Anda di halaman 1dari 4

Nama Jur Sem

: Julhanuddin Siregar : BPI :V

Hubungan Suami Istri menurut Etika Islam


Jodoh adalah Qadha (ketentuan) Allh, di mana manusia tidak punya andil menentukan, manusia hanya dapat berusaha mencari jodoh yang baik menurut Islam. Untuk itu perlu diperhatikan sungguh-sungguh watak dan ciri-ciri dari pasangan hidup yang sewajarnya akan menjadi pendamping (suami-isteri). Tercantum dalam Al Qurn: Laki-laki yang berzina tidak mengawini kecuali dengan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang mukmin. (QS. Al-Nr/24: 3). A. Sebelum Melakukan Hubungan Seks (Coitus) Pengantin atau suami isteri sebelum melakukan hubungan biologis (coitus) penganten atau suami-isteri mesti melaksanakan hal-hal berikut ini: 1. Wajib memberikan mahar terlebih dulu (bagi pengantin baru) jika maharnya di utang, harus dibayarkan maharnya dulu, sabda Rasul Allh, SAW: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi SAW, melarang Ali menggauli Fatimah sampai ia memberikan sesuatu (mahar) kepadanya. Lalu jawab Ali: Saya tidak punya apa-apa. Maka sabda Rasul Allh, Dimana baju besi Hutamiyahmu? Lalu berikanlah barang itu kepadanya. (HR. Abu Dud, Al-Nasiy dan Hakim) Membersihkan badan (mandi) dari hadas dan najis serta hal-hal berbau tak sedap. Setelah bersih, hendaklah berwudhu, yang termasuk padanya membersihkan mulut, hidung, tangan, muka dan lainnya anggota wudhu. Pakailah cahaya remang-remang atau gelap, karena dalam suasana demikian akan meningkatkan konsentrasi, sehingga segala kekurangan jasmaniah dapat diatasi. Berdoa kepada Allh (semoga Allh melimpahkan nikmat-Nya), seperti doa diajarkan

2. 3. 4. 5.

Dari Ibnu Abbas r.a. ia menyampaikan apa yang diterima dari Nabi SAW. Beliau bersabda, Andaikata seseorang diantara kamu semua mendatangi (menggauli) isterinya, ucapkanlah, Bismi Allhi, Allhumma Jannibn Syaithn wajannibi al-syaithn m razaqtan. (dengan nama Allh. Ya Allh, hindarilah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan. Maka apabila ditakdirkan bahwa mereka berdua akan

: .

mempunyai anak, syetan tidak akan pernah bisa membahayakannya. (HR. Bukhriy dalam Kitab Shahihnya pada Kitab Wudhuk Hadits ke-141). 6. Mulailah coitus dengan awal lembut dan harmonis tanpa paksaan. Lakukan jima pada sepertiga malam (pukul 10 keatas), atau pada tiga waktu yang nyaman yaitu, sebelum shalat subuh, tengah hari, dan sesudah shalat isya, sebagaimana disebut dalam wahyu ;

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan perempuan) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allh menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Nr/24: 58). Sabda Rasul Allh SAW: Siapa pun diantara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti
seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perentaraan. Selanjutnya, ada yang
bertanya: Apakah perantaraan itu ? Rasul Allh SAW bersabda, yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis. (HR. Bukhriy dan Muslim).

7.

Dilakukan dalam kondisi yang sehat dan menyenangkan bagi kedua pasangan. Dalam keadaan begini insy Allh akan sama menikmati dan dilakukan dalam keadaan siap fisik dan psychis kedua pasangan. Setelah selesai melakukan hubungan intim, hendaknya membaca do`a,

8.

.
Segala puji bagi Allh yang telah menjadikan manusia dari air (mani), lalu menjadikan pertalian darah, dan hubungan perkawinan. Dan Allh adalah Maha Berkuasa. 9. Apabila ingin memulai yang kedua atau seterusnya lebih afdhallah melakukan wudhu, sekurang-kurangnya membasuh faraj dengan bersih. Sesudah Melakukan Hubungan Seks

B.

Suami-isteri yang baru saja melakukan hubungan seks (coitus, jima) dalam fiqh thaharah disebut dengan istilah junub (berjunub), maka ia wajib mandi (QS. Al-Midah/5: 6). Agama Islam menetapkan ada beberapa macam yang menyebabkan seseorang wajib mandi dalam fiqh Islam sebagai ijtihad al-thathbiqy (penerapan hukum): 1. Karena melakukan hubungan seksual (coitus/jima) 2. Keluarnya mani (sperma), (bermimpi, senggama, sengaja atau tidak sengaja). Rasul Allh SAW bersabda, Apabila air (sperma) itu terpancar keras, maka mandilah. (HR. Abu Dud). Kalau tidak keluar mani, maka Rasul Allh SAW. menerangkan, dalam hadits berikut,

: . . : ) 090 - . ( /
2

Dari Ubai bin Ka`ab bahwasanya ia berkata : Wahai Rasul Allh, apabila ia seorang lakilaki menyetubuhi isterinya, tetapi tidak mengeluarkan mani, apakah yang diwajibkan olehnya? Beliau bersabda, Hendaknya dia mencuci bagian-bagian yang berhubungan dengan kemaluan perempuan, berwudhu dan lalu shalat. Abu `Abd Allh berkata, mandi adalah lebih berhati-hati dan merupakan peraturan hukum yang terakhir. Namun mengetahui tidak wajibnya mandi kamu uraikan juga untuk menerangkan adanya perselisihan pendapat antara orang `alim. (HR. Bukhriy dalam Kitab Shahihnya/Kitab Mandi, hadits ke-290) 3. Berhenti Haid dan Nifas Rasul Allh SAW, Dari Fatimah binti Abi Hubaisy, Rasul Allh SAW bersabda, Apabila haidmu datang maka tinggalkanlah shalat dan apabila haid tersebut telah selesai maka mandilah kemudian shalat. Karena Meninggal Dunia. Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi SAW bersabda, Mandikanlah olehmu dengan air dan bidara . (HR. Mutafaqq alaih) Hubungan Seks yang Dilarang Islam

4.

C.

Banyak buku-buku Islam mengenai Rumah Tangga, Kebahagiaan Rumah Tangga yang membahas masalah senggama, dalam Bb al-Jima, ada beberapa yang mesti dihindari dan dapat menjauh dari etika religi menurut agama Islam. Hal yang melanggar adab Jima` dalam Islam, antara lain ; 1. Berbugil (kecuali dalam selimut). 2. Oral sex. 3. Bersetubuh lewat dubur.

Dari Abu Hurairah radhiy Allhu `anhu, Rasul Allh SAW bersabda, Terkutuklah siapa saja yang menggauli isterinya melalui duburnya. (HR. Abu Dud dan al-Nasiy) 4. Menyakiti/berlaku kasar terhadap pasangan (QS. Al-Nis/4 : 14). 5. Bersetubuh waktu perempuan haid, seperti firman Allh berikut;

: ) (

.
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: Haidh itu adalah kotoran. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allh kepadamu. Sesungguhnya Allh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. AlBaqarah/2: 222)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya `Ulumuddin mengulas lengkap masalah ini berdasarkan Al-Qurn, Hadis dan Ijtihadnya. Beliau menyebutkan misalnya di mana saja dari bagian tubuh perempuan itu yang sensitif dan yang sangat sensitif, yang berbeda pada setiap perempuan, maka sangat perlu ada komunikasi intim. Oleh : Buya H. Masoed Abidin