Anda di halaman 1dari 6

BAB II PSIKOLOGI FENOMENOLOGI EKSISTENSIAL

A. PSIKOLOGI FENOMENOLOGI EKSISTENSIAL 1. Fenomenologi Fenomenologi merupakan istilah yang berasal dari dua kata bahasa yunani yaitu phenomenon (fenomena) dan logos. Dari sudut bahasa, istilah phenomenon bisa diartikan penampilan yakni penampilan sesuatu yang menampilkan diri). Secara umum fenomenologi adalah studi tentang kenyataan sebagaimana hadirnya, tampilnya. Fenomenologi merupakan cara atau metode pendekatan dengan tujuan memperoleh pemahaman tentang sesuatu sebagaimana tampilnya dan menjadi kesadaran kita. Fenomenologi adalah sebuah metode pemikiran, a way of looking at a things. Makna fenomenologi berkembang dan kira-kira bersinonim dengan dekriptif, yaitu mendeskripsikan seluruh gejala kesadaran, sedangkan yang menjadi objek adalah hakikat atau makna yang tampak sebagai gejala (fenomena) dalam kesadaran. Karakteristik fenomenologi adalah gejala-gejala yang hendak diselidiki itu haruslah berupa gejala yang murni dan asli. Tujuan fenomenologi yaitu kembali pada realitasnya, realita yang dimaksud adalah gejala pertama secara langsung, murni, dan asli. 2. Eksistensial Istilah eksistensial berasal dari kata eks yang berarti ke luar, dan kata sistensi yang diturunkan dari kata sisto, yang berarti diri atau menempatkan. Sebab itu, eksistensi berarti: manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan ke luar dari dirinya sendiri. Eksistensi adalah cara manusia ber-ada (mengada) dunia. Eksistensi manusia berarti cara ber-ada-nya manusia sebagai pribadi (subjek) yang sadar diri dan memiliki penyadaran diri, yang keluar dari dalam dirinya. Manusia tidak hanya ada: ia memahami bahwa ia ada dan keberadaannya suatu saat akan berakhir (seiz-zum-tode) atau (being-toward-death). Sehubungan dengan itu, tekanan perhatian dan pikiran eksistensial adalah berkenaan dengan penyadaran manusia melalui pengalaman subjektif. Eksistensial adalah aliran filsafat yang berusaha memahami kondisi manusia

sebagaimana manusia memanifestasikan dirinya di dalam situasi-situasi kongkret. Kondisi manusia yang dimaksud bukan hanya berupa ciri-ciri fisiknya tetapi juga seluruh momen yang hadir pada saat itu. Eksistensial adalah aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar. Kesadaran bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari eksistensial. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensial. 3. Psikologi Fenomenologi Eksistensial Apabila fenomenologi dan eksistensial digabungkan, maka jadilah fenomenologi eksistensial. Fenomenologi eksistensial merupakan disiplin ilmu filsafat yang berusaha memahami peristiwa-peristiwa eksistensi manusia dalam suatu cara yang bebas dari asumsi-asumsi budaya warisan kita, baik berasal dari dualisme dalam filsafat (jiwa dan tubuh) dan dalam psikologi (perilaku dan pengalaman), maupun dari saintisme dan positivisme. Jika diterapkan pada gejala-gejala psikologis manusia, maupun fenomenologi eksistensial menjadi psikologi fenomenologi eksistensial. Sebagai suatu disiplin ilmu psikologi, ia berusaha untuk mengungkapkan esensi, struktur, atau bentuk baik pengalaman maupun perilaku manusia melalui teknik deskriptif, termasuk refleksi disiplin. a. Konsep-konsep dasar psikologi fenomenologi eksistensial Psikologi fenomenolog eksistensial tidak bisa dikategorikan ke dalam ilmu alam, karena akar atau dasar dari psikologi fenomenologi eksistensial berbeda dari akar atau dasar ilmu-ilmu alam. Asumsi-asumsi filosofis kedua jenis ilmu ini berbeda satu sama lain. Perbedaan psikologi fenomenologi eksistensial dengan behavioristik, psikologi fenomenologi eksistensial menempatkan manusia bukan sebagai objek (fisik), melainkan sebagai subjek. Manusia tidak hanya dilihat sebagai organisme (alam), melainkan sebagai suatu kesatuan yang menyeluruh, yakni sebagai kesatuan individu dan dunianya. Manusia

eksistensial lebih dari sekedar manusia alam. Manusia (individu) tidak mempunyai eksistensi yang bisa dipisahkan dari dunianya dan dunia tidak mungkin ada tanpa individu yang memaknakannya. Individu dan dunia saling menciptakan atau saling mengkonstitusikan (co-constitution). Oleh sebab itu, tidak mungkin memahami manusia tanpa memahami dunia tempat eksistensi manusia adalah melalui dunianya maka makna eksistensi tamapak bagi dirinya dan bagi orang lain. Sebaliknya, setiap individu memberi makna pada dunianya. Tanpa diberi arti atau makna oleh individu, maka dunia tidak ada sebagai dunia. Manusia dan dunia saling ketergantungan karena manusia dan dunia selalu dalam dialog. Manusia adalah aktif, karena secara sadar dan sengaja selalu membentuk dan memberi makna pada dunia. Tetapi, manusia juga pasif karena dunia menentukan atau memberi bentuk pada manusia. Dalam arti ini, manusia berada dalam posisi bebas sekaligus dibatasi. Yang dimaksud dunia menurut pandangan Husserl sebenarnya bukan dunia sebagaimana dipahami atau diinterpretasikan oleh teori-teori ilmiah. Dunia yang dimaksud oleh Husserl adalah dunia sehari-hari yang belum diinterpretasikan, baik itu oleh interpretasi ilmiah atau interpretasi filsafat. Dunia adalah dunia secara langsung dan tanpa perantara, dialami oleh setiap individu di dalam kehidupan sehari-hari. Ini tidak lain adalah gejala atau fenomena murni, yang tidak tergantung pada dan mendahului interpretasi ilmiah atau interpretasi budaya lainnya. Imilah dunia yang dihidupi, dihayati, atau dialami oleh manusia (Lebenswelt atau dunia yang dialami). Lebenswelt sama sekali bukan dunia yang dikonstruksikan atau dibangun oleh para ilmuan untuk menjelaskan gejala alam. Konstruksi adalah hasil dari aktivitas kognitif, jadi menjadi produk dari kognisi manusia. Sebagaimana disebutkan, Lebenswelt tidak berdasarkan pada apapun; tidak ada yang mendahului dunia-yang-dialami, dan dengan begitu tidak ada yang membangunnya. Penjelasan mengenai dunia membawa Husserl pada hal lain, yakni proses reflektif. Proses penyusunan hipotesis dan teori di dalam ilmu-ilmu alam pada dasarnya adalah hasil dari pemikiran atau proses reflektif. Sedangkan lebenswelt adalah landasan atau dasar bagi pemikiran ilmiah; ia mendahului pemikiran ilmiah. Lebenswelt tidak

tergantung pada pemikiran ilmiah yang berasala dari pemikiran reflektif, melainkan sebagai staring point dari semua pengetahuan, termasuk penegtahuan ilmiah. Pengetahuan ilmiah tidak mungkin ada tanpa Lebenswelt yang keberadaannya mendahului refleksi (prerefleksi). Menurut Husserl, untuk memahami gejala-gejala tertentu kita perlu menunda prakonsepsi-prakonsepsi atau penagndaian-pangandaian kita. Para psikolog menamakan ini sebagai menyimpan dalam tanda kurung (bracketing). Namun, untuk menyimpan dlam tanda kurung prakonsepsi-prakonsepsi harus dibuat eksplisit. Memberi tanda kurung pada prakonsepsi-prakonsepsi berarti memunculkan mereka ketingkat kesadaran reflektif (yakni, Lebenswelt yang prareflektif menjadi terartikulasi pada taraf pemikiran reflektif). Asumsi-asumsi yang baru ditemukan tersebut kemudian diberi tanda kurung, dan ia membawa pada pemunculan dan realisasi berikutnya dari asumsi-asumsi lain. Proses mengurung dan mengurung kembali adalah cara dimana orang bergerak dari sikap mnatural menuju sikap transcendental. Sikap untuk mengambil sikap transendental ini dinamakan reduksi, yaitu mereduksi dunia yang dipertimbangkan oleh sikap natural menuju fenomena murni. Proses mengurung tersebut tidak pernah berakhir dan reduksi lengkap tidak pernah terjadi. Oleh karena itu, dalam melakukan reduksi kiat tidak menolak keberadaan dunia natural, melainkan menunda kepercayaan ilmiah bahwa dunia tidak tergantung pada individu. Dunia sebagai hasil mengurung sikap natural kemudian menjadi fenomenal dunia bukanlah campuran entitas-entitas luar lagi melainkan duniabagi-kesadaran. Bagi psikolog fenomenologi eksistensial, objek-objek mempunyai landasan dan ditopang oleh kekuatan mengkonstitusikan dari kesadaran. Namun, kita jangan melihat kesadaran sebagai kekuatan yang menciptakan melainkan sebagai sesuatu yang membuat objek hadir. Kesadaran adalah forum dimana gejala menunjukkan dirinya atau mengungkapkan dirinya. Ia sama sekali bukan entitas atau kekuatan misterius yang dengannya objek-objek diciptakan. Sebagaimana telah dikatakan, pengertian dan pelabelan objek-objek dilakukan di dalam sikap natural pada dasarnya adalah reflektif, berada pada tataran yang lebih tinggi. Selain itu, fenomenologi eksistensialpun menunjukkan bahwa kesadaran adalah kesadaran pada sesuatu; kita tak pernah sadar kecuali sadar pada sesuatu. Kesadaran memiliki objek, objeknya bisa kongkret atau abstrak. Oleh sebab itu, kesadaran adalah

intensional, mengarah pada sesuatu. Kesadaran adalah intensionalitas, yakni aktivitas atau tindakan menyadari (noetic, subjektif yang mempersepsi) dan tindakan itu menunjuk pada objek yang diintensikan (noematic, objek yang dipersepsi). b. Sifat dasar dan struktur Para psikolog fenomenologi eksistensial berusaha memahami gejala yang langsung dipersepsi dan tidak berkenaan dengan menjelaskan, meramalkan dan mengontrol gejala. Mereka hendak mengungkapkan struktur atau esensi pengalaman melalui teknik deskriptif. Metode deskripsi melalui refleksi yang terdisiplin menggantikan metode eksperimen, dan struktur atau esensi kesadaran menggantikan perhubungan sebab-akibat. Struktur atau esensi adalah konsep dasar dalam pendekatan psikologi fenomenologi eksistensial. Gejala, sebagai sesuatu yang hadir pada kita, menampakkan dirinya dengan cara yang berbeda-beda, tergantung bagaimana cara kita melihatnya. Hal yang sama tampak dari gejala psikologis seperti rasa cemas. Cemas adalah pengalaman yang memunyai makna untuk kita. Namun, munculnya rasa cemas tidak persis sama setiap saat. Hal tersebut merupakan manifestasi yang berbeda-beda dari pengalaman cemas. Bentuk perasaan cemas bisa dirasakan secara jelas pada beragam kasus yang berbeda. Keumuman di antara berbagai kasus tersebut tidak lain adalah apa dari kecemasan; merupakan struktur dari gejala-gejala cemas yang khusus. Contoh lain akan lebih menjelaskan arti struktur. Kita semua mengenal arti melodi. Sebagaimana kita mengalaminya, melodi memunyai makna yang umum; sekali kita mendengar melodi tertentu, kita akan mengenalnya kembali meski dimainkan oleh alat yang berbeda, dalam latar fisik yang berbeda, dan pada saat yang berbeda. Akan tetapi, melodi lebih dari sekedar pengalaman. Orang dapat mengabstraksikan not-not musik tertentu dengan menggambarkan dari tinggi rendahnya dan keras-lembut susunan not, dan durasi skala musiknya. Jika ada bagian dari melodi yang berubah, maka terciptalah melodi baru dan berbeda dari melodi sebelumnya. Melodi baru ini bisa terdengar menyenangkan atau tidak menyenangkan, tetapi jelas bahwa struktur tema musik aslinya berbeda; sebuah melodi baru kini telah tercipta. Hal ini menunjukan bahwa setiap perubahan pada suatu bagian akan mengubah keseluruhan. Seperti halnya melodi demikian juga pengalaman manusia. Kita dapat mengatakan bahwa terdapat melodi dalam setiap pengalaman manusia, dan

setiap pengalaman memunyai temanya sendiri. Struktur dari sebuah gejala adalah keumuman dari banyak penampakan yang beragam dari gejala itu. Kita tahu bahwa struktur di buat hadir oleh kita sebagai makna, dan tugas psikologi fenomenologi eksistensial adalah mmbuka hakikat struktur dalam bentuk makna. Yakni, melalui deskripsi dunia prakreflektif kemudian dibawa ke pada tingkat kesadaran reflektif yang didalamnya makna psikologis memanifestasikan dirinya. Upaya ini dilakukan baik untuk memahami gejala maupun un tuk mengungkap landasan atau dasar dari gejala itu sendiri. Seperti yang ditulis oleh Colaizzi, Tanpa memuka selubung (dasar) dari suatu gejala, maka tidak akan ada kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan atau pun kognisi kita. B. IMPLIKASI PSIKOLOGI FENOMENOLOGI EKSISTENSIAL Psikologi fenomenologi eksistensial ada di tengah-tengah pendekatan yang objektif dan subjektif. Dengan menempatkan persepsi sebagai intensional, maka yang objektif dan yang subjektif dipandang sebagai tidak dipisahkan. Psikologi fenomenologi eksistensial memandang kausalitas dalam cara yang berbeda dari pendekatan psikologi tradisional. Para psikolog fenomenologi eksistensial menolak pengertian kausalitas dalam cara yang linear (yakni, menolak kepercayaan bahwa perubahan diawali dan diarahkan oleh peristiwa-peristiwa eksternal). Konsekuensinya adalah bahwa jika mereka melakukan penyelidikan mengenai individu, maka individu diselidiki tanpa menggunakan pengujian hipotesis eksperimental untuk melihat hubungan sebab-akibatnya. Perhubungan sebab-akibat tidak memunyai tempat dalam memahami dan menguraikan dunia-hidup, karena individu dan dunia saling mengkonstitusikan satu sama lain.