Anda di halaman 1dari 5

KEBERADAAN ISLAM DALAM PLURALITAS MASYARAKAT SAAT INI

A.

PENDAHULUAN Islam memiliki ajaran yang konkrit untuk menciptakan kondisi masyaraat yang islami.

Islam bukan sekedar agama yang memiliki konsep ajaran spiritualitas, ubudiyah semata. Letak kesempurnaan agama islam, kamil, atau syumul, karena islam mengandung ajaran pada semua aspek kehidupan manusia, baik aspek peribadahan manusia kepada Allah maupun aspek kehidupan sosialnya. Masyarakat yang ideal menurut ajaran isam adalah masyarakat yang taat pada aturan Allah, yang hidup dengan damai dan tenteram, dan yang tercukupi kebutuhan hidupnya. Dalam al-quran, kondisi masyarakat seperti itu digambarkan dengan istilah baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafuur, negeri yang baik, yang berada dalam lindungan ampunanNya. Realisasi dari masyarakat ideal tersebut pada masa Rasulullah SAW dicontohkan pada masa kehidupan beliau di Madinah di mana masyarakatnya dalam kepemimpinan Rasulullah SAW, hidup dalam kebersamaan, dan menjadikan al-quran sebagai landasan hidupnya, yang disebut masyarakat madani. Masyarakat madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, yang maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu dalam sejarah filsafat, sejak filsafat yunani sampai filsafat islam juga dikenal istilah Madinah atau Polis, yang berarti kota, yaitu masyarakat yang maju dan berperadaban. Masyarakat madani menjadi simbol idealisme yang diharapkan oleh setiap masyarakat. Islam memandang umat manusia sebagai satu keluarga, maka setiap manusia adalah sama derajatnya di mata Alah dan di depan hukum yang diwahyukannya. Untuk merealisasikan kekeluargaan dan ebersamaan tersebut harus ada kerjasama dan tolongmenolong. Konsep persaudara dan perlakuan yang sama terhadap seluruh anggota masyarakat di muka hukum tidaklah ada artinya, kalau tidak disertai dengan keadilan ekoomi yang memungkinkan setiap orang memperoleh hak atas sumbangannya terhadap masyarakat. Agar supaya tidak ada eksploitasi yang dilakuan seseorang terhadap orang lain maka Allah melarang umat islam memakan hak orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam QS. 26 : 183

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan

B.

PERUMUSAN MASALAH Saat ini kendali kemajuan dipegang masyarakat Barat. Umat islam belum mampu

bangkit mengejar ketertinggalannya. Semangat untuk maju berdasar nilai-nilai islam telah mulai dibangkitkan melalui islamisasi ilmu pengetahuan. Islamisasi kelembagaan ekonomi melalui lembaga ekonomi dan perbankan syariah dan lain-lain. Kesadaran dan semangat untuk maju tersebut apabila disertai dengan sikap konsisten terhadap moral atau akhlak islami, pasti akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil yang dicapai masyarakat Barat, yang sekedar mengandalkan pemikiran akal semata. Dari beberapa masalah diatas beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : 1. Bagaimana mewujudkan masyarakat madani pada masyarakat kita saat ini ? 2. Bagaimana sistem ekonomi dalam islam berperan pada kesejahteraan umat ?

C.

UPAYA MEWUJUDKAN MASYARAKAT MADANI Masyarakat madani sebagai masyarakat ideal memiliki karakteristik sebagai berikut : a. Bertuhan Masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama, yang mengakui adanya Tuhan, dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan yang mengatur kehidupan sosial. Manusia secara universal mempunyai posisi yang sama menurut fitrah kebebasan dalam hidupnya, sehingga komitmen terhadap kehidupan sosial juga dilandasi oleh relativitas di hadapan Tuhan. Landasan hukum Tuhan dalam kehidupan sosial itu lebih obyektif dan adil, karena tidak ada kepentingan kelompok tertentu yang diutamakan dan tidak ada kelompok lain yang diabaikan. b. Damai Masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu maupun secara kelompok menghormati pihak lain secara adil. Kelompok sosial mayoritas hidup berdampingan dengan kelompok minoritas, sehingga tidak mncul kecemburuan sosial. Kelompok yang kuat tidak menganiaya kelompok yang lemah, sehingga anarki mayoritas maupun tirani minoritas dapat dihindarkan. c. Saling Tolong-menolong Kehidupan masyarakat madani menunjukkan kepedulian sosial untuk saling tolong menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat mengurangi kebebasannya. Prinsip saling tolong menolong antar anggota masyarakat didasarkan pada aspek keanusiaan karena kesulitan-kesulitan hidup yang dihadapi oleh sebagian

anggota masyarakan tertentu, sedangkan pihak lain memiliki kemampuan membantu untuk meringankan beban kesulitan mereka. d. Toleran Toleran artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan oleh Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas pihak lain yang berbeda tersebut. e. Adanya Keseimbangan antara Hak dan Kewajiban Setiap anggota masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang seimbang untuk menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan keutuhan masyarakatnya sesuai dengan kondisi masing-masing. Konsep zakat, infak, sedekah, dan hibah bagi umat islam serta jizyah dan kharaj bagi non islam, merupakan salah satu wujud keseimbangan yang adil dalam masalah tersebut. f. Berperadaban Tinggi Masyarakat madani memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan hidup umat manusia. Ilmu pengetahuan memberikan kemudahan, dan meningkatkan harkat serta martabat manusia, disamping memberikan kesadaran akan posisinya sebagai khalifah Allah. g. Berakhlak Mulia Sekalipun pembentukan akhlak masyarakat dapat dilakukan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan semata, tetapi relativitas manusia dapat menyebabkan terjebaknya konsep akhlak yang relatif. Sifat subyektif manusia sering kali sukar dihindarkan. Karena itu konsep akhlak tidak boleh dipisahkan dengan nilai-nilai Ketuhanan, sehingga substansi dan aplikasinya tidak terjadi penyimpangan.

Allah berfirman dalam QS. 3 Ali-imran : 110

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Ayat tersebut menegaskan, bahwa umat islam adalah umat yang terbaik dari semua kelompok umat manusia yang Allah ciptakan. Di antara aspek kebaikan umat islam itu adalah keunggulan kualitas SDM nya dibanding umat non islam. Keunggulan kualitas umat islam yang dimaksud dalam al-quran ini sifatnya normatif, potensial, bukan realitas melekat pasti secara permanen. Realitas dari norma tersebut bergantung dari kemampuan umat islam sendiri untuk memanfaatkan norma atau potensi yang diberikan Allah. Dalam sejarah umat islam, realitas keunggulan normatif atau potensi umat islam terjadi pada masa Abasiah. Pada masa itu umat islam menunjukkan kemajuan di berbagai bidang kehidupan yaitu, ilmu pengetahuan dan teknologi, militer, ekonomi, politik, dan kemajuan bidang-bidang lainnya. Umat islam menjadi kelompok umat terdepan dan terunggul. Nama-nama ilmuwan besar dunia lahir pada masa itu, seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Imam al-Ghazali, Al-Farabi, dan lain-lain. Di indonesia, jumlah umat islam lebih dari 80%, tetapi juga karena kualitas SDM umat islam masih rendah, juga belum mampu memberikan peran yang proporsional. Hukum positif yang berlaku di Indonesia bukan hukum Islam. Sistem sosial politik dan ekonomi juga belum dijiwai oleh nilai-nilai Islam. Bahkan tokoh-tokoh islam belum mencerminkan akhlak islami. Terealisasi tidaknya syiar dan keunggulan islam bergantung pada keunggulan dan komitmen SDM umat islam.

D.

SISTEM EKONOMI DAN KESEJAHTERAAN UMAT Menurut ajaran islam, semua kegiatan umat islam, termasuk kegiatan sosial

ekonominya harus berlandaskan pada tauhid (Keesaan Allah). Setiap ikatan atau hubungan antara seseorang dengan orang lain dan penghasilannya yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid, adalah ikatan atau hubungan yang tidak islami. Dengan demikian, realitas dari adanya hak milik mutlak tidak dapat diterima dalam islam, sebab hal ini berarti mengingkari tauhid. Menurut ajaran islam, hak mmilik mutlak hanya ada pada Allah saja. Hal ini berarti bahwa, hak milik yang ada pada manusia hanyalah hak milik nisbi atau relative. Menurut ajaran islam, setiap individu bisa menjadi pemilik apa yang diperolehnya melalui bekerja dalam arti yang seluas-luasnya. Manusia berhak untuk mempertukarkan hak itu dalam batas-batas yang telah ditentukan secara khusus dalam hukum islam. Persyaratan-persyaratan dan batas-battas hak milik dalam islam sesuai dengan kodrat manusia itu sendiri, yaitu dengan sistem keadilan dan dengan hak-hak semua pihak yang terlibat di dalamnya. Hak milik perorangan didasarkan atas kebebasan individu yang wajar dan kodrati, sedangkan kerjasama didasarkan

atas kebutuhan dan kepentingan bersama. Menurut ajaran islam, manfaat dan kebutuhan akan materi adalah untuk kesejahteraan seluruh umat manusia, bukan hanya sekelompok manusia saja. Dalam ajaran islam, terdapat dua prinsip utama, yaitu : a. Tidak seorangpun atau sekelompok orang pun yang berhak mengeksploitasi orang lain b. Tidak ada sekelompok orang pun boleh memisahkan diri dari orang lain dengan tujuan untuk membatasi kegiatan sosial ekonomi di kalangan mereka saja.