Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP. Penyakit akibat KEP ini dikenal dengan Kwashiorkor, Marasmus, dan Marasmic Kwashiorkor. Kwashiorkor disebabkan karena kurang protein. Marasmus disebabkan karena kurang energi dan Manismic Kwashiorkor disebabkan karena kurang energi dan protein. KEP umumnya diderita oleh balita dengan gejala hepatomegali (hati membesar). Tanda-tanda anak yang mengalami Kwashiorkor adalah badan gemuk berisi cairan, depigmentasi kulit, rambut jagung dan muka bulan (moon face). Tandatanda anak yang mengalami Marasmus adalah badan kurus kering, rambut rontok dan flek hitam pada kulit. KEP juga salah satu penyumbang tingginya angka gizi buruk di Indonesia. Indonesia mempunyai masalah gizi yang besar ditandai dengan masih besarnya prevalensi gizi kurang pada anak balita. Prevalensi gizi kurang pada periode 19891999 menurun dari 29.5% menjadi 27.5% atau rata-rata terjadi penurunan 0.40% per tahun, namun pada periode 2000-2005 terjadi peningkatan prevalensi gizi kurang dari 24.6% menjadi 28.0% . Prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan laporan propinsi selama tahun 2005 terdapat 76.178 balita mengalami gizi buruk dan data Susenas tahun 2005 memperlihatkan prevalensi balita gizi buruk sebesar 8.8%. Pada tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kasus gizi buruk di beberapa propinsi dan yang tertinggi terjadi di dua propinsi yaitu Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat. Pada tanggal 31 Mei 2005, Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan masalah gizi buruk yang terjadi di NTT sebagai KLB, dan Menteri Kesehatan telah mengeluarkan edaran tanggal 27 Mei

tahun 2005, Nomor 820/Menkes/V/2005 tentang penanganan KLB gizi buruk di propinsi NTB. Berdasarkan masalah diatas, dalam makalah ini kelompok ingin membahas lebih lanjut mengenai penyebab KEP karena kwashiorkor. 1.2 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian kwashioskor 2. Mengetahui tanda dan gejala kwashioskor 3. Mengetahui penyebab kwashioskor 4. Penatalaksanaan pada kwashioskor 5. Asuhan Keperawatan mulai dari Pengkajian sampai Evaluasi pada kwashioskor.

1.3 Manfaat
1. Bagi mahasiswa keperawatan, dapat menambah pengetahuan dan pemahaman

tentang kwashioskor serta asuhan keperawatannya.


2. Bagi masyarakat, dapat memberikan informasi mengenai kwashioskor sehingga

dapat diambil tindakan pencegahan yang sesuai.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Kwashiorkor Kwashiokor adalah bentuk kekurangan kalori protein yang berat, yang amat sering terjadi pada anak kecil umur 1 dan 3 tahun (Jelliffe, 1994). Kwashiorkor adalah suatu sindroma klinik yang timbul sebagai suatu akibat adanya kekurangan protein yang parah dan pemasukan kalori yang kurang dari yang dibutuhkan (Behrman dan Vaughan, 1994). Kwashiorkor adalah penyakit gangguan metabolik dan perubahan sel yang menyebabkan perlemahan hati yang disebabkan karena kekurangan asupan kalori dan protein dalam waktu yang lama (Ngastiyah, 1997). Jadi dapat disimpulkan kwashiokor adalah sindrom klinis yang diakibatkan dari defisiensi protein berat dan asupan kalori yang tidak adekuat. Dari kekurangan masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turut menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut. B. Etiologi Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut antara lain : 1. Pola makan Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, namun tidak semua makanan mengandung protein atau asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dll) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI. 2. Faktor sosial
3

Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun temurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor. 3. Faktor ekonomi Kemiskinan keluarga atau penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, dan dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya. 4. Faktor infeksi dan penyakit lain Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Seperti gejala malnutrisi protein disebabkan oleh gangguan penyerapan protein, misalnya yang dijumpai pada keadaan diare kronis, kehilangan protein secara tidak normal pada proteinuria (nefrosis), infeksi saluran pencernaan, serta kegagalan mensintesis protein akibat penyakit hati yang kronis. Infeksi pernapasan (termasuk TBC dan batuk rejan) yang menambah kebutuhan tubuh akan protein dan dapat mempengaruhi nafsu makan. C. INSIDENSI DAN EPIDEMIOLOGI Kwashiorkor dijumpai terutama pada golongan umur tertentu yaitu bayi pada masa menyusui dan pada anak prasekolah, 1 hingga 3 tahun yang merupakan golongan umur yang relatif memerlukan lebih banyak protein untuk tumbuh sebaik-baiknya. Sindrom demikian kemudian dilaporkan oleh berbagai negeri terutama negeri yang sedang berkembang seperti Afrika, Asia, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan bagian-bagian termiskin di Eropa. Penyakit ini banyak terdapat anak dari golongan penduduk yang berpenghasilan rendah. Ini dapat dimengerti karena protein yang bermutu baik terutama pada bahan makanan yang berasal dari hewan seperti protein, susu, keju, telur, daging, dan ikan. Bahan makanan tersebut cukup mahal , sehingga tidak terjangkau oleh mereka yang berpenghasilan rendah.
4

Akan tetapi faktor ekonomi bukan merupakan satu-satunya penyebab penyakit ini. Ada berbagai protein nabati yang bernilai cukup baik, misalnya kacang kedele, kacang hijau, dan sebagainya, akan tetapi karena mereka tidak mengetahui atau tidak menyadari, bahan makanan tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. Pengetahuan yang kurang tentang nilai bahan makanan, cara pemeliharaan anak, disamping ketakhyulan merupakan faktor tambahan dari timbulnya penyakit kwashiorkor. Keadaan higiene yang buruk, sehingga mereka mudah dihinggapi infeksi dan infestasi parasit dan timbulnya diare mempercepat atau merupakan trigger mechanisme dari penyakit ini. D. Manifestasi Klinik Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan Malnutrisi protein berat khususnya Kwashiorkor, antara lain : 1. Wujud Umum Secara umum penderita kwashiorkor tampak pucat, kurus, atrofi pada ekstremitas, adanya edema pedis dan pretibial serta asites. Muka penderita ada tanda moon face dari akibat terjadinya edema. 2. Retardasi Pertumbuhan Gejala yang penting ialah pertumbuhan yang terganggu. Selain berat badan, tinggi badan juga kurang dibandingkan dengan anak sehat. 3. Perubahan Mental Biasanya penderita cengeng, hilang nafsu makan dan rewel. Pada stadium lanjut bisa menjadi apatis. Kesadarannya juga bisa menurun, dan anak menjadi pasif. 4. Edema Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun berat. Edemanya bersifat pitting. Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia, gangguan dinding kapiler, dan hormonal akibat darigangguan eliminasi ADH. 5. Kelainan Rambut Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture),maupun warnanya. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut kepala yang mudah tercabut tanpa rasa sakit. Pada penderita kwashiorkor lanjut, rambut akan

tampak kusam, halus, kering, jarang dan berubah warna menjadi putih. Sering bulu mata menjadi panjang. 6. Kelainan Kulit Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit. Pada sebagian besar penderita dtemukan perubahan kulityang khas untuk penyakit kwashiorkor, yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan. Terutama bila tekanan itu terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta, seperti pada bokong, fosa politea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, dan sebagainya. Perubahan kulit demikian dimulai dengan bercak- bercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam. Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh tepi yangmasih hitam oleh hiperpigmentasi. 7. Kelainan Gigi dan Tulang Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi,osteoporosis, dan hambatan pertumbuhan. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita. 8. Kelainan Hati Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, bisa juga ditemukan biopsi hati yang hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar. Sering juga ditemukan tanda fibrosis, nekrosis, da infiltrasi sel mononukleus. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi faktor lipotropik. 9. Kelainan Darah dan Sumsum Tulang Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. Bila disertai penyakit lain, terutama infestasi parasit (ankilostomiasis,amoebiasis) maka dapat dijumpai anemia berat. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien yang penting untuk pembentukan darahseperti Ferum, vitamin B kompleks (B12, folat, B6). Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia sumsum tulangdisebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. Defisiensi protein juga menyebabkan gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya terjadi defek imunitas seluler, dan gangguan sistemkomplimen.
6

10. Kelainan Pankreas dan Kelenjar Lain Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis, lakrimal, salivadan usus halus terjadi perlemakan. 11. Kelainan Jantung Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung disebabkan hipokalemi dan hipmagnesemia. 12. Kelainan Gastrointestinal Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. Anoreksia kadang-kadang demikian hebatnya, sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. Hal ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu berupa infeksi atau infestasi usus, intoleransi laktosa, dan malabsorbsi lemak. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase. Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi garam empedu, konyugasi hati, defisiensi lipase pankreas, dan atrofi villi mukosa usus halus. E. Komplikasi Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen.

F. Pathway

Gangguan dan

pertumbuhan b/d

perkembangan

asupan kalori dan protein yang tidak adekuat.

Perubahan Kekurangan volume cairan b/d peroral penurunan dan asupan peningkatan

nutrisi

kurang

dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat

kehilangan akibat diare.

Kwashiorkor

Absorbsi Makanan Terganggu Konsumsi Makanan Kurang (Protein)

Protein Kurang

Diare

Persediaan Pangan Kurang

Penyakit Infeksi dan investasi cacing

Produksi Bahan Pangan Rendah

Hyegine kurang

Negara Ekonomi Rendah 8

G. PATOFISIOLOGI Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yangsangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kaloridalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Karenakekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam aminodalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot, makin kurangnya asam amino dalam serum ini akanmenyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta liprotein, sehingga transport lemak dari hati terganggudengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Fisik a. Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan, persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain. b. Pengkajian secara umum dilakukan dengan metode head to too yang meliputi: keadaan umum dan status kesadaran, tanda-tanda vital, area kepala dan wajah, dada, abdomen, ekstremitas dan genito-urinaria. c. Fokus pengkajian pada anak dengan Kwashiorkor adalah pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkaran lengan atas dan tebal lipatan kulit). Tanda dan gejala yang mungkin didapatkan adalah: Penurunan ukuran antropometri Perubahan rambut (defigmentasi, kusam, kering, halus, jarang dan mudah dicabut) Gambaran wajah seperti orang tua (kehilangan lemak pipi), edema palpebra Tanda-tanda gangguan sistem pernapasan (batuk, sesak, ronchi, retraksi otot intercostal) Perut tampak buncit, hati teraba membesar, bising usus dapat meningkat bila terjadi diare. Edema tungkai Kulit kering, hiperpigmentasi, bersisik dan adanya crazy pavement dermatosis terutama pada bagian tubuh yang sering tertekan (bokong, fosa popliteal, lulut, ruas jari kaki, paha dan lipat paha). 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang mungkin dapat ditemukan pada anak dengan Kwashiorkor adalah: 1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat
10

2) Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare. 3) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat. 3. Rencana Keperawatan 1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare . Kriteria hasil : Keluarga klien dapat menjelaskan penyebab gangguan nutrisi yang dialami klien, kebutuhan nutrisi pemulihan, susunan menu dan pengolahan makanan sehat dietetik. Intervensi : 1. 2. 3. Tunjukkan cara pemberian makanan personde, beri kesempatan Timbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan Tingkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan keluarga untuk melakukannya sendiri. kulit setiap pagi. nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan selama hospitalisasi. 4. Tingkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien. 2) Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare. Kriteria hasil : Asupan cairan adekuat sesuai kebutuhan ditambah defisit yang terjadi. Tidak ada tanda/gejala dehidrasi (tanda-tanda vital dalam batas normal, frekuensi defekasi 1 x/24 jam dengan konsistensi padat/semi padat). Intervensi :
11

seimbang.

Dengan

bantuan

perawat,

keluarga

klien

dapat

mendemonstrasikan pemberian diet (per sonde/per oral) sesuai program

1. 2.

Lakukan/observasi pemberian cairan per infus/sonde/oral sesuai Jelaskan kepada keluarga tentang upaya rehidrasi dan partisipasi

program rehidrasi. yang diharapkan dari keluarga dalam pemeliharan patensi pemberian infus/selang sonde. 3. 4. 5. 6. Kaji perkembangan keadaan dehidarasi klien dan kaji adanya tanda Hitung input dan output cairan pasien. Upaya rehidrasi perlu dilakukan untuk mengatasi masalah Tingkatkan pemahaman keluarga tentang upaya rehidrasi dan tanda dehidrasi pada klien.

kekurangan volume cairan. peran keluarga dalam pelaksanaan terpi rehidrasi. 3) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat . Kriteria hasil : Pertumbuhan fisik (ukuran antropometrik) sesuai standar usia. Perkembangan motorik, bahasa/ kognitif dan personal/sosial sesuai standar usia. Intervensi : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan Lakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet Lakukan pengukuran antropometrik secara berkala. Lakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien. Lakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhan Tingkatkan pengetahuan keluarga tentang keterlambatan tugas-tugas perkembangan sesuai usia anak. pemulihan.

dan perkembangan (Puskesmas/Posyandu) pertumbuhan dan perkembangan anak. Stimulasi diperlukan untuk mengejar keterlambatan perkembangan anak dalam aspek motorik, bahasa dan personal/sosial.

12

8. ada.

Mempertahankan kesinambungan program stimulasi pertumbuhan

dan perkembangan anak dengan memberdayakan sistem pendukung yang

4. Implementasi 1) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, anoreksia dan diare . a. Menunjukkan cara pemberian makanan personde, beri kesempatan keluarga untuk melakukannya sendiri. b. Menimbang berat badan, ukur lingkar lengan atas dan tebal lipatan kulit setiap pagi. c. Meningkatkan pemahaman keluarga tentang penyebab dan kebutuhan nutrisi untuk pemulihan klien sehingga dapat meneruskan upaya terapi dietetik yang telah diberikan selama hospitalisasi. d. Meningkatkan partisipasi keluarga dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi klien, mempertegas peran keluarga dalam upaya pemulihan status nutrisi klien. 2) Kekurangan volume cairan tubuh b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare. a. Melakukan/observasi pemberian cairan per infus/sonde/oral sesuai program rehidrasi. b. Menjelaskan kepada keluarga tentang upaya rehidrasi dan partisipasi yang diharapkan dari keluarga dalam pemeliharan patensi pemberian infus/selang sonde. c. Mengkaji perkembangan keadaan dehidarasi klien dan kaji adanya tanda tanda dehidrasi pada klien. d. Menghitung input dan output cairan pasien. e. Mengupayakan rehidrasi perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kekurangan volume cairan. f. Meningkatkan pemahaman keluarga tentang upaya rehidrasi dan peran keluarga dalam pelaksanaan terpi rehidrasi.
13

3) Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat . a. Mengajarkan kepada orang tua tentang standar pertumbuhan fisik dan tugas-tugas perkembangan sesuai usia anak. b. Melakukan pemberian makanan/ minuman sesuai program terapi diet pemulihan. c. Melakukan pengukuran antropometrik secara berkala. d. Melakukan stimulasi tingkat perkembangan sesuai dengan usia klien. e. melakukan rujukan ke lembaga pendukung stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (Puskesmas/Posyandu) f. Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan anak. g. Menstimulasi diperlukan untuk mengejar keterlambatan perkembangan anak dalam aspek motorik, bahasa dan personal/sosial. h. Mempertahankan kesinambungan program stimulasi pertumbuhan dan perkembangan anak dengan memberdayakan sistem pendukung yang ada.

5. Evaluasi Evaluasi pada asuhan keperawatan dengan pasien kwashiorkor adalah pemenuhan nutrisi pada pasien dapat terpenuhi secara optimal sesuai dengan kebutuhan pasien dan keluarga mampu memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri.

14

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Dari pembahasan tentang ashuan keperawatan anak kwashiorkor di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Kwashiokor adalah sindrom klinis yang diakibatkan dari defisiensi protein berat

dan asupan kalori yang tidak adekuat. Dari kekurangan masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turut menimbulkan tanda-tanda dan gejala-gejala tersebut. 2. Etiologinya adalah meliputi faktor makanan, faktor sosial, ekonomi dan penyakit/ infeksi lainnya.
3. Insidensinya kwashiorkor dijumpai terutama pada golongan umur tertentu yaitu

bayi pada masa menyusui dan pada anak prasekolah, 1 hingga 3 tahun yang merupakan golongan umur yang relatif memerlukan lebih banyak protein untuk tumbuh sebaik-baiknya. 4. Manifestasi klinis yang dapat terjadi adalah retardasi pertumbuhan, perubahan mental, edema, kelainan rambut, kelainan kulit, gigi dan tulang, darah dan sumsum tulang, pankreas, jantung serta Gastrointestinal.
5. Komplikasi secara umum adalah anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah

untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun.


6. Diagnosa keperawatan yang dapat di tegakkan adalah Perubahan nutrisi kurang

dari kebutuhan tubuh b/d asupan yang tidak adekuat, Kekurangan volume cairan b/d penurunan asupan peroral dan peningkatan kehilangan akibat diare, Gangguan pertumbuhan dan perkembangan b/d asupan kalori dan protein yang tidak adekuat. 4.2 Saran Diharapkan bagi ibu yang mempunyai anak untuk menjaga kondisi gizi anaknya terutama yang bekaitan gizinya dan untuk pembaca diharapkan juga dapat mengkritisi makalah yang kami buat demi kesempurnaan makalah kami.

15

DAFTAR PUSTAKA Wong dkk.2002. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik WONG, Ed. 6, Vol. 1. Jakarta : EGC. Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. www.depkes.go.id diakses pada tanggal 26 Februari 2012.

16