Anda di halaman 1dari 29

MANFAAT EKSTRAK IKAN GABUS TERHADAP KADAR PRE-ALBUMIN, ALBUMIN DAN CD4 PADA PENDERITA HIV/AIDS

The Benefits of Snakehead Fish Extract on Levels of Prealbumin, Albumin and CD4 in Patients with HIV / AIDS

Arief Pattiiha

PROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

MANFAAT EKSTRAK IKAN GABUS TERHADAP KADAR PRE-ALBUMIN, ALBUMIN DAN CD4 PADA PENDERITA HIV/AIDS The Benefits of Snakehead Fish Extract on Levels of Prealbumin, Albumin and CD4 in Patients with HIV / AIDS

TESIS

Oleh: ARIEF PATTIIHA

SEBAGAI SALAH SATU PERSYARATAN PENYELESAIAN PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM

PROGRAM PENDIDIKAN PASCA SARJANA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011 ii

LEMBAR PENGESAHAN

Pembimbing :

Prof. DR. dr. A. Halim Mubin, Msc, SpPD, K-PTI

Makassar, 22 Desember 2011

Ketua Bagian Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Ketua Program Studi Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Prof.Dr.dr.Syakib Bakri,SpPD-KGH NIP. 19510318 197803 1001

Dr.dr.A.Fachruddin B, SpPD-KHOM NIP. 19521219 198011 1002

iii

ABSTRAK

Arief Pattiiha: Manfaat ekstrak ikan gabus terhadap kadar pre-albumin, albumin dan CD4 pada penderita HIV/AIDS (dibimbing oleh: Halim mubin) Latar Belakang: Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di seluruh dunia. Sekitar 25% penderita HIV masuk tahap AIDS dalam 5 tahun pertama setelah infeksi awal. Progesifitas HIV sangat ditentukan oleh status gizi penderita. Parameter yang dapat dipakai dalam penilaian status gizi penderita HIV/AIDS antara lain prealbumin dan albumin. Pemberian substitusi protein yang kaya akan glutamin (oral atau parenteral) dapat memperbaiki fungsi imun dan integritas mukosa usus. Ikan gabus jenis ikan air tawar yang banyak ditemukan di Indonesia, komposisi kimia asam ikan kaya akan albumin dan asam amino, tertinggi glutamin 2,11%. Tujuan: Apabila terbukti ekstrak ikan gabus dapat meningkatkan kadar albumin pada penderita HIV/AIDS, maka ekstrak ikan gabus dapat diberikan kepada penderita HIV/AIDS untuk mencegah penurunan lebih lanjut kadar albumin penderita. Metode: Dilakukan penelitian randomized pre dan post test group design dari JanuariOktober 2011, dengan memberikan perlakuan pada subyek penelitian kemudian efek perlakuan diukur dan dianalisis. Subyek dibagi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan mendapat ekstrak ikan gabus dan kelompok kontrol mendapat placebo. Pemeriksaan laboratotium meliputi darah rutin, kimia darah, albumin, prealbumin dan CD4. Hasil: Selama penelitian diperoleh sebanyak 36 subyek, terbagi dalam 2 kelompok (18 sampel per kelompok) yaitu kelompok ekstrak ikan gabus (EIG) dan kelompok plasebo. Jenis kelamin laki-laki sebanyak 25 subyek sedangkan perempuan 11 subyek, umur antara 2253 tahun. Meski tampak ada perbedaan jumlah jenis kelamin, namun hasil uji statistik menunjukkan sebaran jenis kelamin adalah homogen pada kedua kelompok sampel. Didapatkan perbedaan kadar prealbumin bermakna (p<0,001) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-4. Kadar prealbumin kelompok EIG (20,8 g/dl) lebih tinggi dibanding plasebo (9,0 g/dl). Demikian pula kadar albumin didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok EIG dan plasebo, dimana kadar albumin kelompok EIG lebih tinggi dibanding plasebo pada hari-4 (p<0,05), hari-7 (p<0,05), hari-14 (p<0,001) dan hari-21 (p<0,001). Sedang kadar CD4, tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-21. Kesimpulan: Didapatkan kecenderungan peningkatan kadar prealbumin dan albumin pada kelompok EIG dibanding kelompok placebo setelah pemberian terapi. Ekstrak ikan gabus dapat diberikan sedini mungkin kepada penderita HIV/AIDS untuk mencegah penurunan lebih lanjut kadar albumin penderita. Kata Kunci: HIV/AIDS, malnutrisi, ekstrak ikan gabus, albumin, prealbumin.

iv

ABSTRACT

Arief Pattiiha: The benefits of snakehead fish extract on levels of pre-albumin, albumin and CD4 in patients with HIV/AIDS (adviser: Halim Mubin) Background: The issue of HIV/AIDS is a major problem that threatens Indonesia and many countries around the world. About 25% of people with HIV into AIDS stage in the first 5 years after initial infection. HIV progression is determined by the nutritional status of patients. Parameters that can be used in the assessment of nutritional status in patients with HIV/AIDS is prealbumin and albumin. Giving substitution of glutamine-rich protein (oral or parenteral) may improve immune function and intestinal mucosal integrity. Snakehead fish is freshwater fish species which are found in Indonesia, the chemical composition is rich of albumin and amino acids, glutamine highest 2.11%. Objectives: If proved the snakehead fish extract can increase levels of albumin in patients with HIV/AIDS, then the snakehead fish extract can be given to people with HIV/AIDS to prevent further decline in patients with albumin levels. Methods: Randomized pre and post test design group research was conducted from January to October 2011, by providing treatment to subjects and treatment effects were measured and analyzed. Subjects were divided two groups: treatment group received fish extract cork and the control group received placebo. Laboratotium examination include complete blood count, blood chemistry, albumin, prealbumin and CD4. Results: During the study, a total of 36 subjects were collected, divided into 2 groups (18 samples per group) of snakehead fish extract (SFE) group and the placebo group. Male gender as much as 25 subjects, while women 11 subjects, aged between 22-53 years. Although there appears to be differences in the amount of sex, but the results of statistical tests indicate gender distribution was homogeneous in both groups of samples. We found significant differences in levels of prealbumin (p <0.001) between SFE and the placebo group on day-4. Prealbumin levels in SFE group (20.8 g / dl) higher than placebo (9.0 g / dl). Similarly, albumin levels found significant differences between SFE and the placebo group, where levels of albumin EIG group is higher than placebo at day 4 (p <0.05), day7 (p <0.05), day-14 (p <0.001) and day-21 (p <0.001). mean while on levels of CD4, there was no significant difference (p> 0.05) between SFE and the placebo group on day21. Conclusion: There was a trend of increased levels of prealbumin and albumin in the SFE group than the placebo group after administration of therapy. The snakehead fish extract can be given as early as possible to people with HIV/AIDS to prevent further decline in patients with albumin levels. Keywords: HIV/AIDS, malnutrition, snakehead fish extract, albumin, prealbumin.

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunianya yang dilimpahan-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini, yang merupakan karya akhir untuk melengkapi persyaratan penyelesaian pendidikan keahlian pada Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. Pada kesempatan ini saya ingin menghaturkan penghargaan dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ketua Konsorsium Ilmu Kesehatan di Jakarta, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis I dalam bidang Ilmu Penyakit Dalam di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar. 2. Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, SpBO, FICS; Rektor Universitas Hasanuddin, serta Prof. Dr. Ir. Mursalim dan Prof. Dr. dr. A. Razak Thaha, MSc, SpGK; Direktur dan mantan Direktur Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti Pendidikan Dokter Spesialis di Universitas Hasanuddin Makassar. 3. Prof. Dr. dr. Irawan Yusuf, PhD dan Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, SpBO, FICS, Dekan dan mantan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, atas kesempatan yang diberikan untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis di bidang Ilmu Penyakit Dalam.

vi

4. Prof. Dr. dr. Syahrul Rauf, SpOG(K) dan Prof. Dr. dr. Syamsu, SpPD, K-AI ; Koordinator dan mantan Koordinator PPDS-I Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin bersama staf, yang senantiasa memantau kelancaran program pendidikan Spesialis Bidang Ilmu Penyakit Dalam. 5. Prof. Dr. dr. Syakib Bakri, SpPD, K-GH dan Prof. dr. A. Rifai Amiruddin, SpPD, K-GEH (Alm.), Ketua dan mantan Ketua Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, atas kesediaan beliau untuk menerima, mendidik, membimbing dan memberi nasihat-nasihat yang sangat berharga kepada saya dalam mengikuti pendidikan Dokter Spesialis Bagian Ilmu Penyakit Dalam. 6. Dr. dr. A. Fachruddin Benyamin, SpPD, K-HOM; dan Prof. Dr. dr. Syakib Bakri, SpPD, K-GH; Ketua Program Studi dan mantan Ketua Program Studi Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang senantiasa memberi motivasi, membimbing dan mengawasi kelancaran proses pendidikan selama saya mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam. 7. Seluruh Guru Besar, Konsultan dan staf pengajar di Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin sebagai pengajar yang sangat berjasa dan bagaikan orang tua yang sangat saya hormati dan banggakan. Tanpa bimbingan mereka, mustahil bagi saya mendapat ilmu dan menimba pengalaman di Bagian Ilmu Penyakit Dalam.

vii

8. Prof. Dr. dr. A. Halim Mubin, MSc, SpPD, K-PTI; selaku pembimbing karya akhir, atas kesediaan dalam membimbing sejak perencanaan hingga selesainya karya akhir ini, serta senantiasa memberikan perhatian dalam membaca, mengoreksi, berdiskusi dan memberikan saran dalam perbaikan dan

penyempurnaan karya akhir ini. 9. DR. dr. A. Fachruddin Benyamin, SpPD, K-HOM; selaku penasehat akademis saya, dr. Tutik Harijanti, SpPD,K-HOM; selaku sekretaris Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-UNHAS; dan dr. Haerani Rasyid, MS, SpPD, K-GH; selaku sekretaris program studi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-UNHAS, atas bimbingannya selama saya menempuh pendidikan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam. 10. Dr. dr. Arifin Seweng, MPH selaku konsultan statistik atas kesediaannya membimbing dan mengoreksi sejak awal hingga hasil penelitian ini. 11. Para Direktur dan Staf Rumah Sakit di mana saya telah mengikuti pendidikan, yaitu RS Dr. Wahidin Sudirohusodo, RSUD Labuang Baji, RS Akademis Jaury, RS Islam Faisal, RS Stella Maris, RS Ibnu Sina, atas segala bantuan fasilitas dan kerja samanya selama ini. 12. Para pegawai Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK-UNHAS, Paramedis, dan Pekarya pada masing-masing rumah sakit, atas segala bantuan dan kerjasamanya selama ini. 13. Teman sejawat peserta program PPDS-I Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, atas jalinan persaudaraan dan kerja samanya selama ini. 14. Para partisipan dengan penuh kesadaran, keikhlasan untuk mengikuti penelitian ini.

viii

Pada saat yang berbahagia ini, saya tidak lupa menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada kedua orang tua saya Ayahanda dr. H. Mochtar Zein Pattiiha, SpPD, FINASIM dan Ibunda Hj. Erni Luhurita, dan kedua mertua saya, Hasan Malik (Alm) dan Suwati yang sangat saya cintai dan hormati, yang dengan tulus dan penuh kasih sayang senantiasa memberikan dukungan, bantuan dan mendoakan saya, juga kepada saudara-saudara saya dan keluarga lainnya yang selama ini dengan tulus ikhlas memberikan dukungan selama saya mengikuti pendidikan ini. Dan kepada istri tercinta dr. Endang Kristanti, serta buah hati kami tercinta

Baaitz Rava Pattiiha atas segala pengertian, pengorbanan, kesabaran, dukungan, serta kasih sayang yang luar biasa selama saya mengikuti pendidikan hingga penyelesaian karya akhir. Akhir kata, semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan kiranya Allah SWT selalu melimpahkan rahmat,petunjuk,dan hidayah-Nya kepada kita semua, Amin.

Makassar, Desember 2011 Penulis

Arief Pattiiha

ix

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Penelitian ini bersifat randomized pre dan post test group design, dengan memberikan perlakuan pada subyek penelitian kemudian efek perlakuan diukur dan dianalisis. Subyek dibagi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan mendapat ekstrak ikan gabus dan kelompok kontrol mendapat plasebo.

B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah sakit pendidikan yang ada di Makassar (RS. Wahidin Sudirohusodo, RS. Labuang Baji, dan RS. Akademis Jaury). Waktu penelitian sejak Januari 2011 hingga sampel tercukupi.

C. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian adalah penderita HIV/AIDS rawat inap dan yang datang berobat di rumah sakit pendidikan yang ada di Makassar

D. Kriteria Inklusi, Eksklusi dan Drop Out 1. Kriteria inklusi : a. Laki-laki dan perempuan berusia diatas 15 tahun yang menderita HIV/AIDS dan belum mendapat ARV b. Bersedia mengikuti penelitian yang dinyatakan dengan menandatangani surat persetujuan (informed consent).

13

2. Kriteria eksklusi : a. Wanita hamil. b. Subyek yang sudah mendapat infus albumin. c. Subyek dengan kerusakan hati luas. d. Subyek dengan gangguan fungsi ginjal. 3. Kriteria pengunduran diri/ Drop out: a. Subyek meninggal dunia. b. Subyek menolak untuk melanjutkan penelitian. c. Subyek tidak bisa diberi terapi oral. E. Perkiraan Besar Sampel Besar sampel diperkirakan berdasarkan rumus : n = 2 ( PI 1 - 2 Keterangan : n PI 1 2 = perkiraan besar sampel = power index (3,24) = SD albumin serum penderita 0,64 (Taslim, 2005) = rerata kadar albumin kelompok perlakuan = rerata kadar albumin kelompok kontrol )2

Peneliti ingin meneliti perbedaan (1 - 2 = 0,7) sehingga diperlukan besar sampel minimal 18 orang/ kelompok. Total sampel yang terdiri dari kelompok perlakuan dan kelompok kontrol adalah 36 orang.

14

F. Desain Penelitian 1. Subyek yang telah menandatangani surat persetujuan akan dilakukan pengambilan sampel darah berupa darah rutin, kimia darah, albumin, prealbumin dan CD4 2. Subyek pada kedua kelompok yang masuk dalam kriteria inklusi akan diberikan suplemen ekstrak ikan gabus dalam bentuk kapsul selama 21 hari. 3. Pemeriksaan kontrol laboratorium akan dilakukan pada hari ke-4, hari ke-7, hari ke-14 dan terakhir hari ke-21, seperti tergambar dibawah.

Darah rutin Kimia darah Albumin Prealbumin CD4 0 4

Darah rutin Albumin Prealbumin

Darah rutin Albumin

Darah rutin Albumin

perlakuan Grup kontrol 21 CD4

14

(pemeriksaan laboratorium hari ke-....)

G. Definisi Operasional 1. Penderita HIV/AIDS adalah penderita dengan rapid test HIV positif. 2. Hipoalbuminemia adalah suatu keadaan penderita dewasa dengan kadar albumin serum di bawah normal (<3,5 g/l). 3. Proses perbaikan penderita HIV/AIDS adalah pemantauan kemajuan perbaikan penyakit HIV/AIDS. Proses perbaikan yang akan kami pantau pada penelitian ini adalah aspek laboratorium yaitu adanya peningkatan kadar prealbumin, albumin dan CD4 limfosit T.

15

4. Kapsul ikan gabus yang digunakan bermerk VipAlbumin yang mengandung 0,5 gram ekstrak ikan gabus, diproduksi dan disediakan oleh PT. Royal Medicalink Pharmalab, diberikan pada pasien dengan dosis 3x4 kapsul dalam sehari.

H. Kriteria Obyektif 1. Klasifikasi klinis penderita HIV/AIDS menurut sistem klasifikasi Center for Disease Control (CDC) 2. Kadar albumin adalah kadar albumin yang diperiksa dengan metode kolorimetri menggunakan alat otomatis ABX Pentra 400. Nilai rujukan albumin pada orang dewasa adalah 3,5 - 5 g/dl. 3. Kadar prealbumin adalah kadar prealbumin yang diperiksa dengan metode nepehelometri menggunakan alat minineph. Nilai rujukan 24,8 - 37,2 mg/dl. 4. Jumlah sel CD4 adalah jumlah CD4 yang diperiksa dengan menggunakan mesin BD FASCount dengan metode flow cytometry.

I. Metode Pengambilan Data Semua penderita yang dirawat dengan HIV/AIDS dan memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan meliputi : 1. Anamnesis untuk memperoleh karakteristik dan keadaan umum subyek, misalnya umur, lamanya faktor resiko, dan riwayat penyakit sebelumnya dengan menggunakan kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. 2. Pemeriksaan fisis untuk memperoleh informasi klinis keadaan subyek. 3. Pemeriksaan laboratorium meliputi : Pemeriksaan kadar CD4 16

Pemeriksaan serum albumin Pemeriksaan serum prealbumin Darah rutin Kimia darah (SGOT, SGPT, ureum, kreatinin) Pengambilan sampel darah sebanyak 6 cc tiap kali pengambilan. 4. Subyek dan keluarganya akan diberi penjelasan oleh peneliti tentang pemberian kapsul EIG merk VipAlbumin yang diproduksi dan disediakan oleh PT. Royal Medicalink Pharmalab dengan dosis 3x4 setiap hari selama 21 hari. Peneliti akan mengikuti perkembangan bersama dokter yang menangani subyek tersebut.

J. Persetujuan Etika Penelitian Tindakan Medik Pasien yang bersedia menjadi subyek penelitian diminta menandatangani formulir persetujuan tindakan medis.

K. Analisa Data Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS for windows versi 16. Metode statistik yang digunakan adalah deskriptif dan analitik. Metode deskriptif dilakukan dengan menghitung nilai rerata (mean) dan standar deviasi (SD) umur sampel, dan perhitungan sebaran frekuensi untuk jenis kelamin Metode analitik dilakukan dengan menggunakan uji statistik, yaitu: o Chi Square test untuk menilai sebaran jenis kelamin pada kedua kelompok sampel

17

o Mann-Whitney test untuk menilai perbedaan prealbumin dan albumin antara kelompok treatment (ALB) dengan kelompok Plasebo sebelum dan sesudah pemberian suplemen o Wilcoxon Signed Rank test untuk menilai perubahan kadar prealbumin dan albumin sesuai waktu follow-up o Hasil uji statistik dianggap signifikan jika nilai p<0,05

18

L. Alur Penelitian

Populasi terjangkau

Anamnesis & pemeriksaan fisis

Inklusi/Eksklusi/Drop out

Sampel penelitian

Pemeriksaan penunjang/intervensi

Pengumpulan data

Analisa data

Hasil penelitian

19

BAB V HASIL PENELITIAN

A. Karakteristik Subyek Penelitian Selama periode Januari 2011 hingga Oktober 2011, diperoleh sebanyak 36 subyek penelitian, terbagi dalam 2 kelompok (18 sampel per kelompok) yaitu kelompok kapsul ikan gabus (EIG) dan kelompok plasebo. Karakteristik umur subyek HIV/AIDS pada penelitian ini bervariasi antara 2253 tahun dengan rerata 29,76,7 tahun. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak yaitu 25 subyek (69,4%) sedangkan perempuan 11 subyek (30,6%), seperti terlihat pada tabel 3.

Tabel 3. Sebaran Jenis kelamin menurut kelompok Kelompok Jenis Kelamin Total EIG Plasebo n (%) n (%) 14 (77,8) 11 (61,1) 25 (69,4) Laki-Laki Perempuan 4 (22,2) 7 (38,9) 11 (30,6) 18 (100) 18 (100) 36 (100) Total Chi Square test (p=0,278) *EIG: ekstrak ikan gabus Meski tampak ada perbedaan persentase laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok sampel, namun hasil uji statistik menunjukkan perbedaan tersebut tidak bermakna (p>0,05). Dengan demikian, dianggap bahwa sebaran jenis kelamin adalah homogen pada kedua kelompok sampel. Analisis data lebih lanjut dilakukan uji Mann-Whitney test untuk melihat perbedaan antara kelompok EIG dengan kelompok plasebo sebelum dan sesudah pemberian suplemen.

20

Karakteristik klinis maupun laboratorium pada kedua kelompok subyek saat awal penelitian (baseline), seperti terlihat pada tabel 4. Tabel 4. Karakteristik klinis dan laboratorium menurut kelompok sebelum pemberian suplemen Kelompok Umur (th) Prealbumin (g/dl) Protein (g/dl) Albumin (g/dl) Globulin (g/dl) CD4 Mann-Whitney test EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo Rerata 30,8 SD 8,5 p

0,799 28,6 4,4 7,3 3,2 0,849 7,7 5,2 6,5 1,2 0,009 5,5 0,9 2,5 0,5 0,065 2,2 0,5 3,9 1,2 0,043 3,4 0,8 18,4 18,6 0,066 9,3 7,8 *EIG: ekstrak ikan gabus

Tabel 4 menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) pada umur, kadar prealbumin, albumin dan CD4 antara kelompok EIG dengan plasebo. Namun dari hasil analisis ditemukan ada perbedaan bermakna kadar protein (p<0,01) dan globulin (p<0,05) antara kelompok EIG dengan kelompok plasebo. Kadar protein pada kelompok EIG (6,5 g/dl) lebih tinggi dibandingkan kelompok plasebo (5,5 g/dl), dan kadar globulin kelompok EIG (3,9 g/dl) lebih tinggi dibandingkan kelompok plasebo (3,4 g/dl).

B. Perbandingan Karakteristik Laboratorium Setelah Pemberian Suplemen Setelah pemberian suplemen, didapatkan perbedaan kadar prealbumin bermakna (p<0,001) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-4. Kadar prealbumin kelompok EIG (20,8 g/dl) lebih tinggi dibanding plasebo (9,0 g/dl). Demikian pula kadar albumin 21

didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok EIG dan plasebo, dimana kadar albumin kelompok EIG lebih tinggi dibanding plasebo pada hari-4 (p<0,05), hari-7 (p<0,05), hari-14 (p<0,001) dan hari-21 (p<0,001). Sedang kadar CD4, tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-21. Seperti yang terlihat pada tabel 5.

Tabel 5. Rerata Prealbumin, Albumin dan CD4 Setelah Pemberian Suplemen Kelompok EIG dan Plasebo Variabel Prealbumin Albumin Albumin Albumin Albumin CD4 Follow-up Hari-4 Hari-4 Hari-7 Hari-14 Hari-21 Hari-21 Kelompok EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo EIG Plasebo Rerata SD P 20,8 4,6 0,000 9,0 5,3 2,6 0,5 0,030 2,2 0,6 2,6 0,4 0,019 2,2 0,6 3,2 0,3 0,000 2,2 0,5 3,5 0,4 0,000 2,3 0,5 17,4 18,0 0,058 8,7 6,8 *EIG: ekstrak ikan gabus

Mann-Whitney test

22

Awal

Hari ke -4

EIG

Plasebo

EIG

Plasebo

Gambar 1. Perbandingan kadar prealbumin kelompok EIG dan placebo menurut waktu follow-up

Awal

Hari ke -4

Hari ke -7

Hari ke -14

Hari ke -21

EIG

Plasebo

EIG

Plasebo

EIG

Plasebo

EIG

Plasebo

EIG

Plasebo

Gambar 2. Perbandingan kadar albumin kelompok EIG dan placebo menurut waktu follow-up 23

C. Perbandingan Karakteristik Sebelum dan Setelah Pemberian Suplemen Perbandingan status sebelum dan setelah pemberian suplemen pada kedua kelompok dari hasil analisa data seperti yg terlihat pada tabel 6 dan 7. Tabel 6. Rerata Prealbumin dan Albumin Sebelum dan Setelah Pemberian Suplemen Pada Kelompok EIG dan Plasebo Kelompok EIG Variabel Prealbumin Albumin Follow-up Hari-0 Hari-4 Hari-0 Hari-4 Hari-7 Hari-14 Plasebo Prealbumin Hari-21 Hari-0 Rerata 7,3 20,8 2,5 2,6 2,6 3,2 3,5 7,7 SD 3,2 4,6 0,5 0,5 0,4 0,3 0,4 5,2 P 0,000 0,002 0,001 0,000 0,000 0,001

Hari-4 Albumin Hari-0 Hari-4 Hari-7 Hari-14 Hari-21 Wilcoxon Signed Ranks test

9,0 5,3 2,2 0,5 0,851 2,2 0,6 2,2 0,6 0,609 2,2 0,5 0,176 2,3 0,5 0,028 *EIG: ekstrak ikan gabus

Analisis pada kelompok EIG, tampak peningkatan kadar prealbumin bermakna (p>0,001) antara saat awal dan hari-4 dari 7,3 g/dl menjadi 20,8 g/dl (185%). Demikian pula, kadar albumin meningkat bermakna antara saat awal dan hari-4 (p<0,01), hari-7 (p<0,01), hari-14 (p<0,001) dan hari-21 (p<0,001). Analisis pada kelompok plasebo, tampak peningkatan kadar prealbumin bermakna (p<0,01) antara saat awal dan hari-4 dari 7,7 g/dl menjadi 9,0 g/dl (17%). Tidak ada perbedaan kadar albumin bermakna antara saat awal dan hari-4 (p>0,05), hari-7 (p>0,05), 24

dan hari-14 (p>0,05). Akan tetapi, tampak peningkatan kadar albumin bermakna (p<0,05) antara saat awal dan hari-21 dari 2,2 g/dl menjadi 2,3 g/dl (4%).

Tabel 7. Rerata CD4 Sebelum dan Setelah Pemberian Suplemen Pada Kelompok EIG dan Plasebo Kelompok ALB Plasebo Variabel CD4 CD4 Follow-up Hari-0 Hari-21 Hari-0 Hari-21 Rerata 18,4 SD 18,6 P

Wilcoxon Signed Ranks test

0,020 17,4 18,0 9,3 7,8 0,180 8,7 6,8 *EIG: ekstrak ikan gabus

Analisis pada kelompok EIG, tampak penurunan kadar CD4 bermakna (p<0,05) antara saat awal dan hari-21 dari 18,4 menjadi 17,4 (5%), seperti terlihat pada gambar 3. Analisis pada kelompok plasebo, tidak ada perbedaan kadar CD4 (p>0,05) bermakna antara saat awal dan hari-21, seperti terlihat pada gambar 3 .

EIG

PLASEBO

Awal

Hari ke-21

Awal

Hari ke-21

Gambar 3. Perbandingan kadar CD4 kelompok EIG dan plasebo 25

BAB VI PEMBAHASAN

Selama periode Januari 2011 hingga Oktober 2011, diperoleh sebanyak 36 subyek penelitian, terbagi dalam 2 kelompok (18 sampel per kelompok) yaitu kelompok kapsul ikan gabus (EIG) dan kelompok plasebo. Karakteristik umur subyek HIV/AIDS pada penelitian ini bervariasi antara 2253 tahun dengan rerata 29,76,7 tahun. Jenis kelamin laki-laki lebih banyak yaitu 25 subyek (69,4%) sedangkan perempuan 11 subyek (30,6%). Meski tampak ada perbedaan persentase laki-laki dan perempuan pada kedua kelompok sampel, namun hasil uji statistik menunjukkan perbedaan tersebut tidak bermakna (p>0,05). Dengan demikian, dianggap bahwa sebaran jenis kelamin adalah homogen pada kedua kelompok sampel. Pada semua subyek ditemukan keadaan malnutrisi, hipoalbumin dan CD4 yang rendah. Pada penelitian ini dilakukan juga pemeriksaan prealbumin yang pada beberapa kepustakaan dikatakan sebagai marker yang sensitif untuk menilai status nutrisi. 24 Progresivitas perjalanan penyakit HIV sangat ditentukan oleh status gizi penderita. 3 Malnutrisi dapat terjadi pada seluruh fase infeksi HIV. Kebanyakan masalah gizi terjadi bersamaan dengan peningkatan jumlah virus dalam darah (viral load), infeksi oportunistik, dan perkembangan resistensi virus.4 Menurut Stepanuk (2000) ada hubungan depresi kadar albumin dengan penurunan daya tahan tubuh terhadap infeksi yang memperlambat penyembuhan, peningkatan mordibitas dan mortalitas serta lamanya masa perawatan di rumah sakit. Sebaliknya peningkatan kadar albumin dapat dihubungkan adanya perbaikan sistem imunitas dan perbaikan jaringan/sel yang rusak akibat infeksi. 25 26

Hedge dkk (1999), melaporkan penurunan jumlah CD4 limfosit T merupakan suatu efek fisiologis malnutrisi yang dapat berakibat anergi. Malnutrisi, dan beberapa stressor pada HIV seperti kadar mikronutiren abnormal, infeksi oportunistik mempunyai kontribusi dalam memburuknya fungsi imun penderita HIV/AIDS. Malnutrisi menyebabkan imunodefisiensi melalui deplesi CD4 limfosit T dan menurunkan cell mediated immunity.17 Pada malnutrisi kronik terdapat kelainan yang bermakna pada imunitas selluler, yaitu penurunan jumlah limfosit T, penurunan aktivitas sel natural killer (NK) dan produksi IL-2, penurunan/perlambatan respons hipersensitivitas terhadap antigen yang dikenal, penurunan fungsi sel B (penurunan jumlah imunoglobulin yang disekresikan, penurunan aktivitas komplemen), dan penurunan kemampuan netrofil untuk memfagositosis dan membunuh bakteri.6 Pada penelitian ini setelah dilakukan analisis efek pemberian suplemen antara kelompok EIG dan kelompok plasebo, maka didapatkan perbedaan kadar prealbumin bermakna (p<0,001) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-4. Kadar prealbumin kelompok EIG (20,8 g/dl) lebih tinggi dibanding plasebo (9,0 g/dl). Demikian pula kadar albumin didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok EIG dan plasebo, dimana kadar albumin kelompok EIG lebih tinggi dibanding plasebo pada hari-4 (p<0,05), hari-7 (p<0,05), hari-14 (p<0,001) dan hari-21 (p<0,001). Sedang kadar CD4, tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) antara kelompok EIG dan plasebo pada hari-21. Hasil ini sama dengan yang dilaporkan oleh Taslim dkk. (2005) dengan pemberian nutrisi tinggi kalori tinggi protein dan tambahan ekstrak ikan gabus pada sejumlah pasien yang dirawat di rumah sakit terjadi peningkatan kadar albumin bermakna, dibanding kelompok kontrol.33 Hidayanti (2006) meneliti, pemberian nutrisi tinggi kalori tinggi protein dan tambahan kapsul konsentrat ikan gabus pada pasien pasca bedah dan 27

menemukan peningkatan kadar albumin bermakna, dibanding kelompok kontrol. 26 Begitu juga Salma (2007) yang meneliti pengaruh pemberian kapsul ikan gabus terhadap kadar albumin dan status gizi pasien HIV/AIDS. Didapatkan peningkatan kadar albumin 0,6 mg/dl pada kelompok intervensi dibanding kontrol setelah 14 hari pemberian kapsul ikan gabus.23 Selain itu dilakukan juga analisis efek pemberian suplemen pada masing-masing kelompok EIG dan kelompok plasebo berdasarkan follow up. Hasil yang didapatkan, pada kelompok EIG, tampak peningkatan kadar prealbumin bermakna (p>0,001) antara saat awal dan hari-4 dari 7,3 g/dl menjadi 20,8 g/dl (185%). Demikian pula, kadar albumin meningkat bermakna antara saat awal dan hari-4 (p<0,01), hari-7 (p<0,01), hari-14 (p<0,001) dan hari-21 (p<0,001). Hal yang sama juga terlihat pada kelompok plasebo, kadar prealbumin meningkat bermakna (p<0,01) antara saat awal dan hari-4 dari 7,7 g/dl menjadi 9,0 g/dl (17%). Walaupun tidak ada perbedaan kadar albumin bermakna antara saat awal dan hari-4 (p>0,05), hari-7 (p>0,05), dan hari-14 (p>0,05), akan tetapi didapatkan peningkatan kadar albumin bermakna (p<0,05) antara saat awal dan hari-21 dari 2,2 g/dl menjadi 2,3 g/dl (4%). Hasil di atas menunjukkan bahwa prealbumin dapat dipakai sebagai petanda malnutrisi yang lebih baik dibanding albumin. Pada kelompok EIG didapatkan peningkatan bermakna kadar prealbumin (13,7 mg/dl) pada hari ke-4, demikian juga kelompok plasebo (1,3 mg/dl). Meski ada kecenderungan peningkatan pada kedua kelompok namun peningkatan yang lebih besar didapatkan pada kelompok EIG dibanding plasebo. Hal ini sesuai dengan Devoto dkk yang melakukan penelitian pada 108 subyek rawat inap dan mendapatkan prealbumin merupakan alat diagnosis yang spesifik dan sensitif untuk menilai status nutrisi.27 28

Hasil analisis pada kelompok EIG, tampak penurunan kadar CD4 bermakna (p<0,05) antara saat awal dan hari-21 dari 18,4 menjadi 17,4 (5%). Sedangkan pada kelompok plasebo, tidak ada perbedaan bermakna kadar CD4 (p>0,05) antara saat awal dan hari-21. Pada hasil analisa kadar CD4, walaupun terlihat perbedaan bermakna saat follow up pada masing-masing kelompok, namun didapatkan hasil yang tidak bermakna apabila dibandingkan antara kelompok EIG dan plasebo. Hal ini mungkin karena pada penelitian ini pemberian suplemen EIG tidak disertai terapi ARV yang mampu mengurangi kepadatan virus (viral load) dalam tubuh penderita. Studi menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pengeluaran energi basal atau kecepatan metabolisme basal pada infeksi HIV, dan hal ini biasanya berhubungan dengan infeksi sekunder dan viral load.28

29

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Didapatkan kecenderungan perbaikan kadar prealbumin lebih baik pada kelompok EIG dibanding kelompok plasebo setelah pemberian terapi selama 4 hari pada penderita HIV/AIDS 2. Didapatkan kecenderungan perbaikan kadar albumin lebih baik pada kelompok EIG dibanding kelompok plasebo setelah pemberian terapi selama 21 hari pada penderita HIV/AIDS 3. Tidak didapatkan perbedaan bermakna kadar CD4 pada kelompok EIG dibanding kelompok plasebo setelah pemberian terapi selama 21 hari pada penderita HIV/AIDS

B. Saran Ekstrak ikan gabus dapat diberikan sedini mungkin kepada penderita HIV/AIDS untuk mencegah penurunan lebih lanjut kadar albumin penderita yang menjadi salah satu parameter status malnutrisi.

C. Keterbatasan Keterbatasan penelitian ini adalah tidak dilakukannya food recall pada subyek sehingga tidak dapat dipastikan bahwa perbaikan kadar prealbumin dan albumin bukan dari sebab lain seperti asupan makanan.

30