Anda di halaman 1dari 6

Pelanggaran Etika di Bidang Kosmetik

DEPOK Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Barat menggerebek tiga lokasi di wilayah Kecamatan Beji, Depok, yang diduga dijadikan tempat produksi dan distribusi kosmetik ilegal. Ketiga wilayah tersebut yakni di Jalan H Iming, Jalan Urea, dan Jalan Jangkar. Di Jalan Jangkar, petugas menggerebek sebuah rumah yang diduga dijadikan sebagai pabrik untuk memproduksi kosmetik ilegal. Dari lokasi tersebut, petugas menyita 20 dus besar yang terdiri dari ribuan kosmetik, mesin produksi, hingga label kosmetik. Sementara di Jalan Urea, petugas tak menemukan apapun. Selain itu petugas juga menggerebek sebuah rumah di Jalan H Iming yang dimiliki oleh pria bernama Kastalangi. Disana, petugas juga menyita lima dus besar yag diduga siap diedarkan di seluruh Indonesia hingga Malaysia. Kepala Seksi Penyidikan BPOM Jawa Barat Siti Rulia memeriksa dokumen penjualan kosmetik tersebut didampingi oleh Korwas PPNS Polda Jawa Barat Ipda Warsim. Rulia mengatakan, kosmetik tersebut diduga mengandung merkuri dan tak memiliki izin edar. Belum ada izin edarnya, diduga mengandung pemutih merkuri, harus diuji dulu. Merkuri itu melalui darah terserap pembuluh darah sebabkan ginjal dan hati, katanya di lokasi, Rabu (28/09/11). Sementara itu, Ketua RT setempat Ahmad Gazhali mengaku tak mengetahui adanya pabrik kosmetik ilegal di wilayahnya. Pemilik rumah, kata dia, hanya mengaku bekerja di bagian properti.

Badan Pengawas Obat Makanan (POM) Bandung menduga masih banyak kosmetik tanpa izin edar (TIE) dan kedaluarsa yang beredar di pasaran. Untuk itu masyarakat diimbau waspada. Jika menemukan produk kadaluarsa dan ilegal, disarankan melapor kepada aparat terkait atau Badan POM. "Di Bandung kebanyakan yang kadaluarsa dan ilegal (yang beredar)," kata Kepala Balai Pengawas Obat Makanan Bandung Wusmin Tambunan, di sela pemusnahan dua truk kosmetik ilegal dan kedaluarsa di Rumah Penyimpanan Barang Sitaan Negara Kelas 1 A Bandung, Jawa Barat, Kamis 9 Juni. Menurutnya, kosmetik ilegal kebanyakan dari negara wilayah Asia. Untuk memebedakannya, sebaiknya konsumen memerhatikan bahan-bahan yang terkandung dalam kosmetik. Jika tidak mencantumkan bahan yang lengkap, sudah dipastikan produk tersebut ilegal. Selain itu, perhatikan juga kode dan tanggal kadaluarsanya. "Sejak 1 Januari lalu, kasus kosmetik ilegal memang agak berkurang. Ini karena diberlakukannya kesepakatan negara-negara Asean untuk mempermudah peredaran konsmetik. Dulu untuk memebedakan kan tidak ada registrasi dari Badan POM. Sekarang mereka hanya cantumkan bahan kosmetik," paparnya. Kesepakatan antar negara Asean itu dilakukan untuk mempermuddah perdagngan kosmetik. Sehingga tidak ;agi melalui pemeriksaan oleh Badan POM hingga 6 bulan. "Pemeriksaan dipandang memakan waktu, ini dikeluhkan. Jadi dulu lebih banyak kosmetik yang masuk ilegal," tuturnya. Tugas Badan POM tetap melakukan pengawasan terhadap tiap produk yang beredar. Dalam seminggu pihaknya melakukan pengawasan lapangan hingga empat kali. Termasuk terhadap 16 ribu apotik yang ada di Jabar. Namun Wusmin mengeluhkan personel yang ada dilapangan. Untuk Badan POM Bandung, hanya memiliki 35 personel lapangan. Sedangkan secara nasional, Badan POM hanya memiliki 120 personel. Keterbatasab SDM itu jelas berpengaruh terhadap pengawasan peredaran kosmetik. "Idealnya ideal 200 personil. Tapi sanggup ga keuangan negara membiayainya," ungkapnya.

http://berita.liputan6.com/read/345488/ranj au-kosmetik-bermerkuri http://news.okezone.com/read/2011/06/10/3 40/466706/waspada-kosmetik-kedaluarsadan-ilegal-banyak-beredar (http://news.okezone.com/read/2011/09/28/ 338/508154/3-pabrik-kosmetik-ilegal-didepok-digerebek