Anda di halaman 1dari 22

BAB II LAPORAN PENDAHULUAN

A. Konsep Dasar Penyakit 1. Defenisi Malnutrisi adalah : Suatu keadaan gizi yang buruk yang terjadi karena tidak cukupnya asupan satu atau lebih nutrisi yang

membahayakan status kesehatan (Watson, Roger. 2003. Perawatan Pada Lansia. Jakarta : EGC) Gangguan gizi yang dapat terjadi karena tidak cukupnya asupan nutrient esensial atau karena mal asimilasi. (Hincliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan, Jakarta : EGC) Malnutrisi adalah adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi agitasi, dan mempengaruhi fungsi kognitif / pengambilan keputusan. 2. Etiologi y y y y y y y Tinggal sendiri Kelemahan fisik Kehilangan Depresi Pendapatan yang rendah Peny. Saluran cerna Penyalahgunaan alkohol

3. Dampak Malnutrisi y Mal nutrisi yang lama pada lansia akan berdampak pada kelemahan otot dan kelelahan karena energi yang menurun. y Lansia dengan mal nutrisi beresiko tinggi terhadap terjatuh/mengalami ketidakmampuan dalam mobilisasi yang menyebabkan cedera. 4. Penyebab Malnutrisi y Perubahan sensorik yang menyebabkan pengurangan kemampuan untuk mencium dan merasakan makanan krna kerusakan pada nervusVII dan Nervus i

IX, sehingga nafsu makan berkurang.

Dalam keadaan sakit, nafsu makan lansia tanpak berkurang sehingga menyebabkan malnutrisi, sedangkan energi yang mereka butuhkan akan meningkat.

Kondisi yang kronik seperti penyakit serebrovaskuler, artritis, diabetes, dan gangguan mental, disfagia.

y y y

Faktor psikososial Obesitas Obat

BAB II ISI

A.

SENSASI PENGLIHATAN PADA LANSIA 2.1 Pengertian Gangguan sensori/ indra adalah perubahan dalam persepsi derajat serta jenis reaksi seorang yang diakibakan oleh meningkat, menurun atau hilangnya rangsang indra ( Wahjudi Nugroho, perawatan lanjut usia. Hal 92 ) Gangguan penglihatan merupakan masalah penting yang menyertai lanjutnya usia. Akibat dari masalah ini seringkali tidak disadari oleh masyarakat, para ahli, bahkan oleh para lanjut usia sendiri. Dengan berkurangnya penglihatan, para lanjut usia sering kali kehilangan rasa percaya diri, berkurang keinginan untuk pergi keluar, untuk lebih aktif bergerak kesana kemari. Mereka akan kehilangan kemampuan untuk membaca atau melihat televise. Kesemua itu akan menurunkan aspek sosialisasi dari para lanjut usia., mengisolasi mereka dari dunia luar yang pada gilirannya akan menyebabkan depresi dengan berbagai akibatnya. Mata adalah organ sensorik yang mentransmisikan rangsang melalui jarak pada otak ke lobus oksipital di mana rasa penglihatan ini diterima. Sesuai dengan proses penuaan yang terjadi, tentunya banyak perubahan yang terjadi, di antaranya alis berubah kelabu, dapat menjadi kasar pada pria, dan menjadi

ii

tipis pada sisi temporalis balk pada pria maupun wanita. Konjungtiva menipis dan berwarna kekuningan, produksi air mata oleh kelenjar lakrimalis yang berfungsi untuk melembapkan dan melumasi konjungtiva akan menurun dan cenderung cepat menguap, sehingga mengakibatkan konjungtiva lebih kering. Pada mata bagian dalam, perubahan yang terjadi adalah ukuran pupil menurun dan reaksi terhadap cahaya berkurang dan juga terhadap akomodasi. Lensa menguning dan berangsur-angsur menjadi lebih buram mengakibatkan katarak, sehingga memengaruhi kemampuan untuk menerima dan membedakan warna-warna. Kadang warna gelap seperti coklat, hitam, dan marun tampak sama. Pandangan dalam area yang suram dan adaptasi terhadap kegelapan berkurang (sulit melihat dalam cahaya gelap) menempatkan lansia pada risiko cedera. Sementara cahaya menyilaukan dapat menyebabkan nyeri dan membatasi kemampuan untuk membedakan objek-objek dengan jelas. Semua hal di atas dapat memengaruhi kemampuan fungsional para lansia.

2.2 Hal-hal yang mungkin menyebabkan gangguan sensorik atau indra :    Tersekap dalam ruangan yang sempit Tersekap dalam ruangan yang tidak berjendela Rangsangan dari luar secara terus menerus, misalnya penerangan lampu, suara, atau kerumunan orang   Kurangnya rangsangan baru Penempatan klien lanjut usia dalam ruang isolasi.

2.3 Masalah-masalah sistem pengindraan pada lanjut usia : a. Gangguan indera penglihatan 1. Perubahan struktur kelopak mata Dengan bertambahnya usia akan menyebabkan kekendoran seluruh jaringan kelopak mata. Perubahan ini juga disebut dengan perubahan infolusional, terjadi pada : a. M. Orbikularis

iii

Perubahan pada M. orbicularis bisa menyebabkan perubahan kedudukan Palbebra, misalnya kelopak mata jatuh. b. Retraktor Palpebra inferior Kekendoran retractor palpebra inferior mengakibatkan tepi bawah tarsus rotasi / berputar kearah luar. c. Tarsus Apabila tarsus kurang kaku oleh karena proses atropi akan menyebabkan tepi atas lebih melengkung kedalam. d. Tendo Kantus medial / lateral Perubahan involusional pada usia lanjut juga mengenai tendon kantus medial / lateral sehingga secara horizontal kekencangan palpebra berkurang.

2.

Perubahan sistim lakrimal Kegagalan fungsi pompa pada sistem kanalis lakrimalis disebabkan oleh karena kelamahan palpebra, malposisi palpebra sehingga akan menimbulkan keluhan epipora (sumbatan), Yang mengakibatkan kelenjar lakrimal secara progresif berkurang.

3.

Proses penuaan pada kornea Arcus senilis, merupakan manifestasi proses penuaan pada kornea yang sering di jumpai. Ini memberikan keluhan. Kalainan ini berupa infiltrasi bahan lemak yang bewarna keputihan, berbentuk cincin dibagian tepi kornea.

4.

Perubahan muskulus siliaris Dengan bertambahnya usia, bentuk daripada muskuls siliaris akan mengalami perubahan. Mengenai manifestasi klinis yang dikaitkan dengan perubahan muskulus siliaris pada lanjut usia, dikatakan bahwa degenarasi muskulus siliaris bukan merupakan faktor utama yang mendasari terjadinya presbiofia. Ini dikaitkan

iv

dengan perubahan serabut-serabut lensa yang menjadi padat, sehingga lensa kurang dapat menyesuaikan bentuknya. Untuk mengatasi hal tersebut muskulus siliaris mengadakan kompensasi sehingga mengalami hipertrofi. 5. Perubahan replaksi Dengan bertambahnya usia penurunan daya akomdasi akan menurun. Karena proses kekeruhan dilensa dan lensa cenderung lebih cembung. 6. Perubahan struktur jaringan dalam bola mata Semangkin bertambahnya umur nucleus makin membesar dan padat, sedangkan volume lensa tetap, sehingga bagian kortek menipis, elastisitas lensa jadi berkurang, indeks bias berubah (jadi lemah). Yang mula-mula bening trasparan, menjadi tampak keruh ( sclerosis ). 7. Perubahan fungsional Proses degenerasi dialami oleh berbagai jaringan di dalam bola mata, media refrakta menjadi kurang cemerlang dan sel-sel reseptor berkurang, visus kurang tajam dibandingkan pada usia muda. Keluhan silau ( foto fobi ) timbul akibat proses penuaan pada lensa dan kornea.

Masalah-masalah lainnya yang sering muncul pada lansia dengan gangguan penglihatan adalah sfinter pupil timbul sclerosis dan hilangnya respon terhadap sinar, kornea lebih berbentuk sferis (bola), lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa) menjadi katarrak, susah melihat dalam keadaan gelap, hilangya daya akomodasi. 2.4 Pemeriksaan Diagnostik 1. Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman

penglihatan dan sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa, aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau penglihatan ke retina atau jalan optik.

2.

Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan massa tumor pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.

3.

Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)

4.

Pengukuran gonioskopi :Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut tertutup glaukoma.

5.

Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan data jika TIO normal atau hanya meningkat ringan. Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler, mencatat atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma.

6.

7. 8.

Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosis.

Atas dasar penelitian yang dilakukan WHO penyakit Gangguan Penglihatan pada lansia sangat sering terjad B. SENSASI PENDENGARAN PADA LANSIA

2.3 PENGERTIAN Berkurangnya Pendengaran adalah penurunan fungsi pendengaran pada salah satu ataupun kedua telinga. Tuli adalah penurunan fungsi pendengaran yang sangat berat. Presbikusis merupakan akibat dari proses degeneratif pada satu atau beberapa bagian koklea (striae vaskularis, sel rambut, dan membran basi la ris) maupun serabut saraf auditori. Presbikusis ini juga merupakan hasil interaksi antara faktor genetik individu dengan faktor eksternal, seperti pajanan suara berisik terus-menerus, obat ototoksik, dan penyakit sistemik. Presbikusis terbagi dua menjadi prebiskus perifer dan prebiskus sentral. Presbikusis perifer, di mana para lansia hanya mampu untuk

vi

mengidentifikasi kata. Alat Bantu dengar masih cukup bermanfaat, tetapi harus diperhatikan untuk menghindari berteriak/berbicara terlalu keras karena dapat membuat ketidaknyamanan di telinga. Presbikusis sentral, di mana lansia mengalami gangguan untuk mengidentifikasi kalimat, sehingga manfaat alat bantu dengar sangat kurang. Oleh karena itu, percakapan dengan para lansia harus sedikit lebih lambat tanpa mengabaikan irama dan intonasi.

Presbikusis ditambah dengan situasi ketika percakapan yang berlangsung kurang mendukung dapat menyebabkan lansia mengalami gangguan komunikasi. 3.2 PENYEBAB Penurunan fungsi pendengaran bisa disebabkan oleh: Suatu masalah mekanis di dalam saluran telinga atau di dalam telinga tengah yang menghalangi penghantaran suara (penurunan fungsi pendengaran konduktif)

Kerusakan pada telinga dalam, saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak (penurunan fungsi pendengaran sensorineural).  Penurunan fungsi pendengaran sensorineural dikelompokkan lagi menjadi: Penurunan fungsi pendengaran sensorik (jika kelainannya terletak pada telinga dalam)   Penurunan fungsi pendengaran neural (jika kelainannya terletak pada saraf pendengaran atau jalur saraf pendengaran di otak). Penurunan fungsi pendengaran sensorik bisa merupakan

penyakit keturunan, tetapi mungkin juga disebabkan oleh: y y y y  Trauma akustik (suara yang sangat keras) Infeksi virus pada telinga dalam Obat-obatan tertentu Penyakit Meniere

Penurunan fungsi pendengaran neural bisa disebabkan oleh: Tumor otak yang juga menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf di sekitarnya dan batang otak, Infeksi, Berbagai penyakit otak dan

vii

saraf (misalnya stroke) - Beberapa penyakit, keturunan (misalnya penyakit Refsum). 3.3 GEJALA Penderita penurunan fungsi pendengaran bisa mengalami beberapa atau seluruh gejala berikut :      Kesulitan dalam mendengarkan percakapan, terutama jika di sekelilingnya berisik Terdengar gemuruh atau suara berdenging di telinga (tinnitus) Tidak dapat mendengarkan suara televisi atau radio dengan volume yang normal Kelelahan dan iritasi karena penderita berusaha keras untuk bisa mendengar Pusing atau gangguan keseimbangan.

3.4 Gangguan indra pendengaran Berbagai pengertian mengenai kelainan pendengaran dan organ yang berhubungan dengan gangguan pendengaran : 1. Gangguan pendengaran tipe konduktif Gangguan yang bersifat mekanik, sebagai akibat dari kerusakan kanalis auditorius, membran timpani atau tulang-tulang pendengaran. Salah satu penyebab gangguan pendengaran tipe konduktif yang terjadi pada usia lanjut adalah adanya serumen obturans, yang justru sering dilupakan pada pemeriksaan.

2. Gangguan pendengaran tipe sensori neural Penyebab utama dari kelainan ini adalah kerusakan neuron akibat bising, presbiakusis, obat yang ototoksik, hereditas dan reaksi pasca radang. 3. Persepsi pendengaran abnormal Sering terdapat pada sekitar 50 % lansia yang menderita presbiakusis, yang berupa suatu peningkatan sensitivitas terhadap suara bicara yang keras.

viii

4. Gangguan terhadap lokalisasi suara Pada lansia sering kali sudah terdapat gangguan dalam membedakan arah suara, terutama lingkungan yang agak bising.

Masalah-masalah lainya yang sering muncul adalah presbiakusis (hilangnya kemampuan pendengaran pada telinga dalam terutama terhadap bunyi atau suara/nada yang tinggi ;suara yang tidak jelas dan sulit mengerti kata-kata, membrane tympani menjadi atropi, terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin, pendengaran bertambah menurun. A. KONSEP OSTEOPOROSIS

1. Pengertian  Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas/matriks/massa tulang, peningkatan porositas tulang, dan penurunan proses mineralisasi disertai dengan kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan kekokohan tulang sehingga tulang menjadi mudah patah.  Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri dari mineralmineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang, maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.  Osteoporosis adalah suatu keadaan berkurangnya massa tulang sedemikian rupa sehingga hanya dengan trauma minimal tulang akan patah. Osteoporosis akan menghilangkan elastisitas tulang sehingga menjadi rapuh dan menyebabkan mudah terjadi patah tulang (fraktur).

2. Jenis Osteoporosis

a.

Osteoporosis postmenopausal

ix

Terjadi karena kekurangan estrogen (hormon utama pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang pada wanita.Biasanya gejala timbul pada wanita yang berusia di antara 51-75 tahun, tetapi bisa mulai muncul lebih cepat ataupun lebih lamba b. Osteoporosis senilis

Kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan diantara kecepatan hancurnya tulang dan pembentukan tulang yang baru.Senilis berarti bahwa keadaan ini hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita seringkali menderita osteoporosis senilis dan postmenopausal.

c. Osteoporosis sekunder

Dialami kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan.

d. Osteoporosis juvenil idiopatik

Merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak diketahui.Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal dan tidak memiliki penyebab yang jelas dari rapuhnya tulang (Musculoskelethalbedah.blogspot, 2008).

3. Penyebab Osteoporosis

Ada 2 penyebab utama osteoporosis, yaitu : 1. Pembentukan massa puncak tulang yang kurang baik selama masa pertumbuhan dan meningkatnya pengurangan massa tulang setelah menopause. Massa tulang meningkat secara konstan dan mencapai puncak sampai usia 40

tahun, pada wanita lebih muda sekitar 30-35 tahun. Walaupun demikian tulang yang hidup tidak pernah beristirahat dan akan selalu mengadakan remodelling dan memperbaharui cadangan mineralnya sepanjang garis beban mekanik. Faktor pengatur formasi dan resorpsi tulang dilaksanakan melalui 2 proses yang selalu berada dalam keadaan seimbang dan disebut coupling. Proses coupling ini memungkinkan aktivitas formasi tulang sebanding dengan aktivitas resorpsi tulang. Proses ini berlangsung 12 minggu pada orang muda dan 16-20 minggu pada usia menengah atau lanjut. Remodelling rate adalah 2-10% massa skelet per tahun. Proses remodelling ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor lokal yang menyebabkan terjadinya satu rangkaian kejadian pada konsep Activation Resorption Formation (ARF). Proses ini dipengaruhi oleh protein mitogenik yang berasal dari tulang yang merangsang preosteoblas supaya membelah membelah menjadi osteoblas akibat adanya aktivitas resorpsi oleh osteoklas. Faktor lain yang mempengaruhi proses remodelling adalah faktor hormonal. Proses remodelling akan ditingkatkan oleh hormon paratiroid, hormon pertumbuhan dan 1,25 (OH)2 vitamin D. Sedang yang menghambat proses remodelling adalah kalsitonin, estrogen dan glukokortikoid. Proses-proses yang mengganggu remodelling tulang inilah yang menyebabkan osteoporosis.

2. Gangguan pengaturan metabolisme kalsium dan fosfat. Gangguan metabolisme kalsium dan fosfat dapat dapat terjadi karena kurangnya asupan kalsium, sedangkan menurut RDA konsumsi kalsium untuk remaja dewasa muda 1200mg, dewasa 800mg, wanita pasca menopause 1000 1500mgmg, sdangkan pada lansia tidak terbatas walaupun secara normal pada lansia dibutuhkan 300-500mg. oleh karena pada lansia asupan kalsium kurang dan ekskresi kalsium yang lebih cepat dari ginjal ke urin, menyebabkan lemahnya penyerapan kalsium. Selain itu, ada pula factor risiko yang dapat mencetuskan. Faktor Risiko Terjadinya Osteoporosis yaitu :

a. Wanita Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35

xi

tahun. b. Usia Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.

c. Ras/Suku Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.

d. Keturunan Penderita osteoporosis. Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhatihatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama. e. Gaya Hidup Kurang Baik Gaya Hidup Kurang Baik Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah

f. Minuman berkafein da beralkohol Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hasilnya adalah bahwa air seni peminum kafein lebih banyak mengandung kalsium, dan kalsium itu berasal dari proses pembentukan tulang. Selain itu kafein dan alkohol bersifat toksin yang menghambat proses pembentukan massa tulang (osteoblas).

g. Malas Olahraga Wanita yang malas bergerak atau olahraga akan terhambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan

xii

massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa. a.Merokok Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.

i. Kurang kalsium. Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang

f. Mengkonsumsi Obat. Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit

osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas.

g. Kurus dan Mungil

Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna (Musculoskelethal, 2008).

4. Patofisiologi Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor genetic dan factor lingkungan.

xiii

 Factor genetic meliputi: Usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan.  Factor lingkungan meliputi: Merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas, anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan. Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis.

5. Tanda dan Gejala

1) Deformitas tulang Terjadi perubahan pada bentuk tulang akibat mudahnya terjadi fraktur (patah tulang ) patologis pada tulang belakang. 2) Nyeri tulang akut 3) Nyeri berkurang pada saat beristirahat di tempat tidur 4) Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan akan bertambah bila melakukan aktivitas 5) Gambaran klinis sebelum patah tulang, klien (terutama wanita tua) biasanya datang dengan nyeri tulang belakang, bungkuk dan sudah menopause sedangkan gambaran klinis setelah terjadi patah tulang, klien biasanya datang dengan keluhan punggung terasa sangat nyeri (nyeri punggung akut), sakit pada pangkal paha, atau bengkak pada pergelangan tangan setelah jatuh. 6) Kecenderungan penurunan tinggi badan 7) Postur tubuh kelihatan memendek

6.

Pencegahan Osteoporosis

1.

Asupan kalsium cukup

Mempertahankan atau meningkatkan kepadatan tulang dapat dilakukan dengan

xiv

mengkonsumsi kalsium yang cukup. Minum 2 gelas susu dan tambahan vitamin D setiap hari, bisa meningkatkan kepadatan tulang pada wanita setengah baya yang sebelumnya tidak mendapatkan cukup kalsium. Sebaiknya konsumsi kalsium setiap hari. Dosis harian yang dianjurkan untuk usia produktif adalah 1000 mg kalsium per hari, sedangkan untuk usia lansia dianjurkan 1200 mg per hari. Mengkonsumsi kalsium dalam jumlah yang cukup sangat efektif, terutama sebelum tercapainya kepadatan tulang maksimal (sekitar umur 30 tahun). Pilihlah makanan sehari-hari yang kaya kalsium seperti ikan teri, brokoli, tempe, tahu, keju dan kacangkacangan.

2. Paparan sinar UV B matahari (pagi dan sore)

Sinar matahari terutama UVB membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan massa tulang. Untungnya, Indonesia beriklim tropis sehingga sinar matahari berlimpah. Berjemurlah di bawah sinar matahari selama 30 menit pada pagi hari sebelum jam 09.00 dan sore hari sesudah jam 16.00.

3. Melakukan olah raga dengan beban.

Selain olahraga menggunakan alat beban, berat badan sendiri juga dapat berfungsi sebagai beban yang dapat meningkatkan kepadatan tulang. Olah raga beban misalnya berjalan dan menaiki tangga tetapi berenang tidak meningkatkan kepadatan tulang. Dr. Ade Tobing, Sp.KO kini mengenalkan yang disebut latihan jasmani yang baik, benar, terukur dan teratur (BBTT). Latihan BBTT ternyata terbukti bermanfaat dalam memelihara dan meningkatkan massa tulang. Oleh sebab itu, latihan fisik (BBTT) dapat dilakukan untuk mencegah dan mengobati penyakit osteoporosis.

4. Gaya hidup sehat.

Tidak ada kata terlambat untuk melakukan gaya hidup sehat. Menghindari rokok dan alkohol memberikan efek yang signifikan dalam menurunkan risiko

xv

osteoporosis. Konsumsi kopi, minuman bersoda, dan daging merah pun dilakukan secara bijak.

5. Hindari obat-obatan tertentu.

Hindari obat-obatan golongan kortikosteroid. Umumnya steroid ini diberikan untuk penyakit asma, lupus, keganasan. Waspadalah penggunaan obat antikejang. Jika tidak ada obat lain, maka obat-obatan tersebut dapat dikonsumsi dengan dipantau oleh dokter.

6. Mengkonsumsi obat (untuk beberapa orang tertentu)  Estrogen membantu mempertahankan kepadatan tulang pada wanita dan sering diminum bersamaan dengan progesteron. Terapi sulih estrogen paling efektif dimulai dalam 4-6 tahun setelah menopause; tetapi jika baru dimulai lebih dari 6 tahun setelah menopause, masih bisa memperlambat kerapuhan tulang dan mengurangi resiko patah tulang.  Raloksifen merupakan obat menyerupai estrogen yang baru, yang mungkin kurang efektif daripada estrogen dalam mencegah kerapuhan tulang, tetapi tidak memiliki efek terhadap payudara atau rahim.  Untuk mencegah osteroporosis, bisfosfonat (contohnya alendronat), bisa sendiri atau bersamaan dengan terapi sulih hormon.

7.

Diagnosa Osteoporosis

a.

DEXA

Scan

(Dual

Energy

X-Ray

Absorptiometri

b. Densitometer-USG. c. CTx. Proses pengeroposan tulang dapat diketahui dengan memeriksakan penanda biokimia CTx (C-Telopeptide). 8. Terapi / Penatalaksanaan 1) Diet kaya kalsium dan vitamin D yang mencukupi sepanjang hidup, dengan peningkatan asupan kalsium pada permulaan umur pertengahan dapat melindungi terhadap demineralisasi tulang

xvi

2) Pada menopause dapat diberikan terapi pengganti hormone dengan estrogen dan progesterone untuk memperlambat kehilangan tulang dan mencegah terjadinya patah tulang yang diakibatkan. 3) Medical treatment, oabt-obatan dapat diresepkan untuk menangani osteoporosis termasuk kalsitonin, natrium fluoride, dan natrium etridonat 4) Pemasangan penyangga tulang belakang (spinal brace) untuk mengurangi nyeri punggung

9. Komplikasi  Osteoporosis mengakibatkan tulang secara progresif menjadi panas, rapuh dan mudah patah.  Osteoporosis sering mengakibatkan fraktur. Bisa terjadi fraktur kompresi vertebra torakalis dan lumbalis, fraktur daerah kolum femoris dan daerah trokhanter, dan fraktur colles pada pergelangan tangan. BAB II PEMBAHASAN

I.

Perubahan anatomik pada sistem genetalia pada lansia A. Wanita Dengan berhentinya produksinya hormon estrogen, genitalia interna dan eksterna berangsur-angsur mengalami atrofi. 1. Vagina  Vagina mengalami kontraktur, panjang dan lebar vagina mengalami pengecilan.  Fornises menjadi dangkal, begitu pula serviks tidak lagi menonjol ke dalam vagina. Sejak klimakterium, vagina berangsur-angsur mengalami atropi, meskipun pada wanita belum pernah melahirkan. Kelenjar seks mengecil dan berhenti berfungsi. Mukosa genitalia menipis begitu pula jaringan sub-mukosa tidak lagi

mempertahankan elastisitasnya akibat fibrosis.  Perubahan ini sampai batas tertentu dipengaruhi oleh keberlangsungan koitus, artinya makin lama kegiatan tersebut dilakukan kurang laju pendangkalan atau pengecilan genitalia eksterna. 2. Uterus

xvii

Setelah klimaterium uterus mengalami atrofi, panjangnya menyusut dan dindingnya menipis, miometrium menjadi sedikit dan lebih banyak jaringan fibrotik. Serviks menyusut tidak menonjol, bahkan lama-lama akan merata dengan dinding jaringan. 3. Ovarium Setelah menopause, ukuran sel telur mengecil dan permukaannya menjadi keriput sebagai akibat atrofi dari medula, bukan akibat dari ovulasi yang berulang sebelumnya, permukaan ovarium menjadi rata lagi seperti anak oleh karena tidak terdapat folikel. Secara umum, perubahan fisik genetalia interna dan eksterna dipengaruhi oleh fungsi ovarium. Bila ovarium berhenti berfungsi, pada umumnya terjadi atrofi dan terjadi inaktivitas organ yang pertumbuhannya oleh hormon estrogen dan progesteron. 4. Payudara (Glandula Mamae) Payudara akan menyusut dan menjadi datar, kecuali pada wanita yang gemuk, dimana payudara tetap besar dan menggantung. Keadaan ini disebabkan oleh karena atrofi hanya mempengaruhi kelenjar payudara saja.

Kelenjar pituari anterior mempengaruhi secara histologik maupun fungsional, begitu pula kelenjar tiroid dan adrenal menjadi keras dan mengkibatkan bentuk tubuh serupa akromegali ringan. Bahu menjadi gemuk dan garis pinggang menghilang. Kadang timbul pertumbuhan rambut pada wajah. Rambut ketiak, pubis mengurang, oleh karena pertumbuhannya dipengaruhi oleh kelenjar adrenal dan bukan kelenjar ovarium. Rambut kepala menjadi jarang. Kenaikan berat badan sering terjadi pada masa klimakterik. B. Pria 1. Prostat Pembesaran prostat merupakan kejadian yang sering pada pria lansia, gejala yang timbul merupakan efek mekanik akibat pembesaran lobus medius yang kemudian seolah-olah bertindak sebagai katup yang berbentuk bola (Ball Valve Effect). Disamping itu terdapat efek dinamik dari otot polos yang merupakan 40% dari komponen kelenjar, kapsul dan leher kantong kemih, otot polos ini dibawah pengaruh sistem alfa adrenergik. Timbulnya nodul mikroskopik sudah terlihat pada usia 25-30 tahun dan terdapat pada 60% pria berusia 60 tahun, 90% pada pria berusia 85 tahun, tetapi hanya 50% yang menjadi BPH Makroskopik dan dari itu hanya 50% berkembang menjadi BPH klinik yang menimbulkan problem medik. Kadar dehidrosteron pada orang tua meningkat karena meningkatnya enzim 5 alfa reduktase yang mengkonfersi tetosteron menjadi dehidro steron. Ini yang dianggap

xviii

menjadi pendorong hiperplasi kelenjar, otot dan stroma prostat. Sebenarnya selain proses menua rangsangan androgen ikut berperan timbulnya BPH ini dapat dibuktikan pada pria yang di kastrasi menjelang pubertas tidak akan menderita BPH pada usia lanjut. 2. Testis Penuaan pada pria tidak menyebabkan berkurangnya ukuran dan berat testis tetapi sel yang memproduksi dan memberi nutrisi (sel Leydic) pada sperma berkurang jumlah dan aktifitasnya sehingga sperma berkurang sampai 50% dan testoteron juga menurun. Hal ini menyebabkan penuruna libido dan kegiatan sex yang jelas menurun adalah multipel ejakulasi dan perpanjangan periode refrakter. Tetapi banyak golongan lansia tetap menjalankan aktifitas sexsual sampai umur lanjut.

II. Perubahan fisiologik aktivitas seksual akibat proses penuaan bila ditinjau dari pembagian tahapan seksual menurut Kaplan adalah berikut ini : 1. Fase desire Dipengaruhi oleh penyakit, masalah hubungan dengan pasangan, harapan kultural, kecemasan akan kemampuan seks. Hasrat pada lansia wanita mungkin menurun seiring makin lanjutnya usia, tetapi bias bervariasi.Interval untuk meningkatkan hasrat seksual pada lansia pria meningkat serta testoteron menurun secara bertahap sejak usia 55 tahun akan mempengaruhi libido. 2. Fase arousal Lansia wanita: pembesaran payudara berkurang; terjadi penurunan flushing, elastisitas dinding vagina, lubrikasi vagina dan peregangan otot-otot; iritasi uretra dan kandung kemih. Lansia pria : ereksi membutuhkan waktu lebih lama, dan kurang begitu kuat; penurunan produksi sperma sejak usia 40tahun akibat penurunan testoteron; elevasi testis ke perineum lebih lambat. A. BAGIAN YANG TERMAKSUD DALAM SYSTEM INTEGUMEN A. Rambut Sel epidermis yang berubah , rambut tumbuh dari folikel rambut di dalam epidermis. Folikel rambut dibatisi oleh epidermis sebelah atas ,dasarnya terdapat papil tempat rambut tumbuh . akar berada dalam folikel pada ujung paling dalam dan bagian sebelah luar disebut batang rambut. Rambut terdiri dari :  Rambut panjang  Rambut pendek xix

 Rambut bulu lanugo  Rambut seksual B. Kuku Kuku adalah sel epidermis kulit kulit yang berubah , tertanam dalam palung kuku menurut garis lekukan pada kulit . palung kuku mendapat persyarafan dan pembuluh darah yang banyak. C. Kelenjar kulit: Kelenjar kulit mempunyai lubus yang bergulung gulung dengan saluran keluar lurus merupakan jalan mengeluarkan berbagai zat dari badan ( kelenjar keringat ). Klenjar sebasea berasal dari rambut yang bermuara pada saluran folikel rambut untuk melumasi kulit dan rambut. D. Persyarafan kulit Kulit juga seperti persyarafan lain terdapat cabang cabang saraf spinal yang permukaan terdiri dari saraf saraf motorik dan saraf sensorik . ujung saraf motorik berguna untuk mengerakan sel sel otot yang terdapat pada kulit sedangkan saraf sensorik berguna untuk menerima rangsangan yang terdapat dari luar atau kulit . pada ujung ujung saraf sensorik ini membentuk berbagai macam macam kegiatan untuk menerima rangsangan . ujung ujung saraf yang bebas untuk menerima rangsangan nyeri sakit /nyeri banyak terdapat di epidermis . di ujung ujung saraf nya mempunyai bentuk yang khas yang sudah merupakan satu organ.

E. Fisiologi system integument Kulit merupakan organyang paling luas permukaannya yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehinga kulit sebagai pelindung tubuh terhadap bahaya bahan kimia. Cahaya matahari mengadung sinar ultra violet dan melindungi terhadap microorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap lingkungan. Kulit merupakan indicator bagi seorang untuk memperoleh kesan umum dengan melihat perubahan yang terjadi pada kulit . misalnya menjadi pucat , kekuning kuningan , kemerah merahan atau suhu kulit meningkat, memperhatikan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh atau gangguan kulit karena penyakit tertentu. Gangguan spikis juga dapat dapat menyababkan keloainan atau perubahan pada kulit , misalnya stres, ketakutan atau dalam keadaan marah akan terjadi perubahan pada kulit wajah. Perubahan sruktur kulit dapat menentukan apakah seorang telah lanjut usia atau masih muda. F. Fungsi kulit Kulit pada manusia mempunyai fungsi yang sangat penting selain menjalin kelangsungan hidup secara umum yaitu :  Fungsi proteksi Kulit manjaga bagian dalam tubuh terdapat gangguan fisis atau mekanis , misalnya terdapat gesekan , tarikan , gangguan kimiawi yang dapat menimbulkan iritasi. Gangguan panas biasanya radiasi , sinar ultraviolet, gangguan infeksi dari luar misalnya bakteri dan jamur. Karena danaya bantalan lemak, tebalnya

xx

lapisan kulit dan serabut serabut jaringan penunjang berperan sebagai pelindung terdapat gangguan fisis , melanosit turut berperan dalam melindungan kulit terhadap sinar matahari dengan mengadakan tanning ( pengobatan dengan asam asetil )  Fungsi absorpsi Kulit yang sehat tidak mudah menyerap air , larutan dan benda padat tapi cairan yang mudah ,menguap lebih mudah di serap begitu juga yang larut dalam lemak kemempuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit , hidrasi, kelembapan dan metabolism.  Fungsi kulit sebagai pengatur panas Suhu tubuh tetap stabil meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini karena adanya penyesuaian antara panas yang di hasilkan oleh pusat pengantur panas, medulla oblongata.  Fungsi eksresi Kelenjar kelenjar kulit mengeluarkan zat zat yang yang tidak berguna lagi atau zat sisa metabolism dalam tubuh berupa Nacl, urea, asam urat, dan amoniak. Sebum yang di produksi oleh kulit berguna untuk melindungi kulit karena lapisan sebum mengandung bahan minyak yang melindungi kulit ini menahan kulit yang berlebihan sehingga kulit tidak menjadi kering.  Fungsi persepsi Kulit mengadung ujung ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Respon terhadap panas diperankan oleh dermis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, perabaan diperankan oleh papilla dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan di perankan oleh epidermis.  Fungsi pembentuk pigmen Pigmen kulit terbentuk karena adanya Sel pembentuk pigmen ( melanosit )  Fungsi pembentukan vitamin D B. Perubahan sistem kulit & karingan ikat. y Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. y Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adipose y Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. y Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen. y Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurangbaik. y Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. y Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu. y Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. y Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.

xxi

Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.

Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik, menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu, rambut dalam hidung dan telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi, pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjadi keras dan rapuh, kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan seperti tanduk, kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.

xxii