Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN HEWAN I

PISCES

OLEH :

NAMA NIM KELOMPOK ASISTEN

: DARWIN AZIS : 08101004060 : II (DUA) : DINA OKTAVIA

LABORATORIUM ZOOLOGI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA 2011

ABSTRAK

Praktikum yang berjudul, Pisces bertujuan untuk mengenal, mengidentifikasi serta mempelajari beberapa sistem tubuh dari beberapa anggota kelas Pisces. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 15 November 2011, pukul 08.30 WIB sampai 10.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya. Alat yang digunakan adalah alat tulis, baki, gunting bedah, dan kertas catatan. Dan bahan yang digunakan adalah Anabas testudineus, Cyprinus carpio, Clarias batrachus, Colassoma macropoma, Heleostoma tembickii, Ophiochepallus strialus, Oreochormis niloticus, Pangasius pangasius dan Trichogaster pectoralis.Adapun hasil yang didapat yaitu gambar morfologi tubuh berbagai macam Pisces beserta keterangannya . Kesimpulan yang didapat pada praktikum ini yaitu bentuk morfologi dari pisces terdiri dari tiga bagian, yaitu caput, truncus dan caudal serta kulit luar berupa sisik yang merupakan modifikasi integimentum yang dibuat dari jaringan tulang.

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Vertebrata yang pertama kalinya ditemukan sebagai fosil adalah ikan tak berahang, yakni Ostrakodermi. Beberapa terdapat di dalam batu-batuan Ordovisium, meskipun pada zaman silur mereka terdapat dalam jumlah yang lebih banyak. Hewan ini adalah ikan pipih yang relative berukuran kecil dengan ukuran sekitar 15 sampai 30 cm. dengan ukurannya tersebut, diperkirakan hidup dengan mengisap zat-zat organik dari dasar sungai tempat mereka hidup. Pertukaran gas terjadi pada pasangan-pasangan insang antenna, dengan tiap insang ditunjang oleh satu lengkung tulang. Air masuk melalui mulut, melalui insang dan keluar melalui serangkaian kantung insang yang bermuara di permukaan. Tidak terdapat sirip pada ikan tersebut, dan berenang dengan gerakan undulasi (Kimball 1983). Selama akhir masa Silur dan awal masa Devon, vertebrata dengan rahang, anggota super kelas Gnathostomata (mulut berahang) menggantikan sebagian besar hewan Agnatha. Kelas ikan yang masih hidup (Chondrichtyes dan Osteichtyes) pertama kali munculpada masa ini, bersama-sama dengan suatu kelompok yang diberi nama Plakoderma (Placoderm) atau berkulit lempeng yang tidak memiliki keturunan yang hidup. Vertebrata berahang juga memiliki dua pasang anggota badan yang berpasangan, sementara hewan agnatha tidak memiliki anggota badan atau hanya memiliki sepasang. Menilai dari kajian-kajian vertebrata yang masih hidup, ekspresi berbeda gen Hox mungkin telah menentukan apakah satu atau dua pasang anggota badanberpasangan yang akan berkembang (Campbell 2003). Ikan-ikan yang banyak dilihat dan dikonsumsi oleh manusia termasuk dalam Teleostei. Oleh karenanya sebagai contoh diambil di sini adalah Cyprinus carpio atau varietasnya ialah C. Carpio var. flavipinnis. Tubuh ikan terdiri atas caput, truncus, dan cauds, di antara mana tidak ada batas yang nyata sebagai batas antara caput dan truncus dipandang tepi caudal operculum dan sebagai batas antara truncus dan ekor

dipandang anus. Ikan-ikan yang dapat berenang cepat berbentuk sebagai torpedo. Tetapi Cyprinus lebih pendek, lebih pipih kea rah bilateral dan lebih lebar kea rah dorsoventral. Berhubungan dengan ini Cyprinus kurang dapat berenang cepat tetapi dapat lebih cepat membelok (Radiopoetro 1996). Ikan bertulang sejati terpecah menadi tiga kelompok berbeda, yakni paleoniskoida, ikan paru-paru, dan krosopterigi. Palioniskoida dibedakan dengan adanya sirip berjari (sirip yang tidak ada otot maupun tulang) dan kenyataan bahwa ventilasi paru-paru dilakukan memalui mulut. Banyak dari kelompok ini bermigrasi ke laut selama akhir era (masa) paleozoikum dan mesozoikum. Ikan paru-paru mengembangkan suau pembaruan berarti yang tidak dimiliki oleh moyangnya. Lubang hidung yang pada Osteichthyes pertama hanya bermuara ke luar dan

digunakan untuk membau, mengenmbangkan lubang internal ke rongga mulut. Hal ini memungkinkan untuk bernafas di udara dengan mulut tertutup. Seperti hlnya ikan paru-paru, Krosopterigia juga mempunyai lubang hidung dalam yang dapat digunakan untuk mengembungkan paru-paru. Disamping itu, sirip belakang dan sirip pada dada (pectoral) mereka bergelambir, yakni berdaging dan ditunjang oleh tulang (Kimball 1983

1.2. Tujuan Praktikum Praktikum kali ini bertujuan untuk mengenal, mengidentifikasi serta

mempelajari beberapa sistem tubuh dari beberapa anggota kelas Pisces.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah dingin) yang hidup di air dan bernafas dengan insang. Ikan merupakan kelompok vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27.000 di seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan, biasanya ikan dibagi menjadi ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag), ikan bertulang rawan (kelas Chondrichtyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari), dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes) (Anonima 2009). Bagian tubuh ikan terdiri atas caput, truncus, dan caudal, di antara mana tidak ada batas yang nyata sebagai batas antara caput dan truncus dipandang sebagai anus. Kulit atau cutis terdiri atas corium atau desmis dan epidermis. Corium terdiri atas jaringan pengikat. Epidermis yang melapisinya dari sebelah luar ialah epitelium. Di antara sel-sel epitelium terdapat kelenjar uniceluler yang mengeluarkan lender. Lender ini menyebabkan kulit ikan menjadi licin. Di dalam corium terdapat chromatophor-chromatophor, yang mana chromatophor ialah sel-sel yang mengandung butir-butir pigmen yang menentukan warna kulit. Sebagai eksoskeleton dapat dipandang sisik-sisik yang ada di dalam corium. Sisiksisik ini dibuat dari jaringan tulang. Ia berbentuk pipih dan bulat, sehingga disebut bersifat cycloid. Sisik-sisik ini tersusun seperti genting-genting atap rumah. Bagian caudal sisiksisik menutupi bagian cranial sisik-sisik yang terletak di sebelah caudalnya. Jari-jari sirip sebenarnya juga termasuk eksoskeleton (Radiopoetro 1996). Rahang vertebrata bersendi dan dapat bergerak ke atas dan ke bawah (secara dorsoventral). rahang vertebrata berkembang melalui modifikasi batang rangka yang sebelumnya menyokong celah faring (insang) anterior. Celah insang yang tersisa, yang tidak lagi diperlukan untuk memakan suspense, tetap merupakan tempat utama pertukaran gas dengan lingkungan eksternal. Asal mula rahang vertebrata dari berbagai kerangka ini menggambarkan ciri umum perubahan evolusioner. Adaptasi baru umumnya berkembang

melalui modifikasi ktruktur yang telah ada. Sebagai suatu mekanisme adaptasi oleh bahan mentah yang harus diolah, evolusi umumnya lebih merupakan proses pemodelan ulang ketimbang penciptaan struktur baru (Campbell 2003). Morfologi ikan yang terlihat dengan jelas dari luar antara lain adalah bentuk badan, mulut, cekung hidung, mata, tutup insang, sisik, gurat, sisi (linea lateralis/LL), sirip dada, sirip perut, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor, bentuk dari sirp-sirip tersebut serta warna badan dan atau bagian-bagian badan tersebut. Pada pisces, ketika masih muda sulit dibedakan antara ikan jantan dan betina, baik secara morfologi maupun anatomi. Organ reproduksi jantan dan betina pada waktu masih muda memiliki struktur yang sama dan disebut ganoda. Setelah ewasa organ reproduksi ikan jantan dapat dibedakan organ genitalia masculine tanpak berwarna putih susu dengan permukaan licin berisi spermatozoa. Tersti berjumlah sepasang menggantung pada dinding tengah rongga abdomen oleh mesorsium. Berbentuk oval dengan permukaan yang kasar. Kebanyakan testisnya panjang, berwarna putih dan seringkali berlobus (Radiopoetro 1996). Testis adalah organ reproduksi jantan yang terdapat berpasangan dan terletak di bawah tulang belakang. Testis ikan berbentuk seperti kantong dengan lipatan-lipatan, serta dilapisi dengan suatu lapisan sel spermatogenik (spermatosit). Sepasang testis pada jantan tersebut akan mulai membesar pada saat terjadi perkawinan, dan sperma jantan bergerak melalui vas deferens menuju celah atau lubang urogenital. Testis berjumlah sepasang, digantungkan pada dinding tengah rongga abdomen oleh mesorsium. Bentuknya oval dengan permukaan yang kasar. Kebanyakan testisnya panjang dan seringkali berlobus. Saluran reproduksi, pada Elasmoranchi beberapa tubulus mesonefrus bagian anterior akan menjadi duktus aferen dan menghubungkan testis dengan mesonefrus, yang disebut dutus deferen. Bahian posterior duktus aferen berdilatasi membentuk vesikula seminalis, lalu dari sini akan terbentuk kantung sperma. Dutus deferen akan bermuara di kloaka. Pada Teleostei saluran dari sistem ekskresi dan sistem reproduksi menuju kloaka secara terpisah (Anonimb 2009). Proses fertilisasi/pembuahan pada ikan ada 2 cara, yakni pembuahan di dalam (internal fertilization) dan pembuahan di luar (external fertilization). Namun demikian kebanyakan jenis ikan melakukan pembuahan diluar (external fertilization). Ovary pada

ikan terdiri dari banyak telur. Setiap jenis ikan memiliki ukuran telur sendiri, ada yang besar dan ada yang kecil. Ukuran telur akan menentukan jumlah telur yang dimiliki oleh seekor induk. Ikan yang memiliki ukuran telur besar contohnya ikan Nila dan Arwana, akan memiliki jumlah telur yang lebih sedikit disbanding dengan ikan yang ukuran telurnya kecil seperti ikan Cupang dan Mas (Campbell 2003). Hal ini disebabkan oleh kapasitas yang dimiliki si induk untuk menampung telur. Ukuran telur ikan banyak ditentukan oleh ukuran kuning telurnya. Makin besar kuning telur makin besar pula peluang embrio untuk bertahan hidup. Ovarium pada Elasmoranchi padat, tapi kurang kompak, terletak pada anterior rongga abdomen. Pada saat dewasa yang berkembang hanya ovarium kanan. Pada Teleostei tipe ovariumnya sirkular dan berjumlah sepasang. Saluran reproduksi Elasmoranchi berjumlah sepasang, bagian anteriornya berfusi yang memiliki satu ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Oviduk sempit pada bagian anterior dan posteriornya. Pelebaran selanjutnya pada uterus yang bermuara di kloaka. Pada Teleostei punya oviduk pendek dan berhubungan langsung dengan ovarium. Pada bagian posterior bersatu dan bermuara pada satu lubang. Teleostei tidak memiliki kloaka (Anonimb 2009). Insang (gill) adalah bentuk pelipatan kea rah luar pada permukaan tubuh yang khusus untuk pertukaran gas. Insang ikan bertulang sejati diventilasi secara kontinu oleh aliran air yang memasuki mulut, lalu masuk melalui celah dalam faring, mengalir di atas insang, dan kemudian keluar tubuh. Ventilasi yaitu peningkatan aliran medium respirasi di atas permukaan respirasi, yang membantu dalam mendapatkan oksigen yang cukup dari air. Ventilasi membawa aliran oksigen segar dan membuang karbon dioksida yang dikeluarkan oleh insang. Karena air jauh lebih rapat dan mengandung lebih sedikit oksigen persatuan volume dibandingkan dengan udara, kama seekor ikan harus menghabiskan banyak energy untuk memventilasi insangnya (Campbell 2004). Sistem cardiovascular pada ikan atau pisces terdiri atas: jantung, arteri dan arteriol, kapiler-kapiler, venula dan venae, dan darah. Jantung atau cor terdapat di dalam cavium pericardil. Yang terdiri atas sinus venosus, atrium, ventriculus, dan bulbus arteriosus. Dinding sinus venosus, atrium, dan ventriculus ialah kontraktil, tetapi dinding bulbus arteriosusmerupakan pangkal dari aorta ventralis. Organ uropoetica pisces terdiri

atas, ren yang terjadi dari mesophros, ureter yang terjadi dari ductus mesonephridicus, vesica urinaria, dan sinus urogenitalis. Ada sepasang ren yang memanjang sepanjang dinding dorsal abdomen, kanan dan kiri dari linea mediana. Ureter adalah saluran keluar dari ren. Pada suatu tempat ia membesar dan membentuk vesica urinaria. Ureter bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Sinus urogenitalis bermuara keluar melalui porus urogenitalis yang terdapat caudal dari anus, cranial dari pangkal pinna analis

(Radiopoetro 1996).

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa, 15 November 2011, pukul 08.3010.30 WIB. Bertempat di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Inderalaya.

3.2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan adalah alat tulis, baki, gunting bedah, dan kertas catatan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Anabas testudineus, Cyprinus carpio, Clarias batrachus, Colassoma macropoma, Heleostoma temickii, Guppy sp, Ophiochepallus strialus, Oreochormis niloticus, Pangasius pangasius, Sardinia siren dan Trichogaster pectoralis.

3.3. Cara Kerja Disiapkan ikan yang akan diamati dan diletakkan di atas baki. Diamati morfologi yang menjadi ciri khas dari masing-masing ikan seperti jenis sisik, jumlah sirip, dan jenis sirip. Salah satu jenis ikan dibedah dan diamati anatomi ikan serta sistem tubuhnya. Digambarkan di dalam kertas kerja dan diberi keterangan.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari praktikum yang telah dilaksanakan, didapat hasil sebagai berikut:

a. Ophiochepallus striatus

Klasifikasi Kingdom Phylum Clasiss Ordo Family Genus Spesies Nm Umum : Animalia : Chordata : Osteichthyes : Ostariophysi : Ophiochepalis : Ophiochepallus : Ophiochepallus striatus : Ikan Gabus

Keterangan 1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Linea lateralis 6. Pinna abdominalis 7. Pinna caudalis 8. Pinna dorsalis 9. Pinna annalis 10. Pinna pectoralis

b. Cyprinus carpio

Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum Clasiss Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Osteichthyes : Ostariophysi : Cyprinidae : Cyprinus : Cyprinus carpio

Nm Umum : Ikan mas

Keterangan 1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Opercullum 5. Porus urogenitalis 6. Linea lateralis 7. Pinna abdominalis 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Pinna annalis 11. Pinna pectotalis

c. Anabas testudineus Klasifikasi Kingdom Phylum Classis Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Actinopterygii : Perciformes : Anabantidae : Anabas : Anabas testudineus

Nm Umum : Ikan Betok Keterangan 1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Pinna pectotalis 6. Linea lateralis 7. Pinna abdominalis 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Pinna annalis

d. Osphronemus goramy Klasifikasi Kingdom Phylum Clasiss Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Osteichthyes : Labirintichi : Anabantidae : Osphronemus : Osphronemus goramy

Nama Umum : Ikan gurame

Keterangan 1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Linea lateralis 6. Pinna abdominalis 7. Squama 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Anus 11. Pinna annalis 12. Pinna pectoralis

e. Clarias batrachus Klasifikasi Kingdom Phylum Clasiss Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Osteichthyes : Ostariophysi : Clariidae : Clarias : Clarias batrachus

Nm Umum : Ikan lele

Keterangan 1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Porus urogenitaslis 6. Linea lateralis 7. Pinna abdominalis 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Pinna annalis 11. Pinna pectoralis

f. Betta splendens Klasifikasi Kingdom Phylum Clasiss Ordo Family Genus Spesies : Animalia : Chordata : Actynopteriigi : Perciformes : Osphronemiidae : Betta : Betta slendens

Nm Umum : Ikan Cupang

Keterangan 1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Daerah labirin 5. Caput 6. Truncus 7. Sirip atas 8. Sirip ekor 9. Sirip bawah

g. Heleostoma temminckii Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum Classis Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Pisces : Perciformes : Heleostomatidae : Heleostoma : Heleostoma temminckii

Nm Umum : Ikan Tembakang Keterangan

1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Porus urogenitaslis 6. Linea lateralis 7. Pinna abdominalis 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Pinna annalis 11. Pinnae pectoralis

k. Oriochormis niloticus Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum Classis Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Pisces : Perciformes : Ciclidae : Oriochormis : Oriochormis niloticus

Nm Umum : Ikan Mujair Keterangan

1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Porus urogenitaslis 6. Linea lateralis 7. Pinna abdominalis 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Pinna annalis 11. Pinnae pectoralis

l. Pangasius pangasius Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum Classis Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Osteichthyes : Ostariopphysi : Pangasidae : Pangasius : Pangasius pangasius

Nm Umum : Ikan Patin Keterangan

1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Pinna abdominalis 6. Pinna caudalis 7. Pinna dorsalis 8. Pinna annalis 9. Pinnae pectoralis

m. Sardinia pilcharus Klasifikasi Kingdom : Animalia Phylum Classis Ordo Family Genus Spesies : Chordata : Osteichtyes : Perciformes : Clupeidaedae : Sardinia : Sardinia pilcharus

Nm Umum : Ikan Sardin Keterangan

1. Organon visus 2. Fovea nasalis 3. Rima oris 4. Operculum 5. Porus urogenitaslis 6. Linea lateralis 7. Pinna abdominalis 8. Pinna caudalis 9. Pinna dorsalis 10. Pinna annalis 11. Pinnae pectoralis

Sirip bawahTabel Rumus Sirip

KELOMPOK I II III

SPESIES
Ophiocephalus striatus

RUMUS SIRIP P.11, A.6, D.I, DI.39, An.I, An.I.23, C.XII P.10, A.9, D.I, DI.15, An.I, An.I.6, C.XVIII P.16, A.I, A.I.5, D.XVII, DXVII.6, An.VII, An.VII.7, C.XXII

Cyprinus carpio
Anabas testudineus

IV V

Clarias battracus Osphronemus goramy

P.I, P.I.VII A.5, D.XXXIII, An.VIII, C.XII P.21, A.II, A.II.11, D.XIII, DXIII.12, An.X, An.I.22, C.XII

4.2. Pembahasan Ophiochepallus striatus merupakan ikan air tawar yang berukuran tubuh yang cukup besar. Ophiochepallus striatus memiliki tubuh yang bersisik dengan sisik yang pipih dan lebar. Ikan gabus memiliki sisik yang berwarna hitam. Hal ini sesuai dengan pendapat Anonima (2011: 1) bahwa Ophiochepallus striatus memiliki ukuran panjang tubuh yang dapat mencapai hingga 1 m. Memiliki kepala yang besar, agak gepeng mirip kepala ular (sehingga dinamai snakehead), dengan di atas kepala terdapat sisiksisik besar. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya. Sisi atas tubuh dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini sering kali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam. Anabas testudineus merupakan jenis ikan yang hidup di daerah rawa-rawa. Anabas testudinues memiliki bentuk tubuh yang bulat, memiliki duri yang tajam dan bersisik keras. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanto (1995: 87) bahwa postur tubuh betok memanjang, agak tinggi tetapi pipih ke samping. Bentuk punggung dan perut hamper sejajar dari leher hingga batang ekor. Mulutnya terkenal lebar dengan posisi mencuat ke atas. Squama atau sisik bedara di bawah epidermis, sepasang pada bagian kanan kiri pada bagian belakang caput dan berbentuk setengah lingkaran. Tepat pada tutup insang dan sirip dada terdapat duri-duri yang sangat kuat. Pada sirip punggung dan sirip anus, menjuntai sangat panjang menyusur badannya. Menurut Anonima (2011: 2). Bahwa Warna dasar tubuhnya hijau jaitun, abu-abu, atau sawo matang. Dan semasa kecil pada batang ekor dan tutup insang terdapat garis-garis vertikal dengan bintik-bintik berwarna putih. Tubuh ikan terdiri atas caput, tructus, dan caudal, di mana tidak ada batas yang nyata sebagai batas antara tructus dan ekor dipandang tepi caudal operculum dan sebagai batas antara tructus dan ekor dipandang anus. Lele hidup di air tawar dengan sungai yang memiliki arus yang tidak deras. Tubuhnya licin berlendir. Hal ini sesuai dengan pendapat Ghufran (2004: 78) bahwa

badan ikan lele berbentuk memanjang. Tangah badannya mempunyai potongan membulat, dengan kepala pipih ke bawah (depressed), sedangkan bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed). Pada Clarias batrachus ditemukan tiga bentuk potongan melintang, yaitu pipih ke bawah, bulat dan pipih ke samping. Kepala bagian atas dan bawah tertutup oleh tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruangan rongga di atas insang. Disinilah terdapat alat pernafasan tambahan yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat. Mulut terletak pada ujung moncong (terminal) dengan dihiasi 4 sungut (kumis). Lubang hidung yang depan merupakan tabung pendek berada di belakang bibir atas, lubang hidung sebelah belakang merupakan celah yang kurang lebih bundar berada di belakang sungut nasal. Mata berbentuk kecil dengan tepi orbital yang bebas. Menurut Anonimb (2011 :1) bahwa Sirip ekor ikan lele membulat, tidak begabung dengan sirip punggung maupun sirip anal. Sirip perut membulat dan pajangnya mencapai sirip anal. Sirip dada pada ikan Clarias batrachus dilengkapi sepasang duri tajam yang umumnya disebut patil/taji. Patil ini beracun, terutama pada ikan ikan remaja, sedangkan ikan yang sudah tua agak berkurang kadar racunnya. Selain untuk membela diri dari pengaruh luar yang menggangunya, patil ini jg digunakan ikan Clarias batrachus untuk melimpat keluar dari air dan melarikan diri. Dengan menggunakan patil ini, Clarias batrachus dapat berjalan didarat tanpa air cukup lama dan cukup jauh. Cyprinus carpio hidup di habitat air tawar. Cyprinus carpio memiliki sisik yang pipih dan lebar, serta termasuk dalam kelompok ikan bertulang sejati. Hal ini sesuai dengan pendapat Radiopoetro (1996: 35) bahwa Cyprinus carpio merupakan ikan bertulangs sejati yang memiliki gigi yang berbentuk kerucut. Squama atau sisik bedara di bawah epidermis, sepasang pada bagian kanan kiri pada bagian belakang caput dan berbentuk setengah lingkaran. Tipe squama adalah cycoid. Tubuh ikan terdiri atas caput, tructus, dan caudal, di mana tidak ada batas yang nyata sebagai batas antara tructus dan ekor dipandang tepi caudal operculum dan sebagai batas antara tructus dan ekor dipandang anus. Cyprinus carpio lebih pendek, lebih pipih ke arah bilateral dan lebih lebar ke arah dorsoventral. Cyprinus carpio kurang dapat berenang dengan cepat tetapi mampu membelokkan badan dengan cepat.

BAB V KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pada umumnya pisces memiliki kulit luar yang licin mengandung kelenjar penghasil lender. 2. Sisik Pisces merupakan modifikasi integimentum yang dibuat dari jaringan tulang. 3. Morfologi Pisces secara umum terdiri dari caput, truncus, dan caudal. 4. Pada tutup insang dan sirip dada Anabas testudineus terdapat duri-duri yang sangat kuat. 5. Kepala bagian atas dan bawah Clarias batrachus tertutup oleh tulang pelat yang membentuk ruangan rongga di atas insang.

DAFTAR PUSTAKA Anonima. 2011. Ikan. Http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan. Diakses tanggal 27 November 2011 jam 19:17 WIB. Anonimb. 2011. Pisces. Http://patology.wordpress.com/Sistem+Reproduksi+Pada+Ikan. Diakses tanggal 27 November 2011 jam 19:28 WIB. Ghufran, M. 2004. Budi Daya Lele Keli. Jakarta . PT. Rineka Cipta Karmana 2000. Anatomi dan bagian-bagian dari ikan. Binaaksara: Yogyakarta +345 hlm. Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta. Erlangga Sastrodinoto, Soenarjo.1999. Biologi Umum I. Jakarta : Gramedia. Slamet dan Sutarmi. 1999. Penuntun Biologi. Jakarta : Erlangga. Susanto, H. 1995. Ikan hias air tawar. Jakarta. penebar swadaya.