Anda di halaman 1dari 19

Terkait dengan upaya mengimplementasikan konsep di atas, L. Dee Fink menyampaikan 3 (tiga) saran, sebagai berikut: 1.

Memperluas jenis pengalaman belajar.


Buatlah kelompok-kelompok kecil siswa dan meminta mereka membuat keputusan atau menjawab sebuah pertanyaan terfokus secara berkala. Temukan cara agar siswa dapat terlibat dalam berbagai dialog otentik dengan orang lain, di luar teman-teman sekelasnya (di website, melalui email, atau dalam kehidupan nyata). Dorong siswa untuk membuat jurnal pembelajaran atau portofolio belajar. Guru dapat meminta para siswa untuk menuliskan tentang apa yang mereka pelajari, bagaimana mereka belajar, apa peran pengetahuan yang dipelajarinya untuk kehidupan mereka sendiri, bagaimana hal ini membuat mereka merasa, dan sebagainya. Temukan cara untuk membantu siswa agar dapat mengamati sesuatu yang ingin dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Temukan cara yang memungkinkan siswa untuk benar-benar melakukan sesuatu yang dipelajarinya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Terjemahan bebas dan adaptasi dari: L. Dee Fink. 1999. Active Learning Langkah2 kreatif

1. 2. 3. 4. 5.

Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dua hari sebelum KBM Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan skenario yang sudah dipersiapkan 6. Masing-masing siswa duduk di kelompoknya, masing-masing sambil memperhatikan mengamati skenario yang sedang diperagakan 7. Setelah selesai dipentaskan, masing-masing siswa diberikan kertas sebagai lembar kerja untuk membahas 8. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya 9. Guru memberikan kesimpulan secara umum 10. Evaluasi 11. Penutup

Sampai saat ini, para penggiat pendidikan selalu berusaha untuk mengembangkan metodemetode dan model-model pembelajaran yang baik dan efektif untuk dapat membantu guru daam menyampaikan ilmu-imunya kepada siswanya. Pengebangan ini telah dilakukan sejak dulu hingga sekarang secara kontinyu dan terus menerus, mengikuti perkembangan teknologi dan juga permasalahan-permasalahan yang timbul dalam dunia pendidikan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang dianggap bagus dan layak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran adalah PAIKEM, singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Di era kontemporer ini, PAIKEM sangat dianjurkan mengingat semakin kompleksnya permasalahan di dunia pendidikan dan juga besarnya tuntutan yang dibebankan kepada guru dalam menyukseskan pembelajaran di sekolah ataupun para dosen di universitas.. Pelatihan-pelatihan tentang PAIKEM-pun juga telah banyak diadakan dalam rangka meningkatkan kualitas guru/dosen. PAIKEM kini telah menjadi salah satu bagian dari usaha sebuah unit pendidikan dalam meningkatakan kualitas pembelajarannyaSelain itu, yang paling mendasar tujuan penerapan PAIKEM adalah agar siswa-siswa menjadi lebih aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, lebih enjoy dalam belajar dan tentu saja menjadi lebih bisa menyerap materi pembelajaran yang diberikan. Dapat dikatakan, intinya penerapan PAIKEM merupakan hal yang sangat penting dan harus dipahami dengan baik oleh semua guru serta harus dapat diterapkan secara benar. Namun pada kenyataanya, belum semua guru ataupun para penggiat pendidikan memahami dengan sebenarnya pendekatan PAIKEM ini, oleh sebab itu, saya mencoba membantu untuk memberikan pemahaman tentang PAIKEM yang lebih konprehensif dan mudah untuk dipelajari melalui artikel berikut.

Pengertian PAIKEM PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan

Menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan, dan mengemukakan gagasan. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang

menyenangkan. Learning is fun merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran

inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggat waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang. Contohnya saja sebagian orang ada yang berkemampuan dalam menyerap ilmu dengan menggunakan visual atau mengandalkan kemampuan penglihatan, auditory atau kemampuan mendengar, dan kinestetik. Dan hal tersebut harus disesuaikan pula dengan upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang akan mengakibatkan proses renovasi mental, diantaranya membangun rasa percaya diri siswa. Kreatif dimaksudkan agar guru menciptakan kegiatan belajar yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan siswa. Menyenangkan adalah suasana belajarmengajar yang menyenangkan sehingga siswa memusatkan perhatiannya secara penuh pada belajar sehingga waktu curah perhatiannya (time on task) tinggi. Menurut hasil penelitian, tingginya waktu curah perhatian terbukti meningkatkan hasil belajar. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif, yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung, sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tetapi tidak efektif, maka pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa. Siswa tidak memungkiri metode PAIKEM = pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan merupakan metode yang sangat mengerti dan memahami kondisi siswa. bagaimana guru menyampaikan materi merupakan penilaian utama siswa, seorang guru mempunyai wawasan yang luas akan tergambar dengan cara bagaimana seorang guru menyampaikan pembelajaran di kelas, fokus terhadap materi dan penyampaian yang mudah dimengerti oleh siswa. peduli terhadap siswa dan tidak pilih-memilih (diskriminatif), performance yang menarik serta bisa dijadikan partner dalam berdiskusi dan

berkeluh kesah merupakan sekian banyak kriteria yang siswa sampaikan jika seorang guru ingin menjadi favorit di mata siswa (Herman, 2008).

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan PAIKEM Memahami sifat yang dimiliki anak Pada dasarnya anak memiliki sifat: rasa ingin tahu dan berimajinasi. Anak desa, anak

a.

kota, anak orang kaya, anak orang miskin, anak Indonesia, atau anak bukan Indonesia selama mereka normal terlahir memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu lahan yang harus kita olah sehingga subur bagi berkembangnya kedua sifat, anugerah Tuhan, tersebut. Suasana pembelajaran dimana guru memuji anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang, dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya, merupakan pembelajaran yang subur seperti yang dimaksud b. Mengenal anak secara perorangan Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal. c. Memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok. Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk

berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang d. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis masalah; dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan yang dimulai dengan kata-kata Apa yang terjadi jika lebih baik daripada yang dimulai dengan katakata Apa, berapa, kapan, yang umumnya tertutup (jawaban betul hanya satu). e. Mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan dalam PAIKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar, peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat dijadikan rujukan ketika membahas suatu masalah. f. Memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat, merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan membuat gambar/diagram

g.

Memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar. Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan. Catatan guru berkaitan dengan pekerjaan siswa lebih bermakna bagi pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar angka

h.

Membedakan antara aktif fisik dan aktif mental Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi jika bangku dan meja diatur berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah ciri yang sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut: takut ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut sangat bertentangan dengan PAIKEM (Agustina, 2008).

Mengapa PAIKEM perlu diterapkan? Salah satu yang dapat dilakukan guru adalah mengajar dengan pembelajaran yang

aktif inovatif kreatif dan menyenangkan (PAIKEM). Banyak metode mengajar yang dapat di paikemkan sebenarnya. Terserah gurunya mengajar dengan model, metode, strategi apa, tapi dalam melaksanakan di kelas guru melakukannya dengan paikem. Di era globalisasi sekarang mestinya guru dapat mengajar dengan lebih menyenangkan, dan tidak zamannya guru mengajar jaim dan jumawa, sok menjaga wibawa, memperlihatkan performance sedemikian rupa sehingga siswa akan sangat segan (baca:takut) kepadanya, (jangankan menegur dengan sopan melirik saja mungkin siswa tidak berani), saya pikir sekarang siswa justru lebih menghargai kepada guru yang bersahabat, ramah, dan tentu saja akan lebih

sangat dihargai lagi jika guru tersebut cerdas dalam bidangnya dan cerdas dalam mengelola kelas. Bagaimana caranya guru bisa membuat siswa tertarik untuk belajar dengannya dan akan rindu/menanti nanti datangnya jam belajar pelajaran itu lagi. Tidak malah sebaliknya siswa akan sakit perut jika mengingat akan bertemu dengan pelajaran dan guru tersebut Pada dasarnya belajar mengajar merupakan suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari guru, tetapi melibatkan berbagai kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan, bila menginginkan hasil belajar yang lebih baik. Belajar pada intinya tertumpu pada kegiatan memberi kemungkinan kepada siswa agar terjadi proses belajar yang efektif agar dapat mencapai hasil yang sesuai tujuan. Dalam sejarah pendidikan di negara kita, dalam kurun waktu yang lama pendidikan digunakan penguasa untuk melestarikan sistem dan nilai yang menguntungkan mereka. Cukup lama siswa dibuat menjadi korban untuk menjadi yes people, manusia penurut. Dalam filsafat klasik itu, siswa dianggap orang yang belum tahu apa-apa dan mereka harus diberitahu oleh guru. Dampaknya sistem pembelajaran lebih menekankan guru yang aktif dan siswa pasif menerima (Suparno, 1997). Sebaliknya menurut filsafat kontruktivisme, pengetahuan itu merupakan bentukan siswa yang sedang belajar. Dalam hal ini guru tidak dapat memaksakan pengetahuannya kepada siswa. Pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana membantu siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka dan bukan bagaimana memaksa siswa menerima segala sesuatu yanag diinformasikan oleh guru. Dalam pendekatan ini, yang penting bagaimana siswa menggeluti bahan, mengolah, menganalisis, dan merumuskannya. Pendekatan seperti ini disebut pendekatan ketrampilan proses dengan prinsip student active learning. Dalam hal ini Slavin (1994) menyebutkan bahwa Learning is much more than memory for student to really understand and be able to apply knowledge. They must work to solve problems, to discover things for themselves, to wrestle with ideas. Menurut teori ini dalam belajar siswa tidak hanya menghafal tapi harus memahami (Agustina, 2008).

Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran Menurut Ramadhan (2008), secara garis besar, penerapan PAIKEM dalam

pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut: a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya. PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM. Pada saat yang sama, gambaran tersebut menunjukkan kemampuan yang perlu dikuasai guru untuk menciptakan keadaan tersebut. Berikut adalah tabel beberapa contoh kegiatan KBM dan kemampuan guru yang besesuaian. Kemampuan Guru Guru merancang dan mengelola KBM yang mendorong siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran

Kegiatan Belajar Mengajar Guru melaksanakan KBM dalam kegiatan yang beragam, misalnya: Percobaan Diskusi kelompok

Memecahkan masalah Mencari informasi Menulis laporan/cerita/puisi Berkunjung keluar kelas

Guru menggunakan alat bantu dan sumber yang beragam.

Sesuai mata pelajaran, guru menggunakan, misalnya:

Alat yang tersedia atau yang dibuat sendiri

Gambar Studi kasus Nara sumber Lingkungan

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan

Siswa:

Melakukan percobaan, pengamatan, atau wawancara

Mengumpulkan data/jawaban dan mengolahnya sendiri

Menarik kesimpulan Memecahkan masalah, mencari rumus sendiri.

Menulis laporan hasil karya lain dengan kata-kata sendiri.

Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasannya sendiri secara lisan atau tulisan

Melalui:

Diskusi Lebih banyak pertanyaan terbuka

Hasil karya yang merupakan anak sendiri

Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan belajar dengan kemampuan siswa

Siswa dikelompokkan sesuai dengan kemampuan (untuk kegiatan tertentu)

Bahan pelajaran disesuaikan dengan kemampuan kelompok tersebut.

Siswa diberi tugas perbaikan atau pengayaan.

Guru mengaitkan KBM dengan pengalaman siswa sehari-hari.

Siswa menceritakan atau memanfaatkan pengalamannya sendiri.

Siswa menerapkan hal yang dipelajari dalam kegiatan seharihari

Menilai KBM dan kemajuan belajar siswa secara terusmenerus

Guru memantau kerja siswa. Guru memberikan umpan balik.

Pendekatan pembelajaran PAIKEM dapat membawa angin perubahan dalam pembelajaran, yaitu:

a.

Guru dan murid sama-sama aktif dan terjadi interaksi timbal balik antara keduanya. Guru dalam pembelajaran tidak hanya berperan sebagai pengajar dan pendidik juga berperan sebagai fasilitator.

b.

Guru dan murid dapat mengembangkan kreativitas dalam pembelajaran. Guru dapat mengembangkan kreativitasnya dalam hal: teknik pengajaran, penggunaan multimetode, pemakaian media, dan guru dapat berperan sebagai mediator bagi murid-muridnya.

c.

Murid merasa senang dan nyaman dalam pembelajaran, tidak merasa tertekan sehingga proses berpikir anak akan berjalan normal.

d.

Munculnya pembahasan dalam pembelajaran di kelas.

Sumber: Agustina, Rahmi. 2008. Mensiasati Injury time Dengan Pembelajaran PAIKEM. http://cittiami.blogspot.com/2008/04/mensiasati-injury-time-dengan.html. Diakses tanggal 8 Februari 2009. Herman, 2008. Menjadi guru favorit Pilihan Siswa. http://hlasrinkosgorobogor .wordpress.com/2008/11/07/menjadi-guru-favorit-pilihan-siswa/. Diakses tanggal 8 Februari 2009. Khoiri. 2008. Pembelajaran Kreatif dengan Peraga. http://www.indopos.co.id/ index.php?act=detail_c&id=325101. Diakses tanggal 8 Februari 2009. Pararaja, Arifin. 2008. Metodologi PAKEM. http://smk3ae.wordpress.com/ 2008/06/26/metodologi-pakem/. Diakses tanggal 8 Februari 2009. Ramadhan, A. Tarmizi. 2008. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.http://tarmizi.wordpress.com/2008/11/11/pembelajaran-aktif-inovatifkreatif-efektif-dan-menyenangkan/. Diakses tanggal 8 Februari 2009
BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut: a. PAIKEM adalah salah satu pendekatan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

b. Beberapa hal yan perlu diperhatikan di dalam PAIKEM adalah; Memahami sifat yang dimiliki anak, mengenal anak secara perorangan, memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar, membedakan antara aktif fisik dan aktif mental c. Alasan dilaksanakannnya PAIKEM karena belajar pada intinya tertumpu pada kegiatan memberi kemungkinan kepada siswa agar terjadi proses belajar yang efektif agar dapat mencapai hasil yang sesuai tujuan. d. Cara pelaksanaan PAIKEM diperlihatkan dengan berbagai kegiatan yang terjadi selama KBM terutama dengan active learning. 1.2 Saran a. Perlu kajian yang lain tentang kelemahan dan kekurangan pendekatan PAIKEM. b. Perlu kajian yang lebih mendalam tentang cara penerapan PAIKEM dalam pembelajaran di kelas. c. Perlu kajian yang lain tentang pelaksanaan PAIKEM yang dikombinasikan dengan penggunaan metode-metode pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan (PAKEM) adalahmodel pembelajaran yang bertumpu pada empat prinsip yaitu, aktif, kreatif,efektif, menyenangkan. Aktif dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaranguru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga siswa aktifbertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Belajar memangmerupakan suatu proses aktif dari si pembelajar dalam membangunpengetahuan bukan proses pasif yang hanya menerima kucuran ceramah, dariguru tentang pengetahuan, sehingga jika pembelajaran tidak memberikankesempatan kepada siswa untuk berperan aktif, maka pembelajaran tersebutbertentangan dengan hakikat belajar. Peran aktif dari siswa sangat pentingdalam rangka pembentukan generasi yang kreatif.1Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, menyenangkan ini dapat dilihatdari dua sisi, pertama dilihat dari segi guru itu sendiri, yaitu pembelajaranyang aktif bahwa seorang guru itu harus bisa memberi motivasi, memantau kegiatan belajar siswa, memberi umpan balik, mengajukan pertanyaan yangmenantang mempertanyakan gagasan siswa. Adapun ciri dari pembelajaranaktif adalah :a. Siswa selalu ingin mencoba.b. Tidak ingin menjadi penonton.c. Memanfaatkan modalitas belajar (visual, auditorial dan kinestetis).d. Penuh perhatian dalam setiap proses pembelajaran.Kreatif dimaksudkan bahwa seorang guru bisa mengembangkankegiatan yang beragam, membuat alat bantu belajar yang sederhana dan lainlain.Ciri-ciri pembelajaran kreatif adalah :a. Menginginkan adanya perubahan yang baru.b. Tidak mudah putus asa.c. Tidak mudah puas dengan hasil kerjanya.d. Mempunyai banyak cara untuk melakukan sesuatu.Efektif yaitu seorang guru dalam proses pembelajaran harus mencapaitujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Ciri-ciri dari pembelajaran efektifadalah :a. Memanfaatkan alat peraga yang ada di sekitar.b. Memanfaatkan waktu yang ada.c. Mengatur strategi pembelajaran.Menyenangkan dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaranseorang guru diharapkan tidak membuat siswa takut salah, takut ditertawakan, takut dianggap sepele, dan memuji hasil karya siswa serta dalam pembelajarandiselingi kegiatan bermain atau kegiatan yang lain yang membuat anakmerasa senang dalam belajar. Ciri dari pembelajaran menyenangkan adalah :a. Suasana belajar tidak se arahb. Kaya dengan metodec. Desain kelas yang tidak membosankand. Ada penghargaan bagi yang berprestasi.2Sedangkan dalam proses pelaksanaannya, struktur dan situasipembelajaran yang

diwujudkan guru banyak dipengaruhi oleh pendekatan danmetode-metode yang dipilih dan dirancang guru, komitmen, persepsi, dansikapnya terhadap siswa.Memang seharusnya dalam pembelajaran antara siswa dan guru ituharus sama-sama aktif, jadi tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapatterwujud dengan adanya pergeseran paradigma pendidikan, bahwa pendidikanberpusat pada guru sudah tidak sesuai dengan jamannya. Karena masa depanada di tangan generasi muda, jadi guru sudah selayaknya menjadi fasilitatorsedangkan siswalah yang mencari dan mengembangkan potensi yangdimilikinya.Meskipun sudah ada pembelajaran aktif, namun dalam prosespembelajaran juga tidak mengesampingkan pembelajaran kreatif dan Efektif Keduanya juga memiliki hubungan yang erat dengan pembelajaran aktif.Aktif dan kreatif saja tidak dapat menciptakan pembelajaran yang bermaknatanpa adanya Keefektifan dalam memanfaatkan waktu yang ada,menggunakan media/peraga yang disediakan dan memanfaatkan modalitasbelajar yaitu visual, auditorial, dan kinestetik.Dari pemaparan tersebut, tentunya semua itu memiliki tujuan untukmenumbuhkan semangat belajar siswa, sesuai dengan kemampuan yang iamiliki. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2184734-pengertian-pembelajaranaktif-kreatif-efektif/#ixzz1i6ghMAVH Pembelajaran Aktif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang dipandang sesuai dengan tuntutan pembelajaran mutakhir. Oleh karena itu, setiap sekolah seyogyanya dapat mengimplementasikan dan mengembangkan pembelajaran aktif ini dengan sebaik mungkin. Dengan merujuk pada gagasan dari Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah indikator atau ciri-ciri sekolah yang telah melaksanakan proses pembelajaran aktif ditinjau dari aspek: (a) ekspektasi sekolah, kreativitas, dan inovasi; (b) sumber daya manusia; (c) lingkungan, fasilitas, dan sumber belajar; dan (d) proses belajar-mengajar dan penilaian. A. EKSPEKTASI SEKOLAH, KREATIVITAS, DAN INOVASI 1. Prestasi belajar peserta didik lebih ditekankan pada menghasilkan daripada memahami. 2. Sekolah menyelenggarakan ajang kompetisi yang mendidik dan sehat. 3. Sekolah ramah lingkungan (misalnya; ada tanaman atau pohon, pot bunga, tempat sampah) 4. Lebih baik lagi jika terdapat produk/karya peserta didik yang mempunyai nilai artistik dan ekonomis/kapital untuk dijual. 5. Lebih baik jika ada pameran karya peserta didik dalam kurun waktu tertentu, misalnya sekali dalam satu tahun. 6. Karya peserta didik lebih dominan daripada pemasangan beragam atribut sekolah. 7. Kehidupan sekolah terasa lebih ramai, ceria, dan riang. 8. Sekolah rapi, bersih, dan teratur. 9. Komunitas sekolah santun, disiplin, dan ramah. 10. Animo masuk ke sekolah itu makin meningkat. 11. Sekolah menerapkan seleksi khusus untuk menerima peserta didik baru. 12. Ada forum penyaluran keluhan peserta didik. 13. Iklim sekolah lebih demokratis.

14. Diselenggarakan lomba-lomba antarkelas secara berkala dan di tingkat pendidikan menengah ada lomba karya ilmiah peserta didik. 15. Ada program kunjungan ke sumber belajar di masyarakat. 16. Kegiatan belajar pada silabus dan RPP menekankan keterlibatan peserta didik secara aktif. 17. Peserta didik mengetahui dan dapat menjelaskan tentang lingkungan sekolah (misalnya, nama guru, nama kepala sekolah, dan hal-hal umum di sekolah itu). 18. Ada program pelatihan internal guru (inhouse training) secara rutin. 19. Ada forum diskusi atau musyawarah antara kepala sekolah dan guru maupun tenaga kependidikan lainnya secara rutin. 20. Ada program tukar pendapat, diskusi atau musyawarah dengan mitra dari berbagai pihak yang terkait (stakeholders). B. SUMBER DAYA MANUSIA 1. Kepala sekolah peduli dan menyediakan waktu untuk menerima keluhan dan saran dari peserta didik maupun guru. 2. Kepala sekolah terbuka dalam manajemen, terutama manajemen keuangan kepada guru dan orang tua/komite sekolah. 3. Guru berperan sebagai fasilitator dalam proses belajar. 4. Guru mengenal baik nama-nama peserta didik. 5. Guru terbuka kepada peserta didik dalam hal penilaian. 6. Sikap guru ramah dan murah senyum kepada peserta didik, dan tidak ada kekerasan fisik dan verbal kepada peserta didik. 7. Guru selalu berusaha mencari gagasan baru dalam mengelola kelas dan mengembangkan kegiatan belajar. 8. Guru menunjukkan sikap kasih sayang kepada peserta didik. 9. Peserta didik banyak melakukan observasi di lingkungan sekitar dan terkadang belajar di luar kelas. 10. Peserta didik berani bertanya kepada guru. 11. Peserta didik berani dalam mengemukakan pendapat. 12. Peserta didik tidak takut berkomunikasi dengan guru. 13. Para peserta didik bekerja sama tanpa memandang perbedaan suku, ras, golongan, dan agama. 14. Peserta didik tidak takut kepada kepala sekolah. 15. Peserta didik senang membaca di perpustakaan dan ada perilaku cenderung berebut ingin membaca buku bila datang mobil perpustakaan keliling. 16. Potensi peserta didik lebih tergali serta minat dan bakat peserta didik lebih mudah terdeteksi. 17. Ekspresi peserta didik tampak senang dalam proses belajar. 18. Peserta didik sering mengemukakan gagasan dalam proses belajar. 19. Perhatian peserta didik tidak mudah teralihkan kepada orang/tamu yang datang ke sekolah. C. LINGKUNGAN, FASILITAS, DAN SUMBER BELAJAR

1. Sumber belajar di lingkungan sekolah dimanfaatkan peserta didik untuk belajar. 2. Terdapat majalah dinding yang dikelola peserta didik yang secara berkala diganti dengan karya peserta didik yang baru. 3. Di ruang kepala sekolah dan guru terdapat pajangan hasil karya peserta didik. 4. Tidak ada alat peraga praktik yang ditumpuk di ruang kepala sekolah atau ruang lainnya hingga berdebu. 5. Buku-buku tidak ditumpuk di ruang kepala sekolah atau di ruang lain. 6. Frekuensi kunjungan peserta didik ke ruang perpustakaan sekolah untuk membaca/meminjam buku cukup tinggi. 7. Di setiap kelas ada pajangan hasil karya peserta didik yang baru. 8. Ada sarana belajar yang bervariasi. 9. Digunakan beragam sumber belajar. D. PROSES BELAJAR-MENGAJAR DAN PENILAIAN 1. Pada taraf tertentu diterapkan pendekatan integrasi dalam kegiatan belajar antarmata pelajaran yang relevan. 2. Tampak ada kerja sama antarguru untuk kepentingan proses belajar mengajar. 3. Dalam menilai kemajuan hasil belajar guru menggunakan beragam cara sesuai dengan indikator kompetensi. Bila tuntutan indikator melakukan suatu unjuk kerja, yang dinilai adalah unjuk kerja. Bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep, yang digunakan adalah alat penilaian tertulis. Bila tuntutan indikator memuat unsur penyelidikan, tugas (proyek) itulah yang dinilai. Bila tuntutan indikator menghasilkan suatu produk 3 dimensi, baik proses pembuatan maupun kualitas, yang dinilai adalah proses pembuatan atau pun produk yang dihasilkan. 4. Tidak ada ulangan umum bersama, baik pada tataran sekolah maupun wilayah, pada tengah semester dan / atau akhir semester, karena guru bersangkutan telah mengenali kondisi peserta didik melalui diagnosis dan telah melakukan perbaikan atau pengayaan berdasarkan hasil diagnosis kondisi peserta didik. 5. Model rapor memberi ruang untuk mengungkapkan secara deskriptif kompetensi yang sudah dikuasai peserta didik dan yang belum, sehingga dapat diketahui apa yang dibutuhkan peserta didik. 6. Guru melakukan penilaian ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Hal ini dilakukan untuk menemukan kesulitan belajar dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan peserta didik dan sekaligus sebagai alat diagnosis untuk menentukan apakah peserta didik perlu melakukan perbaikan atau pengayaan. 7. Menggunakan penilaian acuan kriteria, di mana pencapaian kemampuan peserta didik tidak dibandingkan dengan kemampuan peserta didik yang lain, melainkan dibandingkan dengan pencapaian kompetensi dirinya sendiri, sebelum dan sesudah belajar. 8. Penentuan kriteria ketuntasan belajar diserahkan kepada guru yang bersangkutan untuk mengontrol pencapaian kompetensi tertentu peserta didik. Dengan demikian, sedini mungkin guru dapat mengetahui kelemahan dan keberhasilan peserta dalam kompetensi tertentu. ==========

Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan NilaiNilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.

Ciri-Ciri Pembelajaran Aktif di Kelas


Posted on 12 Juni 2011 Pembelajaran aktif atau active learning adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran. Saat ini pembelajaran aktif telah diyakini oleh sebagian besar para teoritisi, praktisi dan pemegang kebijakan di hampir seluruh belahan muka bumi ini sebagai sebuah konsep pembelajaran yang memberikan harapan bagi tercapainya mutu pembelajaran. Berpegang pada gagasan yang disampaikan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010), berikut ini disajikan sejumlah ciri-ciri atau indikator terjadinya pembelajaran aktif pada setting kelas: 1. Kegiatan belajar suatu kompetensi dikaitkan dengan kompetensi lain pada suatu mata pelajaran atau mata pelajaran lain. 2. Kegiatan belajar menarik minat peserta didik. 3. Kegiatan belajar terasa menggairahkan peserta didik. 4. Semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. 5. Mendorong peserta didik berpikir secara aktif dan kreatif. 6. Saling menghargai pendapat dan hasil kerja (karya) teman. 7. Mendorong rasa ingin tahu peserta didik untuk bertanya. 8. Mendorong peserta didik melakukan eksplorasi (penjelajahan). 9. Mendorong peserta didik mengekspresi gagasan dan perasaan secara lisan, tertulis, dalam bentuk gambar, produk 3 dimensi, gerak, tarian, dan / atau permainan. 10. Mendorong peserta didik agar tidak takut berbuat kesalahan. 11. Menciptakan suasana senang dalam melakukan kegiatan belajar. 12. Mendorong peserta didik melakukan variasi kegiatan individual (mandiri), pasangan, kelompok, dan / atau seluruh kelas. 13. Mendorong peserta didik bekerja sama guna mengembangkan keterampilan sosial. 14. Kegiatan belajar banyak melibatkan berbagai indera. 15. Menggunakan alat, bahan, atau sarana bila dituntut oleh kegiatan belajar. 16. Melibatkan kegiatan melakukan, seperti melakukan observasi, percobaan, penyelidikan, permainan peran, permainan (game). 17. Mendorong peserta didik melalui penghargaan, pujian, pemberian semangat. 18. Hasil kerja (karya) peserta didik dipajangkan. 19. Menerapkan teknik bertanya guna mendorong peserta didik berpikir dan melakukan kegiatan. 20. Mendorong peserta didik mencari informasi, data, dan mencari jawaban atas pertanyaan. 21. Mendorong peserta didik menemukan sendiri. 22. Peserta didik pada umumnya berani bertanya secara kritis.

Untuk dapat memenuhi seluruh ciri (indikator) di atas tentu bukan hal yang mudah, khususnya bagi kawan-kawan yang sudah tertiasa dengan pola pembelajaran pasif. Oleh karena itu, mari kita mencoba memenuhi dan mempraktikannya di kelas, mulai dari hal yang paling mungkin untuk dilaksanakan. ========== Sumber: Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas. 2010. Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif; Buku I Bahan Pelatihan Penguatan Metodologi Pembelajaran Berdasarkan NilaiNilai Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta.

Guru Kreatif. Creative Teacher


Siswa sebagai subyek pembelajaran. Learning empowers students.

Penerapan metode belajar aktif dalam pembelajaran berbasis proyek.


dengan 36 komentar Coba anda bayangkan situasi kelas dibawah ini. Siswa di kelas lima sedang belajar mengenai konsep mesin yang sederhana, mereka belajar konsep kekuatan, gerak dan bekerja mengaanalisa sebuah mesin yang sederhana. Dari mesin yang rumit mereka memepelajari kaidah mesin yang paling prinsip. Siswa mengoleksi, mengatur, menghadirkan kembali data-data menggunakan program excel. Saat merancang mesin sederhana mereka berperan sebagai perancang sekaligus mempegunakan prinsip perencanaan, perakitan, uji coba sebelum mesin sederhana buatan mereka diluncurkan didepan teman-teman kelas mereka. Apabila ada pertanyaan mengenai metode apa yang paling efektif untuk mengajar? jawabannya bergantung pada tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, dan guru yang akan menggunakannya. Tapi ada jawaban lain yang lebih baik dari itu semua yaitu siswa mengajarkan siswa lainnya dikutip dari Wilbert J. McKeachie, pengarang buku Teaching tips: Strategies, research and theory for college and university teachers, Houghton-Mifflin (1998) Illustrasi diatas serta kutipan dari buku merupakan gambaran dari dua metode mengenai pembelajaran yang pertama adalah ilustrasi dari pembelajaran dengan berbasis proyek sedangkan yang kedua adalah gambaran yang sederhana dan singkat mengenai pembelajaran aktif. Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran aktif,kedua-duanya saling berkaitan. Pembelajaran aktif merupakan ruh dari pembelajaran berbasis proyek. Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar

MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat pendidikan. Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa Menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll Dua metode diatas mempertimbangkan aspek a. Gaya belajar siswa b. Taksonomi pembelajaran c. Kecerdasan majemuk Berikut ini adalah gambaran mengenai jalannya pembelajaran dengan konsep mesin sederhana, lanjutan dari illustrasi diatas.
VAK Visual Mencari gambar mesin sederhana dari Koran atau majalah dan film Mendengar dan melihat penjelasan dari pekerja konstruksi yang menjelaskan bagaimana mereka menggunakan mesin sederhana saat bekerja. Membuat mesin sederhana yang terbuat dari tanah liat. Mengikuti langkah demi langkah petunjuk membuat mesin sederhana. Berdiskusi mengenai peran mesin sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari

Auditory

Kinesthetic Otak kanan Otak kiri dan Otak kiri Otak kanan

Kecerdasan majemuk

Logis matematis Membuat mesin sederhana dari mesin yang rumit bahasa Membuat karangan atau pidato menjelaskan mengenai pentingnya mesin sederhana dalam kehidupan . Membuat presentasi menunjukkan perbedaan penggunaan mesin sederhana.

Spasial

Musikal Tubuh dan kinestetis Antar pribadi Dalam pribadi alam

Membuat lagu tentang mesin sederhana. Menggunakan benda-benda sederhana untuk menciptakan mesin sederhana. Bekerja dengan kelompok membuat video tentang mesin sederhana untuk siswa TK. Membuat buku catatan harian mengenai pembelajaran. Menemukan contoh dari mesin sederhana yang ada di alam,