Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PSIKOLOGI INTELIGENSI

Oleh: DWI AJENG PRAYUNITA NIM. 081300933

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS 45 SURABAYA

2012

BAB I DEFINISI INTELIGENSI

Orang

awam

mengenal

istilah

inteligensi

sebagai

istilah

yang

menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Beberapa perkembangan teori inteligensi, diantaranya pandangan yang bersifat fisikal yaitu Andrew Crider (1983), dan pandangan yang bersifat mentalistis, yaitu dengan tokoh tokohnya Alfred Binet, Lewis Madison Terman, HH Goddard, VAC Henmon, Edward Lee Thorndike (1913), George D Stoddard (1941), David Wechsler serta Walters dan Gardner (1986).
1.1. Perkembangan definisi Inteligensi bersifat fisikal:

1.1.1. Andrew Crider Inteligensi itu bagaikan listrik, gampang untuk diukur tetapi hampir mustahil untuk didefinisikan.
1.2. Perkembangan definisi Inteligensi bersifat mentalis 1.2.1. Alfred Binet dan Theodore Simon (1857 1911)

Mendifinisikan inteligensi mempunyai 3 (tiga) komponen, yaitu: a. b.


c.

Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan. Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan. Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.

1.2.2. Lewis Madison Terman Menyebutkan bahwa inteligensi merupakan kemampuan seseorang untuk berfikir abstrak. 1.2.3. HH Goddard (1946) 3

Inteligensi adalah tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah masalah yang langsung dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah masalah yang akan datang. 1.2.4. VAC Hennmon Inteligensi terdiri dari 2 (dua) macam faktor, yaitu: a. Kemampuan untuk memperoleh pengetahuan. b. Pengetahuan yang telah diperoleh.
1.2.5. Edward Thorndike

Inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta. 1.2.6. Geoger D Stoddard Inteligensi adalah kemampuan untuk memahami masalah masalah yang mempunyai ciri ciri: a. Mengandung kesukaran
b. Kompleks, yaitu mengandung bermacam jenis tugas yang harus

dapat diatasi dengan baik dalam arti bahwa individu yang inteligen mampu menyerap kemampuan yang sudah dimiliki untuk kemudian digunakan dalam menghadapi masalah.
c. Abstrak, yaitu mengandung simbol simbol yang memerlukan

analisis dan interpretasi.


d. Ekonomis, yaitu dapat diselesaikan dengan menggunakaan proses

mental yang efisien dari segi penggunaan waktu.


e. Diarahkan pada suatu tujuan, bukan dilakukan tanpa maksud

melainkan mengikuti suatu arah atau target yang jelas.


f. Mempunyai nilai sosial, cara dan hasil pemecahan masalah dapat

diterima oleh nilai dan norma sosial.


g. Berasal dari sumbernya, pola pikir yang membangkitkan

kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang baru dan lain. 1.2.7. David Wechsler

Inteligensi

merupakan

kumpulan

atau

totalitas

kemampuan

seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya dengan efektif. 1.2.8. Walters dan Gardner Inteligensi merupakan suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tertentu. 1.2.9. Flynn Inteligensi adalah kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman disebut inteligensi. 1.2.10. Rober J. Sternberg Inteligensi mencakup 3 (tiga) faktor kemampuan utama, yaitu:
a. Kemampuan memcahkan masalah praktis berpikir logis. b. Kemampuan verbal bicara jelas dan lancar. c. Kompetensi sosial mampu menerima orang lain apa adanya.

BAB II TEORI INTELIGENSI

2.1.

Alferd Binet
Inteligensi bersifat monogenetik, yaitu berkembang dari satu faktor satuan

atau faktor umum (g). Inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang. Seseorang dapat dipandang cukup intelegen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya melakukan tindakan dan kemampuan mengubah arah tindakannya itu apabila diperlukan.

2.2.

Edward Lee Thorndike


Inteligensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan

dalam wujud perilaku intelgen sehingga teori ini dikategorikan ke dalam teori inteligensi faktor ganda. Thorndike mengklasifikasikan inteligensi ke dalam tiga bentuk kemampuan dimana ketiga bentuk kemampuan ini tidak terpisah secara eksklusif dan juga tidak selalu berkorelasi satu sama lain dalam diri seseorang. Bentuk bentuk kemampuan itu adalah: a. Abstraksi, kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol simbol.
b. Mekanik, suatu kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan alat

alat mekanis dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan aktivitas indera gerak (sensory motor). c. Sosial, kemampuan untuk menghadapi orang lain di sekitar diri sendiri dengan cara cara yang efektif.

2.3.

Cahrles E Spearman

Kemampuan mental ada 2 (dua) faktor (two factor theory) yakni faktor umum (faktor g) dan faktor spesifik (faktor s).

1
3

2 g

Tes 1 dan Tes 3 > dari tes 2 korelasinya dengan faktor g. Semakin besar korelasi suatu tes dengan g maka akan semakin besar korelasinya dengan tes lain yang juga mengandung faktor - g

Menurut Spearman, inteligensi mengandung 2 (dua) komponen kualitatif yang penting, yaitu: a. Edukasi Relasi, yaitu kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang berlaku diantara dua hal. Seperti, dalam menemukan hubungan yang terdapat diantara dua kata panjang pendek. b. Edukasi Korelasi, yaitu kemampuan untuk menerapkan hubungan dasar yang telah ditemukan dalam proses edukasi relasi sebelumnya ke dalam situasi baru.

2.4.

L.L Thurstone dan Thelma Gwinn Thustone


Menyebutkan bahwa kemampuan mental dapat dikelompokkan ke dalam

enam faktor dan bahwa inteligensi dapat diukur dengan melihat sampel perilaku seseorang dalam keenam bidang termaksud. Enam faktor kemampuan tersebut adalah: a. b. c. V N S : : : (verbal), yaitu pemahaman akan hubungan kata, kosakata, dan penguasaan komunikasi lisan. (number), yaitu kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan fungsi fungsi hitung dasar. (spatial), yaitu kemampuan untuk mengenali berbagai 7

d. e.

W M

: :

hubungan dalam bentuk visual. (word fluency), yaitu kemampuan untuk mencerna dengan cepat kata kata tertentu. (memory), yaitu kemampuan mengingat gambar gambar, pesan pesan, angka angka, kata kata, dan bentuk bentuk pola. (reasoning), yaitu kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari beberapa contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan sebagai kemampuan pemecahan masalah.

f.

2.5.

Chril Burt
Faktor faktor kemampuan merupakan suatu kumpulan yang

terorganisasikan secara hirarkis. Faktor faktor tersebut adalah satu faktor Umum (general), faktor faktor Kelompok Besar (broad group), faktor faktor Kelompok Besar (narrow group), dan faktor faktor Spesifik (specific).

2.6.

Philip Ewart Vernon


Dalam model hirarkis, Vernon menempatkan satu faktor umum di puncak

hirarki. Di bawah faktor g terdapat dua jenis kelompok kemampuan mental yang disebutnya kemampuan verbal educational dan practical mechanical. Kedua jenis kemampuan ini termasuk dalam faktor inteligensi yang utama atau kelompok mayor. Masing masing kelompok mayor terbagi lagi dalam faktor faktor kelompok minor, yang terpecah lagi menjadi bermacam macam faktor spesifik pada tingkat hirarki yang paling rendah.

2.7.

Joy Paul Guilford


Teorinya mengenai structure of intellect (SI) yang diilutrasikan dalam bentuk

sebuah kubus atau kotak berdimensi tiga yang masing masing mewakili satu klasifikasi faktor faktor intelektual yang bersesuaian satu sama lain. Dimensi dimensi tersebut adalah: a. Isi (content)

Menunjuk kepada tipe informasi yang sedang diproses. Dalam dimensi isi terdapat empat jenis bentuk yang merupakan input yang berbeda kompleksitasnya, yaitu: 1) Figur: Informasi yang berupa figur atau bentuk yang menggambarkan keadaan suatu objek. 2) Simbol: informasi yang diproses di sini dapat mempunyai bentuk yang sama seperti isi figural, akan tetapi arti yang dikehendaki merupakan penggambaran objek lain. 3) Semantik: Informasi yang harus diproses berupa input yang disajikan secara lisan. 4) Perilaku: Informasi yang diterima berupa perilaku orang lain. b. Operasi (operation) Dimensi operasi menunjuk kepada cara bagaimana suatu informasi diproses. Cara proses informasi terdiri dari: 1) Kognisi: Proses penemuan suatu informasi atau pengenalan kembali suatu informasi. 2) Ingatan: Proses langsung dalam mengangkat kembali informasi yang pernah diterima ke atas kesadaran. 3) Produksi Konvergen: Proses ini merupakan kemampuan memanfaatkan informasi yang diterima guna mencapai satu jawaban atau satu penyelesaian yang benar. 4) Evaluasi: Kemampuan untuk menilai setiap dari segi evaluatif, seperti baik buruk atau salah benar. c. Produk (product) Dimensi produk menunjuk kepada hasil pemroses yang dilakukan oleh dimensi operasi terhadap berbagai macam bentuk isi informasi. Menurut tingkatan kompleksitasnya, terdapat enam macam produk, yaitu: 1) Satuan: berupa suatu respon tunggal, misalnya: (X). 2) Kelas: berupa respon dalam bentuk kelompok kelas, misalnya: (X,Y,Z). 3) Relasi: Produk yang dinyatakan dalam bentuk satuan yang saling berhubungan atau dalam bentuk hubungan diantara satuan satuan, misalnya: (X=Y; X>Y>Z). 4) Sistem: Respon yang strukturnya terorganisasikan secara keseluruhan.

5) Transformasi: Berupa transformasi atau perubahan satu jenis produk ke dalam bentuk atau jenis produk yang lain. 6) Implikasi: Berupa produk yang hasilnya berlaku pula di luar data yang diproses.

2.8.

C. Halstead
Teorinya merupakan teori inteligensi yang menggunakan pendekatan

neurobiologis. Halstead menyebutkan ada 4 (empat) faktor inteligensi yaitu:


a. Faktor Central Integrative (C)

Berupa kemampuan untuk mengorganisasikan pengalaman. Fungsi faktor ini sebagai penyesuaian, dimana latar belakang pengalaman seseorang dan hasil belajarnya akan mengintegrasikan pengalaman pengalaman yang baru.
b. Faktor Abstraction (A)

Merupakan kemampuan mengelompokkan sesuatu dengan cara cara yang berbeda, dan kemampuan untuk melihat kesamaan dan perbedaan yang terdapat diantara benda benda, konsep konsep, dan peristiwa peristiwa.
c. Faktor Power (P)

Merupakan kekuatan otak (power) dalam arti tenaga otak yang utuh. Kemampuan untuk mengekang afeksi sehingga kemampuan kemampuan rasional dan intelektual dapat tumbuh dan berkembang merupakan faktor ini.
d. Faktor Directional (D)

Berupa kemampuan yang memberikan arah dan sasaran bagi kemampuan kemampuan individu. Kemampuan ini menunjukkan dengan spesifik cara mengekspresikan intelek dan perilaku.

2.9.

Donald Olding Hebb


Membedakan inteligensi atas dua macam, yaitu: a. Inteligensi A

10

Disebut juga kemampuan potensial yaitu merupakan kemampuan dasar manusia (human basic potentiality) untuk belajar dari lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut. Inteligensi A ini ditentukan oleh kompleksitas dan kelenturan sistem syaraf pusat yang dipengaruhi oleh gen. b. Inteligensi B Yaitu merupakan tingkat kemampuan yang diperlihatkan oleh seseorang dalam bentuk perilaku yang dapat diamati secara langsung. Inteligensi B ini merupakan kemampuan aktual, yang mana inteligensi ini merupakan hasil kerjasama antara keadaan alamiah seseorang dengan asuhan yang diterimanya (dipengaruhi oleh faktor gen dan lingkungan).

2.10. Raymond Cattell


Mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi dua macam, yaitu:
a. Inteligensi Fluid (gf)

Merupakan kemampuan bawaan yang diperoleh sejak kelahiran dan lepas dari pengaruh pendidikan dan pengalaman. Inteligensi fluid sangat penting artinya untuk keberhasilan melakukan tugas tugas yang menuntut kemampuan adaptasi.
b. Inteligensi Crystallized (gc)

Dipandang sebagai endapan pengalaman yang terjadi pada inteligensi fluid bercampur dengan apa yang dapat disebut inteligensi budaya. Inteligensi crystallized akan meningkat kadarnya dalam diri seseorang seiring dengan bertambahnya pengalaman.

2.11. Jean Piaget


Lebih melihat inteligensi pada aspek isi, struktur dan fungsinya yang dikaitkannya pada periodisasi perkembangan biologis anak. Periodisasi itu terbagi atas:
a. Inteligensi Praktis (practical intelligence)

11

Disebut juga inteligensi motor indera yang merupakan dasar semua inteligensi yang berkembang kemudian. Dengan inteligensi praktis, seorang anak dapat belajar untuk berbuat sesuatu sekalipun ia belum mampu memikirkan perbuatannya tersebut. Inteligensi praktis ini terdapat pada anak usia 0 2 tahun. Namun dalam waktu tertentu orang dewasa juga melakukan sesuatu dengan cara berfikir seperti anak dalam periode perkembangan inteligensi praktis yaitu melakukan sesuatu akan tetapi tidak memahami apa yang sedang ia kerjakan.
b. Inteligensi Praoperasional (preoperational intelligence)

Inteligensi ini ada pada anak usia 2 7 tahun yang terjadi perkembangan kognitifnya. Pada inteligensi ini anak mulai memhami berbagai tugas dan situasi yang kompleks yang disebut berpikir intuitif, namun anak masih belum mampu menggunakan logika. Ciri ciri berpikir lain yang terdapat dalam periode ini adalah:
1) Sifatnya egosentris, yaitu mempunyai pandangan yang sempit dan

mengaca pada diri sendiri serta tidak mampu melihat masalah dari sudut pandang orang lain, hal tersebut dikarenakan anak belum dapat memahami bahwa orang lain juga mempunyai pandangan sendiri.
2) Berpikir kompleksif, yaitu berpikir meloncat loncat dari satu

gagasan ke gagasan yang lainnya. 3) Memiliki kecenderungan kuat dalam diri anak untuk menempatkan sifat sifat manusia pada benda mati. 4) Ketidakmampuan anak untuk melakukan tugas tugas yang menuntut pengarahan dan koordinasi pikiran. Dalam hal ini anak memerlukan petunjuk dari luar.
c. Inteligensi Operasional (operational intelligence)

Terjadi pada usia 5 7 tahun, dimana perkembangan inteligensinya adalah:


1) Konversi, yaitu sistem pengertian bahwa suatu transformasi atau

perubahan dapat terjadi secara bolak balik. Contoh: air di gelas diletakkan di piring bentuk jadi berbeda atau berubah, namun anak 12

mengetahui bahwa volume air tetap, bentuknya berbeda disebabkan bentuk tempat atau wadah.
2) Klasifikasi, yaitu anak mampu melihat bermacam hubungan yang

terjadi diantara berbagai benda sehingga ia dapat mengadakan penggolongan atau klasifikasi dengan bermacam cara. Contoh: penggolongan menurut jenis atau tingkatan.
d. Inteligensi Operasional Formal (formal operational intellegence)

Tahap perkembangan inteligensi ini diawali pada masa remaja. Anak mampu berpikir hipotetik dan dapat menguji secara sistematik berbagai penjelasan mengenai kejadian kejadian tertentu karena anak mulai mampu menyelesaikan masalah. Selain itu, dalam tahap ini anak mampu berpikir abstrak untuk mempelajari berbagai informasi yang diterima dari lingkungan.

2.12. Howard Gardner


Merumuskan teori Inteligensi Ganda (multiple intellegence). Tujuh macam inteligensi yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner, yaitu:
a. Inteligensi Linguistik: membaca, menulis, berbicara dan mendengar.

Pusat di bagian tertentu dalam otak, jika rusak meskipun dapat memahami kata dan kaimat tetapi sulit merangkainya.
b. Inteligensi Matematik: Inteligensi yang digunakan untuk memecahkan

problem berbentuk logika, simbolis dan matematika abstrak.


c. Inteligensi Spatial: Inteligensi yang digunakan dalam mencari cara agar

bekerja efisien, sumbernya adalah belahan otak kanan.


d. Inteligensi Musik: Berfungsi dalam menyusun lagu, bernyanyi,

memainkan alat musik, ataupun sekedar mendengarkan musik.


e. Inteligensi Kelincahan Tubuh: Diperlukan dalam aktivitas aktivitas

atletik, menari, berjalan, dan semacamnya.


f. Inteligensi Interpersonal: Digunakan dalam berkomunikasi, saling

memahami, dan berinteraksi dengan orang lain. Inteligensi ini sangat

13

dibutuhkan dalam memahami diri sendiri, merupakan kepekaan seseorang akan suasana hati dan kecakapannya sendiri.

2.13. Robert J. Sternberg


Teori inteligensi yang dikemukakan dikenal dengan teori Inteligensi Triarchic, yang mana teori ini berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara inteligensi dan dunia internal seseorang; inteligensi dan dunia eksternal seseorang; serta inteligensi dan pengalaman seseorang. Teori ini berisikan tiga subteori, yaitu: a. Subteori Konteks, menunjukkan dan menjelaskan perilaku perilaku yang dianggap perilaku inteligen pada lingkungan budaya tertentu, yaitu inteligensi kontekstual.
b. Subteori Pengalaman, Inteligen pengalaman paling jelas diperlihatkan

oleh kemmpuan individu dalam memberikan respon terhadap situasi yang baru (novel) secara otomatis dan tanpa kesukaran. c. Subteori Komponen, Inteligen Komponensial menekankan pentingnya efektivitas pengolahan informasi.

14

BAB III PENDEKATAN TEORI

3.1. Pendekatan Teori


3.1.1. Teori Belajar (Learning Theory)

Inti pendekatan teori belajar mengenai masalah hakikat inteligensi terletak pada pemahaman mengenai hukum hukum dan prinsip umum yang dipergunakan oleh individu untuk memperoleh bentuk bentuk perilaku baru. Inteligensi bukan sifat kepribadian (trait), tetapi kualitas hasil belajar yang telah terjadi yang berasal dari lingkungan. 3.1.2. 3.1.3. Pendekatan Neurobiologis Inteligensi berdasarkan aspek anatomis, elektrokimia, atau fisiologi. Pendekatan Psikometris Terdapat 2 (dua) arah studi, yaitu:
a. Bersifat praktis, yaitu penekanan pada pemecahan masalah

(problem solving). b. Penekanan pada konsep dan penyusunan teori. Individu seperti ini adalah mereka pintar dalam berkonsep dan berpikir tetapi tidak terlalu mahir untuk praktek. Individu seperti itu biasanya lebih cocok untuk ditempatkan untuk konsultan, tidak untuk sebagai pemimpin. 3.1.4. Pendekatan Perkembangan Dalam pendekatan perkembangan, dipusatkan pada masalah perkembangan inteligensi secara kualitatif dalam kaitannya dengan tahap tahap perkembangan biologis individu.

15

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 2010. Pengantar Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

16