Anda di halaman 1dari 16

Anatomi

Setiap payudara terdiri dari 15 sampai 20 lobus dari jaringan kelenjar. Jumlah lobus tidak berhubungan dengan ukuran payudara. Setiap lobus terbuat dari ribuan kelenjar kecil yang disebut alveoli atau acini. kelenjar ini bersama-sama membentuk sejumlah gumpalan, mirip buah anggur yang merambat. Alveoli (alveolus dan acinus singular) menghasilkan susu dan substansi lainnya selama masa menyusui. Setiap bola memberikan makanan ke dalam pembuluh tunggal lactiferous yang mengalirkannya keluar melalui puting susu. Sebagai hasilnya, terdapat 15-20 saluran puting susu, mengakibatkan banyak lubang pada puting susu. Di belakang puting susu pembuluh lactiferous agak membesar sampai membentuk penyimpanan kecil yang disebut lubang-lubang lactiferous (lactiferous sinuses). Setiap lubang berdiameter 2-4 mm (0,08-0,16 inci). Lemak dan jaringan penghubung mengelilingi bola-bola jaringan kelenjar. Sejumlah jaringan lemak bergantung pada banyaknya faktor termasuk usia, persentase lemak tubuh, dan keturunan. Sendi tulang Cooper menghubungkan dinding dada pada kulit payudara, memberikan bentuk pada payudara dan keelastisannya.

http://www.acehforum.or.id/showthread.php?t=25600&pagenumber=

Payudara wanita mulai tumbuh dan berkembang pada saat wanita memasuki usia sekitar 10-11 tahun. Ovarium (indung telur) akan memproduksi hormon estrogen yang mengakibatkan penimbunan lemak pada daerah depan dada sehingga payudara mengembang. Pertumbuhan, perkembangan dan bentuk payudara setiap wanita berbeda, terutama pada saat hamil, menyusui, datang bulan, menjalani operasi dan terapi menggunakan obat-obatan.

Secara sistematis payudara wanita terdiri dari 15 sampai 20 lobula pada masing-masing sisi. Masing-masing lobula terdiri dari ribuan kelenjar kecil yang disebut alveoli atau acini. Kelenjar ini bersama-sama membentuk gumpalan-gumpalan yang mirip pokok anggur. Di dalam Alveoli (alveolus dan acinus singular) inilah air susu diproduksi. Sehingga pada wanita menyusui akan tampak payudara lebih besar, karena Alveoli-nya berisi air susu. Jaringan penyusun payudara yang lain adalah jaringan lemak. Jumlah lemak tergantung pada beberapa faktor seperti usia, keturunan, prosentase lemak tubuh dan sebagainya. Pada wanita usia lanjut, jaringan penyusun payudara yang paling banyak dijumpai adalah lemak. Kondisi payudara bentuk, ukuran, volume payudara sepanjang masa selalu mengalami perubahan. Ada beberapa hal yang menyebabkan kondisi payudara mengalami perubahan. * * Kenaikan Penurunan berat berat badan antara badan antara lain lain karena karena diet, kehamilan melahirkan

* * Memakai * Tidak memakai bra

bra

yang

salah

Usia ukuran

Home > Askeb III (Nifas) > Anatomi dan Fisiologi Payudara

Anatomi dan Fisiologi Payudara


Sep 23, 2009 2 Comments by lusa Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, di atas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram. Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu : 1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar. 2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah. 3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.

Gambar 1. Anatomi payudara Korpus Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah. Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus. Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). Areola Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar. Papilla Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).

Gambar 2. Bentuk puting susu normal

Gambar 3. Bentuk puting susu pendek

Gambar 4. Bentuk puting susu panjang

Gambar 5. Bentuk puting susu terbenam/ terbalik

Referensi Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 6-9) Arianto, 2004. Anatomi Payudara dan Fisiologi Laktasi. Ahad, 6 September 2009; pukul 10:55 WIB http://sobatbaru.blogspot.com/2009/02/anatomi-payudara-dan-fisiologi-laktasi.html Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (hlm:1-5) Pusdiknakes, 2003. Buku 4: Asuhan Kebidanan Post Partum. (hlm: 14-17) Roesli, U. 2005. Panduan P
http://www.lusa.web.id/anatomi-dan-fisiologi-payudara/ jam 17.34 rabu

Bendungan ASI 1.Pengertian Bendungan air susu ibu adalah keadaan payudara yang odema, sakit, puting susu kencang, kulit mengkilat walaupun tidak merah dan bila diperiksa asi tidak keluar, badan bisa demam dalam 24 jam (Retna, 2008). Bendungan air susu ibu adalah kejadian dimana terjadinya sumbatan duktus yang diperkirakan akibat hambatan aliran air susu karena tekanan internal dan eksternal, misalnya: pembesaran, BH, dan baju yang ketat (Varney, 2007). Bendungan ASI terjadi pada saat 3-5 hari masa nifas dikarenakan payudara kotor, ASI tidak disusukan dengan adekuat dan kelainan puting susu (Fika, 2010). 2.Gambaran klinis Selama 24 jam hingga 48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi lakteral, payudara sering mengalami distensi menjadi keras dan berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut bendungan air susu atau caked breast, sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan bisa disertai dengan kenaikan suhu. Kelainan tersebut menggambarkan aliran darah vena normal yang berlebihan dan penggembungan limfatik dalam payudara, yang merupakan prekusor regular untuk terjadinya laktasi (Suherni, dkk, 2008). 3.Penyebab Bendungan Air Susu Penyebab bendungan air susu ibu menurut Retna (2008), ialah: a.Posisi mulut bayi dan puting susu ibu salah. b.Produksi ASI berlebihan. c.Terlambatnya dalam menyusui. d.Pengeluaran ASI yang jarang. e.Waktu menyusui yang terbatas Sedangkan menurut varney (2007), penyebab bendungan air susu ibu adalah: a.Terjadi pembesaran pada payudara. b.Pemakaian BH dan baju yang ketat. 4.Tanda dan gejala a.Menurut Wiknjosastro (2005), ibu dengan bendungan ASI mempunyai tanda dan gejala sebagai berikut: 1)Mammae panas serta keras pada perabaan. 2)Payudara terasa nyeri. 3)Suhu badan tidak naik. b.Menurut Rulina, dkk (2004) ibu dengan bendungan ASI mempunyai tanda dan gejala sebagai berikut: 1)Terjadi oedema pada payudara dan puting susu kencang dan timbul rasa nyeri dan sakit. 2)Bila diperas atau dihisap tidak keluar. 3)Dapat terjadi demam setelah 24 jam. 5.Penanganan bendungan ASI a.Menurut Suherni, dkk (2008) pada bayi hidup: 1)Keluarkan ASI secara manual/ASI tetap diberikan pada bayi. 2)Menyangga payudara dengan BH yang menyokong.

3)Kompres dengan kantong es (kalau perlu). 4)Melakukan perawatan Payudara 5)Pemberian analgetik atau kodein 60 mg per oral. b.Cara untuk penatalaksanaan pada bendungan ASI karena bayi meninggal: 1)Pengosongan isi payudara dengan tangan (memerah). 2)Pengosongan dengan pompa payudara. 3)Pembalutan mamae dengan kapas atau handuk kering 4)Berikan obat estrogen untuk supresi seperti tablet lynoral dan parlodel. 5)Pakai BH yang menyokong c.Penanganan bendungan air susu ibu dengan bayi hidup menurut Moody (2005), yaitu: 1)Mulai menyusui bayi dari sisi yang tersumbat terlebih dahulu. 2)Menyusui bayi dengan dagunya berada di dekat benjolan, sehingga rahang bawahnya bisa memijat benjolan dengan lebih efektif. 3)Menggunakan gaya tarik bumi untuk membantu aliran susu dengan baringkan bayi terlentang dan biarkan payudara yang mengalami sumbatan menggantung diatasnya. 4)Memijat payudara dengan lembut. 5)Kehangatan bisa membantu aliran susu. 6)Menggunakan sisir bergigi lebar yang dilumas dengan sabun atau minyak bayi dan tekanan yang tegas tapi lembut, usaplah payudara di atas benjolan ke arah puting. 7)Keluarkan sedikit air susu setelah menyusui, jika masih terasa adanya benjolan pada payudara.

PENGERTIAN PENGETAHUAN

Menurut Notoadmodjo (1993) menyatakan keinginan manusia adalah manusia yang ingin mengetahui segala sesuatu hal melalui pengamatan dan pengindraan terhadap suatu objek dan akhirnya lahirnya suatu pengetahuan. Jadi dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan hasi dari atau yang diperoleh dengan indra penglihatan, penciuman, rasa dan raba. Sedangkan menurut Ngatimin (1990) pengetahuan adalah sebagai ingatan atas bahan-bahan yang telah dipelajari dan mungkin ini menyangkunt tentang mengikat kembali sekumpulan bahan yang luas dari hal-hal yang terperinci oleh teori, tetapi apa yang diberikan menggunakan ingatan akan keterangan yang sesuai. Selain itu menurut peninjauan Pudjawidjana (1983) pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui objek dengan indra dan pengetahuan merupakan hasi yang terjadi setelah orang melakukan pengindraan sebuah objek tertentu. Partanto Pius dalam kmus bahasa indonesia (2001) pengetahuan dikaitkan dengan segala sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses belajar. Sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2261230pengertian-pengetahuan-dan-sikap-menurut/#ixzz1mRiolBpm
]

PENGERTIAN PENGETAHUAN engetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap obyek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia, yakni: penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2007). Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu obyek tertentu termasuk ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui oleh manusia (Suriasumantri, 1998). Pengetahuan dikumpulkan dengan tujuan untuk menjawab semua permasalahan kehidupan sehari-hari yang dialami oleh manusia dan untuk digunakan dalam menawarkan berbagai kemudahan padanya. Pengetahuan itu sendiri banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: adalah pendidikan formal. Jadi pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, di mana diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah, mutlak berpengetahuan rendah pula. Hal ini mengingat bahwa, peningkatan pengetahuan tidak mutlak di peroleh dari pendidikan non formal. Pengetahuan seseorang tentang suatu obyek mengandung dua aspek yaitu positif dan negatif. Kedua aspek ilmiah yang pada akhirnya akan menentukan sikap seseorang tentang suatu obyek tertentu. Semakin banyak aspek positif dan obyek yang diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap obyek tertentu. Tingkat Pengetahuan Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitive mempunyai 6 tingkatan. a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (Recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap obyek yang dipelajari. c. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada suatu

situasi atau kondisi sebenarnya (real). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya penggunaan rumus static dalam perhitungan hasil penelitian. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu metode kedalam komponenkomponen, tetapi masih didalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. e. Sintesis (syntesis) Sintesis menunjukkan kepada sesuatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagianbagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, merencanakan, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justification atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian tersebut didasarkan pada suatu kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya: dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikut ber-KB, tidak mau memeriksakan kehamilan dan sebagainya. Menurut Notoatmodjo (2007) bahwa indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi : a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit. b. pengetahuan tentang cara pemeliharaan tentang kesehatan dan cara hidup sehat. c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan. Menurut Notoatmodjo (2007), bahwa keilmuan tentang pengetahuan dibagi menjadi 2 yaitu : a. Pengetahuan secara formal Pengetahuan yang didasarkan pada jenjang pendidikan rendah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan didapat dari ilmu pengetahuan melalui tingkat pembelajaran tersebut terdiri dari TK, SD, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi. b. Pengetahuan secara informal Pengetahuan informal adalah pengetahuan yang didapat dari luar lingkup pendidikan. Pengetahuan informal didapat melalui media elektronik (TV, radio atau alat elektronik lainnya) dan media masa (koran, majalah atau buku-buku pelajaran) maupun dari orang lain yang memberikan informasi tentang pengetahuan. Menurut Notoatmodjo (2003) faktor-faktor yang mempengaruhan pengetahuan : 1. Tingkat Pendidikan Adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan prilaku positif yang

meningkat. 2. Informasi Seseorang mendapatkan informasi yang lebih banyak akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal. 3. Pengalaman Sesuatu yang pernah dilakukan seseorang dapat menambah pengetahuan tentang sesuatu yang bersifat non formal. 4. Budaya Tingkah laku manusia atau kelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan yang meliputi sikap dan kepercayaan 5. Sosial Ekonomi Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan Pada kenyataannya tidak semua ibu hamil yang mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin, hal ini dapat disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya tablet zat besi untuk kehamilannya. Dampak yang diakibatkan minum tablet zat besi dan penyerapan/respon tubuh terhadap tablet zat besi kurang baik sehingga tidak terjadi peningkatan hemoglobin sesuai dengan yang diharapkan. Faktor lain yang berhubungan dengan anemia adalah adanya penyakit infeksi bakteri, parasit usus seperti cacing tambang, malaria. Faktor sosial ekonomi yang rendah juga memegang peran penting kaitannya dengan asupan gizi ibu selama hamil (Herlina, 2007). .scribd.com/doc/52175609/12/Pengertian-Pengetahuan