Anda di halaman 1dari 2

Teman Masa Kecilku

Pelajaran kepemimpinan yang kudapat pertama kali ternyata berasal dari teman-teman
masa kecilku. Eloknya, mereka adakah teman-teman yang sangat ku kenang justru
karena kenakalannya. Misalnya si A yang dikenal kikir. Terkenal sekali kemampuan
anak ini dalam soal jajan tidak bayar. Jika masuk ke kantin sekolah ia seperti
bebas makan apa saja. Jika kantin sedang ramai ia tinggal ngeloyor pergi sambil
menbentak bahwa teman di sebelah yang sedang makan itulah yang nanti akan bayar.
Jika kantin sedang sepi pembeli dan ia datang sendiri, ia tinggal bilang ngutang
pada penjaganya, seorang ibu tua yang baik hati.

Ngemplang? Tidak. Ia akan datang di lain kesempatan bersama rombongan dan salah
satu di antaranya ia jebak untuk membayar hutangnya yang kemarin. Jika ia akan
gantian dijebak, diajak jajan bersama dan dialah nanti yang harus membayar, ia
memiliki ketangguhan untuk bertahan secara ekstra. Ia mengajak adu kuat, siapa
yang nanti lebih dulu akan mengeluarkan uangnya. Jika semuanya bertahan sama kuat,
ia akan berteriak pada pemilik kantin: ��Siapa yang nanti yang akan membayar,
hanya Tuhan yang tahu,�� katanya. Sudah tentu, salah satu dari kami terpaksa harus
mengalah katimbang malu.

Kenapa anak ini selalu sukses menjalankan aksinya? Apakah karena begitu mudahnya
kami ditipu? Tidak. Jika mau saat itu kami bisa mengeroyoknya dan memukulinya
habis-habisan. Kami rela dikerjai karena kami gembira dengan ulahnya. Ia menipu
kami tetapi dengan cara-cara yang lucu. Malah di sekolah anak ini jadi terkenal
sekali. Gayanya menjadi bahan cerita di mana-mana. Belum lengkap rasanya menjadi
murid sekolah kami jika belum pernah ditipu oleh anak ini. Dan setiap saat, para
korban itu bisa saling bertukar cerita sebagai sebuah kegembiraan.

Inilian bibit leadership itu. Seorang pemimpin bisa jadi tidak ideal, bisa jadi ia
nakal dan keliru perilaku. Tetapi apapun kebencian kita kepadanya, seperti ada
yang menarik-barik kita untuk tetap takjub kepadanya. Tetapi inilah kehebatan
pemimpin itu ternyata: betapapun ia keliru, jumlah kekeliruannya itu, setelah
dihitung-hitung, selalu lebih kecil dibanding nilai kebaikannya. Si kikir ini,
memiliki energi kegembiraan yang amat kami kenang hingga kami dewasa dan tersebar
di mana-mana. Apa yang kami keluarkan untuk tipuannya itu, rasanya kecil saja jika
dibandingkan dengan kegembiraan kami saat mengenang kenakalannya.

Lepas dari si A saku terkenang pada B. Anak itu begitu pendiam dan bicara cuma
kalau ditendang pantatnya. Tetapi cukup dengan sekali bicara ia akan langsung
menggemparkan. Malah yang sering, ia tak perlu berkata-kata untuk menyulut
kegemparan. Suatu kali kami, sekelompok anak-anak kampung ini menyambut riang
gembira ketika Pak X datang dengan kerbaunya untuk di gembalakan di tanah lapang
yang biasa. Entah bagaimana ceritanya, antara penggemabala dan kerbaunya itu,
adalah pihak yang amat kami sayangi. Sama-sama baik. Yang kerbau jinak dinaiki,
yang penggembala dengan sabar membiarkan kami, anak-anak nakal ini untuk ramai-
ramai naik ke punggung kerbaunya. Hewan itu sudah dewasa dan muat tiga sampai
empat anak seusia kami.

Tak setiap hari Pak X datang ke lapangan kami. Maka hari-hari ia datang, amat kami
tunggu dan kami hafali. Dengan gembira kami mengatur strategei bagaimana nanti
cara naik ke punggung kerbau, dengan siapa yang akan menjadi tangaanya, berapa
jumlah anak setiap ��kloter��-nya, dan berapa lama kami ada di sana, mengingat
jumlah kami banyak sekali. Begitu semangatnya kami menyiapkan manajemen naik
kerbau ini dan lupa memperhitungkan B yang sejak awal cuma diam seperti arca.

Tahu apa yang terjadi? Begitu kerbau itu datang, begitu kami besorak-sorak
gembira, begitu kami sudah saling hendak menyusun anak tangga, si B ini, tanpa
diduga melangkah dengan pasti. Dengan sebatang ranting di tangan ia langsung
membuat tindakan luar biasa gila: menyogrok dubur hewan baik hati itu. Kerbau yang
semula manis itu langsung melonjak kaget dan menjadi kalap seketika. Seluruh anak-
anak bubar, sang penggembala berteriak-teriak seperti orang gila dan si B lenyap
entah kemana. Apakah kami marah? Tidak! Kami tertawa tergelak-gelak dan
menghormatinya oleh sebuah alasan yang entah. Tetapi yang jelas, di mata kami,
keputusan yang dia ambil itu luar biasa. Tidak pernah kami pikir, dan kalau
terpikir pun pasti bukan tindakan yang kami berani melakukannya.

Begitulah pemimpin. Ada sesuatu yang bisa jadi tidak selalu kita setujui, tetapi
untuk sebuah alasan, sulit untuk tidak kita hormati. Hai penyogrok kerbau, di
manakah gerangan sekarang engkau!