Anda di halaman 1dari 3

Kelompok V, VI, VII, VIII 6. Apakah definisi, patofisiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penanganan fraktur vertebra? 7.

Apa saja pemeriksaan diagnostik pada pasien fraktur vertebra? 8. Bagaimana cara mengukur kekuatan otot? Apa arti kekuatan otot 0,1,2,3,4,5? 9. Apa yang dimaksud dengan paraplegia, tetraplegia, quadriplegia, hemiplegia, parapareses, tetraparese, hemiparese! 10. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan fraktur vertebra? Buat patway dan kemungkinan masalah keperawatan yang muncul! 11. Carilah sebuah jurnal tentang current issues penanganan fraktur vertebra, bahaslah sebagai pendukung dalam SGD ini! 6. Fraktur adalah diskontinuitas jaringan tulang dan tulang rawan (R.Syamsuhidayat, 1997). Fraktur vertebra adalah terputusnya discus invertebralis yang berdekatan dan berbagai tingkat perpindahan fragmen tulang(Theodore, 1993) Fraktur vertebra diklasifikasikan bedasarkan lokasi vertebra yang terkena. a. Fraktur pada servikal adalah terputusnya hubungan dari badan tulang vertebra servikalis. Fraktur kompresi vertebra adalah fraktur pada daerah servikal karena penekanan pada saraf-saraf yang berada di area servikal. Penyebabnya adalah mekanisme trauma yang paling sering menyebabkan fraktur vertebra servikal adalah kecelakaan lalu lintas. Mekanisme trauma pada spinal dapat berupa fleksi yang ditandai dengan distorsi (penyimpangan) spinal akibat perubahan dislokasi bagian anterior dan robeknya ligament longitudinal bagian posterior. Jatuh dengan posisi kepala ekstensi menyebabkan robeknya ligament longitudinal anterior dan kompresi pada discuss dan ligament flavum posterior. Kolumna vertebralis normal dapat menahan tekanan yang berat dan mempertahankan integritasnya tanpa mengalami kerusakan pada medulla spinalis. Akan tetapi beberapa mekanisme trauma tertentu dapat merusak sistem pertahanan ini dan mengakibatkan kerusakan pada kolumna vertebralis dan medulla spinalis. Pada daerah kolumna servikal, kemungkinan terjadinya cedera medulla spinal 40%. Trauma servikal dapat ditandai dengan kerusakan struktur kolumna vertebralis, kompresi discuss, robeknya ligament servikal dan kompresi radiks saraf pada setiap sisinya yang dapat menekan spinal dan menyebabkan kompresi pada saraf seseuai dengan segment pada tulang belakang servikal.

Patofisiologi Fraktur tulang belakang dapat terjadi di sepanjang kolumna bertebra tetapi lebih sering terjadi di daerah servikal bagian bawah dan didaerah lumbal bagian atas. Pada dislokasi akan tampak bahwa kanalis vertebralis di daerah dislokasi tersebut menjadi sempit,keadaan ini akan menimbulkan penekanan atau kompresi padamedulla spinalis atau rediks saraf spinalis. Dengan adanya penekanan atau kompresi yang berlangsung lamamengakibatkan jaringan terputus akibatnya daerah sekitar fraktur mengalami oedema / hematoma.Kompresi akibatnya seringmenyebabkan iskemia otot .Gejala dan tanda yang menyertaipeningkatan tekanan compartmental mencakup nyeri, kehilangansensasi dan paralisis.Hilangnya tonjolan tulang yang normal,pemendekan atau pemanjangan tulang dan kedudukan yang khasuntuk dislokasi tertentu menyebabkan terjadinya perubahan bentuk(deformitas). Imobilisasi membentuk terapi awal pasienfraktur.Imobilisasi harus dicapai sebelum pasien ditransfer dan bilamungkin, bidai harus dijulurkan paling kurang satu sendi di atas dan dibawah tempat fraktur, dengan imobilisasi mengakibatkan sirkulasidarah menurun sehingga terjadi perubahan perfusi jaringan primer. (Markam, Soemarmo, 1992; Sabiston, 1995; Mansjoer, 2000) Manifestasi Klinik1) Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmentulang diimobilisasi2) Deformitas adalah pergeseran fragmen pada fraktur 3) Terjadi pemendekan tulang akibat kontraksi otot yang melekatdiatas dan dibawah tempat fraktur 4) Krepitus adalah derik tulang yang teraba akibat gesekan antarafragmen satu dengan yang lainnya5) Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadisebagai akibat trauma dan perubahan yang mengikuti fraktur.(Smeltzer, S, 2001)

Komplikasi 1) Infeksi 2) Syok hipovolemik atau traumatic 3) Sindrom emboli lemak 4) Sindrom kompartemen 5) Koagulasi intravaskuler diseminata (KID) (Smeltzer, S, 2001) Penatalaksanaan pada kasus ini adalah tirah baring total disertai dengan fisioterapi. 7. Pemeriksaan Penunjang 1) Foto Rontgen Spinal, yang memperlihatkan adanya perubahan degeneratif pada tulang belakang, atau tulang intervetebralis atau mengesampingkan kecurigaan patologis lain seperti tumor, osteomielitis. 2) Elektromiografi, untuk melokalisasi lesi pada tingkat akar syaraf spinal utama yang terkena. 3) Venogram Epidural, yang dapat dilakukan di mana keakuratan dan miogram terbatas. 4) Fungsi Lumbal, yang dapat mengkesampingkan kondisi yang berhubungan, infeksi adanya darah. 5) Tanda Le Seque (tes dengan mengangkat kaki lurus ke atas) untuk mendukung diagnosa awal dari herniasi discus intervertebralis ketika muncul nyeri pada kaki posterior. 6) CT - Scan yang dapat menunjukkan kanal spinal yang mengecil, adanya protrusi discus intervetebralis. 7) MRI, termasuk pemeriksaan non invasif yang dapat menunjukkan adanya perubahan tulang dan jaringan lunak dan dapat memperkuat adanya herniasi discus. 8) Mielogram, hasilnya mungkin normal atau memperlihatkan penyempitan dari ruang discus, menentukan lokasi dan ukuran herniasi secara spesifik. 8. Skala 1 : Jika otot ditekan masih terasa ada kontraksi atau kekenyalan ini berarti otot masih belum atrofi atau belum layu. Skala 2 : Dapat mengerakkan otot atau bagian yang lemah sesuai perintah misalnya tapak tangan disuruh telungkup atau lurus bengkok tapi jika ditahan sedikit saja sudah tak mampu bergerak Skala 3 : Dapat menggerakkan otot dengan tahanan minimal misalnya dapat menggerakkan telapak tangan dan jari Skala4 : Dapat bergerak dan dapat melawan hambatan yang ringan. Skala 5 : Bebas bergerak dan dapat melawan tahanan yang setimpal Skala diatas pada umumnya dipakai untuk memeriksa penderita yang mengalami kelumpuhan selain mendiagnosa status kelumpuhan juga dipakai untuk melihat apakah ada kemajuan yang diperoleh selama menjalani perawatan atau sebaliknya apakah terjadi perburukan pada seseorang penderita. 9. Paraplegia : kondisi dimana bagian bawah tubuh (extremitas bawah) mengalami kelumpuhan atau paralysis yang disebabkan karena lesi transversal pada medulla spinalis. Tetraplegia : paralisis semua ekstremitas Quadriplegia : kehilangan gerakan dan sensasi pada keempat ekstremitas dan badan yang dikaitkan dengna cedera pda medulla spinal servical. Hemiplegia : kelemahan sau sisi tubuh yang biasanya terjadi akibat penyakit serebrovaskuler pada sisi bersebrangan Parapareses : paralisis parsial pada ekstremitas bawah Tetraparese : kelemahan oto yang mengenai keempat ekstremitas hemiparese : kelemahan pada seluruh atau sebagian wajah (kamus kedokteran Dorland)

elompok VII dan VIII Kasus An.C perempuan usia 18 bulan mengalami kelainan kongenital pada muskuloskletalnya sejak dia lahir. Menurut diagnosa dokter yang memeriksa, An.C mengalami CDH. Klien tidak mendapatkan terapi apapun karena keterbatasan biaya. Sampai saat ini klien tidak bisa berdiri

dan berjalan, klien mengalami imobilisasi, hanya berbaring di tempat tidur. Riwayat kehamilan sungsang pada ibu. Menurut ibu setelah mendapatkan donatur pada usia 16 bulan, akhirnya anaknya mendapatkan terapi dan saat ini terpasang gips. Pada area sekitar pemasangan gips, didapatkan tanda-tanda kulit kemerahan, bahkan terdapat lesi akibat gesekan dan garukan. Ibu mengatakan belum tahu cara perawatan gips yang terpasang pada anaknya. 1. Jelaskan konsep dasar penyakit yang dialami klien (definisi, insiden, etiologi, klasifikasi, manifestasi klinis (bayi dan untuk anak yang lebih besar), pemeriksaan fisik dan penunjang, penatalaksanaan, komplikasi)! 2. Buatlah pathway untuk masalah klien di atas! 3. Berikan penjelasan mengenai dampak dari imobilisasi yang dialami klien (Fisiologis (semua sistem), psikologis)! 4. Susunlah asuhan keperawatan untuk kasus klien di atas (pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan)! 5. Susunlah penkes untuk keluarga klien mengenai cara perawatan gips yang terpasang pada klien!

1. Congenital dislocation of the hip atau biasa disebut pergeseran sendi atau tulang sejak lahir adalah suatu
fase spectrum instabilitas pangkal paha pada bayi baru lahir. Biasanyan pada waktu lahir pangkal paha sepenuhnya stabil dan bertahan pada fleksi parsial. Cdh terjadi dengan kejadian 1,5 per 1000 kelahiran dan lebih umum terjadi pada anak perempuan. Diduga ada dua jenis etiologi: 1. Muscular type: disebabkan karena pertumbuhan otot-otot dari sendi pangkal paha yang tidak sehat, sehingga menyebabkan keluarnya caput femoris dari acetabulum. 2. Osseus type: disebabkan karena acetabulum tidak tumbuh sehat sehingga caput femoralis tidak dapat tertahan dalam acetabulum. Factor genetic pasti mempunyai peran karena dislokasi umumnya terjadi pada keluarga. Factor hormonal misalnya konsentrasi estrogen maternal yang tinggi, juga progesterone dan relaxin dalam beberapa minggu terakhir kehamilan dapat memperburuk kekendoran ligamentum pada bayi. Malposisi intrauteri (missal pada sungsang dengan kaki ekstensi) akan menyebabkan dislokasi. Manifestasi klinis 5. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah : 1. Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan. 2. Gips patah tidak bisa digunakan. 3. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien. 4. Jangan merusak atau menekan gips. 5. Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips/ menggaruk. 6. Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama.

Gips tidak boleh basah oleh air atau bahan lain yang mengakibatkan kerusakan gips. 2. 3. Setelah pemasangan gips harus dilakukan follow u yang teratur, tergantung dari lokalisasi pemasangan. Gips yang mengalami kerusakan atau lembek pada beberapa tempat, harus diperbaiki.