Anda di halaman 1dari 4

Pendidikan Karakter Bangsa

Tingkat peradaban suatu bangsa ditentukan oleh keluhuran budaya yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Perbedaan mendasar antara bangsa beradab dan bangsa terbelakang (primitif) adalah terletak pada budaya bangsa tersebut. Budaya luhur bangsa berpengaruh dominan terhadap pembentukan karakter bangsa sehingga perilaku masyarakat akan diwarnai oleh budaya luhur yang dimiliki oleh bangsa tersebut, karena karakter (watak/akhlak/moral) akan tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Keterkaitan antara budaya luhur dengan karakter bangsa Dekadensi moral yang luar biasa merupakan penyebab utama keterpurukan bangsa Indonesia yang dulu dikenal sebagai bangsa yang santun dan taat beragama. Prestasi yang semakin menurun dan citra yang buruk merupakan ironi bagi kita. Kenyataan menunjukan bahwa perkembangan bangsa Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini mengarah kepada perubahan yang bersifat regresif (mundur), terutama dalam bidang etika dan moral (akhlak). Perubahan bangsa baik yang mengarah kepada kemajuan (progresif) maupun yang mengarah kepada kemunduran (regresif) merupakan masalah yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan penyelengaraan pendidikan, baik formal, maupun informal. Pendidik yang handal, profesional dan berdaya saing tinggi, serta memiliki karakter yang kuat dan cerdas merupakan modal dasar dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas yang mampu mencetak sumberdaya manusia yang berkarakter, cerdas dan bermoral tinggi. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU Sisdiknas). Berdasarkan kutipan UU Sisdiknas tersebut, 5 dari 8 potensi peserta didik yang ingin dikembangkan ternyata lebih dekat dengan karakter. Menurut UNESCO (badan PBB untuk pendidikan), terdapat empat pilar pendidikan yang setidaknya dipakai sebagai dasar dalam mengembangkan pendidikan di negara-negara anggota PBB (termasuk Indonesia) yaitu: 1. Learning to know : Penguasaan yang dalam dan luas terhadap bidang ilmu tertentu, termasuk di dalamnya Learning to How. 2. Learning to do : Belajar untuk menerapkan ilmu, bekerja sama dalam tim, belajar memecahkan masalah dalam berbagai situasi. 3. Learning to be : belajar untuk dapat mandiri, menjadi orang yang bertanggung jawab untuk mewujudkan tujuan bersama. 4. Learning to live together : Belajar memhami dan menghargai orang lain, sejarah mereka dan nilai-nilai agamanya. Pilar ke 3 dan ke 4 kalau kita cermati lebih dekat dengan karakter dan akan tercermin ketika melaksanakan 2 pilar lainnya (pilar ke 1 dan ke 2). Tidak akan kokoh bangunan jika salah satu pilar tidak ada dan jika lebih dari itu maka bangunan akan roboh. Oleh karena itu pilar-pilar pendidikan tersebut harus semuanya ada dalam membangun system pendidikan.

Menurut Dr. Thomas Lickona: In character education, its clear we want our children are able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be righteven in the face of pressure form without and temptation from within. "Dalam pendidikan karakter, jelas kita ingin anak kita mampu untuk menilai apa yang benar, sangat peduli tentang apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini benar bahkan dalam menghadapi bentuk tekanan tanpa dan godaan dari dalam". Karakter yang dimaksud, menurutnya dapat diuraikan menjadi:
y y y y y y y y y y

Trustworthiness (Kepercayaan) Respect (Cepat Tanggap) Responsibility (Tanggung Jawab) Fairness (Kewajaran) Caring (Perawatan) Honesty (Kejujuran) Courage (Keberanian) Diligence (Ketekunan) Integrity (Integritas) Citizenshi (Kewarganegaraan)

Menurut Character First (2009) terdapat 49 karakter bermutu yaitu:

Character First 2009 Dalam upaya untuk memperbaiki karakter bangsa Indonesia, telah dibuat grand design pendidikan karakter sbb:

Grand Design Pendidikan Karakter Untuk membangun karakter bangsa, tentu harus ada sinergi diantara sub-sistem pendidikan yang ada yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat. Jika tidak ada kesepahaman diantara sub-sistem pendidikan tersebut, sangatlah sulit diharapkan keberhasilan pendidikan karakter bangsa dapat dicapai. Dalam penerapan di sekolah, pendidikan karakter bangsa berfungsi sebagai:
y

y y

Pengembangan: pengembangan potensi peserta didik untuk menjadi perilaku yang baik bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa Perbaikan: memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggungjawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat Penyaring: untuk menyaring budaya-budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa.

Tujuan pendidikan karakter bangsa di sekolah adalah:


y y y y y

Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya dan karakter bangsa Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Sumber nilai-nilai yang digunakan dalam penerapan pendidikan karakter bangsa di sekolah adalah:
y y

Agama: nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilainilai dan kaidah yang berasal dari agama. Pancasila: Pendidikan budaya dan karakter bangsa bertujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara. Budaya:tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat tersebut. Nilai-nilai budaya tersebut dijadikan dasar dalam memberi makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat tersebut. Tujuan Pendidikan Nasional; tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa dibandingkan ketiga sumber yang disebutkan di atas.

Strategi yang digunakan dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah dapat digambarkan seperti bagan berikut:

Strategi pendidikan karakter di sekolah Menurut Ki Hajar Dewantara: Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intellect) dan tubuh anak. Bagian-bagian itu tidak boleh dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita. Berdasarkan pandangan tersebut, maka pendidikan karakter merupakan bagian integral yang sangat penting dari pendidikan kita. Jadi pendidikan haruslah dilaksanakan secara komprehensif yang dapat digambarkan seperti bagan berikut:

Pendidikan Komprehensif Prinsip-prinsip yang harus dipegang dalam penerapan pendidikan karakter di sekolah adalah:
y

y y y

Berkelanjutan mengandung makna bahwa proses pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa merupakan sebuah proses panjang dimulai dari awal peserta didik masuk sampai selesai dari suatu satuan pendidikan. elalui semua mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah Nilai tidak diajarkan tapi dikembangkan mengandung makna bahwa materi nilai-nilai budaya dan karakter bangsa bukanlah bahan ajar untuk pembelajaran biasa. Proses pendidikan dilakukan peserta didik secara aktif dan menyenangkan.