Anda di halaman 1dari 3

Budaya Premanisme Sepertinya budaya premanisme sudah mengakar sejak zaman dahulu hingga saat ini.

Sering kali kita jumpai di lingkungan masyarakat , mahasiswa maupun di lingkungan sekolah baik dari SMA, SMP bahkan SD budaya premanisme begitu marak dan berkembang pesat. Sebenarnya apa sih yang membuat budaya ini begitu popular? Bukankah premanisme merupakan budaya yang sepantasnya kita hindari, bahkan harus kita basmi? Sebelumnya, mari kita mengenal lebih jauh terlebih dahulu tentang apa itu budaya premanisme. Budaya premanisme merupakan suatu budaya yang umumnya dilakukan oleh satu individu atau lebih yang memiliki kekuatan dan keberanian lebih untuk merampas sebagian hak milik orang lain secara paksa demi mendapatkan apa yang mereka inginkan. Budaya ini identik dengan kekerasan dan kriminalitas karena memang hal itu tak bisa terlepas dari pribadi seorang preman. Di Indonesia, budaya ini terus berkembang pesat sejak adanya krisis moneter yang memang berpengaruh besar dalam perekonomian Indonesia. Menjelang lengsernya Presisden Soeharto, banyak terjadi aksi demo di seluruh penjuru negeri. Dari sinilah budaya premanisme muncul. Aksi pembakaran gedung-gedung khususnya di beberapa kota besar di Indonesia serempak dilakukan para demonstran untuk menuntut mundurnya Presiden Soeharto dari jabatannya. Para demonstran yang sedang emosi tanpa pikir panjang langsung mengacaukan dan merusak bangunan sekitar dimana mereka sedang beraksi. Mereka tidak sadar bahwa aksi mereka justru membuat suasana semakin runyam dan memanas. Dan lebihlebih membuat pemerintah harus menanggung kerugian yang begitu besar. Memang tak dapat dipungkiri, masalah ekonomi akan membawa kita kepada kriminalitas yang biasanya berujung pada aksi premanisme. Contoh di atas hanyalah sebuah gambaran kecil tentang premanisme di Indonesia, masih banyak kasus lain yang marak terjadi. Di lingkungan tempat tinggal misalnya, banyak para pemuda yang sering nongkrong dan keluar malam bersama

kelompok mereka hanya untuk hura-hura, misalnya dengan merokok dan membawa minuman keras atau bahkan sampai memakai narkoba. Kebiasaan seperti itulah yang akan menimbulkan sikap premanisme, selain mengganggu lingkungan sekitar, tak jarang mereka memalak pemuda lain yang lemah atau orang lain yang tak mereka kenal untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Di lingkungan sekolah pun, budaya premanisme seolah tak asing lagi bagi kita. Bahkan menurut saya, kegiatan MOS atau Masa Orientasi Siswa merupakan bentuk lain dari premanisme. Saya pribadi kurang setuju dengan adanya MOS pada setiap tahun ajaran baru di SMP maupun SMA. Walaupun banyak dari pengurus OSIS ataupun guru-guru SMP maupun SMA yang menyatakan bahwa kegiatan MOS diadakan untuk memperkenalkan suatu sistem yang berlaku di sekolah tersebut serta ruang lingkup yang terlibat di dalamnya (red:organisasi yang berada di sekolah tersebut), namun faktanya banyak sisi negatif yang ditemukan dalam kegiatan ini. Bahkan ada fakta terburuk yang begitu menyayat hati jika kita benar-benar mengamatinya. Coba kita tengok di berbagai media massa yang menyiarkan bahwa tidak sedikit para calon murid baru yang jatuh sakit bahkan sampai meninggal akibat diadakannya kegiatan MOS. Mereka dipaksa untuk melakukan kegiatan yang sebenarnya sudah tak sanggup mereka jalani, dimana tenaga mereka sudah terkuras habis akibat perlakuan para senior yang sudah sangat keterlaluan dalam membuat agenda kegiatan MOS. Mereka membentak-bentak junior seenak hati, menyuruh membawa barang ini dan itu yang kadang sulit dinalar oleh logika, menguras tenaga para junior dengan cara menyuruh mereka melakukan beban berat. Dimanakah hati nurani mereka saat itu? Alangkah baiknya jka kegiatan MOS diisi dengan kegiatan teoritis yang lebih praktis dan efisien serta tidak perlu menguras tenaga yang begitu besar. Pihak sekolah cukup mewajibkan para calon murid untuk mengikuti organisasi yang berada di sekolah tersebut. Lambat laun mereka akan lebih mengenal sekolah baru mereka dengan sendirinya, dengan kesadaran

masing-masing ketika mereka sudah beberapa minggu menjalani KBM dan kegiatan pendukung lainnya di sekolah tersebut. MAFTUHATUL BAROKAH Mahasiswa Program Pesantren Al-Esaf S1 Akuntansi STIE Swastamandiri Surakarta