Anda di halaman 1dari 9

 Romimohtarto dan Juwana (2004:1) benthos (bentos) merupakan biota yang hidup di atas dan di dasar perairan pesisir

dan laut.

 Romimohtarto dan Juwana (2004:1) plankton, merupakan biota yang umumnya berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat terlihat dengan mata biasa, hidupnya menghanyut dan terbawa gerakan air kemana saja.

 Romimohtarto dan Juwana (2004:1) nekton, merupakan hewan yang hidup pada kolom air di atas dasar laut sampai ke lapisan permukaan, yang berenang bebas dan melawan gerakan air seperti berbagai jenis ikan, cumi-cumi dan sebagainya.

 Romimohtarto dan Juwana (2004:1) meroplankton adalah larva yang hidup sebagai plankton dan hanya merupakan bagian atau fase dari daur hidup hewan-hewan lain.

 Romimohtarto dan Juwana (2004:2) larvalogi adalah cabang ilmu pengetahuan laut yang khusus mempelajari hal ihwal tentang larva yang hidup dalam sebagian bagian dari komunitas atau masyarakat plankton.

 Romimohtarto dan Juwana (2004:136) keberadaan dan sebaran hewan laut termasuk larva maupun gejala-gejala hayati lainnya tidak terjadi begitu saja, melainkan hasil dari kejadian-kejadian yang teratur, yang berjalan terus-menerus berupa faktor-faktor lingkungan tunggal atau ganda yang menata membentuk sebaran, kelulushidupan dan kepadatan hewan laut tersebut.

 Nontji (2008:11) plankton dapat digolongkan menjadi empat golongan menurut fungsinya, yaitu : 1. Fitoplankton, berfungsi aoutotrofik, yakni dapat menghasilkan sendiri bahan makanannya, sehingga fitoplankton juga disebut sebagai produsen primer 2. Zooplankton, berfungsi sebagai konsumen, karena bersifat heterotrofik 3. Bakterioplanktor, berfungsi sebagai pengurai di laut 4. Virioplankton, virus yang hidup sebagai plankton. Menjadikan biota lainnya, terutama bakterioplankton dan fitoplankton sebagai inang.

 Nontji (2008:48) untuk melawan gravitasi, atau meningkatkan daya apung, plankton mempunyai beberapa adaptasi morfologi, yaitu : 1. Tipe kantong, yakni berukuran relatif besar dengan kandungan cairan yang ringan dalam selnya. Bentuknya dapat juga mendekati bentuk cakram, hingga kalaupun tenggelam akan membentuk jalur zigzag, tidak langsung terjun ke dasar laut. 2. Tipe jarum atau rambut, berbentuk ramping atau memanjang. Bentuk yang demikian menghambat untuk tenggelam pada posisi yang melintang. 3. Tipe pita, sel-selnya melebar pipih, saling bertautan membentuk pita. 4. Tipe bercabang, di sini cabang-cabangnya bayak, kadang-kadang membentuk rantai berbentuk spiral untuk menghambat penenggelaman.

 Nontji (2008:51) ada faktor lingkungan yang juga ikut mempengaruhi daya apung plankton, yakni viskositas atau kekentalan air laut, yang bergantung dari suhu dan salinitas ( kadar garam). Makin tinggi suhu air atau makin rendah salinitas akan menyebabkan viskositas menurun, dan menyebabkan plankton lebih mudah tenggelam.

 Nontji (2008:82) hal yang paling penting dalam pencacahan adalah mengidentifikasi jenis atau kelompok yang dicacah.

 Nontji (2008:234) kunci utama dalam budidaya fitoplankton adalah bagaimana mengembangkan resep komposisi media yang paling cocok untuk pertumbuhan jenis fitoplankton tertentu, disamping pengaturan cahaya dan suhu yang sesuai.

 Nontji (2008:241) HAB (Harmful Algal Bloom) adalah istilah generik yang dugunakan untuk mengacu pada pertumbuhan lebat fitoplankton di laut atau di perairan payau yang dapat menyebabkan kemayian massal ikan, mengontaminasi makanan bahari (seafood) dengan tiksin (racun yang diproduksi oleh fitoplankton), dan mengubah ekosistem sedemikian rupa yang dipersepsikan oleh manusia sebagai mengganggu (harmful).

 Martasuganda (2008:1) tujuan pemasangan rumpon disuatu perairan adalah untuk mengikat ikan yang beruaya agar mau singgah, beristirahat, berkumpul, atau terkonsentrasi disekitar rumpon, sehingga akan mempermudah nelayan dalam menentukan daerah penangkapan ikan (fishing ground), dengan adanya kepastian daerah penangkapan ikan, maka waktu dan biaya operasi penangkapan ikan bisa diprediksi secara akurat, sehingga usaha penangkapan ikan akan bisa menjadi lebih efektif dan efisien.

 Martasuganda (2008:8) langkah yang sebaiknya dilakukan dalam upaya pengadaan dan pemanfaatan rumpon disuatu perairan adalah dengan cara melakukan : 1. kordinasi pelaksanaan 2. survei penentuan lokasi pemasangan 3. pembuatan desain dan konstruksi 4. pemasangan, dan 5. pemanfaatan dan pemeliharaan.  Martasuganda (2008:40) rumpon dapat dipasang di wilayah : 1. Perairan 2 mil laut sampai dengan 4 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah 2. Perairan diatas 4 mil laut sampai dengan 12 mil laut, diukur dari garis pantai pada titik surut terendah, dan 3. Perairan diatas 12 mil laut dan ZEE Indonesia.

 Martasuganda (2008:42) laut dalam adalah laut yang mempunyai kedalaman lebih dari 200 meter.

 Nontji (2007:68) arus merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dapatt di sebabkan oleh tiupan angin, atau karena perbedaan densitas air laut atau dapat pula disebabkan oleh gerakan bergelombang panjang.

 Nontji (2007:99) tsunami adalah istilah yang berasal dari bahasa Jepang yang kini telah menjadi istilah internasional untuk menyatakan gelombang besar luar biasa

yang dating menyerang tiba-tiba, menghempas ke pantai dan menimbulkan malapetaka yang hebat.

 Nontji (2007:99) ada tiga penyebab utama timbulnya gelombang tsunami yakni : gempa bawah laut, tanah longsor di dalam atau ke dalam laut, dan letusan gunung api.

 Nontji (2007:106) hutan mangrove adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.

 Nontji (2007:137) dilihat dari kondisi cahaya yang terdapat dalam laut maka secara vertikal laut dapat dibagi menjadi tiga zone yakin zone eufotik (0-150 m), zone disfotik (150-1000 m) dan zone asfotik (lebih dari 1000 m).

 Nontji (2007:150) algin adalah bahan yang terkandung dalam alga coklat yang banya digunakan dalam industri kosmetika untuk membuat sabun, cream, lotion, shampo. Industri farmasi memerlukannya untuk pembuatan emulsifier, stabilizer, tablet, salep, kapsul, filter. Dalam beberapa proses juga diperlukan sebagai bahan additive misalnya dalam industry tekstil, keramik, fotografi, pestisida.

 Nontji (2007:157) lamun (sea grass) adalah tumbuhan berbunga yang sudah sepenuhnya menyesuaikan diri untuk hidup terbenam dalam laut.

 Nontji (2007:186) teritip adalah krustasea dari anak kelas Cirripedia, yang di dalam literature Inggris disebut barnacle. Sifat-sifatnya sebagai hewan berbuku tak jelas kelihatan karena tersembunyi dalam cangkangnya yang keras berkapur. Hidupnya diteratas zone pasang-surut, mulai dari pasang tertinggi hingga pada kedudukan rata-rata pasang-surut.

 Nontji (2007:201) Echinodermata adalah hewan-hewan laut yang kulitnya berduri atau berbintil. Hewan-hewan ini bisa dibagi dalam lima golongan utama yakni teripang (holothuroidea), bintang laut (asteroidea), bintang ular (ophiuroidea), bulu babi (echinoidea) dan lili laut (crinoidea).

 Wibisono (2005:9) inti pokok wawasan nusantara : 1. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan politik. Hal ini berarti hanya ada satu kesatuan teritorial, satu kesatuan bangsa, satu kesatuan tujuan perjuangan, dan satu kesatuan hukum internasional. 2. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan sosial dan budaya 3. Perwujudan kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan Ekonomi 4. Perwujudan Kepulauan Nusantara sabagai satu kesatuan perthanan dan keamanan rakyat semesta.

 Wibisono (2005:19) adapun fungsi laut bagi bangsa Indonesia menurut hasil yang dicapai dalam Seminar Laut Nasional menyebutkan antara lain : 1. Sebagai media komunikasi dan transportasi 2. Sebagai sumber mineral dan hasil-hasil tambang 3. Sebagai sumberdaya hayati laut yang dapat menghasilkan sumber protein 4. Sebagai media pertahanan dan keamanan nasional 5. Sebagai media olahraga dan sarana pariwisata yang mampu mengahasilkan devisa Negara 6. Sebagai sumber ilmu pengetahuan

 Wibisono (2005:29) lingkungan perairan laut secara singkat dapat kira bagi menjadi 2 (dua) bagian utama, yakni : 1. Bagian air yang dikenal sebagai Pelagik (Pelagic) 2. Bagian dasar laut yang dikenal sebagai Bentik (Benthic)

 Wibisono (2005:30) suatu zona/ lapisan perairan yang masih dapat menerima sinar matahari disebut sebagai Photik Zone.  Wibisono (2005:39) daerah pinggir laut atau wilayah darat yang berbatasan langsung dengan bagian laut disebut dengan pantai.

 Wibisono (2005:39) dikenal ada beberapa tipe pantai antara lain : 1. Pantai pasir 2. Pantai pasir lumpur

3. Pantai pasir karang 4. Pantai karang (koral) 5. Pantai berbatu

 Wibisono (2005:39) pengertian berlawanan, yakni : 1. Dari segi daratan :

pesisir

bisa dijabarkan dari dua segi yang

Pesisir adalah wilayah daratan sampai wilayah laut yang masih dipengaruhi sifasifat darat (seperti : angin darat, drainase air tawar dari sungai, sedimentasi). 2. Dari segi laut : Pesisir adalah wilayah laut sampai wilayah darat yang masih dipengaruhi sifatsifat laut (seperti : pasang surut, salinitas, intrusi air laut ke wilayah daratan, angin laut).

 Wibisono (2005:47) untuk mengambil contoh air laut yang menyangkut pemerikasaan kadar oksigen termasuk BOD dan COD disarankan agar menggunakan water sampler yang tidak menimbulkan gelembung udara pada saat pengambilan.

 Arief (2003:14) fungsi fisik kawasan mangrove adalah sebagai berikut : 1. Menjaga garis pantai agar tetap stabil 2. Melindungi pantai dan tebing sungai dari erosi atau abrasi, serta menahan atau menyerap tiupan angina kencang dari laut ke darat 3. Menahan sedimen secara periodik sampai terbentuk lahan baru 4. Sebagai kawasan penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke darat, atau sebagai filter air asin menjadi air tawar.

 Arief (2003:14) fungsi kimia kawasan mangrove adalah sebagai berikut : 1. Sebagai tempat terjadinya proses daur ulang yang menghasilkan oksigen 2. Sebagai penyerap karbondioksida 3. Sebagai pengolah bahan-bahan limbah hasil pencemaran industri dan kapalkapal di lautan.

 Arief (2003:14) fungsi biologi kawasan mangrove adalah sebagai berikut : 1. Sebagai penghasil bahan pelapukan yang merupakan sumber makanan penting bagi invertebrata kecil pemakan bahan pelapukan (detritus), yang kemudian berperan sebagai sumber makanan hewan yang lebih besar 2. Sabagai kawasan pemijah atau asuhan (nursery ground) bagi udang, ikan, kepiting, kerang, dan sebagainya, yang setelah dewasa akan kembali ke lepas pantai 3. Sebagai kawasan untuk berlindung, bersarang, serta berkembang biak bagi burung dan satwa lain 4. Sebagai sumber plasma nuftah dan sumber genetika 5. Sebagai habitat alami bagi berbagai jenis biota darat dan laut lainnya.

 Ghufran (2010:3) dalam 25 tahun terakhir, banyak sekali penemuan ilmiah dari para ahli gizi dan kesehatan dunia yang membuktikan bahwa ikan dan jenis seafood lainnya sangat baik untuk kesehatan dan kecerdasan manusia.

 Ghufran (2010:14) kekayaan sumberdaya hayati akuatik (pesisir, laut, dan air tawar) yang sangat melimpah merupakan bahan baku untuk industry pangan, kosmetik, dan obat-obatan.

 Ghufran (2010:14-15) ketergantungan produksi biota akuatik pada alam tidak menguntungkan secara ekonomi dalam jangka panjang. Hali ini dikarenakan beberapa hal, antara lain : 1. Produksi alam bergantung pada musim sehingga kontinuitasnya tidak terjamin 2. Produksi alam tidak selalu memenuhi syarat, baik kuantitas maupun kualitas, misalnya ukurannya belum sesuai kebutuhan dan tidak seragam 3. Pengambilan atau penangkapan yang berlebihan dapat menyebabkan over fishing, bahkan kepunahan spesies (species extinction) 4. Penangkapan yang destruktif ( misalnya, dengan bahan pekedak atau bahan kimia beracun) juga dapat menyebabkan over fishing, serta merusak habitat dan ekosistem akuatik.

 Ghufran (2010:15) untuk membangun industri yang berbasis bahan baku pada biota akuatik, mau tidak mau harus membangun pula industri akuakultur atau budi daya perairan.

 Fauzi (2005:6) penurunan stok ikan paus di wilayah Greenland pada awal tahun 1800-an adalah contoh klasik kasus pertama yang membangkitkan perhatian para pengambil kebijakan bahwa intervensi manusiaberperran cukup besar dalam menurunkan cadangan sumber daya di wilayah tersebut.

 Fauzi (2005:7) masalah utama krisis perikanan adalah tidak terkendalinya intervensi manusia dalam mengelola sumber daya ikan.

 Fauzi (2005:7) mengingat kompleksitas interaksi antara manusia dan alam dalam pengelolaan sumber daya ikan, permasalahan yang melekat di dalamnya bersifat sangat path dependence. Artinya permasalahan perikanan dan penyelessaiannya akan sangat tergantung pada bagaimana kita mengambil pelajaran dari kegagalankegagalan yang terjadi di masa lalu.

 Fauzi (2005:11) permintaan terhadap produk perikanan juga meningkat dua kali lipat selama 30 tahun terakhir dan diproyeksikan akan terus meningkat dengan rata-rata 1,5% per tahun sampai tahun 2020 yang akan datang.

 Fauzi dan Anna (2005:16) salah satu sumber daya yang krusial bagi negara berkembang seperti Indonesia adalah sumber daya kelautan yang di dalamnya mengandung berbagai komponen hayati dan nonhayati.

 Fauzi dan Anna (2005:16) pada beberapa lingkuan perairan pesisir, penurunan stok sumber daya perikanan meningkat sebagai akibat dari tekanan lingkungan berupa pencemaran dan tangkap lebih.

 Fauzi (2010:16) dalam artian yang lebih luas, perikanan tidak saja diartikan aktivitas menangkap ikan (termasuk hewan invertebrate lainnya seperti finfish atau

ikan bersirip) namun juga termasuk kegiatan mengumpulkan krang-kerangan, rumput laut dan sumber daya hayati lainnya dalam suatu wilayah geografis tertentu.

 Fauzi (2010:24) sektor perikanan juag memiliki struktur komponen yang terdiri dari tiga komponen utama yakni; basis sumber daya (resource base), industry perikanan primer dan industri pengolahan dan perdagangan.

 Fauzi (2010:24) komponen basis sumber daya (resource base) pada hakikatnya adalah kegiatan perikanan yang didasarkan pada jenis sumber daya ikan apakah berbasis finfish (ikan) atau nonfinfish non ikan seperti crustacean (udang-udangan), kerang-kerangan (cephalopods), dan sebagainya.

 Fauzi (2010:27) sacara analitis dan empiris tujuan pembangunan perikinan dapat dikepompokkan dalam berbagai kategori tujuan yakni kategori ekonomi, sosial, dan tekno-ekologi.