Anda di halaman 1dari 6

Abstrak Jenis anestesi yang paling baik digunakan dalam operasi tiroidektomi adalah general anestesi.

Teknik anestesi umum yang dipilih adalah teknik balance anesthesia, respirasi terkontrol dengan endotrakeal tube nomor 6,5. Anestesi umum adalah tindakan anestesi yang dilakukan dengan cara menghilangkan nyeri secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Pada kasus ini pasien dengan diagnosis tiroidektomi akan dilakukan operasi dengan teknik general anastesi. Keyword: General anastesi, tiroidektomi

Kasus Pasien datang ke RSUD Temanggung dengan keluhan Utama benjolan di leher (daerah tiroid). Pasien dating dengan keluhan merasa ada benjolan di leher ( pasien lupa sejak kapan munculnya benjolan. Benjolan dengan diameter kira-kira 2cm. Konsistensi keras dan ikut bergerak saat menelen. Tanda-tanda hipertiroid (-), sering berkeringat(-), merasa panas(-), berdebar-debar(-), tremor(-). Riwayat operasi sebelumnya tidak ada, riwayat penyakit jantung disangkal, penyakit hipertensi disangkal, penyakit diabetes mellitus disangkal, trauma disangkal, alergi disangkal. Keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan pasien. Tidak ada riwayat penyakit DM dan hipertensi. Keadaan umum baik, kesadaran compos Mentis, tensi 130 / 100mHg, nadi 108 menit, suhu 36 0 C, respirasi 22 x / menit.

Diagnosis Pre/post operasi : Tiroidektomi Status Operasi : Pasien fisik ASA I

Terapi Pre Operasi : Infus RL 12 tetes per menit. Puasa 8 jam. Post Operasi : Awasi tensi, nadi,dan pernafasan tiap setengah jam. Ekstensikan kepala, oksigenasi sampai pasien sadar. Antrain 1 gr/8 jam i.v. Sadar penuh, diit bebas. Infus RL 12 tetes per menit. Premedikasi yang Diberikan : Pasien dalam kondisi yang kooperatif, ASA I. Premedikasi yang diberikan pada pasien ini adalah Sulfas Atropin 0,25 mg dan Midazolam 1,5 mg.

Teknik :General Anestesi, dengan teknik balance anesthesia, respirasi terkontrol dengan endotracheal tube, ET nomor 6,5, semiclosed Induksi : Atrakurium 10 mg dan resofol 80 mg Pemeliharaan :N2O, O2, dan Sevofluran

Diskusi Keadaan umum pasien pada saat datang ke rumah sakit (13 Desember2009) adalah dalam keadaan baik dan compos mentis. Pasien dating dengan keluhan merasa ada benjolan di leher ( pasien lupa sejak kapan munculnya benjolan. Benjolan dengan diameter kira-kira 2cm. Konsistensi keras dan ikut bergerak saat menelen. Tanda-tanda hipertiroid (-), sering berkeringat(-), merasa panas(-), berdebar-debar(-), tremor(-). Benjolan dirasakan mulai menganggu. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan teliti dan lengkap, pasien dianjurkan oleh dokter untuk operasi. Pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang thorax foto dilakukan. Akhirnya, setelah diketahui bahwa kondisi pasien cukup baik dan memenuhi persyaratan operasi, maka tanggal operasi pun ditetapkan. Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan, didapatkan diagnosis penyakit pasien adalah struma nodusa. Berdasarkan pemeriksaan fisik dan penunjang, diperoleh gambaran mengenai status pasien. Status fisik pra anestesi, masuk dalam kategori ASA I. ASA I mempunyai interpretasi bahwa pasien dalam keadaaan sehat yang memerlukan operasi. Berdasarkan status fisik pasien tersebut, jenis anestesi yang paling baik digunakan dalam operasi tiroidektomi adalah general anestesi. Teknik anestesi umum yang dipilih adalah teknik balance anesthesia, respirasi terkontrol dengan endotrakeal tube nomor 6,5. Anestesi umum adalah tindakan anestesi yang dilakukan dengan cara menghilangkan nyeri secara sentral, disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible. Komponen ideal anestesi umum: 1. Hipnotik 2. Analgesi 3. Relaksasi otot : relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan.4. Stabilisasi otonom Metode anestesi umum ada 3 yaitu: 1. Parenteral Anestesi yang diberikan secara parenteral baik intravena maupun intramuskular biasanya digunakan untuk tindakan yang singkat. Untuk tindakan yang lama biasanya dikombinasikan dengan obat lain. 2. Perektal

Anestesi umum yang diberikan secara rektal kebanyakan dipakai pada anak, terutama untuk induksi atau tindakan yang singkat. 3. Perinhalasi Anestesi dengan menggunakan gas atau cairan anestesi yang mudah menguap sebagai zat anestetika melalui udara pernafasan. Tujuan kunjungan pra anestesi adalah mempersiapkan mental dan fisik pasien secara optimal, merencanakan dan memilih teknik serta obat obat anestesi yang sesuai keadaan fisik dan kehendak pasien, serta menentukan klasifikasi yang sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik. Anamnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri (autoanamnesis) atau melalui keluarga (alloanamnesis). Dengan cara ini kita dapat mengadakan pendekatan psikologis. Untuk mengurangi gelisah dan takut yang mungkin ada pada pasien atau orang tuanya, perlu diberi penerangan tentang tindakan apa yang akan dilakukan serta perawatan pasca bedahnya, terutama bila pasien direncanakan dirawat di unit terapi intensif. Kalau perlu untuk mengurangi perasaan gelisah dan takut pasien diberi sedasi pada malam hari sebelum dilakukan pembedahan. Pemeriksaan fisik dan laboratorium dilakukan dengan teliti, bila terdapat indikasi lakukan konsultasi dengan bidang keahlian lain seperti ahli penyakit jantung, paru, penyakit dalam. Pemeriksaan fisik rutin meliputi pemeriksaan tinggi, berat, suhu badan, keadaan umum, kesadaran, tanda tanda anemia, tekanan darah, frekuensi nadi, pola dan frekuensi pernafaan. Berdasarkan jenis operasi yang akan dilakukan yaitu tiroidektomi , maka ditentukan jenis anestesi yang terbaik adalah dengan anestesi general. Pada pasien ini dilakukan teknik anestesi dengan pipa endotrakea dan nafas kendali. Teknik ini dimulai dengan pemberian obat pelumpuh otot non depolar, setelah itu dilakukan pemasangan pipa endotrakea. Nafas dikendalikan dengan respiratoir atau secara manual. Apabila nafas dikendalikan secara manual harus diperhatikan pergerakan dada kanan kiri asimeris. Obat pelumpuh otot kalau perlu diulangi lagi dengan 1/3 dosis awal, yaitu apabila pasien tampak ada usaha bernafas spontan, atau otot perut mulai tegang. Menjelang akhir operasi setelah menjahit lapisan otot selesai diusahakan nafas spontan dengan membantu usaha nafas sendiri secara manual. Sevofluran dapat dihentikan sesudah lapisan fasia kulit terjahit. N2O dihentikan kalau lapisan kulit mulai dijahit. Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi anesthesia dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anestesi, diantaranya: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Meredakan kecemasan dan ketakutan Memperlancar induksi anesthesia Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus Meminimalkan jumlah obat anestetik Mengurangi mual muntah pasca bedah Menciptakan amnesia Mengurangi isi cairan lambung Mengurangi refleks yang membahayakan

Obat pereda kecemasan bisa digunakan diazepam peroral 10-15 mg beberapa jam sebelum induksi anesthesia. Jika disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan opioid misalnya petidin 50 mg intramuscular. Cairan lambung 25 ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan pneumonitis asam. Untuk meminimalkan kejadian di atas dapat diberikan antagonis reseptor H2 histamin misalnya simetidin 600 mg atau oral ranitidine (zantac) 150 mg 1-2 jam sebelum jadwal operasi. Untuk mengurangi mual muntah pasca bedah sering ditambahkan premedikasi suntikan intramuscular untuk dewasa droperidol 2,5-5 mg atau ondansetron 2-4 mg (zofran, narfoz). Pada pasien ini diberikan premedikasi sulphas atrofin 0,25 mg dan midazolam 1,5 mg. Induksi anestesi adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi. Obat obatan untuk induksi anestesi diantaranya adalah tiopental, propofol, dan ketamin. Tiopental hanya boleh digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7 mg/kg dan disuntikkan perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik. Larutan ini sangat alkalis dengan pH 10-11, sehingga suntikan keluar vena akan menimbulkan nyeri hebat apalagi masuk ke arteria akan menyebabkan vasokonstriksi dan nekrosis jaringan sekitar. Kalau hal ini terjadi dianjurkan memberikan suntikan infiltrasi lidokain. Namun untuk dosis pada anak untuk tiopental (pentotal) sama dengan dewasa dan untuk neonatus adalah 1-2 mg.kg. Propofol diberikan dengan dosis bolus untuk induksi2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anesthesia intravena total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0,2 mg/kg. Pengenceran propofol hanya boleh dengan dextrose 5%. Pada manula dosis harus dikurangi, pada anak < 3 tahun dan pada wanita hamil tidak dianjurkan. Ketamin diberikan dengan dosis bolus untuk induksi intravena adalah 1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg. Sebelum pemberian ketamin sebaiknya diberikan sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam (valium) dengan dosis 0,1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi saliva diberikan sulfas atropine 0,01 mg/kg. Rumatan anestesi biasanya mengacu pada trias anestesi yaitu tidur ringan, analgesia cukup, dan relaksasi otot lurik yang cukup. Pada pasien ini diberikan maintenance oksigen + N2O + sevoflurane. Oksigen diberikan untuk mencukupi oksigenasi jaringan. N2O sebagai analgetik dan sevoflurane untuk efek hipnotik. Pasien ini diberi antrain 1 gram yang dicampur dalam infuse RL 500ml yang bertujuan sebagai analgetik. Diberikan juga ondansetron 4mg untuk mengurangi rasa mual dan muntah. Terapi Cairan 1. Puasa 8 jam
o

Kebutuhan cairan selama puasa 8 jam adalah: 2 x 39 x 8 = 624 ml

o o

Jumlah cairan yang sudah diberikan 500 ml Sisa yang belum diberikan 132 ml

2. Durante operasi
o o o o o o o

Kebutuhan cairan selama 20 menit adalah: 2 x 39 x 0,33 = 26 ml Kehilangan cairan akibat stress operasi sedang : 4 x 39 x 0,33 = 51 ml Kekurangan cairan yang belum diberikan 77 ml Perdarahan < 10% EBV tidak diperlukan Total yang harus diberikan total semuanya 260 ml Diberikan 500 ml Sisa pemberian (500-260= 240ml), dilanjutkan hingga satu jam pertama post operasi.

3. Satu jam pertama post operasi


o o

Kebutuhan cairan selama 1 jam 78 ml Pemberian cairan merupakan kelanjutan dari flabot durante operasi

Kebutuhan cairan tiap jam berikutnya 78 ml (19 tetes per menit)

Kesimpulan Pada kasus ini pasien dengan diagnosis tiroidektomi akan dilakukan operasi dengan teknik general anastesi. Status pasien fisik ASA I. Saat pre operasi, pasien mendapat infus RL 12 tetes per menit dan puasa 8 jam. Saat post Operasi pasien mendapatkan antrain 1 gr/8 jam i.v, diit bebasdan infus RL 12 tetes per menit. Premedikasi yang diberikan pada pasien ini adalah Sulfas Atropin 0,25 mg dan Midazolam 1,5 mg. General Anestesi dilakukan dengan teknik balance anesthesia, respirasi terkontrol dengan endotracheal tube, ET nomor 6,5, semiclosed. Induksi dengan Atrakurium 10 mg dan resofol 80 mg. Pemeliharaan dengan N2O, O2, dan Sevofluran.

Referensi 1. Dachlan, R., Suryadi, KA., Latief Said. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta:Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, FK UI. 2. Muhiman, M., Thaib, R., Sunatrio, Dachlan, R. Anestesiologi. Jakarta:Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, FK UI. 3. Uud, S., Dr. Anestesi Umum. Handout RSUD Temanggung 4. UUd, S., Dr, Terapi Cairan Perioperatif. Handout RSUD Temanggung 5. Wikipedia, Anestesi umum. www.Id.wikipedia/org/wiki/anesthesi