Anda di halaman 1dari 5

Daya Lenting antara Anak- Anak dan Remaja Beresiko Depresi: Menengahi dan Bersikap biasa yang Berseberangan

terhadap Konteks Sosial dan Neurobiologi


ABSTRAK Artikel ini menawarkan perspektif multilevel pada daya lenting depresi, dengan fokus pada intraksi antara sosial dan sistem neurobehavioral termasuk reaktivitas emosional dan regulasi. Kami mendiskusikan model dari penengahan kontekstual yang berseberangan dan bersikap biasa dengan pengaruh konteks sosial atau memodifikasi efek dari proses daya lenting pada level biologim atau pengaruh konteks biologi atau modifikasi efek dari proses daya lenting pada level sosial. Kami menandai regulasi emosi dari sosialisasi sebagai sebuah proses kandidat yang berkontribusi pada daya lenting melawan depresi pada level konteks sosial. Kami mendiskusikan beberapa faktor dan interaksinya pada level berseberangan termasuk faktor genetik, reaksi stress, pengaruh positif, sistem saraf terhadap pujian, dan tidur sebagai kandidat pada proses kontribusi untuk daya lenting melawan depresi pada level neurobehavioral. Kami kenudian memberi beberapa pendahuluan penemuan pendukung dari dua studi dari anak anak dan remaja pada resiko tinggi untuk depresi. Studi pertama menunjukkan bahwa peningkatan keburukan level lingkungan mempunyaipotensi untuk memaksa atau membatasi keuntungan dari faktor protektif pada level lainnya. Studi kedua mengindikasikan bahwa kemudahan dan kecepatan jatuh tertidur dan jumlah besar pada saat tidur fase dalam stage 4 mungkin melindungi dari perkembangan kelainan depresif pada anak anak. Makalah tersebut menyimpulkan dengan sebuah diskusi pada implikasi klinik dari pendekatan ini. Kelainan depresif selama anak anak dan remaja diasosiasikan dengan emosi yang tampak dan kekurangan sosial yang dapat mencampuri hubungan anak anak dan akademi serta fungsi okupasi pada lingkungan orang dewasa. (Birmaher, Ryan, Williamson, & Brent, 1996; Rao et al., 1995; Weissman et al.,1999). Estimasi pada poin kemungkinan major depressive disorder (MDD) range dari 0,4 sampai 8& pada anak anak dan dari 0,4 sampai 8,3% pada remaja, dengan sebuah kemungkinan selama hidup antara 15 dan 20% selama remaja (Birmaher, Ryan et al.,1996). Kebanyakan anak anak dan remaja dengan depresi akan berlanjut menjadi episode berulang, meningkatkan laju dari usaha dan kesuksesan bunuh diri, dan kekurangn sosial yang persisten antara episode episode (Kovacs, 1996; Kovacs, Feinberg, Crouse-Novak, Paulauskas, & Finkelstein, 1984; Weissman et al, 1999). Pemberian konsekuensi serius pada onset awal kelainan depresif, sebuah pemahaman yang lebih baik pada faktor faktor yang dapat memimpin pencegahan dari onset pertama dari episode depresif adalah krusial. Banyak faktor risiko untuk depresi anak anak dan remaja telah direncanakan, termasuk risiko genetik keluarga (Weissman, Warner, Wickramaratne, Moreau, & Olfson, 1997), memusuhi dan menolak hubungan keluarga (Asarnow, Tompson, Hamilton, Goldstein, & Guthrie, 1994; Sheeber & Sorensen, 1998), kejadian kejadian hidup yang menekan (Williamson, Birmaher, Anderson, Al-Shabbout,&Ryan, 1995), tipe kognitif depresogenik (Garber, Weiss,& Shanley, 1993), dan abnormalitas neurobiologi (Ryan & Dahl, 1993). Akan tetapi, banyak anak mengekspos multipel faktor risiko untuk depresi mengikuti jalan perkembangan normatif dan menjadi orang dewasa yang sehat. Sebagai

contoh, meskipun sekitar 45% anak anak dengan orang tua afektif kurang, akan mengembangkan episode depresi mayor pada remaja yang terlambat (Beardslee, Versage, & Gladstone, 1998), mengingatkan 55% dari anak anak ini tidak akan mengalami depresi. Kenyataannya, pengetahuan bisa sangat sedikit tentang apa perbedaan daya lenting dan jalan tanpa daya lenting antara anak anak dan remaja yang punya risiko tinggi untuk depresi. Pemahaman fenomena ini pada daya lenting pada depresi adalah dari kepentingan kritikal, karena hal itu dapat menyediakan jendela dalam proses proses yang dapat ditambah dan ditargetkan pada pendekatan pencegahan di antara populasi- populasi risiko tinggi. Artikel ini menawarkan sebuah perspektif multilevel pada daya lenting pada depresi, dengan fokus pada interaksi antara sosial dan sistem neurobehavioral termasuk pada reaktivitas emosional dan regulasi. Perspektif ini diinformasikan oleh sebuah framework psikopatologi yang berkembang, yang mana mencari untuk memahami perbedaan individu pada adaptasi melawan aliran kehidupan dengan mengintegrasikan perspektif multidisiplin pada tipikal dan perkembangan atipikal (Cicchetti, 1993). Pada artikel ini, kami (a) membatasi daya lenting sebagai yang muncul pada depresi anak anak dan remaja, (b) mendiskusikan nilai dari perspektif multilevel pada daya lenting yang fokus terhadap efek penengahan dan sikap biasa yang berseberangan dengan konteks sosial dan biologikal, (c) mendiskusikan kandidat proses sosial dan biologi termasuk pada daya lenting melawan depresi yang menunjukkan bukti dari konteks berseberangan dari penengahan dan sikap biasa, & (d) menyediakan contoh dari keuntungan penelitian dari perspektif multilevel ini dari dua studi pada anak anak dan remaja yang mempunyai risiko tinggi untuk depresi. Kami menyimpulkan dengan sebuah diskusi dari implikasi klinikal yang potensial dari pendekatan ini. Pembatasan Daya Lenting pada Konteks Risiko untuk Depresi Kami membatasi daya lenting sebagai sebuah proses dinamis melalui yang mana adaptasi positif diterima pada konteks keterbalikan (Luthar, Cicchetti, & Becker, 2000). Kami melihat daya lenting sebagai sebuah proses seperti sebuah status statis atau karakter tetap dari seorang individual (Egeland, Carlson, & Sroufe, 1993). Seperti yang disarankan pada definisi ini, berarti bahwa proses daya lenting telah muncul sebuah hasil positif terukur yang harus diobservasi. Dengan memperhatikan depresi anak anak dan remaja, banyak investigator telah membatasi daya lenting sebagi ketidakhadiran diagnosis klinik dari sebuah kelainan depresif atau level rendah pada depresif atau symptomatologi internal. Beberapa studi juga memasukkan indikasi positif dari sosial atau fungsi akademik pada daya lenting operasional melawan depresi, meskipun kani percaya ada nilai kemungkinan pada pendekatan ini (Masten, 2001). Isu lain yang mencampuri daya lenting di antara anak anak pada risiko depresi, termasuk keputusan untuk operasional depresi yang menggunakan kategori atau pendekatan dimensional, dan keputusan tentang apa risiko tinggi anak anak yang jatuh ke depresi berlanjut, tetapi mengembangkan psikiatri lain atau masalah perilaku seharusnya dipikirkan daya lenting. Untuk tambahan, depresi alami yang berulang dan siklis berkomplikasi pada keputusan tentang apakah ya atau tidak pada proses daya lenting yang muncul, sebagai seorang anak bisa muncul daya lenting pada saat itu juga dan ada juga yang tidak ada daya lenting.

Konseptualisasi kami pada daya lenting sebagai sebuah proses juga menandai alur dari perkembangan ontogenik, sebagai kekuatan darurat dan sikap lekas tersinggung yang dinamis mempengaruhi proses daya lenting pada setiap stage baru dari perkembangan (Egeland et al.,1993). Perubahan pada manifestasi pada daya lenting secara istimewa seperti selama transisi perkembangan pada faktor risiko baru darurat dan faktor proteksi yang tetap tertantang. Masten (2004) mendeskripsikan ini jendela pencegahan sebagai periode yang muncul sebelum dan selama kunci transisi perkembangan, ketika adaptasi sosial dan sistem biologiterorganisasi dan diorganisasi kembalai. Transisi menjadi remaja mungkin adalah sebuah jendela krusial untuk memahami daya lenting menjadi depresi, diberikan perkembangan signifikan dari saraf dan sistem neuroendokrin dan mengatur kembali hubungan sosial selama periode ini, sama baiknya dengan peningkatan dramatis pada risiko untuk depresi selama remaja dibandingkan dengan kehidupan anak anak di masa awal (Birmaher, Ryan et al., 1996; Masten, 2004). Perhatian dikarenakan dibutuhkan pada cara cara yang mana proses daya lenting dapat berubah selama ini dan fase perkembangan lainnya. Kontekstual Berseberangan Penengahan dan Sikap Biasa pada Proses Daya Lenting Kami menawarkan perspektif multilevel pada daya lenting melaan depresi yang fokus pada interaksi transaksional berseberangan dengan konteks, terutama konteks sosial dan neurobiologikal. Perpekstif ini dibangun di atas model transaski ekologikal yang menunjukkan perkembangan dan pengaturan dari kelainan depresif pada anak anak dan remaja yang mendesak dari pegaruh antara karakteristik biologikal dan lingkungan sosial individual (Cicchetti & Toth, 1998; Sameroff & Chandler, 1975). Tanda- tanda mendesak dari pertumbuhan tempat sosial dan pengetahuan meuro afektif menyarankan bahwa ada hubungan dua arah antara kontektual sosial dan pengaruh neurobiological pada perkembangan (Cacioppo, Bernston, Sheridan, & McClintock, 2000). Sebagai contoh, sekarang ada bukti jelas bahwa pengalaman dalam konteks sosial dapat mengubah organisasi dari sistem neural, terutama ketika mereka mucul selama periode sensitif dari plastisitas otak yang tinggi (Cacioppo et al., 2000; Greenough, Black, & Wallace, 1987). Perkembangan sistem neural mencakup reaktivitas stress dan proses emosional adalah sensitif terhadap pengaruh negatif dan positif pada lingkungan sosial, terutama hubungan antara orang tua dan anak (Essex, Klein, Cho, & Kalin, 2002; Meaney, 2001). Interaksi otak perilaku secara tipikal telah dipelajari sejak awal pada perkembangan. Akan tetapi, diberikan bukti baru bahwa pemikiran otak bagian frontal diimplikasikan pada regulasi emosi (ER) berlanjut untuk menjadi matang melalui remaja (Casey, Giedd, &Thomas, 2000; Giedd, 2004), daerah ini punya potensi untuk melanjutkan plastisitas dan kemungkinan membekas menjadi sensitif untuk pengaruh sosialisasi melalui remaja. Kami berpendapat bahwa sebuah fokus pada kontekstual berseberangan pengengahan dan sikap biasa pada proses daya lenting adalah seperti hasil peningkatan di pemahaman kami pada daya lenting melawan depresi. Seperti yang digambarkan pada Gambar 1, penengahan kontekstual berseberangan mengacu pada potensi faktor sosial untuk mempengaruhi daya lenting anak anak melalui efek mereka pada faktor biologi, atau untuk faktor biologikal yang mempengaruhi daya lenting anak anak melalui efek mereka pada proses sosial. Pada contoh pertama, konteks sosial bisa berkontribusi untuk perkembangan adaptif dari sistem

neurobiologikal termasuk reaktivitas emosional dan regulasi. Contohnya, emosi yang berhubungan dengan pengalaman sosialisasi, seperti tanggapan orang tua terhadap emosi anak anak tatau iklim emosi dari keluarga atau lingkungan, dapat berkontribusi terhadap perubahan neural pada sistem di bawah regulasi dari kesedihan atau penyangatan dari mood uang baik. Seperti, proses neurobiologikal akan menengahi hubungan antara pengalaman sosialisasi dan daya lenting anak anak. Penelitian kecil telah dicari secara langsung kemungkinannya ini; akan tetapi, beberapa studi penting telah mendemonstrasi bahwa pengalaman dalam lingkungan sosial mempengaruhi bagaimana tanggapan otak pada rangsanag emosional (Hooley, Gruber, Scott, Hiller, & Yurgelun- Todd, 2005; Pollak, Cicchetti, Klorman, & Brumaghim, 1997). Meskipun studi luas berkurang, efek dari karakteristik biologikal dari daya lenting anak anak bisa juga ditengahi dengan konteks sosial. Sebagai contoh, beberapa bukti menyarankan bahwa anak anak yang bersifat rendah pada reaktivitas emosional bisa menimbulkan respon positif yang lebih pada emosi antara pemberi perhatian, yang menjadi berasosiasi dengan pengaturan yang lebih baiki (Eisenberg, 1994). Sebagai contoh, hubungan antara proses neurobiologikal (contoh., reaktivitas emosional) dan daya lenting anak anak dapat terhitung sebagian sebagai tanggapan sosial ( contoh., asuhan orang tua yang positif) ditimbulkan oleh karakteristik biologikal ini. Seperti yang tampak pada Gambar 2, sikap biasa pada kontekstual yang berseberangan mengacu pada potensi untuk proses dalam konteks sosial yang dimodifikasi dengan pengaruh protektif dan faktor risiko dalam konteks neurobiologikal, dan untuk proses dalam konteks neurobiologikal untuk menodifikasi pengaruh protektif dan faktor risiko dalam konteks sosial. Proses protektif baik pada level sosial maupun neurobiologikal bisa dikompensasi atau penyeimbang anak anak melawan faktor risiko pada level lainnya. Sebagai contoh, efek dari genetik atau perilaku yang lekas tersinggung pada depresi dapat diseimbangkan pada pertumbuhan di lingkungan yang memberikan perhatian (contoh ., Eley et al., 2004). Efek negatif dari stress sosial yang berat, seperti pengobatan yang salah, juga muncul pengurangn antara anak anak dengan faktor protektif genetik (contoh., Kaufman et al., 2006). Level yang ekstrim dari kebalikan pada level satu bisa juga memaksa atau membatasi pengaruh positif dari proses protektif pada..................

Faktor Protektif Biologikal (contoh., reaktivitas stress yang rendah, peningkatan fungsi PFC)

Faktor protektif sosial (contoh., sosialisasi orang tua yang positif dari ER, pemaksaan dari orang tua untuk tidur secara rutin) Daya Lenting

a. Penengahan biologikal dari faktor protektif kontekstual sosial untuk memacu daya lenting

Faktor protektif sosial (contoh., anak anak menimbulkan tanggapan orang tua yang positif pada emosi, kehangatan, dan hubungan orang tua dan anak yang stabil)

Faktor protektif biologikal (contoh., 5-HTTLPR alel panjang, emosi yang rendah atau reaktivitas stress) Daya lenting

b. penengahan kontekstual sosial dari faktor protektif biologikal dalam memacu daya lenting

Gambar 1. Contoh dari penengahan kontekstual berseberangan dari jalan untuk daya lenting yang berisiko menjadi depresi