Anda di halaman 1dari 24

Telaah Singkat tentang Syed Muhammad Naquib Al Attas Beliau bernama lengkap Syed Muhammad Naquib bin Ali

bin Abdullah bin Muhsin bin Muhammad al-Attas lahir pada tanggal 5 September 1931 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Silsilah resmi keluarga Naquib al-Attas yang terdapat dalam koleksi pribadinya menunjukkan bahwa beliau merupakan keturunan ke 37 dari Nabi Muhammad SAW melalui Sayyidina Hussain. Gelar syed yang beliau sandang berasal dari kata sayyid yang menunjukkan bahwa beliau keturunan langsung dari Rasulullah SAW. Kondisi sosial dan politik sebelum dan sesudah kelahiran al-Attas tidak bisa dilepaskan dari dua kawasan di mana al-Attas lahir, besar dan berkembang menjadi seorang sosok yang mampu melahirkan pemikiran-pemikiran yang paling tidak mempunyai pengaruh besar terhadap dua kawasan, yaitu di Bogor (Jawa Barat) dan semenanjung Malaysia. Al-Attas yang lahir dan menempuh masa kecil di Bogor telah ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang kuat dari keluarganya yang masih termasuk golongan bangsawan Sunda. Sementara masa remajanya ia habiskan bersama keluarganya di Johor dan ia mendapatkan pendidikan dalam bidang bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu hingga akhirnya menetap di sana. Ia lahir pada tahun 1931 di Bogor di mana pada saat itu, baik di Pulau Jawa maupun di semenanjung Malaysia masih berada dalam kekuasaan kolonial Belanda dan Inggris. Dari pihak ayah, kakek Naquib al-Attas yang bernama Syed Abdullah ibn Muhsin ibn Muhammad al-Attas adalah seorang wali yang pengaruhnya tidak hanya terasa di Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Arab. Neneknya, Ruqayah Hanum, adalah wanita Turki keturunan bangsawan yang menikah dengan Ungku Abdul Majid, adik Sultan Johor. Setelah Ungku Abdul Majid meninggal dunia, Ruqayah menikah untuk yang kedua kalinya dengan Syed Abdullah al-Attas dan dikaruniai seorang anak, Syed Ali al-Attas, yaitu bapak Naquib al-Attas. Ibunya yang bernama Syarifah Raquan AlAydarus berasal dari Bogor dan masih keturunan keluarga raja Sunda di Sukapura, Jawa Barat. Di antara leluhur ibunya ada yang menjadi wali dan ulama. Salah seorang di antara mereka adalah Syed Muhammad Al-Aydarus, guru dan pembimbing ruhani Syed Abu Hafs Umar ba Syaiban dari

Hadramaut, yang mengantarkan Nur Al-Din Al-Raniri, salah seorang alim ulama terkemuka di dunia Melayu, ke tarekat Rifaiyyah. Naquib al-Attas adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Yang sulung bernama Syed Hussein al-Attas, seorang ahli sosiologi dan mantan wakil rektor Universitas Malaya, sedangkan yang bungsu bernama Syed Ali al-Attas merupakan seorang insinyur kimia dan mantan dosen Institut Teknologi MARA Malaysia. Melihat garis keturunan di atas, bisa dikatakan bahwa al-Attas merupakan bibit unggul dalam percaturan perkembangan intelektual Islam di Indonesia dan Malaysia. Faktor intern keluarga al-Attas inilah yang selanjutnya membentuk karakter dasar dalam dirinya. Bimbingan orang tua dalam lima tahun pertama merupakan penanaman sifat dasar bagi kelanjutan hidupnya. Orang tuanya yang sangat religius memberikan pendidikan dasar yang sangat kuat. Dari keluarganya yang terdapat di Bogor, beliau memperoleh pendidikan dalam ilmu-ilmu keislaman, sedangkan dari keluarganya di Johor, beliau memperoleh pendidikan yang sangat bermanfaat dalam mengembangkan dasar-dasar bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu. Ketika berusia lima tahun, al-Attas dikirim ke Johor untuk belajar di Sekolah Dasar Ngee Heng Primary School sampai ia berusia 10 tahun. Disana, beliau tinggal dengan pamannya, Ahmad, kemubeliaun dengan bibinya, Azizah, keduanya adalah anak Ruqayah Hanum dari suaminya yang pertama. Dato Jaafar ibn Haji Muhammad (w. 1919), Kepala Menteri Johor Modern yang pertama. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan yakni ketika Jepang menguasai Malaysia, maka al-Attas kembali lagi ke Jawa untuk meneruskan pendidikannya di Madrasah Urwah al-wusqa, Sukabumi (1941-1945), sebuah lembaga pendidikan yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar. Setelah Perang Dunia II pada 1946, al-Attas kembali ke Johor untuk merampungkan pendidikan selanjutnya, pertama di Bukit Zahrah School kemubeliaun di English College (1946-1951). Pada masa ini, beliau tinggal dengan salah seorang pamannya yang bernama Ungku Abul Aziz, keponakan Sultan yang kelak menjadi Kepala Menteri Johor. Ungku Abdul Aziz memiliki perpustakaan manuskrip Melayu yang bagus, terutama manuskrip sastra dan sejarah Melayu.

Sewaktu tinggal di rumah pamannya al-Attas banyak menghabiskan masa mudanya dengan membaca dan mendalami manuskrip-manuskrip sejarah, sastra, dan agama, serta buku-buku klasik Barat dalam bahasa Inggris yang tersebeliau di perpustakaan keluarganya yang lain. Lingkungan keluarga berpendidikan dan bahan-bahan bacaan seperti inilah yang menjadi faktor pendukung yang memungkinkan al-Attas mengembangkan gaya bahasa yang baik, yang kelak mempengaruhi gaya tulisan dan tutur bahasanya. Keterlibatan al-Attas dengan sejumlah manuskrip pada masa remaja memiliki kesan yang sangat mendalam dalam hidupnya. Sampai sekarang, beliau masih memiliki koleksi manuskrip pribadi dalam bahasa Melayu dan Arab yang tidak tertera dalam katalog-katalog manuskrip Melayu yang ada. Di antara manuskrip yang dimilikinya adalah Risalah al-Aydiyyah, juga dikenal dengan judul Risalah al-Ajwibah, yang sering disebut sebagai karya tulis Ibn Arab atau muridnya yang bernama Abdullah al-Balyin; al-Tuhfat al-Mursalah ila al-Naby, karya Fadhl Allah al-Burhanpr; dan sejumlah karya lainnya yang ditulis oleh Wali Raslan al-Dimasyq. Manuskrip karya al-Burhanpr yang ditulis dalam bahasa Melayu itu beliaunggap telah hilang dan satu-satunya duplikat yang ada mengenai karya ini adalah terjemahan bahasa Jawa. Setelah pamannya pensiun, al-Attas tinggal dengan pamannya yang lain. Dato Onn ibn Dato Jaafar (Kepala Menter Johor Modern Ketujuh), sampai menyelesaikan pendidikan tingkat menengah. Dato Onn adalah salah seorang tokoh nasionalis, pendiri sekaligus Presiden Pertama UMNO (United Malay National Organization), yaitu partai politik yang menjadi tulang punggung kerajaan Malaysia sejak Malaysia dimerdekakan oleh Inggris. Setelah menamatkan sekolah menengah pada tahun 1951, Al-Attas memasuki dunia militer dengan mendaftarkan diri sebagai tentara kerajaan (Resimen Melayu) dalam upaya mengusir penjajahan Jepang. Dalam bidang militer ini, Al-Attas menunjukkan kecermelangannya sehingga ia dipilih oleh Jenderal Sir Gerald Templer, ketika itu menjabat sebagai British High Commissioner di Malaya, untuk mengikuti pendidikan militer, pertama di Eton Hall, Chester, Wales, kemubeliaun di Royal Military Academy,

Sandhurst, Inggris (1952-1955). Pangkat terakhir yang diraihnya di dunia militer adalah letnan. Selain mengikuti pendidikan militer, al-Attas juga sering pergi ke negara-negara Eropa lainnya (terutama Spanyol) dan Afrika Utara untuk mengunjungi tempat-tempat yang terkenal dengan tradisi intelektual, seni, dan gaya bangunan keislamannya. Di Afrika Utara pulalah beliau berjumpa dengan sejumlah pemimpin Maroko yang sedang berjuang merebut kembali kemerdekaan mereka dari tangan Perancis dan Spanyol, seperti Alal al-Fasi, Al-Mahdi Bennouna, dan Sidi Abdallah Gannoun Al-Hasani. Di Sandhurst pula al-Attas berkenalan untuk yang pertama kalinya dengan pandangan metafisika tasawuf, terutama dari karya-karya Jami yang tersebeliau di perpustakaan kampus. Tidak pelak lagi bahwa pengalaman yang seperti ini meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri Al-Attas. Setamatnya dari Sandrust, Al-Attas ditugaskan sebagai pegawai kantor di resimen tentara kerajaan Malaya, Federasi Malaya, yang ketika itu sibuk menghadapi serangan komunis yang bersarang di hutan. Namun, beliau tidak lama disini. Minatnya yang kuat untuk mengembangkan potensi dasarnya dalam bidang intelektual dan menggeluti dunia ilmu pengetahuan mendorongnya untuk berhenti secara sukarela dari kepegawaiannya kemubeliaun membawanya ke Universitas Malaya, ketika itu di Singapura pada 1957-1959 selama dua tahun. Berkat kecerdasan dan ketekunannya, ketika masih mengambil program S1 di Universitas Malaya, Al-Attas sempat menulis dua buah buku. Buku yang pertama adalah Rangkaian Rubaiyat dan buku kedua yang sekarang menjadi karya klasik yaitu Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays. Selama menulis buku yang terakhir ini dan demi memperoleh bahan-bahan yang diperlukan, Al-Attas pergi menjelajah ke seluruh negeri Malaysia dan menjumpai tokoh-tokoh penting sufi agar bisa mengetahui ajaran dan praktik tasawuf mereka. Sedemikian berharganya buku yang kedua ini sehingga pada 1959 pemerintahan Kanada, melalui Canada Council Fellowship, memberinya beasiswa selama tiga tahun, untuk belajar di Institue of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal, yang didirikan Wilfred Cantwell Smith. Di sinilah beliau berkenalan dengan beberapa orang

sarjana yang terkenal, seperti Sir Hamilton Gibb (Inggris), Fazlur Rahman (Pakistan), Toshihiko Izutsu (Jepang), dan Seyyed Hossein Nasr (Iran). Dalam waktu yang relatif singkat, yakni 1959-1962, al-Attas berhasil meraih gelar M.A. setelah tesisnya yang berjudul Rnr and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, lulus dengan nilai yang memuaskan. Beliau sangat tertarik dengan praktek sufi yang berkembang di Indonesia dan Malaysia, sehingga cukup wajar bila tesis yang beliaungkat adalah Wujudiyyah alRnr. Salah satu alasannya adalah beliau ingin membuktikan bahwa islamisasi yang berkembang di kawasan tersebut bukan dilaksanakan oleh kolonial Belanda, melainkan murni dari upaya umat Islam itu sendiri. Belum puas dengan pengembaraan intelektualnya, al-Attas kemubeliaun melanjutkan studi ke School of Oriental and Africans Studies di Universitas London. Di sini, beliau bertemu dengan Martin Lings, seorang Profesor asal Inggris yang mempunyai pengaruh besar dalam diri al-Attas, walaupun itu terbatas pada tataran metodologis. Selama lebih kurang dua tahun (1963-1965), dengan bimbingan Lings, al-Attas menyelesaikan perkuliahan dan mempertahankan disertasinya yang berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri. Disertasi ini termasuk salah satu karya akademik yang penting dan komprehensif mengenai Hamzah Fansuri, sufi terbesar atau bahkan mungkin yang sangat kontroversial di dunia Melayu. Salah satu pengaruh yang besar dari Martin Lings terhadap al-Attas adalah asumsi yang mengatakan bahwa terdapat integritas antara realitas metafisis, kosmologis dan psikologis. Asumsi dasar inilah yang pada perkembangan selanjutnya dikembangkan oleh Sayyed Hossein Nasr, Osman Bakar dan al-Attas sendiri. Pada tahun 1965 al-Attas kembali ke Malaysia. Pada masa itu, beliau mulai memasuki tahap pengabbeliaun kepada Islam dan pengamalan atas ilmu yang telah diperolehnya di Barat. Ketika itu beliau termasuk di antara sedikit orang Malaysia pertama yang memperoleh gelar Doctor of Philosophy yang mendapatkannya dari Universitas London. Al-Attas kemubeliaun dilantik menjadi Ketua Jurusan Sastra di Fakultas Kajian Melayu Universitas Malaya dari 1968 hingga 1970, beliau menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra di kampus yang sama.

Pada 1970, dalam kapasitasnya sebagai salah seorang Pendiri Senior UKM (Universitas Kebangsaan Malaysia), al-Attas berusaha mengganti pemakaian bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di UKM dengan bahasa Melayu. Beliau juga ikut mengonseptualisasikan dasar-dasar filsafat UKM dan memelopori pendirikan fakultas ilmu dan kajian Islam. Pada tahun yang sama dan dalam kapasitasnya sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Melayu, al-Attas mengajukan konsep dan metode baru kajian bahasa, sastra, dan kebudayaan Melayu yang bisa digunakan untuk mengkaji peranan dan pengaruh Islam serta hubungannya dengan bahasa dan kebudayaan lokal dan internasional dengan cara yang lebih baik. Untuk merealisasikan rencana ini, pada 1973 beliau mendirikan dan mengepalai IBKKM (Institut Bahasa, Sastra, dan Kebudayaan Melayu) di UKM. Al-Attas sering mendapatkan penghargaan internasional, baik dari para orientalis maupun dari para pakar peradaban Islam dan Melayu. Misalnya, Al-Attas pernah dipercaya untuk memimpin diskusi panel mengenai Islam di Asia Tenggara pada Congres International des Orientalistes yang ke29 di Paris pada 1973. pada 1975, atas kontribusinya dalam perbandingan filsafat, beliau dilantik sebagai anggota Imperial Iranian Academy of Philosophy , sebuah lembaga yang anggotanya, antara lain terdiri dari beberapa orang profesor yang terkenal, seperti Henry Corbin, Seyyed Hossein Nasr, dan Toshihiko Izutsu. Beliau pun pernah menjadi konsultan utama penyelenggaraan Festival Islam Internasional (World of Islam Festival) yang beliaudakan di London pada 1976, sekaligus menjadi pembicara dan urusan dalam Konferensi Islam Internasional (International Islamic Conference) yang beliaudakan secara bersamaan di tempat yang sama. Syed Naquib Al Attas adalah seorang ilmuwan multidisiplin. Beliau pakar dalam disiplin agama, metafisika, teologi, filsafat, pendidikan, filologi, sastra, budaya, arsitektur sampai disiplin militer. Ketertarikan Al Attas terhadap sastra terlihat dari keaktifannya dalam polemik sastra Malaisya. Al Attas berpendapat bahwa Hamzah Fansuri adalah sastrawan Malaisya yang pertama kali menuliskan syair. Ia juga membuat kategorisasi serta periodisasi sastra Malaisya.

Jasa Al Attas juga terlihat di masa awal kemerdekaan Malaisya mengenai bahasa sebagai salah satu unsur pembangun bangsa (nation building). Al Attas juga berjasa dalam menggerakkan para pelajar Malaisya. Organisasi seperti ABIM, GAPIM, dan ASASI adalah contoh beberapa organisasi mahasiswa yang dibidani olehnya. Keahlian filsafat dalam bidang seni terlihat dari karya-karya kaligrafinya. Beberapa karyanya dipamerkan di Tropen Museum, Amsterdam pada 1954. Beliau juga telah memublikasikan tiga kaligrafi basmallah-nya yang ditulis dalam bentuk burung pekakak (1970), ayam jago (1972), ikan (1980) dalam beberapa buah bukunya. Sementara kemampuan arsitekturnya terlihat dalam bangunan ISTAC. Beliau lah yang merancang dan mendesain bangunan ISTAC, beserta auditorium dan masjidnya. Al Attas pun turut serta dalam merancang interior gedung tersebut dengan dengan dekorasi islami, tradisional, maupun kosmopolitan. Intelektualitas Al Attas tidak diragukan lagi. Pada 1973 beliau menjadi ketua dalam diskusi panel dengan topik Islam di Asia Tenggara pada Congress International des Orientalistes di Paris. Beliau juga menjadi pembicara dalam Konferensi Dunia tentang Islam pada gelaran pertamanya di Mekkah pada 1977. Pada tahun tersebut juga ia menjadi profesor tamu di Temple University Philadelphia. Dunia internasional tidak meragukan kepakaran Al Attas mengenai Islam. Di Malaisya sendiri, Syed Naquib Al Attas menduduki beberapa posisi penting. Beliau menjadi ketua pertama dari Dewan Bahasa dan Sastara Malaisya di Universitas Malaisya (1970-1984). Beliau juga menjadi penanggung jawab Dewan Studi Asia Tenggara Tun Abdul Razak di Universitas Ohio (1980-1982). Kemubeliaun beliau mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) pada 1987. Biografi kepakaran Al Attas bisa dibaca lebih lanjut di berbagai karya atau pun dalam situs-situs internet 1.

Biografi kepakaran Al Attas beliauntaranya dapat dilihat dalam http://www.salaam.co.uk/knowledge/biography/viewentry.php?id=1826,

Karena kepakaran beliau di berbagai bidang ilmu inilah beliau sering disebut polymath, yang berarti seseorang yang ahli dalam banyak bidang ilmu. Beliau disejajarkan dengan Ibnu Sina, Al Khawarizmi, Al Farabi, Jafar As Shiddiq, dan sebagainya. Pendidikan al-Attas bermula di Sukabumi (Indonesia) dan Johor Baru (Malaysia). Setamat dari situ al-Attas masuk militer di Inggris, kemubeliaun kuliah di Universitas Malaya (UM) di Singapura. Untuk selanjutnya al-Attas melanjutkan studinya hingga memperoleh gelar M.A dan Ph.D, masing-masing dari McGill University, Montreal di Canada dan University of London di Inggris, dengan fokus kajian pada teologi dan metafisika alam. Ketika masih mengambil program S1 di Universitas Malaya, al- Attas telah menulis dua buah buku. Buku pertama adalah Rangkaian Rubaiyat. Buku ini termasuk di antara karya sastra pertama yang dicetak oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, pada tahun 1959. Sedangkan buku kedua yang sekarang menjadi karya klasik adalah Some Aspects of Sufism as Understood and Practiced among the Malays, yang diterbitkan oleh lembaga penelitian sosiologi Malaysia pada tahun 1963. Sedemikian berharganya buku yang kedua ini, pemerintah Kanada melalui Canada Counsel Fellowship memberinya beasiswa untuk belajar di Institute of Islamic Studies, Universitas McGill, Montreal yang didirikan oleh Wilfred Cantwell Smith. Di universitas inilah al-Attas berkenalan dengan beberapa orang sarjana ternama seperti Sir Hamilton Gibb (Inggris), Fazlur Rahman (Pakistan), Toshihiko Izutsu (Jepang), dan Sayyed Hossein Nashr (Iran). Pada tahun 1962, al-Attas mendapat gelar M.A. dengan tesis yang berjudul Raniri and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh. Dan selama kurang lebih dua tahun (1963-1965) atas bimbingan Prof. Martin Lings, al-Attas menyelesaikan perkuliahan dan meraih gelar Ph.D (Philosophy Doctor) dalam bidang filsafat Islam dan kesusastraan Melayu Islam dengan mempertahankan disertasi yang berjudul Mistisisme Hamzah Fansuri dengan predikat cumlaude. Disertasi tersebut telah dibukukan dengan judul Mysticism of Hamzah Fansuri. Dalam perjalanan karir akademiknya, al-Attas mengawali karirnya dengan menjadi seorang dosen. Beliau banyak membina perguruan tinggi dan ikut

berpartisipasi dalam pendirian universitas di Malaysia, baik sebagai ketua jurusan, dekan, direktur dan rektor. Pada tahun 1968-1970 al-Attas menjabat sebagai ketua Departemen Kesusastraan dalam Pengkajian Melayu. al-Attas merancang dasar bahasa Malaysia pada tahun 1970. Dan pada tahun 1970-1973 al-Attas menjabat Dekan pada Fakultas Sastra di universitas tersebut. Akhirnya pada tanggal 24 januari 1972 beliau beliaungkat menjadi Profesor Bahasa dan Kesusastraan Melayu, dalam pengukuhannya beliau membacakan pidato ilmiah yang berjudul Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu. Al-Attas telah menulis 26 buku dan monograf, dan telah menyampaikan lebih dari 400 makalah ilmiah di negara-negara Eropa, Amerika, Jepang, Timur Jauh, dan berbagai negara Islam lainnya baik dalam bahasa Inggris maupun Melayu yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain, seperti bahasa Arab, Persia, Turki, Urdu, Indonesia, Perancis, Jerman, Rusia, Bosnia, Jepang, Inbeliau, Korea, dan Albania. Karya-karyanya tersebut, antara lain adalah:

a. Rangkaian Rubaiyat, Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), Kuala Lumpur, 1959. b. Some Aspects of Shufism as Understood and Practised Among the Malays, Malaysian Sociological Research Institute, Singapura, 1963. c. Rnr and the Wujudiyyah of 17th Century Acheh, Monograph of the Royal Asiatic Society, Cabang Malaysia, No. 111, Singapura, 1966. d. The Origin of the Malay Syar, DBP, Kuala Lumpur, 1968. e. Preliminary Statement on a General Theory of the Islamization of the MalayIndonesian Archipelago, DBP, Kuala Lumpur, 1969. f. The Mysticism of Hamzah Fanshuri, University of Malaya Press, Kuala Lumpur, 1970. g. Concluding Postscript to the Origin of the Malay Syair, DBP, Kuala Lumpur, 1971 h. The Correct Date of the Terengganu Inscription, Museums Department, Kuala Lumpur, 1972. i. Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, University Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur, 1972. Sebagaian isi buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan Prancis. Buku ini juga telah hadir dalam versi bahasa Indonesia. j. Risalah untuk Kaum Muslimin, monograf yang belum diterbitkan, 286 h., ditulis

antara Februari-Maret 1973. (Buku ini kemubeliaun diterbitkan di Kuala Lumpur oleh ISTAC pada 2001 penerj.) k. Comments on the Re-examinitaion of Al-Rnrs Hujjat Al-Shiddiq A Refutation, Museums Department, Kuala Lumpur, 1975. l. Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Ethics and Morality, Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM), Kuala Lumpur, 1976. Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Korea, Jepang, dan Turki. m. Islam: Paham Agama dan Asas Akhlak, ABIM, Kuala Lumpur, 1977. Versi bahasa Melayu buku no. 12 di atas. n. Islam and Secularism, ABIM, Kuala Lumpur, 1978. Diterjemahkan ke dalam bahasa Malayalam, Inbeliau, Persia, Urdu, Indonesia, Turki, Arab, dan Rusia. o. (Ed.) Aims and Objectives of Islamic Education: Islamic Education Series, Hodder and Stoughton dan King Abdulaziz University London: 1979. Diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. p. The Concept of Education in Islam, ABIM, Kuala Lumpur, 1980. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Persia dan Arab. q. Islam, Secularism, and The Philosophy of the FutureI, Mansell, London dan New York, 1985. r. A commentaryu on the Hujjat Al-Shiddiqof Nur Al-Din Al-Raniri, Kementerian Kebudayaan, Kuala Lumpur, 1986. s. The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the Aqad of Al-Nasaf, Dept. Penerbitan Universitas Malaya, Kuala Lumpur, 1988. t. Islam and the Philosophy of Science, ISTAC, Kuala Lumpur, 1989. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Bosnia, Persia, dan Turki. u. The Nature of Man and the Psychology of the Human Soul, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. v. The Intuition of Existence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. w. On Quiddity and Essence, ISTAC, Kuala Lumpur, 1990. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. x. The Meaning and Experience of Happiness in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1993. Diterjemahkan ke dalam bahasa Aran, Turki, dan Jerman.

y. The Degrees of Existance, ISTAC, Kuala Lumpur, 1994. Diterjemahkan ke dalam bahasa Persia. z. Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1995. Diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.

Daftar artikel berikut ini tidak termasuk rekaman ceramah-ceramah ilmiah yang telah disampaikannya di depan publik. Berjumlah lebih dari 400 dan disampaikan di Malaysia dan luar negeri antara pertengahan 1960-1970, di antaranya adalah:

1. Note on the Opening of Relations between Malaka dan Cina, 1403-5, Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society (JMBRAS), vol. 38, pt. 1, Singapura, 1965. 2. Islamic Culture in Malaysia, Malaysian Society of Orientalists, Kuala Lumpur, 1966. 3. New Light on the Life of Hamzah Fanshuri, JMBRAS, vol. 40, pt. 1, Singapura, 1967. 4. Rampaian Sajak Bahasa, Persatuan Bahasa Melayu Universiti Malaya no. 9, Kuala Lumpur, 1968. 5. Hamzah Fanshuri, The Penguin Companion to Literature, Classical and Byzantine, Oriental, and African, vol. 4, London, 1969. 6. Indonesia: 4 (a) History: The Islamic Period, Encyclopebeliau of Islam, edisi baru, E.J. Brill, Leiden, 1971. 7. Comparative Philosophy: A Southeast Asian Islamic Viewpoint, Acts of the V International Congress of Medieval Philosophy, Madrid-Cordova-Granada, 5-12 September 1971. 8. Konsep Baru mengenai Rencana serta Cara-gaya Penelitian Ilmiah Pengakajian Bahasa, Kesusastraan, dan Kebudayaan Melayu, Buku Panduan Jabatan Bahasa dan Kesuastraan Melayu, Universiti kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur: 1972. 9. The Art of Writing, Dept. Museum, Kuala Lumpur, t.t. 10. Perkembangan Tulisan Jawi Sepintas Lalu, Pameran Khat, Kuala Lumpur, 14-21 Oktober 1973 11. Nilai-Nilai Kebudayaan, Bahasa, dan Kesusastraan Melayu, Asas Kebudayaan

Kebangsaan, Kementerian Kebudayaan Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1973. 12. Islam in Malaysia (versi bahasa Jerman), Kleines Lexicon der Islamischen Welt, ed. K. Kreiser, W. Kohlhammer, Berlin (Barat), Jerman, 1974. 13. Islam in Malaysia, Malaysia Panorama, Edisi Spesial, Kementerian Luar Negeri Malaysia, Kuala Lumpur, 1974. Juga diterbitkan dalam edisi bahasa Arab dan Prancis. 14. Islam dan Kebudayaan Malaysia, Syarahan Tun Sri Lanang. Seri kedua, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1974. 15. Pidato Penghargaan terhadap ZAABA, Zainal Abidin ibn Ahmad, Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan, Kuala Lumpur, 1976. 16. A gneneral Theory of the Islamization of the Malay Archipelago, Profiles of Malay Culture, Historiography, Religion, and Politics, editor Sartono Kartodirdjo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1976. 17. Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and Aims of Education, First World Conference on Muslim Education, Makkah, 1977. Juga tersebeliau dalam edisi bahasa Arab dan Urdu. 18. Some Reflections on the Philosophical Aspects of Iqbals Thought, International Congress on the Centenary of Muhammad Iqbal, Lahore, 1977. 19. The Concept of Education in Islam: Its Form, Method, and System of Implementation, World Symposium of Al-Isra, Amman, 1979. Juga tersebeliau dalam edisi bahasa Arab. 20. ASEAN Ke mana Haluan Gagasan Kebudayaan Mau Beliaurahkan? Diskusi, jil. 4, no. 11 12, November Desember, 1979. 21. Hijrah: Apa Artinya? Panji Masyarakat, Desember, 1979. 22. Knowledge and Non-Knowledge, Readings in Islam, no. 8, first quarter, Kuala Lumpur, 1980. 23. Islam dan Alam Melayu, Budiman, Edisi Spesial Memperingati Abad ke-15 Hijriah, Universitas Malaya, Desember 1979. 24. The Concept of Education in Islam, Second World Conference on Muslim Education, Islamabad, 1980. 25. Preliminary Thoughts on an Islamic Philosophy of Science, Zarrouq Festival, Misrata, Libia: 1980. Juga diterbitkan dalam edisi bahasa Arab.

26. Religion and Secularity, Congress of the Worlds Religions, New York, 1985. 27. The Corruption of Knowledge, Congress of the Worlds Religions, Istanbul, 1985 Al Attas Dan Islamisasi Pengetahuan Gagasan Islamisasi pengetahuan muncul pada sekitar awal tahun 80an. Gagasan ini mulanya dipopulerkan oleh Syed Naquib Al Attas dan Ismail R. Al Faruqi. Makalah ringkas ini hanya akan berbicara mengenai Al Attas, jadi gagasan Islamisasi yang ditulis di sini terbatas pada ide Al Attas.2 Islam adalah agama sekaligus peradaban. Ia memiliki pandangan dasar mengenai Tuhan, kehidupan, manusia, alam semesta dan sebagainya. Karenanya Islam disebut sebagai worldview (pandangan hidup). Pandangan hidup ini menawarkan integrasi antara ilmu dan Tuhan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dalam sejarahnya, gagasan tentang islamisasi ilmu pengetahuan mulai muncul saat beliaudakannya konferensi dunia tentang pendidikan Islam di Makkah pada 1977. Konferensi yang diikuti oleh sarjan-sarjana dari 40 negara ini mendiskusikan rekomendasi untuk perbaikan dan penyempurnaan sistem pendidikan Islam di seluruh dunia. Sebanyak 150 makalah dilontarkan dalam konferensi yang diselenggarakan oleh King Aziz University ini. Islamisasi ilmu pengetahuan adalah salah satu ide yang dipresentasikan di dalamnya. Adalah Syed Muhammad Naquib Al Attas yang menyampaikan makalah berjudul Preliminary Thoughts on the Nature of Knowledge and the Definition and the Aims of Education. Ilmuwan lain yakni Ismail Raji alFaruqi juga menyampaikan gagsan yang sama dalam makalahnya yang bertajuk Islamicizing Social Science. Tentunya gagasan baru ini mendapatkan dukungan dan penolakan. Ilmuwan yang kontra terhadap gagasan ini misalnya Fazlur Rahman, Muhsin Mahdi, Abus Salam, Abdul Karim Soroush dan Bassam Tibi. Kritik mereka terhadap islamisasi pengetahuan ini didasarkan pada pandangan mereka bahwa tidak ada yang salah pada ilmu pengetahuan, sehingga menuntut adanya islamisasi. Bagi Fazlur Rahman, sebagai
2

Untuk tinjauan komparatif antara gagasan islamisasi Al Attas dan Al Faruqi dapat dilihat pada http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=794:islamisasi-ilmu-pengetahuantinjauan-atas-pemikiran-syed-m-naquib-al-attas-dan-ismail-r-al-faruqi&catid=31:pendidikan-islam&Itemid=96

contoh, ilmu pengetahuan itu seperti senjata bermata dua. Masalahnya terletak pada subjek yang menggunakan ilmu pengetahuan, bukan pada objek ilmu itu sendiri. Jika ilmu pengetahuan digunakan secara berhati-hati dan bertanggung jawab, maka ilmu pengetahuan apapun dapat digunakan untuk kemanfaatan yang lebih besar. Sementara itu, Sayyid Hossein Nasr dan Ziauddin Sardar mendukung gagasan islamisasi ini sebab mereka memang mengkhawatirkan dan menolak westernisasi ilmu. Mengapa Islamiasi? Seperti yang dipegang oleh ilmuwan sosial dari tradisi kritis, Al Attas berpendapat bahwa tidak ada ilmu yang bebas nilai (value free). Baginya, ilmu itu sarat nilai (value laden). Karena sebagian besar ilmu yang sekarang dipelajari oleh umat Islam sekarang adalah ilmu-ilmu yang berasal dari tradisi keilmuan Barat, ilmu itu pasti telah terisi oleh corak budaya dan peradaban Barat. Ilmu pengetahuan yang sampai pada kaum muslim sekarang bukanlah ilmu yang objektif, tanpa nilai, tapi telah ditumpangi dengan berbagai nilai-nilai khas barat. Bagi Al Attas, ilmu pengetahuan dari Barat itu bersifat semu. Ia tampak nyata hanya karena secara perlahan beliausumsikan sebagai yang nyata (the real), sehingga apa yang awalnya hanya sebatas asumsi malah beliaunggap sebagai yang nyata. Maka bagi Al Attas, peradaban dan ilmu pengetahuan Barat perlu diseleksi dulu sebelum ia layak untuk digunakan umat Islam. Tradisi ilmu pengetahuan Barat berdasarkan prinsip skeptisisme. Skeptisisme yang berlebihan dari ilmu pengetahuan Barat inilah yang akhirnya menimbulkan kebingungan. Namun kebingungan itu mendapatkan validitasnya setelah melalui terminologi yang sangat masyhur, yakni metodologi. Bagi Barat, keraguan adalah sarana epistemologis (sarana untuk mancapai pengetahuan_dini) yang cukup layak. Menurut Al Attas, di sinilah celah peradaban dan ilmu pengetahuan Barat yang mesti disempurnakan oleh Islam. Selain perangkat keilmuan yang rasional, Islam juga mengenal wahyu. Wahyu inilah kebenaran dalam Islam yang tidak diterima oleh Barat. Aspek inilah yang absen dalam tradisi keilmuan Barat.

Padahal pada mulanya, ilmu pengetahuan yang dipelajari di Barat adalah hasil kerja keras para ilmuwan muslim pada abad pertengahan. Ilmuwan muslim lah yang menerjemahkan buku-buku filsafat, ilmu pengetahuan alam, dan sosial dari masa Yunani kuno. Ketika ilmu pengetahuan itu jatuh ke Barat, pengaruh budaya dan peradaban mereka tak bisa dielakkan. Muatan rasionalitas Islam yang awalnya ada dalam pengetahuan tersebut terkikis habis oleh peradaban Barat. Rasionalitas Islam itu secara sederhana adalah penjumlahan antara wahyu dan ilmu pengetahuan. Namun sekali lagi Barat tidak menganggap wahyu sebagai sumber kebenaran yang valid. Alih-alih mempercayai kebenaran wahyu, mereka mengandalkan renungan-renungan filosofis serta spekulasi. Bagi mereka, dunia berpusat pada manusia (antropomorfisme). Karena renungan dan spekulasi itu terus saja berubah, pandangan hidup (worldview) yang mereka pegang akan selalu berubah. Berbeda dengan Islam yang juga mempertimbangkan wahyu sebagai sumber kebenaran. Wahyu menumbuhkan keyakinan, sementara pandangan hidup Barat menghasilkan keraguan dan perubahan tanpa ujung. Pandangan antromorfisme inilah yang ditentang oleh Al Attas. Gagasan ini menganggap manusia sebagai subjek sentral dari dari sejarah, pergulatan sosial, politiik dan budaya. Singkatnya, gejala fisik dan material semata. Sementara Islam di sisi lain meyakini dunia tidak hanya terbatas pada apa yang tampak. Bagi Islam, ada dunia yang tampak (ad dunya) dan ada dunia di luar yang tampak (al akhirat). Ini lah titik penting wahyu. Wahyu, yang tidak dipercaya oleh tradisi keilmuan Barat, yang memberikan informasi dan visi mengenai dunia non material. Kalaupun Barat bicara soal metafisika, perbincangan itu hanya akan berakhir pada dikotomisme antara yang fisik dan metafisik. Mereka hanya meyakini yang fisik, lalu membuang yang metafisik. Pada akhirnya, pemisahan ini lah yang menimbulkan sekulariasi. Inilah yang berusaha ditentang habis-habisan oleh Al Attas. Menurut Al Attas, Islam tidak membedakan antara yang fisik dan metafisik. Baginya, keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan (tauhid).

Di sinilah titik penting Islamiasi ilmu pengetahuan bagi Al Attas. Ilmu pengetahuan sekuler, yang berusaha memisahkan agama dari ilmu pengetahuan, mesti ditolak. Al Attas menawarkan Islamisasi pengetahuan. Pengetahuan yang sekuler itu mesti ditarik dari kutub sekuler menuju ke kutub Islam. Tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan Pertama kali mendengar istilah islamisasi biasanya kita berpikir tentang islamisasi dalam bentuknya yang konkret. Berusaha mengajak orang yang non muslim untuk memeluk agama Islam adalah bentuk paling konkret dari Islamisasi. Al Attas berbicara tentang islamisasi dalam aras yang berbeda. Ia berbicara dalam level yang lebih abstrak, islamisasi yang diusung oleh Al Attas adalah islamisasi ilmu pengetahuan. Lebih jauh lagi, islamisasi peradaban. Islamisasi dalam pandangan Al Attas ini secara sederhana dapat beliaurtikan sebagai usaha untuk memasukkan nilai-nilai Islam pada hal-hal yang beliaunggap jauh dari nilai-nilai dan kerangka Islam. Secara praktis, islamisasi berarti penolakan sekularisasi terhadap segala perkara yang semestinya bermuatan Islam. Upaya inilah yang disebut dengan islamisasi. Al Attas mendefinisikan islamisasi dengan lebih rinci lagi. Baginya, Islamisasi berarti pembebasan manusia dari tradisi magis, mitologis, animisme, nasional-kultural dan paham sekularisme. Proses islamiasi bermakna pembebasan rohaniah. Sebab bagi Al Attas, komponen roh manusia memiliki pengaruh yang kuat terhadap jasmaninya. Yang rohani ini mesti dibebaskan dari belenggu jasmani agar timbul keharmonisan dan kedamaian sesuai dengan asal mula atau fithrah manusia (original nature). Karenanya Al Attas membagi islamisasi ini menjadi dua : islamisasi pikiran dari pengaruh internal dan islamisasi pikiran dari pengaruh eksternal. Pengaruh eksternal yang dicoba-bebaskan dengan islamisasi adalah, sebagaimana tersebut di atas, tradisi magis, mitologis, animisme, nasional-kultural dan paham sekularisme. Sementara pengaruh internal itu berupa kecondongan manusia untuk menganiaya dirinya sendiri sebab terlalu condong kepada pemuasan kebutuhan jasmaninya. Manusia perlu

dibebaskan dari perbudakan oleh unsur jasmaninya sendiri agar ia kembali kepada fithrahnya. Proses islamisasi, karena itu, tidak dipahami sebagai proses evolusi, tapi sebagai proses pengembalian kepada fithrah (original nature). Islamisasi ilmu pengetahuan juga bergerak pada arah yang sama. Tujuan islamisasi pengetahuan adalah membebaskan pengetahuan dari unsur-unsur yang tidak sejalan dengan sumber utama Islam, yakni Al Quran. Visi terjauhnya adalah untuk membuat ilmu pengetahuan sejalan dengan misi Al Quran, yakni sebagai petunjuk bagi orangorang yang beriman. Sementara langkah terdekat yang beliaumbil adalah dengan islamisasi bahasa. Seperti yang kita tahu, manusia adalah satu-satunya makhluk yang menggunakan simbol untuk berinteraksi dengan sesamanya. Inilah mengapa manusia dinamai animal symbolicum, makhluk yang memakai simbol. Simbol utama yang digunakan oleh manusia adalah bahasa verbal. Bahasa verbal lah yang menjadi medium penyebaran informasi dan pengetahuan manusia. Al Attas adalah ilmuwan yang jeli melihat fakta ini. Karenanya beliau memilih islamisasi bahasa sebagai langkah awal dari islamisasi ilmu pengetahuan. Sebab nantinya, islamisasi bahasa akan berpengaruh terhadap cara kerja nalar dan pikiran manusia. Al Attas memulai logikanya sebagai berikut : Al Quran mengislamkan orang Arab melalui bahasa, sementara orang Arab mengislamkan sesamanya juga melalui bahasa. Bahasa yang telah diislamkan oleh Al Quran. Bahasa dalam Al Quran yang telah membuat terangkatnya peradaban Arab inilah yang ingin diperjuangkan oleh Al Attas. Al Quran mengandung kosakata, idiom, dan istilahistilah yang mulanya tidak ada dalam bahasa Arab atau yang mulanya ada namun dimuati dengan makna yang berbeda. Makna ini tidak akan pernah berubah sepanjang zaman. Namun karena perkembangan sejarah, bahasa khas Al Quran ini menjadi tersisihkan dalam dalam ilmu pengetahuan dan budaya. Padahal pengaruh perbedaan makna dan kosakata ini sampai pada perbedaan nalar manusia yang menggunakannya.

Selain sebagai kran nalar, bahasa yang ingin diislamisasi oleh Al Attas ini juga memiliki peran sebagai perekat komunitas muslim. Karena istilah-istilah tersebut tidak bisa diterjemahkan secara memuaskan ke dalam bahasa lain, istilah-istilah tersebut bisa menjadi identitas dari umat Islam. Ketika istilah itu diterjemahkan, bisa dipastikan akan terjadi distorsi makna. Maka sangat penting untuk menjaga istilah-istilah tersebut tetap sesuai dengan bahasa aslinya. Selain menjaga istilah dalam Al Quran agar tetap sama, proyek islamisasi ini juga berarti menjaga agar makna sebuah konsep tetap dalam koridor Islam. Sebagai contoh, konsep tentang kebahagiaan. Kebahagiaan dalam terminologi sekuler modern berarti terpenuhinya kebutuhan fisik atau paling banter kebutuhan emosional dan spiritual. Sementara Islam memiliki konsep kebahagiaan yang berbeda. Bagi Islam, kebahagiaan (assaadah) berarti kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan kebahagiaan ini hanya dapat tercapai dengan ketundukan penuh kepada Allah. Karena itu, konsep kebahagiaan ini mesti diislamisasi. Ia mesti dimaknai ulang, dan dimasuki dengan nilai-nilai islam. Secara lebih teratur, Al Attas membagi proses islamisasi dengan lebih rigid sebagai berikut : 1. Mengisolisir unsur-unsur dan konsep-konsep kunci yang membentuk budaya dan

peradaban Barat. Unsur-unsur tersebut terdiri dari: a. Akal beliaundalkan untuk membimbing kehidupan manusia. Bagi Barat, mulanya

adalah akal. Kebenaran bermula dari perjalanan akal. Berbeda dengan Islam yang juga mempertimbangkan wahyu sebagai dasar kebenaran. b. Bersikap dualistik terhadap realitas dan kebenaran (The concept of dualism which

involved of reality and truth). Dalam realitas mereka berpandangan bahwa ada dua realitas: yang objektif dan subjektif. Begitu pula dalam kebenaran. Ada kebenaran objektif dan ada kebenaran subjektif. c. Menegaskan aspek eksistensi yang memproyeksikan pandangan hidup sekuler

(secular worldview). Orientasi terjauh dari pandangan sekuler adalah lepasnya agama

dari ruang publik dan ruang privat masyarakat. Masyarakat beliaunggap dewasa ketika mereka telah berhasil keluar dari belenggo dogma yang berasal dari agama. d. Membela doktrin humanism (the doctrine of humanism). Humanisme, sama dengan antropomorfisme, menempatkan manusia sebagai subjek pusat peradaban. e. Menjadikan drama dan tragedi sebagai unsur-unsur yang dominan dalam fitrah dan eksistensi kemanusiaan. Ini karena mereka tidak yakin bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fithrah, asal mula yang suci. Unsur-unsur tersebut harus dihilangkan dari setiap bidang ilmu pengetahuan modern saat ini, khususnya dalam ilmu pengetahuan humaniora. Bagaimanapun, ilmuilmu alam, fisika, dan aplikasi harus diislamkan juga. Selain itu, ilmu-ilmu modern harus diperiksa dengan teliti. Ini mencakup metode, konsep, praduga, simbol, dari ilmu modern, beserta aspek-aspek empiris dan rasional, dan yang berdampak kepada nilai dan etika, penafsiran historitas ilmu tersebut, bangunan teori ilmunya, praduganya berkaitan dengan dunia, rasionalitas proses-proses ilmiah, teori tersebut tentang alam semesta, klasifikasinya, batasannya, keterkaitannya dengan ilmu-ilmu lainnya serta hubungannya dengan sosial harus diperiksa dengan teliti. 2. Memasukkan unsur-unsur Islam beserta konsep-konsep kunci dalam setiap

bidang dari ilmu pengetahuan saat ini yang relevan. Al-Attas menyarankan, agar unsur dan konsep utama Islam mengambil alih unsur-unsur dan konsep-konsep asing tersebut. Konsep utama Islam tersebut yaitu: a. b. c. d. e. Konsep Agama (ad-din) Konsep Manusia (al-insan) Konsep Pengetahuan (al-ilm dan al-marifah) Konsep kearifan (al-hikmah) Konsep keadilan (al-adl)

f. g.

Konsep perbuatan yang benar (al-amal) Konsep universitas (kulliyyah jamiah).

Tujan Islamisasi ilmu sendiri adalah untuk melindungi umat Islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Islamisasi ilmu bertujuan untuk mengembangkan ilmu yang hakiki yang boleh membangunkan pemikiran dan pribadi muslim yang akan menambahkan lagi keimanannya kepada Allah. Islamisasi ilmu akan melahirkan keamanan, kebaikan, keadilan, dan kekuatan iman. Adapun yang menjadi obyek Islamisasi bukan obyek yang berada diluar pikiran tapi adalah yang terdapat dalam jiwa atau pikiran seseorang. Dan pendekatannya adalah pendekatan dalam Islam yang berkaitan erat dengan struktur metafisika dasar Islam yang telah terformulasikan sejalan dengan wahyu (revelation tradition), akal (reason), pengalaman (experience) dan intuisi (intuition). Karena Islam pada dasarnya mengkombinasikan antara metodologi rasionalisme dan empirisisme, tapi dengan tambahan wahyu sebagai sumber kebenaran tentang sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh metode empris-rasional tersebut. Jadi meskipun dalam aspek rasionalitas dan metodologi pencarian kebenaran dalam Islam memiliki beberapa kesamaan dengan pandangan filsafat Yunani, namun secara mendasar dibedakan oleh pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Jadi menurut al-Attas, dalam prosesnya, islamisasi ilmu melibatkan dua langkah utama yang saling berhubungan: pertama, proses mengeluarkan unsur-unsur dan konsepkonsep penting Barat dari suatu ilmu, dan kedua, memasukkan unsur-unsur dan konsep-konsep utama Islam ke dalamnya.[47] Dan untuk memulai kedua proses beliautas, al-Attas menegaskan bahwa islamisasi beliauwali dengan islamisasi bahasa dan ini dibuktikan oleh al-Quran. Sebab alasannya, bahasa, pemikiran dan rasionalitas berkaitan erat dan saling bergantung dalam memproyeksikan pandangan dunia (worldview) atau visi hakikat kepada manusia. Pengaruh islamisasi bahasa menghasilkan islamisasi pemikiran dan penalaran, karena dalam bahasa terdapat istilah dan dalam setiap istilah mengandung konsep yang harus dipahami oleh akal

pikiran. Di sinilah pentingnya pengaruh islamisasi dalam bahasa, karena islamisasi bahasa akan menghasilkan islamisasi pemikiran dan penalaran. Renungan Subjektif Terhadap Al Attas Membaca Al Attas dari berbagai sumber yang terbatas dan dalam satu dua karyanya dengan pembacaan yang tidak sempurna pula membuat saya menduga Al Attas adalah sosok fundamentalis. Fundamentalis dalama arti pandangan beliau yang tidak berada dalam kutub moderat. Seperti tidak menerima bahwa mungkin saja ada kebenaran yang lain di samping yang beliau yakini. Untung saja ketika tidak sengaja menjelajah di dunia maya, saya menemukan cuplikan wawancara dengan Al Attas3 : -Can we adapt to the modern world without destroying our tradition? How can we protect the authentic Islamic traditions today? How can the sunnah be applied today? Is the sunnah (practices of the Prophet) not applied today? In other words, it is not possible to say that the sunnah is not applied today. It is applied. But I think we have to go back to learn about these people; we must go back to study the past, return to their books, and so on. Otherwise, how can people understand such things? It is necessary that there be proper teachers, as the schools now do not give much information. Having proper teachers means having qualified people who know about the sunnah and who are close to the early traditions; even in the modern world we can dress like a modern man, but our mind must not be like this. The important thing is to teach people, that is all. That is the only way to return to the tradition. Otherwise today, modern Muslims, particularly western-educated Muslims do not know, and they demand proof. They think that they are being rational, although they are not really being rational at all. Therefore, we have to counter all this by teaching all these things again. We must teach them what is real, because they do not know. They do not know
3

Wawancara lengkapnya dapat dilihat di http://www.lastprophet.info/interview-with-al-attas-applying-sunnah-tothe-modern-world#

anything about Islam. I mean, here they are following the West. They think that Islam started in the 13th century and it is just a simple religion of merchants, and therefore rather out of date, rather ancient. But we should teach them the real history, bring it out and teach it. And by example we must also know that we have to be well acquainted with the West as well as Islam. Look at how we get education now. We learn their thoughts, their philosophies, and we make critical analysis, we accept that some of what they say is the truth. Yes, and most of our scholars are uttering the truth; even if it was first said by an infidel, it is still the truth. In Turkey you are doing the same thing. I think this is important. I think there is no other way. We have to teach slowly; this is what people did before. They came to the Hindus and Buddhists. Hundreds of them, thousands of them, even the rulers, became Muslim. Then after this, we cannot keep track of their numbers. But remember that because of what these people did, there are more than 200 million of people Muslim here. This is due to their work. -Is an Islamization of knowledge possible? Of course. But what do we mean by this? The Quran Islamized knowledge and the Arabs Islamized their knowledge through the language. In other words, the importance of language in Islamization is very important. That is why I think, although I am not sure, Ali Caksu's paper raises such an important question; I read only the abstract but he asks if there is such a thing as the Islamic language it seems that he thinks that although there is no Islamic language, there is a Muslim language. Well, I do not agree with this. What we mean by an Islamic language is the Muslim languages. But within the Muslim languages there are certain basic vocabulary items, key terms, that belong to the Quran and this is what is important. So, in this way Muslim languages become the Islamic language, even though they are different languages. The Turkish language is different from Persian, from Arabic, and from Malay languages. But within this there are certain words which are important links uniting them. This is what I call the Islamic language, this basic vocabulary. These words come from the revelation but they can be given

different meanings, which is the cause of the confusion that exists today. And then they do not correlate with one another anymore. Thus, conflict arises. Secara pribadi, saya memiliki hipotesis bahwa orang yang telah nyegoro ngelmune, seorang intelektual dengan penguasaan atas berbagai disiplin ilmu akan cenderung bersikap dan berpandangan moderat. Ia akan jernih dalam melihat fenomena, tidak gampang melakukan penghakiman terhadap pandangan lain, serta tidak tergesa-gesa dalam nalar. Saya dari mula yakin bahwa Al Attas termasuk ilmuwan yang memiliki kualitas tersebut. Saya belum mengenal Al Attas dengan baik, membaca karyanya pun tak lengkap. Namun saya mencoba hipotesis saya kepada diri Al Attas. Dalam kutipan wawancara di atas, beliau ditanya bagaimana pendapatnya mengenai peradaban Barat. Jawaban panjang beliau hampir sama dengan tulisan-tulisan beliau. Tapi yang bagi saya berbeda adalah sisipan kalimat dalam ucapan beliau. even in the modern world we can dress like a modern man, but our mind must not be like this. The important thing is to teach people, that is all And by example we must also know that we have to be well acquainted with the West as well as Islam. Beliau memang menentang mati-matian Barat, tapi sasaran kritik beliau adalah peradaban dan pola pikir mereka. Jika ingin berpakaian seperti mereka? Ya terserah Anda. Yang penting jangan sampai logika dan nalar kita ikut mereka. Kemudian, strategi beliau untuk menyebarkan islamisasi pengetahuan itu melalui pendidikan. Pendidikan adalah pendekatan yang paling moderat dalam penyebaran sebuah gagasan. Bukan melalui indoktrinasi kaku, bukan melalui orasi-orasi menggebu. Pendidikan mengandaikan pembelajaran secara terus-menerus dan sedikit demi sedikit. Lalu yang paling mencengangkan saya adalah ungkapan beliau kita musti mengenal Barat dengan baik, sebagaimana kita mengenal Islam. Itu anjuran dari beliau, agar kita tidak secara membabi buta mencela Barat, atau dengan tergesa menghakimi sebuah pandangan, postulat, ide, atau teori dari Barat sebelum kita benar-benar memahaminya.

Pandangan saya tentang Islamisasi pengetahuan Al Attas pun mendapatkan makna tambahan. Kalau menginginkan islamisasi pengetahuan, ya kita harus tahu dan paham betul pengetahuan macam apa yang mau kita islamisasi. Tak usah terburu-buru memberikan stempel sekuler, sebelum tahu benar seberapa sekuler pandangan tersebut. Jika saya bertemu dengan Al Attas suatu saat, ada satu pertanyaan yang ingin saya lontarkan kepada beliau. Pendapatku benar, tapi mungkin juga salah. Pendapat orang lain salah, tapi mungkin saja benar. Begitu tutur Imam As Syafii. Apakah Anda juga berkeyakinan sama dengan Imam SyafiI, Ya Sayyidi? Referensi : Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1995 http://www.salaam.co.uk/knowledge/biography/viewentry.php?id=1826, diakses pada 10.10 PM, 3 November 2011. http://www.lastprophet.info/interview-with-al-attas-applying-sunnah-to-the-modernworld#, diakses pada 10.16 PM, 3 November 2011 http://burhanhilmi.blogspot.com/2011/05/naquib-al-attas-tokoh-polymath-dari.html, diakses pada 10.20 PM, 3 November 2011 http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=794:isl amisasi-ilmu-pengetahuan-tinjauan-atas-pemikiran-syed-m-naquib-al-attas-danismail-r-al-faruqi&catid=31:pendidikan-islam&Itemid=96, diakses pada 10.28 PM, 3 November 2011 http://datukimam.blogspot.com/2011/04/naquib-al-attas.html, diakses pada 10.32 PM, 3 November 2011