Anda di halaman 1dari 9

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian Penyakit Akibat Kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh lingkungan dimana pekerjaan dilakukan dan terjadi sewaktu menjalankan pekerjaan di tempat kerja ataupun di luar tempat kerja yang ada hubungannya dengan pekerjaan di perusahaan. Penyakit akibat kerja timbul akibat adanya ketidakseimbangan antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja. Faktor lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya penyakit akibat kerja. Sebagai contoh antara lain debu silika dan Silikosis, uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan faktor manusia juga (WHO). Dalam melakukan pekerjaan apapun, sebenarnya kita berisiko untuk mendapatkan gangguan kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Gangguan kesehatan akibat kerja ternyata cukup banyak. Terutama pada pekerjaan konstruksi yang sifat pekerjaannya keras dan dilaksanakan pada lingkungan kerja yang umumnya terbuka. Pekerjaan konstruksi kadang-kadang harus dilakukan pada cuaca dingin, kadang panas, hujan, angin kencang. Pekerjaannya kadang harus dilakukan pada tempat berair, lembab, gelap dsb. Oleh karena itu, penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.

Hal ini merupakan problem bagi para pekerja di berbagai sektor. Sebagian orang menyadari bahwa penyakit yang diderita besar kemungkinan karena pekerjaannya ,tetapi banyak yang tidak menyadari bahwa pekerjaan yang ditekuninya sehari hari sebagai penyebab penyakit tertentu. Penyakit akibat kerja merupakan manifestasi dari kesehatan kerja, atau kondisi kesehatan dari tenaga kerja atau pekerja. Kesehatan Kerja meliputi berbagai upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/ metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk : 1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya. 2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/ kondisi lingkungan kerjanya. 3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannya darikemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan. 4. Menempatkan dam memelihara pekerja di suatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya. Terdapat beberapa pengertian atau Definisi yang terkait dengan penyakit akibat kerja seperti yang terdapat di bawah ini : 1. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan Kerja. 2. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh

lingkungan dimana pekerjaan dilakukan dan terjadi sewaktu menjalankan pekerjaan di Tempat kerja ataupun di luar tempat kerja yang ada hubungannya dengan pekerjaan di perusahaan. 3. Penyakit akibat kerja yaitu Penyakit dengan penyebab yang spesifik atau berhubungan kuat dengan pekerjaan dengan satu agen penyebab yang sudah diketahui ( ILO, di Linz Austria)

4. Penyakit akibat kerja yaitu penyakit yang disebabkan oleh pekerjaaan atau lingkungan kerja (Kepres no.22 tahun 1993). 5. Penyakit akibat hubungan kerja ( Work Related Disease) adalah penyakit dengan beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang peranan dengan faktor risiko yang lain dalam

berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi atau penyebab yang kompleks. Misal : Penyakit Jantung, Stres, Maag, Keluhan nyeri otot. Adapun penyakit lain pada pekerja, antara lain: 1. Suspek penyakit Akibat Kerja (SPAK) adalah penyakit yang

penyebabnya belum jelas karena faktor pekerjaan, misal : kanker, penyakit paru, penyakit ginjal. 2. Penyakit Umum (PU) yaitu Penyakit yang penyebabnya berasal dari lingkungan umum sehingga menyerang masyarakat umum termasuk kelompok pekerja. Misal :TBC, Diare, Influenza, Pharingitis. 3. Penyakit yg mengenai Populasi Pekerja (PMPP) adalah penyakit pada populasi kerja tanpa agen penyebab di tempat kerja namun diperberat oleh kondisi pekerjaan yg buruk bagi kesehatan. Misal :

Diare, Influenza, Pharingitis. Secara umum penyebab terjadinya penyakit akibat kerja di tempat kerja adalah karena adanya Ketidakseimbangan yang merugikan dalam hubungan antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja. Ditinjau dari faktor penyebab, Penyakit Akibat Kerja mempunyai kesamaan dengan kecelakaan akibat kerja, namun ruang lingkup keduanya sangat berbeda, terutama dalam aspek pengelolaannya. Penyakit akibat kerja mempunyai aspek medik, Oleh karena itu PAK di kelola oleh seorang dokter atau ahli kesehatan, sedangkan kecelakaan kerja mempunyai aspek teknik dan dikelola oleh seorang ahli keselamatan kerja (safety engineering). WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja : 1. Penyakit yang penyebabnya diduga merupakan satu-satunya penyebab atau hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya : Pneumokoniosis.

2. Penyakit yang penyebabnya diduga bukan satu-satunya penyebab atau yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya : Karsinoma Bronkhogenik. 3. Penyakit yang penyebabnya diduga memperberat gejala penyakit yang sudah ada atau penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab diantara faktor- faktor penyebab lainnya, misalnya : Bronkhitis Kronis. 4. Penyakit yang penyebabnya diduga memicu munculnya / timbulnya gejala penyakit yang sudah ada, misalnya : asma Ada 2 (dua) elemen pokok kriteria umum dari Penyakit Akibat Kerja (PAK) yaitu: 1. Adanya hubungan antara pajanan yang spesifik dengan penyakit. 2. Adanya fakta bahwa frekuensi kejadian penyakit pada pekerja lebih tinggi daripada masyarakat umum. Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan pekerjaan yang diselenggarakan oleh ILO (International Labour

Organization) di Linz, Austria, dihasilkan definisi menyangkut PAK sebagai berikut: a. Penyakit Akibat Kerja Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui. b. Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan Work Related Disease adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi kompleks. c. Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja Disease of Fecting Working Populations adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.

Menurut Cherry, 1999 An occupational disease may be defined simply as one that is caused , or made worse , by exposure at work.. Di sini menggambarkan bahwa secara sederhana sesuatu yang disebabkan , atau diperburuk , oleh pajanan di tempat kerja . Atau , An occupational disease is health problem caused by exposure to a workplace hazard ( Workplace Safety and Insurance Board, 2005 ), Sedangkan dari definisi kedua tersebut, penyakit akibat kerja adalah suatu masalah Kesehatan yang disebabkan oleh pajanan berbahaya di tempat kerja. Dalam hal ini , pajanan berbahaya yang dimaksud oleh Work place Safety and Insurance Board ( 2005 ) antara lain : a. Debu , gas , atau asap b. Suara / kebisingan ( noise ) c. Bahan toksik ( racun ) d. Getaran ( vibration ) e. Radiasi f. Infeksi kuman atau dingin yang ekstrem g. Tekanan udara tinggi atau rendah yang ekstrem Menurut Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tertanggal 27 Februari 1993, Penyakit yang timbul akibat hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja (pasal 1). Keputusan Presiden tersebut melampirkan Daftar Penyakit yang diantaranya yang berkaitan dengan pulmonologi termasuk pneumokoniosis dan

silikotuberkulosis, penyakit paru dan saluran nafas akibat debu logam keras, penyakit paru dan saluran nafas akibat debu kapas, vals, henep dan sisal (bissinosis), asma akibat kerja, dan alveolitis alergika (pasal 4). Pasal 2 Keputusan Presiden tersebut menyatakan bahwa mereka yang menderita penyakit yang timbul karena hubungan kerja berhak memperoleh jaminan kecelakaan kerja. Dalam melakukan tugasnya di perusahaan seseorang atau sekelompok pekerja berisiko mendapatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Ada 31 jenis penyakit yang termasuk dalam golongan penyakit akibat kerja.

Faktor penyebab Penyakit Akibat kerja sangatlah banyak. Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan : 1. Golongan Fisik, seperti : a. Suara yang bisa menyebabkan pekak atau tuli b. Radiasi. Radiasi dapat berupa radiasi pegion dan radiasi non pegion. Radiasi Pegion, misalnya berasal dari bahan-bahan radioktif yang menyebabkan antara lain penyakit-penyakit sistem darah dan kulit, sedangkan radiasi non pegion, misalnya, radiasi elektromaknetik yang berasal dari peralatan yang menggunakan listrik. Radiasi sinar inframerah biasa mengakibatakan katarak pada lisensa mata, sedangkan sinar ultrafiolet menjadi sebab conjungctivitis photoelectrica. c. Suhu yang terlalu tinggi menyebabkan heat stroke heat

cramps atau hyperpyrexia. Sedangkan suhu yang rendah antar lain menimbulkan frosbite. d. Tekanan yang tinggi menyebabkan caisson disease. e. Penerangan lampu yang kurang baik, misalnya menyebabkan kelainan pada indra penglihatan atau kesulitan yang memudahkan terjadinya kecelakaan 2. Golongan Kimiawi Yaitu semua bahan kimiawi yg digunakan dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk : a. Debu (asbes,berilium,biji timah putih,dan lain- lain) Debu yang menyebabkan pnemokonosis, di antaranya sulikosis, bisinosis, asbestosis dan lain-lain. b. Uap (Uap logam) yang di antaranya menyebabkan metal fume faver dermatitis, atau keracunan. c. Gas (Sianida, gas asam sulfida, CO, dan lain-lain). d. Larutan (asam kuat atau basa kuat) yang dapat menyebabkan dermatitis.

e. Awan atau kabut, misalnya rambut serangga (insecticides), racun jamur dan lain-lain yang dapat menyebabkan keracunan. Perusahaan/ Perindustrian pupuk, pestisida, kertas, refinery, pengol ahan gas bumi, obat-obatan serta tekstil banyak menggunakan bahan kimia sebagai bahan baku atau pembantu. Penggunaan bahan kimia tadi bisa menyebabkan bahaya kebakaran, peledakan, iritasidan keracunan 70% PAK adalah disebabkan oleh bahan kimia berbahaya yang masuk lewat mulut, pernafasan atau kulit. Bahan Kimia Berbahaya bisa berupa padat, gas, partikel maupun uap

Masuknya bahan kimia tadi bisa menimbulkan gejalanya secara akut atau kronik keracunan akut biasanya terjadi akibat masuknya bahan kimia dalam jumlah besar pada waktu singkat. 3. Golongan Infeksi, misalnya oleh bakteri, virus, parasit maupun jamur. a. Bakteri. Misalnya: penyakit antraks, penyakit TBC, dan lain-lain. b. Virus. Misalnya: Hepatitis (tenaga kesehatan di RS), Rabies (petugas laboratorium), HIV/AIDS, dan lain-lain. c. Jamur, misalnya : dermatofitosis, dan lain-lain. d. Parasit, misalnya : Ankilostomiasis, tripanosomiasis, dan lain-lain. 4. Golongan Fisiologis, yang di sebabkan oleh kesalahan konstruksi mesin, sikap badan yang kurang baik, salah cara melakukan pekerjaan yang semuanya itu dapat menimbulkan kelelahan fisik, bahkan lambat laun perubahan fisik tubuh pekerja, keluhan dan gangguan kesehatan, misalnya : Carpal tunnel syndrome, tendinitis, tenosynovitis, dan lainlain. 5. Golongan Metal Psikologis, dlam hal ini kami membahas dua gangguan jiwa yang menonjol, yaitu stres psikologis, depresiserta dapat menimbulkan stres kerja dengan gejala psikosomatis berupa mual, muntah, sakit kepala, nyeri ulu hati, jantung berdebar- debar. Langkah-langkah diagnosis PAK adalah : 1. Anamnesis Tentang riwayat penyakit dan riwayat pekerjaan

2. Pemeriksaan fisik Untuk menemukan tanda-2 maupun gejala yang sesuai dengan keluhan, yang sering ada kekhasan pada PAK. Misalnya : wrist drop atau garis hitam pada gusi akibat keracunan timah hitam. 3. Pemeriksaan Laboratorium Mencari adanya paparan internal, gangguan patologis. 4. Pemeriksaan rontgen Sering sangat membantu diagnosis, terutama pada penyakit

pnemokoniosis. 5. Pemeriksaan ruang / tempat kerja Tujuannya adalah membuktikan adanya faktor pemapar di tempat kerja (kualitatif & kwantitatif). 6. Hubungan antara bekerja dan tidak bekerja dengan munculnya keluhan penyakit.

Terapi : - Kausal : menghilangkan penyebab Tidak semua dapat diterapi kausal, misalnya penyakit kanker akibat kerja, silikosis, dll. Sering satu-satunya terapi adalah hanya dengan memindahkan pekerja dari tempat kerja semula untuk mengurangi progresifitas penyakit - Simtomatis : menghilangkan / mengurangi gejala - Suportive : menunjang terapi Sebagian besar penyakit akibat kerja bersifat irreversible (tak dapat pulih), tetapi hampir semuanya potensial untuk dicegah (preventable). Adapun pencegahannya dapat dilakukan secara: 1. Substitusi 2. Ventilasi umum 3. Ventilasi lokal 4. Isolasi proses 5. Alat pelindung diri 6. Pemeriksaan kerja sebelum bekerja

7. Pemeriksaan kesehatan berkala 8. Penerangan / training sebelum bekerja 9. Pendidikan kesehatan.

B. Perundang-undangan 1. Peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi No.02/MEN/1980 tentang pemeriksaan tenaga kerja dalam penyelenggaraan tenaga kerja. 2. Peraturan Menteri tenaga kerja dan transmigrasi No.01/MEN/1981 tentang kewajiban melapor penyakit akibat kerja. 3. Peraturan menteri tenaga kerja RI No.PER.05/02/1988 tentang petunjuk teknis pendaftaran peserta, pembayaran iuran dan pelayanan sosial jaminan tenaga kerja. 4. Keputusan menteri tenaga kerja RI No.KPTS.333/MEN/1989 tentang diagnosa dan pelaporan penyakit akibat kerja. 5. Kepres RI No.22/1993 tentang penyakit yang ditimbulkan karena hubungan kerja. 6. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 86: Upaya keselamatan dan kesehatan kerja dimaksudkan untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat kesehatan para

pekerja/buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi.