akhlak tersebut di kehidupan sehari-hari dan juga dapat bermanfaat khususnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bahry,Djohar dan Prof. Dr. Muhammad Athiyah Al-abrasyi.1969.Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Prof.Dr.H.Mahmud Yunus.1963.Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta:PT.Hidakarya Agung

PENDIDIKAN AKHLAK

DI SUSUN OLEH : NAMA : AINUN JARIAH

JURUSAN : PAI

KATA PENGANTAR

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim, Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan berkah-Nya yang memberikan kesehatan dan nikmat kepada penulis sehingga makalah pendidikan akhlak ini dapat tersusun dengan baik.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan perlu diperbaiki dalam isi maupun cakupannya.Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari teman dan para pembaca sekalian. Saya ucapkan terima kasih atas dukungan dalam pembuatan makalah ini dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Januari 2012 Penulis

AINUN JARIAH

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... DAFTAR ISI....................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN................................................................................. 1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1.2 Rumusan Masalah............................................................................. 1.3 Tujuan Masalah.................................................................................

1.4 Manfaat.............................................................................................. BAB II PEMBAHASAN................................................................................... 2.1 Pengertian Pendidikan Akhlak......................................................... 2.2 Pembagian Akhlak............................................................................ 2.3 Metode Pendidikan Akhlak............................................................... 2.4 Dampak Positif dan Dampak Negatif Pendidikan Akhlak ............ 2.5 Tujuan Pendidikan Akhlak................................................................ BAB III PENUTUP.......................................................................................... 3.1 Kesimpulan........................................................................................ 3.2 Saran................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA