Anda di halaman 1dari 14

1.

Pengertian Pewilayahan/ Regionalisasi Pewilayahan/ regionalisasi adalah usaha untuk membagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tersebut untuk tujuan tertentu. Permukaan bumi akan terbagibagi atas berbagai wilayah sesuai dengan konsep wilayahnya. Perbedaan konsep wilayah yang diterapkan menghasilkan perbedaan unit-unit atau batas-batas wilayah yang dihasilkan, seperti dapat dilihat pada Gambar 4.1 berikut ini.

Gambar 4.1. Regionalisasi Sebagai Dasar Deliniasi Ruang (Rijanta, 2005)

Ada beberapa cara untuk menetapkan suatu pewilayahan. Pewilayahan apabila dilihat dari atas adalah membagi suatu wilayah yang luas, misalnya luas wilayah suatu negara ke dalam beberapa wilayah yang lebih kecil. Pewilayahan mengelompokkan beberapa wilayah kecil dalam satu kesatuan. Suatu pewilayahan dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembentukan wilayah itu sendiri. Secara teknik, pewilayahan berkaitan dengan proses penentuan batas daerah yang tergantung pada tujuan pengelompokan dan kriteria yang digunakan. Tujuan umum pewilayahan adalah untuk mempermudah melakukan analisa dan untuk menjawab persoalan-persoalan pada kelompok-kelompok wilayah tersebut. Berkaitan dengan pembangunan, pewilayahan diarahkan pada aspek pemerataan pembangunan, keserasian dan koordinasi pembangunan, serta arah dan prioritas kegiatan (wilayah) pembangunan. Hasil dari regionalisasi atau pewilayahan diperoleh beberapa pandangan, yaitu wilayah homogen, wilayah fungsional dan wilayah perencanaan (Rijanta, 2005). a. Wilayah Seragam (homogenous regions) Pandangan pertama bertujuan untuk mendeliniasi daerah-daerah yang seragam. Kriteria pokok yang digunakan untuk membedakan antar daerah mungkin dapat berbeda, tergantung pada tujuan pembuatannya. Kriteria-kreteria yang digunakan dapat berupa ketinggian tempat, bentuk lahan, curah hujan, kegiatan ekonomi yang

dominan, atau dapat pula kombinasi dari beberapa unsur. Kriteria yang digunakan hendaknya menonojolkan perbedaan-perbedaan dalam daerah itu sendiri.

b.

Wilayah Fungsional (functional regions) Pandangan yang kedua, mencoba menyampaikan cara pendeliniasi wilayah fungsional yang sering juga disebut wilayah tertutup (polarized regions) atau wilayah inti (nodal regions). Konsep dasarnya pada pemikiran yang menyatakan bahwa masyarakat membutuhkan ruang untuk kegiatannya, dan kegiatan-kegiatan ini paling tidak mencakup kegiatan seperti administrasi umum, ekonomi, politik, rekreasi dan berbagai bentuk kegiatan sosial. Intinya adanya hubungan timbal balik yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan ini dan dibutuhkan angkutan atau komunikasi antar tempat-tempat yang berbeda. Jadi sebenarnya konsep ini menekankan perbedaan-perbedaan dalam suatu wilayah. Dengan bertambahnya spesialisasi (pembagian-pembagian tenaga kerja menurut keahliannya) akan memperkuat hubungan timbal balik ini dalam suatu ruang.

c.

Wilayah Perencanaan (planning regions) Pandangan ketiga, wilayah perencanaan pada prinsipnya ditentukan atas dasar tujuan perencanaan kegiatan yang diinginkan dan pembangunan yang diharapkan untuk memudahkan cara kerja, biasanya digunakan batas-batas administrasi di mana tersedia sarana-sarana baik dalam pengumpulan data maupun penerapan suatu rencana (Sadharto, dkk, 1986). Wilayah perencanaan/pengelolaan tidak terlalu struktural melainkan sebagai unit-unit koordinasi atau pengelolaan yang berfokus pada tujuan-tujuan dan penyelesaian-penyelesaian masalah tertentu, seperti otorita DAS, Free Tade Zone dan lain-lain.

2.

Berbagai Sudut Pandang Tentang Pewilayahan a) Berdasarkan wilayah administrasi pemerintahan, di Indonesia dikenal wilayah kekuasaan pemerintahan, seperti provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, desa/kelurahan, dan dusun/lingkungan. b) Berdasarkan kesamaan kondisi (homogenity), yang paling umum adalah kesamaan kondisi fisik. Berdasarkan kesamaam kondisi fisik, Sumatera Utara pernah dibagi atas pantai timur, pegunungan, dan pantai barat. Ada juga pembagian berupa wilayah pertanian dengan wilayah industri, wilayah perkotaan dan wilayah perdesaan atau daerah pedalaman. Acara lain berdasarkan kesamaan sosial budaya, misalnya daerah dibagi menurut suku mayoritas, agama, adat istiadat, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, mayoritas masyarakat mendiami wilayah tersebut. c) Berdasarkan ruang lingkup pengaruh ekonomi. Perlu ditetapkan dulu beberapa pusat pertumbuhan (growth pole atau growrh centre) yang kira-kira sama besarnya/rankingnya, kemudian ditetapkan batas-batas pengaruh dari setiap pusat pertumbuhan. Apa yang dapat dipakai ukuran batas pengaruh suatu pertumbuhan (yang umumnya adalah perkotaan)? Perlu diingat bahwa batas pengaruh antara satu kota dengan kota lainnya hanya dapat dilakukan untuk kota-kota yang sama rankingnya, misalnya antara Lubuk Pakam dengan Perbaungan, di mana jumlah penduduk kedua kota tersebut tidak terlalu jauh berbeda. Di dalam mencari batas pengarruh antara kedua kota tersebut, dapat dicari suatu titik yang di satu sisi lebih banyak penduduknya bepergian ke Lubuk Pakam, sedangkan pada sisi lain lebih banyak penduduknya bepergian ke Perbaungan. Bisa saja pad sisi lainnya tersebut masih ada penduduk yang bepergian ke kota lain, tetapi mayoritas penduduknya adalah ke arah yang satu lagi. Tujuan bepergian itu dapat berupa berbelanja, menjual hasil produksinya, bekerja, bersekolah, berobat, rekreasi, dan lain-lain. Pewilayahan seperti ini biasanya dibutuhkan apabila menggunakan pendekatan regional dalam perencaanaan pembangunan wilayah. d) Berdasarkan wilayah perencanaan/program. Dalam hal ini ditetapkan batas-batas wilayah ataupun daerah yang terkena suatu program atau proyek di mana wilayah tersebut termasuk ke dalam suatu perencanaan untuk tujuan khusus. Misalnya, DAS Sei Wampu, DAS Konto, DAS Citarum, proyek Asahan, dan lain-lain. Suatu wilayah perencanaan dapat menembus beberapa wilayah administratif berdasarkan kebutuhan perencanaan tersebut. Misalnya, perencanaan pelestarian daerah aliran sungai (DAS) dimulai dari sumber mata air di pegunungan melintasi wilayah dataran, memasuki daerah pantai dan bermuara di laut lepas. Aliran itu sendiri bisa melalui wilayah perkebunan, wilayah pertanian darat, wilayah persawahan, pemukiman, perkotaan, dan lain-lain sebelum memasuki muara di laut lepas. Aliran sungai itu bisa melewati lebih dari satu provinsi, beberapa kabupaten dan kota, serta berbagai kawasan. Wilayah DAS itu menyangkut tangkapan air di pegunungan sebagai sumber mata airnya dan wilayah kanan kiri sungai mulai dari hulu hingga ke muaranya. Contoh lain dari pewilayahan berdasarkan program adalah BPS membuat Block Sensus dalam rangka pelaksanaan sensus.

3.

Pengelompokan Negara maju dan Negara berkembang Suatu negara dapat disebut negara berkembang atau negara maju didasarkan pada keberhasilan pembangunan oleh negara yang bersangkutan. Suatu negara digolongkan sebagai negara berkembang jika negara tersebut belum dapat mencapai tujuan pembangunan yang telah ditetapkan atau belum dapat menyeimbangkan pencapaian pembangunan yang telah dilakukan. Adapun suatu negara digolongkan sebagai negara maju jika negara tersebut telah mampu menyeimbangkan pencapaian pembangunan yang telah dilakukan, sehingga sebagian besar tujuan pembangunan telah dapat terwujud, baik yang bersifat fisik ataupun nonfisik. Penggolongan suatu negara menjadi negara maju atau berkembang dapat diketahui berdasarkan indicator-indikator berikut. a. Indikator kuantitatif (data yang dapat dihitung), misalnya: 1) Jumlah dan kepadatan penduduk 2) Tingkat pertumbuhan penduduk; 3) Angka beban tanggungan; 4) Angka beban tanggungan; dan 5) Usia harapan hidup. B. Indikator kualitatif (data yang hanya dapat dibandingkan), misalnya; 1) Etos kerja dan pola pikir; 2) Tingkat pendidikan; 3) Mata pencaharian; 4) Tingkat kesehatan; 5) Pendapatan; dan 6) Kesadaran hukum.

4.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kegiatan Sosial Ekonomi Di Negara Maju Dan Negara Berkembang. Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi kegiatan ekonomi suatu wilayah, diantaranya : 1. Akumulasi modal, baik berwujud tanah, peralatan fisikal, dan sumber daya manusia (human resources) 2. Pertumbuhan populasi (penduduk) 3. Kemajuan teknologi Negara maju Ada beberapa ciri-ciri negara maju diantaranya : 1) Jumlah dan pertumbuhan penduduknya kecil 2) Jumlah pencari kerja dan lapangan kerja yang ada seimbang 3) Tingkat pendayagunaan tenaga kerja sudah tinggi 4) Daya serap ekonomi sudah tinggi

5) Kualitas tenaga kerja sudah memadai 6) Tingkat keterampilan dan produktivitas sudah baik 7) Jaminan kesejahteraan dan upah pekerja sesuai standar minimal yang telah ditetapkan 8) Tingkat teknologi dalam proses produksi tinggi 9) Tingkat daya beli masyarakat sudah tinggi 10) Angka kriminalitas dapat ditekan. 11) Sumber Daya Alam Dimanfaatkan secara Optimal Pemanfaatan teknologi dan kepemilikan modal membuat masyarakat di negara maju mampu memanfaatkan sumber daya alam secara optimal, menemukan sumber daya alam baru, ataupun memanfaatkan sumber daya alam yang telah ada sebagai energi alternatif. Misalnya pemanfaatan tenaga angin, air, atau energi matahari untuk menggantikan fungsi dari energi minyak bumi. 12) Dapat Mengatasi Masalah Kependudukan Hal ini dikarenakan angka pertumbuhan kecil, jumlah penduduk pada umumnya tidak terlalu banyak, angka beban ketergantungan kecil, kualitas dan produktivitas penduduk tinggi, pendapatan perkapita tinggi, dan peluang kerja dan kesempatan berusaha terbuka luas. 13) Produktivitas Masyarakat Didominasi Barang- Barang Hasil Produksi dan Jasa Kegiatan ini tidak memerlukan lingkungan agraris, sehingga dapat dipastikan bahwa > 70% penduduk negara maju tinggal di perkotaan. 14) Tingkat dan Kualitas Hidup Masyarakat Tinggi Tingginya kualitas penduduk mendorong semakin tingginya produktivitas masyarakat yang bermuara pada semakin tingginya pendapatan perkapita dan pendapatan nasional. 15) Ekspor yang Dilakukan adalah Ekspor Hasil Industri dan Jasa Ada kalanya, suatu negara maju sangat minim sumber daya alam atau bahkan tidak memiliki sumber daya alam sama sekali, namun dapat menghasilkan produk olahan sumber daya alam. Misalnya, hasil minyak mentah dari negara Inggris sangat minim, namun negara tersebut mampu menghasilkan produk olahan minyak bumi dan memasarkannya ke seluruh penjuru dunia. Kebutuhan minyak mentahnya tercukupi dengan cara mengimpor dari negara-negara lain yang umumnya termasuk dalam kategori negara-negara berkembang. 16) Tercukupinya Penyediaan Fasilitas Umum Negara maju memiliki kemampuan berupa sarana dan dana dalam memberikan pelayanan fasilitas umum yang memadai bagi warganya. Hal ini juga didukung dengan tingginya tingkat kesadaran warga masyarakatnya dalam memelihara dan memanfaatkan ketersediaan sarana fasilitas umum yang ada. 17) Kesadaran Hukum, Kesetaraan Gender, dan Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia Dijunjung Tinggi Masyarakat di negara maju pada umumnya memiliki disiplin yang tinggi dalam mematuhi hukum. Pemerintahan yang berjalan menerapkan prinsip akuntabilitas

(dapat dipertanggungjawabkan) serta transparansi (terbuka) dalam berbagai tindakan dan pengambilan keputusan. Jenis kelamin tidak lagi dipermasalahkan dalam penentuan jabatan, namun kemampuanlah yang diperhitungkan. Penghormatan terhadap hak asasi manusia dijunjung tinggi, bahkan untuk golongan minoritas, misalnya untuk kaum difabel (different ability) seperti orang tua, tuna netra, atau penyandang cacat fisik yang lain diberi fasilitas khusus dan porsi atau kesempatan kerja yang sejajar dengan masyarakat normal. 18) Tingkat Pendidikan Relatif Tinggi Tingkat pendidikan merupakan salah satu indikator penting yang menunjukkan kualitas penduduk suatu negara. Di negaranegara maju secara umum penduduknya sudah memiliki kesadaran tinggi akan arti penting pendidikan dan penguasaan Iptek. Hal tersebut terlihat dari angka partisipasi belajar penduduk negara-negara maju yang sangat tinggi. Tingginya tingkat pendidikan penduduk di negara maju juga ditunjang oleh sistem pendidikan yang baik dan anggaran pendidikan yang tinggi dari pemerintah. 19) Tingkat Pendapatan Penduduk Relatif Tinggi Kemajuan tingkat pendidikan serta penguasaan Iptek oleh mayoritas penduduk menjadikan negara maju memiliki potensi SDM yang berkualitas tinggi. Kondisi demikian membuat penduduk negara maju tidak lagi menggantungkan sektor pertanian sebagai penghasilan utama, tetapi di sektor industri, jasa dan perdagangan. Variasi pekerjaan di berbagai sektor tersebut menjadikan penduduk negara maju memiliki pendapatan rata-rata tinggi. Penghasilan penduduk yang tinggi akan berdampak pada pendapatan perkapita yang tinggi pula. 20) Tingkat Kesehatan Sudah Baik Rata-rata penduduk negara maju sudah memiliki standar kehidupan yang tinggi, sehingga kesadaran masyarakat akan arti penting kesehatan juga sudah baik. Selain itu pihak pemerintah juga memberikan perhatian yang sangat baik terhadap tingkat kesehatan masyarakat melalui pembangunan berbagai sarana dan prasarana kesehatan yang memadai di berbagai daerah yang dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Tingkat kesehatan penduduk yang sudah baik, dapat terlihat dari angka kematian penduduk yang rendah dan angka harapan hidup penduduk yang tinggi di negara maju. Secara sederhana, perbedaan indikator negara maju dan negara berkembang saat ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Di negara maju faktor-faktor di atas sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi yang berjalan simultan dan dapat dikendalikan.Negara maju sering dikaitkan dengan proses industrialisasi dan pembangunan industri. Negara-negara di dunia yang dapat dikategorikan sebagai negara industrti maju ( industrial countries) tergabung dalam kelompok G7 yaitu Amerika Serikat, Inggris, Pernacis, Jerman, Belanda, Italia dan Jepang. Dewasa ini muncul negara-negara yang tergolong industri baru (new indsustrial countries). Dalam arti luas industri adalah segala aktivitas manusia di bidang ekonomi yang menghasilkan barang atau jasa. Dengan industrialisasi ada beberapa keuntungan yang dicapai, yaitu : a. memperbesar kegunaan bahan mentah (semakin banyak bahan mentah yang diolah maka semakin banyak pula manfaat yang diperoleh) b. memperluas lapangan pekerjaan c. menambah penghasilan penduduk, sehingga menambah kemakmuran d. mengurangi ketergantungan pada luar negeri e. mendorong kemajuasn ilmu pengetahuan dan teknologi f. menghasilkan aneka barang yang diperluykan rakyat g. kegiatan ekonomi menjadi lebih leluasa karena tidak hanya tergantung pada lingkungan alam h. menambah devisa negara Perbedaan lingkungan geografis yang dimiliki oleh setiap negara akan menyebabkan jenis perindustrian juga berbeda baik itu meliputi unsur fisik, unsur biotik dan unsur abstrak a. Unsur fisik Unsur fisik merupakan lingkungan alam yang bukan memiliki potensi sebagai pendorong, tetapi juga sebagai penghambat. Unsur-unsur fisik tersebut dapat berupa iklim, cuaca, tanah dan sumberdaya mineral. b. Unsur biotik Unsur biotik mencakup kekayaan flora baik itu dari hasil pertanian, perkebunan maupun kehutanan dan fauna serta manusia dengan segala aspek kehidupannya yaitu dengan kemajuan IPTEK. c. Unsur abstrak Unsur abstrak mencakup letak, luas, batas dan bentuk wilayah. Unsur ini erat kaitannya dengan aksesibilitas yang berperan dalam distribusi produk yang dihasilkan serta bahan mentah yang diperlukan. Jika diamati jenis perindustrian yang terdapat di indonesia dengan perindustrian yang terdapat di negara maju, perbedaan yang tampak jelas adalah pada pemanfaatan teknologinya. Industri-industri yang terdapat di indonesia pada umumnya berupa industri rumah tangga yang tidak banyak menggunakan teknologi maju dan jumlah hasil produksinya dalam skala kecil. Unsur-unsur yang muncul dari elemen industri, yaitu: a. Bahan Mentah (bahan baku) Suatu industri dapat beroperasi bila tersedia bahan mentah atau bahan baku yang cukup. Negara yang memiliki persediaan bahan mentah akan mengalami keuntungan karena tidak perlu mendatangkan dari negara lain

b. Modal Modal yang besar merupakan salah satu faktor utama untuk kemajuan industri. Dengan modal yang besar maka akan dapat menyediakan perlengkapan industri moderen sehingga kualitas dan kuantitas hasil industri dapat terus dikembangkan. c. Tenaga Kerja Untuk meningkatkan produktivitas industri tentunya diperlukan tenaga kerja yang berjumlah besar, tenaga kerja yang terampil . d. Pasar Pemasaran merupakan kegiatan akhir dari industri yang terpenting bagi kegiatan industri. Daerah atau negara yang mempunyai jumlah penduduk dan daya beli yang besar merupakan tempat pemasaran yang ideal misalnya indonesia dan cina. e. Transportasi Sarana dan prasarana transportasi yang memadai akan menunjang kegiatan industri dan akan memperlancar pengangkutan bahan baku dan bahan bakar ke lokasi industri serta memperlancar pengangkutan untuk memasarkan hasil industri. Saat ini indonesia sedang memasuki tahap transisi menuju masa industri. Adapun hambatan-hambatan yang mempengaruhi pembangunan industri di indonesia antara lain: 1. Suasana industri belum merata 2. Tenaga terampil masih terbatas 3. Daya beli masyarakat masih rendah 4. Modal yang tersedia terbatas 5. Jaringan yang masih belum memadai 6. Pangsa pasar tidak merata akibat penyebaran penduduk yang tidak merata Proses industrialisasi dan pembangunan industri merupakan suatu jalur kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, tingkat hidup yang lebih maju maupun taraf hidup yang lebih bermutu. Kegiatan perekonomian di negara maju biasanya berkaitan erat dengan produksi sekunder yang meliputi hasil-hasil sektor industri, dan produksi tersier yang meliputi hasil dari jasa-jasa. Berikut beberapa gambaran mengenai kegiatan perekonomian di negara-negara maju : 1.1 Komersialisasi Perikanan Di bidang perikanan, negara maju menggunakan teknologi tinggi baik untuk membudidayakan maupun untuk pengolahan dan pengemasannya. Misalnya dalam penangkapan dan pengolahan ikan paus, anjing laut, spons serta pembudidayaan mutiara. Semakin majunyas kegiatan dibidang perikanan dapat pula ikut memajukan industri lain yang melayaninya, seperti pebuatan kaleng dalam berb agai ukuran, bahan-bahan pengawet, peralatan penangkap ikan, alat pengolah ikan segar, industri pupuk, makanan ternak dan lain-lain. Kawasan-kawasan yang kaya akan ikan terletak di ambang benua belahan utara yang beriklim sedang. Contoh negara Inggris, Denmark, Norwegia, New Foundand, Eslandia dan Kepulauan Jepang. 1.2 Pertanian Pertanian di negara maju dicirikan dengan adanya produksi pertanian yang sangat elastis dimana hasilnya disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan pasar. Penduduk yang bekerja di bidang pertanian jumlahnya sangat terbatas, yaitu di bawah

20%, bahkan kadang-kadang hanya mencapai 5%. Di negara maju pengelolaan pertanian menerapkan dan mengembangkan teknologi pertanian yang moderen. Penggunaan bibit ungul serta pengembangan bibit unggul dilakukan secara lintas sektoral,yaitu dengan kerjasama dengan pihak perguruan tinggi, lembaga pertanian serta beberapa perusahaan yang terkait. 1.3 Kehutanan Penggunaan mesin-mesin canggih, baik dalam penebangan, pengangkutan, pengerajinan, maupun dalam pemotongan dan pengolahan lebih lanjut. Usaha komersialisasi kayu terutama kayu hutan dilaksanakan dengan sangat hati-hati dan selalu diimbangi dengan usaha penanaman kembali hutan yang telah ditebang. Penebangan kayu hutan di negara-negara maju dilakukan secara musiman, misalnya yang dilakukan di Inggris, Canadfa, Rusia, Scandinavia dan Finlandia. Jika kekurangan bahan kayu hasil hutan maka dilakukan pengimporan kayu dari dari daerah tropis. Masyarakat di negara-negara maju mempunyai tingkat kesadaran yang cukup tinggi akan arti pentingnya hutan bagi kelansungan hidup manusia. 1.4 Pertambangan Pertambangan di negara-negara maju mengalami kemajuan yang pesat pada saat Inggris dan negara-negara Eropa Barat mengalami revolusi industri. Pertambangan di negara maju diolah menggunakan teknologi di dalam negri, bahkan untuk jenis pertambangan tertentu seperti batubara dan biji besi diolah di tempattempat tertentu yang dekat dengan daerah pertambangan. 1.5 Perindustrian Negara maju yang pertama kali dikenal sektor industrinya adalah Inggris. Hal ini karena di Inggris revolusi industri dengan ditemukannya mesin uap yang dapat menghemat biaya dan peningkatan produksi industrinya sebesar 400% selama paruh pertama abad ke-19. Di negara-negara maju jumlah penduduk yang terlibat kedalam perindustrian jauh lebih besar bila dibandingkan dengan yang bermatapencaharian bertani. Contoh di Jepang jumlah penduduk yang bekerja disektor pertanian hanya 13%, sisanya bekerja di sektor industri dan jasa. Demikian juga Australia, dimana penduduk yang bekerja di sektor pertanian hanya 10 %, 30% di sektor industri dan 60% di sektor jasa. 1.6 Perniagaan Kegiatan perekonomian di sektor ini merupakan kegiatan sektor tersier, yakni kegiatan-kegiatan yang secara tidak langsung menghasilkan dan meningkatkan nilai barang, seperti kegiatan perbangkan, bursa uang, asuransi, transportasi, akomodasi, perdagangan dan jasa tlekomunikasi. Kegiatan perniagaan pada umumnya dapat dikelompokan menjadi 2 (dua), yakni : (1) Para pedagang, yakni yang menjadi perantara antara produsen konsumen, seperti pedagang, ahli perbangkan, para akuntan, konsultan dan para perantara/ calo (broker). (2) Para pengangkut, yakni meliputi para pengatur ekspedisi barang, pengangkutan orang dari suatu tempat ke tempat lain. Termasuk sopir, masinis, pilot, pelautniaga, dan mereka yang melayani jasa komunikasi.

Pada sektor ini di negara-negara maju mengalami perkembangan yang sangat pesat karena didukung oleh telekomunikasi dan sistem informasi yang suadah sangat mapan/ maju di negara-negara tersebut. Negara berkembang Ada beberapa ciri-ciri negara berkembang diantaranya : 1. Jumlah pencari kerja dan lapangan kerja yang ada tidak seimbang 2. Tingkat pendayagunaan tenaga kerja masih rendah 3. Daya serap ekonomi rendah 4. Kualitas tenaga kerja belum memadai 5. Tingkat keterampilan dan produktivitas masih rendah 6. Jaminan kesejahteraan dan upah pekerja belum standar minimal yang telah ditetapkan 7. Tinggkat teknologi dalam proses produksi rendah 8. Tingkat daya beli masyarakat masih rendah 9. Angka kriminalitas tinggi. 10. Memiliki Berbagai Masalah Kependudukan Berbagai tekanan dan masalah kependudukan yang merupakan masalah kompleks di negara-negara berkembang, antara lain: 1) laju pertumbuhan dan jumlah penduduk relatif tinggi; 2) persebaran penduduk tidak merata; 3) tingginya angka beban tanggungan; 4) kualitas penduduk relatif rendah; sehingga mengakibatkan tingkat produktivitas penduduk juga rendah. 5) angka kemiskinan dan pengangguran relatif tinggi; serta 6) rendahnya pendapatan perkapita. 11. Produktivitas Masyarakatnya Masih Didominasi Barang-Barang Primer Hal ini dikarenakan, pada umumnya > 70% penduduk di negara berkembang berlatar belakang kehidupan agraris yang cara pengolahannya masih dilakukan dengan alat-alat dan metode-metode sederhana. Kondisi ini pula yang menyebabkan sebagian besar penduduk negara-negara berkembang masih tinggal di pedesaan. 12. Sumber Daya Alam Belum dapat Dimanfaatkan secara Optimal Pemanfaatan kekayaan alam yang dimiliki belum mampu dioptimalkan. Dalam pemanfaatannya, negara berkembang masih bekerja sama dengan negara maju dalam mengeksploitasi sumber daya alam yang dimiliki. Hasil sumber daya alam ini pada akhirnya dijadikan komoditas perdagangan (ekspor) karena belum memiliki teknologi untuk mengolahnya lebih lanjut. Oleh karena itu, pada umumnya negara berkembang mengandalkan ekspor dari hasil alam mentah. 13. Ketergantungan terhadap Negara Maju Negara berkembang pada umumnya sedang giat-giatnya melakukan pembangunan, namun terbentur kendala modal dan teknologi. Oleh karena itu, mereka cenderung tergantung pada teknologi dan kucuran dana (baik hibah ataupun pinjaman) dari negaranegara yang lebih maju (negara donor) demi

kelangsungan pembangunan yang sedang dijalankan. Pada praktiknya, negaranegara donor tersebut memberikan pengaruh yang bersifat mengikat dan terkesan mendikte terhadap negara-negara yang dibantunya. 14. Keterbatasan Fasilitas Umum Kemampuan pemerintah negara berkembang dalam bidang keuangan negara pada umumnya terbatas. Hal inilah yang menyebabkan keterbatasan fasilitas umum yang mampu disediakan oleh pemerintah. 15. Tingkat Kesadaran Hukum, Kesetaraan Gender, dan Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia Relatif Rendah Tingkat partisipasi masyarakat dalam penegakan hukum relatif masih rendah. Masyarakatnya (termasuk pejabatnya) masih banyak yang melakukan kecurangan-kecurangan hukum tanpa rasa malu. Bentuk-bentuk pelanggaran hukum yang terjadi, antara lain pemaksaan kehendak, penyuapan, korupsi, kolusi, nepotisme, perusakan fasilitas umum, dan sebagainya. Kesetaraan gender juga belum membudaya, wanita yang aktif bekerja masih dianggap sebagai hal yang kurang pantas menurut beberapa kalangan. Penegakan dan perlindungan hak asasi manusia juga belum dapat dilaksanakan secara optimal. 16. Tingkat Pendidikan Masih Rendah Tingkat pendidikan pendudukan di negara-negara berkembang secara umum masih rendah. Hal tersebut dikarenakan sarana dan prasarana pendidikan baik formal maupun nonformal masih terbatas dan belum memadai sehingga belum dapat dijangkau oleh seluruh penduduk di negara tersebut. Akibatnya, masih banyak dijumpai penduduk yang buta huruf. 17. Tingkat Pendapatan Masih Rendah Mayoritas penduduk negara berkembang bekerja pada sektor pertanian yang umumnya masih dikerjakan secara tradisional. Tingkat pendidikan serta penguasaan Iptek oleh penduduk yang rata-rata masih rendah menyebabkan penduduk tidak mampu bersaing untuk bekerja atau menciptakan pekerjaan di sektor lain. Kondisi demikian mengakibatkan penduduk negara berkembang memiliki penghasilan atau pendapat rata-rata yang relatif rendah, sehingga pendapatan perkapita juga rendah. 18. Tingkat Kesehatan Taraf kehidupan penduduk negara berkembang yang masih rendah juga berdampak pada tingkat kesehatan penduduknya. Pada umumnya penduduk negara berkembang belum memiliki kesadaran akan pentingnya kesehatan. Minimnya sarana dan prasarana kesehatan menyebabkan tingkat kesehatan ratarata penduduk di negara berkembang masih rendah juga ditandai dengan angka kematian dan angka kelahiran tinggi, sedangkan angka harapan hidup rendah.

5.

Sistem ekonomi kapitalis, yaitu sistem ekonomi dimana kekayaan produktif terutama dimiliki secara pribadi dan pruduksi terutama untuk penjualan. Tujuan dari pemilikan pribadi tersebut adalah untuk mendapatkan suatu keuntungan yang lumayan dari penggunaan kekayaan pruduktif. Pemilikan, usaha bebas dan produksi untuk pasar, mencari keuntungan tidak hanya merupakan gejala ekonomi. Semua ini ikut menentukan segala aspek dalam masyarakat dan segala aspek kehidupan dan kebudayaan manusia. Ini sangat jelas dan motif mencari keuntungan, bersama-sama dengan lembaga warisan dan dipupuk oleh oleh hukum perjanjian, merupakan mesin kapitalisme yang besar; memang merupakan pendorong ekonomi yang besar dalam sejarah sampai saat ini. Ciri-ciri Ekonomi Kapitalisme: y Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi dimana Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu dan Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya. y Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar dimana Pasar berfungsi memberikan signal kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga. Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. The Invisible Hand yang mengatur perekonomian menjadi efisien. Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba. y Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingan sendiri. Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme). Kebaikan-kebaikan Ekonomi Kapitalisme: y Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan distribusi barangbarang. y Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya. y Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga waktu dan biaya yang diperlukan lebih kecil. Kelemahan-kelemahan Kapitalisme y Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik. y Sistem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien, karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain). Kapitalisme di Indonesia Pasca reformasi 1998 krisis yang menimpa bangsa ini belum juga berakhir. Reformasi yang diharapkan dapat membawa kesejahteraan yang lebih baik justru belum membawa tanda-tanda perubahan. Empat kali berganti presiden dengan tiga kali pemilu

yang dikatakan paling demokratis di dunia menyisakan cerita pedih bagi kebanyakan masyarakat. Korupsi yang merajarela, perusakan lingkungan, mahalnya biaya hidup menjadi fakta yang ditemui setelah 13 tahun reformasi. Kaitannya dengan kondisi global di atas tentu tidak dapat dilepaskan. Fakta bahwa hutang Indonesia justru meningkat hingga 1700 Triliyun dengan klaim pemerintah turunnya angka kemiskinan patut menjadi perhatian. Indonesia sebagai negara yang selamat dari krisis ekonomi 2008 ternyata bukan karena kerja pemerintah namun karena putaran uang yang berasal dari usaha kecil dan menengah. Sektor-sektor informal seperti pedagang kaki lima, pasar tradisional serta koperasi petani dan nelayan justru menjadi penyelamat bagi perekonomian bangsa dari krisis. Alih alih sektor informal ini didukung oleh pemerintah hal ini justru dibalas dengan kebijakan swastanisasi lembaga pendidikan, kesehatan serta upah rendah tenaga kerja. Tepat seperti yang dikatakan Naomi Klein dalam bukunya No Logo globalisasi bagi negara berkembang tak lain gombalisasi alias omong kosong belaka, globalisasi hanya menguntungkan korporasi multinasional yang ingin menancapkan kuku lebih tajam di negara berkembang karena kejenuhan pasar di negara maju. Kritik yang datang dari masyarakat terhadap pemerintah mengenai keadaan di atas bukannya tidak berhenti. Aksi demonstrasi yang dimotori oleh buruh, mahasiswa, para aktivis LSM memenuhi hampir setiap hari berita di media dari seluruh penjuru nusantara. Namun selama ini gerakan demonstrasi bersifat nasional seolah melupakan bahwa akar sejati permasalahan yang menimpa Indonesia sebenarnya sangat terkait erat dengan apa yang terjadi di dunia internasional khususnya kondisi perekonomian negara maju. Soekarno sang proklamator sendiri pernah berpidato tentang perlunya mewaspadai kehadiran neo imperialisme yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara perahan bagi perusahaan asing. Pernyataan tadi rasanya perlu diangkat kembali untuk mengkritisi kapitalisme global yang saat ini berada dalam masa krisisnya