Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MATA KULIAH KEPERAWATAN KLINIK IV B ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN MISTENIA GRAVIS

oleh: Rifqi Afriandy S. A. NIM 102310101006 Moh. Firman Hamdani NIM 102310101016 Myla Alisa Novita SariNIM 102310101038

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena ridho dari-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah yang berjudul Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Miadtenia Gravis dibuat untuk melengkapi tugas Mata Kuliah Keperawatan Klinik IVB di Program Studi Illmu Keperawatan. Tidak lupa ucapan terima kasih yang kepada: 1. Ns. Ratna Sari H., M.Kep. sebagai dosen penanggung jawab Mata Kuliah Keperawatan Klinik IVB yang telah memberikan dukungan; 2. seluruh dosen pengajar Mata Kuliah Keperawatan Klinik yang telah memberikan bimbingan; 3. teman-teman angkatan 2010 yang telah memberikan semangat. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan penelitian ini karena layaknya manusia biasa yang pasti mempunyai kesalahan dalam hal apapun seperti pepatah bahwa tak ada gading yang tak retak. Besar harapan penelitian ini nantinya dapat berguna bagi para pembaca dalam mencari ilmu dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jember, Februari 2012

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan 1.3 Implikasi Keperawatan BAB 2. TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian 2.2 Epidemiologi 2.3 Etiologi 2.4 Tanda dan Gejala 2.5 Patofisiologi 2.6 Komplikasi dan Prognosis 2.7 Pengobatan 2.8 Pencegahan BAB 3. PATHWAYS BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN 4.1 Pengkajian 4.2 Diagnosa 4.3 Perencanaan 4.4 Pelaksanaan 4.5 Evaluasi BAB 5. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Miastenia Gravis merupakan penyakit saraf yang menyebabkan kelemahan otot. Seseorang yang menderita penyakit ini akan mengalami masalah gerak tubuh karena ototnya menjadi lemah. Penyebab terjadi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Seorang perawat perlu memahami konsep penyakit ini, mulai dari pengertian, penyebab, tanda dan gejala, komplikasi dan prognosis, patofisiologi, pengobatan serta pencegahan. Peran utama perawat tidak dalam aspek pengobatan. Hal tersebut diperlukan agar asuhan keperawatan yang diberikan tepat sesuai dengan masalah yang dialami pasien.

1.2 Tujuan Tujuan dari makalah ini adalah mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit miastenia gravis. 1.3 Implikasi Keperawatan Miastenia gravis merupakan gangguan dalam sistem saraf, yang dalam hal ini difokuskan pada kejadian tumbuh kembang anak. Hal ini menjadi tugas bagi seorang perawat pediatrik khususnya. Seorang perawat perlu untuk memahami konsep dasar penyakit dan yang terpenting adalah mampu menyusun asuhan keperawatan pada pasien dengan miastenia gravis. Pemahaman yang menyeluruh mengenai konsep penyakit capat membantu mengkaji data-data pasien secara lebih detail, sehingga pasalah keperawatan yang timbul benar-benar telah tercakup seluruhnya. Kemudian menyusun rencana asuhan keperawatan sesuai dengan masalah pasien.

BAB 2. TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Mistenia gravis merupakan penyakit autoimun, biasanya mengenai orang berumur 20-40 tahun, dengan progresivitas kelemahan yang fluktuasi, mengenai terutama otot okular, otot bulbus, dan otot tungkai proksimal (J. C. E. Underwood, 2000: 906). Pada penyakit ini terdapat antibodi terhadap reseptor asetilkolin pada sinaps neuromuskular. Dapat disertai patologi timus, seperti hiperplasia, atrofi, atau tumor-timoma (Lionel Ginsberg, 2005: 156). Mistenia gravis juga dikatakan penyakit autoimun dimana persambungan otot dan saraf (neuromuscular junction) berfungsi tidak normal, menyebabkan kelemahan otot menahun, kelemahan progresif dan sporadis, kelemahan abnormal pada otot skeletal, dan bertambah buruk setelah latihan dan pengulangan gerakan. Jumlah reseptor asetilkolin yang ditemukan pada kondisi ini sedikit. Gangguan ini menyerang otot yang dikendalikan saraf kranial (wajah, bibir, lidah, leher dan tenggorokan), dan dapat menyerang otot lain. Penyakit ini juga berbahaya karena juga melibatkan sistem pernapasan.

2.2 Epidemiologi Mistenia gravis jarang terjadi, insidensi per tahun kira-kira 0,4/100.000, tetapi karena banyak pasien mengalami penyakit ini dalam jangka waktu lama, maka prevalensi mencapai 1/10.000. Penyakit ini menyerang semua kelompok usia (Lionel Ginsberg, 2005: 156). Namun lebih sering terjadi pada usia 20 tahun. Wanita lebih sering terkena dibandingkan laki-laki. Lebih dari 90% penderita mempunyai antibodi terhadap protein reseptor post-sinaptik dan memblok transmisi saraf. Lebih dari 50% penderita menunjukkan timus yang hiperplastik dan timoma ditemukan sekitar 15% (J. C. E. Underwood, 2000: 906).

2.3 Etiologi Kelainan primer pada miastenia gravis dihubungkan dengan gangguan transmisi pada neuromuscular junction, yaitu penghubung antara unsur saraf dan

unsur otot. Pada ujung akson motor neuron terdapat partikel-partikel globuler yang merupakan penimbunan asetilkolin (ACh). Jika rangsangan motorik tiba pada ujung akson, partikel globuler pecah dan ACh dibebaskan yang dapat memindahkan gaya sarafi yang kemudian bereaksi dengan ACh Reseptor (AChR) pada membran postsinaptik. Reaksi ini membuka saluran ion pada membran serat otot dan menyebabkan masuknya kation, terutama Na, sehingga dengan demikian terjadilah kontraksi otot. Penyebab pasti gangguan transmisi neromuskuler pada miastenia gravis tidak diketahui. Dulu dikatakan, pada miastenia gravis terdapat kekurangan ACh atau kelebihan kolinesterase, tetapi menurut teori terakhir, faktor imunologik yang berperanan.

2.4 Tanda dan gejala Tanda dan gejala yang muncul, yaitu: a. ptosis fatig; b. diplopia (persepsi adanya 2 bayangan) dengan keterbatasan gerak mata; c. kelemahan wajah yang meliputi ekspresi miastenik dan kelemahan saat menutup mata; d. gejala dan tanda bulbar yang meliputi disfagia (dengan regurgitasi nasal cairan), dan disartria (suara hidung); e. keterlibatan otot-otot pernapasan (gejala bulbar dan pernapasan akut yang disebabkan oleh mistenia merupakan keadaan gawat); f. kelemahan otot leher dan ekstremitas gerak, memburuk pada sore atau malam hari dan setelah berolahraga atau fatig abilitas (Lionel Ginsberg, 2005: 156). Miastenia gravis menyerang otot-otot wajah, laring, dan faring. Keadaan ini dapat menyebabkan regurgitasi melalui hidung jika pasien mencoba menelan (otot palatum), menimbulkan suara yang abnormal atau suara nasal, dan pasien tidak mampu menutup mulut yang dinamakan sebagai tanda rahang menggantung. Terserangnya otot-otot pernapasan terlihat dari adanya batuk dan lemah, dan akhirnya dapat berupa serangan dispnea dan pasien tidak mampu membersihkan lendir pada trakea. (Sylvia dan Wilson, 2001: 1001).

2.5 Patofisiologi Otot rangka dan otot lurik dipersarafi oleh saraf besar bermielin yang berasal dari sel konu anterior medula spinalis dan batang otak. Saraf-saraf ini mengirimkan aksonnya dalam bentuk saraf-saraf spinal dan kranial menuju ke perifer. Masing-masing saraf bercabang banyak sekali dan mampu merangsang sekitar 2000 serabut otot rangka, gabungan antara saraf motorik dan serabutserabut otot yang dipersarafi dinamakan unit motorik. Meskipun setiap neuron motorik dipersarafi banyak serabut otot, tetapi setiap serabut otot dipersarafi oleh hanya satu meuron motorik (Sylvia dan Wilson, 2001: 999). Pada miastenia gravis, konduksi meuromuskular terganggu. Jumlah reseptor asetilkolin kurang, mungkin akibat cedera autoimun. Antibodi terhadap protein reseptor asetilkolin ditemukan dalam serum banyak pada penderita miastenia gravis. Faktor penting untuk menentukan patogenesitas miastenia gravis adalah apakah merupakan akibat kerusakan reseptor primer atau sekunder oleh suatu agen primer yang belum dikenal. Pada pasien-pasien miastenia gravis, secara makroskopis otot-ototnya tampak normal. Jika ada atrofi, maka itu disebabkan karena otot tidak dipakai. Secara mikroskopis beberapa kasus dapat ditemukan infiltrasi limfosit dalam otot dan organ-organ lain, tetapi pada otot rangka tidak dapat ditemukan kelainan yang konsisten (Sylvia dan Wilson, 2001: 1000). Secara singkat, pada keadaan miastenia gravis, terjadi penurunan jumlah asutilkolin yang berfungsi sebagai neurotransmitter, sehingga jumlah zat kimia yang dilepaskan dari presinaps menuju post sinaps, yaitu otot dan kelenjar juga menjadi berkurang. Akibatnya impuls dari neuron tidak dapat tersampaikan seluruhnya ke otot, hal inilah yang menyebabkan kelemahan otot pada keadaan miastenia gravis.

2.6 Komplikasi dan Prognosis Komplikasi yang timbul biasannya adalah kematian. Hal ini disebabkan oleh insufisiensi pernapasan, meskipun dengan adanya perbaikan dalam perawatan intensif untuk pernapasan komplikasi yang timbul dapat ditangani dengan baik (Sylvia dan Wilson, 2001: 998).

Pada anak, prognosis sangat bervariasi tetapi relatif lebih baik dari pada orang dewasa. Dalam perjalanan penyakit, semua otot serat lintang dapat diserang, terutama otot-otot tubuh bagian atas, 10% miastenia gravis tetap terbatas pada otot-otot mata, 20% mengalami insufisiensi pernapasan yang dapat fatal, 10%,cepat atau lambat akan mengalami atrofi otot. Progresi penyakit lambat, mencapai puncak sesudah 3-5 tahun, kemudian berangsur-angsur baik dalam 1520 tahun dan 20% antaranya mengalami remisi. Remisi spontan pada awal penyakit terjadi pada 10% miastenia gravis. Tanpa pengobatan angka kematian miastenia gravis 25-31%. Miastenia gravis yang mendapat pengobatan, angka kematian 4%. 40% hanya gejala okuler.

2.7 Pengobatan Miastenia gravis dapat diterapi dengan beberapa obat berikut, yaitu: a. antikolinesterase, misal piridostigmin yang dapat memperbaiki gejala, dan neostigmin untuk menghancurkan kolinesterase; b. kortikosteroid, misal prednisolon diperlukan untuk penyakit yang sedang hingga berat yang tidak responsif terhadap terapi lain; c. imunosupresi, misal azatioprin, digunakan dalam kombinasi dengan kortikosteroid untuk kekadaan berat; d. timektomi jika terdapat timoma, dan pada pasien muda dilakukan pada awal penyakit untuk mengurangi kebutuhan terapi medikamentosa, dan pada sebagian kecil pasien untuk mencapai remisi total; e. pertukaran plasma (plasmaferesis) atau imunoglobulin intravena untuk persiapan timektomi dan pada penyakit sangat berat (Lionel Ginsberg, 2005: 156).

2.8 Pencegahan Penyebab pasti miastenia gravis belum diketahui, jadi tindakan pencegahan yang dapat dilakukanpun belum dapat dipastikan. Pada keadaan miastenia gravis terjadi penurunan jumlah asetilkolin yang berfungsi sebagai neurotransmitter sinaps yang disampaikan ke otot. Jadi langkah kecil untuk mencegah miastenia gravias adalah dengan mempertahankan jumlah asetilkolin

tidak berkurang. Penting juga untuk menghindari cedera autoimun, karena cedera autoimun dapat menyebabkan jumlah asetilkolin berkurang.

BAB 3. PATHWAYS

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari keb. tubuh

Penurunan keinginan makan diafagia gangguan CN 9 (glosofaringeal) perubahan pola persepsi sensori diplopia

gangguan rasa nyaman lemah menutup mata gangguan CN 3 (okulomotorik) sakit tenggorokan batuk perubahan pola napas dispnea menyerang CN. Kranial Mistenia gravis gangguan sist. napas

gangguan CN 2 (optik) perubahan pola aktivitas kelemahan otot

Impuls saraf tidak sampai ke otot Gangguan neuromuskular junction

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN 4.1 Pengkajian Pengkajian menurut Gordon, yaitu meliputi: a. Persepsi kesehatan: pola penatalaksanaan kesehatan 1) Perilaku mencari pelayanan kesehatan anak dan orang tua 2) Pandangan anak terhadap kondisi sakit b. Nutrisi 1) Pola makan 2) Asupan gizi seimbang 3) Peran orang tua dalam memberikan makanan seimbang 4) Rasa sakit ketika makan 5) Nafsu makan anak ketika sakit c. Pola eliminasi 1) Pola eliminasi defekasi 2) Pola eliminasi miksi d. Aktivitas: pola latihan 1) Pola aktivitas 2) Kekuatan otot gerak 3) Pola bermain e. Tidur: pola istirahat 1) Pola tidur 2) Waktu tidur dalam sehari 3) Gangguan tidur f. Kognitif: pola perseptual 1) Pengetahuan anak 2) Pengetahuan orang tua g. Persepsi diri: pola konsep diri 1) Pandangan anak terhadap dirinya 2) Anggapan anak terhadap kondisi sakitnya h. Peran: pola berhubungan

1) Hubungan dengan orang tua 2) Hubungan dengan teman bermain i. Seksualitas: pola reproduksi j. Koping: pola toleransi stres 1) Pola bermain ketika sakit berubah atau tidak k. Nilai: pola keyakinan 1) Keyakinan dan agama anak dan orang tua 2) Kepercayaan khusus terhadap kondisi sakit

4.2 Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada klien dengan mistenia gravis, yaitu: a. perubahan pola napas, berhubungan dengan gangguan sistem pernapasan; b. gangguan rasa nyaman, berhubungan dengan nyeri tenggorokan saat batuk; c. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan penurunan keinginan makan; d. perubahan pola aktivitas, berhubungan dengan kelemahan otot; e. perubahan pola persepsi sensori, berhubungan dengan gangguan nervus II (optik).

4.3 Perencanaan No. Diagnosa Intervensi 1. Dx 1 1. Kaji ulang pola, frekuensi dan kedalaman napas 2. Atur posisi fowler atau semifowler 3. Bantu anak melakukan teknik napas dalam 4. Kaji respon anak ( S dan O) 5. Elaborasi untuk tindakan oksigenasi Rasional 1. Mendapatkan data pernapasan yang aktual 2. Merperluas ekspansi paru sehingga memudahkan bernapas 3. Membantu menarik oksigen lebih banyak dan memudahkan bernnapas 4. Mengetahui keefektifan

tindakan yang dilakukan 5. Memenuhi kebutuhan oksigen pasien. 2. Dx 2 1. Kaji intensitas nyeri tenggorokan pasien dengan skala nyeri 2. Kaji koping pasien terhadap nyerinya ketika batuk 3. Ajarkan teknik napas dalam 4. Ajarkan teknik relaksasi 5. Elaborasi dalam pemberian obat batuk 6. Libatkan orang tua 7. Kaji respon pasien (S dan O) 1. Mengetahui intensitas nyeri yang dirasakan pasien 2. Mengetahui apa yang dilakukan pasien ketika nyeri mulai terasa 3. Membantu mencegah batuk yang menyebabkan nyeri tenggorokan 4. Membantu pasien beradaptasi dengan rasa nyerinya 5. Mengobati batuk dan mengurangi rasa nyeri 6. Membantu memantau pasien dalam minum obat 7. Mengetahui kefektifan tindakan yang dilakukan 3. Dx 3 1. Kaji kemampuan mengunyah dan menelan 2. Pantau asupan nutrisi setiap hari 3. Alihkan perhatian pasien dari rasa tidak nyaman menelan yang dirasakannya 4. Pertahankan asupan nutrisi 1. Mengetahui kemampuan dan gangguan menelan 2. Mengetahui pemasukan nutrisi setiap hari 3. Mencegah pasien merasakan rasa nyerinya 4. Mempertahankan asupan nutri yang cukup dan

yang cukup bagi pasien

seimbang

5. Modifikasi makanan seimbang 5. Menarik perhatian sesuai kesukaan anak 6. Libatkan orang tua pasien untuk makan dan memenuhi nutrisi

7. Kaji respon anak dan orang tua 6. Membantu anak 8. Elaborasi dengan ahli gizi 9. Lakukan tindakan NGT jika perlu memenuhi asupan nutrisi 7. Mengetahui keefektifan tindakan yang dilakukan 8. Menentukan komposisi nutrisi yang tepat untuk anak 9. Memberikan nutrisi jika terjadi gangguan pada saluran pencernaan atas.

Dx 4

1. Kaji kekuatan motorik otot 2. Atur posisi nyaman dan

1. Mengetahui kekuatan otot terutama otot gerak

lakukan mobilitas secara teratur 2. Memberikan rasa setiap hari 3. Lakukan latihan ROM 4. Kaji respon anak (S dan O) 5. Libatkan orang tua dalam melakukan latihan 6. Pantau perkembangan pola aktivitas anak nyaman pada anak dan melatih mobilisasi untuk menghindari kaku 3. Melatih mobilisasi dan menghindari kaku 4. Mengetahui keefektifan tindakan yang dilakukan 5. Membantu anak melakukan antivitas dan latihan 6. Mnegetahui

perkembangan aktivitas dan sebagai evaluasi tindakan yang dilakukan. 5. Dx 5 1. Kaji adanya gangguan pada visual 2. Kaji koping anak terhadap kondisinya 3. Elaborasi dalam pemberian obat 4. Kaji respon anak. 1. Mengetahui gangguan pada mata dan penglihatan 2. Mengetahui tindakan yang dilakukan untuk menghadapi masalahnya 3. Memberikan obat untuk mengobati gangguan visual 4. Mengetahui keefektifan tindakan yang dilakukan.

4.4 Pelaksanaan Pelaksanaan asuhan keperawatan berdasarkan pada intervensi yang telah ditetapkan. No. Diagnosa Intervensi 1. Dx 1 1. Kaji ulang pola, frekuensi dan kedalaman napas 2. Atur posisi fowler atau semifowler 3. Bantu anak melakukan teknik napas dalam 4. Kaji respon anak ( S dan O) 5. Elaborasi untuk tindakan Implementasi 1. Telah melakukan pemeriksaan fisik pada frekuensi , pola dan kedalaman napas 2. Telah diberikan posisi fowler 3. Telah membantu anak melakukan teknik

oksigenasi

napas dalam 4. Telah ditanyakan tanggapan anak terhadap tindakan dan mengkaji respon nonverbal anak 5. Telah dilakukan pemberian oksigenasi

2.

Dx 2

1. Kaji intensitas nyeri tenggorokan pasien dengan skala nyeri 2. Kaji koping pasien terhadap nyerinya ketika batuk 3. Ajarkan teknik napas dalam 4. Ajarkan teknik relaksasi 5. Elaborasi dalam pemberian obat batuk 6. Libatkan orang tua 7. Kaji respon pasien (S dan O)

1. Telah ditanyakan intensitas nyeri dengan menggunakan skala nyeri 1-10 2. Telah ditanyakan apa yang dilakukan anak ketika nyeri terasa 3. Telah diajarkan teknik napas dalam 4. Telah diajarkan teknik relaksasi 5. Telah dilakukan elaborasi dalam menentukan pemberian obat batuk 6. Telah meminta orang tua memantau anak dalam minum obat 7. Telah ditanyakan tanggapan pasien dan dikaji respon nonverbal pasien

3.

Dx 3

1. Kaji kemampuan mengunyah

1. Telah dikaji

dan menelan 2. Pantau asupan nutrisi setiap hari 3. Alihkan perhatian pasien dari rasa tidak nyaman menelan yang dirasakannya 4. Pertahankan asupan nutrisi yang cukup bagi pasien 5. Modifikasi makanan seimbang sesuai kesukaan anak 6. Libatkan orang tua

kemampuan menelan anak dan mengunyah 2. Telah dipentau dan diperhatikan asupan makan dan porsi 3. Telah dilakukan teknik bermain untuk mengalihkan perhatian anak 4. Telah diberikan nutrisi seimbang pada anak

7. Kaji respon anak dan orang tua 5. Telah dilakukan 8. Elaborasi dengan ahli gizi 9. Lakukan tindakan NGT jika perlu modifikasi tampilan dan rasa pada makanan anak 6. Telah meminta orang tua memantau dan membantu anak ketika makan 7. Telah dikaji tanggapan dan respon nonverbal anak juga orang tua 8. Telah dilakukan elaborasi untuk memberikan nutrisi cukup dan seimbang 9. Telah dilakukan pemasangan NGT dan pemberian nutrisi melalui NGT.

4.

Dx 4

1. Kaji kekuatan motorik otot 2. Atur posisi nyaman dan lakukan mobilitas secara teratur setiap hari 3. Lakukan latihan ROM 4. Kaji respon anak (S dan O) 5. Libatkan orang tua dalam melakukan latihan 6. Pantau perkembangan pola aktivitas anak

1. Telah dikaji kekuatan motorik otot dengan diperiksa bergerak 2. Telah diberikan posisi nyaman dan latihan bergerak 3. Telah dilakukan latihan ROM 4. Telah ditanyakan tanggapan dan respon nonverbal anak 5. Telah meminta orang tua untuk membantu melakukan latihan 6. Telah dipantau perkembangan pola aktivitas anak secara beekesinambungan.

5.

Dx 5

1. Kaji adanya gangguan pada visual 2. Kaji koping anak terhadap kondisinya 3. Elaborasi dalam pemberian obat 4. Kaji respon anak.

1. Telah dilakukan pemeriksaan mata dan penglihatan 2. Telah ditanyakan pada anak hal yang dilakukan jika gangguan penglihatan mulai timbul 3. Telah dilakukan elaborasi dalam pemberian obat 4. Telah ditanyakan tanggapan dan respon

nonverbal anak.

4.5 Evaluasi S: merupakan respon subjektif anak, misal anak sudah tidak mengeluh sakit di tenggorokan lagi, tidak mengeluh gangguan penglihatan, dan tidak mengeluh lemah untuk beraktivitas. O: merupakan respon objektif anak, misalnya pola, frekuensi dan kedalaman napas. A: merupakan analisis masalah pasien, misal masalah teratasi, teratasi sebagian, timbul masalah baru atau tidak teratasi. P: rencana dilanjutkan, dihentikan atau dimodifikasi.

BAB 5. KESIMPULAN Mistenia gravis merupakan penyakit autoimun, biasanya mengenai orang berumur 20-40 tahun, dengan progresivitas kelemahan yang fluktuasi, mengenai terutama otot okular, otot bulbus, dan otot tungkai proksimal. Penyakit ini jarang terjadi. Faktor yang menyebabkan terjadinya, yaitu karena gangguan

neuromuskular junction. Terjadi penurunan jumlah asetilkolin untuk disampaikan ke otot dan kelenjar. Tanda dan gejala yang timbul, yaitu ptosis fatig, diplopia, keterbatasan gerak mata, kelemahan wajah dan kelemahan saat menutup mata, disfagia, dan disartria, keterlibatan otot-otot pernapasan, kelemahan otot leher dan ekstremitas gerak. perubahan pola napas, berhubungan dengan gangguan sistem pernapasan. Masalah keperawatan yang dapat timbul, yaitu gangguan rasa nyaman, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, perubahan pola aktivitas, perubahan pola persepsi sensori.

DAFTAR PUSTAKA

Ginsberg, Lionel. 2005. Lecture Notes Neurologi. Edisi Kedelapan. Jakarta: Erlangga. Price, Sylvia A., dan Wilson, Lorraine M. 1995. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC. Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: EGC. Underwood. J. C. E. 2000. Patologi Umum dan Sistematik. Edisi 2. Jakarta: EGC. http://www.mgawpa.org/pdfs/Medical/What%20is%20Myasthenia%20Gravis.pdf