Anda di halaman 1dari 14

TEKNIK PENGENDALIAN SEDIMENTASI DI LOKASI PELABUHAN

(Studi Kasus : Kolam Citra Pelabuhan Belawan )

Oleh : Alexander Tuahta Sihombing

Latar Belakang Studi


Setiap tahun sedimentasi di Pelabuhan Belawan mencapai satu meter atau sekitar delapan milimeter per hari. "Sejak lima tahun terakhir pengendapannya semakin parah. Banyaknya pabrik juga memicu percepatan sedimentasi di Pelabuhan Belawan," katanya. Manajer Teknik Pelindo I Belawan Hendri Naldi mengatakan, Pelabuhan Belawan berada di muara Sungai Belawan dan Sungai Deli. Kedua sungai itu kini telah tercemar oleh limbah, dan daerah aliran sungai (DAS)-nya telah rusak. Perusakan lingkungan di kedua sungai tersebut akan memicu percepatan sedimentasi di Pelabuhan Belawan. "Standar kedalaman untuk Pelabuhan Belawan yaitu 9,5 meter dan lebar alur 100 meter x 13 kilometer. Jika endapan tidak dikeruk sesuai dengan kedalaman itu, kapal-kapal dengan berat 9-10 gros ton tidak akan bisa berlabuh," katanya. Pada umumnya di pelabuhan sering terjadi pendangkalan (sedimentasi) yang disebabkan oleh bahan endapan (sedimentasi material). Masalah pendangkalan ini akan semakin besar dan kompleks jika pelabuhan tersebut terletak di muara sungai (estuary).

Dalam merencanakan pembangunan dan pengembangan pelabuhan, masalah pengendapan atau pendangkalan harus dapat di minimalisasikan terutama pada kolam pelabuhan dan alur pelayaran guna mengamankan dan melancarkan arus pelayaran. Pelabuhan belawan secara geografis berada pada dua muara sungai yaitu Sungai Belawan dan Sungai Deli, maka secara fisik proses pengendapan tidak hanya dipengaruhi oleh pasang surut dan arus laut saja tapi juga dipengaruhi pula oleh debit sungai. Dengan demikian studi tentang menanggulangi permasalahan bahan endapan (sedimentasi) di daerah pelabuhan, merupakan hal yang perlu dilakukan sehingga pelabuhan dapat berfungsi dengan wajar dan stabil.

Maksud dan Tujuan studi


Adapun maksud dari studi ini adalah untuk memperkenalkan bagaimana pola penanggulangan sedimen di kolam citra pelabuhan belawan yaitu dengan pengerukan (dredging), serta membahas permasalahan sedimentasi, dikarenakan akibat sedimentasi yang berasal dari aliran sungai, yang bertujuan untuk merencanakan pola teknis dan juga pengendaliannya. Yang mana cara pengendalian masalah sedimentasi yang terjadi di lokasi pelabuhan agar lebih ekonomis adalah dengan melakukan Pengerukan (Dredging ). Dengan demikian, maka diharapkan studi ini kelak akan menjadi bahan masukan dalam menanggulangi permasalahan yang terjadi di lokasi Pelabuhan Belawan yaitu masalah Pengendapan ( Sedimentasi ).

Pembatasan Masalah
Untuk mencapai sasaran yang lebih jelas dan terarah, maka pada studi ini akan dibuat pembatasannya yang sesuai dengan maksud dan tujuan studi ini dilaksanakan, yaitu kasus sedimentasi dan penghitungan volume sedimen pada kolam pelabuhannya saja, yaitu kolam Citra Pelabuhan Belawan. Adapun cara atau pola penanggulanggan sedimentasi ini yang cukup ekonomis adalah dengan cara melaksanakan pengerukan (dredging), sedangkan dengan cara lain adalah dengan memakai cara pola pengembangan fisik pelabuhan yang dapat mempengaruhi berkurangnya sedimentasi atau pengendapan ini.
Namun dengan menggunakan cara tersebut di atas dikhawatirkan akan membutuhkan waktu yang cukup lama, serta biaya yang sangat besar. Maka teknik yang akan dibahas pada studi ini adalah dengan menggunakan cara penggerukan (dredging). Studi ini juga akan melakukan pengumpulan data serta juga menganalisa cara atau teknik penggerukan yang dilaksanakan pada Kolam Citra Pelabuhan Belawan tersebut, serta juga akan menghitung volume material kerukan yang dihasilkannya.

Metodologi Penelitian Penggumpulan data akan dilakukan dengan : Melakukan pengambilan data-data survey yang dilakukan oleh pihak

teknis, PT (Persero) Pelabuhan Belawan, yang didapatkan dari PT (Persero) Pelabuhan Belawan. Agar memperoleh data pre drege sounding kedalaman kolam pelabuhan dan cara kerja operasional kapal keruk. dilakukan adalah :

Setelah data telah diperoleh, maka langkah selanjutnya yang akan


Menganalisa data Sedimen yang di dapat melalui literature dari PT. (PERSERO) Pelabuhan Indonesia I. Menganalisa data Pre Sounding (kedalaman sebelum dikeruk), dalam bentuk profil melintang dari data Pre Dredge Sounding dengan kedalaman rencana mula mula. Untuk mendapatkan volume sedimentasi yang terjadi di Kolam Citra Menyimpulkan total volume sedimentasi yang terjadi di Kolam Citra, yang di dapat dengan cara perhitungan analisa berdasarkan teori, juga dengan pengukuran bathimetri di lokasi pelabuhan.

Hasil Analisa dan perhitungan volume

Berdasarkan Analisa Teori dengan menggunakan

Approksimasi ( pendekatan )Einstein, yaitu persamaan :

Qt =

W (it qt ) i
i 1

maka diketahui volume sedimentasi yang terjadi = 532,2 ton/hari

Berdasarkan pengukuran Bathimetri di lokasi penelitian, yaitu kolam citra


pelabuhan belawan. Maka kita mendapatkan data elevasi contur sedimentasi yang terjadi setiap 6 bulan, yang digunakan untuk menghitung volume sedimentasi yang terjadi, dengan menggunakan persamaan : Qt ace =hxBxL lalu membagi area lokasi kolam citra menjadi beberapa penampang melintang, untuk mengetahui volume sedimentasi yang terjadi.

Profil Penampang Melintang Sedimentasi

Berdasarkan hasil analisa Profil penampang melintang

sedimentasi, maka diketahui volume sedimentasi yang terjadi = 312,42 ton/hari

Berdasarkan hasil analisa Profil penampang melintang

sedimentasi, maka diketahui volume sedimentasi yang terjadi pada Alur kolam = 303,219 ton/hari

Kesimpulan

Berdasarkan Analisa Data, terdapat perbedaan antara hasil perhitungan berdasarkan teori dengan perhitungan berdasarkan pengukuran dilapangan. Hal ini disebabkan karena perhitungan berdasarkan teori, merupakan persamaan Approksi Maksi (Secara Pendekatan).

Hasil Analisa Volume Sedimentasi didapatkan perbandingan


Berdasarkan analisis teori, dari aliran sungai Belawan Qt = 532,2 ton / hari. Berdasarkan pengukuran bathimetri dilokasi Kolam Citra Qt = 312,42 ton / hari.

Dari hasil analisa terdapat perbedaan antara analisa


teori dengan berdasarkan pengukuran dilokasi. Hal ini disebabkan karena distribusi sediment di kolam citra bukan hanya berasal dari sungai belawan saja, akan tetapi lebih besar disebabkan oleh beberapa daerah disekitar dermaga yang masih alamiah.

Pengendalian sedimentasi di lokasi pelabuhan adalah


dengan teknik pengerukan (dredging) yang minimal dilakukan setahun sekali.

Saran
Perlu dilakukan Penelitian lebih lanjut dalam Proses
Penanggulangan Sedimentasi tersebut.

Pemeriksaan kedalaman Kolam dan Alur Kolam harus

dilakukan secara teliti agar dalam pelaksanaan pengerukan tidak terjadi kesalahan dalam merencanakan kedalaman pemeliharaan atau kedalaman rencana. Pelabuhan Belawan, maka untuk mendapatkan hasil yang optimum, pelaksanaan pengerukan dan pemeliharaan seharusnya dilaksanakan pada Bulan November sampai Bulan Januari karena pada bulan tersebut terjadi sedimentasi maksimum.

Berdasarkan jumlah dan kapasitas kapal keruk yang ada di

Bahan-bahan endapan yang dikeruk sebaiknya

dibuang di daerah luar dari pengaruh arus air pasang surut, sebaiknya dianjurkan dibuang diderah bagian utara kolam, karena dapat juga dimanfaatkan untuk daerah konservasi.

Untuk mengurangi sedimentasi didaerah kolam

sebaiknya seluruh area sekitar kolam yang masih alamiah agar di diberikan groin, krib atau melakukan perluasan wilayah dermaga kolam citra kearah lokasi yang masih alamiah.