Anda di halaman 1dari 35

PENGARUH PEMBIAYAAN BANK SYARIAH, ZAKAT, PDB DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MISKIN INDONESIA

Disusun sebagai salah satu syarat kelulusan Mata Kuliah Makro Ekonomi Islam Dosen : Ranti Wiliasih, MSi

Oleh : KHOLIS BUDIONO (0806484300) EKS XVI Weekend

EKONOMI KEUANGAN SYARIAH PROGRAM STUDI KAJIAN TIMUR TENGAH DAN ISLAM PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS INDONESIA 2009

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang 1 I.2. Tujuan Penulisan -- 3 I.3. Ruang Lingkup -- 4 I.4. Metode Penulisan 4 I.5. Sistematika Pembahasan -- 5 II. PERANAN BANK SYARIAH MENGENTASKAN KEMISKINAN DAN ZAKAT DALAM

II.1. Bank Syariah dari Waktu ke Waktu -- 7 II.2. Profil pembiayaan Bank Syariah -- 8 II.3. Potensi zakat dan peranannya -- 11

III. PENGARUH PENDAPATAN NASIONAL DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MISKIN III.1. Penduduk Miskin Indonesia -- 14 III.2. Pendapatan Nasional dan Tingkat Kemiskinan -- 16 III.3. Inflasi dan Dampaknya Terhadap Kemisikinan -- 20 IV. ANALISIS PENGOLAHAN DATA IV.1. Pengujian model -- 24 IV.2. Analisis Hasil -- 28 V. PENUTUP DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Indonesia saat ini bukanlah termasuk kelompok negara maju meskipun memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika serta memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kesejahteraan sebagai salah satu tujuan sekaligus indikator kemajuan suatu negara masih terlampau jauh bagi Indonesia. Kemiskinan masih menjadi bagian masalah yang belum terpecahkan dari kehidupan bangsa dengan penduduk kurang lebih 231 juta ini. Pada tahun 2009 ini tercatat penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 31,53 juta jiwa1. Dengan prosentase jumlah penduduk yang beragama Islam sebesar rata-rata 87,89% maka dapat diperkirakan penduduk miskin di Indonesia tersebut adalah didominasi oleh orang Islam. Kondisi ini semakin menambah stigma negatif terhadap umat Islam yang sebagian besar adalah kelompok yang berada dibawah garis kemiskinan. Pada kondisi seperti ini, instrumen dan institusi yang berasosiasi dengan Islam menjadi dipertanyakan efektifitas peran dan posisinya. Perbankan syariah sebagai salah satu institusi umat Islam di Indonesia telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Berkembangnya institusi perbankan syariah yang mengusung tujuan falah bagi kehidupan masyarakat merupakan kondisi yang memberi harapan terhadap banyak hal, termasuk diantaranya adalah masalah kemiskinan ini. Perbankan syariah sebagaimana visi dan karakteristiknya diharapkan mampu berperan lebih, khususnya dalam mengentaskan kemiskinan. Keberpihakan bank syariah kepada kelompok menengah bawah telah ditunjukkan dengan orientasi pembiayaan terhadap UMKM yang mencapai 74% dari total pembiayaannya di tahun 2009. Selain itu perkembangan yang pesat baik dari sisi asset (tumbuh 236%) maupun dari sisi
1

http://www.detikfinance.com/read/2009/07/01/150224/1157212/4/bps-jumlah-penduduk-miskinturun-243-juta-jiwa

jumlah kantor pelayanannya (tumbuh 616%) seharusnya memberi pengaruh bagi kehidupan masyarakat khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan. Zakat sering dianggap sebagai instrumen filantropi Islam yang paling ditunggu perannya. Sebagai salah satu arkanul Islam, zakat mendapat perhatian serius dalam Al-Quran dan Sunnah begitu juga dari banyak pemikir ekonomi Islam. Potensi yang besar dalam penggalangannya memberi banyak harapan atas perannya dalam membantu memecahkan masalah sosial diantaranya kemiskinan. Ditengah jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, zakat muslim Indonesia mengandung potensi yang besar. Kondisi makro ekonomi yang diantaranya ditunjukkan dengan data Produk Domestik Bruto (PDB) dan Inflasi merupakan dua hal yang sering dikaitkan dengan kesehatan ekonomi suatu negara. PDB merupakan ukuran kesejahteraan sedangkan inflasi pada sisi lainnya menjadi pemicu penurunan daya beli akibat melambungnya harga barang yang pada gilirannya akan berpengaruh kepada jumlah penduduk miskin. Kedua indikator ini bersama-sama dengan instrumen islam ; pembiayaan bank syariah dan jumlah dana zakat menjadi sangat menarik untuk diteliti pengaruhnya terhadap penduduk miskin di Indonesia.

I.2. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui : 1. pengaruh pembiayaan perbankan syariah terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia 2. pengaruh jumlah pengumpulan zakat terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia 3. pengaruh PDB terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia 4. pengaruh inflasi terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia

I.3. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari tulisan ini adalah : 1. pembiayaan bank syariah dibatasi hanya untuk jangka waktu dari tahun 2003 sampai dengan 2009 terbatas hingga Bulan Oktober 2009. 2. pembiayaan bank syariah tidak termasuk dengan pembiayaan dari Bank Pembiayaan Rakyat Syariah. 3. Produk Domestik Bruto menggunakan data berdasarkan current price 4. Data zakat dibatasi hanya dari data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul zakat yang besar seperti Baznas, Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat sehingga data zakat dari institusi lain tidak disertakan. 5. Data jumlah penduduk miskin dibatasi hanya mulai dari tahun 2003.

I.4. Metode Penulisan

1.4.1. Sumber Data

Data yang akan digunakan adalah data sekunder berupa Data Statistik Perbankan Syariah yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia dalam kurun waktu tahun 2003 2009. Data tersebut berisi besaran pembiayaan dan kelompok pembiayaannya, nilai asset, jumlah bank dan jumlah kantornya. Data PDB dan Inflasi dikumpulkan dari sumber online indexmundi.com sedangkan data jumlah penduduk miskin dan zakat dikumpulkan secara terpisah dari beberapa sumber yang terkait seperti misalnya zakat maka diambil dari website Baznas, Dompet Dhuafa, PKPU, Rumah Zakat.

1.4.2. Teknik Analisis

Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis inferensial dengan menggunakan Model Regresi Linear Majemuk yang didalamnya berisi pengujian

terhadap multikolinearitas, autocorrelation, homoskedastisitas untuk mendapatkan model yang terbaik bagi variabel bebas yang ada.

I.5. Sistematika Pembahasan

Penulisan dalam penelitian ini akan menggunakan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini akan dijelaskan tentang latar belakang timbulnya permasalahan, perumusan terhadap masalah yang ada, pembatasan masalah, tujuan penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan. BAB II PERANAN BANK SYARIAH DAN ZAKAT DALAM

MENGENTASKAN KEMISKINAN Bab ini menjelaskan tentang perkembangan bank syariah dari waktu ke waktu mulai awal pembentukannya, dasar hukumnya, jumlah bank, perkembangan asset hingga jumlah kantornya. Bagian lainnya menggambarkan tentang prosentase pembiayaan bank syariah kepada kelompok UMKM. Di bagian akhir dari bab ini ditampilkan data jumlah dana zakat yang berhasil dikumpulkan oleh lembaga amil zakat sejak tahun 2003 hingga 2009 dan ulasan tentan perannya dalam pengentasan kemiskinan. BAB III PENGARUH PENDAPATAN NASIONAL DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MISKIN Berisi ulasan tentang penduduk Indonesia khususnya jumlah penduduk miskin Indonesia beserta profilnya. Dilanjutkan dengan pembahasan mengenai PDB dan Inflasi serta hubungannya dengan tingkat kemiskinan suatu negara. BAB IV ANALISIS PENGOLAHAN DATA Berisi pembahasan tentang hasil pengolahan data yang telah dilakukan sehingga akan dapat dilihat pengaruh variabel

pembiayaan bank syariah, zakat, PDB dan Inflasi terhadap jumlah penduduk miskin di Indonesia BAB V PENUTUP Berisi kesimpulan dan saran berdasarkan hasil dari penelitian ini. Saran akan diberikan kepada pelaku perbankan syariah, pemerintah serta bagi peneliti lainnya yang akan mengambil bidang penelitian yang terkait dengan penelitian ini.

BAB II PERANAN BANK SYARIAH DAN ZAKAT DALAM MENGENTASKAN KEMISKINAN

II.1. Bank Syariah Dari Waktu ke Waktu

Perbankan yang menjalankan sistem syariah mulai muncul pertama kalinya ketika Bank Muamalat Indonesia berdiri, yaitu tahun 1992. pada masa itu pendirian bank syariah masih mengacu kepada Undang Undang No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Secara umum dalam undang-undang ini tidak diatur hal yang berkaitan dengan prinsip syariah dalam industri perbankan. Aturan tentang sistem syariah baru muncul enam tahun kemudian melalui penerbitan undang-undang baru yang hakikatnya merupakan revisi dari undang-undang sebelumnya. Undangundang yang baru ini, UU No.10 tahun 1998, menjadi landasan hukum pertama kalinya bagi beroperasinya perbankan syariah. Meskipun baru sebatas revisi minor terhadap aturan yang ada tetapi sesungguhnya substansi yang terpenting adalah adanya pengakuan legal pemerintah bagi sistem syariah dalam perbankan. Undang-undang ini secara garis besar mengatur jenis-jenis usaha yang dapat dioperasikan oleh bank syariah, juga terdapat arahan bagi bank konvensional untuk membuka cabang syariah atau bahkan mengkonversi diri secara total menjadi bank syariah. Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarkat kepada perbankan syariah maka pada tahun 2008 diterbitkanlah sebuah undang-undang yang khusus tentang Perbankan Syariah. Undang-Undang No.21 Tahun 2008, dalam pertimbangan dikeluarkannya secara lebih tegas menyatakan bahwa prinsip syariah melalui nilai-nilai yang ada didalamnya yaitu keadilan, kebersamaan, pemerataan dan kemanfaatan adalah sejalan dengan tujuan pembangunan nasional indonesia (butir a). Selanjutnya pemerintah juga mengakui bahwa dalam masa beroperasinya sejak 1992 perbankan syariah ternyata memiliki kekhususan dibandingkan dengan perbankan konvensional, oleh karena itu perlu diterbiktan atau diatur secara khusus dalam sebuah undang-undang tersendiri (butir d).

Perkembangan perbankan syariah terus menunjukkan indikator positif dengan pangsa pasar yang semakin membaik mencapai angka 2.49% pada akhir bulan Oktober 2009 sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut ini :

Tabel 1. Pertumbuhan Aset Perbankan Syariah 2003 - 2009


Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Asset (trilyun) 78.6 15.33 20.58 26.72 36.54 49.555 59.679 Pangsa Pasar 0.74% 1.20% 1.40% 1.58% 1.84% 2.14% 2.49% Sumber : Bank Indonesia (diolah dari statistik perbankan), 2009 hanya s/d oktober

Sementara itu dari aspek jumlah, baik jumlah bank maupun jumlah kantor pelayanannya, perbankan syariah di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dalam tempo enam tahun dari tahun 2003 hingga akhir Oktober 2009 jumlah kantor pelayanan bank umum syariah misalnya telah berkembang lebih dari 600%.

Tabel 2 . Pertumbuhan Jumlah Bank dan Kantor Perbankan Syariah 2003 - 2009
Jumlah 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Bank 2 3 3 3 3 5 Bank Umum Kantor 96 266 304 349 401 581 Unit 8 16 19 20 26 27 UUS Kantor 56 89 154 183 196 241 Bank 84 88 92 105 114 131 BPRS Kantor 84 88 92 105 185 202 Sumber : Bank Indonesia (diolah dari statistik perbankan), 2009 hanya s/d oktober Kelompok 2009 6 688 25 275 138 223

II.2. Profil pembiayaan Bank Syariah

Salah satu perbedaan bank syariah dan bank konvensional adalah orientasi kepada Falah ; Kemakmuran didunia dan kebahagiaan di akhirat. (Syafii Antonio, Bank Syariah, hlm.34). perbedaan inilah yang kemudian dituangkan dalam kegiatan operasionalnya baik penerimaan dana maupun penyaluran dana berdasarkan prinsip syariah. Diantara bentuk implementasi orientasi ini adalah penyaluran dana masyarakat kepada kelompok usaha mikro yang secara empiris

dari penelitian merupakan sektor yang paling dominan menyerap tenaga kerja dimana penyerapan tenaga kerja merupakan salah satu sarana yang akan memberi dampak kepada penurunan tingkat kemiskinan. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan (Wahyudi Sutopo, FE UI, 2004) dinyatkan bawa Lembaga Keuangan Mikro berpengaruh signifikan terhadap pengentasan kemiskinan). Pembiayaan terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) ini menjadi hal yang penting dikaji mengingat jumlahnya yang besar yakni 99.8% dari total usaha dalam perekonomian nasional (Ahmad Mujahid, 2004) serta kemampuannya dalam menyerap 99% dari total tenaga kerja di tahun 2004 (Statistik Departemen Koperasi, 2004). Lebih rinci, Departemen koperasi dalam situsnya mengeluarkan data yang berkaitan dengan UMKM ini dan menyatakan beberapa fakta : a. jumlah unit UMK pada tahun 2008 mencapai meningkat 2,88% dibanding tahun 2007 b. pada tahun 2008 tercatat sebanyak 90.896.270 orang bekerja dalam usaha UMKM ini, meningkat sebesar 2,43% dibanding tahun 2007 c. sumbangan kelompok UMKM ini terhadap PDB tahun 2008 adalah sebesar Rp. 2.609.360 milyar, meningkat sebesar 23,95% dibanding tahun 2007. Sesuai dengan Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dikenal tiga definisi yaitu Usaha Mikro, Usaha Kecil dan Usaha Menengah. Usaha Mikro didefinisikan sebagai adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan dengan nilai asset maksimal Rp 50 juta dan omzet-nya sampai dengan RP. 300 juta. Sedangkan Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar dengan nilai asset diatas Rp.50 juta sampai dengan Rp 500 juta dan omzet-nya diatas Rp. 300 juta sampai dengan Rp. 2,5 milyar. 51.257.537 unit usaha,

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar nilai asset diatas Rp.500 juta sampai dengan Rp 10 milyar dan omzet-nya diatas Rp. 2,5 milyar sampai dengan Rp. 50 milyar. Pembiayaan bank syariah hingga tahun 2009 masih tetap didominasi oleh pembiayaan terhadap kelompok UMKM sebagaimana ditampilkan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 3. Prosentase pembiayaan bank syariah terhadap UMKM


Tahun 2006 2007 2008 2009 Pembiayaan (trilyun) 20.444 27.944 38.19 45.246 % UMKM 73% 70% 71% 74% Sumber : Bank Indonesia (diolah dari statistik perbankan), 2009 hanya s/d oktober

Meskipun jumlah dan perannya sangat besar bagi perekonomian suatu negara tetapi tidak semua institusi perbankan mau dan berani memberikan pembiayaan kepada kelompok UKM ini. Miguel Delfiner dan Silvana Peron (2007) mengatakan bahwa terdapat tiga hambatan utama bagi perbankan untuk masuk dalam pembiayaan kelompok UKM yaitu biaya yang tinggi, resiko gagal bayar yang tinggi serta return yang rendah. Tiga hambatan ini menurut survey mereka menempati porsi 86% alasan perbankan enggan memberikan pembiayaan kepada kelompok UKM. Sementara itu Batara Mulia Burhanuddin Siregar (2007) pembiayaan terhadap UMKM berkontribusi besar terhadap jumlah pembiayaan tidak lancar di Bank Syariah. Dari penjelasan diatar maka peranan pembiayaan bank syariah terhadap kelompok UMKM dan kaitannya dengan pengentasan kemiskinan ini dapat digambarkan sebagai berikut.

10

Gambar 1. Pengaruh Pembiayaan Bank Syariah Pembiayaan Bank Syaiah Peningkatan modal UMKM Penyerapan tenaga pekerja Penurunan jumlah orang miskin

II.3. Potensi Zakat dan Peranannya Zakat adalah ibadah maaliyah ijtimaiyyah yang memiliki posisi yang penting, strategis dan menentukan, baik dari sisi ajaran maupun dari sisi pembangunan kesejahteraan umat. Sebagai suatu ibadah pokok, zakat termasuk salah satu rukun Islam, sebagaimana diungkapkan dalam berbagai Hadits Nabi, sehingga keberadaannya dianggap ma`lum min addien bi adl-dlaurah atau diketahui secara otomatis adanya dan merupakan bagian mutlak dari ke-Islaman seseorang. Di dalam Al-Quran terdapat kurang lebih 27 ayat yang mensejajarkan shalat dan kewajiban zakat dalam berbagai bentuk kata. Sebagai salah satu rukun Islam yang berdimensi sosial, zakat memiliki jenis yang beragaram mulai dari yang secara tegas diatur oleh Al-Quran seperti zakat fitrah dan zakat maal hingga yang merupakan ijtihad kontemporer ulama Islam semisal zakat profesi. Posisi penting zakat dalam sumber hukum Islam nampak dari banyaknya perkataan zakat dalam Al-Quran. Salah satu ayat yang terkenal dijadikan dasar pengumpulan zakat adalah ayat dalam Surat At-Taubah berikut ini.

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS At-Taubah, 9 : 103)

11

Membersihkan dalam pengertian ayat ini adalah membersihkan manusia dari sifat kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda sehingga akan mendorong lahirnya sifat individualis dan tamak terhadap dunia tanpa memperhatikan orang lain. Karena itu zakat akan menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati manusia serta memperkembangkan harta benda baik keberkahan maupun jumlahnya. Kenyataan yang terjadi masih jauh dari harapan Al-Quran tersebut. Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Prof Dr Didin Hafidhuddin dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa sesungguhnya potensi zakat umat Islam di Indonesia setiap tahun sekitar Rp 19 trilyun. Sayangnya total nilai yang berhasil dikumpulkan oleh berbagai macam lembaga pengumpul zakat masih sangat jauh dari angka tersebut. Meskipun ada peningkatan yang cukup signifikan, hingga tahun 2009 diperkirakan total zakat yang berhasil dikumpulkan berada di angka sekitar Rp. 1 trilyun atau baru sekitar 5%. Dari sisi regulasi sebenarnya pengelolaan zakat sudah cukup maju, terbukti dengan adanya undang-undang khusus yang mengatur hal ini. Secara yuridis formal keberadaan zakat sudah diatur dalam UU No 38/1999 tentang Pengelolaan Zakat. Lembaga pengelola zakat saat ini tidak hanya dimonopoli oleh BAZIS yang dikelola oleh negara tetapi juga dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Hal inilah yang kemudian melahirkan beberapa badan pengelola zakat seperti Rumah Zakat (www.rumahzakat.org), Dompet Dhuafa

(www.dompetdhuafa.org), Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) (www.pkpu.org) mendampingi lembaga resmi bentukan pemerintah; Badan Amil Zakat Nasional (www.baznaz.or.id).

Tabel 4. Nilai zakat yang berhasil dikumpulkan sejak tahun 2003


Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Zakat 111.4 173.1 323.1 373.0 700.0 900.0 1,000.0 Sumber : diolah dari data PKPU, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan Baznas dan Republika2

http://www.republika.co.id/berita/34897/Potensi_Zakat_Nasional_Capai_19_Triliun

12

Dengan manajemen modern, lembaga-lembaga pengumpul zakat tersebut telah melakukan banyak sekali kegiatan penyaluran dana secara kreatif dan inovatif. Dompet Dhuafa misalnya memiliki beberapa kegiatan seperti : 1. Bidang Pendidikan mencakup program Sekolah Unggul Bebas Biaya, Bea Studi Sarjana, Pengembangan Kapasitas Guru 2. Bidang Kesehatan mencakup Klinik Cuma-Cuma, Klinik Keliling CumaCuma, Rumah Sakit Gratis 3. Bidang Sosial mencakup Bantuan Pangan, Biaya Hidup, Bantuan Kesehatan, Santunan Musibah dan Pengembangan Ketrampilan 4. Bidang Ekonomi mencakup Pembiayaan Mikro Syariah, Pemberdayaan Peternak, Komunitas. 5. Bidang Penanganan Bencana Alam, Sosial dan Peperangan 6. Bidang Pengembangan Bisnis Dari uraian diatas nampaklah bahwa zakat diharapkan mampu menjadi instrument dalam memecahkan masalah sosial seperti kemiskinan. Perannya digambarkan sebagai berikut: Pemberdayaan Petani, Pemberdayaan Masyarakat dan

Gambar 2. Hubungan Jumlah Zakat dan Kemiskinan Peningkatan Jumlah Zakat


Pemberdayaan ekonomi umat

Penyerapan tenaga pekerja

Penurunan jumlah orang miskin

13

BAB III PENGARUH PENDAPATAN NASIONAL DAN INFLASI TERHADAP JUMLAH PENDUDUK MISKIN
III.1. Penduduk Miskin Indonesia

Merujuk pada data wikipedia, Indonesia dinyatakan sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat setelah China, India dan Amerika Serikat. Jauh mengalahkan Brasil, Pakistan bahkan Rusia. Potensi sumber daya manusia yang besar ditengah-tengah sumber daya alam adalah kombinasi yang sempurna untuk menjadi bangsa yang besar dan maju. Tabel 5. Jumlah Penduduk Indonesia3
Tahun 2003 2004 2005 Jumlah (ribu) 213,551 216,382 219,852 Keterangan : data tahun 2009 per September. 2006 222,747 2007 225,642 2008 228,575 2009 231,547

Selain mencatatkan diri sebagai negara dengan penduduk terbesar, Indonesia juga menjadi negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia. Prosentase penduduk yang beragama Islam diambil dari hasil sensus penduduk tahun 1990 dan 20054 mencapai angka rata-rata sebesar 87,89% seperti ditampilkan dalam tabel berikut ini : Tabel 6. Prosentase Penduduk Berdasarkan Agama
Agama Islam Protestan Katolik Hindu Budha Konghucu Lainnya
3 4

1990 (%) 87.2 6.04 3.57 1.84 1.03 0 0.31

2005 (%) 88.58 5.79 3.08 1.73 0.6 0.1 0.12

rata-rata 87.89 5.92 3.33 1.79 0.82 0.05 0.22

http://www.indexmundi.com/indonesia/population.html Laporan Tahunan Kehidupan Beragama Di Indonesia Tahun 2008, Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada, Desember 2008, hlm. 5

14

Sayangnya penduduk yang besar dan beragama Islam itu sebagian besar masih berada pada garis kemiskinan sebagaimana tercermin dari tabel dibawah ini. Tabel 7. Jumlah dan Prosentase Penduduk Miskin tahun 1998-20065
Jumlah (Juta) Prosentase Kota Desa Total Kota Desa 1998 17.60 31.90 49.50 36% 64% 1999 15.64 32.33 47.97 33% 67% 2000 12.30 26.40 38.70 32% 68% 2001 8.60 29.30 37.90 23% 77% 2002 13.30 25.10 38.40 35% 65% 2003 12.20 25.10 37.30 33% 67% 2004 11.40 24.80 36.20 31% 69% 2005 12.40 22.70 35.10 35% 65% 2006 14.49 24.81 39.30 37% 63% 2007 37.16 2008 34.96 2009 31.53 Sumber : Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), dan sumber lain Tahun

Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran, Dengan pendekatan ini, dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-Makanan (GKBM). Penghitungan Garis Kemiskinan

dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan Makanan (GKM) merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita

http://tkpkri.org/images/stories/tabeldata/Tabel%2002.JPG

15

perhari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi (padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacangkacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dll). Pada tahun 2006 nilai rupiah untuk GKM ini sebesar Rp.151.997. Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM) adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non-makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di perdesaan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari data tersebut diantaranya adalah tingginya dominasi penduduk miskin yang tinggal di pedesaan dibandingkan dengan yang ada di kota, prosentasenya mencapai rata-rata 67%. Hasil ini sekaligus menunjukkan bahwa fokus pengentasan kemiskinan sudah selayaknya diprioritaskan kepada wilayah pedesaan. Hal lain yang bisa diteliti adalah adanya kenaikan jumlah penduduk miskin dari tahun 2005 ke 2006. Peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin dari tahun 2005 hingga tahun 2006 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi, yang digambarkan oleh inflasi umum yang berada di tingkat dua digit. Akibatnya penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada disekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin.

III.2. Pendapatan Nasional dan Tingkat Kemiskinan

Pendapatan nasional diartikan sebagai jumlah barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara pada periode tertentu biasanya satu tahun. Istilah yang terkait dengan pendapatan nasional beragam antara lain : Produk Domestik Bruto / PDB (Gross Domestic Bruto / GDP), Produk Nasional Bruto (Gross National Bruto / GNP) dan Produk Nasional Netto (Net National Product / NNP). Pengukuran besaran pendaptan nasional diperlukan untuk memberikan perkiraan secara teratur ukuran dasar dari kinerja perekonomian suatu negara.

16

PDB merupakan perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan produksi, penghitungannya dilakukan dengan cara menjumlahkan semua sektor industri yang ada, sektor industri tersebut dikelompokkan menjadi 11 sektor sesuai standar ISIC (International Standard Industrial Classification) yang terdiri dari : 1. Sektor produksi pertanian 2. sektor produksi pertambangan dan penggalian 3. sektor industri manufaktur 4. sektor produksi listrik, gas dan air minum 5. sektor produksi bangunan 6. sektor produksi perdagangan, hotel dan restoran 7. sektor produksi transportasi dan komunikasi 8. sektor produksi bank dan lembaga keuangan lainnya 9. sektor produksi sewa rumah 10. sektor produksi pemerintahan dan pertahanan 11. sektor produksi jasa lainnya Dengan demikian Produk Domestik Bruto adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB berbeda dari produk nasional bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan. PDB Nominal (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Berlaku) merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan PDB riil (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan) mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga. PDB dapat dihitung dengan memakai dua pendekatan, yaitu pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan. Rumus umum untuk PDB dengan pendekatan pengeluaran adalah:

17

PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor - impor Di mana konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor melibatkan sektor luar negeri. Sementara pendekatan pendapatan menghitung pendapatan yang diterima faktor produksi: PDB = sewa + upah + bunga + laba Di mana sewa adalah pendapatan pemilik faktor produksi tetap seperti tanah, upah untuk tenaga kerja, bunga untuk pemilik modal, dan laba untuk pengusaha. Secara teori, PDB dengan pendekatan pengeluaran dan pendapatan harus menghasilkan angka yang sama. Namun karena dalam praktek menghitung PDB dengan pendekatan pendapatan sulit dilakukan, maka yang sering digunakan adalah dengan pendekatan pengeluaran. Peningkatan pendapatan nasional tentu saja merupakan kontribusi dari kegiatan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah serta aktifitas ekspor impor. Peningkatan angka masing-masing subsistem tersebut tentu saja harus didukung oleh kegiatan ekonomi dibawahnya, konsumsi didukung oleh industri pendukung seperti makanan, minuman dan ini membawa akibat kebutuhan sumber daya menjadi bertambah, termasuk manusia. Peningkatan peran manusia dalam kegiatan ini berakibat meningkatnya upah atau bertambahnya penyerapan tenaga kerja sehingga akan berdampak pada pendapatan individu. Sama halnya dengan pendapatan nasional dengan pendekatan produksi, peningkatan produksi akan berdampak pada tingginya kebutuhan sumber daya dalam setiap sektor yang digunakan dalam penyusunan angka GDP. Semakin banyak sumber daya (manusia) yang terlibat maka semakin besar kemungkinan terjadinya distribusi pendapatan yang pada gilirannya akan mengurangi jumlah penduduk miskin.

18

Dengan demikian hubungan PDB dengan tingkat kemiskinan dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 3. Hubungan PDB dan Kemiskinan Peningkatan sektor industri Penyerapan tenaga pekerja Penurunan Jumlah orang miskin

Peningkatan PDB

Berikut ini adalah data GDP Indonesia dari tahun 2003 sampai 2009 (September 2009) Tabel 8. PDB dalam Milyar Dolar Amerika6
Tahun GDP 2003 234,834 2004 257,005 2005 285,856 2006 364,350 2007 432,060 2008 511,765 2009 514,931

Menurut beberapa pemikir ekonomi Islam, ukuran pendapatan nasional saat ini masih mengandung bias karena gagal memasukkan hal lain yang mestinya diukur. Oleh karena itu empat hal yang mestinya dipertimbangkan adalah : 1. pendapatan nasional harus dapat mengukur penyebaran pendapatan individu rumah tangga 2. pendapatan nasional harus dapat mengukur produksi di sektor pedesaan 3. pendapatan nasional harus dapat mengukur kesejahteraan ekonomi Islam seperti transaksi diluar pasar, nilai rekreasi dan dampak sosial dari ekonomi. 4. pendapatan nasional harus dapat mengukur kesejahteraan sosial Islam melalui pendugaan nilai santunan antar saudara dan sedekah

http://www.indexmundi.com/indonesia/gdp_%28official_exchange_rate%29.html

19

III.3. Inflasi dan Dampaknya Terhadap Kemisikinan

Inflasi oleh para ekonomi modern didefinisikan sebagai kenaikan yang menyeluruh dari jumlah uang yang harus dibayarkan terhadap barang-barang dan jasa. Pengukuran inflasi dilakukan dengan menggunakan tingkat inflasi (rate of inflation) yaitu tingkat perubahan dari tingkat harga secara umum. Persamaannya adalah sebagai berikut : Tingkat hargat tingkat harga t-1 Tingkat hargat-1 x 100 = Rate of Inflation

Seperti sebuah penyakti, menurut Paul A Samuelson inflasi dapat digolongkan menurut tingkat keparahannya yaitu sebagai berikut 1. Moderate Inflation, ditandai dengan kenaikan tingkat harga yang lambat atau umum disebut inflasi satu digit. Pada tingkat inflasi seperti ini orang masih mau untuk memeganng uang sebagai kekayaannya daripada dalam bentuk aset riil 2. Galloping Inflation: inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 20% sampai dengan 200% per tahun. Dalam kondisi seperti ini orang hanya mau memegang uang sejumlah yang diperlukan saja dan lebih cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk aset riil. Aset riil akan bertambah sehingga menyebabkan pasar uang menyusut dan memicu tingginya suku bunga kredit. Karena tidak menariknya iklim investasi di negara tersebut maka terjadilan aliran uang keluar (capital outflow) 3. Hyper Inflation : pada tingkat ini inflasi berada pada tingkat jutaan hingga trilyunan persen per tahun.

Selain itu, inflasi dapat pula digolongkan berdasarkan penyebabnya dan dibagi menjadi lima dengan rincian sebagai berikut : 1. Natural inflation dan Human Error Inflation : Natural Inflation adalah jenis inflasi yang terjadi karena pengaruh alamiah dimana manusia tidak memiliki kekuasaan untuk mencegahnya sedangkan Human Error Inflation

20

adalah jenis inflasi yang terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri. 2. Actual/Anticipated/Expected Inflation dan Unanticipated/Unexpected

Inflation. Pada Expected Inflation tingkat suku bunga pinjaman riil akan sama dengan tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi sedangkan pada Unexpected Inflation suku bunga pinjaman nominal belum atau merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi. 3. Demand Pull dan Cost Push Inflation. Demand Pull Inflation diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi Permintaan Agregatif (AD) dari barang dan jasa pada suatu perekonomian. Cost Push Inflation adalah inflasi yang terjadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi Penawaran Agregatif (AS) dan dari barang dan jasa pada suatu perekonomian. 4. Spiralling Inflation. Inflasi jenis ini adalah inflasi yang diakibatkan oleh inflasi yang terjadi sebelumnya yang mana inflasi yang sebelumnya itu terjadi sebagai akibat dai inflasi yang terjadi sebelumnya lagi dan begitu seterusnya. 5. Imported Inflation dan Domestic Inflation. Imported Inflation bisa dikatakan adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu negara karena harus menjadi price taker dalam pasar perdagangan internasional. Domestic Inflation bisa dikatakan inflasi yang hanya terjadi di dalam negeri suatu negara yang tidak begitu mempengaruhi negara-negara lainnya.

Menurut para ekonomi Islam, inflasi berakibat sangat buruk bagi perekonomian karena : 1. Menimbulkan gangguan terhadap fungsi uang, terutama terhadap fungsi tabungan (nilai simpan), fungsi dari pembayaran di muka, dan fungsi dari unit perhitungan. Orang harus melepaskan diri dari uang dan aset keuangan akibat dari beban inflasi tersebut. Inflasi juga telah mengakibatkan terjadinya inflasi kembali, atau dengan kata lain self feeding inflation.

21

2. Melemahkan semangat menabung dan sikap terhadap menabung dari masyarakat (turunnya Maginal Propensity to Save). 3. Meningkatkan kecenderungan untuk berbelanja terutama untuk non-prmer dari barang-barang mewah (naiknya Marginal Propensity to Consume). 4. Mengarahkan investasi pada hal-hal yang non-produktif yaitu penumpukan kekayaan (hoarding) seperti : tanah, bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi ke arah produktif seperti: pertanian, industrial, perdagangan, transportasi, dan lainnya.

Dampak inflasi terhadap individu maupun masyarakat menurut Prathama Rahardja dan Manurung diantaranya adalah : 1. menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat: inflasi menyebabkan daya beli masyarakat menjadi berkurang atau malah semakin rendah, apalagi bagi orang-orang yang berpendapatan tetap, kenaikan upah tidak secepat kenaikan harga-harga, maka inflasi ini akan menurunkan upah riil setiap individu yang berpendapatan tetap. 2. memperburuk distribusi pendapatan : bagi masyarakat dengan pendapatan tetap akan mengalami kemerosotan nilai riil dari pendapatannya dan pemilik kekayaan dalam bentuk uang akan mengalami penurunan juga. Akan tetapi bagi pemilik kekayaan tetap seperti tanah atau bangunan dapat mempertahankan atau justru menambah nilai riil kekayaannya. Dengan demikian inflasi akan menyebabkan pembagian pendapatan diantara kelompok yang berpendapatan tetap dengan para pemilik kekayaan tetap akan menjadi semakin tidak merata.

Dari uraian diatas jelaslah bahwa inflasi berdampak kepada individu dan masyarakat. Penurunan nilai pendapatan akan memicu munculnya kemiskinan, jika semakin banyak kelompok masyarakat yang pendapatannya terlampaui oleh kebutuhan hidupnya, akibat penurunan nilai pendapatannya, maka berarti kelompok masyarakat itu masuk pada kategori miskin. Dengan demikian inflasi memiliki hubungan dengan kemiskinan.

22

Gambar 4. Hubungan Inflasi dan Kemiskinan Kenaikan Inflasi Penurunan Nilai Uang Kebutuhan > Upah Jumlah orang miskin bertambah

Berikut ini adalah data inflasi sejak tahun 2003 sampai 2009 (september 2009) Tabel 9. Tingkat inflasi dalam prosen7
Tahun Inflasi 2003 6.77 2004 6.06 2005 10.46 2006 13.10 2007 6.03 2008 9.78 2009 5.01

http://www.indexmundi.com/indonesia/inflation_rate_%28consumer_prices%29.html

23

BAB IV ANALISIS PENGOLAHAN DATA

IV.1. Pengujian Model

Berdasarkan hubungan antar variabel yang telah diuraikan sebelumnya maka model regresi yang digunakan adalah :

PDD_MSKN = b0 + b1*PBYN_BSY + b2*ZAKAT + b3*PDB + b4*INFL + e

Dimana bo : konstanta

PDD_MSKN : jumlah penduduk miskin PBYN_BSY : nilai pembiayaan syariah ZAKAT PDB INFL e : nilai zakat yang dikumpulkan : Pendapatan Domestik Bruto : tingkat inflasi : error

Data hasil pengumpulan selanjutnya dilakukan sedikit perubahan satuannya agar tidak terjadi perbedaan nilai (data) yang diregresikan yang akan berdampak pada tidak munculnya koefisien variabel bebasnya. Perubahan ini hanya pada satuannya saja sehingga tidak akan mengubah substansi dari datanya. Perubahan dilakukan pada variabel penduduk miskin (dengan satuan ribuan), penduduk indonesia (dengan satuan ribuan), pembiayaan bank syariah (dengan satuan jutaan), zakat (dengan satuan jutaan). Khusus untuk inflasi tidak dilakukan pembedaan

24

Tabel 10. Data Variabel


THN 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 PDD_MSKN PDDK_IND PBYN_BSY GDP INFL ZAKAT

37.300 36.100 35.100 39.300 37.163 34.960 31.530

213.551 216.382 219.852 222.747 225.642 228.575 231.547

5.530,167 11.489,933 15.231,942 20.444,907 27.944,311 38.194,974 45.246,000

234.834 257.005 285.856 364.350 432.060 511.765 514.931

6.77 111.400 6.06 173.100 10.46 323.100 13.10 373.000 6.03 700.000 9.78 900.000 5.01 1000.000

IV.1.1. Pengujian Multikolinieritas

Pengujian menggunakan Eviews 3.1 menunjukkan bahwa model regresi linear yang dibangun memiliki koefisien yang signifikan pada alpha 10%.

Variable GDP INFL PBYN_BSY PDDK_IND ZAKAT C

Coefficient 0.089081 -162.0558 -0.678343 0.725836 -0.019253 -131683.4

t-Statistic 35.5013 -7.62079 -26.5407 14.85258 -18.0836 -12.7998

Prob. 0.018 0.083 0.024 0.043 0.035 0.05

Hanya

saja

pengujian

diatas

tidak

memberikan

informasi

mengenai

multikolinearitas yang menjadi salah satu syarat dalam model regresi. Pengujian dilakukan dengan menggunakan SPSS v.17 menghasilkan nilai statistik VIF sebagai berikut :
Variabel PDDK_IND PBYN_BSY GDP INFL ZAKAT TOL .016 .011 .018 .391 .011 VIF 64.274 87.008 55.611 2.556 90.907

Dari data tersebut diatas terlihat bahwa telah terjadi multikolinieritas mengingat nilai TOL mendekati 0 sementara nilai VIF > 1. Untuk mengatasi multikolinieritas terdapat beberapa cara seperti melakukan transformasi maupun dengan cara penambahan data atau menghilangkan variabel bebasnya. Gujarati

25

mengemukakan bahwa terkadang multikolinieritas dapat diabaikan karena tidak mungkinnya penambahan data. Meskipun demikian akan dicoba melakukan transformasi. Transformasi dilakukan dengan berbagai cara seperti dengan menggunakan pola 1/X, artinya semua data dibalik. Berikutnya dengan pola x, data di akar kuadratkan maupun dengan pola x2, semua data dikuadratkan. Hampir semua model transformasi ini tidak membuahkan hasil. Akhirnya dilakukan transformasi menjadi regresi linear sederhana dengan satu variabel dari sebelumnya lima variabel. Pengelompokan variabel dilakukan dengan membagi dua kelompok yaitu Variabel ISLAM dan Variabel MAKRO. Variabel ISLAM terdiri dari Variabel Pembiayaan Syariah dan Zakat sedangkan varibel MAKRO terdiri dari dua variabel yaitu PDB per penduduk dan Inflasi. PDB perpenduduk adalah transformasi dengan cara membagi PDB dengan jumlah penduduk untuk mendapatkan satuan yang memiliki kemiripan dengan inflasi. Kedua kelompok variabel ini akan membentuk variabel baru yaitu Variabel GABUNGAN. Dengan demikian model yang akan dibangun adalah :

PDD_MSKN = b0 + b1*VAR_GABUNGAN + e

Proses transformasi variabel dilakukan dengan menggunakan perbandingan koefisien beta masing-masing variabel.

Variabel

Beta

PBYN_BSY INFL ZAKAT PDB_PDD

-2.141 .025 -2.277 3.850

Dengan demikian VAR_ISLAM = PBYN_BSY + 1.064 * ZAKAT VAR_MAKRO = INFLASI + 155.311 * PDB_PDD Kedua kelompok variabel ini membentuk model linear gabungan dengan perbandingan beta masing-masing adalah :

26

Variabel

Beta

VAR_ISLAM VAR_MAKRO

-3.693 3.148

VAR_GABUNGAN = VAR_ISLAM + 0.9 * VAR_MAKRO Dari model regresi yang dilakukan didapat hasil : PDD_MSKN = 38112 0.0039 * VAR_GABUNGAN

Jika dijabarkan kembali maka model menjadi : PDD_MSKN = 38112 0.0039* (VAR_ISLAM + 0.9 * VAR_MAKRO) PDD_MSKN = 38112 0.0039* ([PBYN_BSY + 1.064 * ZAKAT] + 0.9 * [INFLASI + 155.311 * PDB_PDD]) PDD_MSKN = 38112 0.0039*PBYN_BSY 0.0041*ZAKAT + 0.003*INFL + 0.511 * PDB_PDD + e

IV.2.2. Uji Otokorelasi

Uji Otokorelasi dilakukan dengan membandingkan nilai durbin watson penghitungan dengan nilai durbin watson tabel. Dari perhitungan didapat nilai durbin watson sebesar 1.446. dengan jumlah sampel 9 buah dan variabel bebas sebanyak 4 buah maka didapat nilai dL = 0.296 dan dU = 2.588. karena nilai 1.446 berada diantara level 1.412 dan 2.588 maka disimpulkan tidak terdapat otokorelasi.
Tidak tahu Korelasi positif Tidak ada korelasi Tidak tahu Korelasi negatif

0.296

1.412

2.588

3.704

27

IV.2.3. Uji Heteroskedastis

Uji heteroskedastis tidak dapat dilakukan karena tidak cukupnya data yang ada, uji hanya dilakukan terhadap stasioneritas dan menghasilkan hasil yang stasioner karena tidak ada spike.

IV.2. Analisis Hasil

Berdasarkan model yang dihasilkan, dapat ditarik beberapa hal penting diantaranya : 1. Model hanya dapat menjelaskan perubahan jumlah penduduk miskin sebesar 38,3%. Jumlah pembiayaan syariah, jumlah dana zakat yang dikumpulkan, tingkat inflasi dan produk domestik bruto per penduduk hanya mampu menjelaskan perubahan jumlah penduduk miskin sebesar 38,3% sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel yang lain yang tidak dimasukkan dalam model ini. Hal ini dapat dimengerti mengingat masalah kemiskinan adalah juga menjadi masalah negara dan negara (bahkan sampai ke pemerintah daerah) telah memiliki program pengentasan kemiskinan yang dananya berasal dari dana APBN atau APBD. Selain itu juga variabel filantropi lainnya baik yang berskala individu atau famili seperti infaq, sedekah maupun dalam skala masal seperti sumbangan, kegiatan sosial lainnya tidak dimasukkan dalam model ini. Begitu juga dengan peran perbankan konvensional yang memiliki fokus pada pembiayaan usaha kecil seperti BRI dengan jaringan yang luas dan kekuatan asetnya yang besar. 2. Model yang dibangun masih memiliki banyak kelemahan, meskipun ujian utama dalam pemodelan regresi telah dilakukan namun koefisien variabel gabungan hanya signifikan pada alpha diatas 13,8% suatu tingkat yang masih dipertanyakan dalam penelitian sosial. 3. Variabel Islam terbukti memiliki koefisien yang tidak bertentangan dengan logika, jika pembiayaan bank syariah yang notabene didominasi kelompok UMKM sebagai representasi ekonomi menengah kebawah akan

28

berpengaruh dengan penurunan tingkat kemiskinan begitu juga dengan variabel zakat. 4. Hasil yang agak aneh adalah koefisien positif yang terjadi pada variabel inflasi dan PDB. Jika model ini diartikan maka kedua variabel tersebut menyumbang kenaikan jumlah penduduk miskin Indonesia. Untuk inflasi mungkin masih dapat dimengerti mengingat inflasi adalah penyebab menurunnya nilai mata uang tetapi ketika ini terjadi dengan variabel PDB maka komponen penyusun PDB harus dicermati. Apakah konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, nilai ekspor dan impor ataukah jumlah penduduk Indonesia. 5. Dua variabel yang diselediki dan termasuk dalam instrumen syariah yakni pembiayaan bank syariah dan zakat memiliki kekuatan yang hampir sama. Setiap terjadi kenaikan sebesar Rp. 10 juta pembiayaan bank syariah maka jumlah penduduk miskin akan berkurang sebanyak 39 orang sedangkan untuk setiap kenaikan dana zakat yang terkumpul sebesar Rp. 10 juta maka jumlah penduduk miskin akan turun sebanyak 41 orang. Variabel zakat memiliki kekuatan sedikit lebih banyak dibandingkan dengan variabel pembiayaan bank syariah. 6. Tingginya koefisien PBD per penduduk sekaligus menjadi indikasi pengaruh kegiatan ekonomi nasional terhadap efek sosial masyarakat.

29

BAB V PENUTUP
Peran instumen perekonomian syariah telah menunjukkan kontribusi yang positif. Perbankan syariah sejak kelahirannya hingga hari ini telah terbukti memberi pengaruh terhadap pengentasan kemiskinan sehingga sudah sewajarnya agar embrio gerakan pengentasan kemiskinan lewat institusi perbankan menjadi alternatif selain instrumen yang dimiliki negara. Berbicara tentang pembiayaan perbankan syariah tentu tidak lepas dari kekuatan bank syariah, dan kekuatan bank syariah terletak pada asetnya. Tanpa peningkatan aset perbankan syariah maka peningkatan jumlah pembiayaan perbankan syariah juga tidak mungkin dilakukan dengan efektif. Segala penelitian maupun usaha kearah peningkatan aset perbankan syariah mesti mendapat dukungan sepenuhnya bahkan wacana konversi bank syariah menjadi bank BUMN atau konversi penuh bank umum menjadi bank umum syariah patut mendapat apresiasi. Telah tiba waktunya bagi pemerintah untuk memberi ruang dan perhatian lebih kepada institusi perbankan syariah. Jumlah dana zakat yang semakin lama semakin meningkat seiring meningkatnya kesadaran spiritual umat Islam akan menjadi kekuatan potensial dalam program pengentasan kemiskinan. Menjamurnya institusi pengumpulan zakat disatu sisi merupakan perkembangan yang positif tetapi akan menjadi lebih baik lagi jika institusi tersebut dapat menjalin kerjasama yang saling membangun agar dana zakat produktifitasnya. Penelitian-penelitian lebih seperti membandingkan efek pembiayaan bank syariah dengan bank konvensional serta penelitian lainnya dengan melibatkan data dan variabel lain yang lebih banyak menjadi hal menarik dan diharapkan memberikan gambaran yang lebih lengkap terhadap permasalahan ini mengingat masalah kemiskinan adalah masalah kekuatan padahal Allah lebih mencintai hambanya yang kuat dibandingkan dengan yang lemah. yang terkumpul dapat ditingkatkan penggunaan dan

30

DAFTAR PUSTAKA

Hafidhuddin, MSc, Prof. DR. KH. Didin, Zakat Sebagai Tiang Utama Ekonomi Syariah, Seminar Ekonomi Syariah , Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Jakarta Nasution, Mustofa Edwin, Nurul Huda, Budi Setyanto, M. Arief Mufraini, Bey Sapta Utama, Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam, Prenada Media Group, Jakarta, 2007. Huda, Nurul, Handi Risza Idris, Mustofa Edwin Nasution, Ranti Wiliasih, Ekonomi Makro Islam Pendekatan Teoretis, Prenada Media Group, Jakarta, 2008. Karim, Adiwarman, Ekonomi Makro Islam, Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2008. Nachrowi, D, Nachrowi dan Usman, Hardius, Pendekatan Populer dan Praktis Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2006 Asyraf Wajdi Dusuki, Banking for the poor: the role of Islamic banking in microfinance initiatives, Department of Economics, Kulliyyah of Economics and Management Sciences, International Islamic University Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia, 2008. Pern, Silvana, Miguel Delfiner, Commercial Banks and Microfinance, June 2007. Sutopo, Wahyudi, Analisis Hubungan Antara Lembaga Keuangan Mikro dan Kontribusi Usaha Kecil dalam Pengentasan Kemiskinan di Indonesia, Program Studi Ilmu Manajemen, Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, 2004. Antonio, Muhammad Syafii, Bank Syariah : Dari Teori ke Praktik, Gema Insani Press, Jakarta, 2001. Siregar, Batara Mulia Burhanuddin, Pengaruh Produk, Sektor Usaha, Segmentasi, Penggunaan dan Plafond Pembiayaan Terhadap Penciptaan Bermasalah di Bank Syariah X, Pusat Studi Timur Tengah dan Islam, Program Pasca Sarjana Universitas Indonesia, 2007. Gujarati, Basic Econometrics, Mcgraw Hill Companies, 2004

31

32

LAMPIRAN

Pengolahan dengan Eviews


Dependent Variable: PDD_MSKN Method: Least Squares Date: 12/29/09 Time: 12:37 Sample: 2003 2009 Included observations: 7 Variable GDP INFL PBYN_BSY PDDK_IND ZAKAT C R-squared Adjusted R-squared S.E. of regression Sum squared resid Log likelihood Durbin-Watson stat Coefficient 0.089081 -162.0558 -0.678343 0.725836 -0.019253 -131683.4 0.999737 0.998421 97.02869 9414.567 -35.14693 2.383532 Std. Error 0.002509 21.26496 0.025559 0.048869 0.001065 10287.95 t-Statistic 35.50130 -7.620792 -26.54065 14.85258 -18.08356 -12.79978 Prob. 0.0179 0.0831 0.0240 0.0428 0.0352 0.0496 35921.86 2441.732 11.75627 11.70990 759.7356 0.027537

Mean dependent var S.D. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion F-statistic Prob(F-statistic)

Pengolahan dengan SPSS v.17 Pengujian dengan lima variabel bebas

Pengujian dengan empat variabel (PDB dibagi jumlah penduduk)

33

Pengujian dengan dua kelompok variabel (VAR_ISLAM dan VAR_MAKRO)

Pengujian dengan satu variabel gabungan

Nilai R Square dan Significancy pada pengujian akhir

34