Anda di halaman 1dari 18

KARAKTERISTIK PENDERITA PENYAKIT JANTUNG REMATIK (PJR) YANG DIRAWAT INAP DI RSUP H.

ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2004-2008

ABSTRAK Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah penyakit jantung sebagai akibat adanya gejala sisa (sekuele) dari Demam Rematik (DR), yang ditandai denganterjadinya cacat katup jantung. Menurut WHO tahun 2001, dari seluruh kematianakibat penyakit kardiovaskuler, terdapat 1,96% disebabkan oleh PJR. Menurut laporan Depkes RI tahun 2004, jumlah kematian akibat PJR sebesar 120 orang dari1.604 penderita PJR yang dirawat inap di seluruh rumah sakit di Indonesia denganCase Fatality Rate (CFR) 7,48%. Berdasarkan data dari rekam medik RSUP H.Adam Malik Medan dari tahun 2004-2008 tercatat 105 penderita PJR yang dirawat inap.Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain case series yang bertujuanuntuk mengetahui karakteristik penderita PJR di RSUP H.Adam Malik Medan tahun2004-2008. Populasi dan sampel sebanyak 105 orang (total sampling). Datadianalisa dengan uji Chi Square, dan Anova. Ditemukan proporsi terbanyak pada kelompok umur 0-15 tahun (55,2%), perempuan (54,3%), suku Batak (41,0%), agama Islam (62,8%), pendidikanSD/sederajat dan SLTP/sederajat (33,3%), tidak bekerja (62,9%), berasal dari luar kota Medan (56,2%). Sensitivitas keluhan sesak napas (89,5%), riwayat penyakit infeksi Streptococcus beta hemolitycus grup A (100%), klasifikasi PJR dengankeadaan berat (37,1%), penatalaksanaan non bedah (100%), rata-rata lama rawatan12,50 hari (13 hari), sumber pembiayaan Askes (60%), Pulang Berobat Jalan(78,1%). Klasifikasi PJR pada keadaan berat 23,1%, lama rawatan rata-rata 3 haridengan (36,3%). Hasil uji Chi-square diperoleh tidak ada perbedaan yang signifikan antaraumur berdasarkan jenis kelamin (p=0,170), antara umur berdasarkan klasifikasi PJR(p=0,972), antara klasifikasi PJR berdasarkan jenis kelamin (p=0,272), antaraklasifikasi PJR berdasarkan daerah asal (p=0,251), dan berdasarkan sumber pembiayaan (p=0,592). Hasil uji Anova diperoleh tidak ada perbedaan yangsignifikan antara lama rawatan ratarata berdasarkan keadaan sewaktu pulang(p=0,068).Pihak RSUP H.Adam Malik Medan khususnya para dokter disarankan agar memotivasi pasien agar tetap memeriksakan diri untuk terus mendapatkan pengobatan. Selain itu, pihak RSUP H. Adam Malik Medan diharapkan melengkapisistem pencatatan pada rekam medis khususnya yang berkaitan dengan PJR, sepertiriwayat penyakit keluarga, umur terdeteksi PJR, dan lama menderita PJR.

Kata kunci : Penyakit Jantung Rematik, Karakteristik, RSUP H.Adam MalikMedan

ABSTRACT Rheumatic Heart Diseases (RHD) is a heart disease that caused by unfinished symptoms (sekuele) from rheumatic fever, which is marked by the occurrence of heart valve defects. According to WHO reports in 2001, of all deaths due to cardiovasculer disease, 1,96% of them are caused by RHD. According to the Health Department Republic of Indonesia in 2004, the number of deaths due to RHD is 120 people from1.604 RHD patients hospital stay treated in all hospitals in Indonesia with a CaseFatality Rate (CFR) 7,48%. Based on data from medical record H. Adam Malik Central General Hospital Medan from years 2004-2008 recorded 105 people RHDhospital stay treated.This research type is a descriptive with case series design which the aims is to find out the characteristics of RHD in RSUP H. Adam Malik Medan 2004-2008. The population and sample research is 105 people (total sampling). Data analyzed withthe Chi Square test and Anova. Highest proportion found in the age group 0-15 years (55,2%), women(54,3%), Batak tribe (41,0%), Moslem (62,8%), elementary education / equivalent and Junior High School / equal (33,3%), does not have occupation (62,9%), patients from outside of Medan city (56,2%). Sensitivity of Asphyxia symptom (89,5%), patients with hemolitycus beta Streptococcus group A disease infection history(100%), classification of RHD with a seriously condition (37,1%), non-surgicaltreatment (100%), average hospital stay treatment is 12,50 days (13 days), financingby Askes (60%), clinical recovery out patient (78,1%). Classification of RHD with aseriously condition 23,1%, average length of stay 3 days (36,3%).Chi-square test shows that there is no significant differences of age based ongender (p=0,170), age based on classification of RHD (p=0,972), classification of RHD based on gender (p=0,272),classification of RHD based on original region(p=0,251), and based on financing (p=0,592). Anova test shows that there is nosignificant difference in average length of stay based on patient when back homecondition ( p = 0,068). H. Adam Malik Central General Hospital Medan, especially the doctorssuggested that motivate patients to stay to continue to get the control treatment. Inaddition, H. Adam Malik Central General Hospital Medan is expected to completethe registration systems in the medical record, especially that related to RHD, suchas family history of disease, age detected RHD, and how long the patients got RHD. Keywords: Rheumatic Heart Diseases, Characteristics, H. Adam Malik CentralGeneral Hospital Medan

BAB 1PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia dihadapkan pada beban ganda, di satu pihak penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karenamasih banyak kasus belum terselesaikan, bahkan beberapa penyakit menular yangsemula dapat dikendalikan muncul kembali dengan penyebaran tidak mengenal batas- batas daerah maupun batas antar negara. Di lain pihak telah terjadi peningkatan kasus penyakit tidak menular, yaitu penyakit akibat gaya hidup serta penyakit-penyakitdegeneratif. Sejarah perkembangan epidemiologi diawali dengan perhatian yang lebih besar terhadap penyakit menular daripada penyakit tidak menular. Namun perubahan pola struktur masyarakat agraris beralih ke masyarakat industri banyak memberi andilterhadap perubahan pola fertilitas, gaya hidup, sosial ekonomi, yang pada gilirannyadapat memacu semakin meningkatnya penyakit tidak menular. Oleh karena ituepidemiologi dituntut untuk memberikan perhatian kepada penyakit tidak menular karena penyakit tersebut mulai meningkat sesuai dengan perkembangan masyarakat. Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2000 terjadi 55.694.000kematian di dunia, 59% di antaranya akibat penyakit tidak menular dan sisanya oleh penyakit menular. Di Asia Tenggara pada tahun 2001 terdapat 49,7% kematian akibat penyakit tidak menular. Laporan WHO tahun 2001 menunjukkan bahwa Proportional Mortality Ratio (PMR) akibat penyakit kardiovaskuler sebesar 29,3% dari seluruh kematian di dunia.Perincian PMR akibat penyakit kardiovaskuler tersebut adalah penyakit jantungkoroner (43,08%), stroke (32,92%), penyakit jantung hipertensi (5,44%), penyakitradang jantung (2,41%), penyakit jantung rematik (1,96%), dan penyakit jantunglainnya (14,19%) Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah penyakit jantung sebagai akibatadanya gejala sisa (sekuele) dari Demam Rematik (DR), yang ditandai denganterjadinya cacat katup jantung. Prevalens DR di negara berkembang pada tahun 1992 berkisar antara 7,9 sampai 12,6 per 1.000 anak sekolah (dengan umur 5-15 tahun).Data insidens DR di Amerika Tengah tahun 1992 terdapat 1 per 100.000 penduduk dan di Cina terdapat 150 per 100.000 penduduk. Dalam laporan WHO Expert Consultation Geneva pada tahun 2001, angkakematian untuk PJR sebesar 0,5 per 100.000 penduduk di negara maju dan 8,2 per 100.000 penduduk di negara berkembang. Pada tahun 2001 di Asia Tenggara, angkakematian akibat PJR sebesar 7,6 per 100.000 penduduk. Di India pada tahun 1992-1993, prevalens PJR sebesar 1,9-4,8 per 1.000 anak sekolah (dengan umur 5-15tahun). Sedangkan di Nepal (1997) dan Sri Lanka (1998) prevalens PJR masingmasing sebesar 1,2 per 1000 anak sekolah dan 6 per 1000 anak sekolah. Menurut laporan Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Dit PPTM) Depkes RI tahun 2004, dari 1.604 penderita PJR yang dirawat inap diseluruh rumah sakit di Indonesia, terdapat 120 orang yang meninggal akibat PJR dengan Case Fatality Rate (CFR) 7,48%.

Berdasarkan penelitian Prasodo (1993), 15% dari 5.210 penderita jantungyang berobat di Poli Jantung Anak RSU Dr. Soetomo pada periode tahun 1969-1992didiagnosis sebagai PJR. Penelitian Ramli (1993) memperoleh kasus PJR sebesar 21,5% dari semua penyakit jantung yang dirawat inap pada tahun 1988-1992 di RSUDr. Soetomo, Surabaya. Pada dokumen medis RSUP Dr. Sardjito tahun 1993,ditemukan kasus PJR sebesar 8,3% dari seluruh penderita kelainan jantung. Penelitian Hendry (1995) menemukan kasus PJR sebesar 13,18% dari seluruh penderita penyakit jantung yang berobat jalan di Poli Kardiologi Dewasa RSU Dr.Soetomo pada tahun 1995. Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, data padatahun 1996 selama periode Januari-Juli terdapat 22% dari seluruh penderita yangdirawat di ruang kardiologi RSU Dr. Soetomo adalah penderita PJR. Berdasarkan hasil survei awal yang dilakukan di RSUP H.Adam Malik Medan dari tahun 2004-2008 tercatat 105 penderita PJR yang dirawat inap denganrincian, pada tahun 2004 sebanyak 12 orang, tahun 2005 sebanyak 8 orang, tahun2006 sebanyak 30 orang, tahun 2007 sebanyak 31 orang, dan tahun 2008 sebanyak 24 orang.Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentangkarakteristik penderita PJR yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik pada tahun2004-2008.

1.2. Perumusan Masalah Belum diketahui karakteristik penderita PJR yang dirawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2004-2008. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui karakteristik penderita PJR yang dirawat inap di RSUP H.Adam Malik Medan tahun 2004-2008. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkansosiodemografi (umur, jenis kelamin, suku, agama, pendidikan, pekerjaan,daerah asal). b. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan keluhanutama. c. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan umur terdeteksi PJR. d. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan lamamenderita PJR. e. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan riwayat penyakit terdahulu. f. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan riwayat penyakit keluarga. g. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan klasifikasiPJR.

h. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan penatalaksanaan medis i. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan lamarawatan rata-rata. j. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR sumber pembiayaan penderita PJR. k. Untuk mengetahui distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan keadaansewaktu pulang. l. Untuk mengetahui proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan tahun. m. Untuk mengetahui umur rata-rata penderita PJR yang meninggal. n. Untuk mengetahui proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan umur. o. Untuk mengetahui proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan jeniskelamin. p. Untuk mengetahui proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkanklasifikasi PJR. q. Untuk mengetahui lama rawatan rata-rata penderita PJR yang meninggal. r. Untuk mengetahui perbedaan proporsi umur berdasarkan jenis kelamin penderita PJR. s. Untuk mengetahui perbedaan proporsi umur penderita PJR berdasarkanklasifikasi PJR. t. Untuk mengetahui perbedaan proporsi klasifikasi PJR berdasarkan jeniskelamin penderita PJR. u. Untuk mengetahui perbedaan proporsi klasifikasi PJR berdasarkan daerahasal. v. Untuk mengetahui perbedaan proporsi klasifikasi PJR berdasarkan keadaansewaktu pulang. w. Untuk mengetahui perbedaan proporsi klasifikasi PJR berdasarkan sumber pembiayaan. x. Untuk mengetahui perbedaan lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaansewaktu pulang. y. Untuk mengetahui perbedaan proporsi sumber pembiayaan berdasarkankeadaan sewaktu pulang.

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Sebagai bahan masukan bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan tentangkarakteristik penderita PJR yang dirawat inap tahun 2004-2008 sehinggadapat berguna dalam menyediakan fasilitas pengobatan yang lebih baik bagi penderita PJR.

1.4.2. Sebagai sumber informasi atau referensi bagi pihak lain yang inginmelakukan penelitian tentang PJR. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anatomi Jantung

Jantung adalah organ muskular yang berlubang yang berfungsi sebagai pompaganda sistem kardiovaskuler. Sisi kanan jantung memompa darah ke paru sedangkansisi kiri jantung memompa darah ke seluruh tubuh. Jantung merupakan organ yang terdiri atas beberapa lapisan, seperti perikardium, miokardium, dan endokardium. Perikardium terdiri atas lapisan viseral bagian dalam yang menutupi jantung dan lapisan parietal luar yang membentuk kantung perikardium. Permukaan jantung yang diliputi oleh lapisan viseral disebutdengan epikardium, yang meluas sampai beberapa sentimeter di atas pangkal aortadan arteri pulmonal yang selanjutnya akan berefleksi menjadi lapisan parietal. Miokardium terdiri atas serat otot lurik mengandung miofibril yang terdiridari unit kontraktil berulang secara serial yang disebut sarkomer. Lapisan inimerupakan otot utama jantung yang melaksanakan pemompaan untuk mensirkulasidarah. Endokardium merupakan lapisan yang membatasi permukaan dalam ruang jantung dan katup jantung. Jantung mempunyai 4 ruang yang terdiri dari atrium kanan, ventrikel kanan,atrium kiri, dan ventrikel kiri. Atrium kanan adalah tempat mengalirnya darah venayang sebelumya mengalir ke dalam jantung melalui vena cava superior dan inferior. Secara fungsional ventrikel kanan dapat dibagi dalam alur masuk dan alur keluar. Ruang alur masuk ventrikel kanan dibatasi oleh katup trikuspid trabekelnaterior dan dinding inferior ventrikel kanan berbentuk corong yang disebut denganinfundibulum atau kanus arteiosus. Ventrikel kanan ini memiliki ketebalan dindingkurang dari 0,5 cm. Atrium kiri memiliki tebal dinding 3 mm, sedikit lebih tebal daripada dindingatrium kanan dan menerima darah dari 4 vena pulmonal yang bermuara pada dinding postero superior atau postero lateral. Ventrikel kiri berbentuk lonjong dan tebalnyaadalah 23 kali lipat dinding ventrikel kanan, sehingga menempati 75 % massa otot jantung seluruhnya. Jantung mempunyai empat katup utama yang terbuat dari jaringanendokardium. Katup merupakan bangunan mirip penutup yang membuka danmenutup sebagai respon terhadap pemompaan jantung. Katup terletak pada daerah jantung, seperti katup bikuspidal (antara atrium kanan dan ventrikel kanan), katup pulmonal (antara ventrikel kanan dan arteri pulmonal), katup mitral (antara atriumkiri dan ventrikel kiri), dan katup aorta (antara ventrikel kiri dan aorta). 2.2. Sifat-Sifat Otot Jantung Otot jantung mempunyai sifat-sifat khas, seperti ritme, konduktivitas (dayashantar), dan kontraksi. Ritme merupakan kesanggupan otot jantung secara otomatisdan periodik untuk mengadakan rangsangan. Konduktivitas (daya hantar) adalahkesanggupan otot jantung menghantarkan rangsang melalui jaringan khusus maupunmiokard. Kontraksi merupakan kesanggupan otot jantung memompa darah yangmasuk sewaktu diastol keluar dari ruang jantung. 2.3. Denyut Jantung Pada orang dewasa denyut jantung rata-rata 70 kali per menit dan memompadarah 70 mililiter setiap denyut. Denyut jantung tersebut dapat menurun pada waktutidur sebanyak 10-20 kali per menit dan dapat meningkat dalam keadaan emosisampai mencapai di atas 100 kali. Sedangkan pada waktu banyak bergerak kecepatan jantung dapat menjadi 150 kali per menit dengan volume denyutan lebih dari 150mililiter yang membuat daya pompa jantung sampai 10-20 liter setiap menit. 2.4. Penyakit Jantung Rematik (PJR)2.4.1.

Definisi PJR Menurut WHO, Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah cacat jantung akibatkarditis rematik. Menurut Afif. A (2008), Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah penyakit jantung sebagai akibat adanya gejala sisa (sekuele) dari Demam Rematik (DR), yang ditandai dengan terjadinya cacat katup jantung. Definisi lain mengatakan bahwa Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah hasildari DR, yang merupakan suatu kondisi yang dapat terjadi 2-3 minggu setelah infeksi streptococcus beta hemolitycus grup A pada saluran nafas bagian atas. 2.4.2. Klasifikasi PJR PJR lebih sering terjadi pada penderita yang menderita keterlibatan jantungyang berat pada serangan DR akut. PJR kronik dapat ditemukan tanpa adanyariwayat DR akut. Hal ini terutama didapatkan pada penderita dewasa denganditemukannya kelainan katup. Kemungkinan sebelumnya penderita tersebutmengalami serangan karditis rematik subklinis, sehingga tidak berobat dan tidak didiagnosis pada stadium akut. Kelainan katup yang paling sering ditemukan adalah pada katup mitral, kira-kira tiga kali lebih banyak daripada katup aorta. Klasifikasi PJR memiliki 4 (empat) bagian, di antaranya insufisiensi mitral,stenosis mitral, insufisiensi aorta, dan stenosis aorta. a. Insufisiensi Mitral (Regurgitasi Mitral) Insufisiensi mitral merupakan lesi yang paling sering ditemukan pada masaanak-anak dan remaja dengan PJR kronik. Pada keadaan ini bisa juga terjadi pemendekan katup, sehingga daun katup tidak dapat tertutup dengan sempurna. Penutupan katup mitral yang tidak sempurna menyebabkan terjadinya regurgitasidarah dari ventrikel kiri ke atrium kiri selama fase sistol. Pada kelainan ringan tidak terdapat kardiomegali, karena beban volume maupun kerja jantung kiri tidak bertambah secara bermakna. Hal ini bisa dikatakan bahwa insufisiensi mitralmerupakan klasifikasi ringan, karena tidak terdapat kardiomegali yang merupakansalah satu gejala gagal jantung. Tanda-tanda fisik insufisiensi mitral utama tergantung pada keparahannya.Pada penyakit ringan, tanda-tanda gagal jantung tidak akan ada. Pada insufisiensi berat, terdapat tanda-tanda gagal jantung kongestif kronis, meliputi kelelahan, lemah, berat badan turun, pucat. b. Stenosis Mitral Stenosis mitral merupakan kelainan katup yang paling sering diakibatkan olehPJR. Perlekatan antar daun-daun katup, selain dapat menimbulkan insufisiensi mitral(tidak dapat menutup sempurna) juga dapat menyebabkan stenosis mitral (tidak dapatmembuka sempurna). Ini akan menyebabkan beban jantung kanan akan bertambah,sehingga terjadi hipertrofi ventrikel kanan yang dapat menyebabkan gagal jantungkanan. Dengan terjadinya gagal jantung kanan, stenosis mitral termasuk ke dalamkondisi yang berat. c. Insufisiensi Aorta (Regurgitasi Aorta) PJR menyebabkan sekitar 50% kasus regurgitasi aorta. Pada sebagian besar kasus ini terdapat penyakit katup mitralis serta stenosis aorta. Regurgitasi aortadapat disebabkan oleh dilatasi aorta, yaitu penyakit pangkal aorta. Kelainan inidapat terjadi sejak awal perjalanan penyakit akibat perubahan-perubahan yang terjadisetelah proses radang rematik pada katup aorta. Insufisiensi

aorta ringan bersifatasimtomatik. Oleh karena itu, insufisiensi aorta juga bisa dikatakan sebagaiklasifikasi PJR yang ringan. Tetapi apabila penderita PJR memiliki insufisiensi mitraldan insufisiensi aorta, maka klasifikasi tersebut dapat dikatakan sebagai klasifikasiPJR yang sedang. Hal ini dapat dikaitkan bahwa insufisiensi mitral dan insufisiensi aorta memiliki peluang untuk menjadi klasifikasi berat, karena dapat menyebabkangagal jantung. d. Stenosis aorta Stenosis aorta adalah obstruksi aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta dimana lokasi obstruksi dapat terjadi di valvuler, supravalvuler, dan subvalvuler.Gejala-gejala stenosis aorta akan dirasakan penderita setelah penyakit berjalan lanjuttermasuk gagal jantung dan kematian mendadak. Pemeriksaan fisik pada stenosisaorta yang berat didapatkan tekanan nadi menyempit dan lonjakan denyut arterimelambat. 2.5. Epidemiologi PJR 2.5.1. Distribusi Frekuensi Angka kesakitan Penyakit Jantung dan pembuluh Darah (PJPD) di AmerikaSerikat pada tahun 1996, dilaporkan hampir mencapai 60 juta penderita, di mana 1,8 juta di antaranya menderita PJR. Statistik rumah sakit di negara berkembang padatahun 1992 menunjukkan sekitar 10-35% dari penderita penyakit jantung yang masuk ke rumah sakit adalah penderita DR dan PJR. Insidens PJR tertinggi dilaporkan terjadi pada suku Samoan di KepulauanHawaii sebesar 206 penderita per 100.000 penduduk pada periode tahun 1980-1984. Prevalens PJR di Ethiopia (Addis Ababa) tahun 1999 adalah 6,4 per 100.000 penduduk pada kelompok usia 5-15 tahun. Dari klasifikasi PJR, yakni stenosismitral, ditemukan perempuan lebih sering terkena daripada laki-laki dengan perbandingan 7:1. 2.5.2. Faktor Risiko Faktor risiko yang berpengaruh pada timbulnya PJR dibagi menjadi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik.Faktor intrinsik, antara lain : a. Demam Rematik (DR)a.1. Definisi DR Menurut WHO, definisi DR adalah sindrom klinis sebagai salah satuakibat infeksi kuman Streptococcus beta hemolitycus grup A, yang ditandai oleh satuatau lebih manifestasi mayor (karditis, poliartritis, chorea, nodul subkutan, daneritema marginatum) dan mempunyai ciri khas untuk kambuh kembali. Menurut Stollerman, DR adalah penyakit radang yang terjadi akibatsekuele akhir infeksi faring dengan Streptococcus beta hemolitycus grup A. Penyakitini terutama mengenai jantung, sendi, sistem saraf pusat, kulit, dan jaringansubkutan. a.2. Etiologi DR Infeksi Streptococcus beta hemolitycus grup A pada tenggorok selalumendahului terjadinya DR, baik pada serangan pertama maupun serangan ulang.Untuk menyebabkan serangan DR, Streptococcus beta hemolitycus grup A harusmenyebabkan infeksi pada faring, bukan hanya kolonisasi superfisial. Straintertentu dari Streptococcus beta hemolitycus grup A terdiri dari antigen membran selyang

mengadakan reaksi silang dengan antigen jaringan jantung manusia. Serum dari penderita demam rematik mengandung antibodi terhadap antigen ini. a.3. Patogenesis Beberapa penelitian berpendapat bahwa DR yang mengakibatkan PJR terjadi akibat sensitisasi dari antigen Streptococcus beta hemolitycus grup A sesudah1-4 minggu infeksi Streptococcus beta hemolitycus grup A di faring. Streptococcus adalah bakteri gram positif berbentuk bulat, berdiameter 0,5-1 mikron danmempunyai karakteristik dapat membentuk pasangan atau rantai selama pertumbuhannya. 21,22 Streptococcus beta hemolitycus grup A ini terdiri dari dua jenis, yaitu hemolitik dan non hemolitik . Yang menginfeksi manusia pada umumnya jenis hemolitik . Lebih kurang 95% pasien menunjukkan peninggian titer antistreptolisin O (ASTO), antideoksiribonukleat B (anti DNA-ase B) yang merupakan dua jenis tesyang biasa dilakukan untuk infeksi kuman Streptococcus beta hemolitycus grup A. DR merupakan manifestasi yang timbul akibat kepekaan tubuh yang berlebihan (hipersensitivas) terhadap beberapa produk yang dihasilkan oleh Streptococcus beta hemolitycus grup A. Kaplan mengemukakan hipotesis tentangadanya reaksi silang antibodi terhadap Streptococcus beta hemolitycus grup A denganotot jantung yang mempunyai susunan antigen mirip antigen Streptococcus betahemolitycus grup A. Hal inilah yang menyebabkan reaksi autoimun. Dalam keadaan normal, sistem imun dapat membedakan antigen tubuh sendiridari antigen asing, karena tubuh mempunyai toleransi terhadap self antigen, tetapi pengalaman klinis menunjukkan bahwa adakalanya timbul reaksi autoimun.Reaksi autoimun adalah reaksi sistem imun terhadap antigen sel jaringan sendiri. Antigen tersebut disebut autoantigen, sedang antibodi yang dibentuk disebutautoantibodi.Reaksi autoantibodi dan autoantigen yang menimbulkan kerusakan jaringandan gejala-gejala klinis disebut penyakit autoimun, sedangkan bila tidak disertaigejala klinis disebut fenomena autoimun. Oleh karena itu pada umumnya para ahlisependapat bahwa DR termasuk dalam panyakit autoimun. a.4. Manifestasi Klinis DR Demam Rematik (DR) akut terdiri dari sejumlah manifestasi klinis, diantaranya artritis, karditis, chorea, nodulus subkutan, dan eritema marginatum.Berbagai manifestasi ini cenderung terjadi bersama-sama dan dapat dipandangsebagai sindrom, yaitu manifestasi ini terjadi pada pasien yang sama, pada saat yangsama atau dalam urutan yang berdekatan.Manifestasi klinis ini dapat dibagi menjadi manifestasi klinis mayor danmanifestasi klinis minor, yaitu :a.4.1. Manifestasi Klinis Mayor Manifestasi klinis mayor terdiri dari artritis, karditis, chorea, eritemamarginatum, dan nodul subkutan. Artritis adalah gejala mayor yang sering ditemukan pada DR akut. Munculnya tiba-tiba dengan rasa nyeri yang meningkat 12-24 jamyang diikuti dengan reaksi radang. Biasanya mengenai sendi-sendi besar seperti lutut, pergelangan kaki, siku, pergelangan tangan. Sendi yang terkena menunjukkan gejala-gejala radang seperti bengkak, merah, panas sekitar sendi, nyeri dan terjadi gangguan fungsi sendi Kelainan pada tiap sendi akan menghilang sendiri tanpa pengobatan dalam beberapa hari sampai 1 minggu dan seluruh gejala sendi biasanya hilang dalam waktu5 minggu, tanpa gejala sisa apapun. Karditis merupakan proses peradangan aktif yang mengenai endokardium,miokardium, dan

perikardium. Dapat salah satu saja, seperti endokarditis,miokarditis, dan perikarditis. Endokarditis dapat menyebabkan terjadinya perubahan- perubahan pada daun katup menyebabkan terdengarnya bising yang berubah-ubah.Ini menandakan bahwa kelainan yang ditimbulkan pada katup belum menetap.Miokarditis ditandai oleh adanya pembesaran jantung dan tanda-tanda gagal jantung.Sedangkan perikarditis adalah nyeri pada perikardial. Bila mengenai ketiga lapisansekaligus disebut pankarditis.Karditis ditemukan pada sekitar 50% pasien DR akut. Gejala dini karditisadalah rasa lelah, pucat, tidak bergairah, dan anak tampak sakit meskipun belum adagejala-gejala spesifik. Karditis merupakan kelainan yang paling serius pada DR akut,dan dapat menyebabkan kematian selama stadium akut penyakit. Diagnosis kliniskarditis yang pasti dapat dilakukan jika satu atau lebih tanda berikut ini dapatditemukan, seperti adanya perubahan sifat bising jantung organik, ukuran jantungyang bertambah besar, terdapat tanda perikarditis, dan adanya tanda gagal jantungkongestif. Chorea merupakan gangguan sistem saraf pusat yang ditandai olehgerakan tibatiba, tanpa tujuan, dan tidak teratur, seringkali disertai kelemahan ototdan emosi yang tidak stabil. Gerakan tanpa disadari akan ditemukan pada wajah dananggota-anggota gerak tubuh. Gerakan ini akan menghilang pada saat tidur. Chorea biasanya muncul setelah periode laten yang panjang, yaitu 2-6 bulan setelah infeksi streptococcus dan pada waktu seluruh manifestasi demamrematik lainnya mereda. Chorea ini merupakan satu-satunya manifestasi klinis yangmemilih jenis kelamin, yakni dua kali lebih sering pada anak perempuandibandingkan pada laki-laki. Eritema marginatum merupakan manifestasi DR pada kulit, berupa bercak-bercak merah muda dengan bagian tengahnya pucat sedangkan tepinya berbatas tegas, berbentuk bulat atau bergelombang, tidak nyeri, dan tidak gatal.Tempatnya dapat berpindah-pindah, di kulit dada dan bagian dalam lengan atas atau paha, tetapi tidak pernah terdapat di kulit muka. Eritema marginatum ini ditemukankira-kira 5% dari penderita DR dan merupakan manifestasi mayor yang sukar didagnosis. Nodul subkutan merupakan manifestasi mayor DR yang terletak di bawahkulit, keras, tidak terasa sakit, mudah digerakkan, berukuran antara 3-10 mm. Kulit diatasnya dapat bergerak bebas. Biasanya terdapat di bagian ekstensor persendianterutama sendi siku, lutut, pergelangan tangan dan kaki. Nodul ini timbul selama 610minggu setelah serangan DR akut. a.4.2. Manifestasi Klinis Minor Manifestasi klinis minor merupakan manifestasi yang kurang spesifik tetapidiperlukan untuk memperkuat diagnosis demam rematik. Manifestasi klinis minor inimeliputi demam, artralgia, nyeri perut, dan epistaksis. Demam hampir selalu ada pada poliartritis rematik. Suhunya jarang melebihi39C dan biasanya kembali normal dalam waktu 2 atau 3 minggu, walau tanpa pengobatan. Artralgia adalah nyeri sendi tanpa tanda objektif pada sendi, sepertinyeri, merah, hangat, yang terjadi selama beberapa hari/minggu. Rasa sakit akan bertambah bila penderita melakukan latihan fisik. Gejala lain adalah nyeri perut danepistaksis, nyeri perut kadang-kadang menyerupai appendisitis akut. Sedangkanepistaksis ini membuat penderita kelihatan pucat dan epistaksis berulang merupakantanda subklinis dari DR. a.5. Prognosis Morbiditas DR akut berhubungan erat dengan derajat keterlibatan jantung.Mortalitas sebagian besar juga akibat karditis berat. Profilaksis sekunder yang efektif mencegah kambuhnya DR akut hingga mencegah jantung semakin memburuk.Dengan kata lain, profilaksis dapat memberikan

prognosis yang baik, bahkan pada penderita penyakit jantung yang berat. Oleh karena itu, prognosis demam rematik ditentukan oleh (1) beratnya penyakit akut; (2) persebaran ke jantung; (3) usia pasien DR akut, pada anak berusia< 5 tahun memiliki resiko tertinggi terhadap timbulnya karditis; (4) rekurensi,semakin besar jumlah rekurensi semakin tinggi insidens PJR kronis yang terjadi. Hal ini merupakan alasan pemberian terapi profilaktik penisilin jangka panjang untuk mencegah infeksi streptococcus dan juga kekambuhan demamrematik. a.6. Diagnosis DR akut ditandai oleh berbagai manifestasi klinis dan uji laboratorium.Oleh karena itu diagnosis DR didasarkan pada gabungan gejala dan tanda klinis sertakelainan laboratorium. Diagnosis DR tersebut ditetapkan pada tahun 1944 oleh Dr. T.Duchett Jones, yang disebut dengan Kriteria Jones. Beliau menyusun kriteriasistematik untuk menegakkan diagnosis DR. Setelah itu, kriteria ini dimodifikasi pada tahun 1955, selanjutnya direvisitahun 1965, kemudian diedit tahun 1984, dan terakhir tahun 1992 oleh SpecialWriting Group of the Committee on Rheumatic Fever, Endocarditis and Kawasaki Disease of the Council on Cardiovascular Disease in the Young of the American Heart Association melakukan update Kriteria Jones yang telah dimodifikasi, direvisidan diedit selama beberapa tahun dan disebut sebagai Kriteria Jones Update dandigunakan untuk menegakkan diagnosis DR sampai saat ini. Faktor DR tersebut juga sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor,di antaranya faktor genetik, umur, dan jenis kelamin.Faktor genetik memiliki hubungan dengan kejadian DR yaitu denganterdapatnya beberapa orang dalam satu keluarga yang menderita penyakit ini, sertafakta bahwa DR lebih sering mengenai saudara kembar monozigotik daripada kembar dizigotik. Selain itu, PJR termasuk ke dalam penyakit yang disebabkan oleh reaksihipersensitivitas dari produk-produk yang dihasilkan oleh Streptococcus betahemolitycus grup A. Konsep genetika ini diperkuat oleh penemuan yangmempergunakan teknologi yang canggih, yaitu bahwa pada penderita DR ditemukanantigen HLA (Human Leucocyte Antygen ) tertentu. Umur merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya DR. Penyakitini paling sering mengenai anak berumur antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Distribusi ini sesuai dengan insidens infeksi Streptococcus pada anak usia sekolah. Prevalensi penyakit jantung rematik di Indonesia sebesar 0,3-0,8 per 100.000 penduduk usia 5-15 tahun. DR lebih sering didapatkan pada anak perempuan daripada laki-laki. Begitu juga dengan kelainan katup sebagai gejala sisa PJR juga menunjukkan perbedaan jenis kelamin. Pada orang dewasa gejala sisa berupa stenosis mitral lebih seringdidapatkan pada perempuan, sedangkan insufisiensi aorta lebih sering ditemukan pada lakilaki. Faktor ekstrinsik, antara lain : a. Keadaan Sosial Ekonomi yang Buruk Tingkat sosial ekonomi merupakan faktor penting dalam terjadinya DR.Golongan masyarakat dengan tingkat pendidikan dan pendapatan yang rendah dengansegala manifestasinya, seperti ketidaktahuan, perumahan dan lingkungan yang buruk,tempat tinggal yang berdesakan, dan pelayanan kesehatan yang kurang baik,merupakan golongan yang paling rawan. Pengalaman di negara-negara yang sudahmaju menunjukkan bahwa angka kejadian DR akan menurun seiring dengan perbaikan tingkat sosial ekonomi masyarakat negara tersebut. Menurut penelitianMbeza,

masyarakat yang hidup dengan tingkat sosial ekonomi rendah memilikiresiko 2,68 kali menderita DR (RR=2.68). b. Iklim dan Geografi Penyakit DR ini terbanyak didapatkan di daerah beriklim sedang, tetapidaerah tropis pun mempunyai insidens yang tinggi. Di daerah yang letaknya tinggimempunyai insidens DR lebih tinggi daripada di dataran rendah. Perubahan cuacayang mendadak sering mengakibatkan insidens infeksi saluran nafas bagian atasmeningkat, sehingga insidens DR juga meningkat. Pada musim hujan kemungkinanterjadinya PJR 3,24 kali (RR=3,24). 2.6. Pencegahan PJR2.6.1.

Pencegahan Primordial Tahap pencegahan ini bertujuan memelihara kesehatan setiap orang yangsehat supaya tetap sehat dan terhindar dari segala macam penyakit termasuk penyakit jantung. Untuk mengembangkan tubuh maupun jiwa serta memelihara kesehatan dankekuatan, maka diperlukan bimbingan dan latihan supaya dapat mempergunakantubuh dan jiwa dengan baik untuk melangsungkan hidupnya sehari-hari.Cara tersebut adalah dengan menganut suatu cara hidup sehat yang mencakup,memakan makanan dan minuman yang menyehatkan, gerak badan sesuai dengan pekerjaan sehari-hari dan berolahraga, usaha menghindari dan mencegah terjadinyastres, dan memelihara lingkungan hidup yang sehat. 2.6.2. Pencegahan Primer Pencegahan primer ini ditujukan pada penderita DR. Terjadinya DR seringkalidisertai pula dengan adanya PJR akut sekaligus. Maka usaha pencegahan primer terhadap PJR akut sebaiknya dimulai terutama pada pasien anak-anak yang menderita penyakit radang oleh streptococcus beta hemolitycus grup A pada pemeriksaan THT(telinga, hidung, tenggorokan), di antaranya dengan melakukan pemeriksaan radang pada anak-anak yang menderita radang THT, yang biasanya menyebabkan batuk, pilek, dan sering juga disertai panas badan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kuman apa yang menyebabkan radang pada THT tersebut. Selain itu, dapat juga diberikan obat antiinfeksi, termasuk golongan sulfa untuk mencegah berlanjutnya radang dan untuk mengurangikemungkinan terjadinya DR. Pengobatan antistreptokokus dan antirematik perludilanjutkan sebagai usaha pencegahan primer terhadap terjadinya PJR akut. 2.6.3. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder ini dilakukan untuk mencegah menetapnya infeksi streptococcus beta hemolitycus grup A pada bekas pasien DR. Pencegahan tersebutdilakukan dengan cara, di antaranya :1. Eradikasi kuman Streptococcus beta hemolitycus grup APemusnahan kuman Streptococcus harus segera dilakukan setelah diagnosisditegakkan, yakni dengan pemberian penisilin dengan dosis 1,2 juta unit selama 10hari. Pada penderita yang alergi terhadap penisilin, dapat diganti dengan eritromisindengan dosis maksimum 250 mg yang diberikan selama 10 hari.Hal ini harus tetap dilakukan meskipun biakan

usap tenggorok negatif, karenakuman masih ada dalam jumlah sedikit di dalam jaringan faring dan tonsil. 2. Obat anti radangPengobatan anti radang cukup efektif dalam menekan manifestasi radang akutdemam reumatik, seperti salisilat dan steroid. Kedua obat tersebut efektif untuk mengurangi gejala demam, kelainan sendi serta fase reaksi akut. Lebih khusus lagi,salisilat digunakan untuk demam rematik tanpa karditis dan steroid digunakan untuk memperbaiki keadaan umum anak, nafsu makan cepat bertambah dan laju endapan darah cepat menurun. Dosis dan lamanya pengobatan disesuaikan dengan beratnya penyakit. 3. DietBentuk dan jenis makanan disesuaikan dengan keadaan penderita. Padasebagian besar kasus diberikan makanan dengan kalori dan protein yang cukup.Selain itu diberikan juga makanan mudah cerna dan tidak menimbulkan gas, dan seratuntuk menghindari konstipasi. Bila kebutuhan gizi tidak dapat dipenuhi melaluimakanan dapat diberikan tambahan berupa vitamin atau suplemen gizi. 4. Tirah baringSemua pasien demam rematik akut harus tirah baring di rumah sakit. Pasienharus diperiksa tiap hari untuk pengobatan bila terdapat gagal jantung. Karditishampir selalu terjadi dalam 2-3 minggu sejak dari awal serangan, sehingga pengamatan yang ketat harus dilakukan selama masa tersebut. 2.6.4. Pencegahan Tertier Pencegahan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi, di mana penderita akan mengalami klasifikasi dari PJR, seperti stenosis mitral, insufisiensimitral, stenosis aorta, dan insufisiensi aorta

KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan 7.1.1. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan sosiodemografi terbanyak padakelompok umur 0-15 tahun (55,2%), berjenis kelamin perempuan (54,3%),agama Islam (62,8%), suku Batak (41,0%), pendidikan SD/sederajat danSLTP/sederajat (33,3%), tidak bekerja (62,9%), dan berasal dari luar kotaMedan (56,2%). 7.1.2. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan keluhan utama terbanyak padakeluhan sesak napas (89,5%). 7.1.3. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan umur terdeteksi PJR tidak dapat ditunjukkan karena tidak terdapat pada kartu status. 7.1.4. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan lama menderita PJR tidak dapatditunjukkan karena tidak terdapat pada kartu status. 7.1.5. Seluruh penderita PJR memiliki riwayat penyakit terdahulu berupa infeksi Streptococcus beta hemolitycus grup A (100%). 7.1.6 Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan riwayat penyakit keluarga tidak dapat ditunjukkan karena tidak terdapat pada kartu status.

7.1.7. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan klasifikasi PJR terbanyak padakeadaan berat (37,1%). 7.1.8. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan penatalaksanaan medisterbanyak non bedah (100%) 7.1.9. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan lama rawatan rata-rata 12,50hari (13 hari). 7.1.10. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan sumber pembiayaan terbanyak Askes (60%). 7.1.11. Distribusi proporsi penderita PJR berdasarkan keadaan sewaktu pulangterbanyak Pulang Berobat Jalan (78,1%). 7.1.12. Proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan tahun tertinggi padatahun 2005 sebesar 25%. 7.1.13. Distribusi proporsi umur rata-rata penderita PJR yang meninggal 22 tahun. 7.1.14. Proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan umur terbanyak padakelompok umur >15 tahun 10,6%. 7.1.15. Proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan jenis kelamin terbanyak pada perempuan 10,6%. 7.1.16. Proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan klasifikasi PJR terbanyak pada keadaan berat d23,1%. 7.1.17. Distribusi proporsi penderita PJR yang meninggal berdasarkan lama rawatanrata-rata 36,3% dengan lama rawatan rata-rata 3 hari. 7.1.18. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara umur penderita PJR dengan jeniskelamin (p>0,05). 7.1.19. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara umur penderita PJR denganklasifikasi PJR (p>0,05). 7.1.20. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara klasifikasi PJR dengan jeniskelamin (p>0,05). 7.1.21. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara klasifikasi PJR dengan daerahasal (p>0,05). 7.1.22. Tidak dapat dilakukan analisa antara variabel klasifikasi PJR berdasarkankeadaan sewaktu pulang dengan menggunakan uji Chi Square karena terdapat6 sel (66,7%) mempunyai expected count kurang dari 5. 7.1.23. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara klasifikasi PJR dengan sumber pembiayaan (p>0,05). 7.1.24. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara lama rawatan rata-rata berdasarkan keadaan sewaktu pulang (p>0,05).

7.1.25. Tidak dapat dilakukan analisa antara variabel sumber pembiayaan berdasarkan keadaan sewaktu pulang dengan menggunakan uji Chi Square karena terdapat 3 sel (33,3%) mempunyai expected count kurang dari 5. 7.2. Saran 7.2.1. Pihak RSUP H.Adam Malik Medan khususnya para dokter disarankan agar memotivasi pasien agar tetap memeriksakan diri untuk terus mendapatkan pengobatan. 7.2.2. Diharapkan kepada pihak RSUP H.Adam Malik Medan untuk memberikan penanganan yang intensif kepada pasien, agar proporsi penderita PJR yangmeninggal bisa menurun. 7.2.3. Diharapkan kepada pihak RSUP H.Adam Malik Medan agar melengkapisistem pencatatan rekam medis khususnya yang berkaitan dengan PJR, sepertiriwayat penyakit keluarga, umur terdeteksi PJR, dan lama menderita PJR.

DAFTAR PUSTAKA 1. Depkes RI. 2006.Pedoman Teknis Penemuan dan Tatalaksana PenyakitHipertensi. Jakarta : Dit PPTM dan Ditjen PP&PL. 2. Bustan, M.N. 2000.Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta : PT.Rineka Cipta. 3. Depkes RI. 2007. Pedoman Pengendalian Penyakit Jantung danPembuluh Darah. Jakarta : Dit PPTM dan Ditjen PP&PL. 4. WHO. 2002. The World Health Report 2001 : Reducing Risks, PromotingHealthy Life . www.who.int 5. Afif, A. 2008.Demam Rematik dan Penyakit Jantung RematikPermasalahan Indonesia. Medan : FK USU.www.usu.ac.id 6. Depkes RI. 2005.Profil Kesehatan Indonesia 2004. Jakarta : Dit PPTM.www.depkes.go.id 7. Boestan, I.N. 2007.Penyakit Jantung Katup. Surabaya : AirlanggaUniversity Press. 8. Noer, S. 1998.Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid 1, Edisi 3. Jakarta :Balai Penerbit FK UI 9. Atwood, S. 1996.Berbagai Macam Disritmia Jantung. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press. 10. Chandrasoma, P. 2006. Ringkasan Patologi Anatomi. Jakarta : EGC. 11.Piere, E.C. 1992. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT.Gramedia. 12. Priyanto, D. 2007. Jantung dan Pembuluh Darah. WordPress.adedq.files.wordpress.com 13. Guyton. 1993.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 8, Jakarta : EGC 14. Afif, A, dkk. 1988.Permasalahan Demam Rematik dan PenyakitJantung Rematik . Jakarta : Asian Society of Pediatric Cardiology danBagian Kardiologi FK UI RS Jantung Harapan Kita

15.Underwood, J.C.E. 2000.Patologi Umum dan Sistemik . Vol. 2. Edisi 2.Jakarta : EGC. 16. Sastroasmoro, S, dkk. 1994. Buku Ajar Kardiologi Anak. Jakarta : IkatanDokter Anak Indonesia. 17. Hassan, R, dkk. 2005. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak . Jakarta :Infomedika. 18. Sudoyo, A. 2006. Ilmu Penyakit Dalam . Jilid 3. Edisi 4. Jakarta :Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI. 19. Asdie, A.H. 2000. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam . Vol.3. Jakarta :EGC. 20. Ulfah, A. 2000. Gejala Awal dan Deteksi Dini Penyakit JantungKoroner .www.pusdiknakes.or.id 21. Brooks, G.F, dkk. 2001. Mikrobiologi Kedokteran . Jakarta : SalembaMedika. 22. Tobing, T.C.L. 1998. Hubungan Manifestasi dan PemeriksaanPenunjang dengan Gambaran Ekokardiografi pada DemamRematik Akut dan Penyakit Jantung Rematik Anak . Medan : FK USU. 23. Wikipedia, 2009. Cross Reactivity . Wikimedia Foundation Inc.www.wikipedia.org 24. Rilantono, L.I, dkk. 1998. Buku Ajar Kardiologi . Jakarta : Balai PenerbitFK UI. 25.Arvin, B.K. 2000.Ilmu Kesehatan Anak . Vol.2. Edisi 15. Jakarta : EGC. 26.Joewono, B.S. 2003. Ilmu Penyakit Jantung . Surabaya : AirlanggaUniversity Press. 27. Suprihati, dkk. 2006. Faktor Streptococcus Hemolitycus Beta Grup -A PadaPenderita Infeksi Saluran Pernapasan Atas Di RSUP Dr. Karyadi Semarang. FK UNDIP. www.litbang.depkes.go.id 28. Mbeza, B.L. 2007. Survey of rheumatic heart disease in school children of Kinshasa town. International Journal of Cardiology , Volume 63,Issue 3, Pages 287-294. http://linkinghub.elsevier.com 29.Kertohoesodo, S. 1988. Pencegahan Penyakit Jantung . Jakarta : PT.Pradnya Paramita. 30. Thakur, J.S. 1996. Epidemiological survey of rheumatic heart disease amongschool children in the Shimla Hills of northern India: prevalence andrisk factors. Journal of Epidemiology Community Health . 1996February; 50(1): 6267. Department of Community Medicine, IndiraGandhi Medical College, Himachal Pradesh, India.http://www.pubmedcentral.nih.gov 31. Zendrato, T.Z. 2009. Karakteristik Penderita Kanker Colorectal YangDirawat Inap di Rumah Sakit Umum pusat Haji Adam MalikMedanTahun 2003-2007 . skripsi FKM-USU 32. Sarumpaet, N. 2009. Karakteristik Penderita Penyakit Jantung KoronerYang Dirawat Inap Di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam MalikMedan Tahun 2003-2007 . Skripsi FKM-USU 33. Thomas, K. 2008. Rheumatic Heart Diseases . Associate Professor inPediatrics, Chief of Pediatric Cardiology, University of TennesseeCollege of Medicine; Consulting Staff, Department of PediatricCardiology, St Jude Children's Research Center.http://www.eMedicine.com

34. Soetedjo, dkk,. 1997. Survei Prevalensi Penyakit Jantung Pada SuatuMasyarakat Pedesaan di Kabupaten Semarang. Cermin duniaKedokteran No.50. Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas KedokteranUniversitas Diponegoro, Semarang.http://www.kalbe.co.id 35. Chin, T.K. 2006. Rheumatic Heart Diseases. Associate Professor inPediatrics, University of Tennessee College of Medicine; Chief,Department of Pediatric Cardiology, LeBonheur Children's Hospital, StJude Children's Research Hospital. http://www.eMedicine.com

BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif dengan desain case series. 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian4.2.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan dengan pertimbangan tersedianya data pasien PJR dan belum pernah dilakukan penelitianmengenai karakteristik penderita PJR yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2004-2008. 4.2.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan Januari sampai Juni 2009, dengankegiatan survei pendahuluan pada bulan Januari, seminar proposal pada bulan Maret,dan ujian skripsi pada bulan Juni 2009. 4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah semua data penderita PJR yang dirawatinap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2004-2008 sebanyak 105 orang. 4.3.2. Sampel Sampel adalah data penderita PJR yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 20042008. Besar sampel yang dibutuhkan adalah sama dengan populasi (total sampling). 4.4. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan datasekunder yang diperoleh dari kartu status penderita PJR di bagian rekam medik RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2004-2008 kemudian dilakukan pencatatansesuai dengan variabel yang diteliti. 4.5. Teknik Analisis Data Data yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan program SPSS.Analisis univariat secara deskriptif dan analisis bivariat menggunakan uji Chi square, uji Anova . Selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel distribusi proporsi, diagram pie,dan batang.