Anda di halaman 1dari 11

Pengaruh Arsitektur Lokal Bangunan Gereja di Bali

Pengaruh Arsitektur Lokal Bangunan Gereja di Bali Arsitektur sangat dipengaruhi oleh letak geografis, geologis, topografi, iklim, hingga sikap dan perilaku yang terangkum dalam kebudayaan. Bagaimanakah agama memperlakukan bangunan atau sealiknya? Ternyata arsitektur mampu menembus bukan hanya batas ruang dan waktu belaka, juga sanggup menjadi duta dan perekat ideologi dan kepercayaan. Dengan demikian, para arsitek sebagai duta budaya dengan segenap ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimilikinya hendaknya mampu menunjukkan independensinya. AWALNYA tidak dikenal aturan ataupun ketentuan tentang seperti apa harusnya bangunan ibadah bagi umat kristiani. Pemilihan gedung Basilica dapat menampung banyak orang, memiliki tata akustik yang sangat baik (tidak menggema), serta ruang dalam bangunannya memiliki skala atau efek psikologis menekan ego manusia sehingga Tuhan menjadi sakral, suci, agung, magis, dan pasti religius. Bagi yang berkiblat ke Vatikan maka konsili Vatikan merupakan atau memberikan peluang seluas-luasnya bagi lokal jenius untuk tumbuh dan berkembang, misalnya dalam hal arsitektur. Sedangkan bagi yang lainnya melalui peraturan daerah No. 2, 3, dan 4 tahun 1974 menampilkan citra Bali-nya. Ataupun juga dengan sengaja mengangkat tema arsitektur Vernacular, Neo Vernacular, Regional Arsitektur, dan lainnya dengan sangat kreatif namun terkadang terkesan eklektif dan kurang normatif. Arsitektur adalah upaya pencairan yang tidak pernah berakhir, dia berkelanjutan berputar sehingga kenangan masa lalu (nostalgia) dapat tampil kembali secara utuh maupun dengan beberapa perubahan. Di arsitektur barat, kerinduan masa lalu dikenal sebagai arsitektur klasik yaitu masa arsitektur Yunani dan Romawi. Di Bali, dimana perjalanan arsitekturnya tidak sepanjang di negeri barat, maka arsitektur klasiknya dapat disebutkan sebagai arsitektur tradisional Bali dataran dengan pola sanga mandala dengan natah sebagai pusatnya. Kerinduan

masyarakatnya terhadap keindahan, keagungan, dan kebesaran masa lalu dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, manusia, dan Tuhan-nya yang dikenal sebagai Tri Hita Karana menyebabkan filosofi tersebut menjadi super-struktur dalam segala kiprah kehidupan dan penghidupannya, termasuk arsitektur. Asimilasi, akulturasi, ataupun adaptasi adalah suatu dinamika yang berlangsung secara evolusi maupun revolusi dalam hubungan sosial kemasyarakatan untuk dapat hidup berdampingan secara penuh cinta-kasih dalam kebersamaan, kesetaraan, dan lainnya yang akhirnya bermuara pada pencampuran, penyatuan, saling-silang pengaru, maupun melahirkan keunikan dalam hal kebudayan termasuk arsitektur. Gereja di Bali Adanya bangunan ibadah bagi umat Kristiani di Bali tentunya karena komunitas yang ada membutuhkan wadah tersebut. Misionaris yang tercatat ke Bali pada 11 September 1935 adalah PJ Kersten, SVD yang selanjutnya disusul oleh rekan-rekannya. Pemberkatan gereja katolik pertama berlangsung di Banjar Tuka, Desa Dalung-Badung pada 14 Februari 1937. Dalung di Badung dan Gumbrih di Jembrana merupakan pusat umat Kristiani ketika itu. Dengan adanya bangunan gereja saat itu, berarti menambah perbendaharaan masyarakat Bali terhadap bangunan tersebut dalam katalog arsitekturnya. Beberapa bangunan yang telah terbangun sampai dengan saat ini masih berada pada bentuk dasar linier yang dipakai pada Basilica, bentuk dasar salib Yunani dan Romawi (lihat gambar). Ketiga bentuk dasar yang ditransformasikan ke dalam denah bangunan gereja di Bali didisain dengan kreatif melalui perpaduan tuntutan fungsi, kearifan lokal, peraturan/persyaratan yang ada menjadi beraneka wujud yang sekaligus menjadi identitas komunitasnya. Teori arsitektur menyebutkan bahwa untuk bangunan dengan fungsi religius harus memenuhi kaidah-kaidah antara lain: di luar skala manusia ditampilkan melalui ketinggian bangunan (batasan sesuai perda adalah 15 meter), sosok bangunannya meruncing ke atas dengan bentuk-bentuk segitiga, kemegahan (melalui dimensi dan bahan), kewibawaan (melalui bentuk simetris, seimbang, dan pengulangan), dan lainnya yang dirancang sejak dalam pengolahan site, tampak bangunan, ruang dalam maupun ruang luar, struktur, bahan, serta ornamennya. Dua buah gereja yang menurut penulis sangat kental dengan nuansa arsitektur lokal (Bali) adalah Gereja Katolik Hati Kudus Jesus di Desa Palasari, Jembrana, yang bergaya paduan arsitektur Bali (timur) dengan Gothjik (barat) yang dibangun pada 1954 dan selesai pada 13 Desember 1958. Pada 1992 hingga 1994, gereja ini direnovasi dengan melibatkan arsitek lokal Ida Bagus Tugur. Bentuk dasar denahnya adalah salib Romawi, dengan atap bertingkat -- pada titik pertemuan silangnya menyerupai meru dan yang di tengah-tengah dipasang atap bertingkat tiga yang meruncing ke atas, menggunakan ornamen dengan tata rias Bali, serta dilengkapi dengan tujuh buah menara. Jumlah menara ini memiliki makna sekaligus merupakan analogi simbol dari tujuh Karunia Roh Kudus atau Sakramen yaitu permandian, Krisna, tobat, ekaristi, minyak suci, perkawinan, dan imamat. Di bagian ruang luar dijumpai adanya pagar dan candi bentar Bali, demikian juga pada ruang dalamnya mengunakan unsur-unsur dekorasi yang bernafaskan Bali. Kemudian Gereja Katolik Paroki St. Yoseph di Jalan Kepundung Denpasar. Arsitektur Gereja St. Yoseph atas dasar pendekatan hermeneutic merupakan hasil perkawinan, penyatuan, dari

arsitektur barat yang bernuansa Romanika Itali Utara (dengan menambahkan bangunan/emperan di depan pintu utama bangunan), Gothik Belanda/Belgia (lihat jendela depan, letak pintu atau orientasi ke arah barat, serta menaranya). Sedangkan dari unsur lokalnya tampak terlihat dari bahan dekorasi fasade dari bata dan paras Bali, menggunakan bentuk bangunan meru, bale kulkul dan kori yang dijadikan satu kesatuan. Unggulan dari ciri barat (Gothik) dan timur (tradisi) dijadikan satu sehingga menampilkan sosok arsitektur yang unik. Tampaknya, arsitektur gereja Katolik di Bali seperti contoh diatas adalah yang dipayungi oleh Konsili Vatikan dapat dengan bebas bermain pada khasanah kedaerahan. Itulah sebabnya arsitektur Bali khususnya pada bentuk dan bahan mendapat porsi yang utama pada Gereja Hati Kudus Jesus di Palasari, Jembrana, dan St. Joseph di Jalan Kepundung Denpasar. Kemampuannya untuk berasimilasi sangat tinggi untuk kemudian beradaptasi dan akhirnya diterima menjadi bagian dan milik masyarakat. Beberapa upaya yang dilakukan oleh para arsitek untuk bangunan gereja di Bali agar bernuansa lokal karena dikehendaki oleh Perda No. 2, 3, dan 4, tahun 1974 antara lain tampak pada karya gereja di Jalan Debes Denpasar dan Gereja Bukit Doa di Nusa Dua. Gereja di Jalan Debes tampaknya juga mengambil analogi bangunan tradisi meru, sedangkan yang di Nusa Dua, disamping mengambil bentuk meru dengan denah berbentuk salib Yunani, puncak meru-nya seolah-olah kubah lancip yang mencerminkan keagungan, juga ditambahkan menara dengan mengadopsi bentuk bale kulkul sebagai tengeran lengkap dengan loncengnya. Dari kajian singkat tentang empat objek gereja yang dianggap atau diasumsikan mewakili gereja di Bali dapat disimpulkan bahwa kelompok bangunan gereja yang menganut Konsili Vatikan seperti Gereja Hati Kudus Jesus dan St. Joseph berupaya semaksimal mungkin mengedepankan arsitektur lokal. Artinya, arsitektur klasik (tradisi) diberikan tempat utama dan terhormat sehingga terkesan merupakan penjabaran tema vernacular maupun regional. Sedangkan bagi dua contoh lainnya yaitu gereja di Jalan Debes Denpasar dan Gereja Bukit Doa di Nusa Dua, Badung, juga mencoba memasukkan unsur lokal (tradisi) dalam kekiniannya sebagai upaya menterjemahkan masa lalu atau lokal dalam kekiniannya (modern) atau baru yang dikenal dengan sebutan arsitektur Neo Vernacular. Dekorasi ruang dalam hampir sebagian besar diantara gereja tersebut menggunakan citra arsitektur lokal dalam hal bentuk, bahan, ornamen, dan lainnya apakah dalam wujud candi bentar, panil, dudukan patung, hingga pintu.

di 14:41 Diposkan oleh solusi griya 0 komentar Label: SEJARAH ARSITEKTUR Reaksi:

Link ke posting ini

TIPOLOGI GEREJA KLASIK part I

di 14:18 Diposkan oleh solusi griya 0 komentar Label: SEJARAH ARSITEKTUR Reaksi:

Link ke posting ini

Minggu, 09 Agustus 2009


PASAR LEGI SURAKARTA

PASAR LEGI SURAKARTA Pasar Legi merupakan salah satu dari kelompok perdagangan bagi kota Surakarta, yang mana Pasar Legi ini letaknya sangat strategis yaitu terletak di sebelah utara stasiun kereta api Solo Balapan. Merupakan gerbang wisatawan dagang ke Surakarta dan di sebelah timur merupakan Monumen Nasional yang merupakan Grand Space bagi kota Surakarta. Dan sebelah selatan adalah obyek wisata Mangkunegaran yang merupakan kraton peninggalan sejarah. Di sebelah barat adalah stasiun Radio Nusantara II Surakarta. Dengan letaknya yang sangat strategis ini maka kawasan Pasar Legi menjadi ajang perdagangan yang sangat ramai baik bagi perdagangan kota naupun kaki limanya. Kaki lima timbul karen aletak dan potensial daerah ini sangat strategis. Letak kawasan Banjarsari ini sangat strategis karena potensi-potensi yang ada antara lain : - Di sebelah utara terdapat Stasiun Solo Balapan, yang merupakan pintu gerbang utama wisatawan datang ke Surakarta. - Di sebelah selatan terdapat obyek wisata Mangkunegaran, merupakan keraton peninggalan sejarah. - Di sebelah timur terdapat Monumen Juang 45 Banjarsari, merupakan open space bagi kota Surakarta. - Di sebelah barat terdapat Rri Nusantara II, merupakan radio bersejarah bagi masyarakat Surakarta.

di 23:08 Diposkan oleh solusi griya 0 komentar Label: SEJARAH ARSITEKTUR Reaksi:

Link ke posting ini

Sejarah Perkembangan Gedung Olah Raga

Sejarah Perkembangan Gedung Olah Raga (by sebastian) Keberadaan gedung olah raga berawal dari didirikannya stadion (colloseum) untuk memenuhi kebutuhan fasilitas keagamaan dan social pada jaman Yunani. Pada masa itu, stadion biasanya berbentuk segi empat dan tidak beratap atau hanya beratap sebagian yaitu di atas tempat duduk penonton. Pada jaman Romawi dikenal adanya Amphitheater yang dapat dikatakan sebagai pengembangan bangunan stadion dan merupakan penggabungan antara teater dan fasilitas pertandingan. Berarti telah ada pemikiran penggunaan gedung olah raga untuk keiatan olah raga dan hiburan. Seiring dengan kemajuan teknologi, sekitar abad 20 dapat dibuat gedung besar yang seluruhnya beratap yaitu Astrodome, Houston, Texas. Pemanfaatan gedung olah raga juga berkembang

menjadi bangunan serba guna, dengan menyediakan berbagai macam fasilitas penunjang. Gedung olah raga dimasa mendatang etrutama yang berada di pusat kota mempunyai kecenderungan untuk berperan sebagai wadah kegiatan multi fungsi mengingat pertimbangan pengoptimalan penggunaan lahan dan ruang yang terbatas. Klasifikasi Gedung Olah Raga Klasifikasi dan penggunaan bangunan gedunmg olah raga Type A menyediakan minimal: 1 lapangan bola basket 1 lapangan bola voli 5 lapangan buku tangkis 1 lapangan tennis ukuran minimal hall : 50 x 30 dengan tinggi 12,5 m kapasitas penonton : diatas 3.000 orang Type B menyediakan minimal: 1 lapangan bola basket 1 lapangan bola voli 3 lapangan buku tangkis ukuran minimal hall : 32 x 22 dengan tinggi 12,5 m kapasitas penonton : 1000 - 3.000 orang Type C menyediakan minimal: 1 lapangan bola basket 1 lapangan bola voli ukuran minimal hall : 24 x 16 dengan tinggi 9 m kapasitas penonton : 1000 orang. Berdasarkan skala pelayanannya, gedung olah raga dibagi atas : 1. Skala Nasional Fasilitas olah raga ini menampung atau melayani kegiatan-kegiatan di antaranya kpmpetisi utama, pertandingan, latihan dan mengajar dengan standar internasional seperti PON, Sea Games, dan sejenisnya. Contoh : Gedung Istora Senayan Jakarta 2. Skala Regional Fasilitas olah raga yang melayani satu atau beberapa daerah denga populasi sebesar 200.000 sampai dengan 350.000 penduduk dan merupakan fasilitas pelengkap di suatu daerah atau wilayah. Contoh : Gelanggang Olah Raga Penjaringan Gelanggang Olah Raga Grogol. 3. Skala Lingkungan Fasilitas olah raga yang melayani satu lingkungan, dalam hal ini lingkungan pemukiman dngan populasi 2.000 sampai dengan 10.000 orang, dan biasannya disediakan dalam suatu kompleks perumahan sebagai satu pelengkap sarana. Contoh : Kelapa Gading Sport Club di kompeks perumahan Kelapa Gading. Bimantara Sport Club di kompleks perumahan Green Village. Persada Sport Centre di kompleks AURI Halim.

4. Skala Sekolahan Fasilitas olah raga ini melayani olah raga di suatu sekolahan, biasanya berbentuk aula, serbaguna dan dapat berbentuk lapangan terbuka serta digunakan hanaya untuk latihan olah raga standar saja. 5. Skala Khusus Fasilitas olah raga yang menangani olah raga jenis tertentu yang sifatnya komersial atau yang diperuntukkan khusus bagi penyandang cacat, biasanya dibentuk oleh pihak swasta.

di 21:36 Diposkan oleh solusi griya 0 komentar Label: SEJARAH ARSITEKTUR Reaksi:

Link ke posting ini

RUMAH JAWA....ON SHOT...

di 21:13 Diposkan oleh solusi griya 0 komentar Label: SEJARAH ARSITEKTUR Reaksi:

Link ke posting ini

Pasar "ANTIQUE" Triwindu

Pasar Triwindu (by Sebastian)

Masa pemerintahan Mangkunegaran VII memiliki hubungan pemerintahan yang baik dengan Keraton kasunanan. Banyak kemajuan dan perubahan bangunan pemerintahan Mangkunegaran pada masa ini. Pada tahun 1939, Sri Mangkunegaran VII genap berusia tiga windu (1916-1939). Untuk memperingati perayaan tersebut, maka diadakan sebuah acara pasar rakyat atau pasar malam untuk rakyatnya yang pada akhirnya pasar tersebut dikenal dengan pasar Triwindu atau Windu Jenar. Pada mulanya pasar Triwindu merupakan pasar biasa atau pasar umum, kemudian

didirikan beberapa kios sebagai kegiatan perdagangan yang tetap dan kebanyakan pedagangnya orang-orang Jawa. Sejak Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942 dan mulai menduduki wilayah Surakarta, keadaan mulai berubah menjadi kesengsaraan dan kesusahan. Saat itu peredaran uang sangat berkurang, maka satu persatu masyarakat mulai menjual koleksi barang antik yang mereka miliki guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada tahun 1953-1954 pasar Triwindu berkembang menjadi pusat jual beli barang-barang antik dan kemudian pada tahun 1970 berkembang menjadi pusat jual beli barang afkiran seperti onderdil kendaraan, besi tua, dan lain sebagainya. Pasar Triwindu yang semula berfungsi sebagai pasar umum berubah menjadi pusat perdagangan barang antik dan barang bekas yang ruang lingkupnya semakin berkurang akibat semakin banyaknya penduduk yang bermukim di area pasar tersebut. Pada awalnya pasar Triwindu hanya berbentuk tanah lapang dan dalam perdagangan masih menjual belikan bermacam-macam barang dagangan yang salah satunya yaitu perdagangan buku pada tahun 1953 yang kemudian berpindah ke belakang Sriwedari dan berlangsung hingga kini. Pada tahun yang sama, Mangkunegaran mulai mendirikan bangunan untuk tempat perdagangan yang berupa los untuk para pedagang yang sebelumnya hanya menggunakan alas untuk tempat berdagangnya. Sebagian bangunan tersebut terbuat dari kayu jati terutama pada tiang dan rangka atap, sedangkan untuk atapnya sendiri ada yang menggunakan genteng namun pula ada yang menggunakan seng. Di antara bangunan-bangunan tersebut terdapat dua bangunan yang menggunakan tembok dan bersifat tertutup yang pada saat ini digunakan sebagai kantor pengelola dan Koperasi Pertapan Triwindu yang merupakan koperasinya para pedagang Triwindu. Pasar Triwindu sekarang telah dikelola oleh pemerintah Kotamadya Surakarta yaitu oleh Dinas Pengelola Pasar. Walaupun sekarang telah menjadi milik Pemerintah Kotamadya Surakarta namun dalam perencanaannya tidak lepas dari Mangkunegaran karena pada awalnya lahan tersebut milik Mangkunegaran. Selain itu lokasi pasar Triwindu terletak di daerah kawasan Mangkunegaran dimana kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai kawasan dengan pola dan bentuk bangunan yang bercorak tradisional. Hal ini dipengaruhi oleh poros ritual sekunder dari mangkunegaran.