Anda di halaman 1dari 6

A. ERGONOMI Ergonomi berasal dari kata Yunani, Ergo= kerja dan Nomos=aturan/hukum.

Ergonomi merupakan suatu aturan atau norma yang dalam sistem kerja. Dari pengalaman para pekerja, setiap aktivitas atau pekerjaan yang tidak dilakukan secara ergonomis akan berakibat tak nyaman, biaya tinggi, kecelakaan dan penyakit akibat kerja meningkat. Akibatnya perfomansi kerja menurun akhirnya terjadi penurunan efisiensi dan daya kerja. Jadi ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang ENASE (efektif, nyaman, aman, sehat dan efisien). Ergonomi dapat membantu mencegah timbulnya masalah kesehatan dan keselamatan manusia, misalnya dari segi pembagian shift kerja disesuaikan dengan kemampuan optimal manusia dan lingkungan kerja seperti panas, lembab, dan sebagainya. Selain itu, perlu diperhatikan agar tubuh saat bekerja tidak mengalami sikap paksa, dan posisi saat bekerja juga harus tepat dan diperhatikan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 23 mengenai kesehatan kerja menyebutkan bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya kesehatan yang besar bagi pekerja agar dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, untuk memperoleh produktivitas kerja yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. Beberapa prinsip ergonomi: 1. Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum, yaitu beban yang dapat dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling efisien. Beban fisik maksimum yang telah ditentukan menutuk I.L.O sebesar 50 kg. Cara mengangkat dan menolak hendaknya memperhatikan hukumhukum ilmu gaya dan dihindarkan penggunaan tenaga yang tidak perlu. Beban kerja hendaknya menekan langsung pada pinggul yang mendukungnya.

2. Apabila seorang pekerja (dengan atau tanpa beban) harus berjalan pada jalan menanjak atau naik tangga, maka derajat optimum adalah jalan menanjak (10o), tangga rumah (30o), tangga (70o) dengan anak tangga bergerak antara 20-30 cm tergantung pembebanan. 3. Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam, lebih dari itu maka efisiensi dan kualitas kerja sangat menurun. 4. Waktu istirahat didasarkan kepada keperluan atas dasar pertimbangan ergonomi. Harus dihindari istirahat-istirahat sekehendak tenaga kerja, istirahat oleh karena turunnya kapasitas tubuh dan istirahat curian. 5. Beban tambahan akibat lingkungan harus ditekan sekecil-kecilnya. 6. Batas kesanggupan kerja sudah tercapai bila denyut nadi kerja mencapai angka 30/menit diatas denyut nadi istirahat. Beberapa tanda suatu sistem kerja yang tidak ergonomik:

Hasil kerja (kualitas dan kuantitas) yang tidak memuaskan Sering terjadi kecelakaan kerja atau kejadian yang hampir berupa kecelakaan Pekerja sering melakukan kesalahan (human error) Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik pekerja Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang Postur kerja yang buruk, misalnya sering membungkuk, menjangkau, atau jongkok Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan Komitmen kerja yang rendah Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran atau hilangnya sikap kepedulian terhadap pekerjaan bahkan keapatisan Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan sakit, nyeri, pegal-pegal dan lainnya pada

sistem otot (muskuloskeletal) seperti tendon, pembuluh darah, sendi, tulang, syaraf dan lainnya yang disebabkan oleh aktivitas kerja. Keluhan muskuloskeletal sering juga dinamakan MSD (Musculoskeletal Disorder), RSI (Repetitive Strain Injuries), CTD (Cumulative Trauma Disorders) dan RMI (Repetitive Motion Injury). Keluhan MSD yang

sering timbul pada pekerja industri adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki. Ada 4 faktor yang dapat meningkatkan timbulnya MSD yaitu posture yang tidak alamiah, tenaga yang berlebihan, pengulangan berkali-kali, dan lamanya waktu kerja (OHSCOs, 2007). Level MSD dari yang paling ringan hingga yang berat akan menggangu konsentrasi dalam bekerja, menimbulkan kelelahan dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Kekuatan otot dan keluhan pada otot merupakan salah satu indikator untuk mengevaluasi penerapan ergonomi. Faktor pekerjaan yang mempengaruhi kekuatan otot dan menimbulkan keluhan otot adalah: 1. Posisi kerja yang tidak alamiah (awkward Posture) 2. Pengulangan pekerjaan pada satu jenis otot dan Lamanya paparan yang diterima oleh otot 3. Penggunaan tenaga yang berlebihan 4. Posisi kerja yang statis 5. Terjadi kontak bagian tubuh dengan lingkungan ataupun peralatan kerja 6. Metode/cara kerja 7. Jam kerja yang terlalu panjang

Selain tujuh faktor tersebut, faktor lingkungan kerja fisik seperti paparan kebisingan, suhu, getaran dan pencahayaan yang kurang baik juga akan mempengaruhi timbulnya keluhan pada otot. Selain lingkungan kerja fisik, faktor lingkungan kimia, biologi dan psikososial juga sangat mempengaruhi terjadinya keluhan pada otot. Jenifer Gunning dkk mengungkapkan 5 prinsip dasar dalam bekerja secara ergonomis guna mengurangi ganguan otot yaitu 1. Gunakan alat yang baik dan sesuai dengan pekerjaan dan pekerja 2. Meminimkan pengulangan gerakan pada satu jenis otot 3. Hindari posisi tubuh yang tidak baik 4. Gunakan teknik angkat-angkut yang benar 5. Beristirahat secara baik dan benar 3 strategi yang dapat dilakukan dalam pengendalian sumber bahaya:

1. Pengendalian secara teknis misalnya misalnya terhadap jalur pemindahan material, komponen dan produk, merubah proses atau benda untuk mengurangi paparan bahaya pada pekerja, merubah layout tempat kerja, merekayasa bentuk desain komponen, mesin dan peralatan, memeprbaiki merode kerja dan lainnya 2. Pengendalian secara administratif misalnya dengan memberikan pelatihan kerja, variasi jenis pekerjaan, memberikan pelatihan tentang faktor-faktor bahaya di tempat kerja, melakukan rotasi pekerjaan, mengurangi jam kerja dan mengatur shift kerja, memberikan istirahat yang cukup dan lainnya 3. Menggunakan alat perlindungan diri misalnya masker, sarung tangan, pelindung mesin dan lainnya. Dapus: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/ergonomi-kerja/ diakses 19 September 2011 P.K, Sumamur. 1986.Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Gunung Agung. Jakarta

Hubungan ergonomi dengan pekerjaan mengangkut pasir : 1. Pada saat mengangkut pasir, perlu diperhatikan agar tubuh saat bekerja tidak mengalami sikap paksa dan posisi saat bekerja juga harus tepat. 2. Pembebanan sebaiknya dipilih yang optimum, yaitu beban yang dapat dikerjakan dengan pengerahan tenaga paling efisien. Beban fisik maksimum yang telah ditentukan menutuk I.L.O sebesar 50 kg. 3. Kemampuan seseorang bekerja seharinya adalah 8-10 jam, lebih dari itu maka efisiensi dan kualitas kerja sangat menurun. 4. Denyut jantung pengangkut pasir tersebut mencapai 120/menit, ini berarti sudah mencapai batas kesanggupan kerja. Batas kesanggupan bekerja yaitu denyut nadi kerja 30/menit di atas denyut nadi istirahat.

5. Pengulangan pekerjaan pada satu jenis otot dan lamanya paparan yang diterima oleh otot serta penggunaan tenaga yang berlebihan mengakibatkan keluhan pada otot. Oleh karena itu, pengangkut pasir tersebut merasa ototnya pegal semua. 6.