Anda di halaman 1dari 5
DEMOGRAPHIC INSTITUTE FACULTY OF ECONOMICS UNIVERSITY OF INDONESIA KONSUMSI ROKOK MENINGKAT, RUMAH TANGGA TERMISKIN

DEMOGRAPHIC INSTITUTE FACULTY OF ECONOMICS UNIVERSITY OF INDONESIA

INSTITUTE FACULTY OF ECONOMICS UNIVERSITY OF INDONESIA KONSUMSI ROKOK MENINGKAT, RUMAH TANGGA TERMISKIN TERJERAT

KONSUMSI ROKOK MENINGKAT, RUMAH TANGGA TERMISKIN TERJERAT DAN ALTERNATIF SOLUSINYA

Penyusun:

Abdillah Ahsan, Nur Hadi Wiyono, Ayke Soraya Kiting, Flora Aninditya

1. Konsumsi Rokok Meningkat -Prevalensi merokok melonjak Prevalensi mer- okok adalah banyaknya persentase penduduk yang merokok pada tahun yang bersangkutan. Prevalensi merokok penduduk dewasa yang berusia 15 tahun atau lebih melonjak dari 27% pada tahun 1995 menjadi 34,7% untuk tahun 2010. Untuk periode 1995-2010 prevalensi mer- okok laki-laki terus meningkat dari 53% pada tahun 1995 menjadi 66% untuk tahun 2010. Dengan kata lain, jika di tahun 1995, 1 dari 2 laki- laki dewasa merokok maka pada tahun 2010 hal ini meningkat menjadi 2 dari 3 laki-laki dewasa merokok. Untuk perempuan dewasa, prevalensi merokok pada tahun 1995 sebesar 1,7% menin- gkat menjadi 4,2% di tahun 2010. Artinya dalam waktu 15 tahun prevalensi merokok perempuan dewasa di Indonesia telah meningkat lebih dari 2 kali lipat. Ini adalah tren yang mengkhawat- irkan karena meningkatnya prevalensi merokok berarti meningkatnya beban penyakit akibat merokok pada masa mendatang.

Gambar 1. Prevalensi Merokok Penduduk Usia 15 tahun Keatas menu- rut Jenis Kelamin, Indonesia, 1995-2010

Total
Total

Sumber :

1. Susenas 1995, 2001, dan 2004

2. Riskesdas 2007 dan 2010

- Tren Perokok remaja (15-19) mengkhawatirkan

Prevalensi merokok remaja yang berusia 15-19 tahun dari tahun 1995 – 2007 sangat mengkha- watirkan. Jika pada tahun 1995 hanya 7% remaja yang merokok, 12 tahun kemudian persentasen- ya meningkat menjadi 19%. Sehingga dalam waktu 12 tahun prevalensi merokok remaja meningkat lebih dari 2 kali lipat. Untuk rema- ja laki-laki pada periode yang sama prevalensi merokoknya meningkat lebih dari 2 kali lipat dari 14% pada tahun 1995 menjadi 37% pada tahun 2007. Atau 1 dari 3 remaja laki-laki usia 15-19 tahun merokok pada 2007. Bagi remaja perempuan, pada periode 1995-2007 prevalensi merokoknya meningkat lebih dari 5 kali lipat dari 0,3% (1995) menjadi 1,6% (2007). Fakta ini menunjukkan bahwa remaja adalah target pasar dari industri rokok. Peningkatan yang drastis ini memperlihatkan betapa efektifnya strategi pemasaran industri rokok dan betapa lemahnya negara dalam melindungi remaja dari perang- kap industri rokok.

Gambar 2. Prevalensi Merokok Penduduk Usia 15-19 tahun menurut Jenis Kelamin, Indonesia, 1995-2007

Usia 15-19 tahun menurut Jenis Kelamin, Indonesia, 1995-2007 Sumber : 1. Susenas 1995, 2001, dan 2004

Sumber :

1. Susenas 1995, 2001, dan 2004

2. Riskesdas 2007

- Jumlah Perokok Meroket Estimasi mengenai banyaknya jumlah perokok

di Indonesia dilakukan dengan cara mengka-

likan antara prevalensi dengan jumlah pen- duduk. Kami memperkirakan pada tahun 1995 jumlah perokok di Indonesia sebanyak 34,7 Juta orang dan meningkat menjadi 65,2 Juta orang pada tahun 2007. Sehingga saat ini minimal ada 65 juta orang yang merokok setiap hari. Menu-

rut jenis kelamin, pada tahun 1995 diperkira- kan ada 33,8 juta perokok laki-laki dan 1,1 juta perokok perempuan. Pada tahun 2007, angka

ini meningkat drastis menjadi 60,4 juta perokok

laki-laki dan 4,8 juta perokok perempuan

Gambar 3. Jumlah Perokok (usia 15+) menurut Jenis Kelamin, Indonesia, 1995-2007

(usia 15+) menurut Jenis Kelamin, Indonesia, 1995-2007 Sumber : 1. Susenas 1995, 2001, dan 2004 dan

Sumber :

1. Susenas 1995, 2001, dan 2004 dan Riskesdas 2007

2. Proyeksi Penduduk Bappenas

Sementara itu, jumlah perokok anak-anak yang berusia 10-14 tahun juga sangat tinggi jumlah dan peningkatannya. Jika di tahun 1995 dengan prevalensi merokok 0,3% maka jumlah perokok anak usia 10-14 tahun diperkirakan sebanyak 71,1 ribu orang. Jumlah perokok anak ini men- ingkat tajam pada tahun 2010 dengan prevalensi merokok 2% maka jumlah perokok anak usia 10-14 tahun diperkirakan meningkat menjadi 426,2 ribu. Artinya dalam waktu 12 tahun jum- lah perokok anak meningkat 6 kali lipat.

Gambar 4. Jumlah Perokok Anak (usia 10-14 tahun), Indonesia,

1995-2007

Jumlah Perokok Anak (usia 10-14 tahun), Indonesia, 1995-2007 Sumber : 1. Susenas 1995, 2001, dan 2004

Sumber :

1. Susenas 1995, 2001, dan 2004 dan Riskesdas 2007

2. Proyeksi Penduduk Bappenas

Catatan :

Untuk tahun 2004 dengan sumber data Susenas 2004 tidak tersedia data untuk penduduk usia 10-14 tahun

-Indonesia dalam incaran industri rokok internasional Neil Jones dan Iqbal Lambat dalam majalah Tobacco Reporter edisi May 2011 mengatakan bahwa prospek industri rokok di Indonesia san- gatlah menjanjikan. Hal ini karena tingginya pertumbuhan penduduk (1,5% per tahun), be- sarnya jumlah dan bagian penduduk usia muda (high youth population), tingginya pertumbu- han ekonomi (6-7% per tahun) dan lemahnya peraturan pengendalian konsumsi rokok di In- donesia (tidak ada pelarangan iklan rokok, har- ga rokok yang murah, tidak ada peringatan kes- ehatan bergambar di bungkus rokok dan belum efektifnya kawasan tanpa rokok). Sehingga tidak mengherankan jika Philip Morris International membeli 98% saham PT. HM. Sampoerna pada tahun 2005 dan BAT membeli 57% saham PT. Bentoel International Investama milik Group Rajawali. Bahkan pada bulan ini Juli 2011, KT & G dari Korea mengumumkan telah membeli 60% saham PT Trisakti Purwosari Makmur (TPM). Sehingga sudah ada tiga raksasa peru- sahaan rokok multinasional yang menguasai in- dustri rokok dalam negeri. Lemahnya peraturan pengendalian konsumsi rokok telah menarik minat perusahaan rokok luar negeri untuk mas- uk ke pasar rokok dalam negeri.

2. Rumah Tangga (RT) Termiskin Terperangkap Konsumsi Rokok - 6 dari 10 Rumah Tangga Termiskin Memiliki Pengeluaran untuk Rokok tahun 2009 Pada ta- hun 2009, 68% rumah tangga di Indonesia

memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Menurut kelompok pendapatan, mereka yang berada pada 20% rumah tangga dengan penge- luaran terendah, 57% nya memiliki pengeluaran untuk membeli rokok. Hal ini sangat menyedih- kan karena 6 dari 10 rumah tangga termiskin di Indonesia mengeluarkan uangnya untuk mem- beli rokok. Pengeluaran untuk membeli rokok ini akan membebani ekonomi rumah tangga termiskin dan akan mengorbankan pengeluaran lainnya yang jauh lebih penting.

Tabel 1. Persentase Rumah Tangga (RT) yang Memiliki Pengeluaran untuk Rokok menurut Kelompok Pendapatan, Indonesia,
Tabel 1.
Persentase Rumah Tangga (RT) yang Memiliki Pengeluaran untuk
Rokok menurut Kelompok Pendapatan, Indonesia, 2009
untuk Rokok menurut Kelompok Pendapatan, Indonesia, 2009 - Pengeluaran untuk Rokok di Urutan Kedua sete- lah

- Pengeluaran untuk Rokok di Urutan Kedua sete- lah Makanan Pokok Untuk rumah tangga termiskin yang memiliki pengeluaran untuk rokok, pengeluaran untuk rokok menempati urutan yang ke dua pada ta- hun 2009. Untuk periode 2003-2007 pengelu- aran untuk rokok konsisten di urutan ke dua, hanya lebih kecil dari padi-padian (makanan pokok). Di samping itu, pengeluaran untuk rokok lebih tinggi dari tiap 23 jenis pengeluaran rumah tangga lainnya. Di tahun 2009, rata-rata 11% pendapatan rumah tangga termiskin yang ada perokoknya digunakan untuk membeli rokok.

Gambar 5. Urutan Pengeluaran Rumah Tangga (RT) pada RT Termiskin yang Memiliki Pengeluaran untuk Rokok, Indonesia, 2009

yang Memiliki Pengeluaran untuk Rokok, Indonesia, 2009 Sumber : Susenas 2003-2009 - Tingginya Kesempatan yang

Sumber : Susenas 2003-2009

- Tingginya Kesempatan yang Hilang akibat Kon- sumsi rokok Pengeluaran untuk Rokok pada Rumah Tangga Perokok Termiskin 2009 adalah

a. 11 kali Lebih Banyak dari Pengeluaran untuk daging

b. 7 kali Lebih Banyak dari pengeluaran untuk buah-buahan

c. 6 kali Lebih Banyak dari pengeluaran untuk pendidikan

d. 5 kali Lebih Banyak dari pengeluaran untuk

susu telur

e. 5 kali Lebih Banyak dari Pengeluaran untuk kesehatan f. 2 kali Lebih Banyak dari Pengeluaran untuk ikan

3. Alternatif solusi pengendalian konsumsi rokok -Untuk mengendalikan konsumsi rokok, ada empat instrumen utama yang terbukti efektif menurunkan konsumsi rokok yaitu:

a) peningkatan harga rokok melalui peningka- tan cukai rokok,

b) pelarangan iklan rokok secara menyeluruh,

c) peringatan kesehatan bergambar di bungkus rokok dan, dan

d) Kawasan Tanpa Rokok (KTR).

Keempat instrumen tersebut harus diterapkan secara simultan agar konsumsi rokok dapat diturunkan dengan signifikan. - Dari keempat instrument tersebut, ke- wenangan dalam implementasinya berbeda-be-

da, ada yang berada di tingkat pemerintah pusat dan ada sebagian berada di tingkat provinsi atau kabupaten/kota. Instrumen peningkatan cukai rokok, pelarangan iklan, dan peringatan ber- gambar menjadi kewenangan pemerintah pusat, sedangkan KTR menjadi kewenangan pemerin- tah daerah untuk mengaturnya. Namun pemer- intah daerah mempunyai beberapa kewenangan untuk melarang iklan luar ruangan seperti yang dilakukan oleh pemerintah kota Padang Pan-

jang.

- Menurut UU no 39 tahun 2007 tentang Cukai, barang-barang tertentu yang mempunyai sifat atau karakteristik:

1. konsumsinya perlu dikendalikan,

2. peredarannya perlu diawasi,

3. pemakaiannya berdampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup, dan

4. pemakaiannya perlu pembebanan pungutan

negara demi keadilan dan keseimbangan.

- Rokok termasuk barang yang konsumsinya perlu dikendalikan dan diawasi peredarannya karena konsumi rokok berdampak buruk bagi perokok dan lingkungannya.

- Untuk mengendalikan konsumsi rokok, perlu

biaya yang cukup besar. Beberapa negara sep- erti Thailand dan Victoria (Australia) berhasil membentuk lembaga yang didanai oleh “ear- marking” pajak tembakau.

- Dalam taraf tertentu, Indonesia juga memiliki kebijakan “earmarking” cukai tembakau yang disebut Dana Bagi Hasil (DBH) Cukai Tem- bakau yang diamanatkan dalam UU No. 39 ta- hun 2007.

- Pasal 66A UU No. 39 tahun 2007 ayat 1 me-

nyebutkan bahwa penerimaan negara dari cukai hasil tembakau yang dibuat di Indonesia dibagi- kan kepada provinsi penghasil cukai hasil tem- bakau sebesar 2% (dua persen) yang digunakan untuk:

1. mendanai peningkatan kualitas bahan baku,

2. pembinaan industri,

3. pembinaan lingkungan sosial,

4. sosialisasi ketentuan di bidang cukai, dan/ atau

5. pemberantasan barang kena cukai ilegal.

- Dari lima alokasi penggunaan cukai di

atas, hanya alokasi no. 3 yang dapat diguna- kan untuk promosi kesehatan (pro health) un- tuk mengatasi dampak buruk dari rokok dan

peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui

penciptaan lapangan kerja (pro job) dan pen- gentasan kemiskinan (pro poor).

- DBH-Cukai Tembakau yang ditransfer ke dae-

rah penghasil cukai dan daerah tembakau men-

ingkat dari Rp200 milyar tahun 2008 menjadi Rp 1,1 triliun pada tahun 2010.

- Sebagian besar DBH Cukai Tembakau menga-

lir ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Gambar 6)

Gambar 6 Alokasi DBH-Cukai Tembakau di Empat Provinsi, 2008-2010 (dlm milyar rupiah)

Tembakau di Empat Provinsi, 2008-2010 (dlm milyar rupiah) Sumber: Paparan Direktur Dana Perimbangan, Direktorat

Sumber: Paparan Direktur Dana Perimbangan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kebijakan DBH CHT 2010, dalam Seminar Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau bagi Pembangunan Daerah, di Jakarta, tanggal 25 Mei 2010

- Temuan penelitian penggunaan DBH Cukai Tembakau di 3 wilayah (Jawa Tengah, DI Yogya- karta dan Jawa Timur). Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau dikelola oleh SKPD (Satuan Kerja

Perangkat Daerah) untuk berbagai macam keg- iatan. Beberapa contoh kegiatannya antara lain:

- Dinas Kesehatan Kediri (Jawa Timur):

* Pengadan Obat Untuk Penyakit Akibat Kerja Dan Penyakit Dampak Asap Rokok

* Peningkatan Pelayanan Dan Penanggulangan Kesehatan Akibat Asap Rokok (ISPA)

* Monitoring Evaluasi Pelaporan Kegiatan Kes- ehatan Masyarakat Akibat Asap Rokok

* Penanggulangan Anemia Gizi Dampak Polusi Pabrik & Asap Rokok

* Pelayanan Pencegahan 7 Penanggulangan Penyakit Menular akibat Asap Rokok

* Membangun rumah sakit untuk menangani penyakit akibat rokok.

- DI Yogyakarta, DBH Cukai Tembakau diper-

gunakan untuk:

* Promosi kesehatan

* Dana sehat

* Pemberantasan penyakit tidak menular Pro gram Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

* Obat-obatan untuk Balai Pengobatan Penyak it Paru-paru (BP4)

* Peralatan dan logistic BP4.

- DI Jawa Tengah, DBH Cukai Tembakau un- tuk pembinaan lingkungan sosial:

* Peningkatan kesehatan masyarakat

* Pemeliharaan ruang terbuka hijau

* Peningkatan kemampuan koperasi karyawan

IHT

* Penyiapan tenaga kerja siap pakai

* Rehabilitasi sarana dan prasarana BLK.

- Hasil temuan lapangan menemukan bahwa

banyak tokoh masyarakat/agama/politik yang

belum mengetahui adanya DBH Cukai tem- bakau di wilayah masing-masing.

- Penyusunan DBH Cukai Tembakau belum

melibatkan partisipasi masyarakat secara mak- simal.

- Hasil studi menyarankan untuk melibatkan

masyarakat secara aktif dalam proses penyusu-

nan perencanaan penggunaan DBH Cukai Tem- bakau dan mengawasi pelaksanaannya.