Anda di halaman 1dari 2

Parkir Depan Rumah

SETIAP Jumat, saya memiliki ritual khusus. Bukan cuma berupa salat Jumat berjamaah
ke masjid depan rumah, tetapi juga menyiapkan tempat parkir khusus di depan rumah.
Untuk siapa? Untuk siapa saja sebetulnya, bagi siapa yang kebih dulu mengambilnya.
Siapa yang lebih dulu, itulah rezekimu, begitulah prinsipnya. Tetapi anehnya,
sudah sekian lama, saya merasa tempat persis di depan rumah itu, seperti cuma
untuk mobil yang itu saja. Mestinya ini tidak adil. Tetapi begitulah kenyataannya.

Anehnya tidak cuma saya. Kami sekeluarga, istri dan anak-anak juga memiliki
perasaan yang sama. Jika hari Jumat dan jam salat Jumat tiba, di tempat itu,
seperti hanya boleh ditempati mobil itu. Jika ia datang tepat waktu, kami lega,
karena memang begitulah harapan kami semua. Tetapi jika ada orang lain lebih dulu
menempatinya, rasanya kami jadi tidak rela. Sepanjang mungkin, kami akan
bernegosiasi, agar pengambil tempat itu mau bergeser agak kemari, kalau perlu
menutup gerbang rumah kami juga tak mengapa, sepanjang mobil yang biasa itu nanti
akan ada di sana.

Jika kebetulan kami luput mengawasi dan ada jamaah lain yang menempati, karena
betapapun itu jalan umum, seperti ada kecemasan di hati kami. Mobil yang biasa itu
nanti pasti akan kecewa. Dan ia bisa berputar-putar mencari tempat kosong, tempat
yang tidak biasa, dan ini pasti membuat gundah hatinya. Jika begitu keadaanya,
kami lalu cuma biasa menatap mobil itu tidak cuma dengan rasa bersalah, tetapi
juga rasa sedih. Seolah-olah kami lalai pada kewajiban dan alpa menjaga kebaikan.

Tetapi omong-omong, siapa sebetulnya pemilik mobil itu hingga begitu besar
kedudukannya di hati kami. Ia bukan polisi, bukan tentara, bukan pejabat tinggi,
dan bukan pula saudara kami. Ia tak lebih dari orang tua biasa, salah satu dari
jamaah masjid kami. Ia tetangga, tetapi jauh dan kami juga tidak terlalu dekat
secara pribadi. Tetapi yang sedang berlangsung ini memang bukan soal priabdi,
melainkan soal bahwa tokoh ini adalah sesepuh di wilayah kami. Ia menjadi sesepuh
bukan karena usianya yang sudah sepuh, tetapi lebih karena kebaikannya yang
terkenal.

Setiap anak-anak yang bertemu menyapanya seolah ia adalah kakek mereka. Kepada
mereka ia sering membagi-bagikan uang ala kadarnya, tetapi pasti bukan besarnya
uang itu gara-garanya, melainkan lebih pada bahwa anak-anak itu merasa istimewa
kalau sudah mendapat uang darinya. Di jalan saya pernah menaruh iba pada seoang
seorang tetangga yang berat bawaannya. Saya yang saat itu bersepeda motor tergerak
membantu.

Tapi karena begitu ribet bawaan orang ini sehingga penolong dan yang ditolong
malah sama-sama bingungnya. Kami sibuk mencari cara seperti apakah agar bawaan itu
lengkap dengan pemiliknya bisa terangkut secara bersama-sama. Lama kami mengatur
posisi tapi hingga sejauh itu tak ada posisi yang memadai. Barang-barang itu
menyita hampir seluruh jok yang ada, keadaannya menjadi serba sulit. Jika kami
mendahulukan barang, maka manusianya tak terangkut dan itu tidak mungkin. Jika
kami mendahulukan manusia, sang barang harus ditinggalkan dan itu juga mustahil.

Ketika situasi nyaris deadlock, melintaslah mobil Pak Tua itu dan dengan kebaikan
hatinya seluruh persoalan ini selesai. Dialah yang mengambil alih seluruh
kerepotan ini dengans segera. Ia pula yang mengantar tetangga itu hingga ke
rumahnya yang terletak jauh melewati rumahnya sendiri. Pengambil alihan beban itu
mengesankan saya untuk waktu yang lama. Gambaran kebaikan orang tua ini, tidak
duma tergambar lewat kedekatanya dengan anak-anak, tetapi juga langsung
bersentuhan dengan hidup saya sendiri.

Setiap saat ia parkir di depan rumah itu, ia pasti melihat bahwa ada tanaman sirih
di pagar rumah. Maka suatu kali, sambil parkir ia membuka pintu sambil mengirim
satu lagi jenis sirih langka untuk pelangkap sirih di rumah kami. Ketika suatu
saat, kami sekeluarga masuk rumah makan langganan, orang tua ini sudah ada di sana
bersama keluarganya pula. Tanpa diduga, kami ternyata penggemar rumah makan yang
sama. Ia datang lebih dulu karenanya juga pulang lebih dulu. Tetapi baru kami tahu
kemudian bahwa sambil pulang ia telah membayar seluruh tagihan kami.

Sekali lagi, ini bukan persoalan pribadi mentang-mentang sudah ditrakir makan dan
diberi sirih langka. Ini soal seorang tua yang dicintai warga karena kebaikannya
yang kebaikan itu kebetulan pernah singgah dalam hidup saya. Maka inilah hasilnya,
barang siapa memiliki energi cinta, bahkan tempat untuk pakir mobilnya pun ada
yang selalu menjaga.
(Prie GS/CN05)