Anda di halaman 1dari 6

A.

4 Perhitungan feeder

Gambar 14. Screw


dimeter biomasa dbiomasa, Qbiomas

diameter screw Dscrew> 12 x dbiomasa

Tentukan panjang pitch Pitch = Dscrew

tentukan batas putaran screw nscrew< 150 rpm ( biomasa ringan)

tentukan diameter poros screw, diameter luar, ketebalan screw flights menggunakan standarisasi (IS :5563:1985)

Menentukan putaran screw feeder

Tentukan daya yang dibutuhkan ( )

Gambar 15. Proses perancangan screw feeder

Feeder adalah salah satu komponen yang penting sebagai alat untuk memasok bahan bakar biomas ke dalam reaktor untuk proses gasifikasi. Yang perlu diperhatikan dalam perhitungan ini adalah harus dipastikan aliran masa bahan bakar yang masuk reaktor terukur setiap waktunya dengan kata lain feeder beroperasi stabil. Kebutuhan power sebagai sumber gerak juga harus memenuhi kapasitas tertentu dalam batas maksimalnya. Dimensi dari

komponen dari screw feeder adalah diameter dari helical screw, picth dari screw, diameter poros dari screw, tinggi trough (diameter luar) dari pusat screw, ketebalan minimum dari pipa luar, dan ketebalan dari screw flights. Dibawah ini adalah perumusan untuk penentuan geometri feeder; Sebelum perancangan screw feeder perlu diketahui dahulu propertis dari biomas yang akan dijadikan sebagai bahan bakar umpan. Pada penenlitian ini bahan bakar biomas yang dipakai adalah jarak dengan kondisi yang sangat heterogen. Untuk itu diperlukan perlakuan awal yaitu dengan meshing atau penyamaan ukuran. Hal ini penting untuk efektifitas pengumpanan ataupun untuk proses gasifikasi. Pada perancangan screw feeder, diameter partikel bimasa perlu diketahui sebagai patokan perhitungan kapasitas pengumpanan. Perancangan screw feeder diawali dengan pengambilan keputusan diameter dari screw yang dipakai. Pada penelitian ini diamater screw yang dipakai adalah 2 inci atau 50,8 mm Dscrew> 12 x dbiomasa dengan dbiomasa = 0,002 m ( mesh 10 2 mm) Dscrew> 12 x 0,002 m 50,8 mm > 0,024 m (24 mm) Jadi dengan mengambil Dscrew = 50,8 mm masih memenuhui syarat. Selanjutnya, parameter yang harus ditentukan adalah panjang pitch dari screw. Ada beberapa tipe yang dipakai, tapi umumnya untuk beban sedang dengan kapasitas rendah dan juga untuk biomasa yang ringan digunakan asumsi Pitch (S) = Dscrew ; Jadi pada perancangan screw feeder ini digunakan panjang pitch (S) = 50,8 mm. Untuk memastikan screw feeder dapat mengumpankan bahan bakar dengan efektif, harus diketahui batas dari putaran maksimumnya. Pada perancangan ini batas putaran maksimum diambil dengan asumsi sebagai berikut; nputaran screw< 150 rpm ( diameter kecil dan masa jenis biomas kecil) Untuk menentukan diameter poros dan dimensi lainnya bisa menggunakan tabel berikut. Dari standarisasi IS :5563:1985 ( Indian standart) yang ditampilkan pada table di bawah ini :

Tabel 10. Standarisasi India untuk Screw Feeder/Conveyor 5563:1985

Bisa dilihat setiap diamater screw mempunyai diameter poros yang tertentu dan bisa dibuat korelasinya. Dengan mengunakan bantuan spredsheet exel didapat fungsi korelasinya berikut ini : d2 = 0,200Dscrew + 11,9

Dari perumusan tersebut diperoleh diameter poros screw dengan Dscrew = 50,8 mm d2 = 22, 14 mm (yang lainnya juga harus dihitung ulang yah...sedikit berbeda... Setelah parameter parameter geometri dari screw feeder ditentukan, kemudian perancangan dilanjutkan untuk menghitung putaran screw dengan perumusan di bawah ini:

; Qbiomas diperoleh dari perhitungan untuk menghasilkan konversi biomas menjadi energy sebesar 100 K Watt diperoleh laju masa perjamnya adalah 33 kg/jam (0,0092 kg/s). S adalah panjang pitch. ( bisa dilihat dari table di bawah) Tabel 11. loading factor

C adalah besar sudut kemiringan instalasi screw feeder, ditabelkan sebagai berikut : Tabel 12. Sudut kemiringan screw feeder

= = 0,72 rps = 43 rpm ( masih dalam batas nscrew< 150 rpm) Pada penelitian ini sistem feeder terdiri dari dua screw feeder, dapat dilihat pada gambar 16 Fungsi feeder pertama adalah sebagai dozing atau pengatur umpan bahan bakar dengan cara memvariasi putaran. Sedangkan fungsi dari feeder kedua adalah sebagai pengumpan bahan bakar ke reaktor. Untuk mencegah macet dan tekanan balik dari aliran gas fluidisasi, desain geometri feeder kedua sedikit berbeda terutama pada panjang pitch nya (S). Pada feeder ini panjang pitch dibuat lebih pendek dengan maksud memperbesar putaran screw. Dengan putaran screw yang lebih tinggi kemungkinan tekanan balik bisa diminimalkan dan juga kemungkinan terjadi clouging atau macet karena terlalu penuh dapat dihindari. Sebagai tambahan, pada putaran yang lebih tinggi proses pemanasan di feeder biomasa bisa dihindari sedini mungkin karena biomas cepat cepat didorong ke reactor (biomas tidak boleh terbakar di feeder). Adapun perhitungan untuk feeder kedua adalah sebagai berikut. Dscrew = 0,0508 m S = 0,0254 m Dari data diatas dapat dihitung putaran screw feeder kedua sebagi berikut = = 1,44 rps = 86 rpm ( masih dalam batas nscrew< 150 rpm) Jadi putaran screw feeder ke dua adalah 86 rpm atau dua kalinya putaran screw feeder pertama. ; nscrew<150 rpm

dshaft = 0,0216 m; S = 0,5 x Dscrew ( panjang pitch = Dscrew)

Gambar 16. Feeder dan komponennya Langkah terakhir dari perhitungan perancangan sistem screw feeder adalah menghitung Daya atau power yang dibutuhkan sistem screw feeder. Perumusannya adalah :
( )

; dengan

= panjang umpan biomas dari hopper ; L = panjang screw

conveyor (tanpa beban); = koefesien ketahanan gesek gerak biomas ( 2~3) ; H=ketinggihan sistem feeder karena factor kemiringan. Tabel 13. Data nilai parameter untuk perhitungan Power Parameter Qbiomaston /jam L m m Screw 1 0,033 1 0,1 3 H Dscrew
( ( ) )

Screw 2 0,033 1 0,0625 3 0 0,0508

m m

0 0,0508

; H = 0 ( tidak ada kemiringan/ feeder terpasang horizontal) 0,002 KWatt

0,002 KWatt

Jumlah total daya 0,004 Kwatt, dan besar daya pada poros kopling dengan transmisi belt adalah ; Pkopling = 0,0023 Kwatt