Anda di halaman 1dari 17

Tinjauan Teori Remaja adalah laki-laki dan perempuan berusia 10-19 tahun, dimana usia 12 tahun merupakan batasusia

pubertas pada umumnya yaitu ketika secara biologis sudah mengalami kematangan seksual dan usia 20 tahun adalah usia ketika mereka padaumumnya secara sosial dan pisikologis mampu mandiri. Berdasarkan uraian diatas ada dua hal penting menyangkut batasan remaja yaitu mereka yang sedang mengalami perubahan dari masa kanak-kanak kemasa dewasa danperubahan tersebut menyangkut perubahan fisik dan pisikologis. Masa remaja dibedakan dalam masa remaja awal 1012 tahun, masa remaja tengah 1316 tahun dan masa remaja akhir 1719 tahun ( WHO, 1999 dalamNotoatmodjo, 2007). Garrison (2005) mengatakan bahwa kebutuhan remaja pada umumnya meliputi: hasrat untuk berprestasi, hasrat untuk mandiri, hasrat untuk diterima dikelompok sebayanya, hasrat untuk memahami dirinya sendiri sehingga selalumempertanyakan siapa saya , hasrat untuk memperoleh harga diri, danhasrat untuk memperoleh rasa aman dalam membaur kelompok sebayanyaserta hasrat pemuasan.

PERKEMBANGAN FISIK REMAJA NORMAL PEREMPUAN 1. Pertumbuhan pesat (1011 tahun) Konsultasikan kepada dokter bila pertumbuhan pesat sudah mulai sebelum usia 9 tahun atau belum mulai pada usia 13 tahun 2. Perkembangan payudara (1011 tahun) Perkembangan payudara biasanya merupakan tanda awal dari pubertas. Daerah putting susu dan sekitarnya mulai membesar. Konsultasikan kepada dokter bila LAKI Laki 1. Pertumbuhan pesat (1213 tahun) Konsultasi kepada dokter bila pertumbuhan pesat sudah mulai sebelum usia 11 tahun atau belum mulai pada usia 15 tahun. 2. Testis dan skrotum (1112 tahun) Kulit skrotum jadi gelap dan testis bertambah besar Testis seharusnya sudah turun sejak masa bayi. Konsultasikan kepada dokter bila testis belum mulai membesar pada usia 14 tahun.

tunas payudara belum terlihat pada usia 15 tahun 3. Rambut pubis (1011 tahun), rambut ketiak dan badan (1213 tahun)

3. Penis (1213 tahun) Penis mulai berkembang -4. Ejakulasi (1314 tahun)

Usia mulai tumbuhnya rambut badan bervariasi Keluarnya mukus cair dari penis mulai sekitar luas 4. Pengeluaran sekret vagina (1013 tahun) 1 tahun setelah penis memanjang. Pada awalnya ejakulasi tanpa disertai sperma. 5. Rambut pubis (1112 tahun) rambut ketiak dan Produksi keringat ketiak (1213 tahun). Dengan berkembangnya kelenjar apokrin menyebabkan badan (1315 tahun) kumis, cabang, jenggot (1315 tahun).

meningkatnya keringat di ketiak dan perubahan Perkembangan rambut pada badan sangat bau badan. -6. Menstruasi (11-14 tahun). Konsultasikan kepada dokter bila menstruasi sudah mulai sebelum usia 10 tahun atau belum mulai setelah usia 16 tahun. ---bervariasi, tergantung dari pola keluarga, pertumbuhan rambut mulai dari perut ke dada. 6. Perkembangan kelenjar keringat ketiak (13 15 tahun) Dengan berkembangnya kelenjar apokrin menyebabkan meningkatnya keringat di ketiak dan timbul bau badan dewasa. 7. Suara pecah dan membesar (1415 tahun) Kira-kira setahun sebelum suara pecah , jakun mulai tumbuh.

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA AWAL ( 10 14 TAHUN ) TAHAP PERKEMBANGAN 1. Cemas terhadap pemampilan Badan /fisik 2. Perubahan Hormonal 3. Menyatakan kebebasan dan merasa sebagai seorang individu, tidak hanya sebagai seorang anggota keluarga 4. Perilaku memberontak dan melawan, 5. Kawan menjadi lebih penting 6. Perasaan memiliki terhadap teman sebaya Anak Laki-laki : DAMPAK TERHADAP ANAK EFEK TERHADAP ORANG TUA

Kesadaran diri meningkat (self Orang-tua mungkin consciousness) Pemarah, anak laki0laki yang tadinya baik dapat menjadi lebih agresif, mungkin pula timbul jerawat baik pada anak laki-laki maupun Perempuan . Bereksprerimen dengan cara berpakaian, berbicara dan cara penampilan dirim sebagai suatu usaha untuk mendapatkan identitas baru Kasar Menuntut memperoleh kebebasan Ingin tampak sama dengan teman yaitu dalam cara berpakaian, gaya rambut, mendengarkan musik dan lain-lain Pengaruh teman dan orang tua teman menjadi sangat menganggap anak ter fokus pada dirinya . Orangtua mungkin menenmukan kesulitan dalam hubungan dengan remaja Orang tua merasa ditolak dan sulit menerima keinginan anak yang berbeda dari mereka Orang-tua perlu menangani anak secara hati-hati, bila ingin mempertahankan hubung baik. Orangtua merasa tidak mudah membuat keseimbangan antara permisif dan over protective Orang tua mungkin terganggu oleh tuntutan finansial dan gaya hidupanak Orangtua merasa kurang enak karena dikritik oleh

membentuk gang, kelompok, anak perempuan : mempunyai sahabat. 7. Sangat menuntut keadilan, tapi cenderung melihat sesuatu sebagai hitam putih serta dari sisi pandang mereka sendiri

besar. Remaja tidak mau berbeda dari teman sebaya Mungkin tampak tidak toleransi dan sulit berkompromi, Mungkin pula timbul iri hati terhadap saudara kandung dan seringkali ribut dengan mereka.

anaknya sendiri. Kadang-kadang terjadi bentrok dengan peraturan keluarga. Orang tua harus meninjau sikapnya untuk mengatasi perasaan tidak adil ini

PERKEMABANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA PERTENGAHAN ( 15 16 TAHUN ) TAHAP PERKEMBANGAN 1. Lebih mampu untuk berkompromi 2. Belajar berpikir secara independen dan membuat keputusan sendiri 3. Terus menerus bereksperimen untuk mendapatkan cira diri yang dirasakan DAMPAK TERHADAP ANAK Lebih tenang, sabar dan lebih toleransi. Dapat menerima pendapat orang lain, meskipun berbeda dengan pendapatnya sendiri Menolak campur tangan orang tua untuk mengendalikannya kurang dapat dipengaruhi dan teman tidak lagi EFEK TERHADAP ORANG - TUA Orang tua secara bertahap merasakan semakin mudah berhubungan dengan anaknya Orang-tua harus untuk memberikan kepercayaan kepada anak dan tidak terlalu mengendalikannya Oang-tua mungkin

nyaman bagi mareka 4. Merasa perlu mengumpulkan pengalaman baru, mengujinya walaupun berisiko 5. Tidak lagi terfokus pada diri sendiri 6. Membangun nilai/norma dan mengembangkan moralitas 7. Mulai membutuhkan lebih banyak teman dan rasa setia kawan 8. Mulai membina hubungan dengan lawan jenis 9. Intelektual lebih berkembang dan igni tahu tentang banyak hal. Mampu berpikir secara abstrak, mulai berurusan dengan hipotesa 10. Berkembangnya ketrampilan intelektual khusus misalnya, kemampuan matematika, bahasa dan ilmu pengetahuan lainnya 11. Mengembangkan minat yang besar dalam bidang seni dan olah raga seperti musik, seni lukis, tari,

berpengaruh besar Baju , gaya rambut,Sikap dan pendapat mereka sering berubah-ubah Mulai bereksperiman dengan rokok , alkohol dan kadang-kadang Napza. Lebih bersosialisasi dan tidak lagi pemalu Mempertanyakan ide dan nilai/ norma yang diterima dari keluarga Ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan teman dari pada dengan keluarga Mulai berpacaran ,tapi hubungan belum serius. Mulai mempertanyakan sesuatu yang sebelumnya tak berkesan . Ingin mengikuti diskusi atau debat -

menanggapi sikap remaja secara serius dan kuatir akan jadi menetap Cemas terhadap risiko ini sehingga orang-tuacenderung membatasi dan menetapkan aturan. Orang-tua melihat bahwa remaja siap untuk membina hubungan dekat. Dapat menjadi masalah bila remaja menolak sikap yang mempunyai nilai tinggi bagi orang-tua Orang-tua cemas akan pengaruh teman Orang-tua cemas dan mungkin pula terlalu ikut campur. Orang tua mempunyai kesempatan

basket dan lain-lain 12. Senang bertualangan,

untuk lebih mengetahui anaknya Orang tua perlu menunggu sampai tahap remaja pertengahan sebelum menyimpulkan tentang keampuan intelektual anak Orang tua perlu mengenali bahwa anaknya memiliki kemampuan yang mungkin lebih dari dugaannya Orang tua ingin melarang kegiatan Anak yang berbahaya ---

ingin berpegian secara mandiri Mungkin tidak mendapat mengikuti kegiatan seperti memanjat tebing, naik gunung dan lain-lain kesempatan untuk mengembangkan ketrampilan ini Mungkin mengabaikan pekerjaan sekolah karena adanya minat yang baru ini Remaja merasa dirinya mampu sehingga mereka tidak mengikuti upaya penyelamatan diri yang dianjurkan

PERKEMABANGAN PSIKOSOSIAL REMAJA PERTENGAHAN

( 17-19 TAHUN ) TAHAP PERKEMBANGAN 1. Ideal 2. Terlibat dalam kehidupan, DAMPAK TERHADAP ANAK Cenderung menggeluti masalah sosial/politik. Dapat pula menggeluti nilai-nilai keagamaan dan EFEK TERHADAP ORANG-TUA arena penolakan anak terhadap agama dan kepercayaannya sendiri Keinginan orang-tua untuk melindungi anaknya dapat menimbulkan bentrokan Orang-tua mungkin masih memberikan dukungan finansial terhadap remaja yang secara emosional tidak lagi tergantung kepada mereka, Hal ini dapat membuat hubungan menjadi tidak mudah Orang-tua cenderung cemas terhadap hubungan yang terlalu serius dan terlalu dini. Mereka takut sekolah atau Pekerjaan akan terabaikan Orang-tua mungkin berkecil hati

pekerjaan dan hubungan diluar bahkan keluarga 3. Harus belajar untuk mencapai kemandirian baik dalam bidang finansial maupun emosional 4. Lebih mampu membuat hubungan yang stabil dengan lawan jenis 5. Merasa sebagai orang dewasa yang setara dengan anggota keluarga lainnya 6. Hampir siap untuk menjadi orang dewasa yang mandiri pindah agama Mulai belajar mengatasi stres yang dihadapinya, mungkin lebih senang pergi dengan teman daripada berlibur dengan keluarganya Kecemasan dan ketidak pastian masa depan dapat merusak harga diri dan keyakinan diri Mempunyai pasangan yang lebih serius dan banyak menghabiskan waktunya dengan mereka

Cenderung merasa pengalamannya berbeda dengan orang-tuanya Mungkin ingin meninggalkan rumah dan hidup sendiri

menghadapi keadaan ini. Orang-tua perlu menyesuaikan bila akhirnya anak meninggalkan rumah.

Konsep remaja menurut Effendi dan Makhfudli (2009) adalah: 1. Remaja merupakan tahapan seseorang di mana ia berada di antara fase anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis, dan emosi. 2. Kesehatan reproduksi adalah keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial yang utuh dalam segala hal yang berkaitan dengan fungsi, peran, dan sistem reproduksi. 3. Pada masa remaja, terjadi perubahan fisik dan psikis yang terkadang memerlukan bantuan dari tenaga kesehatan. 4. Kehamilan yang tidak diinginkan adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab maka keberadaannya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. 5. Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual. Secara Umum Mekanisme Koping pada remaja 1. Penguasaan Kognitif. Usaha untuk belajar terhadap sistuasi atau stressor. Perbaiki informasi dengan sharing, diskusi. 2. Conformity (penyesuaian). pengakuan kelompok

3. Perilaku terkontrol. Remaja butuh perubahan dalam hidupnya. Tidak dapat menerima peraturan keluarga dan sekolah tanpa bertanya. 4. Fantasi. Membantu mengembangkan berfikir fantasi yang kreatif. 5. Aktivitas gerak

Kasus. Sebagian besar remaja yang ada di RW 20 adalah pelajar, namun banyak remaja yang putus sekolah dengan alasan tidak punya dana yang cukup, malas belajar, serta merasa tidak mampu menerima pelajaran di sekolah. Remaja ini sehari-hari menonton TV, bergadang sampai malam, memiliki kebiasaan merokok, banyak diantara mereka yang telah memiliki pacar atau teman dekat. Ada 5-6 orang remaja yang mengatakan pernah melakukan hubungan seksual dengan pacar mereka, dengan alasan ingin coba-coba, mendapatkan pengalaman baru, ataupun ingin menguji kadar cinta pasangannya. Mereka menyatakan melakukan hubungan seksual setelah mencoba-coba narkotika. Terdapat 2 remaja perempuan yang hamil, namun keduanya menggugurkan kandungan dengan alasan takut dikucilkan masyarakat, malu, dan tidak memiliki dana yang cukup untuk menghidupi bayi mereka nanti. Terdapat ada 1 remaja putri yang sedang hamil, badannya tampak sangat kurus, masih menggunakan baju ketat dengan alasan malas makan dan malu terlihat hamil. Remaja tersebut bercerita bahwa pada saat dinyatakan hamil dia langsung melakukan tindakan obortus dengan oknum petugas kesehatan, namun usaha tersebut gagal dan remaja ini akhirnya dinikahi pacarnya. Masalah yang muncul pada kasus: a. Resiko penularan penyakit seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan b. Resiko tingginya angka kematian bayi b.d perilaku abortus pada remaja c. Koping individu tidak efektif b.d penyalahgunaan narkotika d. Resiko meningkatnya tindakan kekerasan dan criminal

Dx 1&2 1. Resiko penularan penyakit seksual berhubungan dengan deficit pengetahuan 2. Resiko tingginya angka kematian bayi b.d perilaku abortus pada remaja Intervensi Pendidikan kesehatan reproduksi remaja di setiap jenjang pendidikan dengan metode peer education yang bersifat youth friendly artinya tidak hanya memberi materi melalui proses belajar mengajar di kelas, tetapi dikembangkan dengan metode lain seperti pemasangan mading, poster tentang kesehatan reproduksi. Pembentukan ekstrakurikuler dengan memasukkan materi-materi kesehatan reproduksi di dalamnya seperti acara seni teater dan lain-lain. Memuat materi dasar kesehatan reproduksi yang proporsional seperti fungsi organ sistem reproduksi manusia yang mencakup pemahaman remaja tentang perubahan fisik anak laki-laki dan perempuan saat menjadi remaja. Selain itu materi mengenal masa subur, terjadinya proses kehamilan, materi kontrasepsi KB, pencegahan penyakit menular seksual, perilaku seksual sehat dan bertanggung jawab, serta akibat dari kehamilan tak terkehendaki (Prihatin, 2007) Taufik dan anganthi (2005) menambahkan bebeerapa hal yang dapat dilakukan untuk menanggapi sikap dan perilaku reproduksi remaja antara lain yaitu: 1) perlunya informasi mengenai kesehatan reproduksi remaja buat orang tua agar orang tua bisa mengikuti perkembangan seksualitas anaknya. Pentingnya meningkatkan peran orang tua dan guru sebagai sumber informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja dengan cara membekali dengan pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi. 2) peningkatan peranan orang tua dan guru dapat dilakukan dengan membuat pertemuan rutin (semacam parenting class) bagi remaja, 3) menjalin kerja sama dengan stasiun radio atau televisi untuk membuat paket acara yang berisi informasi tentang kesehatan reproduksi remaja.

Hal ini mengingat radio dan televisi adalah media yang paling diminati oleh remaja sementara informasi tentnag kesehatan reproduksi di televisi dan radio sangat minim. Acara-acara yang patut dipertimbangkan adalah acara seperti talk show dan curhat remaja yang bersifat interaktif. 4) lebih mengoptimalkan peran masjid atau musholla serta tempat-tempat ibadah agama lain di sekolah sebagai pusat kegiatan siswa, agar siswa lebih dekat dengan kegiatan ibadah dan aktifitas-aktifitas lainnya yang lebih terkontrol.

Promosi Kesehatan Kehamilan pada Remaja 1. Memperkenalkan pada keluarga tentang fase perkembangan remaja dan tugas perkembangan anak remaja. 2. Memperkenalkan pada keluarga tentang tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja. 3. Menjelaskan tentang fungsi seksual, perubahan fisik yang dapat mempengaruhi psikologis dan sosial remaja. 4. Memotivasi keluarga untuk memperkenalkan kesehatan reproduksi remaja sesuai dengan norma dan budaya dan tingkat pengetahuan yang dimiliki keluarga. 5. Memperkenalkan sejak usia sekolah tentang kehamilan sebagai perubahan dalam kehidupan agar dapat bertanggung jawab. 6. Membiasakan komunikasi terbuka. 7. Memberi kesempatan pada remaja mendapat pengalaman sosial, emosional dan situasi etis untuk meningkatkan proses belajar dan otonomi dan tanggung jawab. 8. Memperkenalkan tempat layanan kesehatan yang dibutuhkan. 9. Menjelaskan Risiko Aborsi Aborsi memiliki risiko penderitaan yang berkepanjanganterhadap kesehatan maupun keselamatan hidup seorangwanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa seseorang yangmelakukan aborsi ia tidak merasakan apa-apa danlangsung boleh pulang .Dalam buku Facts of Life yang ditulis oleh Brian Clowes, risiko kesehatan dan keselamatan fisik yang akan dihadapi seorang wanita pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi adalah : a. Kematian mendadak karena pendarahan hebat. b. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal.

c. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan. d. Rahim yang sobek (Uterine Perforation). e. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akanmenyebabkan cacat pada anak berikutnya. f. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormonestrogen pada wanita), g. Kanker indung telur (Ovarian Cancer). h. Kanker leher rahim (Cervical Cancer). i. Kanker hati (Liver Cancer). j. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akanmenyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahanhebat pada saat kehamilan berikutnya. k. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi( Ectopic Pregnancy). l. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease). m. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis). Evaluasi

Dx 3 & 4 3. Koping individu tidak efektif b.d penyalahgunaan narkotika 4. Resiko meningkatnya tindakan kekerasan dan criminal Intervensi Promosi Kesehatan Ketergantungan Obat 1. Membantu remaja dan keluarga mengenali tahap perkembangan dan tugas yang akan dilaluinya. 2. Membangun hubungan saling percaya dengan remaja dan keluarga. 3. Meningkatkan interaksi sosial dan keterlibatan remaja dalam kelompok. 4. Membantu mengenali cara beradaptasi terhadap stresor secara efektif. 5. Pendidikan kesehatan tentang obat dan penggunaannya. 6. Membantu remaja dan keluarga mengenal masalah-masalah ketergantungan zat dan dampaknya. 7. Membantu memilih alternatif rekreasi yang sehat. 8. Pendidikan kesehatan mengatasi manajemen stress.

Promosi Kesehatan Perilaku Kekerasan 1. Membantu remaja dan keluarga mengenali tahap perkembangan dan tugas yang akan dilaluinya. 2. Mengajarkan stimulus kontrol dan manajemen marah yang sederhana pada remaja dan keluarga. 3. Menjelaskan pada keluarga tanda dan gejala remaja yang mengalami perilaku kekerasan. 4. Membantu remaja untuk memunculkan potensi yang dimiliki. 5. Membantu cara beradaptasi terhadap stresor secara efektif. 6. Membantu cara menyalurkan hobi yang berkaitan dengan penyaluran energi.

Respon Koping dan Reaksi yang mungkin Timbul pada Kaus Risti Remaja Ketergantungan Obat 1. Merasa lebih baik, terlihat lebih sosial, lebih berenergi. 2. Bila respon dari disfungsi keluarga ? tidak peduli 3. Depresi 4. Merasa sudah tidak berdaya ? bertambah menggunakan obat-obatan 5. Mencari teman kelompok yang mempunyai masalah yang sama (positip atau negatip) 6. Masalah baru: BBLR, kelainan kongenital, kecelakaan, bunuh diri, penyakit kronis, dll. 7. Keluhan masalah kesehatan lain: sulit tidur, lemah, kaku otot, perubahan mood ? menggunakan kembali obat 8. Gejala adiksi : berbohong, menyalahkan, merubah subjek pembicaraan, marah, dll.

Perencanaan dan Implementasi Intervensi keperawatan difokuskan kepada pencegahan primer, sekunder dan tertier. Jika stresor memasuki garis pertahanan fkeksibel, maka perawat melakukan prevensi primer, jika stresor masuk ke garis pertahanan normal, maka intervensi keperawatan terfokus kepada pencegahan sekunder dan jika stressor sudah memasuki garis pertahanan resisten maka perawat melakukan prevensi tertier. Tujuan prevensi primer mengurangi insiden penyalahgunaan NAPZA dalam populasi dengan mengurangi faktor risiko serta memperkuat komunitas (Remaja) menghadapi risiko tersebut. Peran perawat sebagai pendidik lebih menonjol dalam prevensi primer ini. Upaya prevensi sekunder melalui deteksi dini penyalahgunaan NAPZA pada remaja. Peran perawat yang menonjol adalah

penemu kasus dan pemberi pelayanan. Perawat aktif menemukan kasus penyalahgunaan NAPZA dan melakukan upaya pelayanan dalam mengurangi perilaku tersebut. Upaya prevensi tertier, diarahkan untuk mengurangi dampak atau akibat ketergantungan pada NAPZA. Upaya rehabilitasi lebih menjadi fokus pencegahan tertier. Peran perawat utama pada fase ini adalah sebagai advocator agar klien mendapat perlindungan dan mendapat pelayanan yang sesuai serta memadai , pemberi pelayanan (Provider) untuk memaksimalkan fungsi yang masih mampu dilakukan klien. Diharapkan remaja dapat beradaptasi kembali dengan lingkungan dan perawat beserta sosial support lainnya (orang tua, teman, tokoh masyarakat dan guru) tetap memantau perilaku remaja agar tidak kembali mencoba menggunakan NAPZA (McMurray, 2003 ; Anderson & McFarlane, 2000). Masyarakat dituntut menciptakan lingkungan yang mendukung untuk kesehatan remaja. Jika ditemui adanya kondisi yang sangat mendukung terjadinya penyalahgunaan NAPZA seperti bebasnya pusat hiburan mengedarkan NAPZA maka perlu kebijakan oleh pemerintah setempat. Pendekatan promotif dan preventif ini perlu dengan menggunakan pendekatan sistem, karena jika berjalan sendiri-sendiri hasilnya tidak akan memuaskan (McMurray , 2003). Implementasi dilakukan bersama masyarakat , dengan mengacu kepada perencanaan yang telah disusun bersama masyarakat. Perlu upaya peningkatan harga diri remaja, komunikasi yang efektif dalam keluarga, latihan mengatakan tidak pada NAPZA. Serta berbagai implementasi lainnya.

Pencegahan Penanggulangan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) Tujuan : Membentuk masyarakat/organisasi yg kompeten dalam berpartisipasi mengenali keberadaan dan dampak napza Komponen : Tokoh masyarakat, pemuda (kartar), PKK, Tenaga kesehatan (perawat komunitas), LSMLSM dan BNP. Kegiatan :

1. Demand Reduction (Preventif, Kuratif, Rehabilitatif) 2. Supply Control (Pengawasan, Pemberantasan, Harm Reduction)

Kegiatan P4GN 1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang napza dan bahayanya. 2. Meningkatkan komitmen dan kerja sama lintas sektor.

3. Meningkatkan keamanan lingkungan, pengawasan untuk tidak memberi ruang gerak bagi para pengedar napza. 4. Membangun sistem pelaporan, informasi, tentang masalah napza di lingkungan masingmasing dengan tenaga kesehatan dan aparat penegak hukum. 5. Meningkatkan kegiatan agama dan kegiatan yang positif di lingkungan masing-masing.

Evaluasi Evaluasi pada keperawatan komunitas dilakukan secara terus-menerus. Perubahan perilaku komunitas tidak dapat dilihat dalam jangka waktu singkat, akan tetapi tahapan perubahan perilaku dapat dilihat dari perubahan pengetahuan, psikomotor dan sikap. Minimal dibutuhkan waktu 12 minggu untuk merubah perilaku masyarakat. Perubahan yang lebih besar membutuhkan waktu 6 bulan, satu tahun bahkan lebih. Evaluasi dilakukan bersama-sama masyarakat. Apakah terjadi penurunan pengguna NAPZA ?, apakah kekerasan masih sering terjadi dan bagaimana insiden AIDS / HIV dalam komunitas remaja.

http://www.akper-insada.ac.id/keperawatan-jiwa/askep-jiwa-tentang-remaja-2 http://dinkessulsel.go.id/new/images/pdf/pedoman/pedoman%20kes%20jiwa%20remaja.pdf Effendi, Ferri & Makhfudli. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Anderson,E and McFarlane, J. (2000). Community AS Partner (Theory and Practice in Nursing) : Lippincott. Taufik, NRN Anganthi. 2005. Seksualitas remaja: Perbedaan seksualitas antara remaja yang tidak melakukan hubungan seksual dan remaja yang melakukan hubungan seksual. Jurnal Penelitian Humaniora 6(2):115-129 Prihatin TW. 2007. Analisis faktor-faktor yang berhubungan dengan sikap siswa SMA terhadap hubungan seksual (intercourse) pranikah di kota Sukaharjo tahun 2007. [tesis]. Semarang: Program Pascasarjana, Universitas Dipenogoro.