Anda di halaman 1dari 3

KEBIJAKAN PEMBATASAN SUBSIDI DOMESTIK ATAS BERAS DALAM WTO DI URUGUAY ROUND Oleh : Yusuf Adiwibowo,S.H., LL.M.

ABSTRAKSI Tujuan Objektif penelitian ini adalah untuk mengetahui Implementasi kebijakan Subsidi domestik atas pangan di Indonesia. Sedangkan tujuan subjektif dari penelitian ini adalah untuk menambah khasanah keilmuan kita mengenai perkembangan perjanjian pertanian yang telah disepakati Indonesia dalam WTO. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat tiga kewajiban atas subsidi pangan yang harus dilaksanakan yaitu kreteria green box, amber box dan blue box. Pemberian subsidi domestik Indonesia semua berdasarkan atas general service yang masuk dalam kreteria green box, dan dalam hal ini de minimis tidak lebih dari 10 % sehingga Indonesia tidak perlu mengurangi subsidinya jika tidak melebihi nilai de minimis. Kata kunci : Subsidi, kebijakan, perjanjian, perdagangan, dan Pangan

1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa sumberdaya alam, maka sudah sepantasnya jika pembangunan nasional didasarkan pada pengelolaan sumberdaya alam tersebut. Pertanian merupakan salah satu sumberdaya alam yang di Indonesia mempunyai keunggulan komparatif. Disamping itu sebagian besar penduduk Indonesia hidup dan bermata pencaharian di sektor tersebut. Fenomena kemiskinan juga banyak dijumpai di sektor pertanian. Dengan demikian apabila sektor pertanian dijadikan landasan bagi pembangunan nasional, dan sektor-sektor lain menunjang sepenuhnya, sebagian besar masalah yang dihadapi oleh masyarakat akan dapat terpecahkan. Kebijakan harga beras telah menjadi basis kebijakan pangan dan beras yang sudah lebih dari 300 tahun, sejak masa kolonial. Sayangnya, kealamiahan dari kebijakan harga pangan saat ini sangat berbeda dengan asal-muasalnya. Pemerintah Kolonial Belanda selalu menginginkan harga buruh yang murah bagi investasi pertaniannya di Nusantara. Oleh karena itu, harga dasar pangan dan beras selalu ditekan rendah, karena harga

beras sangat penting bagi konsumsi keluarga, sehingga perlu membuat harga dasar pangan utama tersebut rendah sepanjang waktu. 1 Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno subsidi domestik diberikan dalam bentuk program-program pemerintah. Program yang cukup berhasil saat itu, yakni program Swasembada Bahan Makanan pada tahun 1963 yang diwujudkan melalui penyelenggaraan pusat-pusat intensifikasi yang juga menjadi pusat bimbingan Koperasi Produksi Pertanian. Program DEMAS (Demonstrasi Massal) ini dianggap sukses sehingga diperluas 15 kali lipat. Setelah diambil alih oleh KOTOE pada Agustus 1965, program itu disebut Bimas Nasional dan diperluas menjadi 150.000 hektar lahan di pulau Jawa dan luar Jawa. Pemerintahan Soeharto tahun 1984 menerima medali dari FAO atas prestasi beberapa kali swasembada beras. Dukungan program yang lengkap, besar dan sentralistis memungkinkan produksi padi Indonesia meningkat. Jika pada tahun 1965 produksi beras per hektar hanya 1,7 ton, maka tahun 1980 meningkat hampir dua kali lipat, yakni 3,3 ton per hektar. Produksi padi pada periode 1969-1990 meningkat lebih dari 4.5% rata-rata per tahun. Peningkatan itu mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia berswasembada beras. Harga gabah pada saat itu juga relatif stabil.2 Kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian dalam era globalisasi di suatu negara tentunya tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor eksternal, yang dicirikan adanya keterbukaan ekonomi dan perdagangan yang lebih bebas, hal itu akan sulit ditemukan adanya kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian yang steril dari pengaruh-pengaruh faktor eksternal. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kebijaksanaan nasional pembangunan pertanian di Indonesia antara lain adalah; (1) kesepakatan-kesepakatan internasional, seperti WTO, APEC dan AFTA; (2) kebijaksanaan perdagangan komoditas pertanian di negaranegara mitra perdagangan Indonesia. Ada dua perjanjian WTO yang menyangkut perdagangan hasil pertanian yang termasuk dalam persetujuan di bidang Barang (Good) yaitu : perjanjian mengenai perdagangan hasil pertanian Agreement on Agriculture atau bisa disingkat dengan AoA

Mears, L. and Moeljono. Rice an d Food Self-Sufficiency in Indonesia. BIES Vol. XX no. 2 (1984) hlm 122138. Syahyuti . Pembangunan Pertanian Indonesia Dalam Dalam Pengaruh Kapitalisme Dunia : Analisis Ekonomi Politik Perberasan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian (2005) . Jl A. Yani No.70 Bogor 16161http://pse.litbang.deptan.go.id /ind/index.php? option = com _content&task=view&id=439. Diakses pada tanggal 2 November 2009.
2

dan perjanjian mengenai penentuan standar sanitasi hasil pertanian yang disebut Agreement Sanitary and Phytosanitary yang bisa disingkat SPS.3 Pertanian dan persetujuan di bidang pertanian menjadi perhatian utama dalam negosiasi perdagangan, karena selama ini disadari sering terjadi distorsi perdagangan atas produk-produk pertanian yang disebabkan oleh pengenaan kuota impor dan pemberian subsidi domestik maupun subsidi ekspor. Ketentuan-ketentuan dalam GATT untuk bidang pertanian pada awalnya disadari banyak mengandung kekurangan dan kelemahan, sehingga pada putaran Uruguay negosiasi diusahakan untuk menghasilkan ketentuan di bidang pertanian yang adil (fair), dapat menjamin kompetisi yang sehat dan tidak distortif melalui penghapusan sistem kuota impor dan pemberian subsidi. Persetujuan bidang pertanian ini disepakati baik oleh negara maju maupun negara berkembang yang menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization. Kesepakatan Agreement on Agriculture berisi 3 hal penting antara lain : 1. Meningkatkan akses pasar (market access). 2. Pengurangan subsidi ekspor (export subsidy) 3. Pengurangan bantuan kepada petani dalam negeri (domestik support atau subsidi domestik) 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana kesepakatan WTO dalam pembatasan subsidi domestik atas beras ? 2. Subsidi domestic apa saja yang diterapkan di Indonesia dan harus dikurangi ?

Pranolo, Tito. Pembangunan Pertanian dan Konpernas XIII Perhepi, Jakarta,Februari. 2000.

Liberalisasi Perdagangan. Makalah disampaikan pada