Anda di halaman 1dari 16

KELOMPOK 6 KONFLIK SOSIAL

Disusun Guna Melengkapi Tugas Mata Kuliah Sosiologi Dosen Pengampu : Drs. Djono, M.Pd

Disusun Oleh: Ardian Nur Rizki Mahar Tri Pamungkas Nana Aditiya Puspo Adi Kristianto Sulistiyoningsih Dyah Ayu S Bety Nias R Nuriana Yulita K4410007 K4410038 K4410041 K4410047 K4410058 K4407001 K4407012 K4407033

PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Konflik merupakan suatu proses sosial di mana dua orang atau dua

kelompok orang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya. Selain itu Konflik terjadi juga dikarenakan adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tetapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Konflik juga dilatar belakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaanperbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat-istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawa sertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Wujud konflik yang paling jelas adalah perang bersenjata, dimana dua atau lebih bangsa atau suku bangsa saling tempur dengan maksud menghancurkan atau membuat pihak lawan tidak berdaya. Pihak-pihak yang terlibat konflik, dikuasai oleh suatu keinginan untuk mencapai suatu hasil yang dipersengketakan. Fokus perhatian masing-masing pihak terarah pada dua hal, pertama adanya lawan yang menghalangi, dan kedua adanya nilai lain yang hendak dicapai. Sejarah memberikan kesaksian kepada kita, bahwa peperangan yang terjadi di masa lalu ditemukan adanya nilai sebagai motif perjuangannya misalnya nilai demokrasi untuk meraih kebebasan dan persamaan hak, perbaikan nasib kaum buruh, ekspansi wilayah/daerah, nilai keagamaan, dan nilai kemerdekaan kedaulatan bangsa Bagi negara kemajemukan seperti Indonesia permasalahan diatas dianggap sebagai potensi yang dapat mengganggu stabilitas politik. Karena itu negara perlu

menyeragamkan setiap elemen kemajemukan dalam masyarakat sesuai dengan kepentingannya, tanpa harus merasa telah mengingkari prinsip dasar hidup bersama. Dengan segala kekuasaan yang ada pada negara tidak segan-segan untuk menggunakan cara-cara tertentu agar masyarakat tunduk pada ideologi negara yang maunya serba seragam, serba tunggal.

B. Rumusan Masalah Dengan memperhatikan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis mencoba merumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Apakah perngertian dari konflik? Apakah faktor-faktor penyebab konflik? Apa sajakah jenis-jenis konflik? Bagaimanakah teori konflik? Bagaimanakah cara penyelesaian konflik?

C. Tujuan Penulisan Dalam kaitannya dengan rumusan masalah yang telah dikemukakan maka, penulis memiliki beberapa tujuan, yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Untuk mengetahui pengertian dari konflik. Untuk mengetahui apa sajakah faktor-faktor penyebab konflik. Untuk mengetahui jenis-jenis konflik. Untuk mengetahui berbagai teori konflik. Untuk mengetahui cara penyelesaian konflik.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Konflik Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik, dalam kamus besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat, faham dan kepentingan di antara dua pihak atau lebih. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik, yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan, bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan. Konflik juga dimaknai sebagai suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan oleh pihak pertama. Pertentangan juga dikatakan sebagai konflik manakala pertentangan itu bersifat langsung, yakni ditandai interaksi timbal balik di antara pihakpihak yang bertentangan. Konflik dapat dikatakan sebagai suatu oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok, organisasi-organisasi yang disebabkan oleh adanya berbagai macam perkembangan dan perubahan dalam bidang manajemen, serta menimbulkan perbedaan pendapat, keyakinan dan ide. Sedangkan seseorang dikatakan terlibat konflik dengan pihak lain jika sejumlah ketidak-sepakatan muncul antara keduanya, dan masing-masing menyadari adanya ketidak-sepakatan itu. Jika hanya satu pihak yang merasakan ketidaksetujuan, sedang yang lain tidak, maka belum bisa dikatakan konflik antara dua pihak. Dengan kata lain, dua pihak harus menyadari adanya masalah sebelum mereka berada di dalam konflik. Semua konflik seringkali dipandang sebagai

pencapaian tujuan satu pihak dan merupakan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain. Hal ini karena seringkali orang memandang tujuannya sendiri secara lebih penting, sehingga meskipun konflik yang ada sebenarnya merupakan konflik yang kecil, seolah-olah tampak sebagai konflik yang besar. Konflik muncul diakibatkan salah satunya perebutan sumberdaya. Misalnya, jika dua orang duduk sebangku dalam kelas, maka bangku itu menjadi sumberdaya. Apabila salah satu pihak bertingkah laku seakanakan mau menguasai kamar, pihak lain akan terganggu maka terjadilah konflik diakibatkan sumberdaya. Pihak-pihak yang berkonflik saling tergantung satu sama lain, karena kepuasan seseorang tergantung perilaku pihak lain. Jika kedua pihak merasa tidak perlu untuk menyelesaikan masalah, maka perpecahan tidak dapat dihindari. Banyak konflik yang tidak terselesaikan karena masing-masing pihak tidak memahami sifat saling ketergantungan. Konflik pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan sosial, karena itu tidak ada masyarakat yang steril dari realitas konflik. Karena konflik merupakan bagian kehidupan sosial, maka dapat dikatakan konflik sosial merupakan konflik yang menyentuh nilai-nilai inti akan dapat mengubah struktur sosial sedangkan konflik yang mempertentangkan nilai-nilai yang berada di daerah pinggiran tidak akan sampai menimbulkan perpecahan yang dapat membahayakan struktur sosial. Konflik yang intensitasnya tinggi adalah konflik yang bisa membangun komitmen sosial yang luas, sehingga luas konflikpun mengembang. Adapun ketampakan konflik adalah tingkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat di luar pihak-pihak yang berkonflik tentang peristiwa konflik yang terjadi. Sebuah konflik dikatakan memiliki ketampakan yang tinggi manakala peristiwa konflik itu disadari dan diketahui detail keberadaannya oleh masyarakat secara luas. Sebaliknya, sebuah konflik memiliki ketampakan rendah manakala konflik itu terselimuti oleh berbagai hal sehingga tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas terhadap konflik itu sangat terbatas. Pandangan tradisional tentang konflik mengandaikan konflik itu buruk, dipandang secara negatif, dan disinonimkan dengan istilah kekerasan (violence), destruksi, dan

ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya.

B. Faktor penyebab konflik Konflik yang terjadi pada manusia bersumber pada berbagai macam sebab. Begitu beragamnya sumber konflik yang terjadi antar manusia, sehingga sulit untuk dideskripsikan secara jelas dan terperinci sumber dari konflik. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Sumber konflik itu sangat beragam dan kadang sifatnya tidak rasional. Pada umumnya penyebab munculnya konflik kepentingan sebagai: a. Perbedaan pendapat Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masingmasing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau mengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya. b. Salah paham Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain c. Ada pihak yang dirugikan Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci d. Perasaan sensitif Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan. Selain diatas faktor penyebab konflik juga dapat disebabkan oleh: a. Perbedaan individu Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang

unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.

b. Perbedaan latar belakang kebudayaan Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadipribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan polapola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok manusia memiliki perasaan,pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda- beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. b. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai

yang berubah itu seperti nilai kegotong royongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi secara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan prosesproses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

C. Jenis-jenis Konflik a. Konflik Pribadi Konflik terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain. Umumnya konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain, yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam. Perasaan ini mendorong tersebut untuk memaki, menghina, bahkan memusnahkan pihak lawan. Pada dasarnya konflik pribadi sering terjadi dalam masyarakat. b. Konflik Rasial Konfilk rasial umumnya terjadi di suatu negara yang memiliki keragaman suku dan ras. Lantas, apa yang dimaksud dengan ras? Ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri-ciri biologisnya, seperti bentuk muka, bentuk hidung, warna kulit, dan warna rambut. Secara umum ras di dunia dikelompokkan menjadi lima ras, yaitu Australoid, Mongoloid, Kaukasoid, Negroid, dan ras-ras khusus. Hal ini berarti kehidupan dunia berpotensi munculnya konflik juga jika perbedaan antarras dipertajam. c. Konflik Antarkelas Sosial Terjadinya kelas-kelas di masyarakat karena adanya sesuatu yang dihargai, seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaan. Kesemua itu menjadi dasar penempatan seseorang dalam kelas-kelas sosial, yaitu kelas sosial atas, menengah, dan bawah. Seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar

menempati posisi atas, sedangkan orang yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan berada pada posisi bawah. Dari setiap kelas mengandung hak dan kewajiban serta kepentingan yang berbeda-beda. Jika perbedaan ini tidak dapat terjembatani, maka situasi kondisi tersebut mampu memicu munculnya konflik rasial. d. Konflik Politik Antargolongan dalam Satu Masyarakat maupun antara NegaraNegara yang Berdaulat Dunia perpolitikan pun tidak lepas dari munculnya konflik sosial. Politik adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah. Konflik politik terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda-beda pada saat menghadapi suatu masalah yang sama. Karena perbedaan inilah, maka peluang terjadinya konflik antargolongan terbuka lebar. Contoh: rencana undang-undang pornoaksi dan pornografi sedang diulas, masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua pemikiran, sehingga terjadi pertentangan antara kelompok masyarakat yang setuju dengan kelompok yang tidak menyetujuinya. e. Konflik Bersifat Internasional Konflik internasional biasanya terjadi karena perbedaan-perbedaan kepentingan di mana menyangkut kedaulatan negara yang saling berkonflik. Karena mencakup suatu negara, maka akibat konflik ini dirasakan oleh seluruh rakyat dalam suatu negara. Konflik dipandang destruktif dan disfungsional bagi individu yang terlibat apabila: 1. Konflik terjadi dalam frekuensi yang tinggi dan menyita sebagian besarkesempatan individu untuk berinteraksi. Ini menandakan bahwa problem tidak diselesaikan secara kuat. Sebaliknya, konflik yang konstruktif terjadi dalam frekuensi yang wajar dan masih memungkinkan individu-individunya berinteraksi secara harmonis. 2. Konflik diekspresikan dalam bentuk agresi seperti ancaman atau paksaan dan terjadi pembesaran konflik baik pembesaran masalah yang menjadi isu konflik maupun peningkatan jumlah individu yang terlibat. Dalam konflik yang

konstruktif isu akan tetap terfokus dan dirundingkan melalui proses pemecahan masalah yang saling menguntungkan. 3. Konflik berakhir dengan terputusnya interaksi antara pihak-pihak yang terlibat. Dalam konflik yang konstruktif, kelangsungan hubungan antara pihak-pihak yang terlibat akan tetap terjaga. Para pakar teori konflik mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua dimensi, pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya.

D. Teori Konflik Toeri ini dipaparkan dalam rangka untuk memahami dinamika yang terjadi di dalam masyarakat. Dengan adanya perbedaan kekuasaan dan sumber daya alam yang langka dapat membangkitkan pertikaian (konflik) di masyarakat. Kelompokkelompok kepentingan yang berbeda dalam system sosial akan saling mengajar tujuan yang berbeda dan saling bertanding. Para teoritis konflik memandang suatu masyarakat terikat bersama adalah kekuatan kelompok atau kelas yang dominan. Para fungsionalis menganggap nilai-nilai bersama (consensus) sebagai suatu ikatan pemersatu, sedangkan bagi teoritis konflik, consensus itu merupakan ciptaan dari kelompok atau kelas dominan untuk memaksakan nilai-nilai. Dahrendorf: antara Konflik dan Konsensus Ralf Dahrendorf (sosiolog asal Jerman) menarik perhatian para ahli sosiologi Amerika melalui bukunya, Class and Class Conflict in Industrial Society. Sebagai warga Jerman yang lahir pada tahun 1926, selagi muda mengalami masa kebangkitan Nazisme di negaranya. Ia juga terlibat aktif dalam aktifitas politik selain menekuni dunia akademisnya. Malah, ia pernah menjadi anggota Parlemen Jerman Barat. Dahrendorf berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah, yaitu konsensus dan konflik. Karenanya, sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian; teori konflik dan teori konsensus. Tidak akan pernah ada masyarakat tanpa konflik

dan konsensus yang menjadi persyaratan satu sama lain. Konflik tidak akan pernah terjadi tanpa adanya konsensus sebelumnya; begitu juga sebaliknya. Menurut Dahrendorf, sistem sosial terbentuk bukan oleh kerjasama sukarela atau pun oleh konsensus, tetapi oleh ketidakbebasan dan dipaksakan yang bersumber dari adanya distibusi otoritas. Ia berusaha untuk mendasarkan terorinya pada perspektif Marxis modern yang menerima meluasnya konflik sosial yang didasarkan pada oposisi kepentingan kelas dan konsekuensi konflik itu dalam melahirkan perubahan sosial. Tetapi, Dahrendorf tidak menggunakan perspektif Marxis sebagai suatu dasar untuk kritik budaya yang radikal, tetapi untuk analisa struktur sosial. Ia menganggap bahwa teori pembentukan kelas dan konflik kelas Marx hanya relevan untuk konteks perkembangan kapitalisme awal, dan tidak layak digunakan untuk menganalisis masyarakat post-capitalist. Marx mendasarkan teori pembentukan dan konflik kelasnya pada pemilikan alat produksi, sedangkan bagi Dahrendorf, faktor yang lebih penting adalah kontrol atas alat produksi, bukan pemilikannya. Meskipun pada masa-masa awal kapitalisme pemilik alat industri berfungsi sekaligus sebagai pengontrol tetapi tidak bisa diartikan bahwa ada hubungan intrinsik antara keduanya. Karena kapitalisme berkembang, dengan pembagian kerja yang semakin kompleks, maka fungsi pemilikan dan kontrol pun harus secara tegas dipisahkan. Jadi perhatian Dahrendorf atas pembentukan kelas bukan bersumber lebih dari pada pemilikan atas alat industri, tetapi pada struktur otoritas. Hubungan komunitas tidak hanya bisa diamati dalam perusahaan, tetapi juga dalam birokrasi pemerintahan, partai politik, gereja, sarekat buruh, organisasi profesional, semua jenis organisasi sukarela, dan lain sebagainya. Bagi Dahrendorf, hubungan kekuasaan yang digambarkan dalam teori Marx merupakan tipe khusus dalam sejarah awal kapitalisme yang berarti bahwa pokok-pokok analisanya tentang pembentukan dan konflik kelas tidak relevan lagi untuk digunakan dalam masyarakat modern. Akan tetapi Dahrendorf tetap mengikuti gaya Marx dalam pembagian kelas menjadi dua kelompok ditinjau dari dominasinya antara satu dengan yang lain. Dinamika konflik yang digambarkan Dahrendorf sendiri pada dasarnya menempatkan dua kelompok kelas yang saling

bertentangan yang merupakan akibat logis dari pembagian otoritas di antara keduanya. Coser: Persilangan Konseptual Fungsionalisme dan Teori Konflik Tiga tahun sebelum karya Dahrendorf, Class and Class Conflict.. (edisi Inggris) diterbitkan, pada tahun 1956, Lewis Coser (ahli sosiologi Amerika), menerbitkan The Funcions of Social Conflict. Coser memulai pandanganpandangan teoritisnya dengan melancarkan kritikan terhadap tekanan yang berlebihan pada nilai atau konsensus normatif, keteraturan, dan keselarasan. Akan tetapi tidak seperti Dahrendorf, yang ingin dikembangkan oleh Coser adalah serangkaian upaya untuk mengkombinasikan penjelasan tentang konsensus, ketertiban, dan keteraturan dengan konflik.. Jika Dahrendorf berangkat dari kritiknya terhadap perspektif fungsional dan teori Marx tentang pembentukan dan konflik kelas, Coser mengambil sumber penjelasan mengenai fungsi konflik dari teori Georg Simmel. Akan tetapi, karena pemikirannya diarahkan pada bagaimana mendamaikan fungsionalisme dan konflik, maka penjelasannya pun bersifat sistemik dan berorientasi sistemik. Coser menjelaskan bahwa konflik sosial tidak harus merusak sistem atau disfungsional dalam struktur, tetapi juga ada berbagai konsekuensi positif yang dilahirkannya dan justru menguntungkan sistem itu, selain menjelaskan berbagai tingkat atau intensitas konflik itu dari yang sederhana hingga yang bersifat kekerasan. Teori konflik yang dikembangkan Dahrendorf maupun Coser sama-sama berangkat dari pembagian masyarakat menjadi dua kelompok, yaitu kelompok super ordinat dan sub ordinat. Pembagian masyarakat ke dalam dua kelomok ini bersumber dari teori kelas Marx yang membagi masyarakat menjadi kelompok borjuis dan buruh. Kedua tokoh ini juga tidak bisa lepas dati pengaruh Weber dan Simmel, karena yang menjadi perhatian kedua tokoh ini juga mencakup berbagai masalah yang berkaitan dengan struktur-struktur formal di masyarakat, interaksi sosial, dan tingkat keasadaran masyarakat (rasionalitas).

E. Penyelesaian Konflik Secara sosiologis, proses sosial dapat berbentuk proses sosial yang bersifat menggabungkan(associative processes) dan proses sosial yang menceraikan (dissociative processes). Proses sosial yang bersifat asosiatif diarahkan pada terwujudnya nilai-nilai seperti keadilan sosial, cinta kasih, kerukunan, solidaritas. Sebaliknya proses sosial yang bersifat dissosiatif mengarah pada terciptanya nilainilai negatif atau asosial, seperti kebencian, permusuhan, egoisme, kesombongan, pertentangan, perpecahan dan sebagainya. Jadi proses sosial asosiatif dapat dikatakan proses positif. Proses sosial yang dissosiatif disebut proses negatif. Sehubungan dengan hal ini, maka proses sosial yang asosiatif dapat digunakan sebagai usaha menyelesaikan konflik. Adapun bentuk penyelesaian konflik yang lazim dipakai, yakni konsiliasi, mediasi, arbitrasi, koersi (paksaan), detente. Urutan ini berdasarkan kebiasaan orang mencari penyelesaian suatu masalah, yakni cara yang tidak formal lebih dahulu, kemudian cara yang formal, jika cara pertama tidak membawa hasil. Cara penyelesaian konflik itu antara lain: a. Konsiliasi Konsiliasi berasal dari kata Latin conciliatio atau perdamaian yaitu suatu cara untuk mempertemukan pihak-pihak yang berselisih guna mencapai persetujuan bersama untuk berdamai. Dalam proses pihak-pihak yang

berkepentingan dapat meminta bantuan pihak ke tiga. Namun dalam hal ini pihak ketiga tidak bertugas secara menyeluruh dan tuntas. Ia hanya memberikan pertimbangan-pertimbangan yang dianggapnya baik kepada kedua pihak yang berselisih untuk menghentikan sengketanya. Contoh yang lazim terjadi misalnya pendamaian antara serikat buruh dan majikan. Yang hadir dalam pertemuan konsiliasi ialah wakil dari serikat buruh, wakil dari majikan/perusahaan serta ketiga yaitu juru damai dari pemerintah, dalam hal ini Departemen Tenaga. Kerja. Langkah-langkah untuk berdamai diberikan oleh pihak ketiga, tetapi yang harus mengambil keputusan untuk berdamai adalah pihak serikat buruh dan pihak majikan sendiri.

b. Mediasi Mediasi berasal dari kata Latin mediatio, yaitu suatu cara menyelesaikan pertikaian dengan menggunakan seorang pengantara (mediator). Dalam hal ini fungsi seorang mediator hampir sama dengan seorang konsiliator. Seorang mediator juga tidak mempunyai wewenang untuk memberikankeputusan yang mengikat; keputusannya hanya bersifat konsultatif. Pihak-pihak yang bersengketa sendirilah yang harus mengambil keputusan untuk menghentikan perselisihan. c. Arbitrasi Arbitrasi berasal dari kata Latin arbitrium, artinya melalui pengadilan, dengan seorang hakim (arbiter) sebagai pengambil keputusan. Arbitrasi berbeda dengan konsiliasi dan mediasi. Seorang arbiter memberi keputusan yang mengikat kedua pihak yang bersengketa, artinya keputusan seorang hakim harus ditaati. Apabila salah satu pihak tidak menerima keputusan itu, ia dapat naik banding kepada pengadilan yang lebih tinggi sampai instansi pengadilan nasional yang tertinggi. Dalam hal persengketaan antara dua negara dapat ditunjuk negara ketiga sebagai arbiter, atau instansi internasional lain seperti PBB. Orang-orang yang bersengketa tidak selalu perlu mencari keputusan secara formal melalui pengadilan. Dalam masalah biasa dan pada lingkup yang sempit pihak-pihak yang bersengketa mencari seseorang atau suatu instansi swasta sebagai arbiter. Cara yang tidak formal itu sering diambil dalam perlombaan dan pertandingan. Dalam. hal ini yang bertindak sebagai arbiter adalah wasit. d. Koersi Koersi ialah suatu cara menyelesaikan pertikaian dengan menggunakan paksaan fisik atau pun psikologis. Bila paksaan psikologis tidak berhasil, dipakailah paksaan fisik. Pihak yang biasa menggunakan paksaan adalah pihak yang kuat, pihak yang merasa yakin menang, bahkan sanggup menghancurkan pihak musuh. Pihak inilah yang menentukan syarat-syarat untuk menyerah dan berdamai yang harus diterima pihak yang lemah. Misalnya, dalam perang dunia II Amerika memaksa Jepang untuk menghentikan perang dan menerima syaratsyarat damai.

e. Detente Detente berasal dari kata Perancis yang berarti mengendorkan. Pengertian yang diambil dari dunia diplomasi ini berarti mengurangi hubungan tegang antara dua pihak yang bertikai. Cara ini hanya merupakan persiapan untuk mengadakan pendekatan dalam rangka pembicaraan tentang langkah-langkah mencapai perdamaian. Jadi hal ini belum ada penyelesaian definitif, belum ada pihak yang dinyatakan kalah atau menang. Dalam praktek, detente sering dipakai sebagai peluang untuk memperkuat diri masing-masing; perang fisik diganti dengan perang saraf. Jika masing-masing pihak merasa diri lebih kuat, biasanya mereka tidak melangkah kemeja perundingan, melainkan ke medan perang lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Robert M.Z Lawang. 1990. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. George Ritzer & Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi, Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial

Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/pengertian-konflik-dan-definisinyaserta-faktor-penyebabnya/ http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2142189-pengertian-konfliksosial-macam-macam/ http://punggeti-sosial.blogspot.com/2008/01/teori-konflik.html http://punyahari.blogspot.com/2010/03/teori-konflik-dahrendorf-dan coser_05.html