Anda di halaman 1dari 10

BAB 1 Pendahuluan 1.

1 Latar Belakang Seiring dengan semakin berkembangnya jaman dan teknologi, memicu pula berkembangnya teknologi perang dan peralatan-peralatan yang semakin canggih. Maka oleh karena itu, pengaturan hukum mengenai perang pun harus dikembangkan agar tercipta kepastian dan perlindungan hukum bagi rakyat yang baik secara langsung maupun tidak langsung terkena dampak dari perang tersebut. Hukum perang yang kini berganti namanya menjadi Hukum Humaniter Internasional atau biasa disebut International Humanitarian Law (IHL) adalah seperangkat kaidah Hukum Internasional Umum yang inti dan maksudnya diarahkan kepada perlindungan individu yang khususnya dalam situasi tertentu/ perang. Dengan kata lain kata hukum Internasional Humaniter mempunyai focus central bagaimana memperlakukan manusia secara manusiawi Tujuan utama hukum humaniter adalah memberikan perlindungan dan pertolongan kepada yang menderita/ menjadi korban perang, baik mereka secara nyata/ aktif turut serta dalam permusuhan (koombat), maupun mereka yang tidak turut serta dalam permusuhan (penduduk sipil = civilian population). Dalam hal ini yang dimaksud dengan penduduk sipil adalah any person who does not belong to one of categories of persons refered to in article 4A (1), (2), (3), and (6) of the Third Convention and in article 43 of this Protocol in case of doubht whether a person is a civiliian, that person shall be consideredto be a civillian 1 atau setiap orang yang tidak termasuk dalam kategori orang yang disebut dalam beberapa pasal diatas atau orang yang diragukan statusnya sebagai penduduk sipil adalah penduduk sipil. Perang adalah suatu keadaan legal yang memungkinkan dua atau lebih dari dua gerombolan manusia yang sederajat menurut hukum Internasional untuk menjalankan persengketaan bersenjata2. Dalam suatu perang, hak-hak asasi bagi penduduk sipil adalah prioritas utama yang harus dilindungi. Mengingat apabila suatu perang sedang berlangsung, maka rakyat sipil lah yang paling dirugikan dan hak-haknya dibatasi oleh pihak tertentu. Baik dijadikan tameng bagi kepentingan militer, tidak diizinkan melakukan aktivitas seperti biasa, dan memenuhi haknya untuk hidup layak. Padahal hak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang tidak manusiawi merupakan non-derogable rights atau hak yang tak dapat dikurangi dalam keadaan dan bentuk apapun3. Pada setiap peperangan, kedua belah pihak yang sedang melakukan konflik bersenjata (berperang) selalu menyatakan bahwa tindakan yang telah mereka lakukan tidak melanggar kaidah IHL atau tindakan tersebut dapat

Geneva Convention 1977 protocol 1 article 50 Masyhur Effendi, perkembangan hukum internasional humaniter dan sikap indonesia di dalamnya,1988, hal.9 3 the European Convention on Human Rights dan the American Convention on Human Rights tentang Ius Cogens (www.un.org/esa/socdev/enable/comp210.htm, diunduh pada 22/9/2010).
2

dibenarkan dengan alasan tertentu. Dasar pembenar yang sering digunakan adalah alasan military necessity dan proportionality. Military necessity adalah suatu prinsip dalam hukum internasional humaniter. Prinsip ini merupakan suatu pagar pembatas dalam melakukan peperangan (conduct of armed conflict). Prinsip ini juga merupakan pembenaran atas keadaan darurat (perang) dimana pihak yang berperang diperbolehkan melakukan segala sesuatu untuk kepentingan militer, termasuk kekerasan. Namun, penggunaan kekerasan tersebut harus dibatasi oleh kepentingan militer, kekerasan yang berlebihan untuk mencapai suatu tujuan tidak dapat dibenarkan. Sedangkan proportionality dapat diartikan sebagai keseimbangan antara keuntungan militer dalam sebuah konflik bersenjata dengan kerugian yang akan ditimbulkan. Hal tersebut menimbulkan dua nilai yang saling bertolak belakang namun perlu pemenuhan yang saling sesuai dan tidak berlebihan. Nilai yang terkandung dalam proportionality adalah kepentingan pihak militer dan kepentingan penduduk sipil saat terjadi kontak bersenjata. Dalam kedua hal tersebut, jaminan individu dan kepentingannya tetap dijamin, sepanjang tidak bertentangan dengan pihak militer pada saat perang. karenanya penindakan yang berlebih-lebihan dilarang. Dalam hukum perang, para pihak tidak dihancurkan total oleh pihak lain, kecuali objek perang. selanjutnya yang dihancurkan adalah kekuatan militer pihak lawan, bukan penduduk sipilnya Konvensi Jenewa mengatur secara tersirat mengenai asas proportinality4. Proportionality lahir berdasarkan suatu kebiasaan hukum international yang kemudian diadopsi sebagai sumber hukum internasional. Oleh sebab itu, standar poportionality bersifat subektif dalam IHL. Dimana masing-masing subjek hukum selalu menberikan definisi yang berbeda mengenai batasan proportionality. Maka sehubungan dengan kejahatan terhadap perikemanusiaan tersebut, contoh yang penulis ambil adalah pembangunan barrier di sektor barat (west bank) Israel dan Palestina. Dimana yang akan dibahas adalah hak-hak penduduk sipil hilang akibat pembangunan dinding tersebut yang disinyalir oleh pengadilan internasional sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional khususnya hukum mengenai Hak Asasi Manusia. Ditambah dengan tindakan Early Warning Procedure5 yang dilakukan pihak Israel guna menangkap warga sipil yang dicurigai sebagai teroris dengan menggunakan tetangga dari orang yang dicurigai tersebut sebagai perisai. 1.2. Identifikasi Masalah Mengapa tindakan Negara Israel dengan mendirikan Barrier di West Bank dan menjalankan operasi prosedur peringatan dini dikategorikan sebagai pelanggaran HAM dan kejahatan perang?
4

Article 52 of Additional Protocol I to the Geneva Conventions provides a widely-accepted definition of military objective: "In so far as objects are concerned, military objectives are limited to those objects which by their nature, location, purpose or use make an effective contribution to military action and whose total or partial destruction, capture or neutralization, in the circumstances ruling at the time, offers a definite military advantage", 5 Other terms used are Prior Warning Procedure or Advance Warning Procedure, see Military Order (Israel), Advance Warning Procedure, 26 November 2002, translation by BTselem <http://www.btselem.org/ english/legal_documents/advanced_warning_procedure.doc> (last visited 10 November 2004).

BAB 2 Tinjauan Pustaka

2.1. Hukum Humaniter Internasional Hukum Internasional Humaniter merupakan bagian dari Hukum Internasional Umum yang inti dan maksudnya diarahkan pada perlindungan individu pada khususnya dalam situasi-situasi tertentu/perang. Hukum Internasional terbagi menjadi 2 arti yaitu dalam arti sempit adalah keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan hukum yang mengatur tentang perlindungan korban sengketa bersenjata sebagaimana diatur dalam konvensi jenewa 1949 serta ketentuan internasional lain yang berhubungan dengan itu. Sedangkan dalam arti luas adalah keseluruhan asas, kaidah dan ketentuan internasional baik tertulis maupun tidak tertulis yang mencakup hukum perang dan hak asasi manusia bertujuan menjamin penghormatan terhadap harkat dan martabat pribadi seseorang (definisi pantap hukum humaniter departemen kehakiman) 6 Hukum perang itu sendiri dibagi dua bagian a. Hukum Den Haag ( The Law of The Hague/Hague Rules ) Dalam perkembangan Hukum Internasional, khususnya peraturanperaturan/perjanjian-perjanjian yang banyak hubungannya dengan perang sebagian besar dihasilkan di kota Den Haag sehingga J. Pictet menyebut Hukum Den Haag. Pada garis besarnya hukum Den Haag menetapkan bahwa para pihak yang terlibat dalam perang tidak mempunyai kebebasan mutlak dalam memenangkan peperangan. Karenanya dalam menggunakan alat senjata yang menghancurkan pihak lawan ada pembatasan-pembatasan tertentu. Prinsip-prinsip dalam hukum Den Haag antara lain prinsip dasar larangan atas perseorangan yang memberikan kesempatan pada nonkombatan untuk meninggalkan area, prinsip dasar larangan atas dasar sasaran yang melarang penyerangan atas objek yang tidak berhubungan dengan militer, dan prinsip dasar larangan atas dasar keadaan yang melarang metode yang mengakibatkan penderitaan melampaui batas. b. Hukum Jenewa ( Law of Geneva/Geneva Rules ) Dalam hukum Jenewa, posisi manusia mendapat perhatian lebih dalam daripada hukum perang sebelumnya. Dimana anggota sipil maupun militer yang tidak ikut berperang tetap dilindungi dan dihormati. Dan ketentuan inilah yang menyebabkan munculnya hukum humaniter.

Masyhur, op cit, hal. 13

Namun baik Konvensi Jenewa tahun 1949 maupun Peraturan Den Haag tidak membahas mengenai apa itu Hak Asasi Manusia. Pembahasan mengenai Hak Asasi Manusia dalam hukum Internasional diatur dalam Universal Declaration Of Human Rights tahun 1948. Menurut UDHR 1948, Hak Asasi Manusia antara lain Hak untuk hidup dan memiliki kebebasan dan keamanan pribadi (pasal 3) Hak untuk bebas dari penyiksaan (pasal 5) Hak untuk meninggalkan negaranya dan kembali ke negaranya dengan selamat (pasal 13) Hak atas persamaan dalam hukum (pasal 6 & 7) Hak untuk berkumpul dan berpendapat (pasal 16-19)

2.2. Kejahatan Perang dan Pengaturannya Dalam pembahasan mengenai hal ini, timbul pertanyaan apakah perang itu sendiri bukan merupakan suatu kejahatan? Para sarjana sudah banyak mengemukakan bahwa perang merupakan suatu lanjutan dari suatu tindakan politik, sedangkan perdamaian juga merupakan kelanjutan dari perang. sehingga dapat disimpulkan bahwa perang tersebut merupakan sesuatu yang dilakukan penuh kesadaran. Oleh karena itu pihak-pihak yang terlibat dalam perang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku pada waktu perang itu berlangsung sebagaimana diatur dalam konvensi Jenewa 1949. Kejahatan perang dapat dibagi menjadi empat jenis : 1. Pelanggaran peraturan perang yang berlaku dengan sah, oleh anggota angkatan bersenjata 2. Semua tindakan permusuhan bersenjata yang dilakukan oleh oknum-oknum yang bukan anggota angkatan perang 3. Spionase pengkhianatan perang 4. Tindakan yang merupakan perajahan (penggedoran/perampasan)7 Mengenai kejahatan atas hak asasi manusia, khususnya yang diatur oleh ICCPR, maka komite HAM yang berupa badan pengawasan dapat memberikan Advisery Opinion terhadap negara yang diduga telah melanggar HAM. Namun Advisory Opinion ini hanyalah Nonlegally binding instrument karena tidak memiliki sifat mengikat secara hukum.

Ali sastroamijoyo, pengantar hukum internasional , Bharata, 1971, Jakarta, hal.283

BAB 3 Pembahasan 3.1. Dinding pembatas Israel di West Bank Israeli West Bank Barrier atau yang biasa disebut Dinding pemisah atau Dinding Anti Teroris Israel adalah dinding yang dipasang oleh Israel yang kira-kira berukuran sepanjang 760 kilometer diantara sektor barat Israel dan Palestina. dikelilingi oleh rata-rata 60 meter (200 kaki) pengecualian luas wilayah (90% dari panjang), dan 8 meter (26 kaki) dinding beton tinggi (10% dari panjangnya)8. penghalang ini dibangun terutama di Tepi Barat dan sebagian di sepanjang garis, Gencatan Senjata 1949 atau "Green Line" antara Israel dan Palestina di Tepi Barat. 12% dari wilayah Tepi Barat di sisi Israel. Pendukung pembangunan dinding tersebut berpendapat bahwa penghalang diperlukan untuk melindungi warga sipil Israel dari terorisme Palestina, termasuk serangan bom bunuh diri yang meningkat secara signifikan selama Intifadah Kedua. Memang ada pengurangan jumlah insiden bom bunuh diri sejak dinding dibangun. Menurut statistik yang diterbitkan oleh pemerintah Israel, antara tahun 2000 dan Juli 2003, ketika "segmen terus menerus pertama" dari penghalang dibangun, 73 bom bunuh diri Palestina dilakukan dari Tepi Barat, menewaskan 293 warga Israel dan melukai lebih dari 1.900. Namun, dari Agustus 2003 dan akhir 2006, hanya 12 serangan dilakukan, menewaskan 64 warga Israel dan melukai 445. Pendukung berpendapat bahwa ini adalah indikasi dari penghalang yang efektif dalam mencegah serangan tersebut. Pihak yang kontra terhadap dinding penghalang berpendapat bahwa penghalang adalah usaha ilegal untuk lahan lampiran Palestina di bawah kedok keamanan, melanggar hukum internasional, memiliki efek merusak negosiasi (dengan mendirikan perbatasan baru), dan sangat membatasi warga Palestina yang tinggal di dekatnya, terutama kemampuan mereka untuk bepergian dengan bebas di dalam Tepi Barat dan untuk mengakses pekerjaan di Israel. Pengadilan Keadilan Internasional menilai bahwa "Israel tidak dapat mengandalkan hak membela diri atas pelanggaran dalam pembangunan tembok tersebut ". Pengadilan menyatakan bahwa "pembangunan dinding, dan rezim terkait, bertentangan dengan hukum internasional". 9 Ide menciptakan penghalang fisik antara populasi Israel dan Palestina pertama kali diusulkan pada tahun 1992 oleh mantan perdana menteri Yitzhak Rabin, menyusul pembunuhan seorang gadis remaja Israel di Yerusalem. Rabin mengatakan bahwa Israel harus "mengambil Gaza keluar dari Tel Aviv", dalam rangka untuk meminimalkan gesekan antara masyarakat. Bagian pertama dari dinding yang berdiri sebagai penghalang dibangun
"Israel High Court Ruling Docket H.C.J. 7957/04: International Legality of the Security Fence and Sections near Alfei Menashe". Supreme Court of Israel. September 15, 2005. http://www.zionismisrael.com/hdoc/High_Court_Fence.htm. Retrieved 2007-04-16. ab 9 ^ "Legal Consequences of the Construction of a Wall in the Occupied Palestinian Territory: Advisory Opinion". Cases. International Court of Justice. July 9, 2004. Archived from the original on 2004-07-04. http://www.icj-cij.org/docket/index.php?pr=71&p1=3&p2=1&case=131&p3=6. Retrieved 2007-04-16.
8

selama negosiasi kesepakatan Oslo pada 1994. Bagian ini mengikuti perbatasan antara Bat Hefer dan masyarakat Tulkarm Setelah serangan terhadap Junction Hasharon, dekat kota Netanya, Rabin membuat tujuannya lebih spesifik: This path must lead to a separation, though not according to the borders prior to 1967. We want to reach a separation between us and them. We do not want a majority of the Jewish residents of the state of Israel, 98% of whom live within the borders of sovereign Israel, including a united Jerusalem, to be subject to terrorism. Pada awal tahun 1995, komisi Shahal didirikan oleh Yitzhak Rabin untuk mendiskusikan bagaimana menerapkan suatu penghalang yang memisahkan Israel dan Palestina. Perdana Menteri Israel Ehud Barak, sebelum KTT Camp David 2000 dengan Yasser Arafat, berjanji untuk membangun tembok pemisah, yang menyatakan bahwa itu adalah "penting untuk bangsa Palestina untuk memupuk identitas nasional dan kemandirian tanpa tergantung pada Negara Israel " Setelah wabah kekerasan Palestina pada tahun 2002, Israel mulai membangun penghalang yang akan memisahkan sebagian Tepi Barat dari daerah di dalam Israel. Mahkamah Agung Israel mengacu kepada kondisi dan sejarah yang menyebabkan pembangunan tembok itu. Dalam keputusan September 2005, itu menggambarkan sejarah kekerasan terhadap warga Israel sejak pelarian dari Intifada Kedua dan hilangnya kehidupan yang terjadi di sisi Israel.

3.2. Early Warning Procedure "Prosedur Peringatan Dini", bahasa sehari-hari disebut sebagai "Prosedur Tetangga", adalah cara yang digunakan oleh Angkatan Pertahanan Israel (IDF) untuk menangkap orangorang yang diinginkan di West Bank dan untuk menghindari korban sipil dan militer. Jika angkatan bersenjata Israel mengetahui bahwa orang tersebut sedang berada di Rumahnya, menurut "Prosedur Peringatan Dini" pasukan mengelilingi rumah tetapi tidak masuk sendiri. Mereka kemudian meminta bantuan dari penduduk Palestina, yaitu tetangga orang tersebut yang dibujuk untuk masuk kedalam rumah target. Kemudian Orang itu memperingatkan penghuni rumah, meminta mereka untuk meninggalkan rumah dan menyerah kepada pasukan Israel. Jika orang tersebut tidak mematuhi, pasukan memasuki rumah untuk menangkapnya. Ide umum dari "Early Warning Procedure" adalah untuk menemukan sukarelawan, yang dapat dibujuk dengan kata-kata saja,tanpa ancaman, dan memiliki setiap kemungkinan untuk menolak. Orang yang bersangkutan tidak seharusnya diperintahkan untuk melakukan tugas-tugas militer. dan lebih buruknya lagi, ia tidak dapat mendapatkan bantuan saat ia terluka. Alasan diadakannya operasi peringatan dini ini adalah untuk menghindari serangan pihak oposisi apabila pengumuman penangkapan di keraskan melalui Megafon atau speaker. Juga menghindari kemungkinan orang yang akan ditangkap lari ke kerumunan penduduk apabila rencana penangkapannya diumumkan melalui pengeras suara.

3.3. Hasil Analisis Perlindungan penduduk sipil dalam hukum internasional terdiri dari perlindungan pada masa perang dan damai. Dalam masa perang, terangkum dalam Hukum Humaniter Internasional sedangkan dalam masa damai terdapat dalam Hukum Hak Asasi Manusia

Perlindungan kepada rakyat sipil dalam suatu konflik atau perang baik domestik maupun internasional diatur dalam hukum internasional berupa konvensi Jenewa ke-IV tahun 1949 dan dalam protokol tambahan tahun 1977. Dalam salah satu pasal konvensi tersebut, yang dimaksud orang yang harus dilindungi adalah pihak yang terlibat dalam perang dan menjadi korban atau penduduk sipil yang jatuh ke tangan musuh. 10disamping Konvensi Jenewa, ada juga Statuta Roma, American/European Convention of Human Rights dan UN Charter yang menjamin hak-hak asasi manusia

a. Pendirian Barrier di West Bank oleh Israel Atas tindakan yang dilakukan Israel dengan mendirikan dinding pemisah di west bank dianggap telah melanggar hukum internasional karena melanggar hak-hak rakyat Palestina yang diatur dalam UDHR tahun 1948. Khususnya hak untuk meninggalkan negaranya dan kembali ke negaranya dengan selamat, juga hak untuk kebebasan dan keamanan pribadi. Mengingat dengan didirikannya barrier tersebut telah membatasi gerak penduduk sipil Israel baik yang berada di dalam barrier maupun di luar barrier. Mahkamah Keadilan Internasional (International Court Of Justice) memberikan suatu Advisery Opinion kepada negara Israel untuk menghentikan pembangunan dinding bahkan membongkar struktur dinding yang sudah dibangun. Dikarenakan menurut mahkamah internasional, pembangunan dinding merupakan pelanggaran kewajiban negara Israel dalam mematuhi pengaturan Ham Internasional. Mengingat tindakan Israel yang semula bertujuan untuk mencegah timbulnya korban bom bunuh diri Palestina, kini telah berubah menjadi pelanggaran sejumlah Hak asasi penduduk sipil Palestina yang tinggal di daerah West bank seperti pembatasan akses terhadap makanan, air, dan pendidikan, penghancuran rumah penduduk, pendirian markas komando di daerah sipil dan lain-lain. Tindakan Israel lain yang dianggap telah melanggar hukum Humaniter internasional adalah pemindahan penduduk Israel menuju daerah yang mereka kuasai sekitar West Bank. Jelas tindakan Israel ini telah melanggar pasal 49 paragraf 6 konvensi Jenewa yang melarang pentransferan penduduk negara yang berkuasa kepada daerah yang dikuasainnya.11. Selanjutnya dalam pasal 43 Regulasi Den Haag tahun 1907, disebutkan bahwa negara penginvasi bertanggung jawab terhadap penduduk dari daerah yang diinvasi. Yang kemudian dibahas perkembangannya dalam pasal 29 dan 47 konvensi Jenewa ke-4 yang menyatakan bahwa selain occupying power menyandang hak, ia juga menyandang kewajiban terhadap keadaan lingkungan dan penduduk sekitar. Oleh karena itu, penahanan terhadap seseorang yang dicurigai sebagai ancaman dapat ditahan dibawah undang-undang tentang kemanusiaan (humanitarian law). Akan tetapi dalam batas yang proposional dan sewajarnya. b. Operasi Early Warning Procedure sebagai pelanggaran HAM Dalam operasi prosedur peringatan dini, ada 2 tindakan utama yang melanggar HAM yaitu - Penggunaan perisai manusia untuk mencapai tujuan tertentu

pasal 4 dan 13 Konvensi Jenewa Ke IV tahun 1949 Article 49 paragraph 6 Geneva Convention stated The Occupying Power shall not deport or transfer parts of its own civilian population into the territory it occupies
11

10

Pelibatan penduduk sipil dalam melayani kepentingan militer dari negara penginvasi

Kedua hal tersebut diatur oleh Konvensi Jenewa ke-empat tahun 1949 pasal 28 dan 51. Dalam pasal 51 paragraf pertama, disebutkan bahwa pelibatan orang yang dilindungi dalam operasi militer secara paksa, baik melalui tekanan maupun propaganda adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Larangan ini diterima secara universal sebagai prinsip dasar dalam hukum perang. 12 Larangan tersebut tidak boleh dikurangi dalam bentuk apapun, seperti yang tercantum dalam katalog kejahatan perang dalam Statuta Roma ICJ. Disamping itu, pasal 23 paragraf kedua Peraturan Den Haag juga mengatur mengenai hal tersebut , namun hanya melarang pelibatan penduduk dari negara yang dikuasai untuk memerangi negaranya sendiri, yang kemudian dikembangkan lingkupnya dalam Konvensi Jeneva ke-empat. Dimana pelarangan perekrutan penduduk oleh negara penginvasi untuk melawan siapapun. Pelibatan penduduk sipil dalam operasi militer negara penginvasi dilarang dikarenakan hal tersebut dapat membahayakan jiwa orang tersebut. Ada kemungkinan diserang oleh pihak oposisi seperti pada kasus Nidal Abu Mukhsan, ataupun terkena perangkap tersembunyi seperti ranjau. Maka dapat disimpulkan bahwa pihak militer Israel menggunakan penduduk sekitar sebagai perisai manusia untuk mencapai tujuannya. Dalam pasal 28 Konvensi Jenewa tahun 1949, dinyatakan bahwa penggunaan manusia sebagai tameng adalah sesuatu dilarang secara keras. Seperti berikut bunyi pasal tersebut The presence of a protected person may not be used to render certain points or areas immune from military operations. Prosedur Peringatan Dini adalah operasi yang dibuat untuk mencegah agar tentara Israel tidak terluka saat mendekati rumah target dan mengumumkan peringatan melalui pengeras suara. Baik karena serangan langsung dari pihak oposisi maupun jebakan ranjau yang ditanam di tanah. Sehingga mereka menggunakan penduduk sekitar yang merupakan tetangga si target untuk masuk kedalam rumahnya dan menyarankan agar si target menyerah. Diluar dari ruang lingkup konvensi Jenewa yang lebih membahas tentang hukum perang, ICCPR dalam pasal 1 paragraf 6 membahas tentang hak asasi manusia adalah hak untuk hidup. Yang mana hak tersebut harus dilindungi secara hukum. Namun hak tersebut tidak terjamin dalam situasi perang. karena menurut pasal 6 ini, perang tidak dilarang selama tidak melanggar hukum perang internasional dan tata cara perang. 13 Illegalitas prosedur peringatan dini seperti yang dibahas di atas adalah sebuah situasi istimewa yang diakibatkan oleh okupasi suatu negara terhadap suatu negara lain.

Report of the Secretary-General on Respect for Human Rights in Armed Conflicts, UN Doc. A/8052 (18 September 1970), p. 104

13

Hans-Peter Gasser, Protection of the civilian population, in Dieter Fleck (ed.), The Handbook of Humanitarian Law in Armed Conflicts, Oxford University Press, Oxford, 1999, (note 17), p. 263.

12

BAB 3 Kesimpulan Secara normatif, perlindungan hukum internasional terhadap penduduk sipil Palestina dalam Hukum Internasional terdapat dalam; pertama Konvensi Jenewa Ke IV tahun 1949 meliputi (perlindungan umum dan perlindungan khusus); kedua Protokol Tambahan I dan II; dan ketiga dalam Statuta Roma Berdasarkan Regulasi Hukum Humaniter Internasional tersebut, tindakan negara Israel dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia rakyat Palestina karena ketentuan-ketentuan hukum diatas adalah hukum yang melindungi Hak Asasi Manusia dalam suatu perang. Pembangunan dinding pemisah di West Bank maupun operasi Early Warning Procedure dianggap sebagai pelanggaran terhadap Hukum Humaniter Internasional. Khusunya hukum perang yang tercantum dalam Konvensi Jenewa, Statuta Roma maupun Peraturan Den Haag. Namun Israel sebagai negara yang dianggap melanggar hukum internasional tidak bisa begitu saja diadili dalam mahkamah internasional. Karena untuk mengadili suatu negara atas suatu pelanggaran, negara tersebut harus meratifikasi perjanjian/konvensi internasional yang membahas mengenai pelanggaran tersebut. Selain itu,Tindakan negara Israel tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang berdasarkan jenis-jenis kejahatan perang yang dikemukakan oleh Ali Sastroamijoyo. Karena melanggar peraturan perang yang berlaku dengan sah yaitu konvensi Jenewa 1949 itu sendiri

DAFTAR PUSTAKA Buku Ali Sastroamijoyo, Pengantar Hukum Internasional, Bharata,1971, Jakarta G. Starke, Pengantar Hukum Internasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2001. Mochtar Kusumaatmadja, Konvensi Jenewa Tahun 1949 mengenai Perlindungan Korban Perang, Binacipta, Bandung, 1968. Masyhur Effendi, perkembangan hukum internasional humaniter dan sikap Indonesia di dalamnya.1988

Perundang-undangan Konvensi Jenewa Tahun 1949 Peraturan Den Haag Tahun 1907 Statuta Roma Tahun 1998 ICCPR

Lain-lain

http://en.wikipedia.org/wiki/Israeli_West_Bank_barrier http://articles.cnn.com/2004-07-09/world/israel.barrier_1_barrier-amountspalestinian-territory-palestinian-chief-negotiator?_s=PM:WORLD

http://www.icrc.org/ihl.nsf/WebList?ReadFo

10