Anda di halaman 1dari 6

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO.

1, APRIL 2009: 17-22

KONDISI OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN BARAT SUMATERA (PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS 2007 PASCA TSUNAMI DESEMBER 2004
Dewi Surinati
Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta Utara 14430, Indonesia E-mail: surent_id@yahoo.com

Abstrak
Telah dilakukan pengamatan kondisi oseanografi fisika pasca tsunami Desember 2004 di perairan barat Sumatera, khususnya sekitar Pulau Simeulue, pada bulan Agustus 2007 dengan menggunakan kapal riset Baruna Jaya VII. Parameter yang diukur adalah temperatur dan salinitas dengan menggunakan CTD profile type SBE 19 yang dilakukan di sepuluh stasiun pengamatan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kondisi suhu dan salinitas sudah kembali normal. Temperatur berkisar antara 28 30oC yang meningkat dari utara ke selatan. Nilai salinitas berada pada range 32,8 34 PSU yang meningkat dari daerah pantai ke arah Samudera Hindia.

Abstract
Physical Oceanographic Condition of the Western Waters of Sumatera (Simeulue Island Water) on August 2007 Pasca Tsunami December 2004. The physical oceanographic condition of the western waters of Sumatera was observed in August 2007 after tsunami disaster using the RV Baruna Jaya VII. The tenth CTD stations were observed for measuring the temperature and salinity. The temperature and salinity conditions after two years and seven months of the disaster have been normal as a usual condition. The temperature of 28 30oC gradually increased from north to south and salinity of 32.8 to 34 PSU gradually increased from the coastal area to the open Indian Ocean. The horizontal distributions and vertical profiles of measured parameters are explained in detail in this paper. Keywords: physical oceanographic condition, Simeulue Island, tsunami

1. Pendahuluan
Rangkaian gelombang tsunami yang berlangsung pada 26 Desember 2004 terjadi secara mengejutkan dan merupakan hal baru bagi kebanyakan masyarakat yang terkena musibah tersebut di wilayah Samudera Hindia. Kejadian tersebut berlangsung tanpa peringatan pada hari dengan cuaca cerah. Pada saat air laut surut, rataan terumbu terangkat sehingga banyak masyarakat setempat dan wisatawan yang berada di pantai berjalan diatasnya dan dapat mengamati alam yang biasanya tersembunyi. Dalam beberapa menit saja, serangkaian gelombang kuat datang menyapu mereka dan menghempas daratan. Rangkaian tsunami tersebut mengakibatkan lebih dari 250.000 orang meninggal dunia atau hilang serta rusaknya infrastruktur dan sumberdaya pesisir. Sesungguhnya tsunami bukan merupakan hal baru, karena terdapat sejarah panjang tentang tsunami dan

gempa bumi yang pernah terjadi di Samudera Hindia. Sejarah ini tertanam secara mendalam pada cerita rakyat dan budaya masyarakat adat; yang berlari ke daratan tinggi sebelum gelombang-gelombang datang. Sayangnya, masyarakat yang menjadi korban jiwa, tidak memiliki pengetahuan mengenai dampak gempa bumi dan tsunami. Gelombang-gelombang tsunami tersebut datang dengan kekuatan yang dahsyat melewati terumbu karang dan menghantam daratan, yang mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan yang amat banyak. Di Indonesia, gempa bumi primer di lepas pantai Sumatera menimbulkan tsunami dahsyat dengan serangkaian ombak yang tingginya mencapai 30 m, menghantam pesisir yang terdekat dan mengakibatkan kerusakan luar biasa pada kehidupan dan infrastruktur masyarakat Aceh. Perkiraan jumlah kematian berkisar antara 170.000 sampai 220.000. Kerusakan yang paling parah menimpa Propinsi Aceh terjadi di Meulaboh sampai Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Jaya.

17

18

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 1, APRIL 2009: 17-22

Hampir separuh dari nelayan Aceh meninggal dan sekitar 40.000 rumah lenyap. Sekitar 65-70% dari kapal nelayan hilang, dan bisa dikatakan seluruh wilayah budidaya hancur. Pulau Simeulue adalah pulau yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia. Simeulue pernah dilanda gempa dahsyat dan tsunami tahun 1907 yang membunuh 1800 penduduknya. Secara turun-temurun, mereka mengajarkan bagaimana mengamankan diri dari gempa dan tsunami. Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan daerah pantai-pantai yang terlanda tsunami pada bulan Desember 2004 lainnya, Simeulue hanya menderita akibat yang paling sedikit. Berdasarkan analisis seismic hazard, nampak bahwa daerah rawan gempa bawah laut di Lautan Hindia, terdapat di sepanjang Sunda Trench yang merupakan perbatasan (plate boundaries) antara Lempeng Australia dan Lempeng Sunda. Perbatasan Sunda Trench ini dimulai dari titik di dekat Pulau Simeulue, Aceh, atau epicenter dari megathrust earthquake 9,0 yang menimbulkan tsunami akhir tahun 2004 yang lalu hingga titik di atas Benua Australia [1]. Fenomena alam berupa gempa bumi dan gelombang Tsunami yang terjadi di perairan barat Sumatera (Nangro Aceh Darusalam, Sumatera Utara dan Sumatera Barat,) pada tanggal 26 Desember 2004, dengan kekuatan 8,9 pada skala Richter, adalah merupakan peristiwa yang sangat dahsyat yang menimpa seluruh wilayah perairan di sekitar episentrum. Akibat pergeseran lempeng bumi yang terjadi di dasar perairan pantai barat Sumatera tersebut, menimbulkan gelombang pasang yang sangat tinggi hingga mampu merambah kearah daratan sampai beberapa kilo meter dari garis pantai. Dampak Tsunami secara nyata dan langsung telah menghancurkan wilayah perkampungan, penduduk, seluruh aspek sosial ekonomi dan kondisi alam lainnya di wilayah pantai dekat episentrum Tsunami, khususnya di sekitar perairan Sumatera yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Akibat gelombang tsunami tersebut dapat mengangkat struktur dasar perairan laut, terbawa ke arah daratan, dan sebaliknya kembalinya air dari daratan ke laut, akan membawa berbagai unsur darat (siltasi/sedimentasi). Gelombang tsunami yang dahsyat ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kondisi Oseanografi dan ekosistem perairan. Untuk mengkaji seberapa besar pengaruh tersebut, maka Pusat Penelitian Oseanologi LIPI bekerja sama dengan berbagai instansi dalam dan luar negeri telah melakukan penelian kondisi oseanografi pasca tsunami 2004 selama tiga tahun terakhir. Dalam tulisan ini akan disajikan hasil penelitian oseanografi fisika yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2007 di perairan Pulau Simeulue dan sekitarnya.

2. Metode Penelitian
Pengukuran kondisi oseanografi fisika di sekitar perairan P. Simeulue, NAD telah dilakukan pada bulan Agustus 2007. Parameter yang diukur adalah temperatur dan salinitas dengan menggunakan CTD profile type SBE 19. Pengukuran dilakukan di 10 stasiun dengan posisi tercantum pada Tabel 1 dan peta stasiun terlihat pada Gambar 1. Parameter fisika yang diukur, yaitu temperatur dan salinitas, dianalisis melalui sebaran vertikal dan horizontal serta diagram T-S.

Gambar 1. Peta Stasiun Penelitian Fisika Oseanografi di Perairan P. Simeulue Dan Sekitarnya, Agustus 2007

Tabel 1. Daftar Stasiun dan Posisi Geografis Penelitian di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya pada Bulan Agustus 2007

No Stasiun 1 2 3 4 5 6 7 9 10 11

Posisi Longitude, E Latitude, N 97,498733 2,501200 96,998867 2,500683 96,500033 2,502017 96,999250 2,917217 96,499983 2,917500 95,997583 2,917467 95,749233 2,977550 96.500217 3.332917 96.000800 3.333050 95.500600 3.500867

Kedalaman (m) 37 1081 491 1002 1072 431 42 993 1061 708

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 1, APRIL 2009: 17-22

19

3. Hasil dan Pembahasan


Massa Air Temperatur. Untuk temperatur perairan, khususnya perairan Indonesia, temperatur air dipengaruhi oleh siklus perubahan musim [2]. Selain oleh musim, temperatur air di suatu perairan juga dipengaruhi oleh intensitas matahari, kedalaman dan daratan di sekelilingnya [3]. Profil temperatur di suatu perairan menunjukkan bahwa kolom air laut terbagi menjadi tiga lapisan utama, yaitu lapisan permukaan yang tercampur sempurna (mixed layer), lapisan termoklin (thermocline layer) dan lapisan dalam (deep layer). Di perairan barat P. Sumatera, khususnya perairan di P. Simeulue dan sekitarnya pada bulan Agustus 2007, profil temperaturnya disajikan dalam Gambar 2 yang menunjukkan ketiga lapisan tersebut. Penentuan ketiga lapisan tersebut secara lebih cermat dapat dilakukan dengan menghitung batas atas dan batas bawah lapisan termoklin berdasarkan asumsi bahwa suatu lapisan disebut lapisan termoklin bila gradient temperatur/100 m sama atau lebih besar dari 2oC [4]. Berdasarkan hasil perhitungan dapat dikatakan bahwa lapisan permukaan bervariasi antara 26 sampai dengan 51 meter. Atau dengan perkataan lain, batas atas lapisan termoklin bervariasi juga antara 26 51 meter dengan temperatur sekitar 29oC. Sedangkan batas bawah lapisan termoklin bervariasi antara 225 sampai 275 meter dengan kisaran temperatur antara 13 27oC. Lapisan dalam tercatat rata-rata dibawah 225 meter dengan temperatur lebih rendah dari 13oC. Distribusi vertikal temperatur dari Stasiun 4 sampai 7 (4, 5, 6, dan 7) yang melintasi perairan antara P. Simeulue dan P. Sumatera disajikan pada Gambar 3 (a). Gambar 3 (b) menyajikan distribusi vertikal temperatur yang melintasi Stasiun 2, 5, 10, dan 11, dengan posisi barat laut ke arah tenggara perairan P. Simeulue. Kedua gambar tersebut menunjukkan dengan lebih jelas bahwa lapisan permukaan perairan ini tercatat pada kedalaman 0 50 m dengan temperature berkisar 29 30oC dan
Profil T
0 5 -100 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29

7
0

4
29

-100 Depth (m)

27 25 23

-200
21 19

-300

17 15

-400

13

< 11
95.9 96.0

11 9

-500
95.8

96.1

96.2

96.3

96.4

96.5

96.6

96.7

96.8

96.9

Longitude

(a)
2 5

10

11
29

-100

27 25 23

Depth (m)

-200

21 19

-300

17 15 13

-400

< 11

11 9

-500
2.6

2.7

2.8

2.9

3.0
Latitude

3.1

3.2

3.3

3.4

3.5

(b)
Gambar 3. Distribusi Vertikal (Cross Section) Temperatur yang Melalui Stasiun (a) 4, 5, 6,dan 7 (b) 2, 5, 10, dan 11 di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya, Agustus 2007

lapisan termoklin teramati pada kedalaman 50 200 m dengan temperatur 13 27oC. Dan lapisan dalam yang terlihat stabil mulai kedalaman 200-an m dengan temperatur < 13oC. Distribusi horizontal temperatur di perairan P. Simeulue dan sekitarnya pada bulan Agustus 2007 disajikan pada Gambar 4. Pada permukaan Gambar 4 (a), nilai temperatur rata-rata 29,2oC. Temperatur rata-rata pada kedalaman 100 m (Gambar 4 (b) sekitar 21,4oC dan pada kedalaman 200 m (Gambar 4 (c) temperatur ratarata sekitar 12,9oC. Mulai kedalaman 200 m variasi temperatur dari stasiun ke stasiun tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Kondisi ini menunjukkan bahwa massa air mulai stabil dan tidak terlalu dinamis. Hasil penelitian sebelum terjadi tsunami Desember 2004 yaitu tahun 1980 dan 2003, mencatat bahwa lapisan permukaan mencapai kedalaman 50 - 80 m dengan nilai temperatur lebih dari 28oC [6,7]. Lapisan termoklin tercatat pada kedalaman 80 120 m dan 80 160 m. Penelitian tahun 2005, 7 bulan pasca tsunami Desember 2004 menunjukkan bahwa lapisan permukaan hingga kedalaman 50-an m juga [5]. Dari penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa lapisan isothermal seperti yang dilaporkan dari hasil penelitian tahun sebelum terjadi tsunami Desember 2004 masih tercatat pada penelitian tahun 2007. Lapisan permukaan pada penelitian tahun 2007 yang merupakan batas atas kedalaman lapisan

-200

-300

-400

-500

-600

-700

st.1 st.2 st.3 st.4 st.5 st.6 st.7 st.9 st.10 st.11

Depth (m)

-800

-900

-1000

T (deg C)

Gambar 2. Profil Temperatur di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya, Agustus 2007

20

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 1, APRIL 2009: 17-22

termoklin hanya mencapai kedalaman 26 51 m, jadi sedikit lebih tipis. Lapisan termoklin hasil penelitian tahun 2007 yang mencapai kedalaman 275 m lebih tebal dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diduga disebabkan karena hadirnya massa air bersalinitas tinggi. Berdasarkan analisa melalui diagram T-S yang akan dijelaskan kemudian, massa air itu berasal dari massa air Subtropical Lower Water.
4

Salinitas. Profil salinitas yang disajikan pada Gambar 5 menunjukkan hal yang serupa dengan temperatur dimana lapisan permukaan teramati sampai kedalaman 50 m dengan nilai salinitas berkisar 33,1 33,5 PSU. Salinitas lebih dari 34 PSU teramati mulai dari kedalaman 50 m sampai dasar dan mencapai maksimum, yaitu 35,13 PSU pada kedalaman 100 150 m. Hal ini akan dijelaskan lebih terperinci melalui diagram T-S yang disajikan pada Gambar 8. Distribusi vertikal salinitas seperti halnya temperatur, yaitu melalui Stasiun 4, 5, 6, dan 7 dan yang melalui Stasiun 2, 5, 10 dan 11 disajikan pada Gambar 6 (a) dan (b). Melalui Gambar 6 profil salinitas dapat terlihat
Profil S
0 32.50 -100 32.75 33.00 33.25 33.50 33.75 34.00 34.25 34.50 34.75 35.00 35.25 35.50

11
11

10
10

9
9

29.5 29.4 29.3

Latitude, N

29.2

7
7

29.1
6
6

5
5

4
4

29

3
3

2
2

1
1

-200

-300

-400

Depth (m)
-500

2 95

96

96

97

97

98

98

-600

Longitude, E

(a)
4

-700

st.1 st.2 st.3 st.4 st.5 st.6 st.7 st.9 st.10 st.11

-800

-900

-1000

S (PSU)
4
11
11

10
10

9
9

22.6 22.1 21.6

Latitude, N

21.1 20.6
7
7

Gambar 5. Profil Salinitas di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya, Agustus 2007


7
0

6
6

5
5

4
4

20.1

3
3

2
2

1
1

-100
Depth (m)

35.5

-200

> 35

35

34.5

2 95

96

96

97

97

98

98

-300
34

Longitude, E

(b)
4

-400

33.5

-500
95.8

33

95.9

96.0

96.1

96.2

96.3

96.4

96.5

96.6

96.7

96.8

96.9

Longitude
4
11
11

(a)
10
10

9
9

Latitude, N

7
7

6
6

5
5

4
4

13.35 13.25 13.15 13.05 12.95 12.85 12.75 12.65 12.55

10

11

0
35.5

-100

35 34.5

Depth (m)

-200

> 35

34 33.5 33

3
3

2
2

1
1

-300

32.5 32

-400

31.5 31

-500
2 95 96 96 97 97 98 98

2.6

2.7

2.8

2.9

3.0
Latitude

3.1

3.2

3.3

3.4

3.5

Longitude, E

(c)
Gambar 4. Distribusi Horizontal Temperatur di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya pada Kedalaman (a) Permukaan, (b) 100 m, dan (c) 200 m, Agustus 2007

(b)
Gambar 6. Distribusi Vertikal (Cross Section) Salinitas yang Melalui Stasiun (a) 4, 5, 6, dan 7 (b) 2, 5, 10, dan 11 di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya, Agustus 2007

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 1, APRIL 2009: 17-22

21

lebih jelas. Pada lapisan permukaan yang mencapai 50 m, nilai salinitas berkisar 33,1 33,5 PSU. Lapisan selanjutnya yang merupakan lapisan termoklin nilai salinitas lebih dari 34 PSU. Pada lapisan ini sampai kedalaman 250-an m tercatat nilai salinitas maksimum yang mencapai 35,13 PSU. Pada lapisan dalam, nilai salinitas stabil. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh arus atau faktor yang lainnya. Distribusi horizontal salinitas di perairan P. Simeulue dan sekitarnya pada bulan Agustus 2007 disajikan pada Gambar 7. Pada permukaan (Gambar 7 (a)) nilai salinitas rata-rata sekitar 33,1 PSU. Pada kedalaman 100 m (Gambar 7 (b)) nilai salinitas rata-rata ~ 34 PSU. Nilai salinitas tinggi dengan nilai rata-rata 35,03 PSU berada pada kedalaman 200 m (Gambar 7 (c)). Massa air bersalinitas tinggi ini diduga berasal dari massa air yang datang dari utara, yaitu massa air Subtropical Lower Water (SLW). Diagram T-S. Perairan di P. Simeulue dan sekitarnya termasuk Samudra Hindia bagian timur laut (Northeastern Indian Ocean). Massa air perairan ini bisa dijelaskan melalui diagram TS yang disajikan pada Gambar 8. Pada lapisan permukaan temperatur tercatat sekitar 29oC dan salinitas berkisar antara 32,8 33 PSU. Pada lapisan selanjutnya, kedalaman 50 150 m, temperatur berkisar antara 20 25oC dengan salinitas berkisar antara 33 PSU sampai lebih dari 35 PSU. Mulai dari kedalaman 100 m, salinitas mencapai nilai maksimum, yaitu sekitar 35,13 PSU dengan temperatur sekitar 21oC. Massa air lapisan dalam pada perairan ini, kedalaman > 200 m, salinitasnya < 35 PSU dengan temperatur < 15oC. Berdasarkan data di atas, maka dapat di katakan bahwa massa air di perairan P. Simeulue dan sekitarnya terdiri dari tiga massa air yaitu: 1) massa air lokal (Aceh Water Mass/AW) yang menempati lapisan dari permukaan sampai dengan kedalaman 50 meter, 2) massa air tipe Subtropical Lower Water (SLW) pada kedalaman 50 150 m dimana tercatat salinitas maksimum. Penjelasannya dikemukakan oleh Wyrtki (1961) [2] yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa massa air di bagian timur laut Samudra Hindia, dengan posisi lintang 11oS 4 oN yang menunjukkan salinitas maksimum dengan nilai 34,6 36 PSU, yang menempati lapisan dari kedalaman 50 250 meter dan 3) massa air Samudra Hindia pada lapisan dalam (Indian Ocean Deep Water / IDW) [2]. Berdasarkan hasil penelitian tahun 2005 Subtropical Lower Water (SLW) berada di perairan sebelah timur NAD dan di Selat Benggal, dan tidak tercatat pada perairan Barat NAD. Pada penelitian tahun 2007 ini massa air SLW tercatat di peraran sekitar P. Simeulue. Hal ini mengindikasikan bahwa arus yang berkembang pada perairan NAD adalah arus tenggara yang secara

11
11

33.35
10
10

9
9

33.25 33.15 33.05

Latitude, N

32.95 32.85

7
7

6
6

5
5

4
4

32.75

3
3

2
2

1
1

2 95

96

96

97

97

98

98

Longitude, E

(a)
4

11
11

10
10

9
9

35.09 35.06 35.03 35

Latitude, N

34.97

7
7

6
6

5
5

4
4

3
3

2
2

1
1

2 95

96

96

97

97

98

98

Longitude, E

(b)
4

11
11

10
10

9
9

35.03 35.027 35.024

Latitude, N

35.021

7
7

6
6

5
5

4
4

35.018

3
3

2
2

1
1

2 95

96

96

97

97

98

98

Longitude, E

(c)
Gambar 7. Distribusi Horizontal Salinitas di Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya pada Kedalaman (a) Permukaan, (b) 100 m, dan (c) 200 m, Agustus 2007

T-S Diagram
35

30

25

T (deg C)

20

15

10

0 32.5 32.8 33.0 33.3 33.5 33.8 34.0 34.3 34.5 34.8 35.0 35.3

S (PSU)

Gambar 8. Diagram T-S Massa Air Perairan P. Simeulue dan Sekitarnya, Agustus 2007

22

MAKARA, SAINS, VOL. 13, NO. 1, APRIL 2009: 17-22

terus menerus mendorong massa air dari utara P. Simeulue ke arah selatan. Fenomena ini diduga yang menyebabkan lapisan termoklin di perairan ini pada tahun 2007 lebih tebal dibandingkan dengan hasil penelitian pada tahun 2005.

Daftar Acuan
[1] Anon., Analisa Daerah Rawan Gempa, http://www.acehmediacenter.or.id/index.php?dir=a rticle&file=detail&id=21, 2005. [2] K. Wyrtki, Physical Ocenography in the Southeast Asian Waters, Naga Report Vol. 2, Sripss Institution of Oceanography, California, 1961, p.195. [3] M.M. Sidjabat, Pengantar Oseanografi, Institut Pertanian Bogor, 1974, p. 127. [4] A. Suwartana, Sebaran Kedalaman Batas Atas dan Bawah Lapisan Termoklin di Laut Banda, Oseanologi di Indonesia, 19, Lembaga Oseanologi Nasional-LIPI, 1985, Jakarta, p. 17-31. [5] Anon., Report on The Joint Research between Indonesia and Norway on The Earthquakes and Tsunami Impacts in Aceh and West Sumatera, August 2005, Jakarta, 2006. [6] S. Wouthuyzen, Penelitian Biodiversitas dan Aspek Biologi Ikan Sidat Fase Leptoceohali di Bagian Barat Pulau Sumatera (Samudera Hindia), Pusat Penelitian Oceanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta, 2003. [7] A. Aglen, L. Foyn, O.R. Gode, S. Myklevoll, O.J. Ostvedt, A Survey of the Marine Fish Resources of the North and West Coast of Sumatera, August 1980, 1981, Bergen, p. 12-15.

4. Kesimpulan
Pada umumnya sifat-sifat massa air (temperatur dan salinitas) di perairan P. Simeulue dan sekitarnya pada tahun 2007 tidak jauh berbeda dengan sebelum terjadi tsunami pada bulan Desember 2004. Ini berarti bahwa meskipun ekosistem perairan berubah namun pengaruh tsunami terhadap kondisi oseanografi fisika perairan hanya terjadi sesaat (temporer/tidak permanen). Setelah itu normal kembali karena perairan Aceh terbuka terhadap perairan Samudera Hindia, dan dengan adanya sistem arus global yang berjalan aktif maka penyegaran massa air berlangsung aktif pula.

Ucapan Terima Kasih


Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ir. L. F. Wenno dan Drs. Hadikusumah atas masukan dan bimbingannya dalam penulisan. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan teknisi dan awak Kapal Riset Baruna Jaya VII atas bantuannya dalam pengambilan data.