Anda di halaman 1dari 1

Eka Silitonga. Itu nama yang diberikan oleh orangtua saya. Singkat. Hanya terdiri dari tiga huruf.

Walaupun jika dilihat lagi, nama saya sebenarnya hanya Eka, karena Silitonga adalah nama keluarga. Hal ini membuat saya tidak mempunyai banyak panggilan gaul selain Eka. Beberapa teman memanggil saya Etong, yang katanya merupakan singkatan dari Eka Silitonga. Kurang enak didengar sebenarnya, tapi seiring berjalannya waktu pendengaran saya mulai membiasakan diri untuk mendengar sebutan itu. Beberapa teman yang lain memanggil saya Eksi yang konon juga merupakan singkatan dari Eka Silitonga. Panggilan Eksi ini masih bertahan sampai sekarang, bahkan berkembang menjadi X_Shi. Itulah manusia, tidak pernah puas dengan apa yang ada. Selalu mencari-cari yang tidak perlu, meng-ada-kan yang tidak ada. Setiap saya memperkenalkan diri dengan mengatakan,Nama saya Eka., biasanya secara spontan saya mendapat respon,Anak pertama ya?. Padahal, saya adalah anak ke empat dari enam bersaudara. Pertanyaan berikutnya yang akan terlontar adalah,Kok Eka?. Lalu saya harus menjelaskan mengapa dan bagaimana saya diberi nama Eka. Saya memang anak ke empat dari enam bersaudara tapi saya lebih dulu keluar dari rahim ibu saya dibandingkan dengan saudara kembar saya. Iya. Saya adalah anak kembar. Setelah saya menyebutkan kata kembar biasanya akan langsung disambut dengan pertanyaan yang semakin beragam seperti,Wow!! kembar ya...?, Saudara kembar kamu siapa namanya?, Dimana dia?, Waktu lahir, selisih berapa menit?. Begitulah yang selalu terjadi sehingga proses perkenalan tidak pernah berjalan singkat. Saya lahir 24 tahun yang lalu, di sebuah kota kecil di pulau Kalimantan. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang kota kelahiran saya. Sebagian besar pemandangan yang bisa dilihat adalah sungai dan laut, jika sedikit bergerak ke hulu maka kita akan menemukan hamparan hutan yang luas di sana. Ketapang, Kalimantan Barat. Itulah tepatnya kota kelahiran saya. Sebuah daratan yang berbentuk delta, dan dikelilingi sungai. Kota kecil ini telah menemani saya tumbuh besar. Saat masih kecil, saya dikenal sebagai anak yang baik di luar rumah tapi bandel ketika di rumah alias jago kandang. Bukan ke-bandel-an yang mengkhawatirkan tentu saja. Saya hanya melakukan kenakalan-kenakalan layaknya anak kecil lainnya. Tidak mau makan, berkelahi dengan saudara kembar saya, ngambek kalau menu makanan di rumah mulai membosankan. Itu semua biasa saya lakukan. Saya tidak punya prestasi yang menonjol semasa SD. Saya tidak pernah masuk dalam peringkat sepuluh besar di kelas. Kehidupan SD saya berakhir dengan biasa-biasa saja. Tapi ketika memasuki kehidupan SMP, saya mulai menunjukkan kebolehan saya. Beberapa kali masuk dalam jejeran peringkat sepuluh besar merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya, juara kedua lomba karya ilmiah di tingkat kabupaten pun berhasil saya raih. Melanjutkan pendidikan ke SMA favorit juga merupakan salah satu perwujudan dari harapan saya. Beradu otak dengan anak-anak cerdas bukan hal yang mudah apalagi jika mengingat saya adalah orang yang malas belajar. Saya tidak banyak mengukir prestasi semasa SMA. Juara harapan olimpiade biologi tingkat kabupaten dan terpilih sebagai salah satu anggota Paskibraka tingkat kabupaten adalah hal yang paling saya ingat. Setelah lulus SMA, saya tidak langsung melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi karena kendala biaya. Saudara kembar saya lebih dulu melanjutkan pendidikannya sementara saya menikmati masa pengangguran saya di rumah. Satu tahun kemudian saya mendaftarkan diri ke salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta dan mengambil jurusan Bahasa Jepang. Setelah meraih gelar Amd, saya sempat menjadi pengangguran kembali selama 6 bulan, setelah itu saya bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi selama 6 bulan. Sampai kemudian saya memutuskan untuk merubah haluan dan mendaftar di Universitas Respati Yogyakarta di tahun 2010 dan menetapkan hati untuk memilih Jurusan Kebidanan. Hingga sekarang saya masih berkecimpung di dalam kesibukan sebagai mahasiswa. Inilah kisah singkat tentang diri saya. Kehidupan yang berliku-liku membuat saya lebih menghargai apapun yang sudah saya lalui dan memperjuangkan apa yang ada di hadapan saya. Saya percaya kita akan menjadi seperti yang kita pikirkan. Kita akan menjadi baik jika berpikir kita adalah orang yang baik. Menjalani kehidupan tidak selalu mudah tapi juga tidak selamanya susah. Jangan menyerah. Kita tidak tahu apa yang akan kita dapatkan satu langkah di depan. Mungkin saja apa yang kita perjuangkan hanya sejauh satu langkah. Siapa yang tahu?