Anda di halaman 1dari 7

. TINJAUAN KRITIS SEJARAH RELASI IMAN DAN ILMU PENGETAHUAN 1.

Zaman Gereja mula-mula Selama berabad-abad Gereja sangat dominan dalam menentukan berbagai macam keputusan yang menyangkut politik, ilmu pengetahuan, ekonomi, sosial dan juga doktrin. Pada masa ini Alkitab diterima sebagai kaidah utama kekeristenan yang berotoritas. Memang pada waktu itu timbul pandangan sekte tertentu seperti golongan Gnostik, Montanus, Marcion dll. Tetapi masalah yang dipersoalkan terbatas pada masalah pengajaran atau tafsiran mengenai bagianbagian Alkitab, misalnya KeTuhanan Kristus, Tritunggal dll. 2. Zaman Scolastik Sampai abad ke XII, institusi-institusi pendidikan di Eropa berada di bawah kekuasaan Gereja dan Biara. Baru kemudian mereka berdiri sendiri lepas dari dominasi Gereja dan dengan sendirinya secara perlahan mereka menunjukkan otonominya. Universitas SALERNO dekat Napoli merupakan universitas pertama yang didirikan untuk studi kedokteran. Menyusul universitas lain di Perancis pada abad ke XII seperti Universitas PARIS dan BOLOGNE di bidang Hukum. Di Inggris dibuka universitas OXFORD (1170) dan CAMBRIDGE (1209). Di Jerman berdiri juga Universitas VIENNA (1366) dan universitas HEIDELBERG (1386). Mulamula universitas-universitas ini masih berhubungan dengan gereja dan theologia, tetapi lambat laun mulai melangkah keluar dari gereja dan berdiri lepas dari gereja. Dengan adanya suasana pendidikan yang lepas dari dominasi kaum agamawan, maka mulailah dipersoalkan berbagai macam hal yang menyangkut iman dan ilmu pengetahuan. Dari universitas-universitas tersebut muncul tokoh-tokoh dunia yang pendapat mereka sangat mempengaruhi jaman. Dalam pandangannya yang ortodok dan diikuti gereja pada waktu itu, Anselmus, Uskup Besar Canterburry mempunyai semboyan Credo ut Inteligam artinya Aku percaya agar aku mengerti. Melalui semboyan ini, ia menegaskan kepercayaannya kepada pernyataan Tuhan yang diajarkan Gereja, sesudah itu ia berusaha untuk menjelaskan pasal-pasal kepercayaannya itu, sehingga dapat dimengerti dan diakui selaku kebenaran oleh rasio manusia. Sebaliknya dari kampus muncul juga orang seperti Petrus Abelardus (1072-1142) yang berkata Aku mengerti agar aku percaya. Dalam bukunya yang terkenal Sic et Non (Ya atau Tidak), Abelardus mempertentangkan dan memperbandingkan ajaran Gereja, dan ia menjadi rasio/pikiran manusia sebagai standar pengukur iman. Terjadilah pembalikkan metode mencari kebenaran, yang tidak lagi menjadikan iman sebagai dasar yang teguh seseorang mencari kebenaran, namun akal budi manusialah yang menjadi standart. 3. Zaman Renaissance Abad-abad pertengahan ditandai dengan adanya kebangunan manusia. Manusia mulai mengembangkan pikiran secara bebas. Manusia mulai menyelidiki alam semesta, bebas dari ikatan-ikatan tradisi atau prasangka-prasangka zaman, semboyannya adalah kembali ke sumber. Copernicus (1473-1543) menulis buku yang menjelaskan tentang susunan semesta bahwa matahari pusat semesta (heliocentric) dan pandangan ini menjatuhkan pandangan

Ptolomeus, bumi adalah pusat semesta (geocentric) yang masa itu diadipsi oleh gereja. Pandangan Copernicus ini diperkuat oleh penyelidikan yang dilakukan oleh Johan Kepler dan Galileo Galilee. Konflik ini ternyata menggoyahkan kepercayaan banyak orang terhadap Gereja. Walaupun sebenarnya pandangan gereja bahwa bumi adalah pusat bukanlah berdasarkan penyataan Alkitab tetapi sebenarnya sangat dipengaruhi oleh filsafat Aristoteles. Namun kesalahan tafsir gereja tersebut telah terlanjur dipercaya oleh banyak orang sehingga pada akhirnya menimbulkan keraguan terhadap kewibawaan Alkitab. 4. Zaman Rationalisme. Abad ke XVII-XVIII dikenal sebagai abad-abad rationalisme. Diawali dengan tampilnya pelopor Rationalisme yaitu Rene Descartes (1596-1650) dengan semboyannya yang terkenal Cognito Ergo Sum (Aku berpikir maka aku ada). Maka kembali akal budi manusia menjadi pengukur segala sesuatu. Ratio dianggap sebagai hakim yang bertahta dan menjadi raja atas kehidupan manusia. John Locke (1632-1704) dan dilanjutkan oleh David Hume (1711-1776) merupakan tokoh-tokoh Empiricism, yang menuntut bukti-bukti pengalaman yang bisa diterima panca indera sebagai realita yang logis. Pandangan ini merupakan benih kritik bagi masalah mujizat dalam Alkitab. Demikian pula penemuan G.W. Leibniz (1646-1716) dan Isaac Newton yang menyatakan bahwa struktur alam semesta terdiri dari monad/substansi sederhana yang tak terhingga jumlahnya . Pandangan ini menimbulkan tanda tanya bahwa kalau begitu apakah Allah itu ?. Zaman ini dikenal sebagai jaman kebangkitan ilmu pengetahuan alam. Ditengah jaman yang sangat pesimis dan mencurigai Alkitab, muncul para ilmuwan besar yang mengasihi Tuhan. Seperti, Blaise Pascal (1623-1662) seorang ahli matematika, ia menyadari bahwa kebenaran kekristenan lebih dalam dari pada argumen-argumen logika manusia. Demikian juga Isaac Newton (1642-1727) menganggap bahwa refleksi rasional atas gejala-gejala alam membawa kepada kesimpulan bahwa ada keberadaan yang hidup, serba hadir, cerdas dan esa. 5. Zaman Modern Abad XIX diwarnai dengan kehadiran Charles Darwin (1809-1882) dengan Teori Evolusinya. Sigmund Freud (1856-1939) terpengaruh dengan teori evolusi ini mulai mengembangkan teori analisa atas jiwa. Jiwa yang semula adalah urusan Tuhan; penyelidikan Freud membawanya kepada kesimpulan bahwa semua tingkah laku manusia merupakan gejala-gejala jiwa saja yang sebenarnya sudah ada dalam bawah sadar jiwa manusia itu sendiri. Komentarnya terhadap agama bahwa agama adalah ilusi manusia belaka dan agama merupakan obyek pelarian kejiwaan. Karl Marx (1818-1883) merupakan bapa materialisme modern, bersama Ludwig Feurbach (1820-1895). Menurut pandangan mereka bahwa alam hanya ada kekuatan materi saja, hakekat keberadaan roh ditolak. Konsep Allah menjadi konsep alam, dan alam adalah dasar keberadaan manusia. Feurbach mencetuskan suatu ide tentang Allah bahwa GOD is DEAD. Jadi karena tak ada Allah, maka manusia dalam hidupnya harus memutuskan dirinya sendiri. II. Peran strategis sekolah dalam membentuk pelajar yang cinta Tuhan tetapi juga briliant

1. Masyarakat membutuhkan ilmuwan yang mengasihi Tuhan seperti menghasilkan karya-karya ilmiah yang berguna bagi masyarakat, menentang dan memberikan alternatif jawaban ilmiah tentang pandangan ilmuwan yang bertentangan dengan Alkitab. Sebagai contoh bagaimana dengan pertanyaan tentang fosil, kesamaan biokimia antara makhluk-mahkluk hidup hidup, terutama universalitas genetika, asal mula kehidupan, dan berbagai pertanyaan standard dalam evolusi. Saat ini dunia kebudayaan dan ilmu pengetahuan didominasi oleh filsafat naturalistik, sedangkan teisme (percaya adanya Allah Pencipta dan Sumber) dianggap sebagai hal yang aneh dan tidak waras. Mari kita perhatikan setiap bidang ilmu kita (Ekonomi, hukum, ilmu sosial, ilmu alam dll), siapakah yang berpengaruh ? Pendapat mana yang diterima ?. Dimanakah para ilmuwan yang mengasihi Tuhan yang berjuang menolak segala macam teori yang bertentangan dengan iman Kristen ? Kita harus terus berjuang dan mengikuti jejak para ilmuwan kristen abad 20 yang meraih nobel seperti Dorothy Hodgkin, kristallografer Inggris sekaligus peraih nobel; Charles Coulson, pakar fisika matematika terkenal; Sir Robert Boyd perintis bidang fisika sinar X atmosfir atas; Werner von Braun bapak ruang angkasa Amerika; Francis Collins, penemu gen sistik fibrosis; Allan Sandage astronom terkenal dll.

IMAN MENDAHULUI RASIO/PENGETAHUAN Yang pertama, Kekristenan yang anti-rasional. Melihat rasio sebagai musuh iman. Semakin seseorang beriman semakin ia menjauhi penalaran, bahkan tidak perlu resah jika apa yang kita percayai bertentangan (kontradiktif) satu sama lain. Iman di sini dimengerti sebagai yang irrasional. Ajaran demikian menghasilkan semacam Kekristenan yang tidak bertanggung-jawab, karena membutakan pikiran manusia, membunuh akal sehat, yang juga adalah ciptaan Tuhan Yang Mahabaik. Kekristenan seperti ini tidak sanggup untuk menyelesaikan persoalan intelektual dan pada umumnya melarikan diri di bawah payung emosi. Yang terjadi adalah fanatisme agama, entusiasme kosong yang tidak memiliki dasar yang teguh sehingga tidak sanggup menghadapi ajaran-ajaran sesat yang sedang mengombang-ambingkan, dan jika mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan. Yang kedua, Kekristenan yang rasionalis. Akar tradisinya bukan sekedar dari semangat enlightenment melainkan dari mereka yang hatinya tidak percaya. Ketidakpercayaan di dalam hati, meragukan kewibawaan Kitab Suci, tidak mengasihi kebenaran akhirnya membuat seseorang menjadikan rasionya sebagai budak dari kecenderungan hatinya yang tidak percaya. Di sini rasio hanya diperalat oleh hati yang tidak percaya. Rasio yang diperalat tidak menyadari bahwa sedang diperalat, karena ketidakpercayaan memang selalu bersifat membutakan. Sebaliknya rasio itu berpendapat bahwa dirinya sedang mengejar kebenaran. Rasio yang sudah menyeleweng itu akhirnya tidak sanggup menempatkan dirinya dengan benar, bahkan mencoba berdiri di atas posisi kebenaran. Dia berpikir bahwa itu sudah berhasil dilakukannya, padahal dalam kenyataannya, sama dengan iblis, ia sudah dilempar ke bawah. Keinginannya untuk meninggikan diri di atas kebenaran justru membuat dia jatuh ke bawah. Hasil penyelidikannya yang dia pikir sangat ilmiah, rasional, seturut dengan kebenaran ternyata lebih merupakan

ketidaktahuan, kebutaan akan kebenaran yang sesungguhnya. Demikianlah ia diperdayakan oleh hati yang tidak percaya. Yang terakhir, Kekristenan yang menempatkan rasio pada tempat yang telah ditetapkan Tuhan baginya, dan dengan sadar mengetahui bahwa pusat kehidupan manusia adalah hatinya (Amsal 4:23). Ya, sebuah hati yang mempunyai pilihan untuk percaya atau tidak percaya, beriman atau tidak beriman. Seluruh kehidupan (termasuk segala pengertian akan segala sesuatu) terpancar dari pusat yang satu itu. Ketika seseorang percaya di dalam hatinya ia akan tahu, ia akan mengenal kebenaran. Sebaliknya ketika seseorang tidak percaya ia akan buta terhadap kebenaran. Petrus mengaitkan kedua hal ini dengan sangat jelas dalam pengakuannya sebagaimana tercatat dalam Yoh. 6:68-69, Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah. Ayat ini menyatakan pengetahuan tidak bisa dipisahkan dengan sikap hati yang percaya. Justru pengetahuan yang sejati selalu lahir dari iman. Pada masa yang lampau orang mempelajari ilmu pengetahuan dengan pendekatan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian menerimanya sebagai satu fakta, kebenaran yang layak dipercaya. Kebenaran itu disebut scientific knowledge. Namun dalam pembahasan filsafat kontemporer tampaknya paradigma itu sudah digoncang dan sekarang pun orang belajar mengakui bahwa scientific knowledge pun sebenarnya dihasilkan dari believe. Pandangan ini bukanlah suatu penemuan yang baru dan hanya mengkonfirmasi apa yang sudah dikatakan oleh Kitab Suci. Mereka yang mendekati Kitab Suci dengan paradigma science lama sungguh sangat tidak bijaksana, tidak belajar dari mitos keliru yang sudah terjadi pada masa lampau. Pendekatan itu sendiri tidak diuji secara kritis, bahkan dipercaya begitu saja sebagai pendekatan yang paling benar dan scientific. Di sini kita melihat ketidak-konsistenan yaitu bahwa di satu sisi pendekatan itu dianggap paling scientific namun di sisi yang lain pendekatan itu sendiri tidak pernah diuji, diterima begitu saja, dengan kata lain: dipercaya (dengan iman yang buta!). Kesimpulan Sebagaimana dikatakan oleh Kitab Suci Orang benar akan hidup oleh iman (Rm. 1:17). Ini bukan hanya dalam konteks keselamatan, melainkan juga dalam seluruh kehidupan yang rindu untuk terus mengenal kebenaran yang sejati.

PENDAHULUAN
Apologetika sering kali dianggap hanya untuk kaum intelektual saja dan juga sering diasumsikan hanya bagi kaum yang sangat terpelajar saja. Dalam kekristenan bahkan seringkali kurang dianggap penting dibandingkan dengan kasih, moralitas dan kekudusan hidup. Mereka yang mengatakan demikian bukan salah tetapi sebetulnya mereka tidak sadar mereka ini sedang berapologetika . Di dalam apologetika akan banyak bermain dengan pertimbangan akal, cara berpikir, sehingga terdapat kesan dalam berapologetika seolah-olah segala sesuatu harus berdasarkan pertimbangan akal sehat, apakah memang apologetika Kristen semata-mata demikian?

KENAPA APOLOGETIKA
Dalam bahasa aslinya (apologia) secara hurufiah berarti mempertahankan atau memberi penjelasan terhadap suatu pendapat. Di dalam kekristenan berapologetika adalah suatu keharusan, karena merupakan salah satu perintah Allah yang dinyatakan dalam 1 Petrus 3: 15, 16 : Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. Di dalam ayat diatas tercakup beberapa hal, yaitu: 1. Kuduskan Kristus didalam hati sebagai Tuhan 2. Siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab tentang pengharapan yang ada pada kita (orang Kristen) 3. Harus dengan lemah lembut, hormat dan dengan hati nurani yang murni 4. Kesalehan hidup Ke 4 hal tersebut merupakan suatu kesatuan yang tak boleh berdiri sendiri, sehingga jika sesorang mengatakan dirinya Kristen, maka ia harus menjadikan Kristus sebagai Tuhan dan menjaga kekudusan hidup, yang artinya = mengasihi Allah dan mengasihi Allah = menuruti kehendak Allah dan mengenalNYA, yang pada akhirnya ia akan mampu memberikan jawaban atas pengharapan yang ada padanya sebagai orang Kristen. Pentingnya berapologetika secara benar karena kita berada dalam persimpangan jalan dan krisis (iman) yang terus menerus terjadi, yaitu: 1. Peradaban modern yang mengarah kepada kematian rohani. Hal itu dapat terjadi karena roh kekristenan hampir padam, yang disebabkan bukan karena adanya budaya yang beraneka ragam atau dasar iman yang lain, tetapi karena iman dan jiwa kekristenan hampir punah. Abad terakhir lebih diwarnai oleh pemusnahan masal (genocide), kebingungan seksualitas dan materialistis yang mengarah menjadi penyembahan ilah-ilah duniawi. 2. Bukan hanya hal diatas saja, tetapi secara filosofi dan intelektual, dunia juga mengalami krisis. Krisis yang dihdapai adalah krisis tentang kebenaran (Ralph Martin, pimpinan dari Renewal Ministries). Kebenaran yang obyektif saat ini mendapatkan serangan yang bertubi-tubi baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui media, pendidikan dan aspek lain dari kehidupan manusia, sehingga pola pikir manusia semakin terbentuk untuk tidak lagi mempercayai adanya kebenaran yang absolut.

3. Dan krisis yang terdalam bukan hanya pada peradaban dan intelektual saja, tapi sudah sampai kepada krisis rohani, banyak orang menggunakan hal-hal rohani dengan tujuan mementingkan dkepuasan diri pribadi

IMAN & PIKIRAN


Peranan iman dan pikiran (logika/pengertian/ratio), mempunyai posisi yang sangat vital dalam apologetika Kristen, tetapi sering kali kita bertanya, mana diantara keduanya yang terlebih penting/didahulukan, apakah iman percaya atau kemampuan berpikir sebagai manusia (ratio), dibawah ini beberapa pendapat tentang hubungan antara iman & pengertian (ratio): 1. Iman dan Ratio, merupakan 2 hal yang tidak dapat disatukan (terpisah), 2. Iman merupakan bagian dari ratio, sehingga segala sesuatu harus bisa dijelaskan dengan dalam penjelasan logika manusia 3. Ratio merupakan bagian dari iman, Jika salah satu dari ke 3 hal ini diterima oleh manusia (gereja) ada beberapa konsekwensi: o Kepercayaan tidak bisa disatukan dengan hal-hal yang bersifat ilmu pengetahuan (science) o Kedudukan keduanya sejajar, sehingga implikasinya dalam kehidupan, bisa dan syah saja jika bertentangan dan jika hal ini terjadi, maka suatu saat iman bisa dikorbankan demi pengetahuan/ratio manusia o Kemungkinan akan terjadi dualisme dalam kehidupan, dimana kehidupan iman (beragama), tidak sesuai dengan kehidupan diluar gedung gereja. o Kemungkinan terjadi penyimpangan firman Tuhan karena ratio direndahkan 4. Iman dan ratio merupakan sekutu, ada hal-hal yang dapat dijelasakan secara iman maupun terbukti secara ratio Tetapi hal-hal tersebut belum menjelaskan manakah yang harus didahulukan iman atau ratio, apakah iman menjadi dasar dari pengertian (ratio) atau sebaliknya, ratio adalah dasar dari iman. Santo Agustinus (354-430), membaca dari kitab Yesaya 7: 9, yang jika diterjemahkan secara langsung demikian: Jikalau engkau tidak percaya, maka pasti engkau tidak akan mengerti, (nissi creditelitas non-inteligetis) dan setelah melalui pergumulan panjang dan sempat menjadi penganut filsafat Manicheaisme selama hampir 10 tahun (filsafat yang mengakui bahwa adanya kuasa yang jahat yang selalu memerangi kuasa baik dan tidak mengakui bahwa Allah maha kuasa dan berkuasa atas segala sesuatu/omnipoten), pada akhirnya Agustinus menyadari kekeliruannya dan mau menundukkan rationya dibawah imannya, karena menurut dia pikiran/logika yang dalam dari manusia tidak perlu dihilangkan karena manusia itu beriman/beragama, karena jika agama mengakibatkan orang menjadi bodoh dan semakin bodoh karena menjalankan kewajiban agamanya, maka agama itu pasti tidak beres.

Dan akhirnya Agustinus berpendapat bahwa iman tidak boleh membunuh ratio, justru iman, harus mempertajam ratio dan memurnikan ratio, sehingga lahirlah prinsip yang dirumuskan sebagai berikut: Aku percaya, maka aku mengerti; dan agar aku bisa mengerti, aku harus menetapkan bahwa aku percaya (crede ut inteligas, credo ut intelligam). Prinsip seperti inilah yang terdapat dalam kekristenan, kita terlebih mengedepankan iman terlebih dahulu, untuk kemudian dengan pemurnian ratio, maka kita berusaha mengerti apa yang kita percayai (iman tersebut) Iman dan ratio merupakan sekutu yang tidak dapat dipisahkan, walaupun ada hal-hal dari iman atau ratio yang sepertinya terpisah, misalnya doktrin tentang trinitas, sulit sekali untuk membuktikan keberadaan trinitas (hanya dengan iman berdasarkan pernyataan kitab suci, kita menerimanya) tetapi kita dapat memberikan jawaban terhadap semua keberatan dari keberadaan trinitas ini, misalnya jika ada yang mengatakan bahwa Allahnya orang kristen 3, maka kita memberikan jawaban bahwa, kita tidak menyembah 3 Allah, tapi 1 Allah yang mempunyai 3 pribadi dan jika ada yang mengatakan bahwa trinitas adalah suatu kontradiksi (tidak mungkin 1 = 3), maka jawaban kita ialah Allah hanya mempunyai 1 natur (sifat dasar) bukan 3, tetapi Allah mempunyai 3 pribadi bukan 1 dan hal ini bukan kontradiksi, manusia bahkan mempunyai 2 sifat dasar ( jiwa dan tubuh, yang terlihat dan yang tidak terlihat) tapi 1 pribadi. Atas dasar ini pula tidak sulit bagi kita untuk menerima sifat dasar dari Yesus Kristus yang adalah Allah 100 % dan manusia 100%, sehingga hanya Yesus lah yang dapat menyelamatkan manusia dari hukuman dosa. Dari ulasan terlihat betapa pentingnya apologetika, karena dengan apologetika kita dapat mempraktekan ratio kita yang sudah dimurnikan, sehingga semakin peka terhadap pengajaranpengajaran yang menyimpang, bukan saja di lingkungan gereja tetapi dalam kehidupan seharihari, ratio yang sudah dimurnikan dan berdasarkan iman yang benar, maka ratio akan semakin tajam dan luas fungsi dan keberadaannya, tetapi ratio ini tetap harus dengan lemah-lembut dan hormat dan dengan hati nurani yang murni(1 Pet 3 : 15b, 16a), Amin.