Anda di halaman 1dari 18

Metodologi Penelitian

Modul 4 KERANGKA TEORITIS

Ivan Malik

papatua@gmail.com

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

Kerangka Teoritis

4.1 Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seseorang menyusun teori, ataupun secara logis menghubungkan beberapa faktor yang dianggap penting untuk suatu masalah yang sedang diamati, yang mengalir secara logis dari dokumentasi penelitian-penelitian sebelumnya pada bidang yang sama. Penggabungan keyakinan logis seseorang dengan penelitian lain yang telah dipublikasikan (dengan mempertimbangkan pula berbagai keterbatasan dan hambatan situasi) adalah langkah yang penting dalam membangun dasar ilmiah bagi suatu masalah penelitian. Penyusunan kerangka konseptual tersebut akan membantu peneliti untuk mengendalilkan, memhipotesiskan, dan menguji hubungan ataupun saling ketergantungan antar variabelvariabel tertentu. Dari kerangka teoritis kemudian dapat disusun hipotesis, yang kemudian bisa diuji untuk mengetahui apakah teori yang dirumuskan tersebut berlaku (valid) atau tidak. Hubungan yang dihipotesiskan tersebut selanjutnya dapat diuji dengan analisis statistik yang tepat. Dengan menguji dan mengulangi temuan, peneliti akan memperoleh keyakinan yang lebih kuat mengenai ketepatan (akurasi) penelitiannya. Kerangka teoritis merupakan fondasi yang menjadi dasar bagi seluruh proyek penelitian, dan merupakan suatu jaringan asosiasi yang disusun, dijelaskan, dan dielaborasi secara logis di antara variabel-variabel yang dianggap relevan pada situasi masalah yang diamati. Variabel-variabel tersebut diidentifikasi melalui proses wawancara, pengamatan, dan survei literatue. Pengalaman dan intuisi juga seringkali berperan dalam menyusun kerangka teoritis. Untuk bisa memperoleh solusi masalah yang baik, pertama-tama peneliti harus bisa mengidentifikasi masalah dengan benar. Kemudian ia harus bisa mengenali variabelvariabel yang mempengaruhinya. Langkah selanjutnya adalah mengelaborasi jaringan asosiasi antar variabel, sehingga hipotesis yang relevan dapat disusun dan kemudian diuji. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis (yang akan menunjukkan apakah hipotesis diterima
Ivan Malik

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

atau tidak) akan diperoleh gambaran dan bukti pada tingkat (level) mana masalah tersebut dapat diselesaikan. Survei literatur memiliki andil yang penting pula bagi kerangka teoritis. Ia menjadi pondasi yang kuat dalam proses penyusunannya. Melalui survei tersebut peneliti bisa mengetahui variabel-variabel yang penting, sebagaimana yang telah ditemukan pada penelitianpenelitian sebelumnya). Informasi tersebut akan memperkaya hubungan-hubungan logis yang telah dikonsepkan untuk membentuk dasar bagi model teoritis. Kerangka teoritis berfungsi untuk mengelaborasi hubungan antar variabel, menjelaskan teori yang mendasari relasi tersebut, dan menjelaskan sifat serta arah hubungannya. Sebagaimana survei literatur akan menjadi modal bagi diperolehnya kerangka teoritis yang baik, maka yang terakhir ini pada gilirannya akan menyediakan dasar yang logis untuk menyusun hipotesis yang dapat diuji. Kerangka teoritis yang baik akan mampu membantu peneliti dalam beberapa hal sebagai berikut: a.
b.

Mengidentifikasi dan menunjukkan variabel-variabel penting di dalam situasi yang berkaitan (relevan) dengan masalah Secara logis menjelaskan sangkut-paut antara variabel tersebut, baik hubungan antara variabel bebas (independent), variabel terikat (dependent), variabel moderator (moderating), dan variabel antara (intervening).

c.

Menjelaskan bagaimana dan hubungan spesifik apa yang terjadi sehubungan dengan digunakannya variabel model, alasan penggunaannya, serta mengapa variabel tersebut berperan sebagai moderator.

d.
e.

Membahas tentang bagaimana atau mengapa variabel tertentu diperlakukan sebagai variabel antara. Mengungkapkan dengan tepat dan jelas mengenai saling ketergantungan antar variabel bebas, atau antar variabel terikat (apabila digunakan lebih dari satu dependent variable).

Elaborasi variabel di dalam kerangka teoritis akan menunjukkan persoalan mengapa atau bagaimana peneliti mengharapkan adanya hubungan tertentu di antara variabel, serta sifat dan arah dari hubungan tersebut. Diagram skematis mengenai model konseptual yang dijabarkan di dalam kerangka teoritis juga akan membantu pembaca untuk membayangkan hubungan yang diteorikan. Dalam hal ini, model didefinisikan sebagai perwakilan (representasi) dari hubungan antara dan antar konsep-konsep. Secara singkat, beberapa hal mendasar yang harus diperhatikan dalam kerangka teoritis adalah sebagai berikut:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

a. b.

Variabel yang dianggap relevan bagi penelitian harus diidentifikasi dan ditunjukkan dengan jelas di dalam pembahasan. Pembahasan harus menyebutkan mengapa dua atau lebih variabel memiliki kaitan satu sama lain, terutama untuk hubungan penting yang diteorikan akan berlaku di antara variabel.

c.

Bila sifat dan arah hubungan tersebut diteorikan berdasarkan temuan penelitian sebelumnya, maka di dalam pembahasan harus diberikan indikasi apakah hubungan tersebut akan positif atau negatif.

d.

Harus ada penjelasan yang gamblang mengenai alasan mengapa peneliti memperkirakan bahwa hubungan tersebut akan berlaku, yang antara lain dapat diambil/ditarik dari temuan penelitian sebelumnya.

e.

Suatu diagram skematis dari kerangka teoritis harus diberikan agar pembaca dapat melihat dan dengan mudah bisa memahami hubungan yang diteorikan.

4.2 Konsep (Konstruk)

Penyusunan/pengembangan sebuah teori adalah proses penggambaran sebuah fenomena dengan tingkat abstraksi (generalisasi) berjenjang, yang makin lama semakin tinggi. Semua hal yang sedang diobservasi pada dasarnya dapat dijabarkan ke dalam bentuk ide atau konsep. Sebuah konsep (sering disebut pula konstruk) adalah suatu ide umum (luas) dari sekumpulan objek, atribut, keberadaan, ataupun proses. Konsep merupakan komponenkomponen pembentuk (building blocks) dari teori. Konsep-konsep yang lazim dijumpai dalam teori organisasi misalnya adalah kepemimpinan (leadership), produktifitas, dan moral. Sedangkan contoh-contohnya pada teori keuangan antara lain adalah produk nasional bruto (gross national product-GNP), aset, dan inflasi.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

Konsep adalah sebuah abstraksi dari realita, yang dinyatakan dalam kata-kata yang mengacu/menunjuk pada berbagai objek atau kejadian. Konsep tentang aset, misalnya, adalah bentuk abstraksi dari sebuah mesin tenun di pabrik tekstil. Namun demikian, abstraksi dari konsep bisa berbeda-beda tingkatannya. Makin tinggi tingkatannya, konsep dasarnya akan semakin abstrak, semakin luas ruang lingkupnya (scope), dan semakin susah dilakukan pengukurannya.

Para peneliti dasar (basic researcher) umumnya menggunakan 2 tingkatan, yaitu tingkatan abstrak (abstract level), dan tingkatan empiris (empirical level). Pada tingkatan empiris inilah objek atau realita diamati. Jika seorang peneliti mengajukan teori bahwa pekerja tua menginginkan bentuk imbalan yang berbeda dari para pekerja muda, maka pernyataan (yang berada pada tingkatan abstraksi) ini menggunakan 2 konsep (yaitu umur pekerja dan preferensi terhadap imbalan). Jika peneliti kemudian melakukan interview pada beberapa pekerja dari berbagai usia, maka proses pencatatan umur dan preferensi masing-masing responden berada pada tingkatan empiris.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

Para peneliti senantiasa mengobervasi dunia nyata (yang mereka sebut sebagai realita), dan para pembuat teori menerjemahkan konseptualisasi dari realita ini ke dalam ide-ide abstrak. Dengan demikian, teori selalu berhubungan dengan abstraksi. Unsur penting dari suatu teori adalah idenya, bukan suatu objek atau kejadian tertentu. Teori bukanlah sebuah konsep yang berdiri sendiri. Ia hanya bisa dibangun jika peneliti mampu memperlihatkan bagaimana sebuah konsep berhubungan dengan konsep yang lain.

4.3 Variabel

Variabel adalah sesuatu yang dapat membedakan, atau membawa variasi pada suatu nilai. Nilai untuk suatu obyek atau orang yang sama, bisa berbeda pada waktu-waktu yang berbeda. Sebaliknya nilai pada waktu sama bisa berbeda untuk obyek atau orang yang berbeda. Contoh dari variabel antara lain adalah jumlah unit produksi, tingkat absensi, dan motivasi karyawan. a. Contoh 4-1: Unit produksi Seorang buruh di dalam departemen produksi mungkin hanya bisa menyelesaikan 1 unit per menit, sementara buruh yang lain mampu menyelesaikan 2 unit per menit. Selanjutnya, buruh yang sama mungkin hanya bisa memproduksi 1 unit pada menit pertama, namun bisa menghasilkan 3 unit pada menit berikutnya. Dalam kedua kasus tersebut, jumlah unit produk yang dihasilkan bisa berbeda-beda. Karena itu ia didefinisikan sebagai sebuah variabel. b. Contoh 4-2: Absensi Hari ini 3 orang staf dalam departemen penjualan tidak hadir, kemarin ada 6 orang, sementara hari sebelumnya tidak ada yang absen. Secara teoritis, tingkat absensi ini bisa bernilai antara nihil sampai dengan seluruh karyawan. Karena itu ia dapat didefinisikan sebagai sebuah variabel. c. Contoh 4-3: Motivasi Tingkat motivasi orang untuk belajar dalam suatu kelas ataupun tim kerja akan mempunyai nilai beragam, antara orang yang satu dengan yang lain.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

Nilainya bisa berkisar antara sangat rendah ke sangat tinggi. Motivasi orang tertentu untuk belajar dalam kelas atau tim kerja yang berbeda juga akan bisa berbeda-beda. Karena itu, ia juga dapat didefinisikan sebagai sebuah variabel. Hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengurangi tingkat abstraksi dari variabel ini, dan mendefinisikannya ke dalam bentuk yang dapat diukur.

Variabel bisa berbentuk diskrit (misalnya pria/wanita), ataupun kontinu (misalnya usia seseorang). Sementara menurut jenisnya, variabel dapat dibedakan atas 4 kategori sebagai berikut:
a.

Variabel terikat (dependent variable), atau disebut juga variabel kriteria (criterion variable) Variabel bebas (independent variable), atau disebut juga variable peramal (predictor variable) Variabel moderator (moderating variable) Variabel antara (intervening variable)

b.

c. d.

4.3.1 Variabel Terikat

Variabel terikat merupakan variabel yang menjadi perhatian utama peneliti. Dalam hal ini peneliti ingin menentukan dan memahami apa variabel terikat tersebut, menjelaskan perubahan/perbedaannya (variabilitasnya), ataupun berusaha memprediksi nilainya. Variabel terikat merupakan variabel utama yang menjadi faktor yang diinvestigasi. Melalui analisis terhadap variabel ini (yaitu menemukan variabel-variabel yang mempengaruhinya), peneliti berusaha menemukan solusi dari masalah yang sedang diamati. Untuk tujuan itu, peneliti akan mengkuantiifikasikan dan mengukur variabel terikat bersama-sama dengan seluruh variabel lain yang mempengaruhinya. Selalu ada kemungkinan bahwa sebuah studi memiliki lebih dari satu variabel terikat. Misalnya, selalu ada pergesekan (keterkaitan) antara kualitas dan volume produksi, atau antara produksi berbiaya rendah dengan kepuasan pelanggan. Dalam kasus semacam itu, manajer ingin mengetahui faktor apa saja yang memperngaruhi semua variabel terikat yang diamati, dan bagaimana faktor-faktor tersebut bervariasi dalam kaitannya dengan variabel

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

terikat yang lain. Investigasi tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan analisis statistik multivariat (multivariate statistical analysis). Beberapa contoh variabel terikat dalam penelitian adalah sebagai berikut ini: a. Contoh 4-4: Penjualan Seorang manajer merasa prihatin bahwa penjualan sebuah produk yang baru saja diluncurkan ternyata tidak memenuhi harapan. Penjualan akan menjadi variabel terikat dalam penelitian, karena nilainya bisa bervariasi (rendah, sedang, atau tinggi), dan ia menjadi fokus perhatian utama dari peneliti. b. Contoh 4-5: DER

Seorang peneliti dasar (basic researcher) tertarik untuk menyelidiki besarnya

rasio utang terhadap modal (debt-to-equity ratio - DER) dari perusahaanperusahaan manufaktur di Indonesia. Dalam penelitian ini, angka DER dipakai sebagai variabel terikat. c. Contoh 4-6: Loyalitas Seorang direktur perusahaan merasa prihatin bahwa karyawannya tidak loyal terhadap organisasi, dan tampaknya mereka malahan mengalihkan loyalitasnya pada institusi lain. Variabel terikat yang dipakai pada penelitian ini kemungkinan adalah loyalitas organisasi. Sang direktur mungkin ingin mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan varians pada loyalitas anggota organisasinya tersebut. Bila ditemukan bahwa -misalnya- kenaikan gaji akan memastikan loyalitas dan retensi para karyawan, maka ia kemudian dapat menawarkan insentif kepada mereka. Kenaikan gaji ini diharapkan bisa berperan untuk mengendalikan variabilitas pada loyalitas organisasi, serta mampu mempertahankan karyawan untuk tinggal di dalam organisasi tersebut.

4.3.2 Variabel Bebas

Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi variabel terikat, baik secara positif maupun secara negatif. Jika variabel bebas ada, maka variabel terikatpun hadir. Pada setiap unit perubahan nilai variabel bebas akan terjadi pula perubahan pada variabel terikat. Dengan perkataan lain, variansi variabel terikat akan ditentukan oleh variabel bebas.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

Beberapa contoh variabel bebas, dan kaitannya dengan variabel terikat adalah sebagai berikut ini: Contoh 4-7: Produk Baru Suatu penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan produk baru akan mempengaruhi harga saham perusahaan. Semakin sukses peluncuran produk baru, maka akan semakin tinggi harga saham perusahaan tersebut. Dalam kasus ini, kesuksesan produk baru merupakan variabel bebas. sementara harga saham menjadi variabel terikat.

Keberhasilan produk baru akan menjelaskan variansi dari harga saham.

Contoh 4-8: Nilai Manajerial Penelitian lintas budaya menunjukkan bahwa nilai manajerial menentukan jarak kekuasaan (otoritas) antara atasan dan bawahan. Dalam kasus ini, jarak kekuasaan (yang didefinisikan sebagai hubungan egaliter antara boss dan karyawan, yaitu hubungan terbatas antara atasan yang memiliki kekuasaan besar dan bawahan yang memiliki kekuasaan kecil) merupakan subjek perhatian, dan karenanya merupakan variabel terikat. Nilai manajerial yang menjelaskan variansi dalam jarak kekuasaan tersebut merupakan variabel bebasnya.

4.3.3 Variabel Moderator

Variabel moderator adalah variabel yang mempunyai pengaruh ketergantungan (contingent effect) yang kuat pada hubungan antara variabel terikat dan variabel bebas. Kehadiran variabel ketiga ini akan mengubah hubungan awal antara kedua variabel tersebut di atas. Beberapa contoh variabel moderator adalah sebagai berikut ini:

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

Contoh 4-9: Minat Membaca Suatu penelitian menemukan adanya hubungan antara ketersediaan buku pedoman kerja pada perusahaan manufaktur (variabe bebas) dengan jumlah produk yang cacat (variabel terikat). Jika karyawan mengikuti prosedur yang tertera pada buku pedoman, maka mereka akan mampu menghasilkan produk yang tidak cacat. Namun demikian hubungan ini sangat tergantung pada faktor lain, yaitu keinginan karyawan untuk membaca buku tersebut (variabel moderator). Dengan perkataan lain, hanya karyawan yang benar-benar memperhatikan dan ingin mengacu pada buku pedoman sajalah yang akan berhasil menghasilkan produk yang tidak cacat.

Contoh 4-10: Keahlian Manajerial Teori lazim menyatakan bahwa keragaman tenaga kerja yang terdiri dari berbagai etnis, ras, dan kebangsaan (variabel bebas) akan lebih berkontribusi pada efektifitas organisasi (variabel terikat), karena masing-masing kelompok membawa keahlian dan ketrampilan khusus ke tempat kerjanya. Tetapi sinergi tersebut hanya akan bisa dimanfaatkan bila manajer memiliki keahlian (variabel moderator) untuk mempergunakan bakat-bakat khusus dari masing-masing kelompok pekerja yang beragam tersebut.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

4.3.4 Variabel Antara

Variabel adalah variabel yang muncul di antara waktu variabel bebas mulai bekerja mempengaruhi variabel terikat dan saat ketika pengaruh tersebut sudah terasa. Denan demikian variabel antara ini memiliki kualitas temporal atau dimensi waktu. Variabel antara muncul sebagai sebuah fungsi variabel bebas yang berlaku pada situasi apapun, serta membantu mengkonsepkan dan menjelaskan pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Beberapa contoh variabel antara adalah sebagai berikut ini: Contoh 4-11: Sinergi Kreatif Pada contoh sebelumnya telah disajikan contoh di mana keragaman tenaga kerja (variabel bebas) mempengaruhi efektifitas organisasi (variabel terikat). Dalam hubungan kedua variabel tersebut mungkin pula mengemuka faktor sinergi kreatif sebagai suatu variabel antara. Sinergi ini berasal dari keragaman tenaga kerja (multietnis, multiras, dan multinasional) yang saling berinteraksi, dan secara bersama-sama memberikan keahlian multifaset mereka dalam pemecahan masalah. Variabel antara ini muncul pada t2, sebagai fungsi dari keragaman tenaga kerja (yang ditempatkan pada t1) untuk menghasilkan efektifitas organisasi (pada waktu t3).

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

11

Contoh 4-12: Sinergi Kreatif plus Keahlian Manajerial Pada contoh ini diperlihatkan bagaimana penggabungan pengaruh keahlian manajerial (variabel moderator) dan sinergi kreatif (variabel antara) secara bersamaan pada hubungan antara keragaman tenaga kerja (variabel bebas) dan efektifitas organisasi (variabel terikat). Keahlian manajerial akan memoderasi hubungan antara keragaman tenaga kerja dan sinergi kreatif. Artinya, keahlian multifaset yang berasal dari keragaman tenaga kerja tidak akan menjelma menjadi sinergi kreatif, kecuali manajer memiliki keahlian untuk memanfaatkan dan mengkoordinasikan berbagai ketrampilan yang berbeda tersebut.

4.4 Hipotesis

Hipotesis dapat didefinisikan sebagai hubungan yang secara logis diperkirakan ada di antara dua atau lebih variabel, yang diungkapkan dalam bentuk suatu pernyataan yang dapat diuji. Hubungan tersebut dapat diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang telah ditetapkan dalam kerangka teoritis yang telah dirumuskan untuk suatu studi penelitian.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

Dengan menguji hipotesis, dan mengkonfirmasi perkiraan sebuah hubungan, maka peneliti berharap bisa memperoleh solusi terhadap masalah yang sedang dihadapi atau diamati. Contoh dari sebuah penyataan hipotesis adalah bahwa jika pilot memperoleh pelatihan yang memadai untuk menangani situasi darurat di udara, maka pelanggaran keselamatan penerbangan akan berkurang. Pernyataan tersebut adalah suatu pernyataan yang dapat diuji. Dengan mengukur tingkat pelatihan yang diberikan kepada sekelompok pilot dan menghitung jumlah pelanggaran yang telah dilakukannya dalam suatu periode waktu tertentu, secara statistik peneliti dapat menguji hubungan antara kedua variabel tersebut untuk melihat adanya korelasi negatif yang signifikan. Jika korelasi yang signifikan tersebut ditemukan, maka hipotesis dinyatakan terbukti. Menurut kaidah ilmu sosial, sebuah hubungan disebut signifikan secara statistik (statistically significant) apabila dapat diyakini bahwa 95 dari 100 hubungan yang diamati akan mendukung hipotesis. Hanya boleh ada 5% peluang bahwa hubungan tersebut tidak ditemukan.

4.4.1 Format Pernyataan Hipotesis

a. Pernyataan Jika-Maka (If-Then Statement) Selain merupakan pernyataan yang dapat diuji mengenai hubungan antar-variabel, hipotesis juga dapat menguji apakah terdapat perbedaan karakteristik variabel antara 2 kelompok atau lebih. Untuk menguji apakah hubungan atau perbedaan tersebut benar-benar ada (exist), hipotesis dapat disusun sebagai sebuah proposisi atau dalam bentuk if-then statement. Contoh 4-13 (bentuk proposisi): Karyawan yang lebih sehat akan lebih jarang mengambil cuti sakit Contoh 4-14 (if-then statement): Jika karyawan lebih sehat, maka mereka akan lebih jarang mengambil cuti sakit

b. Hipotesis Berarah (Directional) dan Tak-berarah (Non-directional)

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

13

Jika dalam menyatakan hubungan antara variabel, atau dalam membandingkan karakteristik antar kelompok, digunakan istilah-istilah seperti positif, negatif, kurang dari, lebih dari, dan semacamnya, maka hipotesis tersebut disebut berarah (directional). Contoh 4-15 (hubungan berarah): Semakin besar stress yang dialami dalam pekerjaan, semakin rendah kepuasan kerja karyawan tersebut Contoh 4-16 (perbandingan berarah): Wanita lebih memiliki motivasi ketimbang pria Sebaliknya, hipotesis tak-berarah (non-directional) adalah hipotesis yang mendalilkan hubungan atau perbedaan tanpa memberikan indikasi mengenai arah dari hubungan atau perbedaan tersebut. Hipotesis tak-berarah biasanya dirumuskan pada kasus-kasus sebagai berikut: jika hubungan atau perbandingan tersebut belum pernah diselidiki sebelumnya karena tidak ada dasar yang kuat untuk menyatakan indikasi karena pada penelitian-penelitian sebelumnya ditemukan beberapa hasil yang bertentangan

Contoh 4-17 (hubungan tak berarah): Ada hubungan antara usia dan kepuasan kerja Contoh 4-18 (perbandingan tak berarah): Terdapat perbedaan nilai etika kerja antara karyawan Amerika dan Asia

c. Hipotesis Nol (H0) dan Hipotesis Alternatif (Ha) Hipotesis nol (disebut juga null hypothesis - H0) adalah proposisi yang menyatakan hubungan yang definitif dan tepat di antara 2 variabel. Hipotesis ini menyatakan bahwa korelasi populasi antara 2 variabel adalah sama dengan nol, atau bahwa perbedaan antara rerata (mean) kedua kelompok tersebut adalah nol (atau suatu angka tertentu). Secara umum, pernyataan sama dengan nol diungkapkan sebagai pernyataan tidak ada hubungan (yang signifikan) antara 2 variabel, ataupun tidak ada perbedaan (yang signifikan) antara 2 kelompok. Sementara hipotesis alternatif (Ha), yang merupakan kebalikan dari H0, adalah pernyataan yang mengungkapkan adanya hubungan ataupun perbedaan tersebut. Untuk menjelaskan lebih jauh pembuatan hipotesis nol, peneliti menyatakan bahwa tidak ada perbedaan antara karakteristik populasi (yaitu keseluruhan anggota kelompok yang

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

diamati gejalanya) dengan karakteristik sampel (sejumlah tertentu anggota kelompok yang mewakili populasi dan terpilih untuk diteliti). Karena tidak bisa mengetahui kondisi hubungan yang sebenarnya terjadi di dalam populasi, maka kesimpulan diambil berdasarkan fakta yang ditemukan pada sampel. Hipotesis nol secara tidak langsung menyatakan bahwa hubungan apapun yang didapati terdapat di antara 2 variabel, perbedaan apapun yang ditemukan antara kedua kelompok sampel, hanya bersumber pada fluktuasi dari sampel yang diambil secara acak (random). Temuan tersebut bukan merupakan hubungan yang sebenarnya antara kedua variabel, ataupun bukanlah perbedaan yang sebenarnya di antara 2 kelompok populasi. Dengan demikian, hipotesis nol dirumuskan agar dapat diuji untuk menemukan penolakan yang mungkin terjadi. Jika hipotesis nol ini ditolak, maka semua hipotesis alternatif yang diperbolehkan (yang berkaitan dengan hubungan yang sedang diujikan) akan dapat diterima. Keyakinan pada hipotesis alternatif pada penelitian akan sangat bergantung pada teori yang digunakan. Inilah alasn penting lain mengapa kerangka teoritis harus diletakkan pada logika yang tepat dan dapat dipertahankan. Kalau tidak, peneliti lain kemungkinan besar akan menyangkalnya, dan mendalilkan penjelasan logis lainnya melalui hipotesis alternatif yang berbeda. Untuk contoh 4-16 (perbandingan berarah): Wanita lebih memiliki motivasi ketimbang pria H0: M = W atau M - W = 0 Ha: M < W atau W > M di mana M menyatakan rerata (mean) motivasi pria, sedangkan W menyatakan rerata motivasi wanita. Untuk contoh 4-18 (perbandingan tak berarah): Terdapat perbedaan nilai etika kerja antara karyawan Amerika dan Asia H0: AM = AS atau AM - AS = 0 Ha: AM AS di mana AM menyatakan rerata (mean) nilai etika kerja orang Amerika, sedangkan AS menyatakan rerata etika kerja orang Asia Untuk contoh 4-15 (hubungan berarah): Semakin besar stress yang dialami dalam pekerjaan, semakin rendah kepuasan kerja karyawan tersebut

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

15

H0: Tidak ada hubungan antara stress dgn kepuasan, atau H0: = 0 Ha: < 0 (korelasi negatif) di mana menyatakan korelasi antara stress dan kepuasan kerja.

Untuk contoh 4-17 (hubungan tak berarah): Ada hubungan antara usia dan kepuasan kerja H0: = 0 Ha: 0 di mana menyatakan korelasi antara usia dan kepuasan kerja.

Setelah merumuskan hipotesis nol dan hipotesis alternatif, peneliti kemudian dapat menerapkan uji statistik yang tepat (uji t, dan/atau uji F) untuk menunjukkan apakah hipotesis alternatif dapat diterima atau tidak. Dengan demikian, langkah-langkah selengkapnya yang harus diikuti dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut: a. b. Menyatakan hipotesis nol dan hipotesis alternatif Memilih uji statistik yang tepat berdasarkan jenis data yang dikumpulkan: parametrik atau non-parametrik c. d. Menentukan tingkat signifikansi yang diinginkan (1-, dimana biasanya=5%) Melihat apakah hasil analisis komputer menunjukkan bahwa tingkat signifikansi terpenuhi
(1)

Jika tingkat signifikansi tidak muncul dalam print-out (seperti misalnya pada kasus analisis korelasi Pearsonde dengan menggunakan piranti lunak Microsoft Excel), maka yang harus diperhatikan adalah nilai kritis (critical value) yang menunjukkan daerah penerimaan (acceptable range) pada tabel yang sesuai (tabel t, tabel F, tabel 2 dsb). Nilai kritis tersebut

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04

memisahkan daerah penolakan (rejection area) dari daerah penerimaan hipotesis. (2) Jika nilai perhitungan (resultante value) ternyata lebih besar daripada nilai kritis, maka hipotesis nol ditolak dan alternatifnya diterima. Jika sebaliknya, maka hipotesis nol diterima.

4.4.2 Pengujian Hipotesis dengan Penelitian Kualitatif: Analisis Kasus Negatif

Hipotesis dapat juga diuji dengan menggunakan data kualitatif. Misalnya, peneliti membuat suatu kerangka teoritis yang menyatakan bahwa perilaku tidak etis yang ditunjukkan oleh karyawan merupakan fungsi dari salah satu faktor sebagai berikut: ketidakmampuan mereka untuk membedakan yang benar dari yang salah, atau kebutuhan yang mendesak akan uang yang lebih banyak, atau ketidakacuhan organisasi terhadap perilaku semacam itu.

Untuk menguji bahwa salah satu faktor tersebut merupakan penyebab utama yang mempengaruhi perilaku tidak etis, peneliti harus mencari data yang menyangkal hipotesis. Jika ditemukan satu saja kasus yang tidak mendukung hipotesis tersebut, maka teori tersebut harus direvisi. Umpamanya, peneliti menemukan satu kasus di mana seorang karyawan dengan sengaja melakukan perilaku tidak etis menerima suap (kickback) hanya ingin merusak tatanan sistem yang ada (karena faktanya ia cukup mampu membedakan benar dan salah, tidak memiliki kebutuhan mendesak, dan sadar bahwa organisasi tidak akan membiarkan saja perilaku tidak etisnya tersebut). Penemuan baru ini, yang diperoleh melalui penolakan terhadapa hipotesis semula, disebut sebagai metode kasus negatif (negative-case method). Metode ini memungkinkan peneliti untuk senantiasa merevisi teori dan hipotesis, hingga ia akhirnya menjadi kukuh.

4.5 Manfaat Manajerial

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi Penelitian/Modul04 Ivan Malik/papatua@gmail.com

17

Samapai dengan tahap ini, gerak maju (progress) dari penelitian elatif mudah diikuti. Dimulai dengan langkah manajer merasakan adanya masalah, kemudian mengumpulkan data awal (termasuk survei literatur), lalu penyusunan kerangka teoritis berdasarkan literatur, pengalaman serta intuisinya, dan akhirnya merumuskan hipotesis untuk diuji. Jelas pula terlihat bahwa setelah masalah dapat didefinisikan, pengertian yang baik mengenai keempat jenis variabel yang berbeda akan mampu memperluas pemahaman sang manajer. Contohnya adalah mengenai bagaimana berbagai faktor bergesekan dengan keadaan organisasi. Pengetahuan mengenai tujuan dan bagaimana kerangka teoritis dibangun, serta bagaimana hipotesis disusun, akan membuat manajer mampu dengan cerdas menilai laporan penelitian yang disusun oleh konsultan. Pengetahuan mengenai arti signifikansi, serta alasan mengapa sebuah hipotesis diterima atau ditolak, akan membantu manajer untuk mempertahankan dugaannya, ataupun menghentikannnya karena tidak bisa dibuktikan.

Daftar Pustaka

Marzyck, Geoffrey. et. al. 2005. Essentials of Research Design and Methodology. John Wiley & Sons, New Jersey. Sekaran, Uma. 2004. Research Methods for Business. Buku 1: Terjemahan oleh Kwan Men Yon (2006). Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Zikmund, W.G. 2000. Business Research Methods. 6th edition. Dreyden Press, Orlando

Pusat Pengembangan Bahan Ajar - UMB

Ivan Malik

METODOLOGI PENELITIAN