Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PKn

Kelompok 7 : I Putu Pande Asliawan Januarsa I Gede Hendra Setiawan I Gusti Ayu Maha Patni I Made Juwita Hariwamsa Wella Stefani Renno Rifaldo P ( 01 ) ( 03 ) ( 07 ) ( 20 ) ( 28 ) ( 30 )

SMP NEGERI 1 KUTA UTARA JALAN KESAMBI NO. 04 KEROBOKAN, KUTA UTARA, BADUNG TELP. (0361) 7442275-8448398 i

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

DAFTAR ISI

ii

Pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif pada orde lama

Pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif pada orde baru

ii

Pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif pada orde lama


Pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno ini Indonesia terkenal mendapat sorotan tajam oleh dunia internasional. Bukan hanya keaktifannya dan juga peranannya di kancah internasional tetapi ide-ide serta kebijakan luar negerinya yang menjadi panutan beberapa negara pada saat itu. Masa orde lama merupakan titik awal bagi Indonesia dalam menyusun strategi dan kebijakan luar negerinya. Dasar politik luar negeri Indonesia digagas oleh Hatta dan beliau juga yang mengemukakan tentang gagasan pokok non-Blok. Gerakan non-Blok merupakan ide untuk tidak memihak antara blok Barat yang diwakili oleh Amerika Serikat dan blok Timur yang diwakili oleh USSR. Perang ideologi anatara kedua negara tersebut merebah ke negara-negara lain termasuk ke negara di kawasan Asia Tenggara. Indonesia merupakan negara pencetus non-Blok dan menjadi negara yang paling aktif dalam menyuarakan anti memihak antara kedua blok tersebut. Indonesia juga menegaskan bahwa politik luar negerinya independen (bebas) dan aktif yang hingga kini kita kenal dengan politik luar negeri bebas aktif. Indonesia merupakan salah satu negara yang berani keluar dari PBB dalam menyatakan keseriusan sikapnya. Namun nyatanya pada masa orde lama Indonesia tidak menerapkan sepenuhnya politik bebas aktif yang dicetuskannya. Secara jelas terlihat Indonesia pada saat itu cenderung berporos ke Timur dan dekat dengan negara-negara komunis seperti Cina dan USSR dibandingkan dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat. Presiden Soekarno juga menetapkan politik luar marcusuar dimaana dibuat poros Jakarta-Peking-Phyongyang. Hal ini menyulut kontrofersi dimata dunia internasional, karena Indonesia yang awalnya menyatakan sikap sebagai negara non-Blok menjadi berpindah haluan. Hal ini membuat tidak berjalan dengan efektifnya politik luar negeri bebas aktif saat itu. Penerapan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif dilatarbelakangi oleh terjadinya Perang Dunia II yang menciptakan situasi persaingan yang tajam antara Blok Barat yang dihegemoni oleh Amerika Serikat dan Blok Timur oleh Uni Soviet. Indonesia sebagai sebuah negara baru yang sedang mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya tidak terlepas dari sasaran kedua blok tersebut untuk menyebarkan pengaruhnya. Menurut A.H. Nasution, pada saat itu posisi Indonesia seakan terjepit. Di satu pihak Indonesia merupakan negara baru yang sedang menghadapi persoalan untuk mempertahankan kemerdekaan. Namun di pihak lain masalah domestic sedang mengalami tekanan-tekanan yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia pimpinan Amir Syarifuddin yang menentang kebijaksanaan pemerintah Indonesia. Menurut pandangan PKI pertentangan yang ada antara dua blok jadi rvolusi bagi Indonesia adalah bagian dari revolusi dunia, maka Indonesia haruslah berada di pihak Uni Soviet barulah benar.

Meskipun dalam situasi terjepit, saat itu pemimpin bangsa Indonesia berani menunjukkan sikap dan orientasi politik luar negerinya yang independen. Indonesia berpendapat bahwa timbulnya blok-blok raksasa di dunia ini dengan persekutuan-persekutuan militernya tidak akan menciptakan perdamaian , malah sebaliknya akan menjadi ancaman terhadap perdamaian dunia. Sikap tersebut dibuktikan oleh Mohammad Hatta dalam pidatonya berjudul Mendayung Dua Karang yang merupakan penjelasan pertama kali tentang politik bebas aktif. Hatta tidaklah secara definitive menyebutkan istilah bebas aktif. Dalam pertentangan dua blok ini Indonesia tidak berada dalam kedua blok dan mempunyai jalannya sendiri untuk mengatasi persoalan domestic maupun internasional. Namun demikian Hatta menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia bukanlah politik netral, disini maksudnya karena tidak dihadapkan pada suatu pilihan dalam hubungan negaranegara yang sedang berperang. Sikap Indonesia tersebut lebih didasarkan atas pertimbangan untuk memperjuangkan perdamaian. Politik luar negeri Indonesia selain tidak memihak pada blok Amerika Serikat dan blok Uni Soviet , juga tidaklah bertujuan untuk berpartisipasi di blok ketiga yang dimaksudkan sebagai bentuk perlawanan atas kedua blok besar tersebut. Hal ini juga berarti bahwa Indonesia tidak memiliki keinginan untuk membentuk blok ketiga dengan membangun kemitraan bersama negara-negara Asia dan Afrika. Prinsip bebas aktif yang dianut Indonesia mengindikasikan keengganan Indonesia untuk mengikatkan diri pada salah satu blok. Aspek ini secara universal kemudian dikenal dengan non-allignment policy. Prinsip non-blok ini kemudian menjiwai politik luar negeri beberapa negara Asia dan Afrika. Kesadaran itulah yang mendorong terselenggaranya Konfrensi Asia Afrika(KAA) pada tahun 1955 di Bandung. Pada era orde lama ini pemerintah berpendapat bahwa pendirian yang harus diambil adalah agar Indonesia jangan sampai menjadi objek dalm pertarunga politik internasional melainkan harus tetap menjadi subjek yang berhak menentukan sikap sendiri, berhak memprjuangkan tujuan yang sebenarnya yaitu Indonesia Merdeka seutuhnya. Dalam pidato Hatta Mendayung Antara Dua Karang telah termuat dasar fundamental dari politik bebas aktif . mendayung artinya sama dengan upaya (aktif) dan antara dua karang berarti tidak terikat oleh dua kekuatan adikuasa yang ada (bebas). Menurut Hatta Republik Indonesia yang telah mengalami periode panjang kolonialisme setelah menjadi negara merdeka sangat menginginkan terwujudnya dalam realitas slogan liberty, humanity, social justice, the brotherhood of nations dan lasting peace. Alasan ketidakberpihakan Indonesia dalam konflik kedua blok ini karena Hatta tidak mempercayai bahwa aliansi Indonesia dengan salah satu kekuatan negara adidaya tersebut yang bersaing ketat dalam bipolarisme ekonomi dan ideologi dunia pasca- perang dunia akan mampu mewujudkan keinginan Indonesia tersebut. Hal ini akan dapat tercapai apabila Indonesia mengedepankan kebijakan yang didasarkan pada perdamaian dan persahabatan dengan semua bangsa atas dasar saling menghargai dan non-interference.

Atas dasar prinsip-prinsip tersebut Indonesia dapat melindungi diri dari ancaman eksternal, sehingga stabilitas politik dan pembangunan untuk menyejahterakan rakyat dapat tercipta. Karena pertimbangan inilah Indonesia tidak melakukan aliansi dengan salah satu blok apa itu Amerika Srikat atau Uni Soviet. Kebijakan luar negeri yang membiarkan aliansinya dengan salah satu blok hanya akan menyebabkan upaya untuk mwujudkan konsolidasi internal yang sangat penting untuk mencapai tujuan nasional di atas mengalami kesulitan yang berkepanjangan. Tidaklah mengherankan apabila penekanan pada prinsip bebas aktif menjadi acuan dasar politik luar negeri Indonesia, tidak saja pada masa pasca-kemerdekaan namun juga masih berlaku sampai saat ini karena erat terkait dalam landasan konstitusional Undang-Undang Dasar 1945. Selain itu Indonesia juga mengimplementasikan politik bebas aktif ini dalam negara lainnya di kawasan. Filipina dan Thailand misalnya, terlibat dalam aliansi militer dengan salah satu kekuatan asing melalui The Southeast Asia Treaty Organization (SEATO). Pengikatan diri secara ideal kebijakan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif juga dapat dilihat dari posisi Indonesia atas konflik dua China. Indonesia mengakui Beijing dibanding Taipei yang didukung oleh Amerika Serikat. Melihat kenyataan ini, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa agenda politik luar negeri Indonesia pada saat itu lebih banyak ditentukan oleh kepentingan politik domestic, dari pada mengikuti tekanan lingkungan internasional yang pada saat itu didominasi oleh dua kekuatan besar yang berseberangan secara ideologi yaiu Amerika Serikat dan Uni Soviet. Tahun 1966-1971 merupakan masa pemurnian politik luar negeri bebas aktif yang dilakukan oleh Soeharto. Prinsip tersbut dianggap telah mengalami penyimpangan dalam pelaksanaan pada masa Soekarno, dimana politik luar negeri terlalu aktif dan dilakukan dengan mengorbankan sifat independennya. Berdasarkan hal tersebut Soeharto tidak melakukan perubahan total kebijakan politik luar negeri yang digariskan oleh pendahulunya. Meskipun demikian, Soeharto secara tegas menyatakan akan melakukan pemurnian pelaksanaan politik yang bebas aktif. Soeharto menyadari bahwa untuk mengangkat Indonesia dari krisis ekonomi akan menjadi prioritas utamanya. Namun hal itu haruslah dibarengi dengan membangun sistem politik internal yang stabil serta lingkungan eksternal yang damai. Jika pada masa orde lama lebih menekankan pada kestabilan dan tujuan politik dalam urusan domestiknya, di era orde baru ini Soeharto mencoba memperbaiki kestabilan ekonomi dengan memahami kedua prinsip independen dan aktif. Indonesia berhak menentukan sendiri kebijakannya dalam mencapai tujuan domestiknya, dalam hal ini Soeharto menekankan pada sistem perkonomian, karena menurut Soeharto di era orde lama pemerintah terlalu menekankan pada sistem politik dan lingkungan eksternal yang pada prinsipnya bersifat terlalu aktif. Hal ini menyebabkan sistem perekonomian menjadi tidak stabil karena lebih focus kepada masalah politik internasional ketimbangan memperbaiki kadaan perkonomian dalam negeri.

Di era orde baru pemerintah berupaya memprbaiki hubungan baik dengan pihak barat, dan hal ini ditanggapi secara positif oleh negara-negara barat yaitu antara lain dengan diselenggarakannya Konferensi Tokyo. Hal ini dimungkinkan karena adanya dua kesamaan pandangan pada kedua pihak yaitu kedua belah pihak memiliki komitmen serius atas pembangunan ekonomi Indonesia dan sama-sama anti komunis. Tingginya kepercayaan diri Soeharto telah mempengaruhi Indonesia untuk lebih memainkan peran aktif dalam masalas-masalah internasional. Ini ditunjukkan dalam peristiwa penting seperti peran aktif Indonesia dalam peringatan 30 tahun Konferensi Asia Afrika (dalam konteks politik), Indonesia menjadi Ketua Grakan Non-Blok dan penyelenggaraan pertemuan Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bogor (dalam konteks ekonomi), sebagai penengah konfrontasi Singapura dan Malaysia atas sengketa pulau dan memprakarsai pertemuan-pertemuan di tingkat regional Asia Tenggara (ASEAN). Dari peristiwa-peristiwa tersebut jelaslah Soeharto pada ra orde baru benar-benar berupaya untuk memurnikan kembali politik bebas aktif tidak hanya dalam konteks internasional saja, tetapi juga dalam konteks domestic dimana lebih menekankan pada kestabilan perkonomian demi mennyejahterakan rakyatnya.

Pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif pada orde baru


Orde Baru adalah sebutan bagi masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama yang merujuk kepada era pemerintahan Soekarno. Orde Baru hadir dengan semangat "koreksi total" atas penyimpangan yang dilakukan oleh Soekarno pada masa Orde Lama. Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Dalam jangka waktu tersebut, ekonomi Indonesia berkembang pesat meskipun hal ini terjadi bersamaan dengan praktik korupsi yang merajalela di negara ini. Selain itu, kesenjangan antara rakyat yang kaya dan miskin juga semakin melebar. Pada masa Orde Baru merupakan masa dimana Indonesia memasuki masa demokrasi Pancasila. Segala kebijakan harus berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 sehingga tidak terjadinya penyimpangan yang terjadi dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan, termasuk kebijakan luar negeri Indonesia. Pada masa Orde Baru dimana masa kepemimpinan presiden Soeharto Indonesia mengalami kemajuan dalam sektor pembangunan dalam negeri, penguatan pertanian dan menjadi negara swasembada pangan. Dalam pengambilan keputusan luar negeri presiden Soeharto tetap menerapkan perinsip politik luar negeri bebas aktif dimana peran Indonesia dalam dunia Internasional terlihat dan juga Independen (bebas) dalam menentukan sikap. Pada masa Orde Baru pemerintah Indonesia menerapkan politik luar negeri bebas aktif secara efektif. Peranan Indonesia pada masa Orde Baru terlihat jelas dengan peran aktif dalam acara-acara tingkat dunia. Kerjasama diperluas dalam berbagai sektor terutama sektor perekonomian, Indonesia juga secara cepat memberikan tanggapan akan isu-isu yang muncul dalam dunia internasional. Politik Luar negeri Indonesia yang bebas aktif pada masa Orde Baru dapat membawa Indonesia baik di mata dunia. Namun beberapa pihak menilai bahwa pada masa presiden Soeharto yang jelas anti komunisme hubungan dengan negara-negara komunis tidak terlalu baik. Kecenderungan hubungan Indonesia pada masa Orde Baru adalah mengarah kepada negara-negara Barat yang pada masa presiden Soekarno terabaikan. Indonesia cenderung meninggalkan politik bebas aktif dan banyak menggandeng pemerintahan beriringan dengan orang-orang blok Barat. Ini dapat dilihat dari banyaknya investasi yang dilakukan oleh Amerika, Inggris, Jerman dan Belanda di indonesia dalam beberapa perusahaan seperti pengelolaan emas di Papua saat ini. Ada juga Indonesia membuka kerja sama dengan Jepang sebagai negara Asia yang mulai terseret ke dalam jurang kapitalisme. Ini menandakan Indonesia tidak lagi gencar melawan imperialis dan kapitalis sebagaimana dikobarkan oleh Orde Lama di bawah Soekarno yang itu juga menandakan Indonesai perlahan pasti mulai kehilangan politik bebas aktifnya

Konflik perpecahan pasca orde baru. Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan "persatuan dan kesatuan bangsa". Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan, Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang sentimen anti-Jawa di berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa. Kelebihan sistem pemerintahan orde baru. -Perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.565 -Sukses transmigrasi -Sukses KB -Sukses memerangi buta huruf -Sukses swasembada pangan -Pengangguran minimum -Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun) -Sukses Gerakan Wajib Belajar -Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh -Sukses keamanan dalam negeri -Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia -Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri.

Kekurangan sistem pemerintahan orde baru. -Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme. -Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat -Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua -Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya -Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin) -Pelanggaran HAM kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat Tionghoa) -Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan -Kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibredel -Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program "Penembakan Misterius" -Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya) -Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak Senang, hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang efektif negara pasti hancur. Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibuk berpolitik sehingga kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah. -Pelaku ekonomi yang dominan adalah lebih dari 70% aset kekayaaan negara dipegang oleh swasta.