Anda di halaman 1dari 120

ETIKA BERNEGARA DALAM PERSPEKTIF PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS)

T E S I S Diajukan sebagai persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Magister Dalam Ilmu Agama Islam

Untuk Memperoleh Gelar Magister Dalam Ilmu Agama Islam Oleh: Budiyanto Eko Purwono NIM. 5203017 PROGRAM

Oleh:

Budiyanto Eko Purwono

NIM. 5203017

PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG

2007

1

2

Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A. Jln. Walisongo No. 3 Semarang Telp. 024. 7601553

A. NOTA PEMBIMBING

Dengan ini menerangkan bahwa Tesis Budiyanto Eko Purwono, NIM:

5203017 yang berjudul ETIKA BERNEGARA DALAM PERSPEKTIF PARTAI

KEADILAN SEJAHTERA (PKS) telah memenuhi syarat untuk diujikan sebagai

Tesis pada konsentrasi Etika/Tasawuf, Program Pascasarjana IAIN Walisongo

Semarang tahun akademik 2006/2007.

Semarang, 30 Juli 2007

Prof. Dr. H. Abdul Djamil, M.A.

NIP. 150208253

3

Tesis Berjudul

PENGESAHAN

: ETIKA BERNEGARA DALAM PERSPEKTIF PARTAI

KEADILAN SEJAHTERA (PKS)

Ditulis Oleh

: Budiyanto Eko Purwono

NIM

: 5203017

Konsentrasi

: Etika/Tasawuf

Telah dapat diterima sebagai syarat

Memperoleh gelar

Magister dalam Ilmu Agama Islam

Semarang,

Direktur

2007

Dr. H. Achmad Gunaryo, MSocSC NIP. 150247012

4

B. DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggungjawab, Penulis menyatakan bahwa Tesis yang berjudul ETIKA BERNEGARA DALAM PERSPEKTIF PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (PKS) tidak berisi material yang telah pernah ditulis oleh orang lain atau pernah diterbitkan. Demikian juga Tesis ini tidak berisi satu pun pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi ilmiah yang untuk dijadikan referensi sebagai bahan rujukan.

Semarang, 30 Juli 2007

Penulis

Budiyanto Eko Purwono

5

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan mengkaji pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan etika bernegara secara umum. Secara khusus pengkajian difokuskan terhadap konsep etika bernegara di lingkungan PKS, dan aplikasi konsep ini khususnya menyangkut etika kepala negara, etika pegawai negeri dan etika warga negara. Penelitian menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan analisis isi (content analysis) terhadap data-data yang diperoleh, baik yang bersumber dari buku-buku literatur yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan obyek yang diteliti maupun dari hasil wawancara dengan tokoh-tokoh PKS yang representatif dan tokoh-tokoh di luar PKS yang terkait. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena pasca reformasi 1998, yang memosisikan Indonesia berada dalam proses rumit era transisi mewujudkan negara demokrasi. Proses ini ditandai oleh tiga tantangan berat, yaitu kebebasan politik dan konflik, absen atau minimnya peran pemerintah akibat sentimen kuat anti atas kontrol pemerintah, dan kurangnya komitmen para pemimpin yang sudah terpilih secara demokratis. Ketiga tantangan itu berkelindan dengan proses perubahan yang cukup fundamental di berbagai bidang, yang menimbulkan situasi anomi dan memperparah krisis multidimensi. Di panggung politik, para elite di berbagai tingkatan diindikasikan kurang memiliki kepedulian terhadap kesulitan rakyat. Secara komprehensif, berbagai kalangan meyakini bahwa fenomena ini dilatarbelakangi oleh kemerosotan moral atau etika bernegara. Dalam perspektif inilah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang masuk 6 (enam) besar dari 24 parpol kontestan Pemilu 2004 menarik untuk dikaji. Dalam Pemilu 2004, PKS memperoleh dukungan 8.325.020 (7,34%) suara atau 45 kursi di DPR RI. Dukungan ini bisa dicapai karena faktor kerja keras dan keberpihakannya kepada rakyat, bersikap jujur, bersih dan peduli. Menarik untuk diungkap bagaimana sesungguhnya konsep etika bernegara kepala negara, pegawai negeri dan warga negara sebagai presentasi individual, kelompok dan bangsa dalam perspektif PKS. Dari hasil penelitian diperoleh fakta bahwa dalam perspektif PKS, baik etika kepala negara, etika pegawai negeri maupun etika warga negara, memosisikan akhlak atau moralitas yang berdimensi ilahiyah di urutan yang pertama, kemudian di urutan kedua adalah kompetensi intelektual-akademis, dan terakhir menyangkut profesionalitas. Masing-masing melahirkan sejumlah rincian rumusan etis yang bernuansa lebih konkrit sebagai pelengkapnya. Hasil penelitian juga mengungkapkan bahwa di ranah aplikatif, etika bernegara dalam perspektif PKS, baik etika kepala negara, etika pegawai negeri maupun etika warga negara, secara komprehensif, untuk saat ini dinilai masih jauh dari tahap memuaskan. Hal ini terutama menyangkut moralitas di lingkungan sementara pegawai negeri dan sebagian warga negara. Namun secara parsial, menurut PKS, aplikasi etika kepala negara cukup sesuai. Artinya, etika kepala negara saat ini relatif cukup sesuai dengan rumusan etika bernegara PKS, atau dengan kata lain, memenuhi aspirasi PKS.

6

KATA PENGANTAR

6 KATA PENGANTAR Alhamdulillahi rabbil alamiin , shalawat dan salam kami sampaikan kepada kekasih Allah, kekasih

Alhamdulillahi

rabbil

alamiin,

shalawat

dan

salam

kami

sampaikan

kepada kekasih Allah, kekasih ummat dan pemimpin dunia hingga akhir zaman,

Rasulullah Muhammad SAW. Berkat nikmat dan hidayah Allah SWT., penulisan

Tesis ini berhasil kami selesaikan, sebagai kewajiban untuk mengakhiri studi di

Program Pasca Sarjana, konsentrasi Etika/Tasawuf, IAIN Walisongo, Semarang.

Dalam proses penyelesaian Tesis ini, terdapat banyak pihak yang terlibat

dengan berbagai peran berbeda yang sinergis, yang dibawakan dengan ikhlas

semata-mata untuk mencapai ridlo Allah SWT. Dalam kesempatan berbahagia

saat ini, setelah hampir mencapai akhir perjalanan keilmuan yang panjang, ijinkan

kami menyampaikan rasa hormat dan terima kasih tak terhingga kepada :

1. Bapak Prof. DR. H Abdul Djamil, MA., selaku Rektor IAIN Walisongo

Semarang, sekaligus Pembimbing Tesis, yang telah mengubah semua yang

tampak sulit bagi kami menjadi mudah dan menyenangkan, melalui

kesabaran dan wisdomnya.

2. Bapak DR. Achmad Gunaryo, M. SocSC, selaku Direktur PPS IAIN

Walisongo Semarang, dan Bapak Drs. Darori Amin, MA., selaku Asisten

Direktur, yang tak bosan mendorong kami untuk tekun menyelesaikan

Tesis ini.

7

3. Prof.

DR.

HM.

Amin

Syukur,

MA,

selaku

Ketua

Konsentrasi

Etika/Tasawuf, yang lebih sering bertindak sebagai sahabat saat memberi

pemahaman tentang etika dan tasawuf.

4. Kepala BIKK (Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan) dan Kepala

BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Provinsi Jawa Tengah, beserta staf

terkait, yang telah memberikan kesempatan ijin belajar meski ilmu yang

tidak berkaitan langsung dengan dunia kerja.

5. Prof. H. Abdurrahman Mas’ud, Ph. D., selaku Direktur Pasca saat kami

diterima sebagai mahasiswa pada 2003/2004 dan sahabat yang setia hingga

saat ini. Berkat keterbukaan tanpa kehilangan ketegasan, keberanian tanpa

terjebak

pada

kesombongan,

telah

memberi

kesempatan

kami

untuk

menimba ilmu di IAIN Walisongo Semarang.

 

6. Seluruh

Staf

Pascasarjana

IAIN

Walisongo

Semarang,

yaitu

mas

Gunawan, mas Umar FA, mas Adi, dan lain-lain, yang selalu menyapa dan

siap memberi bantuan berharga kepada kami.

7. Bapak DR H Hidayat Nurwahid, Bapak Ir. Tifatul Sembiring, Bapak

Muhammad

Haris,

SS.,

mas

Imam

Nuraziz,

MSc.,

dan

semua

staf

sekretariat PKS, baik di Jakarta (Pusat) maupun di Semarang (DPW

Jateng), yang dengan sabar di tengah kesibukan berjihad fii sabilillah,

masih sempat tersenyum penuh minat membantu kami.

8. Istri tercinta Dra Anggraeni Eka Purnamasari yang selalu bersahaja, anak-

anakku Amila

Hasya

Millatina,

Faris

akbar

Faikar

dan

Taaj Alima

8

Mujahidda,

yang

tanpa

protes

telah

kebersamaannya dengan Ayahnya.

mengorbankan

banyak

waktu

9. Sahabat-sahabat yang tergabung dalam eLSEMM (Lembaga Studi Etika

Media dan Masyarakat) Indonesia, sebuah lembaga studi yang digagas di

lingkungan PPS Walisongo Semarang pada awal tahun 2005, di tengah

kegelisahan intelektual dan moral sebagai respon atas situasi krisis saat itu,

yang dalam tahun 2007 ini menapak perjalanan baru sebagai “bendera

berkibar yang telah memiliki tiang”.

10. Om Moch Marjuki, M.Ag dan om Muamar Ramadhan, M.Ag., yang

selama ini iklas memberikan bantuan apapun yang kami butuhkan bagi

terselesaikannya Tesis ini.

Semoga amal baik mereka diterima Allah SWT, amin.

Dengan berbagai kelemahan dan kekurangannya, kami berharap Tesis ini

dapat memberikan manfaat bagi siapa saja yang berkenan membacanya. Sudah

tentu, kami juga berharap munculnya kritik yang memacu minat terhadap kajian

pengembangan

bernegara.

pemikiran

dan

penelitian

2007

yang

lebih

baik

mengenai

etika

Semarang, 30 Juli

Penulis

9

PERSEMBAHAN

Karya tulis ini, saya persembahkan kepada:

Istriku tercinta Dra. Anggraeni Eka Purnamasari dan anak-anakku Amila Hasya Millatina, Faris akbar Faikar dan Taaj Alima Mujahidda. Berkat pengertian, kesabaran dan keikhlasannya studi ini bisa terselesaikan dengan baik sebagaimana yang diharapkan.

10

C. MOTTO

D.

E.

ﺔَِ ﺤَﻠْﺼَﻤْﻟﺎِﺑ طٌْ ﻮُﻨَﻣ ﺔﱠِ ﻴِﻋﱠﺮﻟا ﻰَﻠَﻋ مﺎَِ ﻣِﻻْا فﱡُ ﺮَﺼَﺗ

“Kebijakan pemimpin harus didasarkan pada kemaslahatan rakyat”

ﺎﻴﻧﺪﻟا ﻰﻓ ﻰﺠﻨﻤﻟا ﻖﻳﺮﻃ ﻰﻟا يﺪﻬﻳ ﻲه ﺔﺳﺎﻴﺴﻟا ةﺮﺧﻻاو

”Politik adalah menunjukkan kepada jalan keselamatan di dunia dan akhirat”

11

PEDOMAN TRANSLITERASI

Huruf Arab

Huruf Latin

Huruf Arab

Huruf Latin

ا

A

 

ط Th

ب

B

 

ظ Dh

ت

T

 

ع ،

ث

Ts

 

غ G

ج

J

 

ف F

ح

H

 

ق Q

خ

Kh

 

ك K

د

D

 

ل L

ذ

Dz

 

م M

ر

R

 

ن N

ز

Z

 

و W

س

S

 

ه H

ش

Sy

 

ء '

ص

Sh

 

ي Y

ض

Dl

 

ة H

â = a panjang

î = i panjang

û = u panjang

12

DAFTAR SINGKATAN

PK

: Partai Keadilan

PKS

: Partai Keadilan Sejahtera

DPP

: Dewan Pengurus Pusat

MPP

: Majelis Pertimbangan Partai

DPR

: Dewan Perwakilan Rakyat

DPRD

: Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

MPR

: Majelis Perwakilan Rakyat

AD/ART

: Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga

FKS

: Fraksi Keadilan Sejahtera

Mukernas

: Musyawarah Kerja Nasional

Pemilu

: Pemilihan Umum

Pilpres

: Pemilihan Presiden

KPU

: Komisi Pemilihan Umum

KPUD

: Komisi Pemilihan Umum Daerah

Capres

: Calon Presiden

Cawapres

: Calon Wakil Presiden

KKN

: Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

PNS

: Pegawai Negeri Sipil

TNI

: Tentara Nasional Indonesia

Polri

: Polisi Republik Indonesia

NKRI

: Negara Kesatuan Republik Indonesia

LIPI

: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

M

: Masehi

H

: Hijriah

UUD

: Undang-Undang Dasar

UU

: Undang-Undang

IAIN

: Institut Agama Islam Negeri

UGM

: Universitas Gayah Mada

UI

: Universitas Indonesia

13

HR

: Hadist Riwayat

14

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………

i

NOTA PEMBIMBING ………………………………………………………. ii

PENGESAHAN ………………………………………………

… iii

DEKLARASI …………………………………………………………………. iv

ABSTRAK …

……………………………………………………………….

v

KATA PENGANTAR ………………………………………………………

vi

PERSEMBAHAN ……………………………………………

ix

MOTTO ………………………………………………………………………

x

PEDOMAN TRASLITERASI

xi

DAFTAR SINGKATAN …………………………………………………

xii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………

BAB I: PENDAHULUAN

xiii

…………………………………….……………… 1

A. Latar Belakang Masalah ………………………………….………

1

B. Rumusan Masalah ……………………………………….………… 8

C. Tujuan Penelitian ……………………………………….….………. 8

15

E. Tinjauan Pustaka ………………………………………….….……

10

F. Metode Penelitian ………………………………………….….……14

G. Sistematika Penulisan ………………………………………….…

17

BAB II: TELAAH TENTANG ETIKA BERNEGARA ……………………. 19

A. Pengertian Etika Bernegara

19

1.

Pengertian Etika

19

2. Aliran-aliran Etika

22

3.

Pengertian Negara dan Bernegara

25

B. Perkembangan Pemikiran Tentang Etika bernegara

29

C. Etika Bernegara dalam Konsep Islam

36

BAB III: PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

A. Latar Belakang Sejarah

56

B. Prinsip Dasar Partai Keadilan Sejahtera

65

56

16

C. Struktur Organisasi

67

D. Program Kerja

73

BAB IV: ANALISIS KONSEP ETIKA BERNEGARA MENURUT PKS

78

A. Konsep Etika Kepala Negara

78

B. Konsep Etika Pegawai Negeri

86

C. Konsep Etika Warga Negara

89

BAB V: APLIKASI ETIKA BERNEGARA PKS

92

A. Alikasi Konsep Etika Kepala Negara

93

B. Aplikasi Konsep Etika Pegawai Negeri

96

C. Aplikasi Konsep Etika Warga Negara

99

BAB VI: PENUTUP

103

A. Kesimpulan

17

B. Saran

104

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sejak reformasi digulirkan pada tahun 1998, Indonesia berada

dalam proses rumit mewujudkan negara yang demokratis. Proses ini

kemudian disebut oleh hampir semua kalangan sebagai era transisi.

Namun kapan persisnya era transisi dimulai, sempat menjadi perdebatan,

apakah ketika BJ Habibi menggantikan Suharto sebagai Presiden RI ketiga

ataukah saat Abdurrahman Wahid terpilih sebagai presiden dalam SU MPR

Oktober 1999 ? Ulasan cukup memadai mengenai perdebatan ini diantaranya

disusun oleh Munafrizal Manan (2005: 1-2).

Istilah Reformasi itu sendiri menjadi sangat populer dan dimaknai

secara berbeda-beda oleh setiap orang. Salah satu artinya diberikan oleh Sri

Mulyani

Indrawati

(2000,

“Kapitalisme

Glogal

dan

Krisis

Kepercayaan

terhadap Rezim Soeharto”, dalam Hidayat, dkk., “Pers Dalam Revolusi Mei,

Runtuhnya Sebuah Hegemoni”, Jakarta: Gramedia, 15), yakni perubahan

secara perlahan-lahan dan bertahap dan melalui proses yang bisa dikendalikan

untuk memperbaiki suatu kondisi.

Dibandingkan dengan negara lain yang juga pernah mengalami

transisi ke demokrasi, menurut Denny JA (2005, “Di Simpang Jalan

Transisi

Demokrasi”,

dalam

Manan,

Gerakan

Rakyat

Melawan

Elite”,

Jakarta: Resist Book, v-x), Indonesia kini sedang berada di simpang jalan

dengan tiga pilihan. Pertama, jalan menuju demokrasi terkonsolidasi

19

dan damai; kedua, jalan berputar arah dan kembali ke sistem lama; dan

ketiga jalan tak tentu arah dengan konflik berdarah-darah.

Jalan

mana

yang

hendak

dituju,

menurut

Denny

sangat

tergantung

pada

bagaimana

menjawab

tiga

tantangan

negara

demokrasi baru. Pertama, paradoks demokrasi yang ditandai dengan

kebebasan

politik

dan

konflik;

kedua,

absennya

pemerintah

akibat

sentimen kuat anti atas kontrol pemerintah; dan ketiga, kurangnya

komitmen para pemimpin yang sudah terpilih secara demokratis.

Jika

mencermati

perkembangan

kehidupan

berbangsa

dan

bernegara di Indonesia, sejauh ini ketiga tantangan tersebut memang

merupakan realitas yang sedang dihadapi. Sebagai sebuah dinamika

yang masih berproses, kemampuan bangsa dalam menjawab tantangan

ini juga belum tuntas teruji. Meskipun demikian, jalan mana yang akan

dituju secara political do, sudah pasti, yaitu pilihan menuju demokrasi

terkonsolidasi dan damai. Oleh karena itu pilihan kedua dan ketiga

tampaknya kecil kemungkinannya bisa terjadi 1 .

Buah utama reformasi yang nyata adalah liberalisasi politik,

yang

ditandai

oleh

kebebasan

pers,

kebebasan

kebebasan

berorganisasi.

Euforia

kebebasan

ini,

berekspresi

dan

menghantarkan

bangsa Indonesia dalam sebuah situasi fenomenal yang tidak terjadi di

masa Orba.

1 Penilaian ini berangkat dari realitas bahwa berbagai perubahan fundamental telah berlangsung dengan social and political cost yang sangat tinggi. Hal ini disadari oleh mayoritas elite politik yang saat ini mengendalikan kekuasaan. Mereka juga sangat sensitif terhadap berbagai upaya “kembalinya sistem lama” yang sering dituduhkan dipresentasikan secara sporadis oleh mantan-mantan tokoh Orba yang masih gigih mengincar kekuasaan.

20

Di tingkat infrastruktur, terjadi pembaruan berbagai undang-

undang khususnya menyangkut kehidupan politik (sistem multipartai

dan

pemilu

langsung).

Di

tingkat

suprastrutur,

lembaga-lembaga

negara mengalami pembenahan yang mendasar.

Pada waktu yang bersamaan terjadi situasi anomi (keterasingan

atau

ketakjelasan

standar

perilaku)

yang

turut

melatarbelakangi

berbagai

kasus

konflik

horizontal,

yang

beberapa

diantaranya

menimbulkan kerugian harta benda dan korban jiwa yang tak terhitung

jumlahnya. Dalam situasi seperti ini, bangsa Indonesia seolah-olah

kehilangan arah dengan konflik yang berdarah-darah.

Ketika

memperingati

momentum

sewindu

reformasi,

sekitar

Mei 2006, kalangan media massa di Indonesia memberikan evaluasi

kritisnya atas perkembangan reformasi. Salah satu diantaranya menilai

bahwa

era

transisi

di

Indonesia

tidak

pernah

berakhir.

Meskipun

berbagai pembaruan aturan hukum dasar dan hukum lainnya telah

dilakukan, tetapi pelaksanaannya masih jauh dari harapan. Berbagai

peristiwa sosial dan politik mewarnai masa transisi ini, dari konflik

antarwarga (misalnya di Ambon, Poso, dan Sumpit), antara pusat dan

daerah (persoalan sekitar implementasi desentralisasi atau otonomi

daerah) hingga benturan antarlembaga pemerintah sendiri (Kompas, 1

Mei 2006).

Masa

transisi

dan

krisis

multi

dimensi

juga

menyebabkan

kemerosotan

kesejahteraan

rakyat

dengan

meningkatnya

angka

21

kemiskinan yang pada umumnya ditandai oleh meluasnya gizi buruk

dan kelaparan 2 . Di sisi lain KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme)

masih merajalela 3 . Sementara bencana alam di berbagai daerah silih

berganti mendera rakyat. Realitas ini semakin diperparah oleh kondisi

ekonomi

yang

belum

(pemutusan

hubungan

pengangguran 4 .

membaik,

kerja)

yang

dengan

banyaknya

kasus

PHK

semakin

meningkatkan

jumlah

Di panggung politik, para elite politik di berbagai tingkatan

diindikasikan kurang memiliki kepedulian terhadap kesulitan rakyat.

Sementara

sebagian

rakyat

terjebak

kesulitan

hidup

yang

kronis,

mereka --misalnya-- malah tanpa malu-malu berusaha menaikkan gaji

dan tunjangannya yang –sudah pasti-- berasal dari pajak rakyat 5 .

2 Dalam laporan Unicef 2006 disebutkan bahwa sebanyak 2,6 juta anak usia balita di Indonesia mengalami gizi buruk. Penyebab utamanya adalah kemiskinan. Menurut World Bank, dengan ukuran batas kemiskinan US$ 2 per hari, dalam tahun 2005 orang miskin di Indonesia mencapai 110 juta jiwa. Namun menurut BPS –dengan kriteria batas kemiskinannya yang berbeda—menyebut angka kemiskinan mencapai hanya 17,75% (maret 2006) atau lebih dari 35 juta jiwa, lebih tinggi dari data Pebruari 2005 yang mencapai 15,97%. Akurasi data kemiskinan sempat menjadi polemik di media massa setelah pidato presiden pada Agustus 2006 menyinggung masalah kemiskinan yang diklaim mengalami penurunan. Oleh berbagai kalangan meningkatnya kemiskinan di Indonesia diantaranya dipicu oleh kebijakan kenaikan harga BBM 1 Oktober 2005.

3 Meskipun KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) telah bekerja keras, namun hasilnya belum maksimal. Menurut Transparency International (TI), dalam laporannya yang dirilis September 2006, IPK (Indeks Persepsi Korupsi) Indonesia adalah 2,4. Sedikit mengalami kenaikan dari IPK 2005 (2,2). IPK 2006 memosisikan Indonesia di urutan 130 dari 163 negara yang disurvey. Di lingkup ASEAN, Indonesia masih lebih baik daripada Kamboja (2,1) dan Myanmar (1,9), namun jauh dibandingkan dengan Singapura (9,4) yang merupakan negara terbersih, (Skh Republika, 7 September 2006).

4 Menurut Bappenas, pengangguran terbuka tahun 2006 diprediksi 9,64 juta orang, sedangkan LIPI memprediksi 12,151 juta. Lihat Budiyanto EP, Problem Jateng dalam perspektif ICMI, Skh.Wawasan, 26 Mei 2006.

5 Kasus paling mutakhir adalah pemberlakuan Peraturan Pemerintah (PP) No 37 Th 2006 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD, yang memicu kontroversi luas. Inilah diantaranya yang menguatkan penilaian bahwa elite politik di Indonesia lebih suka mempermainkan aturan (game of the rule) daripada menentukan aturan main (rule of the game).

22

Fenomena inilah yang melatarbelakangi munculnya pernyataan

Frans Magnis Suseno bahwa bangsa ini tinggal tunggu waktu masuk

ke

jurang,

dan

fatwa

Syafi’i

Ma’arif

yang

menyatakan

bahwa

kerusakan moral politik kita sudah sempurna (Anasom, peny., 2004:3).

Mempertegas carut marut dunia politik di Indonesia, Masykuri

Abdillah ketika diwawancarai Kompas (27 Januari 2007) berpendapat

bahwa orientasi elite politik Indonesia saat ini lebih dominan kepada

kekuasaan atau how to get a power, daripada how to use the power

untuk

kesejahteraan

rakyat.

Hal

ini

disebabkan

oleh

rendahnya

kualitas etika politik para politisi dan pemegang kekuasaan.

Dengan demikian tampak bahwa ternyata salah satu sumber

fundamental

munculnya

berbagai

masalah

Indonesia

dewasa

ini

adalah

kemerosotan

yang

dihadapi

bangsa

moral politik

atau

etika

politik, khususnya di kalangan elite politik.

Moral dan etika secara etimologis bermakna sama 6 , yakni berkaitan

dengan persoalan benar-salah dan baik-buruk perbuatan manusia. Sedangkan

etika politik secara singkat bisa diartikan sebagai etika mengenai dimensi

politis

kehidupan

manusia

(Tafsir,

dkk.,

2002:

11-25),

yakni

dimensi

kehidupan dalam perspektif negara (bernegara).

 
 

Namun

etika

politik

kadang-kadang

dimaknai

secara

sangat

teknis dan parsial, sesuai pemaknaan teknis istilah politik itu sendiri

(misalnya

adanya

penggunaan

istilah

“politik

ekonomi”,

“politik

6 Jika harus dicari perbedaannya, Amin Abdullah (2002: 15) mengatakan moral lebih condong kepada pengertian “nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusi itu sendiri”, sedangkan etika berarti “ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk”.

23

pendidikan”, politik hukum”, dan sebagainya) . Oleh karena itu, etika

politik dalam pemahaman yang benar, sebagaimana pengertian politik

secara ilmiah 7 , bisa dimaknai identik dengan etika bernegara. Bahkan

penggunaan

istilah

etika

bernegara

ini

sesungguhnya

lebih

tegas

karena

tidak

memberikan

ruang

bagi

interpretasi

lain

di

luar

pengertian “bernegara”.

 

Menurut Abdul

Djamil,

etika

bernegara

meliputi

etika

bagi

kepala negara, pejabat negara, militer dan warga negara. Tiga macam

etika bagi ketiga kelompok manusia dalam bernegara ini diduga kuat

dapat menjadi pedoman dalam mengurangi krisis multi dimensi yang

dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini (Anasom, 2004: vii, 4-5).

Oleh

karena

itu

agar

Indonesia

mampu

bangkit

dari

keterpurukan

akibat

krisis

multi

dimensi,

maka

etika

bernegara

kemungkinan dapat menjadi acuan dan pedoman bagi para elite politik

–khususnya dari kalangan partai politik 8 --dalam mengelola kekuasaan

untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Dalam

perspektif

inilah,

Partai

Keadilan

Sejahtera

(PKS) 9

mungkin menarik untuk dikaji. Selama kiprahnya dalam pemilu 1999

(semasih bernama PK) dan pemilu 2004,

PKS dikenal sebagai Partai

7 Misalnya yang diberikan oleh Prof.Miriam Budiardjo (1992: 8), yakni “politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistim politik (atau negara)….”.

8 Dalam sistem politik Indonesia, partai politik merupakan satu-satunya sumber yang memasok pemimpin politik, baik di lingkup nasional maupun daerah (provinsi dan kabupaten/kota). Lihat Bab II Pasal 5 UU 23/2003 tentang Pemilu Presiden dan Wapres, dan Bagian Kedelapan Pasal 2 UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

9 Didirikan di Jakarta pada 20 April 2002, merupakan hasil penggabungan antara PK (Partai Keadilan) pimpinan Hidayat Nur Wahid dengan PKS pimpinan Almuzzamil Yusuf. (Sali Susiana, Peny., 2003: 62-75).

24

Islam

yang

bersahaja,

kecil

tapi

kenyal,

memiliki

kader

sehingga

mampu

menimbulkan

rasa

yang

santun

hormat

baik

dan

di

lingkungan politisi maupun masyarakat luas (Djohermansyah Djohan,

2003: 89-95).

Dalam Pemilu 1999, PK memperoleh suara 1.436.563 (1,36%) atau 7

kursi di DPR RI. Karena tidak lolos electorial threshold 2%, PK bersiasah

menggabungkan diri dengan PKS untuk bisa ikut Pemilu 2004. Dalam Pemilu

2004, PKS berhasil memperoleh suara 8.325.020 (7,34 %) atau 45 kursi di

DPR RI dan tampil sebagai 7 besar parpol dari 24 parpol kontestan Pemilu

2004 (Lili Romli, 2004: 4).

Beberapa

kalangan

menilai

keberhasilan

PKS

disebabkan

diantaranya oleh ketepatan para kader partai dalam

memanfaatkan

peluang dan momen strategis untuk merebut perhatian dan hati rakyat

dalam perspektif pencitraan partai. Tim Peneliti dari Pusat Penelitian

Politik

LIPI,

dalam

lembaran

penutup

buku

“Evaluasi

Pemilihan

Umum

2004:

Analisis

Proses

dan

Hasil

Pemilu

Legislatif”,

mengomentari

keberhasilan

PKS

dalam

Pemilu

2004

dengan

mengatakan “PKS memperoleh dukungan suara karena faktor kerja

keras

yang

dilakukannya

selama

ini

dengan

keberpihakan

kepada

rakyat, bersikap jujur, bersih dan peduli”(Lili Romli, 2004: 234).

Dengan latar belakang pemikiran di atas, penulis tertarik untuk

mengkaji

secara

mendalam

bagaimanakah

bernegara dalam perspektif PKS.

sesungguhnya

etika

25

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah konsep Etika Bernegara menurut PKS ?

2. Sejauh

mana

aplikasi

konsep

Etika

Bernegara

PKS

khususnya

menyangkut etika kepala negara, etika pegawai negeri, dan etika

warga negara ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian

ini

bertujuan

mengkaji

pemikiran-pemikiran

yang

berkaitan

dengan

etika

bernegara

secara

umum.

Secara

khusus

pengkajian difokuskan terhadap konsep etika bernegara di lingkungan

Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan aplikasi konsep ini khususnya

menyangkut etika kepala negara, etika pegawai negeri dan etika warga

negara.

Pengkajian dilakukan secara ilmiah dan empiris. Sebagaimana

dikatakan

Sutrisno Hadi,

bahwa ilmu

pengetahuan

yang tepat dan

mantap berdasarkan atas segala sesuatu yang dapat dialami sendiri,

dihimpun,

direnungkan,

diolah

(Sutrisno Hadi, 1997: 33).

dan

pada

akhirnya

disimpulkan

Oleh karena itu, tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai

berikut :

1. Mengkaji berbagai corak pemikiran mengenai etika bernegara.

26

3. Mengkaji dan mengungkap sejauh mana aplikasi etika bernegara

PKS khususnya menyangkut etika kepala negara, etika pegawai

negeri dan etika warga negara.

D. Kegunaan Penelitian

Dari sejak perencanaan, proses dan penyusunan hasil kegiatan

penelitian ini, diharapkan secara relatif memberikan manfaat, yaitu :

1. Kegiatan

dan

penyusunan

hasil

penelitian

ini

diharapkan

mendatangkan

manfaat

bagi

penulis

dalam

perspektif

pengembangan

diri

dan

pengembangan

kemampuan

akademik,

disamping hasilnya untuk memenuhi persyaratan tahap akhir proses

menyelesaikan

studi

di

Program

Pascasarjana

IAIN

Walisongo

Semarang.

2. Hasil penelitian ini dapat mendorong pemahaman yang lebih baik

bagi semua pihak mengenai hakekat dan betapa strategisnya etika

bernegara khususnya dalam konteks mengatasi krisis multi dimensi

di Indonesia.

3. Hasil

penelitian

ini

bisa

dijadikan

sebagai

bahan

pengkayaan

informasi dan ilmu pengetahuan tentang etika bernegara dan bisa

dijadikan sebagai salah satu pijakan dalam menilai perilaku/sikap

masyarakat,

khususnya

kalangan

politisi,

dalam

konteks

etika

bernegara.

27

E. Tinjauan Pustaka

Keberadaan etika bernegara –baik secara eksplisit maupun implisit--

sesungguhnya sudah dimulai ketika kehidupan sosial menunjukkan implikasi

adanya kesatuan geografis, keteraturan dan ketertiban. Namun pengkajian

secara konseptual mendasar baru diketahui dimulai pada zaman Yunani Kuno.

Filosof Yunani

Kuno

yang

membukukan

buah

pikirannya

--yang

sangat dipengaruhi gurunya, Socrates (469-399)-- adalah Plato (429-347).

Bukunya berjudul Politea (Republik) dan Nomoi (kitab hukum). Diikuti

kemudian

oleh

Aristoteles

(384-322),

murid

Plato.

Tradisi

kajian

etika

bernegara

kemudian

dilanjutkan

baik

oleh

pemikir-pemikir

dunia

Barat

maupun dunia Islam.

Sejauh yang penulis ketahui, kajian berbentuk penelitian mengenai

etika --dan khususnya etika bernegara-- di Indonesia masih tergolong langka.

Pusat Pengkajian Islam dan Budaya Jawa (PP-IBJ) IAIN Walisongo Semarang

pernah mengadakan penelitian yang kemudian hasilnya diterbitkan dalam

sebuah buku berjudul membangun Negara Bermoral, Etika Bernegara dalam

Naskah Klasik Jawa-Islam (2004). Buku ini mengulas dan merumuskan

implikasi

etika

bernegara

dalam

naskah-naskah

klasik

Jawa-Islam,

yang

merupakan cermin kearifan lokal tentang bagaimana pemimpin mengurus

negara dan mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Kemudian kitab-kitab Imam Al Ghazali (1058-1111) misalnya Al Tibr

al Masbuk fi Nasaih al Muluk, dikaji sebagai tesis di IAIN Walisongo

Semarang oleh Zaenul Arifin tahun 2000 dengan judul Etika Politik dalam

28

perspektif Al Ghazali. Kajian pemikiran ini berlatarbelakang kondisi sosial

politik

abad

11,

yang

tentu

jauh

berbeda

dengan

kondisi

dewasa

ini.

Sebagaimana

telah

diungkapkan

dalam

latar

belakang

penelitian,

etika

bernegara dimaknai sama dengan etika politik.

Tesis Zainul kemudian menjadi salah satu bagian dari isi buku berjudul

Moralitas Al Quran dan Tantangan Modernitas (2002). Bagian lain dari isi

buku ini adalah juga menyangkut tentang etika politik, yakni yang bersumber

dari Al Quran, pemikiran Fazlur Rahman dan Ismail Raji Al Faruqi.

Sedangkan

penelitian

di

bidang

Etika

dilakukan

oleh

M

Amin

Abdullah untuk desertasinya di Middle East Technical University (METU),

Ankara, Turki, pada tahun 1990. Desertasi ini diterbitkan sebagai buku untuk

pertama kalinya pada tahun 1992 di Turki. Dan diterbitkan di Indonesia pada

tahun 2002, dengan judul Antara Al Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam.

Sebagaimana tercermin dari judulnya, Amin Abdullah membandingkan

antara filsafat etika Immanuel Kant yang pendekatannya lebih rasional dan

analitis (ilmiah) dan filsafat Islam Imam Al Ghazali yang pendekatannya lebih

dogmatis.

Suparman Syukur meneliti mengenai etika religius Abu Hasan al

Mawardi dalam kitabnya Adab al-Dunya wa al-Din. Hasil penelitiannya ini

kemudian diterbitkan sebagai buku dengan judul Etika Religius, pada tahun

2004.

Adapun mengenai PKS itu sendiri, terdapat beberapa penelitian. Aay

Muhammad

Furkon

menerbitkan

tesisnya

dengan judul Partai

Keadilan

29

Sejahtera,

Ideologi

dan

Praksis

Politik

Kaum

Muda

Muslim

Indonesia

Kontemporer (2004). Tesis ini meneliti tentang pemikiran Hasan Al Banna,

proses transmisi pemikiran itu ke Indonesia dan bagaimana pengaruhnya

terhadap gerakan politik Islam di Indonesia.

Tesis lain yang disusun berdasarkan penelitian tentang PKS dilakukan

oleh

Nashir

Fahmi,

yang

kemudian

diterbitkan

dengan

judul

buku

Menegakkan Syariat Islam Ala PKS (2006). Tesis ini membahas tentang

bagaimana PKS memahami penerapan syariat Islam

yang kaffah di satu sisi,

dan realitas demokrasi di sisi lain. Oleh sifat syariat Islam yang fleksible,

inklusif, adaptable dan responsible, menurut Nashir, pengamalan syariat Islam

dan demokrasi tidak bertentangan, bahkan bisa saling mendukung. Untuk itu

dibutuhkan kontribusi para mujtahid dalam menemukan teori baru menjaga

eksistensi hukum Islam sesuai perkembangan zaman.

Berikutnya

adalah

penelitian Ali

Said

Damanik

yang

diterbitkan

dengan judul buku Fenomena Partai Keadilan (2003). Penelitian ini menguak

secara sosiologis transformasi selama 20 tahun dari gerakan tarbiyah di

Indonesia. Penelitian untuk penyusunan skripsi ini mengambil setting PK

sebagai bentuk awal sebelum bergabung dan berubah menjadi PKS. Dengan

setting yang sama dan juga untuk kepentingan penyusunan skripsi, Istiqomah

dari Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo meneliti tentang PKS dengan judul

Studi Analisis terhadap Pemikiran dan Perilaku Politik Partai Keadilan

(1998-2001).

30

Terakhir adalah hasil penelitian individual yang dilakukan oleh Ahwan

Fanani, M.Ag., dosen Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang pada

tahun

2005.

Judul

penelitian

ini

adalah

Sikap

Aktivis

Partai

Keadilan

Sejahtera Semarang terhadap Kebangsaan, Demokrasi dan Budaya Lokal.

Dari

penelitian

ini

disimpulkan

bahwa

sebagai

partai

revivalis

dan

fundamentalis,

PKS

berorientasi

pada

perbaikan

sosial

secara

evolutif.

Kebangsaan, demokrasi dan budaya lokal selalu dicoba dipandang melalui

frame agama. Kebangsaan diterima sepanjang sesuai dengan Islam, demokrasi

adalah sarana dan harus sesuai dengan syura, dan budaya lokal diukur dengan

parameter syariat.

Dengan mencermati pembahasan beberapa hasil penelitian tentang

etika, etika politik dan tentang PKS sebagaimana tersebut di atas, tampak

bahwa pembahasan mengenai etika bernegara dalam perspektif PKS belum

pernah dilakukan.

F. Metode Penelitian

1. Metode Pengumpulan Data

a.

Observasi

Metode observasi adalah metode pengamatan dan pencatatan

dengan

sistematik

atas

fenomena-fenomena

yang

diselidiki

(Sutrisno Hadi, 1997: 135), sehingga dapat diketahui kondisi

yang terjadi di lapangan sebagaimana adanya.

31

Observasi

dilakukan

dengan

cara

mengamati

dan

mencatat

situasi lingkungan, sikap dan perilaku dari pengurus dan kader

PKS, baik di lingkup nasional maupun Jawa Tengah, melalui

kunjungan ke sekretariat DPP Pusat dan atau DPW PKS Jawa

Tengah, sekretariat Fraksi PKS DPR RI dan atau DPRD Jawa

Tengah,

serta

jika

memungkinkan

diselenggarakan PKS.

ke

lokasi

kegiatan

yang

Observasi awal dalam rangka penyusunan proposal tesis telah

dilakukan beberapa waktu hingga disetujuinya judul tesis dalam

bulan Januari 2007, dan akan terus dilakukan hingga saat-saat

akhir penyelesaian penyusunan tesis.

b.

Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data

primer

maupun

sekunder

dengan

meneliti

berbagai

macam

bentuk

dokumentasi.

Dalam

penelitian

ini,

data

primer

diperoleh

dari

semua

bentuk

dokumen

tertulis

yang

resmi

dikeluarkan

oleh

organisasi

PKS.

Bentuk

dokumen

tertulis

misalnya Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART)

PKS, Program Kerja PKS, Profil Kader PKS, dan lain-lain.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari semua bentuk dokumen

yang

berkaitan

dengan

permasalahan

penelitian

ini.

Bentuk

dokumen

tersebut

misalnya

buku

karya

Kamarudin

berjudul

“Ada

Apa

dengan

PKS,

Catatan

dari

warga

Universitas

32

Indonesia”,

karya

Aay

Muhamad

Furkon

“Partai

Keadilan

Sejahtera, Ideologi dan Praksis Politik Kaum Muda Muslim

Indonesia

Kontemporer”,

karya

Nashir

Fahmi

“Menegakkan

Syariat Islam Ala PKS”, buku-buku mengenai etika, buku-buku

mengenai negara/politik, suratkabar, majalah dan lain-lain.

c.

Wawancara

Untuk

melengkapi

data

penelitian

berupa

keterangan

lisan,

masih

dibutuhkan

metode

wawancara/interview.

Dalam

penelitian ini,

data berupa keterangan diperoleh dari subyek

penelitian yang berasal dari lingkungan internal organisasi PKS

dan

lingkungan

eksternal.

Untuk

lingkungan

internal

adalah

pengurus

PKS

dengan

mempertimbangkan

kapasitas

dan

kedudukannya

dalam

organisasi

PKS,

sehingga

representatif

mewakili

organisasinya.

Sedangkan

subyek

penelitian

dari

lingkungan

eksternal

(non

PKS)

adalah

pihak-pihak

yang

memiliki kapasitas dan kedudukan dalam sebuah lembaga yang

berkaitan

secara

langsung

maupun

tidak

langsung

dengan

permasalahan

yang

diteliti.

Wawancara

dilaksanakan

dalam

bulan Mei 2007 yang diupayakan seoptimal mungkin dengan

cara tatap muka (face to face communication), dan atau melalui

telepon/e-mail.

33

2. Metode Analisis Data

Metode analisis data dalam penelitian ini adalah deskriptif, yaitu

teknik menguraikan, menggambarkan dan menafsirkan data-data

yang diperoleh. Disamping itu juga digunakan metode analisis isi

atau

content

analysis

(Sumadi

Suryabrata,

1988)

yaitu

proses

analisis terhadap makna dan kandungan teks-teks dan pernyataan

yang berkaitan dengan PKS. Sedangkan pola pikir yang digunakan

adalah pola pikir reflektif, yaitu berpikir dalam proses mondar-

mandir

secara

sangat

cepat

antara

induksi

dan

deduksi,

antara

abstraksi

dan

penyajian

(Noeng

Muhadjir,

1988:

94).

Dengan

demikian, dari proses analisis ini diharapkan mampu memberikan

gambaran

obyektif

etika

bernegara

Keadilan Sejahtera (PKS).

G. Sistematika Penulisan

dalam

perspektif

Partai

Penulisan Tesis ini terdiri dari 6 (enam) bab dengan sistematika

sebagai berikut:

 

Bagian

pertama

adalah

pendahuluan

sebagai

BAB

I,

yang

terdiri

dari:

latar

belakang

masalah,

rumusan

masalah,

tujuan

penelitian, kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian

dan sistematika penulisan.

yang

bersifat

berikutnya.

global,

Secara umum, setiap sub-bab berisi uraian

sebagai

pengantar

memahami

bab-bab

34

Bagian

kedua

merupakan

kerangka

teori

dengan

judul

etika

bernegara sebagai BAB II. Kerangka teori ini, terdiri dari: pengertian

etika

bernegara,

perkembangan

pemikiran

etika

bernegara,

dan

etika

bernegara dalam konsep Islam. Kerangka teori ini merupakan landasan

berfikir

sekaligus

sebagai

alat

analisis

(tools

of

analysis)

dalam

memaparkan obyek yang diteliti.

 

Pada

bagian

ketiga

menyajikan

data

yang

diperoleh

dari

kegiatan penelitian. Bagian ini dijadikan BAB III dengan judul Partai

Keadilan Sejahtera (PKS). Terdiri dari: latar belakang sejarah, visi

misi dan tujuan, struktur organisasi, dan program kerja.

Pada

bagian

keempat

dipaparkan

analisis

konsep

etika

bernegara menurut PKS sebagai BAB IV.

Bab ini membahas tentang

konsep etika kepala negara, konsep etika pegawai negeri, dan konsep

etika warga negara.

Di

bagian

kelima,

diuraikan

aplikasi

etika

bernegara

PKS

sebagai BAB V, yang terdiri dari aplikasi etika kepala negara, aplikasi

etika pegawai negeri dan aplikasi etika warga negara.

Bagian keenam memuat penutup sebagai BAB VI.

ini disampaikan kesimpulan dan saran.

Di bagian

35

BAB II TELAAH TENTANG ETIKA BERNEGARA

A. Pengertian Etika Bernegara

Dalam memahami pengertian ‘etika bernegara’, perlu dijelaskan lebih

dahulu pengertian ‘etika’ dan pengertian ‘bernegara’. Untuk memahami lebih

dalam mengenai etika, perlu pula disinggung secara singkat ‘aliran-aliran

pemikiran’ yang terdapat dalam etika. Pada bagian berikutnya akan dijelaskan

pengertian

‘bernegara’ yang

secara

kontekstual

perlu

dibedakan

dengan

pengertian ’negara’. Berdasarkan hasil telaah terhadap istilah-istilah itu akan

dilakukan telaah konvergensi, yaitu menggabungkan istilah-istilah tersebut

untuk memperoleh pengertian ‘etika bernegara’ secara utuh, sebagaimana

yang dimaksudkan dalam tesis ini.

1. Pengertian Etika

Etika merupakan filsafat 10 moral (Berten, 2004: 3) atau filsafat

tingkah laku (Poedjawijatna, 1997: 13-14) atau filsafat tindakan (Asmoro

Akhmadi, 2001: 12), yang membahas ukuran baik buruknya tingkah laku

manusia, yang diupayakan sejauh mungkin bersifat umum dan oleh karena

itu berlaku untuk semua manusia, bukan hanya sebagian manusia 11 .

10 Secara etimologis, filsafat berasal dari kata Arab falsafah dan kata Yunani philosophia, filosofia atau philosophis. Falsafah berarti pengetahuan tentang asas-asas pikiran dan perilaku (Mahmud Yunus, 1989: 323). Philosophia, yang terdiri dari kata philos (cinta) dan sophia (pengetahuan dan kebijakan atau wisdom/hikmah) berarti “cinta kepada pengetahuan” (Ahmad Hanafi, 1990: 3). Sedangkan filosofia, juga merupakan kata Yunani, diturunkan dari kata kerja filosofein, yang berarti “mencintai kebijaksanaan” (Harun Hadiwijono, 1980: 7). Versi lain, berasal dari kata Yunani philosophis, yang berasal dari kata kerja philein (mencintai), atau philia (cinta), dan sophia (kearifan). Dari kata ini lahir kata Inggris philosophy, yang biasa diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” (Asmoro Achmadi, 2001: 1).

11 Mengenai ukuran yang bersifat dan berlaku umum ini, menurut Rene Descartes –filosuf modernisme abad pertengahan—dipercaya adalah etika yang bersifat rasional, absolut dan

36

Istilah etika sering digunakan secara bersamaan dengan istilah moral

dan akhlak. Meskipun ketiganya berasal dari bahasa yang berbeda, tetapi

memiliki makna yang sama, yaitu adat kebiasaan, perangai dan watak.

Alasdair Mac Intyre menilai sisi universal dari ketiga istilah ini mengarah

pada konsep benar (right), salah (wrong), baik (good) dan buruk (bad)

(Tafsir, dkk., 2000: 11-12).

Secara etimologis, etika berasal dari bahasa Yunani Kuno ethos, atau

bahasa Inggris ethic. Ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti,

yaitu kebiasaan, adat, watak, akhlak, perasaan, sikap dan cara berpikir.

Dalam bentuk jamak (ta etha) berarti adat kebiasaan. Arti inilah yang

melatarbelakangi

terbentuknya

istilah

etika

yang

oleh

filsuf

Yunani

Aristoteles

(384-322

SM)

dipakai

untuk

menunjukkan

filsafat

moral

(Bertens, 2004: 4).

Secara

terminologis,

De Vos

mendefinisikan

etika

sebagai

ilmu

pengetahuan tentang kesusilaan (moral) (De Vos, 1987: 1). Sedangkan

William Lillie mendefinisikannya sebagai the normative science of the

conduct of human being living in societies is a science which judge this

conduct to be right or wrong, to be good or bad (William Lillie, 1957: 1).

Sedangkan ethic, dalam bahasa Inggris berarti system

of moral

principles (A.P Cowie, Ed., 1987:127). Istilah moral itu sendiri berasal dari

bahasa latin mos (jamak: mores), yang berarti juga kebiasaan, adat. Tentang

universal. Sedangkan Bertand Russel menyebut perbuatan etis bersifat rasional, pragmatis atau utiliristik. Namun pada perkembangan kini –disebut era postmodernisme—etika yang berlaku umum ditolak, karena pada dasarnya kebenaran bersifat relatif terhadap waktu, tempat, budaya dan sebagainya (Amin Abdullah, 2002: 17-18).

37

akhlak, sebuah istilah yang berasal dari bahasa Arab, dalam Ensiklopedi

Islam (Cet.4,

Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, 102) disebutkan

sebagai bentuk jamak dari kata al khuluq atau al khulq yang secara

etimologis berarti (1) tabiat, budi pekerti, (2) kebiasaan atau adat, (3)

keperwiraan, kesatriaan, kejantanan, (4) agama, dan (5) kemarahan (al

ghadab).

Meskipun dinilai bermakna sama, namun sesungguhnya dalam posisi

tertentu secara terminologis etika berbeda dengan moral. Menurut M. Amin

Abdullah (2002: 15), moral (akhlaq) lebih condong kepada pengertian

“nilai baik dan buruk dari setiap perbuatan manusia itu sendiri”, sedangkan

etika berarti “ilmu yang mempelajari tentang baik dan buruk” (‘ilm al

Akhlaq).

Dari hasil analisis K Bertens (2004: 6) disimpulkan bahwa etika

memiliki tiga posisi, yaitu sebagai (1) sistem nilai, yakni nilai-nilai dan

norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok

dalam mengatur tingkah lakunya, (2) kode etik, yakni kumpulan asas atau

nilai moral, dan (3) filsafat moral, yakni ilmu tentang yang baik atau buruk.

Dalam tesis ini, etika

sistem nilai.

2. Aliran -Aliran Etika

dipahami dalam posisi yang pertama, yaitu sebagai

Filsafat etika yang berkembang di dunia Barat, pada umumnya

dikelompokkan menjadi tiga aliran, yaitu etika hedonistik, utilitarian dan

38

deontologis (Amin Abdullah, 2002: 15). Hedonisme 12 mengarahkan etika

untuk

menghasilkan

sebanyak

mungkin

kesenangan

bagi

manusia.

Utilitaristik 13 mengoreksinya dengan menambahkan bahwa kesenangan atau

kebahagiaan yang dihasilkan etika yang baik adalah kebahagiaan bagi

sebanyak mungkin orang. Sedangkan deontologis 14 memandang bahwa

sumber bagi perbuatan etis adalah rasa kewajiban.

Menurut Burhanuddin Salam (1997: 67-83), teori-teori etika dapat

digolongkan menjadi dua teori, yaitu deontologis dan teleologis. Etika

deontologis menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik

yang tidak dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat atau tujuan baik dari

tindakan itu, tetapi berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada

dirinya sendiri. Oleh karena itu sebuah tindakan bernilai moral karena

tindakan

itu

deontologis,

dilaksanakan

berdasarkan

kewajiban.

Terdapat

yaitu

deontologis

tindakan

dan

deontologis

(Bertens, 1993: 67-68).

dua

teori

peraturan

Dalam perspektif linear dengan etika deontologis, etika teleologis

justru menitikberatkan pada tujuan atau akibat suatu tindakan. Sehingga

suatu tindakan dinilai baik, apabila bertujuan mencapai sesuatu yang baik

atau menimbulkan akibat yang baik. Sebaliknya, suatu tindakan dinilai

buruk, apabila bertujuan mencapai sesuatu yang buruk atau menimbulkan

12 Berasal dari kata Yunani, hedone, yang berarti kesenangan. Istilah ini mula-mula digunakan oleh Aristipos (sekitar 433-355 sM), seorang murid Socrates, kemudian Epikuros (341- 270 sM) (Bertens, 1993: 235-237).

13 Berasal dari kata Latin, utilitas, yang berarti useful, berguna, berfaedah (Burhanuddin Salam, 1997: 76). 14 Berasal dari kata Yunani, deon, berarti kewajiban (Burhanuddin Salam, 1997: 68).

39

akibat yang buruk 15 . Oleh karena itu, etika ini cenderung merupakan etika

situasional atau etika situasi, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa

bersifat sangat situasional dan karena itu setiap norma dan kewajiban moral

tidak bisa berlaku begitu saja dalam setiap situasi.

Terdapat

dua

aliran

etika

teleologis,

yaitu

egoisme

dan

utilitarianisme. Menurut etika egoisme, suatu perbuatan dinilai baik apabila

memberikan manfaat, kebahagiaan atau kepentingan bagi dirinya sendiri

(‘aku’) di atas kepentingan orang lain. Aliran ini mengalami perkembangan

menjadi egoisme etis dan egoisme psikologis. Dalam egoisme etis, tindakan

apapun

termasuk

mengorbankan

diri

kepentingan

pemuasan

diri

sendiri.

untuk

orang

Sedangkan

lain

adalah

untuk

egoisme

psikologis

berdasarkan pandangan bahwa semua orang selalu dimotivasi oleh tindakan

demi kepentingan dirinya.

Aliran Utilitarianisme (utilisme) menilai bahwa baik-buruk suatu

tindakan ditinjau dari segi kegunaan atau faedah yang didatangkannya.

Terdapat

dua

jenis

utilitarianisme,

yaitu

utilisme

individual,

yang

berorientasi pada keuntungan dirinya, dan utilisme soaial yang beroeientasi

kepada kepentingan orang banyak. Utilisme sosial banyak dipraktikkan oleh

kalangan politisi.

Mengutip pendapat John Stuart Mill (1806-1873) dalam bukunya

Utilitarianism

(1863)

Burhanuddin

Salam

(1997:

77-78)

memaparkan

bahwa

dua

dasar

pemikiran

utiliter

adalah

dasar

normatif

dan

dasar

15 Tujuan dan akibat bisa dibedakan. Tujuan adalah sesuatu yang secara sadar ingin dicapai, sedangkan akibat adalah hal yang dicapai tanpa disengaja setelah melakukan suatu tindakan (Burhanuddin Salam, 1997: 71-72).

40

psikologis. Dasar normatif adalah setiap tindakan harus mengusahakan

kebahagiaan

dan

menghindari

ketidaknyamanan,

sedangkan

dasar

psikologis menyebutkan semua tindakan berorientasi pada keharmonisan

dengan sesama manusia. Secara keseluruhan etika utilitarianism dinilai

positif karena dua hal, yaitu rasionalitasnya yang

memungkinkan akibat

baik yang lebih banyak dan universalitasnya yang memungkinkan akibat

yang dicapai diukur dari banyaknya orang yang memperoleh manfaat.

Terdapat pula aliran etika intuisionisme, universalisme, hedonisme,

eudemonisme, altruisme dan tradisionalisme. Selain intuisionisme, kelima

aliran etika yang lain menilai baik-buruknya tindakan dinilai dari tujuan

perbuatan (Burhanuddin Salam, 1997: 79-83).

Intuisionisme

merupakan

aliran

etika

yang

berpendapat

bahwa

penilaian atas baik-buruk tindakan manusia dapat diketahui dengan cara

intuisi.

Universalisme

menilai

suatu

tindakan

adalah

baik

apabila

memberikan

kebaikan

bagi

banyak

orang.

Hedonisme

menilai

suatu

tindakan adalah baik bila mendatangkan kesenangan (hedone, dari kata

Grik) secara fisik. Eudemonisme menilai suatu tindakan adalah baik apabila

mendatangkan

kebahagiaan

(eudaemonismos,

dari

kata

Grik)

secara

psikologis (rasa). Altruisme menilai suatu tindakan adalah baik apabila

mengutamakan kepentingan orang lain (alteri, dari kata latin; others, kata

Inggris). Terakhir adalah tradisionalisme, yang menilai suatu tindakan

sebagai baik apabila sesuai dengan kebiasaan atau adat-istiadat (tradition,

kata Inggris) yang berlaku dalam masyarakat.

41

3. Pengertian Negara dan Bernegara

Secara etimologis, negara atau dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

(Tim, Ed.2, Cet.III, Jakarta: Balai Pustaka, 1994: 662) disebut pula dengan

istilah ‘negeri’, ‘negari’, ‘nagara’, ‘nagari’, berasal dari kata ‘staat’ (bahasa

Belanda dan Jerman), ‘state’ (bahasa Inggris), atau ‘etat’ (bahasa Perancis).

Menurut F. Isjwara (1980: 90-93), istilah ini mula-mula dipergunakan

dalam abad ke-15 di Eropa Barat dan oleh anggapan umum berasal dari kata

bahasa latin ‘status’ atau ‘statum’. Pada mulanya istilah ‘status’ lazim

dipergunakan

dalam

hubungannya

dengan

kesejahteraan

umum,

dan

statum’ untuk arti yang lazim disebut sekarang sebagai ‘konstitusi’.

Dalam kajian Islam (Islamic studies) istilah negara bisa bermakna

‘daulah’, ‘khilafah’, ‘hukumah’, ‘imamah’, dan ‘kesultanan’. Deskripsi

memadai mengenai istilah-istilah ini diuraikan oleh Kamaruzzaman (2001:

28). Namun diantara istilah tersebut, istilah ‘daulah’ tampaknya paling

dekat dengan istilah negara, yang menurut M Din Syamsudin (2000: 78)

merupakan kata dalam pemikiran politik Islam yang menunjukkan konsep

negara atau negara-bangsa.

Istilah ‘daulah’ itu sendiri berasal dari bahasa Arab, dala-yadulu-

daulah, yang berarti bergilir, beredar, dan berputar. Mengutip pendapat

Manzooruddin Ahmed

(1988), Kamaruzzaman

(2001: 29)

menyatakan

bahwa kata daulah bisa dimaknai sebagai kelompok sosial yang menetap

pada suatu wilayah tertentu dan diorganisir oleh suatu pemerintahan yang

mengatur kepentingan dan kemslahatan.

42

Dengan demikian, secara terminologis, ‘negara’ memang memiliki

pengertian yang bermacam-macam, sesuai dengan sudut pandang yang

masing-masing berbeda satu dengan lainnya. Bahkan definisi ini juga

berkembang dari sejak model negara polis zaman Yunani kuno yang taraf

perkembangannya

masih

sangat

sederhana,

hingga

pengertian

negara

modern yang perkembangannya sangat kompleks sebagaimana kini kita

kenal. Disamping pengertian daulah tersebut, akan disajikan beberapa

definisi lain yang relevan, disamping penjelasan tambahan menyangkut

sifat, unsur, tujuan dan fungsi negara.

Menurut

Mac

Iver

dalam

bukunya

Negara

Modern

(Pen.

Drs

Moertono, Cet. ke-2, Jakarta: Bina Aksara, 1988, 28), negara adalah

“persetambayatan yang bertindak lewat hukum yang direalisasikan oleh

suatu

pemerintah,

yang

untuk

keperluan

ini

diperlengkapi

dengan

kekuasaan untuk memaksa dan dalam satuan kehidupan yang dibatasi

secara

teritorial,

mempertegak

syarat-syarat

daripada suatu ketertiban sosial”.

lahir

yang

umum-mutlak,

Menurut Prof Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar Dasar Ilmu

Politik (Cet. ke-14, Jakarta: Gramedia, 1992, 40-44), negara adalah “suatu

daerah

territorial yang

rakyatnya diperintah

(governed)

oleh

sejumlah

pejabat dan yang berhasil menuntut dari warga negaranya ketaatan pada

peraturan

perundang-undangannya

melalui

penguasaan

monopolistis dari kekuasaan yang sah”.

(kontrol)

43

Oleh

karena

itu,

negara

memiliki

sifat-sifat

khusus,

yaitu

sifat

memaksa, sifat monopoli dan sifat mencakup semua. Sedangkan unsur

negara adalah adanya wilayah, penduduk, pemerintah dan kedaulatan.

Konperensi Montevideo, 1933, sebagaimana dikutip oleh Isjwara (1980: 95)

menyebutkan 4 (empat) unsur negara adalah penduduk yang tetap, wilayah

tertentu,

pemerintah,

negara-negara lain.

dan

kemampuan

mengadakan

hubungan

dengan

Adapun tujuan akhir setiap negara adalah menciptakan kebahagiaan

bagi rakyatnya, atau oleh Roger H Soltau, sebagaimana dikutip oleh Miriam

(1992:

45),

dirumuskan

“memungkinkan

rakyatnya

berkembang

serta

menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin”. Sedangkan fungsi

negara adalah melaksanakan penertiban; mengusahakan kesejahteraan dan

kemakmuran rakyatnya; pertahanan; dan menegakkan keadilan (Miriam,

1992: 46).

Berasal dari kata ‘negara’ inilah kemudian muncul istilah ‘bernegara’

yang mudah ditemukan dalam berbagai literatur. Secara semantik, istilah

‘bernegara’, jika dirinci berasal dari kata dasar ‘negara’ yang diberi awalah

‘ber’.

Dalam

tatabahasa

Indonesia,

‘ber’

‘memiliki/mempunyai’

(misalnya

dalam

memiliki

makna

kata

‘berhutang’),

‘merupakan/menjadi suatu’ (misalnya dalam kata ‘berkelompok’), atau

‘melakukan’ (misalnya dalam kata ‘bercakap-cakap’).

Sehingga ‘bernegara’ dapat dimaknai ‘memiliki/mempunyai negara’,

‘merupakan/menjadi suatu negara’, atau secara logika bahasa bisa diartikan

44

‘yang berkaitan dengan penyelenggaraan suatu negara’. Dengan demikian,

untuk mengartikan istilah ‘bernegara’ –misalnya—pada kalimat “dalam

kehidupan

bernegara….”,

secara

kontekstual

bisa

dimaknai

‘dalam

kehidupan yang berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah negara’.

Berdasarkan analisis tentang pengertian etika dan pengertian negara

(dan bernegara) di atas, secara konvergensi dapat ditarik kesimpulan bahwa

yang disebut sebagai ‘etika bernegara’, secara kontekstual dapat dimaknai

sebagai “suatu sistem nilai, yakni nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi

pegangan

dalam

mengatur

tingkah

penyelenggaraan sebuah negara”.

laku

yang

berkaitan

dengan

Oleh karena itu, pelaku etika bernegara meliputi individu, kelompok

maupun

bangsa

yang

menempati

sebuah

negara.

Dalam

perspektif

individual, seorang kepala negara –dengan berbagai istilah padanannya--

adalah warga negara yang menjadi pemimpin dan oleh karena itu memiliki

peranan paling menonjol dan paling berpengaruh bagi setiap negara dalam

rangka mencapai tujuan dan melaksanakan fungsi-fungsinya.

Dalam perspektif kelompok, para birokrat 16 (yang terdiri dari para

pegawai negeri baik sipil maupun militer) merupakan alat negara yang

menentukan

pencapaian

tujuan

dan

fungsi

negara.

Menurut

Yahya

Muhaimin (1980), sebagaimana dikutip oleh Budi setiono (2002: 22),

birokrasi adalah keseluruhan aparat pemerintah, sipil maupun militer yang

16 Istilah ini untuk menyebut orang-orang yang bekerja dalam birokrasi. Istilah birokrasi itu sendiri pertama kali diperkenalkan oleh filosof Perancis Baron de Grimm pada abad ke-18, dan berasal dari kata ‘bureau’ yang berarti meja tulis dimana para pejabat bekerja di belakangnya (Budi Setiono, 2002: 21).

45

melakukan tugas membantu pemerintah dan menerima gaji dari pemerintah

karena statusnya itu. Dalam perspektif birokrasi sebagai alat kekuasaan,

maka

keberadaannya

merupakan

sarana

bagi

penguasa

untuk

mengimplementasikan kekuasaan dan kepentingan mereka dalam mengatur

kehidupan negara. Namun dalam perspektif kebutuhan masyarakat yang

harus dilayani, maka keberadaan birokrasi membantu masyarakat mencapai

tujuan-tujuan tertentu yang telah ditetapkan bersama (Budi Setiono, 2002:

23-24).

Sedangkan dalam perspektif bangsa, sudah tentu adalah semua warga

negara. Menurut UU RI No. 12/2006 tentang Kewarganegaraan Republik

Indonesia, pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa “Warga Negara adalah warga

suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan”.

Dengan demikian, baik kepala negara, pegawai negeri maupun warga

negara merupakan komponen manusia atau pelaku yang terikat secara

sukarela oleh komitmen terhadap suatu corak tertentu etika bernegara. Oleh

karena itu, mempersoalkan etika bernegara berarti mempersoalkan etika

kepala negara, etika pegawai negeri dan etika warga negara.

B. Perkembangan Pemikiran tentang Etika Bernegara

Pemikiran

tentang

etika

bernegara,

sangat

berkaitan

erat

dengan

pemikiran tentang negara. Dalam setiap bentuk pemikiran tentang negara dari

sejak zaman Yunani Kuno hingga kini dan mungkin yang akan datang, selalu

mudah ditemui prinsip-prinsip mendasar pemikiran tentang etika bernegara.

46

Berbeda dengan pengertian negara sebagaimana kita pahami dewasa

ini, pada masa awal munculnya pemikiran tentang negara, negara diartikan

sama

dengan

masyarakat

yang

menempati

polis

(kota

dan

sekitarnya),

sehingga memunculkan penilaian bahwa polis adalah negara kota. Sebaliknya,

sementara kalangan berpendapat bahwa polis bukan negara kota (city-state,

Staadstaat) melainkan negara-suku (tribal state, stammstaat) (Deliar Noer,

1997: 2-5). Namun bagi Hannah Arendt, filsuf politik abad 20, sebagaimana

dikutip oleh Maurizio Passerin d’Enteves (2003: 129), polis secara kiasan juga

berarti “organisasi orang-orang yang bersatu didorong oleh tindakan dan

ucapan bersama, dan ruang publiknya muncul di tengah-tengah kehidupan

bersama orang-orang yang hendak mencapai tujuan-tujuannya, dimana mereka

berada”.

Pemikiran

filosof

Yunani

Kuno

Plato

(429-347)

--yang

sangat

dipengaruhi gurunya, Socrates (469-399)—tentang negara dan etika bernegara

terdapat dalam. bukunya berjudul Politea (Republik), yang arti sesungguhnya

adalah Konstitusi, dalam pengertian suatu jalan atau cara bagi individu dalam

berhubungan dengan sesamanya dalam pergaulan hidup atau masyarakat.

Politea juga disebut sebagai Tentang Keadilan, yang artinya lebih dekat

dengan kata kejujuran, moral dan sifat-sifat baik seseorang (Deliar Noor,

1997: 2-5).

Dalam kehidupan bernegara, Plato mengedepankan rasa kolektivisme,

yakni

kepentingan

individu

harus

disesuaikan

dengan

kepentingan

masyarakat. Untuk itu ia mengemukakan semacam komunisme yang melarang

47

adanya hak milik dan kehidupan berkeluarga, khusus bagi kelas penguasa dan

pembantu penguasa. Namun dalam kitab berikutnya Nomoi (kitab hukum),

pendirian ini dikoreksi, bahwa penguasa bukanlah kelas tersendiri, karena

tergantung pada pilihan rakyat, dan ia berhak milik dan berkeluarga (Deliar

Noor, 1997: 11-15).

Aristoteles

(384-322), murid

Plato,

melanjutkan

tradisi pemikiran

tentang negara meliputi bidang yang luas. Dalam bidang politik, Aristoteles

menulis kitab berjudul Politik (Politica). Negara menurutnya adalah gabungan

dari bagian-bagian, yang menurut urutan besarnya adalah kampung, famili dan

individu. Setiap individu memiliki hak milik yang berfungsi sosial, tapi tidak

boleh berlebihan agar tidak merusak dirinya. Keadilan bagi Aristoteles adalah

mengambil apa yang menjadi haknya. Dan bentuk terbaik dari masyarakat

politik ialah bila kekuasaan berada di tangan kelas menengah (Deliar Noor,

1997: 27-39).

Pada abad-abad akhir sebelum dan abad-abad awal sesudah masehi,

kandungan etika bernegara tampak dari perdebatan di dalam masyarakat

Kristen, antara siapa sesungguhnya yang paling berkuasa di dunia, apakah

kepala negara atau kepala agama (Deliar Noor, 1997: 47-49). Beberapa abad

berikutnya tidak terdeteksi adanya perkembangan pemikiran yang berarti 17 ,

hingga kelahiran Piagam Madinah pada masa kenabian Muhammad SAW

(570-632).

17 Dalam perspektif Sejarah Arab pra-Islam, masa ini dikenal sebagai jahiliyah atau kebodohan (ignorance) yang diwarnai oleh paganisme, ketidaksukaan hingga pembunuhan terhadap anak perempuan, pelembagaan perbudakan dan perilaku sosial menyimpang lainnya, Fuad Hashem, Sirah Muhammad Rasulullah, (Bandung: Mizan, 1995), 65-66.

48

Piagam Madinah berisi 52 pasal atau seksi yang merupakan teks

konstitusi

tertulis

pertama

di

dunia

yang

paling

lengkap

dan

orisinil,

dibandingkan dengan berbagai jenis aturan dan pengaturan mengenai negara

pada zamannya (Muhammad Hamidullah, 1968: 2-11). Piagam ini juga

memosisikan dunia Islam jauh mendahului dunia Barat dalam meletakkan

prinsip-prinsip dasar mengenai persamaan, kemerdekaan dan penghormatan

terhadap sesama manusia. 18 Piagam Madinah secara eksplisit merupakan etika

bernegara di negara Madinah. 19

Pada

masa

Khulafaurrasyidin

terdapat

pula

naskah-naskah

yang

mengandung etika bernegara, misalnya surat-surat Ali bin Abi Thalib kepada

Gubernur

Mesir

dan

Gubernur

Basrah

yang

mengandung

nasehat

dan

pandangan Imam Ali tentang akhlak seorang pemimpin (Sayyid Husain

Muhammad

Jafri,

2003).

Pasca

Khulafaurrasyidin,

kajian

tentang

etika

bernegara banyak dilakukan oleh fuqaha. Abu Nasr al Farabi (wafat 950)

menulis kitab Mabadi’ Ara’ ahl al Madinah al Fadhilah Prinsip-prinsip dari

Pandangan tentang Penduduk Negara Utama) dan al Siyasah al Madaniyyah

(Risalah tentang politik Kenegaraan) (Din Samsuddin, 2001: 108). Kitab al

Ahkam

al

Sulthaniyyah

karya Abu

al

Hasan

al

Mawardi

(wafat

1058)

menjadikannya diakui sebagai pemikir pertama yang melakukan deduksi

komprehensif prinsip-prinsip syariah yang berkaitan dengan pemerintahan.

18 Ini adalah tesis penulis Barat Jean Claude Vatin, yang kebenarannya diperkuat oleh kajian dalam desertasi Suyuthi Pulungan. Lihat Suyuthi Pulungan, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah ditinjau dari Pandangan Al Quran, (Jakarta: Rajagrafindo Persada,

1996). 19 Istilah “negara Madinah” hingga saat ini masih debatable, namun jika merunut definisi negara di zaman Yunani Kuno, maka tak ayal Madinah termasuk kategori sebuah negara.

49

Mawardi banyak dipengaruhi oleh pemikiran al Baghdadi (wafat 1037) dalam

salah satu bagian karyanya berjudul Kitab Ushul al Din. Baghdadi sendiri

adalah pengikut Asy’ari (wafat 937).