Anda di halaman 1dari 7

Masa Depan Media Cetak di Indonesia Kamis, 30 Juli 2009 17:47 M.

Ridlo Eisy Optimisme bahwa media cetak di Indonesia masih terus bertahan dalam beberapa dekade ke depan mewarnai rapat antar penerbit di kantor Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, awal Maret 2009, yang membahas dampak krisis ekonomi global terhadap media di Indonesia. Semangat ini selaras dengan sikap CEO Kompas, Agung Adiprasetio, dalam Seminar New Media yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen di Bali, November 2008. Para penerbit yang tergabung dalam SPS menyadari bahwa bisnis media cetak semakin berat. Pada saat rapat berlangsung, berita ditutupnya Christian Science Monitor sudah disiarkan oleh beberapa media di Indonesia. Senja kala koran-koran Amerika Serikat (AS) diamati dengan cermat oleh seluruh penerbit Indonesia. Mulai dari bangkrutnya Chicago Tribune, Los Angeles Time, sampai dengan ditutupnya The Rocky Mountain News, Seattle Post Intelegencier, Philladephia Inquiry, Baltimore Examiner, Kentucky Post, King Country Journal, Cincinnati Post, Union City Register Tribune, Halifax Daily News, Albuquerque Tribune, South Idaho Star, San Juan Star, dan masih banyak koran-koran besar di AS yang sedang menanti keputusan untuk ditutup. Sebagian dari koran-koran itu pindah ke media online. Jika kita buka internet, dan memasukkan kalimat The end of Newspaper atau Newspaper Death Watch dalam search engine internet, maka ratusan judul segera muncul. Semuanya mengisahkan sekaratul maut koran-koran di AS. Nasib serupa sesungguhnya sudah terjadi di Eropa Barat. Dalam pertemuan dengan para wartawan Jerman di Bonn, tahun 2003, kami memperoleh informasi bahwa sekitar 13.000 wartawan Jerman di PHK, dan beberapa media lokal melakukan merger untuk bertahan hidup. Gelombang PHK juga menerpa Asia, The China Times melepas separo stafnya pada bulan Juni 2008. Alasan utama dari runtuhnya media cetak di negara-negara Barat adalah karena berkembangnya media baru internet. Makin banyak orang di negara-negara Barat mengunjungi media online untuk mendapatkan informasi, apalagi pada musim dingin yang penuh salju. Untuk apa harus keluar rumah untuk memungut koran pagi demi membaca berita koran, jika berita yang sama bisa dibaca melalui komputer di dalam rumah yang hangat. Oleh karena orang malas mengambil koran, maka iklan dalam koran tidak efektif lagi. Sebagai gantinya mereka memasang iklan di internet, yang harganya jauh lebih murah, bahkan ada iklan yang gratis di internet. Secara bersamaan pendapatan iklan dan sirkulasi koran-koran di negara Barat merosot, dan itulah yang menyebabkan banyak koran-koran di AS dan negara Barat lainnya bangkrut, tutup, atau pindah ke online. Runtuhnya koran-koran tersebut dipercepat dengan krisis ekonomi yang menghantam AS. Kerugian yang diderita di beberapa koran di AS sudah tidak tertanggungkan lagi. Memang Ben S. Bernanke, Bank Federal AS menyatakan krisis ekonomi akan berakhir di akhir tahun 2009, tetapi koran-koran yang tutup itu tampaknya tidak akan kembali lagi. Pada tanggal 23 Februari 2008, Kedutaan Besar AS mengirim email, yang berjudul Drastic Decrease Predicted in Number of Major U.S. Newspapers Younger readers get their news from the Internet. Isi email itu meramalkan bahwa 20 tahun yang akan datang semua koran di AS pindah ke online kecuali empat koran besar, yaitu The New York Time, The Washington Post, USA Today, dan Wall Street Journal. Paul Gillin, konsultan teknologi informasi dari Massachusetts menyatakan bahwa surat kabar terus menyampaikan berita-berita yang bernilai. Namun model bisnis suratkabar tidak mungkin bertahan hidup lagi, perkembangan ekonomi sedang bergerak melawan bisnis koran, kata Gillin. Yang dimaksud Gillin adalah bahwa banyak koran di AS mengalami kerugian yang sangat besar, karena terlalu banyak wartawan dan karyawan lainnya. Keadaan ini diperparah, kata Gillin, generasi muda sekarang ini membaca berita dari internet. Internet di Indonesia Apakah internet akan mengancam surat kabar di Indonesia? Direktur Marketing First Media, Dicky Moechtar, menyatakan pengguna internet di Indonesia meningkat 1.000% dalam 10 tahun terakhir ini. (Kompas, 31 Maret 2009). Sekarang ini pengguna internet mencapai 25 juta orang, namun Internet Marketers memperkirakan akhir tahun 2009 akan mencapai 33 juta orang, dan tahun 2010 akan mencapai 50 juta orang. Dalam release yang dikeluarkan Yahoo! & TNS tanggal 20 Maret 2009, bahwa 83% dari pengguna internet di Indonesia mengakses dari warung internet, dan hanya 16% yang mengakses dari rumah. Menurut Yahoo! & TNS, segmen penduduk usia 15-19 tahun di daerah perkotaan yang mengakses internet berjumlah 64%. Dari informasi awal ini, dapat disimpulkan bahwa media internet adalah ancaman nyata bagi eksistensi surat kabar di Indonesia, walaupun bukan pada tahun ini. Ada praktisi yang sangat optimis, surat kabar di Indonesia akan tetap

bertahan hidup selama-lamanya, jika produk surat kabar ditampilkan dengan menggunakan jurnalisme sastrawi. Ada yang memperkirakan masih bisa bertahan sampai tahun 2050. Ada yang mengatakan masa hidup surat kabar di Indonesia tinggal 20 tahun lagi. Bahkan ada yang mengatakan ancaman media online akan datang lebih cepat lagi, jika tarif internet dan harga komputer turun secara berarti. Jika dilihat dari pengguna internet yang mengakses berita yang masih sangat sedikit, memang surat kabar di Indonesia masih boleh berlega hati, setahun dua tahun ini, namun setelah itu suasananya akan berubah, dengan makin berkembangnya teknologi informasi dan turunnya tarif internet. Ada faktor lain yang membuat praktisi surat kabar boleh bersantai setahun dua tahun ini antara lain, pengguna internet mengakses di warung internet yang tarifnya Rp3.000,-/jam, dan mayoritas pengaksesnya adalah remaja yang diperkirakan mengakses internet karena tugas sekolah/kuliah. Di tengah ancaman dari internet, justru hampir semua media cetak di seluruh Indonesia, mensuplai berita ke media internet secara gratis. Keadaan yang paradoksal ini harus dilakukan media cetak atas nama konvergensi media dalam rangka mempertahankan hidupnya, dan mungkin juga sebagai persiapan untuk pindah media jika keadaan memaksa seperti di AS. Perang harga Jika internet merupakan masa depan bagi koran, ancaman media cetak saat ini adalah perang harga pada bidang sirkulasi dan iklan. Perang harga eceran surat kabar harian berlangsung sangat kerasnya, dengan hadirnya koran dengan harga Rp 1.000,-. Hampir semua koran harian besar melakukan jual rugi, namun Pasal 20 Undang-Undang no 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, tampaknya belum pernah diberlakukan untuk industri surat kabar. Dampak jual rugi yang dilakukan oleh industri surat kabar yang sudah mapan dianggap sebagai penghalang masuknya pemain baru dalam industri koran. Sudah banyak pemain baru mencoba, dan ribuan koran sudah bertumbangan, dan terlempar keluar dari arena bisnis koran. Perang harga yang lebih dahsyat terjadi pada iklan. Bukan hanya surat kabar harian yang banting harga, tetapi juga majalah, radio, dan televisi. Apalagi untuk industri televisi yang harga iklannya dibayar setelah mencapai rating tertentu. Sedangkan ada koran yang memuat iklan tanpa dibayar, sebagai bagian promosi pembentukan pasar. Dengan adanya perang harga dalam iklan ini maka data penelitian yang dilakukan oleh AC Nielsen hanya bisa dipakai untuk mengukur volume iklan, tetapi tidak bisa digunakan untuk mengukur tentang belanja iklan. Sampai saat ini belum ada cara untuk meredakan perang harga ini. Beberapa kali Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat menyelenggarakan diskusi untuk membahas masalah harga eceran koran, namun para praktisi media cetak sepakat untuk tidak sepakat, dan menyerahkan keputusannya kepada pasar. Andaikata diskusi itu berhasil memutuskan patokan harga langganan seperti pada saat Orde Baru, maka diskusi itu bisa dituduh melakukan praktek kartel, yang juga dilarang oleh UU no 5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Perang harga ini pasti akan meminta korban media cetak dan juga media elektronik lebih banyak lagi, saat ini maupun nanti. Permintaan kertas menurun Dengan tutupnya koran-koran di negara Barat, muncul pertanyaan baru, siapa yang akan membeli kertas? Mungkin koran-koran Jepang masih hebat, tetapi masyarakatnya sudah mulai berubah ke online, lewat desktop, laptop, notebook, atau blackberry. Dalam waktu yang tidak terlalu lama permintaan kertas pun akan turun di Jepang. Kini tinggal dua raksasa dunia yang masih membutuhkan kertas dalam jumlah besar, yaitu India dan China. India sekarang sudah menjadi pemasok teknologi informasi dunia, dan China juga bergerak menyaingi perkembangan teknologi informasi di negara-negara Barat. Gerakan ini pada ujungnya akan mengurangi kebutuhan akan kertas. Lalu siapa yang membeli kertas di dunia? Dalam 5 tahun ke depan, Indonesia akan salah satu negara yang masih membeli kertas dan itupun tidak terlalu banyak juga. Dengan demikian permintaan kertas di dunia, pelan tetapi pasti, terus menurun. Jika suplai kertas masih sama seperti saat ini, maka sesuai dengan hukum ekonomi suplai and demand, harga kertas ini akan terus turun. Kecuali pabrik-pabrik kertas dunia mengurangi produksi. Kalau pabrik kertas mengurangi produksi, maka bahan baku untuk kertas tidak ada yang menyerap, dan dampaknya harga baku itu akan turun harganya juga. Apalagi ditambah dengan turunnya harga minyak dunia, maka mau tidak mau harga kertas akan terus turun dalam satu atau dua tahun ini. Jika benar harga kertas di Indonesia terus turun, maka kerugian di bidang sirkulasi dalam industri koran akan berkurang. Jika harga kertas turun terus, maka pada waktunya koran-koran kecil akan mampu memperoleh sedikit margin dalam sirkulasi, dan hal ini akan membuat peluang bagi industri koran untuk mempertahankan hidupnya, sambil menata model bisnisnya, yang bisa mengantarkan media cetak hidup lebih lama lagi. Majalah mungkin lebih tenang

Berbeda dengan persaingan antar koran, persaingan dalam bisnis majalah dan tabloid agak lebih longgar, karena hampir setiap majalah di Indonesia dijual di atas harga pokok penjualan. Jadi penjualan majalah masih memperoleh margin tiap eksemplarnya. Semakin banyak majalah yang laku di pasar, semakin baik, karena semakin banyak keuntungan yang diperoleh dari sisi sirkulasi. Di sisi produksi, majalah juga punya kelonggaran untuk menyajikan produk yang lebih menarik, baik dalam cetakan maupun penggunaan bahasa yang lebih indah. Dengan produk yang berkualitas tinggi dilihat dari sisi cetakan maupun jurnalisme, maka majalah mempunyai peluang hidup lebih panjang daripada koran. Bahkan majalah tidak perlu khawatir dengan invasi media online. Satu-satunya arena peperangan antar majalah adalah perang harga dalam iklan. Namun ini sudah diantisipasi oleh para pengelola media dengan cara differensiasi produk yang menyasar segmen pasar yang sangat khusus. Dengan menciptakan produk yang unik dan segmen pasar khusus, maka pendapatan iklan dari tiap majalah tidak akan terganggu. Kedigdayaan bisnis majalah ini dibuktikan dengan kenaikan harga eceran majalah di Indonesia, yang disertai dengan kenaikan harga iklan. Bisnis majalah tidak gentar menghadapi krisis ekonomi yang melanda dunia.* Penulis: Muhammad Ridlo Eisy (Ketua Harian Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Pusat, Direktur PT Galamedia Bandung Perkasa yang menerbitkan Harian Umum Galamedia di Bandung). Sumber: http://ridloeisy.blogspot.com/2009/04/masa-depan-media-cetak-di-indonesia.html

Kiat-Kiat Inovasi Media Massa dan Aplikasinya Kamis, 20 Mei 2010 18:20 Oleh Tribuana Said Makalah ini membahas beberapa isu utama dan kiat-kiat konkret seputar manajemen media untuk memberi perspektif tambahan bagi peserta kegiatan pelatihan jurnalistik. Dalam hubungan ini kita simak judul artikel dalam satu surat kabar besar Jakarta. Judul artikel tersebut dibuat dengan huruf ukuran besar dan bunyinya cukup sensasional: "Selamat Tinggal Majalah dan Koran." Surat kabar dan majalah ditinggal pergi masyarakat, begitulah pikiran penulis artikel tersebut setelah mengulas keunggulan media baru seperti internet, telepon selular atau handphone, iPod, dan sebagainya. Di mata sang penulis, media baru lebih disenangi oleh masyarakat ketimbang koran dan majalah. Sementara selama ini media massa audiovisual seperti TV dan radio disebut-sebut sudah berhasil merebut minat dan menjangkau audiens atau khalayak yang jauh lebih besar dibanding media cetak. Benarkah media pers cetak semakin ditinggalkan oleh khalayak pembaca di seluruh dunia? Statistik jumlah terbitan dan tiras surat kabar di Amerika Serikat dan Eropa dalam beberapa dasawarsa terakhir memang menunjukkan penurunan. Di Indonesia, dalam beberapa tahun belakangan sebagian penerbit telah pula berkali-kali mengeluh karena tiras koran secara nasional dan regional, bahkan lokal, tidak berkembang alias stagnan.

Perbandingan Jumlah Harian dan Tiras Beberapa Negara Barangkali mengetahui kemerosotan sirkulasi media pers cetak, ditambah meluasnya digitalisasi di bidang komunikasi dan informasi, pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan "surat kabar akan mati" dalam waktu 10 tahun setelah dia menyatakan ramalannya itu. Ternyata ramalan pendiri Microsoft itu meleset. Dalam pernyataan susulan bulan April tahun ini, Gates menyampaikan prediksi baru, mungkin sampai lebih 50 tahun ke depan masih ada orang yang mencetak koran, namun dia berkeras suatu saat di masa depan tidak akan ada lagi buku, majalah, dan surat kabar. Semua itu akan tampil secara digital melalui sebuah alat berbentuk tablet ("that very, very thin, very inexpensive, high-bandwidth, wireless device where a lot of the print and video consumption will take place"). Sebutlah: electronic paper. Para jurnalis kawakan akan menegaskan bahwa jurnalisme surat kabar bukan jurnalisme internet. Gates berpikir dan berbicara sebagai ahli teknologi, bukan sebagai jurnalis. Di samping itu, teori lama (yang digulirkan Wolfgang Riepl, pemimpin redaksi Neurenberger Zeitung, pada tahun 1913) bahwa media baru bukan pengganti atau substitusi media lama, melainkan tambahan atau kumulatif, belum terpatahkan. Meski ramalan Gates belum menjadi kenyataan, alias surat kabar tidak atau belum mati, terjadinya penurunan jumlah koran dan tiras, seperti di AS dan beberapa negara lain, memang tidak dapat disangkal. Apa penyebab penurunan tersebut? Salah satunya adalah terus berkurangnya jumlah generasi tua yang membaca koran, ditambah merosotnya minat baca generasi baru sehingga berakibat menurunnya jumlah pembaca muda. Faktor lain adalah semakin banyak pembaca surat kabar, terutama generasi muda, yang mencari informasi dan berita melalui situs-situs web atau internet, termasuk yang diselenggarakan oleh perusahaan surat kabar sendiri, kantor-kantor berita dan perusahaan-perusahaan TV. Bagi para penerbit media, satu perkembangan "revolusioner" dalam industri media di Indonesia sejak awal era Reformasi tahun 1998 ialah bahwa pasar media penerbitan adalah arena pertarungan cari uang. Pernah membeli dan membaca Kosmopolitan, Harper's Bazaar, Reader's Digest, National Geographic Society, Autobild, dan lain-lain--yang masing-masing nama ditambah kata "Indonesia"? Inilah beberapa media Indonesia yang terbit di Indonesia sebagai buah perjanjian bisnis lintas batas, antara pengusaha asal dua negara. Franchising, licensing, outsourcing, atau apa pun sebutan model kontrak bisnis itu dalam wujud seluruh atau sebagian majalah-majalah tersebut di atas, merupakan realitas kehidupan media massa di Indonesia dalam tahun-tahun terakhir yang menambah bukti sebagian

pengusaha media kita dan masyarakat Kita yang menjadi konsumen produk-produk mereka sudah terbawa arus globalisasi, bahkan menjadi bagian dari globalisasi itu. Pada umumnya produk-produk hasil kontrak bisnis seperti majalah-majalah itu di sini berbasis di Jakarta. Sejak awal kemerdekaan sampai saat ini, penerbit media cetak yang berharap produknya mempunyai sirkulasi nasional mau tidak mau harus bermarkas di Jakarta. Ini merupakan hukum bisnis media di negeri ini. Selain merupakan kota besar yang memiliki jumlah penduduk terbesar (melebihi 10 juta jiwa) dan berada di titik letak sentral Nusantara, Ibu Kota adalah juga basis dan sekaligus pusat bagi hampir semua jaringan penerbangan ke kotakota lain. Ini penting dalam strategi distribusi. Membangun jaringan "cetak jarak jauh" mungkin merupakan faktor penunjang, tetapi apakah masih ekonomis dalam jangka panjang perlu dikaji terus. Bagaimana data dan analisis terakhir mengenai situasi media massa dunia di mata para chief executive officer (CEO), direktur perusahaan, dan pemimpin redaksi? Khususnya, bagaimana perkembangan surat-surat kabar harian sebagai induk atau andalan dunia media pers cetak? Sejumlah informasi dan data terbaru tentang semua itu terungkap di World Newspaper Congress ke-59 dan World Editors Forum ke-13 yang digelar World Association of Newspapers (WAN) di Moskow, Rusia, selama empat hari, 4-7 Juni 2006. WAN, dulu namanya Federation Internationale des Editeurs de Journaux, disingkat FIEJ, beranggotakan sedikitnya 73 organisasi dan asosiasi penerbit surat kabar nasional, para eksekutif pers di 102 negara, sembilan kantor berita nasional, dan 10 organisasi pers regional. WAN melaksanakan kongres tiap tahun. Tempat kongres tahun 2007 dipilih Cape Town, Afrika Selatan. Tahun 2008 di Goteborg di Swedia. Tahun 2005 kongres ke-58 dilangsungkan di Seoul, Korea, dihadiri hampir 1.400 orang dari 80 negara. Di Moskow peserta kongres mencapai 1.700 orang dari 110 negara, suatu rekor baru menurut pernyataan Presiden WAN Gavin O'Reilly, penerbit dari Irlandia. Kongres dan forum editor di Moskow membahas sebanyak 50 topik yang menyingkap sejumlah masalah bisnis dan redaksional media massa secara global. Masalah-masalah itu menarik untuk disimak karena mengedepankan banyak isu atau masalah manajemen pers yang jarang menjadi sorotan publik, terutama di Indonesia, dan boleh jadi tidak tersentuh di perguruan tinggi jurnalisme kita. Guna memahami topik-topik itu lebih jauh, dan sesuai dengan maksud makalah ini, kita ambil beberapa dan susun dalam empat kelompok utama, atau sebut saja empat masalah besar media secara global, baik di mancanegara maupun di Indonesia: 1. Perkembangan pembaca muda atau generasi baru pembaca. 2. Tuntutan mendesain-baru media (redesigning). 3. Pengembangan produk-produk media (product development). (Masalah product development ini dapat disatukan dengan masalah desain baru karena saling mengait erat). 4. Citizen journalism vis-a-vis professional journalism. Pembaca Muda Masalah pembaca muda selalu menjadi topik penting dalam kongres-kongres dan forum redaktur WAN yang dihadiri oleh para eksekutif tingkat atas perusahaan media dari seluruh dunia. Mengapa? Karena, para penerbit menyimpulkan bahwa memenangkan minat pembaca muda adalah kunci masa depan bagi bisnis media. Dan, mereka sudah mempunyai kiat jitu. Untuk menangani masalah pembaca generasi baru dan muda, WAN telah meluncurkan satu program khusus, disebut Newspapers in Education (NIE). Di Indonesia program ini sudah berjalan lebih dari dua tahun dan dinamakan Koran Masuk Sekolah (disingkat KMS) dengan didukung oleh lembaga bernama Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI). Program NIE atau KMS dimaksudkan sebagai konsep dasar bagaimana menggalang pembaca baru dan muda sebagai suatu strategi jangka panjang. Redesigning Desain baru suratkabar (atau redesigning) di mancanegara sudah berlangsung lama. Perkembangan 30 tahun terakhir banyak didorong oleh 1960-an dan dengan cepat melanda dunia media cetak. Di Indonesia, desain baru surat kabar

awalnya berwujud pengurangan jumlah kolom dari sembilan (broadsheet) menjadi 6 atau 8 kolom. Perubahan ini hanya bersifat pergantian format. Koran-koran Grup Jawa Pos memulai dengan format 6 kolom, seiring dengan kebijakan pembelian mesin-mesin cetak untuk memroduksi koran ukuran tersebut. Sejak akhir 2002, harian Kompas tampil dengan format barunya. Mungkin karena menggunakan konsultan asing, perubahan format Kompas tidak dapat disebut kosmetik semata karena dibarengi desain baru isi (editorial) dan penataan baru halaman. Namun, dibandingkan dengan strategi desain baru yang dikembangkan di mancanegara, Kompas bisa dibilang agak timid, entah kurang berani atau entah "takut-takut". Walhasil, bisa dianggap setara Koran Tempo yang ganti format ke tabloid atau compact, namun dari segi produk tidak tampak terobosan istimewa. Product Development Masalah product development ditinjau semata-mata dalam konteks bagaimana suatu perusahaan pers dapat meningkatkan kinerjanya sebagai bisnis atau industri. Strategi yang ditempuh adalah menciptakan produk atau media baru untuk pasar sasaran tertentu dengan tujuan menambah pendapatan bagi perusahaan. Kecuali produk-produk media cetak, strategi ini juga memanfaatkan penyebaran berita ke media elektronik atau media digital, seperti web, web TV, mobile (telepon selular), video online, podcasting, dan sebagainya, selain media tradisional seperti radio (audio) dan televisi (audiovisual). Citizen Journalism Citizen journalism dapat dikatakan perluasan atau ekstensi dari strategi spesialisasi (isi) media, suatu produk media yang fokus khusus liputannya ditujukan pada segmen pasar tertentu. Strategi ini dikembangkan dengan mengajak khalayak pembaca untuk berpartisipasi aktif dengan mengirim informasi, opini, dan foto dari daerah pemukiman atau tempat kerja mereka untuk disiarkan oleh media setempat. Dalam pengertian ini citizen journalism sebenarnya adalah community-generated news and information. Hubungan interaktif yang sangat lokal (hyperlocal) ini hanya dapat dilakukan oleh koran lokal untuk pasar lokal itu sendiri. Begitu pun, apabila digarap dan dikembangkan secara multimedia dan meluas ke jalur-jalur lain sebagai peluang menambah pendapatan, perusahaan media tersebut bisa menjadi satu bisnis atau industri media yang lumayan besar. Siaran berita dunia BBC dan CNN sudah menerapkan praktik citizen journalism dengan meminta dan menyiarkan laporan dan foto dari penonton (BBC pernah menayangkan foto gempa Yogyakarta dari pemirsa setempat). Pertanyaan besarnya adalah apakah model citizen journalism ini pada gilirannya akan mematikan professional journalism? Karena surat kabar membutuhkan jurnalisme, pertanyaan ini dapat dijawab singkat: jurnalisme profesional tidak akan tersingkir Sebaliknya, bila para profesional mau jujur, jurnalis-jurnalis amatiran itu malah akan mendukung mereka untuk berkarya lebih baik, dalam arti lebih mampu menjawab aspirasi warga. Bagaimana gambaran umum situasi media dunia, khususnya surat kabar, saat ini dan perkiraan ke depan? Hasil survei tahunan Innovation International Consulting Group, Innovations In Newspaper: 2006 World Report, mencatat beberapa perkembangan positif, tetapi juga ada hal-hal negatif.* Tribuana Said adalah pengajar LPDS.
http://reporter.lpds.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=90:kiat-kiat-inovasi-media-massa-danaplikasinya&catid=3:teknologi-multimedia&Itemid=6

Bisnis Media Cetak Masih Berpeluang


| Jimmy Hitipeuw | Sabtu, 28 Januari 2012 | 05:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Bisnis media cetak di Indonesia akan terus tumbuh mengingat banyak peluang yang bisa digarap oleh pengusaha media massa. Media cetak yang dikhawatirkan akan bangkrut, seperti di Amerika Serikat, beberapa tahun belakangan ini justru mengalami kenaikan tiras. Hal itu dikatakan Ahmad Djauhar, Sekretaris Jenderal Serikat Perusahaan Pers (SPS), dalam acara Media Industry Outlook 2012 di Jakarta Media Center, Kamis (26/1/2012). Djauhar mengatakan, perkembangan media masa saat ini cukup pesat. Pada tahun 2000, di Indonesia baru ada 290 judul media cetak dengan tiras sekitar 14,5 juta eksemplar. Namun, tahun 2011 jumlah media cetak melonjak menjadi sekitar 1.000 judul dengan total tiras 25 juta eksemplar. Media cetak yang memiliki tiras paling banyak adalah surat kabar harian, disusul berturut-turut majalah, tabloid, dan surat kabar minggu. Kenaikan tiras, kata Djauhar, ada hubungannya dengan kenaikan daya beli masyarakat. Pendapatan per kapita penduduk Indonesia sekarang Rp 3 juta-Rp 3,5 juta per bulan. Kondisi ini membuka peluang bagi media cetak. Tren di China dan India membuktikan, naiknya pendapatan per kapita, bisnis media cetak ikut terangkat, kata Djauhar. Hanya saja, pebisnis media cetak harus pandai berinovasi, seperti mengintegrasikan media cetak dengan media online atau televisi. Persaingan bisnis media massa memang ketat. Pelaku bisnis media massa yang dulunya hanya menguasai satu bentuk media sekarang mulai merambah ke beberapa bentuk media agar penetrasinya ke pasar lebih luas. Selain media cetak, penetrasi pasar yang cukup kuat juga terjadi pada media televisi berbayar. Akhir tahun 2011 baru ada 3,5 juta pelanggan televisi berbayar. Menurut data SPS, masih terdapat 12 juta rumah tangga potensial yang belum terlayani televisi berbayar. Di Indonesia ada 40 juta rumah tangga yang punya televisi. Penetrasi televisi ini juga menjadi pesaing media cetak. Asisten CEO untuk Kompas Gramedia Lukas Widjaja mengatakan, penetrasi yang harus diwaspadai pebisnis media cetak adalah munculnya media-media online dan media sosial yang makin mewabah. Di Indonesia ada 45 juta pengguna internet yang menjadi pangsa pasar bagi pengiklan. Belum lagi media baru, seperti blog dan vlogging (video blogging), yang jumlahnya mencapai 5,27 juta pada akhir tahun 2011. Sebagian besar anak muda sekarang lebih percaya blog. Hal ini ancaman bagi media tradisional, kata Lukas. (IND)

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/01/28/05493874/Bisnis.Media.Cetak.Masih.Berpeluang